Kaskus

Story

bunbun.orenzAvatar border
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):


And I know
There's nothing I can say
To change that part

But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak

I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead



- Famous Last Words by MCR -


JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA


Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha


Quote:


Spoiler for Special Thanks:


***



Spoiler for From Me:


Versi PDF Thread Sebelumnya:

MyPI PDF

Credit thanks to Agan njum26



[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)

Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini


Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
drakenssAvatar border
snf0989Avatar border
ugalugalihAvatar border
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7Avatar border
glitch.7
#117
PART 1



September 2006 akhir, yang juga menjadi awal bulan puasa ditahun ini membuat gua mendaftarkan diri untuk menjadi seorang mahasiswa. Memang akhirnya gua memilih program D3 untuk jurusan perhotelan di kampus yang terletak di selatan jakarta ini, setelah sebelumnya meninggalkan kursus komputer yang belum selesai, dan baru berjalan satu bulan itu bersama Unang.

Gua baru mendaftar ke STP ini dengan ikut pada gelombang ketiga, yang jelas biayanya lebih besar dari gelombang pertama, belum waktu pendaftaran yang hampir tutup. Tapi alhamdulilah, gua masih bisa masuk ke STP ini dan menjadi salah satu mahasiswa disini.

Bukan tanpa alasan gua akhirnya memilih jurusan perhotelan. Sebuah pandangan akan realita kehidupan yang lebih baik dan mudah didapat, sukses membuat pikiran gw langsung menyetujui pandangannya. Bagaimana tidak ?, bak seorang motivator ulung, Kinanti sukses mendoktrin gua akan dunia kerja di perhotelan yang menggiurkan. Belum lagi peluang kerjanya lebih besar dibandingkan bidang lainnya. Apalagi saat itu jurusan perhotelan masih asing ditelinga gua. Karena itulah gua berpikiran yang sama dengannya. Dan mungkin benar katanya, saat ini lahan pekerjaan di dunia perhotelan tidak akan surut, banyaknya wisatawan dan hotel-hotel di negara kita membuat kebutuhan sdm pada dunia itu melonjak drastis.

Pada akhirnya, ucapannya itu terbukti, bisa kita lihat sekarang banyak sekali hotel-hotel baru yang dibangun diberbagai daerah di negeri ini.

Alasan lainnya adalah Ayah gua yang pulang dan kembali bercengkrama dengan keluarga di awal september ini. Beliau pulang dari New Zealand setelah mendapatkan waktu liburan atau cuti mungkin, selama satu bulan setengah. Enggak ada ya cuti lebih dari satu bulan selain cuti hamil ? Tapi di perusahaan tempat Ayah gua bekerja ada untuk pegawai laki-laki. Hehehe... Mungkin karena Beliau pegawai asing, jadi bisa mendapatkan liburan yang lama.
Ketika Beliau tau gua hanya mengambil kursus sebagai pendidikan selanjutnya setelah sma, Beliau langsung meminta gua memilih melanjutkan pendidikan lagi di perguruan tinggi. Dan ketika saran Kinan sebelumnya sukses mendoktrin gua, gua pun mengutarakan keinginan gua kuliah di SPT yang sama dengan Kinan kepada Beliau.

Alhamdulilah Beliau langsung setuju dengan jurusan yang akan gua ambil, lalu biaya pendaftaran pun dilunasi oleh Beliau. Dan uang semesteran berikut biaya hidup ditransfer ke rekening gua. Namun tabungannya gua bagi menjadi dua tabungan di bank yang berbeda, sesuai permintaan Beliau. Maksud beliau agar biaya kuliah dan biaya hidup gua dipisah saja. Maka tabungan khusus untuk biaya kuliah itu gua titipkan kepada Nenek, yang akan gua pakai nanti jika keperluan bayar semester, praktikum dan lain sebagainya sudah harus dibayar. Dan tabungan satu lagi, tabungan biaya hidup sehari-hari gua pegang sendiri.

Ada hal lain yang membuat tabungan gua bertambah, apalagi kalau bukan simpanan tabungan dari Almh. Ibu gua yang dititipkan kepada Kaka tiri gua, Nindi. Sesuai surat wasiat almh. Ibu yang ditunjukkan Nindi kepada gua, Nindi memberikan sebuah tabungan yang dananya dicairkan ke rekening gua. Dan akhirnya, alhamdulilah, sangat-sangat alhamdulilah gua ucapkan syukur atas rejeki yang gua terima ini. Biaya kuliah dan hidup yang gua terima dari Ayah dan almh. Ibu jika digabungkan lebih dari cukup untuk membeli sebuah rumah di pondok indah, tapi yang paling murah dan sederhana sih.

Tapi perkuliahan gua diawali dengan hati yang sedikit dongkol, pasalnya, yang gua tau jika bulan puasa itu, kampus lain rata-rata memberikan libur panjang. Gua bisa berpikir seperti itu karena mengetahui Dewa, Mba Yu dan Nindi telah liburan sebelum puasa tahun ini dimulai, bahkan lamanya liburan ada yang sampai dua bulan, rata-rata masuk kembali ke kampus mereka masing-masing usai libur lebaran.

Atau contoh yang lebih mudah, kampus gua ini memang sebuah STP jurusan perhotelan dan pariwisata, tapi kalau secara general, kampus gua adalah sebuah kampus besar ternama yang memiliki gedung utama di daerah Jakbar. Beberapa fakultas umum jelas berada di kampus utama itu. Beda halnya dengan gedung kampus gua, bahkan aturannya pun berbeda. Gua malah merasa jurusan yang gua pilih di anak tiri-kan oleh pusat, (kampus utama-red.).

Ah, ada satu hal penting soal hubungan gua dan sang kekasih, Wulan. Kami masih sering berkomunikasi, walaupun waktu kebersamaan gua dan Wulan semakin berkurang. Ya, semakin berkurang karena dia kuliah di Bandung dan gua di Ibu kota. Awal tahun 2006 hingga kelulusan sma di bulan juni lalu, gua dan Wulan masih bisa bertemu satu minggu sekali di kota gua. Tapi ketika dirinya pindah lagi ke bandung dan kost disana, kami mulai semakin sulit bertemu. Wulan sibuk untuk mengikuti masa orientasi maba disana. Sedangkan gua saat itu masih sibuk mencari-cari kampus walaupun akhirnya sempat kursus komputer bersama Unang. Ketika Wulan sudah resmi menjadi mahasiswi fakultas kedokteran gigi, semakin jarang lagi intensitas kami untuk bertemu. Gua belum pernah ke Bandung untuk menemuinya, begitupun Wulan, belum pernah lagi ke Ibu Kota untuk menemui gua. Kami bertemu hanya pada saat dia pulang ke kota kami. Awal agustus hingga september akhir ini, gua dan Wulan baru satu kali bertemu. Hubungan kami memang masih berlanjut, komunikasi via hp masih lancar, tapi perasaan kami lah yang mengganjal. Ya, baik gua ataupun Wulan sebenarnya sadar akan hal ini, ada sesuatu yang siap meledak bagai bom waktu dalam hubungan kami berdua. Apalagi kalau bukan soal perasaan kami yang semakin berkurang pada hubungan ini. Dan gua ataupun Wulan sama-sama menutup mata akan hal tersebut. Mungkin bagi kami, lebih baik membiarkan hal tersebut meledak pada waktunya nanti.

.........

Satu minggu dari awal puasa, gua sudah aktif mengikuti kelas dan kegiatan belajar di STP ini. Oh ya, nilai tambah dari jurusan yang gua pilih dari kampus ini adalah tidak adanya masa orientasi untuk Maba seperti fakultas-fakultas lain di kampus utama. Dan lagi-lagi, bagi gua pribadi, ada nilai minusnya. Karena gua berharap bisa menjadi mahasiswa seperti pada umumnya, yang memakai pakaian casual sehari-hari, rambut boleh gondrong (untuk beberapa fakultas), dan tidak menuntut penampilan yang sangat rapih layaknya di sma dulu. Tapi sayang seribu kali sayang, di jurusan gua ini ternyata mewajibkan para mahasiswa/i nya memakai seragam. Grooming is everything.

Lucu dan konyol rasanya, saat gua sedang bercermin di dalam kamar gua pagi ini. Kemeja lengan pendek, dasi dan celana bahan biru dongker sudah membalut tubuh gua. Belum lagi sebuah jas yang harus gua kenakan nanti ketika di kampus. Rasanya gua seperti pegawai spb sebuah produk, yang siap menawarkan barang dagangan kepada masyarakat secara door-to-door. Btw, seragam kemeja kampus gua bukan berwarna putih dan jasnya pun bukan berwarna hitam.
(Maaf, gua bukan memandang rendah sebuah pekerjaan yang mengharuskan pakaiannya seperti yang gua jabarkan, tapi saat itu, gua berpikir kalau gua sebagai mahasiswa kok malah harus memakai seragam seperti itu, rasanya tidak cocok untuk diri gua secara pribadi.).

Kembali ke waktu gua mengikuti perkuliahan. Singkat cerita, gua sudah berada di kampus setelah sebelumnya menaruh si kiddo di stasiun kota gua dan naik krl ke jakarta selatan ini.

Gua dan Kinan berbeda kelas, ya jelas sih, karena dia kan Maba gelombang pertama. Otomatis Kinan sudah duluan kuliah di kampus ini walaupun kami satu angkatan sekarang. Kakak kelas gua yang pada saat di sma dulu itu selalu berbaik hati pada gua, kini jadi jauh lebih baik lagi ketika kami seangkatan di kampus yang sama. Kebaikkannya ? Nantilah gua ceritakan seiring berjalannya cerita ini.

Di kampus ini gua berada dikelas G, atau kelas paling akhir di angkatan gua. Menurut gua, terdamparnya gua di kelas G ini jelas karena masuknya gua di gelombang ketiga, sedangkan Kinan yang masuk gelombang pertama berada di kelas B. Jarak ruangan kelas gua dan Kinan dekat, sangat dekat malah, karena kelas gua berseberangan dengan kelasnya, hanya dibatasi oleh taman yang berada ditengah-tengah di dalam kampus ini.

Satu kelas G terdiri dari 23 mahasiswa/i baru. Sedikit ya ? Memang. Maklumlah, gua rasa karena jurusan yang gua pilih mungkin belum terlalu populer saat itu. Mungkin loch ya. Karena bagaimanapun, buktinya satu angkatan gua terdiri dari kelas A sampai G, yang rata-rata berisikan mahasiswa/i sebanyak 23 hingga 25 orang. Hitung saja rata-rata mahasiswa/i yang di wisuda diangkatan gua jika lulus semua secara bersamaan. Sedikit menurut gua dibandingkan jurusan lain pada umumnya.

Gua duduk di kelas G dibarisan meja dan bangku bagian tengah, bukan paling belakang yang berada paling atas/tinggi, dan bukan juga dibagian depan yang paling bawah/rendah. Ya, model kelas di kampus gua itu bertingkat-tingkat seperti undakan untuk meja dan bangkunya.

Bulan puasa mengikuti perkuliahan itu rasanya seperti berada di ruang tunggu pasien dengan nomor antrian yang jauh. Ruangan ber-ac berikut sang dosen yang menerangkan dengan semangat 4 tanpa 5, alias kurang semangat, sukses membuat gua boring dan mengantuk. Matkul hari ini adalah bahasa mandarin. Matkul wajib bagi maba di semester awal seperti gua. Manteub gak tuh ? Bahasa mandarin gais, bikin otak gua mumet dan pusing melihat hurufnya. Alhasil, gua pun sukses diminta keluar kelas oleh dosen karena ketauan tertidur saat dirinya menerangkan dari bawah sana.

Gua menuju toilet yang berada diujung lorong deretan kelas gua. Beres mencuci muka dan keluar dari toilet, ternyata ada lagi yang menambah semangat gua untuk tetap membuka mata di bulan puasa ini. Seorang perempuan yang juga mahasiswi seangkatan dengan gua namun berbeda kelas sedang berjalan kearah toilet, dimana gua masih berdiri di ambang pintunya.

Rambut panjangnya berwarna hitam kemerahan, mata yang tertutupi softlens biru dan tubuh proposionalnya cukup menggoda mata gua, di saat gua harus menahan godaan agar tidak batal puasa.

Semakin dekat dirinya berjalan, sampai akhirnya dia melintas di depan gua, lalu masuk ke toilet khusus wanita disebelah kiri gua. Ada hal yang membuat gua tersenyum, apalagi kalau bukan karena dia melemparkan senyuman duluan ketika melintas tadi. Dan yang gua tau, senyum itu termasuk sedekah. Nah, karena ini bulan suci, bulan ramadan, maka gua harus perbanyak sedekah, insha Alloh nanti pahala gua berlipat ganda karena banyak sedekah seperti tersenyum tadi.

Gua tidak kembali ke kelas, ya jelaslah, kan gua sudah 'diusir' oleh dosen, dan pesannya jangan masuk lagi hingga jam matkul dia selesai siang ini.

Gua sekarang duduk di bangku kayu yang bentuknya melingkari sebuah pohon di tengah taman kampus, berada ditengah-tengah antara kelas A sampai D berikut ruang dosen serta musholla, dengan kelas E sampai G berikut toilet di lantai dasar ini. Oh ya, kelas maba yang gua sebut dari A sampai G tadi berada dilantai dasar kampus, sedangkan lantai satu untuk mahasiswa angkatan lainnya beserta lab. Komputer, lantai dua untuk mahasiswa jenjang D4 beserta beberapa ruangan praktikum serta lab. Komputer lagi, dan terakhir di lantai tiga ada aula, ruang praktikum lagi, serta studio musik amatiran.

Studio musik ? Iya. Gua gak salah nulis. Memang ada studio musik ala kadarnya di kampus gua ini. Karena yang gua dengar dari salah satu pegawai kampus, studio musik itu dibuat oleh alumni kampus gua beberapa tahun lalu, tentunya setelah izin kepada pihak kampus. Memang kampus gua khusus untuk jurusan perhotelan, tapi adanya studio musik itu ibaratnya sebagai media kreatif mahasiswa/i kampus ini. Bukan sebagai ekskul atau matkul di kampus. Yang mau pakai studio itupun bebas, asalakan sudah booking hari dan jam. Biaya ? Cukup 50 ribu rupiah, kita bisa menggunakannya selama 2 jam dalam 3x sebulan. Total berarti 6 jam dalam sebulan. Murahkan ?
Tapi itupun harus antri, ada waiting listnya. Dan yang enggak asiknya, hanya bisa digunakan di hari sabtu dan minggu, karena dari senin-jum'at dilarang menggunakan studio tersebut, karena bisa mengganggu aktifitas belajar mahasiswa, walaupun sudah memakai peredam ruangan.

Kembali saat gua masih duduk bersandarkan pohon dibelakang punggung gua. Nyaris saja mata ini terpejam kembali ketika angin sepoi-sepoi menerpa gua, tapi rasa kantuk itu hilang seketika saat mahasiswi yang gua lihat sebelumnya berjalan lagi, dan lagi-lagi kearah tempat gua berada.

"Siang...", sapanya dengan senyum yang manis ketika sudah berdiri di depan gua,
"Boleh duduk disini juga ?", tanyanya kemudian.

"Siang juga",
"Oh silahkan Mba...", jawab gua sambil tersenyum juga.

Kemudian mahasiswi di depan gua itu duduk di samping kiri gua, jarak duduk kami cukup jauh, mungkin jaraknya bisa untuk satu orang duduk diantara kami berdua.

"Lagi enggak ada kelas ?", tanyanya lagi.

"Heum ?, Oh ada kok, kelas mandarin..",
"Cuma yaa, baru aja diminta keluar tadi, ha ha ha...", jawab gua sedikit malu.

"Loch ?",
"Kenapa memangnya ?".

"Hehehe...", gua terkekeh sebelum menjawab pertanyaannya lagi,
"Biasa, gara-gara ketiduran tadi, terus diminta keluar deh sama dosennya...", jawab gua kemudian.

"Hmm, karena puasa jadi ngantuk ?"
"Alesan aja itu maa...", tembaknya kepada gua.

"Ah ha ha ha...",
"Ya salah satunya itu, cuma alesan sebenernya gara-gara dosennya enggak bisa bangun suasana di kelas..",
"Ditambah lagi itu dosen enggak ada semangat-semangatnya buat ngajar mahasiswanya...", jelas gua kepadanya.

"Alesan teruss... Hihihi...", ledeknya.

"Laah... Beneran kok",
"Coba aja rasain kalo ketemu matkul tuh dosen..",
"Eh, itu juga kalo sampai dosen yang ngajar gua ke kelas Lo sih...", ucap gua.

"Hahaha...",
"Bisa aja Lo...",
"Oh ya nama Lo siapa ?", kali ini senyumnya semakin manis terlihat oleh gua.

"Gua Eza....",
"Nama Mba sendiri siapa ?", tanya gua balik.

"Veronica...",
"Eh jangan panggil Mba lah, kita satu angkatan kok, berasa tua deh gue haha...", jawabnya.

Nama yang bagus, seperti tante operator telpon jaman baheula, he he he he...
Perkenalan gua dengan Veronica tanpa berjabat tangan, lebih santai. Btw, kenapa gua menyingkat nama Veronica menjadi Vero, seperti terbaca Vera, karena nama asli kedua karakter tersebut memang hampir mirip jika disingkat.

Obrolan kami di taman kampus ini sudah berlangsung selama setengah jam. Dimana akhirnya gua lebih mengetahui tentang Vero. Kami pun ternyata seumuran, mahasiswi yang ternyata satu kelas dengan Kinan itu berasal dari Kalimantan. Dia datang ke Ibu kota untuk melanjutkan pendidikannya, sama seperti kebanyakan anak rantau. Jelas sudah bahwa dia tinggal disini sebagai anak kost-an.

Veronica memiliki kulit yang putih seperti kebanyakan warga keturunan lainnya, memerah jika terpapar sinar matahari tanpa bisa menghitam, lalu matanya yang tidak terlalu sipit itu, tidak cukup untuk menutupi bahwa Vero memang keturunan asli bangsa dari negeri tirai bambu.

Spoiler for Veronica:


Lalu gua menanyakan kenapa dirinya juga bisa berada di taman ini, sedangkan sepertinya, kelas Kinan sedang ada praktikum sebuah matkul di lantai dua kampus. Dan jawabannya cukup membuat gua heran, bosan. Ya, Vero hanya bosan mengikuti praktikum kelas table manner yang sudah sering ia ikuti dari sejak sekolahnya dulu. Ternyata memang Vero ini dulunya bersekolah di smk yang memiliki jurusan perhotelan juga. Tidak lama kemudian, gua melihat dosen bahasa mandarin dari kelas gua keluar, lalu diikuti teman-teman kelas.

"Nah, kelas gua udah bubar tuh, pada istirahat... Lo enggak mau istirahat juga ?", tanya gua kepada Vero.

"Ini mau ke kantin, Lo puasa gak ?", tanya balik Vero kepada gua.

"Alhamdulilah gua masih puasa..",
"Ya udah gua ke kelas dulu ya...", jawab gua sembari bangkit dari bangku taman ini.

Akhirnya Vero menuju kantin kampus, sedangkan gua kembali ke kelas untuk melanjutkan tidur yang sempat terganggu sebelumnya.

Btw, kantin dikampus gua memang buka, hanya beberapa kedai saja yang buka selama bulan puasa ini. Dan disediakan sebagian ruangan yang tertutup di dalam kantin khusus diperuntukkan mahasiswa/i yang tidak berpuasa, seperti ruang kelas gitu.

Veronica memang non-muslim, jadi dirinya tidak wajib untuk berpuasa, dan rata-rata mahasiswa/i disini dominanya tidak berpuasa seperti Vero. (Bukan sara ya Gais).

Gua sudah menancapkan headset ke kedua telinga gua untuk mendengarkan lantunan lagu akustik dari N-gage classic gua. Lalu gua benamkan kepala beralaskan kedua tangan yang dilipat diatas meja. Berharap tidur kali ini sempurna, tidak terganggu lagi.

Mungkin baru beberapa menit gua mengarungi alam mimpi ketika ada tangan yang menggoyang-goyangkan bahu gua.

"Heum ?", gua bergumam sambil membuka mata.

"Za..",
"Bangun...", ucap suara seorang perempuan.

Gw pun perlahan-lahan mengangkat kepala dan menengok kearah suara disisi kiri gua itu. Dan ternyata Kinan sedang duduk disamping gua sekarang.

"Loch Kak ?",
"Ada apa ?", tanya gua sambil mengucek mata.

"Udah selesai kelas kamu nih..",
"Kamu dibangunin sama teman sekelas tapi gak bangun-bangun daritadi...", ucapnya lagi.

Gw menyapukan mata ke ruangan kelas gua ini, dan hanya ada beberapa teman kelas gua yang masih ada di dalam sini, mereka melihat gua sambil tertawa. Lalu suara dari seorang wanita dari bawah sana membuat gua malu.

"Sudah selesai Mas tidur siangnya ?", tanyanya dengan nada suara yang menahan tawa.

"Ha ha ha ha ha....", teman-teman kelas yang sisa lima orang di kelas ini pun menertawakan gua.

Dosen wanita yang tadi bertanya kepada gua pun ikut tertawa, lalu dirinya tersenyum sebelum beranjak keluar kelas gua.

"Kamu itu tidur selama mata kuliah Bu Dewi Za..",
"Kuat banget kamu tidur, emang begadang semalam ?", tanya Kinan lagi.

"Masa sih ? Selama itu aku ketiduran ?",
"Semalam ? Enggak kok, gak begadang, malah gak sempat sahur...", jawab gua kepada Kinan.

Ternyata, gua tidur selama 2 jam lamanya, selama itu pula matkul housekeeping yang diajar Bu Dewi gua lewati dengan mengarungi alam mimpi. Kinan cerita kalau dirinya menunggu gua di depan kelas tadi, ketika teman-teman kelas gua sudah keluar, Kinan masih juga belum melihat gua keluar, akhirnya dia masuk kedalam kelas gua, dan melihat Bu Dewi masih merapikan buku-bukunya di meja dosen, lalu hanya ada lima orang teman kelas gua yang belum pulang. Terakhir, gua lah yang dia lihat masih tertidur disini.

Kabar baiknya, Bu Dewi tidak marah kepada gua karena tertidur selama dia mengajar, malah Bu Dewi meminta teman-teman gua untuk tidak mengganggu gua yang asyik ketiduran. Baik banget ini dosen satu. Wah bakal jadi dosen favorit gua nih. Tapi sayangnya, matkul Bu Dewi bukanlah matkul favorit gua. Akhirnya gua dan Kinan pun keluar kelas dan menuju parkiran kampus.

Kami berdua sudah berada di dalam mobilnya, gua yang mengemudikan mobil, sedangkan Kinan duduk disamping gua. Lalu mobil pun gua pacu keluar kampus untuk menuju ke apartemennya.

Diubah oleh glitch.7 24-03-2017 08:53
jenggalasunyi
GilangM2003
j4k4pntura
j4k4pntura dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.