Kaskus

Story

ra...a..Avatar border
TS
ra...a..
I Love You Still, Dear. Lydia.

- INTRODUCTION -

Hujan kecil di minggu sore itu semakin menggelapkan awan. Tetes air yang semula abu menjadi pekat seiring dengan tinggalnya senja. Alunan nyanyi Gereja berpadu dengan Adzan Maghrib dari Masjid sebelah, aku tinggal di sebuah kota kecil yang menjunjung tinggi toleransi beragama, juga suku dan ras yang membaur di dalamnya. Sembari memegang buku pujian serba hijau, sedang mataku tak tertuju di dalamnya, teralih pandangku.

----------

Untuk kawan, sahabatku yang sedang berusaha menelaah tulisan ini, perkenalkan.

Panggil saja, Jodi.

Ya, untungnya aku adalah manusia sepenuhnya. Laki-laki, jelas. Tinggiku tak seberapa. Rata-rata orang Asia pada umumnya. Dengan kulit yang pernah terang dan terbakar matahari seiring dengan berjalannya umur. Intinya, tidaklah terlalu tampan, namun bisa dibilang cukup menarik.

Bagiku, musik yang hidup adalah hidup. Aku adalah penggemar berat musik juga instrumennya. Mulai dari Frank Sinatra, Casiopea, Chic Corea, Al-Jarreau, David Foster, Earth Wind And Fire, Michael Buble, hingga Dream Theatermenjadi playlist tetap di handphone. Musik adalah ekspresi, dan indah adalah relatif. Tergantung dari sisi mana telinga kita mendengar, dan hati kita yang merancang makna.

Namun tetap, musik Gereja adalah yang terbaik yang selalu kudengar. Cobalah, dan imani dengan kepercayaanmu.

----------

Bagi kalian yang bukan penikmat bacaan bertemakan cinta seseorang kepada hati yang lain, silahkan close halaman ini. Bukan apa-apa. Kalian telah membuang beberapa detik kalian baru saja. Dan membaca hal yang tidak menarik hati kalian, akan semakin membuang waktu. Setidaknya salam kenal untukmu. Semoga harimu menyenangkan.

Dan bagi kalian yang ingin tetap tinggal, selamat datang.

Sejujurnya, ini adalah, dan akan menjadi buku harian mengenai kekagumanku atas seseorang yang sampai detik ini masih setia kuperjuangkan. Kisah dalam cerita ini adalah real dengan sedikit tambahan agar ceritanya menjadi esensi.

Sejujurnya lagi, tidak ada drama di dalamnya. Sungguh. Tidak ada. Drama itu ditulis, dan dibuat-buat jalan ceritanya. Sedangkan yang kutulis adalah seutuhnya terjadi. Tidak ada yang dibuat-buat atau direncanakan.

Sebaik mungkin akan kucoba menggambarkan segalanya dengan tepat. Namun, ada satu hal yang aku mohonkan maaf pada kalian, sahabatku. Entah kenapa, sulit sekali untuk menemukan padanan yang sama indahnya dengan seseorang yang akan kuceritakan di sini. Jadi, maaf jika kalian tidak akan pernah merasakan indahnya seseorang itu secara utuh. Sudah kucoba yang terbaik, namun indahnya sungguh tak tergambarkan oleh kata terbaik manapun.

Well, selamat membaca. Semoga menikmati, terinspirasi, dan memberkati.

Sekali lagi, ini adalah cerita real tanpa ada yang dibuat-buat. Dan (terpaksa) harus dimulai dari tengah-tengah kisah. Karena susah sekali untuk mengingat cara awal kami berkenalan dulu, bertahun lalu.

So, I hope you guys enjoy the stories. (:

----------

- INDECES -

Spoiler for Index(ces):

Diubah oleh ra...a.. 22-03-2017 23:42
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
3.2K
25
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.5KAnggota
Tampilkan semua post
ra...a..Avatar border
TS
ra...a..
#25
CHAPTER 1: SILUET KASAT MATA | PART 1
Senin, 21 November 2016.

Aku sedang berdiri, berada di pijakan tangga penonton, di hall yang besarnya cukup untuk bermain dua bola futsal di dalamnya. Mataku menyapu pandangan dari kiri ke kanan ke kiri. Mengamat-amati dengan pandangan yang terdongak. Terdapat sebuah panggung berkarpet hitam-merah besar di hadap depan saling menatap penonton. Di atasnya terjejer alat musik lengkap dengan perkabelannya.

“Di, kita nomor urut berapa sih?”, tanya Eric padaku.

“Nomor dua Ric.”

“Ah elu nggak hoki sih tangannya. Depan banget kita.”
, timpalnya kesal.

“Nggak pa pa kali Ric. Justru nomer dua kan pas. Nggak korban sound, trus penilaian juri juga standar nya belom banyak. Bisa aja yang
pertama kurang sip, trus kita bisa dapet nilai nya bagus.”

“Ya tapi nervous nih gue. Depan banget. Ntar abis main gue cabut aja lah. Liat yang lain malah stress gue ntar.”

“Yaelah bro. PD aja kali. Yang penting kasih yang terbaik aja.”
, cobaku membangun percaya dirinya.

Tepat. Kami sedang berada di tengah perlombaan musik. Kategorinya cukup banyak. Ada sepuluh kategori perlombaan selama tiga hari. Dari solo vocal, vocal group, paduan suara, hingga yang terakhir band. Yang menakjubkan adalah, hall sebesar ini dapat terisi penuh dengan riuh penonton dari berbagai arah. Wajar jika tangan Eric seketika agak dingin. Pendingin ruangan di hall ini memang keterlaluan.

----------

Ah iya, perkenalkan teman seperjuanganku hari itu.

Yang pertama, Eric. Orang paling formal di team, juga di kehidupan sehari-hari. Kuliahnya sangat (sangat!) padat dengan kelas, rapat, dan asistensi. Pakaiannya tak pernah selain kemeja, celana panjang chino atau kain, dan sepatu boots coklat muda andalannya itu. Rambutnya tersisir rapi, dan wanginya tak terlalu kurang ajar. Asalnya dari kota besar di timur Jawa dan dia dipercaya untuk memetik enam lapis senar dengan effect yang sebesar koper selalu tersambung. Selain itu, ia juga membantuku mengarsir musik agar lebih berisi. Orangnya easy going, tidak sekaku penampilannya. Cukup idaman wanita lah.

Kedua, Rico. Dia (ternyata) adalah adik kandung dari Eric. Tapi, wajah mereka sangat berbeda. Begitupun personality mereka. Rico ini adalah anak IT, sejurus denganku. Tubuhnya tinggi melebihi kakaknya yang entah bagaimana mereka bisa satu keluarga. Pakaiannya wajar, tak selalu formal. Kadang padanan kaus dan celana panjang jeans. Kacamata tebal, dan brewok tipis. Yang membedakan adalah, Rico ini pendiam sekali. Jarang sekali bicara, apalagi tertawa. Paling jauh hanya senyum kecil yang terkesan diada-adakan agar suasana agak cair. Rico ini didaulat oleh kakaknya untuk bermain dengan lima buah senar besar. Ya, lumayan idaman wanita lah.

Ketiga, Kris. Satu kata yang tepat untuk menggambarkan orang ini adalah. SWAG! Model rambutnya persis sama dengan Dav*d Be*t pada waktu itu. Kris ini adalah YouTuber dan punya eksistensi tinggi di socmed seperti instagram. Ya, so far hanya YouTube, dan instagram. Datang merantau dari pulau perebutan tiga negara. Wajarlah jika dompet yang dikantonginya cukup tebal. Layaknya YouTuber, Kris adalah orang yang humoris, asyik, dan tentu saja easy going. Selain punya tingkat charm yang tinggi, instrumen yang dipegangnya pun mostly membuat hati wanita, banyak wanita, luluh. Clue nya adalah, ditiup.

Keempat, Bob. Pribadinya tenang, dan yang tertua di team. Walaupun berumur, tapi ide nya dalam komposisi musik sangat fresh. Walaupun berumur, tapi obrolan kami tetap terjalin santai dan tanpa dibuat-buat. Kekasihnya, yang selalu setia menemani kami latihan sampai larut malam, seperti manager kami. Shinta. Mereka selalu bersama, kemanapun angin membawa mereka. Setidaknya, itu baik. Karena sendiri itu tak selamanya menyenangkan. Dan Bob adalah pemegang kepercayaan kami atas instrumen teka-teki, hitam-putih.

Kelima, Eva. Satu-satunya perempuan di team, dan ujung tombak kami di festival ini. Usianya paling muda. Parasnya anggun, cantik, gemerlap, sampai-sampai bicaranya pun seolah merdu bernada. Dengan gaun merah muda yang dikenakannya malam itu, menjadi penarik pandang mata bagi setiap tatap yang menyapu panggung. Sayangnya, sudah termiliki.

Keenam? Ah. Tak terlalu penting.

----------

“Selamat malam! Selamat datang di festival pesparawi Kota ********. Perkenalkan, nama saya Widi, dan saya yang akan menjadi pemandu acara pada malam hari ini. Setengah jam yang lalu, kita telah menyelesaikan perlombaan di kategori paduan suara dewasa, dan akan melanjutkan ke kategori terakhir, yaitu lomba band. Sebelum kita mulai, saya akan terlebih dahulu membacakan tata tertib bagi penonton dan peserta.”, ujar seorang wanita berambut setengah punggung tergerai apik.

“Bro gue keluar dulu beli minum ya?”

“Yaelah Kris, udah mau mulai nih. Nomor dua loh.”

“Biar ga nervous bro. Deg-degan nih gue yang nonton banyak banget!”

“Yaudah, tapi jangan lama-lama. Gue titip deh sekalian.”

“Titip apaan?”

“Apa aja yang manis gitu”

“Yah ribet dong bro.”

“Ribet gimana maksud lu?”

“Ribet lah. Susah ngebungkus diri sendiri.”
, katanya sambil tertawa.

“NGGAK JADI! UDAH SANA LU PERGI NGGAK USAH BALIK LAGI!”

“Yaelah, gitu doang marah broooo.. Hahahaha”

“BODO AMAT!”

Di tengah percakapan kami yang tidak terlalu penting itu, seseorang menghampiri kami. Dengan kemeja putih, jas, berdasi merah, saku yang terlipat, dan tergopoh-gopoh. Dari wajahnya, nampak jelas pria setengah baya.

"Kalian, nomor undi, dua?", tanyanya dengan terengah-engah.

"Eh, iya pak, betul.", jawab Bob masih dengan rona kejutnya.

"Ikut saya sekarang!"

Seketika orang itu berlari sambil wajahnya masih membalas pandang kami. Kami yang terperangah sejenak hanya bisa menuruti maunya untuk berlari tanpa alasan yang jelas.

Seperti, jatuh cinta. Yang entah kemana cinta akan membawa, namun percayanya tetap penuh. Tanpa alasan yang kuperlukan untuk jatuh oleh hatinya.

Sejenak. Ada angin yang membawaku ke masa itu...

.

.

.

.

.

*pipip pipip pipip*

Aku meraih ponsel di balik bantal, dan menggeser tombol yang sepertinya hijau tua di layar.

"Hey! Aku udah bangun loh. Kamu nggak mau ngucapin apa gitu?"

.
.
.

Dan dia tersenyum..

...to be continue...


<- BACK
Diubah oleh ra...a.. 22-03-2017 23:45
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.