- Beranda
- Stories from the Heart
Love (After) Magnitude [TAMAT]
...
TS
fadw.crtv
Love (After) Magnitude [TAMAT]
Quote:
PERINGATAN!
Cerita ini bisa membuat anda baper, ngg bisa tidur, teringat mantan dan gangguan hubungan lainnya.
Cerita ini bisa membuat anda baper, ngg bisa tidur, teringat mantan dan gangguan hubungan lainnya.
Selamat datang di cerita ane yang ke-4. :welcome
Cerita ini adalah cerita lanjutan dari Love Magnitudeyang sudah tamat dan sudah di gembok.
Kenapa buat baru gan? karena cerita di sini akan menceritakan kejadian setelah apa yang terjadi di Love Magnitude.
Jadi harus baca cerita itu dong? ya kalau agan ingin ngerti betul cerita selanjutnya memang wajib baca cerita sebelumnya, karena pasti akan ada keterikatan.

Ucapan dari saya, Selamat menikmati kelanjutan ceritanya. :terimakasih
Quote:
Quote:
Ane menerima segala bentuk komentar dan kritik yang membangun, cendol juga ane terima. 

Diubah oleh fadw.crtv 29-05-2017 20:16
santet72 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
27.4K
Kutip
114
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
fadw.crtv
#108
Part 14
Quote:
Mentari pagi sudah naik dari tempatnya bersembunyi, aku yang terbiasa bangun dengan alarm kali ini berbeda. Aku terbangun oleh suara seseorang yang aku sayang namun aku sudah banyak melukai hatiny.
“Sayang, bangun udah pagi, katanya mau jalan-jalan sama aku,” suara mesra Mita terdengar di telingaku.
Pelan-pelan aku membuka mataku dan kaget melihat sosok Mita yang menurutku benar-benar cantik saat itu. Aku suka wajahnya yang sudah cantik tanpa perlu make up tebal, dengan balutan blouses berwarna biru muda dan dipadukan rok pendek diatas lutut berwarna sepadan. “Hei bangun, udah jam sembilan, Sayang.”
Aku pun bangun ke posisi duduk disampingnya. “Maafkan aku Sayang, aku sudah berbuat jahat sama kamu,” hatiku berucap.
Kepalaku masih terasa pusing dan badanku sangat capek kali ini. “Kenapa kamu bisa masuk?” tanyaku.
“Emang pintunya enggak dikunci, Sayang.” Aku langsung melihat seisi kamarku, dan aku bersyukur tidak ada barang yang menghilang.
“Aku mandi dulu yah, cantik,” ujarku sambil menuju kamar mandi.
Dalam mandiku kali ini tak bisa aku sembunyikan sesal yang begitu dalam, aku memang melakukan kesalahan bodoh, kenapa Tuhan harus menciptakan laki-laki seperti aku untuk dia, untuk Mita.
“Sayang, ini handuknya!” teriak Mita dari luar yang membuat aku kaget saat itu.
“Eh, makasih yah Sayang,” ucapku dari balik pintu menyembunyikan tubuhku yang basah.
Setelah selesai, aku keluar dengan wangi yang langsung tercium oleh Mita. “Eh, kenapa kamu tutup pintu kamarnya, sih?” tanyaku.
“Enggak apa-apa Sayang, pengen aja,” jawabnya dengan senyum manja.
“Pasti ada maunya nih,” ucapku sambil menggunakan kemeja.
Tidak ada jawaban aku dengar darinya, aku pun mendekati dan duduk disampingnya. “Kamu nyampe jam berapa semalem?” tanya Mita.
“Jam setengah satu kayanya, terus mandi langsung tidur.” Aku memainkan remote televisi.
“Aduh, pasti capek banget yah,” ucap Mita sambil menghadapkan tubuhnya ke tubuhku.
“Iya aku capek, kita mau kemana hari ini?” tanyaku.
“Aku mau kemana-mana sama kamu,” ucapnya manja dan perasaanku benar-benar campur aduk saat itu.
“Jawab yang bener ih,” ucapku dan tubuh kamu kali ini saling berhadapan.
Aku lihat wajah Mita yang menunjukan wajah yang butuh kasih sayang, aku tidak tahu apa yang merasukinya saat ini sampai-sampai dirinya seperti tidak bertemu denganku selama seribu tahun.
“Kamu kangen enggak sama aku?” tanyanya.
“Kangen lah, kenapa emang?”
Tanpa perlu menjawab pertanyaanku, dirinya langsung memeluk tubuhku erat saat itu sampai kami terjatuh ke atas kasur. Bibirnya langsung menuju bibirku tanpa perintah dan benar-benar kaget saat itu, tetapi aku nikmati jamuannya siang ini, jamuan untuk mengobati rasa rindunya terhadap diriku.
“Yang, mau enggak?” tanyanya sambil menyibakan roknya.
Aku langsung melepaskan pelukannya dan bangun ke posisi duduk. “Apa-apaan sih kamu?” tanya aku kesal.
“Aku nanya kamu mau enggak?” ucapnya.
“Aku mau kamu perawan sampai kita menikah,” aku jawab dengan wajah serius. Aku lihat wajahnya sedikit bersedih. Aku kembali berfikir akan ucapanku barusan yang aku rasa tidak ada hal yang menyinggungnya.
“Aku mau jujur sama kamu, Rud,” ucapnya lirih dan wajahnya sangat sedih.
“Jujur aja.” Aku memegang pundak Mita.
“Tapi aku takut kamu pergi,”
“Enggak akan koq,” ucapku meyakinkannya.
“Maaf Rud, aku enggak jujur dari dulu, aku takut kamu pergi,”-air mata mita mulai mengalir-“aku sebenernya udah enggak perawan, Rud.”
Bagai badai di siang yang cerah ini, hatiku benar-benar tidak menyangka, hatiku benar-benar berusaha menerima semua itu. Aku pun memegan pundaknya, aku tatap matanya dalam, “Dengerin Sayang, aku enggak peduli kamu mau masih perawan atau enggak, yang penting aku sayang kamu dan kamu sayang sama aku.”
“Iya maaf, Rud, aku udah enggak perawan dari aku kuliah,” ucapnya menjelaskan.
“Aku enggak peduli, pokoknya itu rahasia kita, dan ingat, aku enggak mau sampai berhubungan badan kalau kita belum menikah walau kamu udah enggak perawan,” ucapku.
“Iyah, aku sayang kamu,” ucapnya.
“Aku juga mau jujur sama kamu, Sayang, maaf aku kemarin di sana aku cium wanita lain, aku cium temen aku waktu kecil,” ucapku menyesal.
Kepalanya mulai terkulai, mungkin yang ada di benaknya aku adalah laki-laki baj*ngan yang ada di hidupnya.
“Sayang, aku maafin kamu, aku tahu aku yang lebih salah sama kamu, aku yang sampai ngasih yang seharusnya jadi milik suami aku tapi aku kasih buat orang yang salah, tapi kamu jangan ulangin yah.” Tangisnya pun mulai semakin keras, air mata yang keluar semakin deras, aku pun merangkul dirinya untuk aku peluk dalam pembaringan ini.
“Aku nerima kamu apa adanya kok, Sayang,” ucapku.
“Aku juga, Sayang,” ucapnya sambil menatapku dan memberikan kecupan mesra di bibir.
“Jadi hari ini mau kemana?” tanyaku.
“Enggak mau kemana-mana, akunya sedih sayang,” jawabnya.
“Aku udah bawa motor nih, gimana dong?”
“Yaudah nanti anterin aku pulang aja,” jawabnya sambil terisak.
“Yaudah, sini aku peluk sampe kamu puas,” ucapku sambil memeluknya erat.
“Makasih yah, Sayang.”
Dalam keadaan ini, memang adalah keadaan ternyaman yang pernah aku rasakan, terima kasih Tuhan, kau telah memberikan aku sosok yang benar-benar bisa membuat aku mencintainya saat ini.
Dekapannya yang kuat ini, arti sayangnya terhadap aku. Kecupannya yang mesra itu, arti kepercayaannya terhadap aku. Aku pecaya sama kamu Mita, semoga kita jadi satu, aku harap, aku berjanji.
“Rud, maaf yah baru cerita sekarang,” ucap Mita.
“Iyah, enggak apa-apa, koq,” jawabku.
Aku ingin lebih lama lagi seperti ini, tapi sayang, Tuhan kirimkan seseorang untuk mengganggu kami. Pintu kamarku terbuka dan aku melihat dia dengan wajah yang sangat aneh menatap kami.
Bersambung ...
“Sayang, bangun udah pagi, katanya mau jalan-jalan sama aku,” suara mesra Mita terdengar di telingaku.
Pelan-pelan aku membuka mataku dan kaget melihat sosok Mita yang menurutku benar-benar cantik saat itu. Aku suka wajahnya yang sudah cantik tanpa perlu make up tebal, dengan balutan blouses berwarna biru muda dan dipadukan rok pendek diatas lutut berwarna sepadan. “Hei bangun, udah jam sembilan, Sayang.”
Aku pun bangun ke posisi duduk disampingnya. “Maafkan aku Sayang, aku sudah berbuat jahat sama kamu,” hatiku berucap.
Kepalaku masih terasa pusing dan badanku sangat capek kali ini. “Kenapa kamu bisa masuk?” tanyaku.
“Emang pintunya enggak dikunci, Sayang.” Aku langsung melihat seisi kamarku, dan aku bersyukur tidak ada barang yang menghilang.
“Aku mandi dulu yah, cantik,” ujarku sambil menuju kamar mandi.
Dalam mandiku kali ini tak bisa aku sembunyikan sesal yang begitu dalam, aku memang melakukan kesalahan bodoh, kenapa Tuhan harus menciptakan laki-laki seperti aku untuk dia, untuk Mita.
“Sayang, ini handuknya!” teriak Mita dari luar yang membuat aku kaget saat itu.
“Eh, makasih yah Sayang,” ucapku dari balik pintu menyembunyikan tubuhku yang basah.
Setelah selesai, aku keluar dengan wangi yang langsung tercium oleh Mita. “Eh, kenapa kamu tutup pintu kamarnya, sih?” tanyaku.
“Enggak apa-apa Sayang, pengen aja,” jawabnya dengan senyum manja.
“Pasti ada maunya nih,” ucapku sambil menggunakan kemeja.
Tidak ada jawaban aku dengar darinya, aku pun mendekati dan duduk disampingnya. “Kamu nyampe jam berapa semalem?” tanya Mita.
“Jam setengah satu kayanya, terus mandi langsung tidur.” Aku memainkan remote televisi.
“Aduh, pasti capek banget yah,” ucap Mita sambil menghadapkan tubuhnya ke tubuhku.
“Iya aku capek, kita mau kemana hari ini?” tanyaku.
“Aku mau kemana-mana sama kamu,” ucapnya manja dan perasaanku benar-benar campur aduk saat itu.
“Jawab yang bener ih,” ucapku dan tubuh kamu kali ini saling berhadapan.
Aku lihat wajah Mita yang menunjukan wajah yang butuh kasih sayang, aku tidak tahu apa yang merasukinya saat ini sampai-sampai dirinya seperti tidak bertemu denganku selama seribu tahun.
“Kamu kangen enggak sama aku?” tanyanya.
“Kangen lah, kenapa emang?”
Tanpa perlu menjawab pertanyaanku, dirinya langsung memeluk tubuhku erat saat itu sampai kami terjatuh ke atas kasur. Bibirnya langsung menuju bibirku tanpa perintah dan benar-benar kaget saat itu, tetapi aku nikmati jamuannya siang ini, jamuan untuk mengobati rasa rindunya terhadap diriku.
“Yang, mau enggak?” tanyanya sambil menyibakan roknya.
Aku langsung melepaskan pelukannya dan bangun ke posisi duduk. “Apa-apaan sih kamu?” tanya aku kesal.
“Aku nanya kamu mau enggak?” ucapnya.
“Aku mau kamu perawan sampai kita menikah,” aku jawab dengan wajah serius. Aku lihat wajahnya sedikit bersedih. Aku kembali berfikir akan ucapanku barusan yang aku rasa tidak ada hal yang menyinggungnya.
“Aku mau jujur sama kamu, Rud,” ucapnya lirih dan wajahnya sangat sedih.
“Jujur aja.” Aku memegang pundak Mita.
“Tapi aku takut kamu pergi,”
“Enggak akan koq,” ucapku meyakinkannya.
“Maaf Rud, aku enggak jujur dari dulu, aku takut kamu pergi,”-air mata mita mulai mengalir-“aku sebenernya udah enggak perawan, Rud.”
Bagai badai di siang yang cerah ini, hatiku benar-benar tidak menyangka, hatiku benar-benar berusaha menerima semua itu. Aku pun memegan pundaknya, aku tatap matanya dalam, “Dengerin Sayang, aku enggak peduli kamu mau masih perawan atau enggak, yang penting aku sayang kamu dan kamu sayang sama aku.”
“Iya maaf, Rud, aku udah enggak perawan dari aku kuliah,” ucapnya menjelaskan.
“Aku enggak peduli, pokoknya itu rahasia kita, dan ingat, aku enggak mau sampai berhubungan badan kalau kita belum menikah walau kamu udah enggak perawan,” ucapku.
“Iyah, aku sayang kamu,” ucapnya.
“Aku juga mau jujur sama kamu, Sayang, maaf aku kemarin di sana aku cium wanita lain, aku cium temen aku waktu kecil,” ucapku menyesal.
Kepalanya mulai terkulai, mungkin yang ada di benaknya aku adalah laki-laki baj*ngan yang ada di hidupnya.
“Sayang, aku maafin kamu, aku tahu aku yang lebih salah sama kamu, aku yang sampai ngasih yang seharusnya jadi milik suami aku tapi aku kasih buat orang yang salah, tapi kamu jangan ulangin yah.” Tangisnya pun mulai semakin keras, air mata yang keluar semakin deras, aku pun merangkul dirinya untuk aku peluk dalam pembaringan ini.
“Aku nerima kamu apa adanya kok, Sayang,” ucapku.
“Aku juga, Sayang,” ucapnya sambil menatapku dan memberikan kecupan mesra di bibir.
“Jadi hari ini mau kemana?” tanyaku.
“Enggak mau kemana-mana, akunya sedih sayang,” jawabnya.
“Aku udah bawa motor nih, gimana dong?”
“Yaudah nanti anterin aku pulang aja,” jawabnya sambil terisak.
“Yaudah, sini aku peluk sampe kamu puas,” ucapku sambil memeluknya erat.
“Makasih yah, Sayang.”
Dalam keadaan ini, memang adalah keadaan ternyaman yang pernah aku rasakan, terima kasih Tuhan, kau telah memberikan aku sosok yang benar-benar bisa membuat aku mencintainya saat ini.
Dekapannya yang kuat ini, arti sayangnya terhadap aku. Kecupannya yang mesra itu, arti kepercayaannya terhadap aku. Aku pecaya sama kamu Mita, semoga kita jadi satu, aku harap, aku berjanji.
“Rud, maaf yah baru cerita sekarang,” ucap Mita.
“Iyah, enggak apa-apa, koq,” jawabku.
Aku ingin lebih lama lagi seperti ini, tapi sayang, Tuhan kirimkan seseorang untuk mengganggu kami. Pintu kamarku terbuka dan aku melihat dia dengan wajah yang sangat aneh menatap kami.
Bersambung ...
0
Kutip
Balas