- Beranda
- Stories from the Heart
(HORROR) Kisah Untuk Malam Seratus Lilin - (Diary Gadis Bermata Indigo return)
...
TS
ayanorei
(HORROR) Kisah Untuk Malam Seratus Lilin - (Diary Gadis Bermata Indigo return)
Hallo All,
We come back!!

thanks all for HT
Setelah sekian lama vakum di Kaskus dan hanya menulis di tempat lain. Akhirnya kami memutuskan kembali. Yap, Ayano dan Elisa kembali akan membagikan kisah kami di Kaskus.
Tadinya, kami tidak berpikir untuk kembali ke Kaskus, tapi ternyata banyak Inbox ke ID ini maupun ke ID Ayanokouji (yang sayangnya sedang bermasalah untuk Login) supaya kami mau kembali melanjutkan cerita di Kaskus ini. Jadi, here we are, we came back.
Post #1 ini akan khusus untuk INDEX. Cerita akan dimulai di Post selanjutnya.
Yang mau baca season 1 nya ada di sini
INDEX
Kisah Pertama - Hantu Pembawa Janin
Kisah Kedua - Mereka Mengawasiku?
Kisah Ketiga - Lily (Bagian Pertama)
Kisah keempat - Lily (bagian kedua)
Kisah Kelima - Penguntit (bagian pertama)
Kisah Keenam - Penguntit (Bagian Kedua)
Kisah Ketujuh - Possession (part 1)
Kisah Kedelapan - Possession (part 2)
Kisah Kesembilan - Mahluk di langit-langit
Kisah Kesepuluh - Susahnya kalau yang ngefans 'mereka'
Kisah Kesebelas - Hantu di gedung tua
Kisah Keduabelas - Ternyata
Kisah Ketigabelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (Bag pertama)
Kisah Keempatbelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (bag kedua)
Kisah Kelimabelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (1)
Kisah Keenambelas - Kisah hantu di sekolah - Sri (2)
Kisah Ketujuhbelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (3)
Kisah Kedelapanbelas - Kisah hantu di sekolah - Belum berakhir
Kisah Kesembilanbelas - Kisah hantu di sekolah - Cerita dari Bi Sumi (1)
Kisah Keduapuluh - Kisah Hantu Disekolah - Cerita dari Bi Sumi (2)
Kisah Keduapuluhsatu - Kisah hantu disekolah - Gangguan Dimulai Lagi
Kisah Keduapuluhdua - Kisah Hantu Disekolah - Terkuak
Kisah KeduapuluhTiga - Kisah Hantu Di Kantor - Prologue
Kisah KeduapuluhEmpat - Kisah Hantu Di Kantor - Putih, Hitam dan Ungu
Kisah KeduapuluhLima - Kisah Hantu di Kantor - Sidestory
Kisah Keduapuluhenam - Kisah hantu di Kantor - Resign
Kisah Keduapuluhtujuh - Kisah Hantu di Kantor - Kembali Bekerja (1)

We come back!!

thanks all for HT
Setelah sekian lama vakum di Kaskus dan hanya menulis di tempat lain. Akhirnya kami memutuskan kembali. Yap, Ayano dan Elisa kembali akan membagikan kisah kami di Kaskus.
Tadinya, kami tidak berpikir untuk kembali ke Kaskus, tapi ternyata banyak Inbox ke ID ini maupun ke ID Ayanokouji (yang sayangnya sedang bermasalah untuk Login) supaya kami mau kembali melanjutkan cerita di Kaskus ini. Jadi, here we are, we came back.
Post #1 ini akan khusus untuk INDEX. Cerita akan dimulai di Post selanjutnya.
Yang mau baca season 1 nya ada di sini
Quote:
INDEX
Kisah Pertama - Hantu Pembawa Janin
Kisah Kedua - Mereka Mengawasiku?
Kisah Ketiga - Lily (Bagian Pertama)
Kisah keempat - Lily (bagian kedua)
Kisah Kelima - Penguntit (bagian pertama)
Kisah Keenam - Penguntit (Bagian Kedua)
Kisah Ketujuh - Possession (part 1)
Kisah Kedelapan - Possession (part 2)
Kisah Kesembilan - Mahluk di langit-langit
Kisah Kesepuluh - Susahnya kalau yang ngefans 'mereka'
Kisah Kesebelas - Hantu di gedung tua
Kisah Keduabelas - Ternyata
Kisah Ketigabelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (Bag pertama)
Kisah Keempatbelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (bag kedua)
Kisah Kelimabelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (1)
Kisah Keenambelas - Kisah hantu di sekolah - Sri (2)
Kisah Ketujuhbelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (3)
Kisah Kedelapanbelas - Kisah hantu di sekolah - Belum berakhir
Kisah Kesembilanbelas - Kisah hantu di sekolah - Cerita dari Bi Sumi (1)
Kisah Keduapuluh - Kisah Hantu Disekolah - Cerita dari Bi Sumi (2)
Kisah Keduapuluhsatu - Kisah hantu disekolah - Gangguan Dimulai Lagi
Kisah Keduapuluhdua - Kisah Hantu Disekolah - Terkuak
Kisah KeduapuluhTiga - Kisah Hantu Di Kantor - Prologue
Kisah KeduapuluhEmpat - Kisah Hantu Di Kantor - Putih, Hitam dan Ungu
Kisah KeduapuluhLima - Kisah Hantu di Kantor - Sidestory
Kisah Keduapuluhenam - Kisah hantu di Kantor - Resign
Kisah Keduapuluhtujuh - Kisah Hantu di Kantor - Kembali Bekerja (1)

Diubah oleh ayanorei 20-10-2017 13:04
scorpiolama dan 15 lainnya memberi reputasi
16
119.7K
Kutip
380
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayanorei
#81
Kisah Kelima - Penguntit (Bagian satu)
Aku dan Ayano baru saja bertengkar.
Tidak-tidak-tidak, bertengkar adalah kata-kata yang terlalu kuat. Maksudku, berselisih pendapat.
Hal yang sepele sebenarnya... aku juga tidak mengerti pada diriku kadang-kadang untuk mempermasalahkan hal yang...
Sebaiknya kuceritakan saja dari mulai pertengkaran kami....
===
"Jadi? alasannya kenapa kamu nggak mau koko jemput?" tanya Ayano untuk ketiga kalinya.
"Nggak ada apa-apa.. aku cuma mau mandiri aja sekali-sekali." jawabku untuk kedua kalinya.
Kami sedang berselisih pendapat mengenai Ayano yang ingin menjemputku setelah aku pulang dari reuni dengan teman-temanku di mall nanti malam. Sedangkan aku mengatakan kalau aku akan pulang sendiri saja. Karena mall dengan rumahku hanya berjarak satu kali naik angkot dan sepuluh menit jalan kaki.
Aku tidak ingin merepotkan Ayano yang akan menghadapi dua meeting sampai malam untuk repot-repot menjemputku.
"Mandiri untuk apa lagi, El?"
"Mandiri ya mandiri ko, aku mau sekali-sekali nggak bergantung sama koko terus"
"Memangnya apa masalahnya bergantung pada koko?"
"Aku nggak mau begitu. Nanti aku nggak bisa ngerjain apa-apa lagi sendiri...."
"Apa masalahnya? toh kita sudah biasa begitu. Dan kalau nanti kita merried pun..."
"Stop! tunggu-tunggu. Kenapa jadi kesitu arahnya?" tanyaku.
Ayano memandangiku dengan ragu-ragu. Wajahnya nampak khawatir "Kenapa soal married? kamu keberatan?"
Aku menghembuskan nafas lelah "Bukaaan.. aku nggak pernah keberatan soal married, tapi ini dan itu hal yang beda, ko"
"Bedanya dimana?"
"Ya ampun, aku cuma mau pulang sendiri aja. Nggak mau ngerepotin koko untuk jemput aku"
"Nggak repot kok"
"Tau, aku udah tau jawaban koko pasti begitu. Tapi, kali ini aja. Koko mending langsung pulang dan nunggu di rumah, lagipula koko kan mau masak macem-macem katanya malem ini..."
Ayano mempelajari mimik mukaku sejenak. Kemudian dengan wajah terpaksa-setuju akhirnya dia mengangguk "Tapi, HP nyala terus dan langsung kasihtau koko kalau ada apa-apa" katanya.
Aku mengangguk setuju "Iya.. iya.. bawel" kataku.
Sebelum dia mulai berbicara untuk mengomel lagi, aku menciumnya.
Itu selalu berhasil untuk membungkamnya.
====
Yah... meskipun Ayano agak terlalu rewel dan protektif soal diriku, aku menganggapnya biasa saja pada awalnya. Namun melihatnya memaksakan diri sampai kelelahan untuk menjemputku membuatku kesal pada diriku sendiri yang membuatnya seperti itu.
Ayo, Elisa, dulu sebelum bertemu Ayano kamu tidak pernah bermasalah dengan kehidupan mandiri. Jangan manja dan menjadi beban untuknya.
Karena itulah aku memutuskan setidaknya aku dapat melakukan beberapa hal sendiri.
Termasuk kali ini.
Tapi waktu itu aku sama sekali tidak mengetahui kalau aku akan menyesali keputusanku ini.
====
Hari sudah lewat jam sembilan malam ketika aku dan teman-temanku selesai dengan pertemuan kecil kami.
Aku mulai meragukan keputusanku ketika aku keluar dari mall dan mendapati jalanan yang agak gelap karena banyak lampu jalan yang mati dan redup.
Aku melupakan jalanan gelap dan panjang ini sebelum aku bisa keluar ke jalan raya untuk mendapatkan angkot.
Menggertakkan gigiku, aku memegang erat tasku dan berjalan cepat menyusuri jalan remang itu.
'Flik...flik....flik....'
Aduh.... lampu-lampu yang memang sudah remang membuat jalanan sepi ini semakin menakutkan.
Aku berjalan dengan diam dan terburu-buru ketika tiba-tiba aku merasa melewati suatu sosok yang berdiri diam di samping jalan, tepat di sampingku ketika aku melewatinya.
![kaskus-image]()
"Ah!!" teriakku terkejut sambil sedikit terlompat sambil membalikkan badan ke tempat sosok itu berada.
Tidak ada...
Sosok itu tidak ada...
Namun ketika aku berbalik kembali ke jalurku, tepat ketika mataku menyapu jalan ketika aku berbalik, aku kembali melihat sosok hitam itu, kembali berada di dekatku.
"Ahh!!" aku mundur hingga merapat pada tembok yang membatasi jalan itu.
Sosok itu kembali menghilang.
Apakah sosok itu hanya ilusiku saja? tidak mungkin.. aku melihatnya dengan jelas..
Aku menoleh ke kiri dan kanan.
Tidak ada...
Sosok itu benar-benar tidak ada...
Tapi kemudian aku merasa aneh.
Bayanganku terlihat semakin membesar? Seakan membentang semakin besar...
"Hahh.... Hahhh...."
Suara nafas yang terengah-engah itu....
Dia...
Dibelakangku....
'Degg...!!!!'
"Oh... Tuhan...."
Aku merasakan keringat dingin menetes dari keningku.
Suara nafas itu terdengar semakin keras.
"Hahh... hahh... hahh..."
Aku mengeratkan rahangku dan berlari menjauh dari tembok itu dan berbalik menatapnya.
Sesosok mahluk tanpa wujud jelas, hanya seperti bayangan manusia berwarna hitam sedang berjongkok di atas pagar pembatas itu. Dua buah tangannya sedang menjulur ke bawah dan hampir saja menggapaiku.
Kalau aku masih berdiri di tempat itu...
Mahluk itu menengadah dan aku bisa melihat dua bulatan berwarna kuning yang bercahaya. Mata dari mahluk itu.
"Lari Elisa, Lari!!!!"
Entah bagaimana alam bawah sadarku menggunakan suara Ayano untuk memberikan peringatan untukku, tapi itu berhasil. Aku menggigit bibirku dan memaksa kakiku untuk lari.
Aku berlari di jalan yang remang-remang itu tanpa henti. Sampai rasanya paru-paruku akan meledak karena berlari.
Tapi aku tidak memelankan laju lariku, karena aku mendengar suara yang semakin dekat dari belakangku.
'Tap...tap.... tap.... tap.... tap.....'
"Hahhhhh...... hhhhaaahhhhhh..... hahhhhhhh......!!"
Suara langkah kaki cepat dan suara nafas memburu dari mahluk itu membuatku melupakan rasa sesak di dadaku dan berusaha menggerakkan kakiku secepatnya.
Sedikit lagi....
kata-kata itu terus kuucapkan di dalam hatiku sampai akhirnya aku berhasil keluar di tempat terang dan cukup ramai.
Aku menengok ke belakang dan melihat sosok mahluk itu bersembunyi di sudut yang gelap, menatapku kosong dengan kedua matanya yang bercahaya.
Dengan penuh peluh dan jantung yang masih berdebar kencang aku menghentikan salah satu angkot dan menaikinya.
Aku hendak memberitahukan Ayano, namun mengeluarkan ponsel di dalam angkot mungkin akan membuatku berada dalam bahaya yang lain, karena itu aku menahan diri untuk tidak memberitahukannya dulu.
Untuk sementara, aku hanya bisa berharap kalau aku cepat sampai ke rumah.
===
Harapanku tidak terjawab karena angkot yang mengetem setiap 400 meter. Ketika akhirnya aku sampai, jam sudah menunjukkan hampir jam sepuluh.
Astaga...
Aku segera turun dari angkot dan berjalan ke apartement ketika kudengar suara yang kukenal.
"Hahhhhahhhhahhhhhahhhhahhhh!!"
Suara desahan nafas itu semakin kencang dan memburu. Aku menengok ke belakang dan melihat mahluk itu sedang melompati pagar-pagar dan mendekatiku dengan cepat.
"Ahhh!!!"
Aku berteriak ketakutan dan melesat dengan kedua kakiku. Berlari....
Sialnya aku, suasana di sekitar apartement sudah sangat sepi.
"Hhsssshhhh.... hhssshhhhh..... hhhssshhhh.... "
Suara dengusan nafas itu berubah menjadi lebih kasar dan mendesis.
Aku menengok dan melihat mahluk itu berlari dengan keempat tungkainya, tungkai belakang mahluk itu berubah menjadi tungkai binatang, seperti tungkai kaki belakang anjing atau kucing.
Dan jarak mahluk itu sudah kurang dari 3 meter di belakangku.
"AHHH!!!" aku berteriak ketakutan dan berlari semakin cepat.
Dengan panik aku mencari-cari ponsel di tasku.
"Aduh...!! dimana sih?!!" teriakku kesal sementara tanganku mencari-cari ponselku yang entah terselip di mana.
"Hahhh..."
"!!!!"
Aku merasakan hembusan nafas yang dingin dan berbau bangkai.
Dia dibelakangku...
Tepat.dibelakangku....
Aku mendapatkan ponselku pada akhirnya dan secepat mungkin menghubungi Ayano.
Tetapi sebelum sempat aku mendekatkan ponsel itu dengan telingaku, aku merasakan sesuatu yang berbulu kasar dan sangat dingin menyentuh tengkukku.
"Ahh!!!!" teriakku sambil berlari melepaskan diri dari sentuhan itu.
'Brekkk!!'
Sesuatu menarik sweater luarku hingga robek, aku bergeliat hingga sweater itu terlepas dari tubuhku.
Aku berlari memasuki apartement dan melesat melewati pintu masuk dan satpam penjaga yang melihatku heran yang berlari terburu-buru.
"Hahhhh... hahhhh.... hahhhhhh!!" suara dengusan nafas mahluk itu semakin kasar.
Aku juga mendengar suara decitan seperti sesuatu... besi? bergesekan dengan lantai.
Aku masih terus berlari
"Hhhaaaaaaahhhhhhrrrrrr!!!!"
Mahluk itu berteriak dan aku mendengar suara mendecit yang kencang.
Aku menengok ke belakang dan melihat dengan teror mahluk itu melompat ke arahku.
"Ahhhh!!!"
Dan aku merasakan tubuhku ditarik oleh sesuatu.
"Aggghh!!"
Ayano!!?
'Bugh!!'
Tubuh besar Ayano memelukku, dan aku ikut jatuh terduduk ketika tubuh besar itu terhuyung dan membawaku bersamanya.
"Ko!!?" teriakku.
"Uhh..." desahnya sambil meringis "Masih ada?" tanyanya.
"Eh?"
"Mahluk yang ngejar kamu.." bisiknya.
"Oh..." aku mengintip dari bahu Ayano.
Hilang...
Mahluk itu menghilang...
"Ko.. udah nggak ada.." kataku sambil menyentuh punggung Ayano.
"Aww!!" serunya.
"!!"
Aku mendorong Ayano untuk lepas dari pelukannya dan dengan cepat melihat ke punggungnya.
Benar saja, punggungnya terluka parah. Tiga baris luka memanjang berdarah memanjang dari pundak sampai ke pinggulnya.
"Ko!!!" teriakku.
"Sshhh!!" Ayano menyentuh bibirku dengan jarinya "Jangan teriak-teriak, nanti orang pada dateng. Nggak apa, ini cuma kegores" katanya.
"Kegores apaa-" Ayano menyentuh bibirku lagi. "Sstt.. yang penting, mahluk itu beneran ilang?" tanyanya.
Aku mengangguk. Aku nggak kelihatan apapun juga saat ini.
"Sepertinya udah nggak ada" kataku "Koko tau itu apaan?"
Ayano menggeleng "Koko nggak bisa lihat mahluk itu" katanya.
Aku membelalak kaget mendengarnya. "Lalu.. kok koko bisa ngelindungin aku begitu?"
Ayano mengangkat bahunya dan meringis kesakitan "Aww-aww-aww...!!!" keluhnya sambil memegangi bahunya.
Aku hendak mendekati untuk melihat keadaan punggungnya itu. Namun Ayano menghalangiku dengan tangannya dan menggiringku ke lift dan masuk ke dalamnya.
Setelah menekan tombol tempat lantai tujuan kami. Dia bersender miring pada lift dan berkata "Koko nggak kelihatan, tapi ngeliat kamu yang ketakutan banget, apalagi terakhir itu pas kamu nengok ke belakang dan teriak, koko tau kalau apapun mahluk itu, dia udah deket banget"
Aku mendengar penjelasan Ayano itu dengan terkejut "Jadi cuma karena itu, koko langsung memutuskan jadi tameng? pake badan koko lagi?" semburku dengan frustasi.
Ayano mengangkat bahunya lagi dan sekali lagi meringis kesakitan "Ouch!!" desahnya, kemudian dia menghembuskan nafas dan berkata "Apa boleh buat, koko nggak bisa lihat mahluk apapun itu yang ngejar kamu"
"Kalau taunya disentuh bisa bikin mati gimana ko!!!" teriakku sambil menghentakkan kakiku pada lift karena kesal.
"Yah, kalau begitu tetep koko bakal lakuin hal yang sama.. mungkin" katanya sambil tersenyum.
Iiisshh!!! orang ini!!! teriakku pasrah di dalam hati.
Akhirnya aku menginap di tempat Ayano malam itu, setelah mengobati luka koyak di punggungnya yang cukup dalam (apaan yang cuma kegores... huh!) dan karena aku sedikit takut untuk tidur di kamar apartementku sendirian hari ini.
Entah mahluk apapun itu, aku tidak tau. Tapi yang jelas, masalahku belum selesai.
Karena ketika aku tidur malam itu, aku mendengar suara hembusan nafas mahluk itu dan suara seperti sesuatu sedang menggaruk kayu.
"!!!"
Aku terjaga dan menatap ke arah suara itu berasal. Dari jendela.
Samar-samar, dari balik gorden yang menutup jendela itu, aku melihat dua cahaya redup yang tidak bergeming dari balik jendela.
Aku berpindah ke kamar Ayano dan meringkuk di samping Ayano yang tertidur pulas karena menelan obat penahan sakit.
Mahluk itu masih mengikutiku dan sekarang berada di depan kamar Ayano...
Semalaman aku tidak dapat tertidur karena suara desahan nafas dan suara garukan dari luar jendelaku itu, ditambah dengan dua cahaya redup yang mengawasi setiap tindak-tindukku.
Seakan mahluk apapun itu, sedang menungguku lengah dan akan menyerangku lagi kalau aku sampai tertidur....
Spoiler for Penguntit (Bagian Satu):
Aku dan Ayano baru saja bertengkar.
Tidak-tidak-tidak, bertengkar adalah kata-kata yang terlalu kuat. Maksudku, berselisih pendapat.
Hal yang sepele sebenarnya... aku juga tidak mengerti pada diriku kadang-kadang untuk mempermasalahkan hal yang...
Sebaiknya kuceritakan saja dari mulai pertengkaran kami....
===
"Jadi? alasannya kenapa kamu nggak mau koko jemput?" tanya Ayano untuk ketiga kalinya.
"Nggak ada apa-apa.. aku cuma mau mandiri aja sekali-sekali." jawabku untuk kedua kalinya.
Kami sedang berselisih pendapat mengenai Ayano yang ingin menjemputku setelah aku pulang dari reuni dengan teman-temanku di mall nanti malam. Sedangkan aku mengatakan kalau aku akan pulang sendiri saja. Karena mall dengan rumahku hanya berjarak satu kali naik angkot dan sepuluh menit jalan kaki.
Aku tidak ingin merepotkan Ayano yang akan menghadapi dua meeting sampai malam untuk repot-repot menjemputku.
"Mandiri untuk apa lagi, El?"
"Mandiri ya mandiri ko, aku mau sekali-sekali nggak bergantung sama koko terus"
"Memangnya apa masalahnya bergantung pada koko?"
"Aku nggak mau begitu. Nanti aku nggak bisa ngerjain apa-apa lagi sendiri...."
"Apa masalahnya? toh kita sudah biasa begitu. Dan kalau nanti kita merried pun..."
"Stop! tunggu-tunggu. Kenapa jadi kesitu arahnya?" tanyaku.
Ayano memandangiku dengan ragu-ragu. Wajahnya nampak khawatir "Kenapa soal married? kamu keberatan?"
Aku menghembuskan nafas lelah "Bukaaan.. aku nggak pernah keberatan soal married, tapi ini dan itu hal yang beda, ko"
"Bedanya dimana?"
"Ya ampun, aku cuma mau pulang sendiri aja. Nggak mau ngerepotin koko untuk jemput aku"
"Nggak repot kok"
"Tau, aku udah tau jawaban koko pasti begitu. Tapi, kali ini aja. Koko mending langsung pulang dan nunggu di rumah, lagipula koko kan mau masak macem-macem katanya malem ini..."
Ayano mempelajari mimik mukaku sejenak. Kemudian dengan wajah terpaksa-setuju akhirnya dia mengangguk "Tapi, HP nyala terus dan langsung kasihtau koko kalau ada apa-apa" katanya.
Aku mengangguk setuju "Iya.. iya.. bawel" kataku.
Sebelum dia mulai berbicara untuk mengomel lagi, aku menciumnya.
Itu selalu berhasil untuk membungkamnya.
====
Yah... meskipun Ayano agak terlalu rewel dan protektif soal diriku, aku menganggapnya biasa saja pada awalnya. Namun melihatnya memaksakan diri sampai kelelahan untuk menjemputku membuatku kesal pada diriku sendiri yang membuatnya seperti itu.
Ayo, Elisa, dulu sebelum bertemu Ayano kamu tidak pernah bermasalah dengan kehidupan mandiri. Jangan manja dan menjadi beban untuknya.
Karena itulah aku memutuskan setidaknya aku dapat melakukan beberapa hal sendiri.
Termasuk kali ini.
Tapi waktu itu aku sama sekali tidak mengetahui kalau aku akan menyesali keputusanku ini.
====
Hari sudah lewat jam sembilan malam ketika aku dan teman-temanku selesai dengan pertemuan kecil kami.
Aku mulai meragukan keputusanku ketika aku keluar dari mall dan mendapati jalanan yang agak gelap karena banyak lampu jalan yang mati dan redup.
Aku melupakan jalanan gelap dan panjang ini sebelum aku bisa keluar ke jalan raya untuk mendapatkan angkot.
Menggertakkan gigiku, aku memegang erat tasku dan berjalan cepat menyusuri jalan remang itu.
'Flik...flik....flik....'
Aduh.... lampu-lampu yang memang sudah remang membuat jalanan sepi ini semakin menakutkan.
Aku berjalan dengan diam dan terburu-buru ketika tiba-tiba aku merasa melewati suatu sosok yang berdiri diam di samping jalan, tepat di sampingku ketika aku melewatinya.
"Ah!!" teriakku terkejut sambil sedikit terlompat sambil membalikkan badan ke tempat sosok itu berada.
Tidak ada...
Sosok itu tidak ada...
Namun ketika aku berbalik kembali ke jalurku, tepat ketika mataku menyapu jalan ketika aku berbalik, aku kembali melihat sosok hitam itu, kembali berada di dekatku.
"Ahh!!" aku mundur hingga merapat pada tembok yang membatasi jalan itu.
Sosok itu kembali menghilang.
Apakah sosok itu hanya ilusiku saja? tidak mungkin.. aku melihatnya dengan jelas..
Aku menoleh ke kiri dan kanan.
Tidak ada...
Sosok itu benar-benar tidak ada...
Tapi kemudian aku merasa aneh.
Bayanganku terlihat semakin membesar? Seakan membentang semakin besar...
"Hahh.... Hahhh...."
Suara nafas yang terengah-engah itu....
Dia...
Dibelakangku....
'Degg...!!!!'
"Oh... Tuhan...."
Aku merasakan keringat dingin menetes dari keningku.
Suara nafas itu terdengar semakin keras.
"Hahh... hahh... hahh..."
Aku mengeratkan rahangku dan berlari menjauh dari tembok itu dan berbalik menatapnya.
Sesosok mahluk tanpa wujud jelas, hanya seperti bayangan manusia berwarna hitam sedang berjongkok di atas pagar pembatas itu. Dua buah tangannya sedang menjulur ke bawah dan hampir saja menggapaiku.
Kalau aku masih berdiri di tempat itu...
Mahluk itu menengadah dan aku bisa melihat dua bulatan berwarna kuning yang bercahaya. Mata dari mahluk itu.
"Lari Elisa, Lari!!!!"
Entah bagaimana alam bawah sadarku menggunakan suara Ayano untuk memberikan peringatan untukku, tapi itu berhasil. Aku menggigit bibirku dan memaksa kakiku untuk lari.
Aku berlari di jalan yang remang-remang itu tanpa henti. Sampai rasanya paru-paruku akan meledak karena berlari.
Tapi aku tidak memelankan laju lariku, karena aku mendengar suara yang semakin dekat dari belakangku.
'Tap...tap.... tap.... tap.... tap.....'
"Hahhhhh...... hhhhaaahhhhhh..... hahhhhhhh......!!"
Suara langkah kaki cepat dan suara nafas memburu dari mahluk itu membuatku melupakan rasa sesak di dadaku dan berusaha menggerakkan kakiku secepatnya.
Sedikit lagi....
kata-kata itu terus kuucapkan di dalam hatiku sampai akhirnya aku berhasil keluar di tempat terang dan cukup ramai.
Aku menengok ke belakang dan melihat sosok mahluk itu bersembunyi di sudut yang gelap, menatapku kosong dengan kedua matanya yang bercahaya.
Dengan penuh peluh dan jantung yang masih berdebar kencang aku menghentikan salah satu angkot dan menaikinya.
Aku hendak memberitahukan Ayano, namun mengeluarkan ponsel di dalam angkot mungkin akan membuatku berada dalam bahaya yang lain, karena itu aku menahan diri untuk tidak memberitahukannya dulu.
Untuk sementara, aku hanya bisa berharap kalau aku cepat sampai ke rumah.
===
Harapanku tidak terjawab karena angkot yang mengetem setiap 400 meter. Ketika akhirnya aku sampai, jam sudah menunjukkan hampir jam sepuluh.
Astaga...
Aku segera turun dari angkot dan berjalan ke apartement ketika kudengar suara yang kukenal.
"Hahhhhahhhhahhhhhahhhhahhhh!!"
Suara desahan nafas itu semakin kencang dan memburu. Aku menengok ke belakang dan melihat mahluk itu sedang melompati pagar-pagar dan mendekatiku dengan cepat.
"Ahhh!!!"
Aku berteriak ketakutan dan melesat dengan kedua kakiku. Berlari....
Sialnya aku, suasana di sekitar apartement sudah sangat sepi.
"Hhsssshhhh.... hhssshhhhh..... hhhssshhhh.... "
Suara dengusan nafas itu berubah menjadi lebih kasar dan mendesis.
Aku menengok dan melihat mahluk itu berlari dengan keempat tungkainya, tungkai belakang mahluk itu berubah menjadi tungkai binatang, seperti tungkai kaki belakang anjing atau kucing.
Dan jarak mahluk itu sudah kurang dari 3 meter di belakangku.
"AHHH!!!" aku berteriak ketakutan dan berlari semakin cepat.
Dengan panik aku mencari-cari ponsel di tasku.
"Aduh...!! dimana sih?!!" teriakku kesal sementara tanganku mencari-cari ponselku yang entah terselip di mana.
"Hahhh..."
"!!!!"
Aku merasakan hembusan nafas yang dingin dan berbau bangkai.
Dia dibelakangku...
Tepat.dibelakangku....
Aku mendapatkan ponselku pada akhirnya dan secepat mungkin menghubungi Ayano.
Tetapi sebelum sempat aku mendekatkan ponsel itu dengan telingaku, aku merasakan sesuatu yang berbulu kasar dan sangat dingin menyentuh tengkukku.
"Ahh!!!!" teriakku sambil berlari melepaskan diri dari sentuhan itu.
'Brekkk!!'
Sesuatu menarik sweater luarku hingga robek, aku bergeliat hingga sweater itu terlepas dari tubuhku.
Aku berlari memasuki apartement dan melesat melewati pintu masuk dan satpam penjaga yang melihatku heran yang berlari terburu-buru.
"Hahhhh... hahhhh.... hahhhhhh!!" suara dengusan nafas mahluk itu semakin kasar.
Aku juga mendengar suara decitan seperti sesuatu... besi? bergesekan dengan lantai.
Aku masih terus berlari
"Hhhaaaaaaahhhhhhrrrrrr!!!!"
Mahluk itu berteriak dan aku mendengar suara mendecit yang kencang.
Aku menengok ke belakang dan melihat dengan teror mahluk itu melompat ke arahku.
"Ahhhh!!!"
Dan aku merasakan tubuhku ditarik oleh sesuatu.
"Aggghh!!"
Ayano!!?
'Bugh!!'
Tubuh besar Ayano memelukku, dan aku ikut jatuh terduduk ketika tubuh besar itu terhuyung dan membawaku bersamanya.
"Ko!!?" teriakku.
"Uhh..." desahnya sambil meringis "Masih ada?" tanyanya.
"Eh?"
"Mahluk yang ngejar kamu.." bisiknya.
"Oh..." aku mengintip dari bahu Ayano.
Hilang...
Mahluk itu menghilang...
"Ko.. udah nggak ada.." kataku sambil menyentuh punggung Ayano.
"Aww!!" serunya.
"!!"
Aku mendorong Ayano untuk lepas dari pelukannya dan dengan cepat melihat ke punggungnya.
Benar saja, punggungnya terluka parah. Tiga baris luka memanjang berdarah memanjang dari pundak sampai ke pinggulnya.
"Ko!!!" teriakku.
"Sshhh!!" Ayano menyentuh bibirku dengan jarinya "Jangan teriak-teriak, nanti orang pada dateng. Nggak apa, ini cuma kegores" katanya.
"Kegores apaa-" Ayano menyentuh bibirku lagi. "Sstt.. yang penting, mahluk itu beneran ilang?" tanyanya.
Aku mengangguk. Aku nggak kelihatan apapun juga saat ini.
"Sepertinya udah nggak ada" kataku "Koko tau itu apaan?"
Ayano menggeleng "Koko nggak bisa lihat mahluk itu" katanya.
Aku membelalak kaget mendengarnya. "Lalu.. kok koko bisa ngelindungin aku begitu?"
Ayano mengangkat bahunya dan meringis kesakitan "Aww-aww-aww...!!!" keluhnya sambil memegangi bahunya.
Aku hendak mendekati untuk melihat keadaan punggungnya itu. Namun Ayano menghalangiku dengan tangannya dan menggiringku ke lift dan masuk ke dalamnya.
Setelah menekan tombol tempat lantai tujuan kami. Dia bersender miring pada lift dan berkata "Koko nggak kelihatan, tapi ngeliat kamu yang ketakutan banget, apalagi terakhir itu pas kamu nengok ke belakang dan teriak, koko tau kalau apapun mahluk itu, dia udah deket banget"
Aku mendengar penjelasan Ayano itu dengan terkejut "Jadi cuma karena itu, koko langsung memutuskan jadi tameng? pake badan koko lagi?" semburku dengan frustasi.
Ayano mengangkat bahunya lagi dan sekali lagi meringis kesakitan "Ouch!!" desahnya, kemudian dia menghembuskan nafas dan berkata "Apa boleh buat, koko nggak bisa lihat mahluk apapun itu yang ngejar kamu"
"Kalau taunya disentuh bisa bikin mati gimana ko!!!" teriakku sambil menghentakkan kakiku pada lift karena kesal.
"Yah, kalau begitu tetep koko bakal lakuin hal yang sama.. mungkin" katanya sambil tersenyum.
Iiisshh!!! orang ini!!! teriakku pasrah di dalam hati.
Akhirnya aku menginap di tempat Ayano malam itu, setelah mengobati luka koyak di punggungnya yang cukup dalam (apaan yang cuma kegores... huh!) dan karena aku sedikit takut untuk tidur di kamar apartementku sendirian hari ini.
Entah mahluk apapun itu, aku tidak tau. Tapi yang jelas, masalahku belum selesai.
Karena ketika aku tidur malam itu, aku mendengar suara hembusan nafas mahluk itu dan suara seperti sesuatu sedang menggaruk kayu.
"!!!"
Aku terjaga dan menatap ke arah suara itu berasal. Dari jendela.
Samar-samar, dari balik gorden yang menutup jendela itu, aku melihat dua cahaya redup yang tidak bergeming dari balik jendela.
Aku berpindah ke kamar Ayano dan meringkuk di samping Ayano yang tertidur pulas karena menelan obat penahan sakit.
Mahluk itu masih mengikutiku dan sekarang berada di depan kamar Ayano...
Semalaman aku tidak dapat tertidur karena suara desahan nafas dan suara garukan dari luar jendelaku itu, ditambah dengan dua cahaya redup yang mengawasi setiap tindak-tindukku.
Seakan mahluk apapun itu, sedang menungguku lengah dan akan menyerangku lagi kalau aku sampai tertidur....
2
Kutip
Balas