- Beranda
- Stories from the Heart
Ekspedisi Kota Misteri Berdarah
...
TS
fandi.bin.stres
Ekspedisi Kota Misteri Berdarah
Hallo Agan Sista semuanya...
Spoiler for TOP THREAD:
Alhmadulillah...
Akhirnya ini thread jadi Top Thread juga...
Terima kasih kepada Om Momod, Agan Sista Kaskuser semuanya...
saya terharu berat
: ( 

Akhirnya ini thread jadi Top Thread juga...
Terima kasih kepada Om Momod, Agan Sista Kaskuser semuanya...
saya terharu berat
: ( 

Spoiler for first:
Setelah sekian lama menjadi member
akhirnya saya mendapat inspirasi untuk membuat sebuah cerita misteri wal horor
akhirnya saya mendapat inspirasi untuk membuat sebuah cerita misteri wal horor
Spoiler for second:
Threat misteri wal horor yang gwe buat kali ini tentang ekspedisi kota misteri yang sudah lama hilang ditelan bumi namun kembali digali oleh beberapa orang


Spoiler for third:
Tanpa banyak cas cis cus
Silahkan dinikmati cerita saya nie
Silahkan dinikmati cerita saya nie
Spoiler for fourth:
Dalam cerita saya ini terkandung unsur BB +20rate atau Mengandung Materi Berbau Dewasa
Spoiler for filler:
Ini sih namanya bagian filler, bukan side story atau ntah apa sejenisnya...
tujuannya simpel, untuk menutupi mata rantai cerita yang hilang antara satu part dengan part lainnya maupun didalam part itu sendiri...
No Chit Chat anymore, just enjoy it Guys...
Filler Section 1
Filler Section 2
Filler Section 3
After Ending
tujuannya simpel, untuk menutupi mata rantai cerita yang hilang antara satu part dengan part lainnya maupun didalam part itu sendiri...
No Chit Chat anymore, just enjoy it Guys...
Filler Section 1
Filler Section 2
Filler Section 3
After Ending
Spoiler for last:
WARNING!!!
Cerita saya ini memiliki durasi update sekitar lebih 14 hari saja atau 2 minggu lebih untuk menghindari "kentang" berterbangan dimana mana
Cerita saya ini memiliki durasi update sekitar lebih 14 hari saja atau 2 minggu lebih untuk menghindari "kentang" berterbangan dimana mana
Pembaca yang baik budiman itu dapat memberi komeng ke TS


Pembaca yang dimuliakan derajatnya itu sekiranya




Pembaca yang dimuliakan derajatnya itu sekiranya


Jika agan sista berkenan untuk mendapat pahala lebih, mohon TS diberi




Tapi tolong dengan sangat TS jangan


Sakit gan sista rasanya

Tapi lebih parah rasa sakitnya jumpa sama mantan



Sakit gan sista rasanya

Tapi lebih parah rasa sakitnya jumpa sama mantan

Diubah oleh fandi.bin.stres 14-05-2017 04:13
exc@libur dan 8 lainnya memberi reputasi
9
137.5K
Kutip
676
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
fandi.bin.stres
#32
Part 2 - Penampakan Pertama
PART 2 - First Sighting
Quote:
Jalan yang dilalui Pak Hadiman dan Pak Yono merupakan jalan pintas menuju desa tetangga, Desa Subur Makmur. Jalan itu terletak hampir seperti di ujung desa kami dan terdapat perempatan sebagai percabangannya. Jikalau terus akan menuju ke arah selatan menuju lembah rutenya off roader kaya dan ke perbukitan yang akan menjadi salah satu rute ekspedisi tim yang baru saja tiba. Rute ke kiri merupakan desa tetangga dan rute ke kanan juga mengarah ke lembah dan gunung namun dapat juga memutar balik ke arah Jalinsum.
-------------------------------
Quote:
Mataku belum bisa terpejam mengingat apa yang Pak Hadi dan Pak Yono ceritakan. Begitu juga dengan Marsinto. “Di, tak takut kamu dengan apa yang barusan terjadi”. “Gak To, aku malah penasaran saja. Tapi, akan ada cerita lama soal kota jaman dulu yang tenggelam ke dalam ke tanah” jawabku sambil berbisik agar tidak didengar Bapakku dan yang lainnya. “Ya, aku tahu itu Di. Masalahnya sampai sekarang di gunung itu warga kita belum pernah di ganggu. Bahkan orang kota yang bawa motor trail(motor cross) itu juga gak pernah diganggu mereka. Orang orang mobil off roader juga gak pernah diganggu. Aneh rasanya ini Di” jawab Marsinto seakan penuh seribu tanda tanya. “Udahlah bro, kita diam aja sekarang. Cukup kita berdua yang tahu. Jangan sampai Dedi dan Karto tahu. Tahulah kau sendiri mulut mereka, payah kali jaga rahasia. Gak ingat kau kejadian si Tuti dan Wirjo? Gara gara mulut Dedi ama Karto, mereka terpaksa kimpoi muda daripada malu orang tua” sambungku dengan nada agak ketus. “Iya, aku sih kasihan liat mereka. Tapi mereka udah kebablasan juga. Hampir tiap hari tak ada orang di sawah mereka “bermain” di gubuk. Bahkan sampai berjam jam lupa diri. Untung aja Tuti belum hamil, kalo hamil duluan bisa bisa POLISI datang, makin gawat mereka” sambung Marsinto sambil tertawa kecil. “Ach udahlah bro, kita tidur aja duluan ntar gantian sama Bapak Bapak nie. Mataku udah mulai minta “turun minum” ini” aku mengelak dengan alasan mengantuk agar Marsinto mau berhenti mengoceh lagi. “Ya udah Di, sini tuh Soffel, banyak kali nyamuknya kurasa”. Mulailah mata ini tertutup perlahan karena memang angin malam mulai menusuk membuat mata tak kuasa lagi menahan rasa kantuk meskipun beralaskan tikar diatas kursi rotan.
-------------------------------
Quote:
“Di, To, bangun bangun. Gantian sekarang ini” berulang ulang suara Pak Sarwo membangunkan kami. Pak Miji pun lantas menggoyang goyangkan badan kami agar terbangun. “Ya Pak, kami udah sadar ini” jawabku. “Sadar? Emang situ udah mulai gila yach?” jawab Pak Miji tertawa keras. “Pak jangan ribut, ntar disamperin cewek itu mau?”. “To, awas ya mulutmu ntar pagi tak potong pakai arit mau?” timpal Pak Sarwo sambil tertawa. “Ya udah kami tidur ini ntar bangunkan Bapakmu dan yang lainnya jam 4”. Busyet dacchhh nie orang kupikir, kami dapat jatah paling lama dari pukul setengah dua pagi sampai pukul empat. Tapi, ya sudahlah, gak baik melawan orang tua. Bencana bisa datang katanya.
Setengah jam berlalu, aku dan Marsinto hanya terdiam sembari melihat lihat HP kami. Aku hanya membca berita on-line, sedangkan Marsinto aku yakin sekali kalau dia menonton film “orang miskin”. Gleeeeeekkkk..... bulu kudukku merinding semua. Hawa dingin sangat tajam menusuk tulang. Mata ini seakan terasa sangat berat. Kakiku pun tersa berat, namun aku hanya terdiam dan menoleh ke Marsinto. Rupanya Marsinto merasakan hal yang sama namun tidak berkata apa apa. Dia hanya memberikan kode menunjuk ke bulu tangannya yang berdiri hebat. Mulailah kami duduk merapat sembari menarik kaki ke atas, mungkin saja terjadi sesuatu seperti film film horor Hollywood itu. 2 pasang mata kami memantau sekitara bersama sama.
Barrrrrrr...... Sampailah kami berhenti di satu titik. Kami berdua terdiam, tepaku, terpana dan membisu tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata apapun. Tubuh kami bergetar menggigil hebat. Detak jantung bertamabah cepat bahkan nafas tersengal sengal. Kami tak percaya, wanita yang dikatakan Pak Hadiman dan Pak Yono lewat tepat di depan kami. Tepat di jalan desa di depan pos jaga ronda kami. Dengan pakaian seperti Putri Putri Keratonan Kesultanan Jawa yang indah di balut dengan selendang hijau yang mengkilap berhiaskan mahkota emas dikepalanya, dia menatap tajam kami berdua. Pandangan matanya seakan akan ingin menyampaikan sesuatu. Raut wajahnya merah merona seperti menahan sesuatu. Walaupun parasnya begitu cantik nan jelita namun kemunculannya saat dini hari merupakan hal yang lain diatas normal. Terlebih dengan pakaian bak puteri keraton yang dikenakannya. Saat kucoba melihat kakinya. Astaga, kakinya tidak menyentuh tanah sama sekali!!!
Keringat dingin kami mengucur begitu deras disekujur tubuh kami. Lalu, tanpa komando aku langsung mulai komat kamit membaca Ayat Kursi, Al-Fatihah dan beberapa Surah pendek lainnya. Belum selesai aku membaca Ayat Kursi, dia pun berlalu dengan cepat seperti kilatan cahaya pergi meninggalkan kami yang telah mematung membisu ketakutan. Terlebih lebih kami, karena seumur umur hidup kami belum pernah melihat hal seperti ini dari jarak sangat dekat hanya hitungan meter saja! Memang ada penampakan begu, pocong dan kuntilanak beberapa waktu lalu namun kami menyaksikannya lumayan jauh dan ramai ketika pengusiran sedang dilaksanakan.
“Di, gimana ini? Kita cerita ke mereka?” tiba tiba Marsinto bisa mengeluarkan kata kata. “Jangan To, cukup kita berdua saja yang tahu. Bisa bisa tambah runyam ntar”. “Kau gak takut lihatnya?” “To, kalau bisa menjerit aku akan menjerit namun aku langsung membaca Ayat Kursi sesuai pesan Pak Haji Ustadz Jamal jika melihat penampakan”. Kami pun terdiam kembali hanya saling duduk merapat. Pelan pelan kuhisap rokok LA mild ku, begitu juga dengan Marsinto, asap rokok yang dikeluarkannya tak putus putus seperti lokomotif uap jaman dulu, Big Boy punya United States of America. Angin malam terus berhembus perlhan lahan ditambah suara suara hewan malam membuat kami semakin lemah tak berdaya. Namun, kami memilih tetap bertahan di posisi terakhir seperti peserta Uji Nyali TV swasta Nasional sampai pukul empat pagi.
Setengah jam berlalu, aku dan Marsinto hanya terdiam sembari melihat lihat HP kami. Aku hanya membca berita on-line, sedangkan Marsinto aku yakin sekali kalau dia menonton film “orang miskin”. Gleeeeeekkkk..... bulu kudukku merinding semua. Hawa dingin sangat tajam menusuk tulang. Mata ini seakan terasa sangat berat. Kakiku pun tersa berat, namun aku hanya terdiam dan menoleh ke Marsinto. Rupanya Marsinto merasakan hal yang sama namun tidak berkata apa apa. Dia hanya memberikan kode menunjuk ke bulu tangannya yang berdiri hebat. Mulailah kami duduk merapat sembari menarik kaki ke atas, mungkin saja terjadi sesuatu seperti film film horor Hollywood itu. 2 pasang mata kami memantau sekitara bersama sama.
Barrrrrrr...... Sampailah kami berhenti di satu titik. Kami berdua terdiam, tepaku, terpana dan membisu tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata apapun. Tubuh kami bergetar menggigil hebat. Detak jantung bertamabah cepat bahkan nafas tersengal sengal. Kami tak percaya, wanita yang dikatakan Pak Hadiman dan Pak Yono lewat tepat di depan kami. Tepat di jalan desa di depan pos jaga ronda kami. Dengan pakaian seperti Putri Putri Keratonan Kesultanan Jawa yang indah di balut dengan selendang hijau yang mengkilap berhiaskan mahkota emas dikepalanya, dia menatap tajam kami berdua. Pandangan matanya seakan akan ingin menyampaikan sesuatu. Raut wajahnya merah merona seperti menahan sesuatu. Walaupun parasnya begitu cantik nan jelita namun kemunculannya saat dini hari merupakan hal yang lain diatas normal. Terlebih dengan pakaian bak puteri keraton yang dikenakannya. Saat kucoba melihat kakinya. Astaga, kakinya tidak menyentuh tanah sama sekali!!!
Keringat dingin kami mengucur begitu deras disekujur tubuh kami. Lalu, tanpa komando aku langsung mulai komat kamit membaca Ayat Kursi, Al-Fatihah dan beberapa Surah pendek lainnya. Belum selesai aku membaca Ayat Kursi, dia pun berlalu dengan cepat seperti kilatan cahaya pergi meninggalkan kami yang telah mematung membisu ketakutan. Terlebih lebih kami, karena seumur umur hidup kami belum pernah melihat hal seperti ini dari jarak sangat dekat hanya hitungan meter saja! Memang ada penampakan begu, pocong dan kuntilanak beberapa waktu lalu namun kami menyaksikannya lumayan jauh dan ramai ketika pengusiran sedang dilaksanakan.
“Di, gimana ini? Kita cerita ke mereka?” tiba tiba Marsinto bisa mengeluarkan kata kata. “Jangan To, cukup kita berdua saja yang tahu. Bisa bisa tambah runyam ntar”. “Kau gak takut lihatnya?” “To, kalau bisa menjerit aku akan menjerit namun aku langsung membaca Ayat Kursi sesuai pesan Pak Haji Ustadz Jamal jika melihat penampakan”. Kami pun terdiam kembali hanya saling duduk merapat. Pelan pelan kuhisap rokok LA mild ku, begitu juga dengan Marsinto, asap rokok yang dikeluarkannya tak putus putus seperti lokomotif uap jaman dulu, Big Boy punya United States of America. Angin malam terus berhembus perlhan lahan ditambah suara suara hewan malam membuat kami semakin lemah tak berdaya. Namun, kami memilih tetap bertahan di posisi terakhir seperti peserta Uji Nyali TV swasta Nasional sampai pukul empat pagi.
-------------------------------
Quote:
Teng teng teng tiga kali jam pos jaga ronda berdentang menunjukka pukul tiga. Perlahan lahan kekuatan kami sudah mulai pulih. Badan kami sudah leluasa bisa digerakkan. Namun kami memilih tetap duduk berdekatan seperti dua sejoli yang sedang memadu kasih. Tapi kami bukanlah sepasang gay homo melainkan dua orang pria yang hampir hilang kejantanannya karena bertemu sesosok makhluk ghaib. “Di, lihat ke atas bukit sana! Terang sekali seperti ada pasar malam keliling!” Marsinto mengagetkanku dengan suara yang cukup pelan.
Kupalingkan mataku dari berita Detik.com di HP ku mengikuti jari Marsinto yang menunjuk ke arah bukit. “Astaga! Tak mungkin ini!” gumamku dalam hati. “Gawat To, makin gawat ini! Banyak baca To!” pintaku. “Iya Di, ayo” balasnya. Mulailah mulut kami komat kami tanpa henti. HP kami pun di stand-by kan disamping kami. Cahaya tersebut memang terang sekali. Aku seperti melihat kota Medan dari atas Bukit Penatapan, Berastagi, Tanah Karo. Terang sekali memang cahaya itu, tampak seperti sebuah kota karena warnanya bukan murni didominasi putih melainkan terdiri dari beberapa cahaya lainnya.
25 menit berlalu kami pun berhenti membaca ayat ayat suci dan doa doa. Kami melihat kembali ke arah bukit. Gelap! Tanpa ada setitik pun cahaya di sana! Bahkan kami bisa melihat terangnya bintang bintang yang merupakan ekor dari rangkaian rasi bintang Aries. “Gila nie Di!”. “Iyeee To” sambungku dengan gemetaran. “To, beda sekali dengan apa yang kita lihat di HP kan?”. “Iya Di, kalau di HP aku santai saja, ini langsung depan mata kita. Untungnya kamu tadi baca baca. Kalo nggak bisa bisa mampus(mati) aku tadi”. “Alhamdulillah” balasku singkat...
Kupalingkan mataku dari berita Detik.com di HP ku mengikuti jari Marsinto yang menunjuk ke arah bukit. “Astaga! Tak mungkin ini!” gumamku dalam hati. “Gawat To, makin gawat ini! Banyak baca To!” pintaku. “Iya Di, ayo” balasnya. Mulailah mulut kami komat kami tanpa henti. HP kami pun di stand-by kan disamping kami. Cahaya tersebut memang terang sekali. Aku seperti melihat kota Medan dari atas Bukit Penatapan, Berastagi, Tanah Karo. Terang sekali memang cahaya itu, tampak seperti sebuah kota karena warnanya bukan murni didominasi putih melainkan terdiri dari beberapa cahaya lainnya.
25 menit berlalu kami pun berhenti membaca ayat ayat suci dan doa doa. Kami melihat kembali ke arah bukit. Gelap! Tanpa ada setitik pun cahaya di sana! Bahkan kami bisa melihat terangnya bintang bintang yang merupakan ekor dari rangkaian rasi bintang Aries. “Gila nie Di!”. “Iyeee To” sambungku dengan gemetaran. “To, beda sekali dengan apa yang kita lihat di HP kan?”. “Iya Di, kalau di HP aku santai saja, ini langsung depan mata kita. Untungnya kamu tadi baca baca. Kalo nggak bisa bisa mampus(mati) aku tadi”. “Alhamdulillah” balasku singkat...
-------------------------------
Quote:
Teng teng teng lonceng jam pos jaga ronda ini berdentang empat kali menandai pukul empat pagi. “To, bangunin Bapakku sama yang laennya yok”. “Cocoklah itu Di, biar bisa tenang istirahat kita, udah tak kuat badanku ini” sambungnya. “Pak Pak Pak, bangun udah jam empat gantian” panggilku berulang kali. Tiba tiba Marsinto komat kamit tanpa suara, namun aku bisa dengan jelas membacanya “Di, kejadian yang tadi kita tutup mulut aja. Jangan sampai tahu mereka”. Kubalas dia dengan memberikan isyarat oke di jariku.
“Ya ya ya, ini bangun Bapak sekarang” sahut Bapakku terputus putus seraya menegakkan badannya. “Cemen kali pun kalian jadi laki laki, baru segitu aja begadang udah nyerah” sambung Pak Domo dengan mulut menguap lebar terbuka. “Maklumlah Pak, kami kan tadi siang ke kota. Belom ada istirahatnya nie” belasku ketus. Aku dan Marsinto langsung merebahkan badan menutup mata berharap Bapakku dan yang lainnya tak memperhatikan badan kami yang sangat lemas. Mereka pun melanjutkan begadang hingga pagi hari sambil menyaksikan Liga Champion.
“Ya ya ya, ini bangun Bapak sekarang” sahut Bapakku terputus putus seraya menegakkan badannya. “Cemen kali pun kalian jadi laki laki, baru segitu aja begadang udah nyerah” sambung Pak Domo dengan mulut menguap lebar terbuka. “Maklumlah Pak, kami kan tadi siang ke kota. Belom ada istirahatnya nie” belasku ketus. Aku dan Marsinto langsung merebahkan badan menutup mata berharap Bapakku dan yang lainnya tak memperhatikan badan kami yang sangat lemas. Mereka pun melanjutkan begadang hingga pagi hari sambil menyaksikan Liga Champion.
-------------------------------
Quote:
“Oi, monyet tidur! Bangun! Jangan merem wae!” teriak si Dedi dan Karto bersahut sahutan ditelingaku dan telinga Marsinto. Aku pun terbangun, “Dasar setan gendeng!”gumamku dalam hati. Dengan terpaksa kami pun membuka mata kami. Hanya kami berempat yang ada di pos jaga ronda, sementra Bapak Bapak lainnya mulia berpamitan ketika Dedi dan Karto muncul. Terutama Pak Hadiman dan Pak Yono, mereka sudah duluan pamit pukul 5 pagi sesuai pembicaraan tadi malam menghindari kecurigaan warga desa lainnya.
“Mandi sono, ntar mau pertemuan lagi warga kampung dengan rombongan itu” celetuk Karto. “Kapan? Jam berapa?”. “Jam 9 pagi ini di rumah Pak Kepling” sahut Dedi seraya menyiramkan air ke kepala Marsinto. “Asu, setan gendeng, mbahmu pecah tujuh!” jerit Marsinto kaget karena air yang disiramkan Dedi ke wajahnya. “Makanya sampeyan bangun toh!” sahut Bapakku dari balik mobil rombongan itu bersama dengan beberapa orang rombongan itu. Tapi, asyik juga ini kalau pulang sekarang. Lagi banyak cewek cewek cantik di rumahku. Terutama ada bule bule bule cantik itu, sama gak yach kira kira dengan di internet sexy nya badan mereka, pikirku kotor. “Ach sudahlah, postive thinking wae!” gumamku kecil yang disahuti Karto “Sehat Di? Udah periksa ke Puskemas?”. “Mbahmu jumping jungkir balik tunggang langgang!” sahutku tertawa. Kami pun membubarkan diri menuju rumah masing masing.
“Mandi sono, ntar mau pertemuan lagi warga kampung dengan rombongan itu” celetuk Karto. “Kapan? Jam berapa?”. “Jam 9 pagi ini di rumah Pak Kepling” sahut Dedi seraya menyiramkan air ke kepala Marsinto. “Asu, setan gendeng, mbahmu pecah tujuh!” jerit Marsinto kaget karena air yang disiramkan Dedi ke wajahnya. “Makanya sampeyan bangun toh!” sahut Bapakku dari balik mobil rombongan itu bersama dengan beberapa orang rombongan itu. Tapi, asyik juga ini kalau pulang sekarang. Lagi banyak cewek cewek cantik di rumahku. Terutama ada bule bule bule cantik itu, sama gak yach kira kira dengan di internet sexy nya badan mereka, pikirku kotor. “Ach sudahlah, postive thinking wae!” gumamku kecil yang disahuti Karto “Sehat Di? Udah periksa ke Puskemas?”. “Mbahmu jumping jungkir balik tunggang langgang!” sahutku tertawa. Kami pun membubarkan diri menuju rumah masing masing.
-------------------------------
Quote:
Sesampainya di rumah hanya Ibuku yang telah menungguku sedari tadi. Ternyata wanita wanita tersebut sudah pergi duluan. Yups, waktunya bersih bersih mandi sembari berusaha melupakan peristiwa super seram tadi malam yang kualami bersama Marsinto. Mungkin dengan mandi dan beristirahat sejenak aku dapat melupakannya. Tepat pukul 9 pagi aku beranjak menyusul Ibuku yang sudah berangkat duluan ke rumah Pak Kepling. Badan bersih selepas mandi, perutpun sudah kenyang penuh aku pun beranjak menuju rumah Pak Kepling. Kuhisap sebatang rokok mild dengan khidmat diperjalanan. Perlahan lahan kakiku kuajak berjalan menysuri jalanan desa.
Klerrrrrrrr..... Perasaan ini terasa kembali, padahal ini masih pagi. Seakan akan ada yang mengikuti dari belakang. Aku gemetar dan tidak menoleh kebelakang sedikitpun. Kukuatkan hatiku dan kubaca terus Ayat ayat Suci dan Doa. Tiba tiba tanpa aba aba, aku dipeluk dari belakang. “Bang Aldi!” teriaknya. Sontak badanku lemas terkejut. “Ih kirain siapa dari tadi? Mirip hantu aja” balasku. “Enak aja panggil aku hantu Bang, cantik cantik gini kan kita pernah hampir jadian Bang” sambungnya tertawa. Yups, wanita itu adalah Mirna, seorang gadis desa berkulit putih, montok, paras geulis pisan yang pernah kucintai dahulu kala. Memang benar perkataanya kami hampir jadian, namun aku memilih untuk tidak melanjutkannya karena aku belum siap menerima keadaannya. Dia telah menjanda tanpa anak ditinggal suaminya karena suaminya tertangkap tangan menjadi kurir narkoba lintas negara di perbatasan Indonesia-Malaysia. Ketika hubungan kami sedang dekat dekatnya, orang tuanya lebih memilih untuk menikahkannya dengan mantan suaminya. Tak lain dan tak bukan alasannnya karena uang mantan suaminya lebih banyak, namun itu semua hasil dari narkoba. Kami berdua pun pergi bersama, mengobrol sepanjang jalan menuju rumah Pak Kepling.
“Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” buka Pak Kepling memulai pertemuan ini. “Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh” sahut kami semua. “Saya mulai pertemuan ini untuk membahas dalam rangka apa Bapak Ibu rombongan Universitas ternama ini di desa kita ini, Desa Sari Makmur. Sebagaimana Bapak Ibu semua ketahui Bapak Ibu yang datang kemarin sore berjumlah 20 orang ini datang ke desa kita ini untuk melakukan sebuah penelitian”. Sontak saja semua orang kaget namun wajah mereka menunjukkan raut gembira senang. “Bapak Ibu rombongan ini adalah rombongan team arkeolog atau peneliti sejarah dari beberapa universitas terkenal di Indonesia dan dunia. Mereka akan memulai penelitian di desa kita ini selama 3 bulan kedepan”. Terlihat wajah para gadis tersenyum senyum melihat mereka. Bahkan Ibu Ibu yang sudah memiliki anak 2, 3 dan 4 pun tersenyum senyum. Ntah apa di pikiran mereka ini, dasar wanita.
“Rombongan tim arkeolog ini akan melakukan penelitian di bukit di selatan desa kita. Menurut mereka, berdasarkan gambar satelit canggih mereka ada sebuah peninggalan kota tua disana”. Warga desa pun menyambut riuh dengan bertepuk tangan sehingga seperti ada hajatan di halaman rumah Pak Kepling. Namun, bagi Mbah Suroso dan Mbah Wagimin mereka tidak terlihat begitu senang. Terlihat dari posisiku mereka hanya senyum ala kadarnya. Apa mungkin ada sesuatu di sana yang tidak kami ketahui, sedangkan kedua kakek tua ini tahu sesuatu? Pikirku pendek. Mungkin saja iya, karena kedua Mbah ini sudah berumur 80 tahun lebih dan pernah merasakan kejamnya jaman penjajahan kompeni Holland dan samurai Japan yang sarat penyiksaan dan kematian di bumi pertiwi Indonesia.
“Untuk itu saya dan Pak Tejo, selaku ketua team arkeolog telah menyusun daftar warga yang akan membantu mereka langsung di lapangan. Saya menunjuk Aldi sebagai ketua team dari desa kita ini” demikian Pak Kepling berkata yang disambut riuh protes dari kalangan remaja pria disertai tatapan sinis mereka. Aku pun kaget mendengar perkataan Pak Kepling, seperti dipukul dengan balok 5 x 5 inchi rasanya. “Tenang tenang semuanya, saya memilih Aldi karena dia memiliki kemampuan lebih dari adik adik semua. Di desa kita ini hanya dia yang memiliki kemampuan lebih utntuk ilmu tertentu seperti elektronik, komputer bahkan mampu berbahasa Inggris. Nah, jika adik adik tak suka dengan keputusan saya, silahkan lapor ke saya siapa di sini yang bisa berbahasa Inggris dengan lancar selain Aldi?” kericuhan pun langsung diam dan para pemuda desa tertunduk malu. “Untuk kegiatan ini kita bukan hanya perlu otot saja namun otak juga. Jadi saya harapkan gaji dari mereka jangan sampai sia sia bahkan malah mempermalukan kita” tutup Pak Kepling. Aku pun memilih pergi meninggalkan mereka yang sedang ber foto ria dengan para anggota team tersebut, terutama bule bule itu. Di tengah perjalanan, tiba tiba Mirna menarik tanganku mengajakku ke rumahku untuk ngobrol.
Klerrrrrrrr..... Perasaan ini terasa kembali, padahal ini masih pagi. Seakan akan ada yang mengikuti dari belakang. Aku gemetar dan tidak menoleh kebelakang sedikitpun. Kukuatkan hatiku dan kubaca terus Ayat ayat Suci dan Doa. Tiba tiba tanpa aba aba, aku dipeluk dari belakang. “Bang Aldi!” teriaknya. Sontak badanku lemas terkejut. “Ih kirain siapa dari tadi? Mirip hantu aja” balasku. “Enak aja panggil aku hantu Bang, cantik cantik gini kan kita pernah hampir jadian Bang” sambungnya tertawa. Yups, wanita itu adalah Mirna, seorang gadis desa berkulit putih, montok, paras geulis pisan yang pernah kucintai dahulu kala. Memang benar perkataanya kami hampir jadian, namun aku memilih untuk tidak melanjutkannya karena aku belum siap menerima keadaannya. Dia telah menjanda tanpa anak ditinggal suaminya karena suaminya tertangkap tangan menjadi kurir narkoba lintas negara di perbatasan Indonesia-Malaysia. Ketika hubungan kami sedang dekat dekatnya, orang tuanya lebih memilih untuk menikahkannya dengan mantan suaminya. Tak lain dan tak bukan alasannnya karena uang mantan suaminya lebih banyak, namun itu semua hasil dari narkoba. Kami berdua pun pergi bersama, mengobrol sepanjang jalan menuju rumah Pak Kepling.
“Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” buka Pak Kepling memulai pertemuan ini. “Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh” sahut kami semua. “Saya mulai pertemuan ini untuk membahas dalam rangka apa Bapak Ibu rombongan Universitas ternama ini di desa kita ini, Desa Sari Makmur. Sebagaimana Bapak Ibu semua ketahui Bapak Ibu yang datang kemarin sore berjumlah 20 orang ini datang ke desa kita ini untuk melakukan sebuah penelitian”. Sontak saja semua orang kaget namun wajah mereka menunjukkan raut gembira senang. “Bapak Ibu rombongan ini adalah rombongan team arkeolog atau peneliti sejarah dari beberapa universitas terkenal di Indonesia dan dunia. Mereka akan memulai penelitian di desa kita ini selama 3 bulan kedepan”. Terlihat wajah para gadis tersenyum senyum melihat mereka. Bahkan Ibu Ibu yang sudah memiliki anak 2, 3 dan 4 pun tersenyum senyum. Ntah apa di pikiran mereka ini, dasar wanita.
“Rombongan tim arkeolog ini akan melakukan penelitian di bukit di selatan desa kita. Menurut mereka, berdasarkan gambar satelit canggih mereka ada sebuah peninggalan kota tua disana”. Warga desa pun menyambut riuh dengan bertepuk tangan sehingga seperti ada hajatan di halaman rumah Pak Kepling. Namun, bagi Mbah Suroso dan Mbah Wagimin mereka tidak terlihat begitu senang. Terlihat dari posisiku mereka hanya senyum ala kadarnya. Apa mungkin ada sesuatu di sana yang tidak kami ketahui, sedangkan kedua kakek tua ini tahu sesuatu? Pikirku pendek. Mungkin saja iya, karena kedua Mbah ini sudah berumur 80 tahun lebih dan pernah merasakan kejamnya jaman penjajahan kompeni Holland dan samurai Japan yang sarat penyiksaan dan kematian di bumi pertiwi Indonesia.
“Untuk itu saya dan Pak Tejo, selaku ketua team arkeolog telah menyusun daftar warga yang akan membantu mereka langsung di lapangan. Saya menunjuk Aldi sebagai ketua team dari desa kita ini” demikian Pak Kepling berkata yang disambut riuh protes dari kalangan remaja pria disertai tatapan sinis mereka. Aku pun kaget mendengar perkataan Pak Kepling, seperti dipukul dengan balok 5 x 5 inchi rasanya. “Tenang tenang semuanya, saya memilih Aldi karena dia memiliki kemampuan lebih dari adik adik semua. Di desa kita ini hanya dia yang memiliki kemampuan lebih utntuk ilmu tertentu seperti elektronik, komputer bahkan mampu berbahasa Inggris. Nah, jika adik adik tak suka dengan keputusan saya, silahkan lapor ke saya siapa di sini yang bisa berbahasa Inggris dengan lancar selain Aldi?” kericuhan pun langsung diam dan para pemuda desa tertunduk malu. “Untuk kegiatan ini kita bukan hanya perlu otot saja namun otak juga. Jadi saya harapkan gaji dari mereka jangan sampai sia sia bahkan malah mempermalukan kita” tutup Pak Kepling. Aku pun memilih pergi meninggalkan mereka yang sedang ber foto ria dengan para anggota team tersebut, terutama bule bule itu. Di tengah perjalanan, tiba tiba Mirna menarik tanganku mengajakku ke rumahku untuk ngobrol.
-------------------------------
Quote:
“Selamat ya Bang udah terpilih ama Pak Kepling kita” Mirna memulai kata kata pertama kali saat kucecahkan pantatku di pondok lesehan belakang rumah. “Ach gak hebat habat amat tuh Dek. Biasa aja” sambutku merendah. Seraya kurebahkan kepalaku ke pangkuan paha Mirna seperti biasanya, aku berkata “Moga moga ekspedisi ini tidak berbuah petaka”. “Ach Abang ini jangan ngomong aneh aneh lah! Takut Mirna jadinya” sambil memeluk erat kepalaku dipangkuannya. Memang kami sudah terbiasa bermesaraan seperti ini bahkan sebelum Mirna menikah, namun hanya di rumahku dan rumah Mirna saja kami berani bermesraan menghindari orang orang kampungku. “Gak apa apa kok Dek, Abang janji gak akan kenapa kenapa” gombalku sambil tersenyum.
“Di, Mirna. Udah makan kalian?” tanya Ibuku dari dalam rumah. “Belum Mak!” jawab Mirna. “Ayo makan cepat duluan sini sama, soalnya Emak sama Bapak nanti akan makan bersama dengan team itu!” teriak panjang Ibuku lagi. “Ya Mak, ini kami mau masuk ke dalam” sambungku. “Tapi, janjikan Abang gak ada sesuatu yang aneh aneh terjadi nanti kan?” tanya Mirna penuh penasaran. “Tenanglah Mirna, selepas ekspedisi ini nanti kita akan bicara kelanjutan hubungan kita secara resmi” balasku yang membuat Mirna senyum dengan pipi merah merona seraya menarikku masuk ke dalam rumahku untuk makan siang.
“Di, Mirna. Udah makan kalian?” tanya Ibuku dari dalam rumah. “Belum Mak!” jawab Mirna. “Ayo makan cepat duluan sini sama, soalnya Emak sama Bapak nanti akan makan bersama dengan team itu!” teriak panjang Ibuku lagi. “Ya Mak, ini kami mau masuk ke dalam” sambungku. “Tapi, janjikan Abang gak ada sesuatu yang aneh aneh terjadi nanti kan?” tanya Mirna penuh penasaran. “Tenanglah Mirna, selepas ekspedisi ini nanti kita akan bicara kelanjutan hubungan kita secara resmi” balasku yang membuat Mirna senyum dengan pipi merah merona seraya menarikku masuk ke dalam rumahku untuk makan siang.
Diubah oleh fandi.bin.stres 23-03-2017 02:47
sirluciuzenze dan jenggalasunyi memberi reputasi
2
Kutip
Balas