- Beranda
- Stories from the Heart
Aku dan Paman di Sekolah
...
TS
nanaren
Aku dan Paman di Sekolah

Hai, namaku Reni Himawari. Memang aku bukan orang Jepang. Semua orang aneh dengan namaku. Namun orang tuaku senang dengan nama itu. Barangkali bisa membawa keberuntungan. Aku adalah seorang gadis SMP biasa dengan rambut dikuncir dua. Imut sih. Tapi terlihat culun.
Di sekolah, aku sering menghabiskan waktu bersama paman penjaga sekolah. Namanya Paman Suryo. Walaupun aku tidak tahu siapa keluarganya, aku senang bisa bersama Paman. Aku juga suka membantunya.
David, anak terpopuler di sekolah. Dia seorang ketua OSIS dan kapten tim sepakbola sekolah kami. Dia tampan & baik hati, sehingga banyak perempuan yang tertarik.
Clara, seorang yang cantik. Dia wakil ketua OSIS. Dia juga seorang yang berbakat. Setiap ada rapat, dia setia mendampingi David. Dialah murid pertama yang mengenal David. Tapi dia keras kepala, suka seenaknya sendiri. Sombong sekali dia itu.
Penjual barang antik, dan semua teman-teman juga guru-guru, adik-adikku tersayang,
Inilah ceritaku.
Quote:
Terima kasih sudah membaca cerita saya. Nantikan cerita selanjutnya ya

Diubah oleh nanaren 14-04-2019 14:05
anasabila memberi reputasi
1
8.3K
43
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nanaren
#13
Episode 6
Apa sih keistimewaan cermin ajaib ini? Apakah benar-benar ajaib? Mungkin aku bisa meminta satu permintaan:
Aku ingin punya tas baru dan sepatu baru, juga jus lemon. Cermin ajaib, akankah kau mengabulkan permintaanku ini?
Aku terkejut sekali. Tombol kecil berwarna-warni itu menyala memutari tombol besar.
"Reni sayang, ini ada kiriman dari ayah, tas dan sepatu baru. Kamu haus kan. Ibu sudah buat jus lemon."
"S-sebentar, Bu!"
Ini kebetulan. Pasti ini hanya kebetulan. Permintaanku terkabulkan. Sesuatu yang aku inginkan jadi nyata. Teman-teman akan iri padaku. Hihihi...
Paman Suryo senang melihatku datang. Beliau melihat-lihat tas dan sepatu baruku.
"Wah! Tasmu bagus sekali. Sepatunya baru. Kiriman dari ayahmu ya? "
"Iya. Aku suka sekali. Kata ayah, aku harus lebih giat belajar."
"Memang harus itu. Tapi kenapa kemarin mukamu kusut? "
"Oh, tidak apa-apa. Aku cuma kelelahan."
Lalu kami minum teh seperti biasa.
Di luar, kulihat David dan Clara berjalan bersama. Clara melirikku dengan raut muka masam.
"Huh, tas dan sepatu baru seperti itu saja dipamer-pamerkan. Memang apa maumu? Mau buat kami iri? Bagusan punyaku."
Uh, sombong sekali dia! Mendengar kata-katanya, aku merasa marah. Kesal sekali. Apakah David juga berpikiran sama? Kenapa tadi dia tidak menyapaku? Tidak mengucapkan terima kasih lagi. Bahkan kemarin aku tidak sempat bicara dengan dia.
Aku ingin sekali David memperhatikanku. Walau hanya sekali saja. Walau aku bukan siapa-siapa baginya. Lagipula dia tidak suka aku. Dia juga tidak tahu kalau aku suka dia. Yang sering kulakukan hanya menemani Paman untuk minum teh. Kalau melihat mereka berdua, hatiku sakit sekali.
Sebentar lagi bel berbunyi. Untuk mengisi waktu luang, aku akan membaca buku kisah Pangeran Bill. Seingatku aku belum pernah membaca cerita terakhirnya. Karena dulu sewaktu aku masih kecil, buku itu hilang. Aku menangis. Malah sekarang buku itu tidak terbit lagi. Baiklah, aku bisa membacanya dari awal lagi. Begini ceritanya......
Uaah! Aku mulai mengantuk. Sudah panjang lebar cerita yang kubaca. Kini saatnya membaca kelanjutan kisah yang belum pernah aku baca.
Ketika halaman berikutnya lubuk, betapa kecewa aku. Halamannya kosong. Tidak ada tulisan, tidak ada gambar. Hanya kertas putih polos kekuningan. Ini memang salah cetak atau... Tapi buku ini benar-benar sama persis dengan punyaku dulu. Seingatku tidak ada halaman kosong yang tersisa. Bagaimana ini? Aku tidak akan tahu cerita terakhirnya. Padahal buku ini adalah buku yang paling aku suka. Atau mungkin saja, aku sendiri yang harus mengarangnya.
Tiba-tiba terjadi sesuatu yang aneh. Angin bertiup kencang dan sampah-sampah kertas memutari tiang. Di dalam halaman kosong buku itu terdapat lingkaran spiral seperti pusaran air. Makin lama aku makin terhisap ke dalamnya. Aku seperti jatuh di jurang. Takut sekali. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Cepat sekali putarannya. Dalam waktu 10 detik, pusaran itu hilang seketika. Lalu aku jatuh.
"Aduh, sakit sekali! Kepalaku jadi pusing."
Kubuka mata pelan-pelan. Tempat ini sungguh berbeda. Bukan ruangan kelas melainkan padang rumput yang luas. Aku tidak tahu ada apa sebenarnya. Ini mimpi atau bukan ya?
Dari kejauhan, kulihat ada seseorang. Aku mulai mendekat. Tak kusangka, yang kulihat itu ternyata adalah Pangeran Bill. Coba kupanggil.
"Pangeran, Pangeran Bill!"
"Ibu... "
"Loh, kok ibu sih."
Aku kebingungan. Dia pikir aku ini ibunya. Ketika dia menoleh ke arahku, seketika aku terlempar jauh. Seperti ada sesuatu yang mendorongku. Langsung saja keluar dari sebuah pintu gerbang besar, beserta dindingnya yang berdiri kokoh. Tingginya sekitar 4 meter. Rasanya aku ingin pulang. Tapi aku bingung, mana jalan keluarnya? Kucoba menyentuh pintu gerbang itu. Tiba-tiba ada yang bicara.
"Hei, kau tidak bisa masuk ke sini!"
"Siapa yang barusan bicara " Aku menoleh ke mana-mana.
Aku terkejut. Pintu gerbang punya mata dan mulut yang lebar. Aku bertanya lagi.
"Ini tempat apa, Pintu gerbang?"
"Ini adalah negeri dongeng."
"Benarkah? Pantas saja tadi aku melihat Pangeran Bill. Jadi, apakah aku masuk ke dalam buku?"
"Ya."
"Kenapa bisa?"
"Ini bukanlah buku sembarangan. Buku ini sangat istimewa. Kau bisa masuk kapanpun kau mau. Tapi saat ini kau tidak bisa masuk ke negeri dongeng dan aku tidak bisa dibuka. Ini karena kesalahanmu."
"Memangnya apa salahku?"
"Kau telah menghilangkan cermin pelangi. Cermin itulah kunci untuk membuka diriku."
"Cermin pelangi katamu?"
Sepertinya aku pernah lihat. Kemarin-waktu itu-kue-pertandingan sepak bola. Oh, iya! Aku menaruhnya di dalam kotak kue. Sampai aku lupa untuk mengambilnya kembali. Barangkali sudah diambil David. Kalau tidak David ya Clara. Gawat!
"Maafkan aku, Pintu gerbang."
"Kau itu sangat ceroboh. Bagaimana kalau cermin pelangi jatuh ke tangan orang yang salah? Nanti kalau pecah, negeri dongeng ini juga akan ikut hancur. Gara-gara kau, cerita terakhir 'Pangeran Bill' hilang. Sekarang kau harus dihukum."
"Tidak. Aku tidak mau. Aku harus kembali ke duniaku."
"Aku tak mau tahu. Pokoknya kau harus dijeburkan bersama buaya-buaya itu."
"Tidak! Aku belum mau mati!"
Inilah saat-saat paling mengerikan. Aku akan mati. Aku tidak akan lagi bertemu ibu, ayah, paman, apalagi David. Yang aku bisa cuma berteriak. "Tolong...! Tolong...! Tolong aku...! Tolong aku...!"
Pangeran Bill
Apa sih keistimewaan cermin ajaib ini? Apakah benar-benar ajaib? Mungkin aku bisa meminta satu permintaan:
Aku ingin punya tas baru dan sepatu baru, juga jus lemon. Cermin ajaib, akankah kau mengabulkan permintaanku ini?
Aku terkejut sekali. Tombol kecil berwarna-warni itu menyala memutari tombol besar.
"Reni sayang, ini ada kiriman dari ayah, tas dan sepatu baru. Kamu haus kan. Ibu sudah buat jus lemon."
"S-sebentar, Bu!"
Ini kebetulan. Pasti ini hanya kebetulan. Permintaanku terkabulkan. Sesuatu yang aku inginkan jadi nyata. Teman-teman akan iri padaku. Hihihi...
Paman Suryo senang melihatku datang. Beliau melihat-lihat tas dan sepatu baruku.
"Wah! Tasmu bagus sekali. Sepatunya baru. Kiriman dari ayahmu ya? "
"Iya. Aku suka sekali. Kata ayah, aku harus lebih giat belajar."
"Memang harus itu. Tapi kenapa kemarin mukamu kusut? "
"Oh, tidak apa-apa. Aku cuma kelelahan."
Lalu kami minum teh seperti biasa.
Di luar, kulihat David dan Clara berjalan bersama. Clara melirikku dengan raut muka masam.
"Huh, tas dan sepatu baru seperti itu saja dipamer-pamerkan. Memang apa maumu? Mau buat kami iri? Bagusan punyaku."
Uh, sombong sekali dia! Mendengar kata-katanya, aku merasa marah. Kesal sekali. Apakah David juga berpikiran sama? Kenapa tadi dia tidak menyapaku? Tidak mengucapkan terima kasih lagi. Bahkan kemarin aku tidak sempat bicara dengan dia.
Aku ingin sekali David memperhatikanku. Walau hanya sekali saja. Walau aku bukan siapa-siapa baginya. Lagipula dia tidak suka aku. Dia juga tidak tahu kalau aku suka dia. Yang sering kulakukan hanya menemani Paman untuk minum teh. Kalau melihat mereka berdua, hatiku sakit sekali.
Sebentar lagi bel berbunyi. Untuk mengisi waktu luang, aku akan membaca buku kisah Pangeran Bill. Seingatku aku belum pernah membaca cerita terakhirnya. Karena dulu sewaktu aku masih kecil, buku itu hilang. Aku menangis. Malah sekarang buku itu tidak terbit lagi. Baiklah, aku bisa membacanya dari awal lagi. Begini ceritanya......
Quote:
Uaah! Aku mulai mengantuk. Sudah panjang lebar cerita yang kubaca. Kini saatnya membaca kelanjutan kisah yang belum pernah aku baca.
Ketika halaman berikutnya lubuk, betapa kecewa aku. Halamannya kosong. Tidak ada tulisan, tidak ada gambar. Hanya kertas putih polos kekuningan. Ini memang salah cetak atau... Tapi buku ini benar-benar sama persis dengan punyaku dulu. Seingatku tidak ada halaman kosong yang tersisa. Bagaimana ini? Aku tidak akan tahu cerita terakhirnya. Padahal buku ini adalah buku yang paling aku suka. Atau mungkin saja, aku sendiri yang harus mengarangnya.
Tiba-tiba terjadi sesuatu yang aneh. Angin bertiup kencang dan sampah-sampah kertas memutari tiang. Di dalam halaman kosong buku itu terdapat lingkaran spiral seperti pusaran air. Makin lama aku makin terhisap ke dalamnya. Aku seperti jatuh di jurang. Takut sekali. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Cepat sekali putarannya. Dalam waktu 10 detik, pusaran itu hilang seketika. Lalu aku jatuh.
"Aduh, sakit sekali! Kepalaku jadi pusing."
Kubuka mata pelan-pelan. Tempat ini sungguh berbeda. Bukan ruangan kelas melainkan padang rumput yang luas. Aku tidak tahu ada apa sebenarnya. Ini mimpi atau bukan ya?
Dari kejauhan, kulihat ada seseorang. Aku mulai mendekat. Tak kusangka, yang kulihat itu ternyata adalah Pangeran Bill. Coba kupanggil.
"Pangeran, Pangeran Bill!"
"Ibu... "
"Loh, kok ibu sih."
Aku kebingungan. Dia pikir aku ini ibunya. Ketika dia menoleh ke arahku, seketika aku terlempar jauh. Seperti ada sesuatu yang mendorongku. Langsung saja keluar dari sebuah pintu gerbang besar, beserta dindingnya yang berdiri kokoh. Tingginya sekitar 4 meter. Rasanya aku ingin pulang. Tapi aku bingung, mana jalan keluarnya? Kucoba menyentuh pintu gerbang itu. Tiba-tiba ada yang bicara.
"Hei, kau tidak bisa masuk ke sini!"
"Siapa yang barusan bicara " Aku menoleh ke mana-mana.
Aku terkejut. Pintu gerbang punya mata dan mulut yang lebar. Aku bertanya lagi.
"Ini tempat apa, Pintu gerbang?"
"Ini adalah negeri dongeng."
"Benarkah? Pantas saja tadi aku melihat Pangeran Bill. Jadi, apakah aku masuk ke dalam buku?"
"Ya."
"Kenapa bisa?"
"Ini bukanlah buku sembarangan. Buku ini sangat istimewa. Kau bisa masuk kapanpun kau mau. Tapi saat ini kau tidak bisa masuk ke negeri dongeng dan aku tidak bisa dibuka. Ini karena kesalahanmu."
"Memangnya apa salahku?"
"Kau telah menghilangkan cermin pelangi. Cermin itulah kunci untuk membuka diriku."
"Cermin pelangi katamu?"
Sepertinya aku pernah lihat. Kemarin-waktu itu-kue-pertandingan sepak bola. Oh, iya! Aku menaruhnya di dalam kotak kue. Sampai aku lupa untuk mengambilnya kembali. Barangkali sudah diambil David. Kalau tidak David ya Clara. Gawat!
"Maafkan aku, Pintu gerbang."
"Kau itu sangat ceroboh. Bagaimana kalau cermin pelangi jatuh ke tangan orang yang salah? Nanti kalau pecah, negeri dongeng ini juga akan ikut hancur. Gara-gara kau, cerita terakhir 'Pangeran Bill' hilang. Sekarang kau harus dihukum."
"Tidak. Aku tidak mau. Aku harus kembali ke duniaku."
"Aku tak mau tahu. Pokoknya kau harus dijeburkan bersama buaya-buaya itu."
"Tidak! Aku belum mau mati!"
Inilah saat-saat paling mengerikan. Aku akan mati. Aku tidak akan lagi bertemu ibu, ayah, paman, apalagi David. Yang aku bisa cuma berteriak. "Tolong...! Tolong...! Tolong aku...! Tolong aku...!"
0