- Beranda
- Stories from the Heart
(HORROR) Kisah Untuk Malam Seratus Lilin - (Diary Gadis Bermata Indigo return)
...
TS
ayanorei
(HORROR) Kisah Untuk Malam Seratus Lilin - (Diary Gadis Bermata Indigo return)
Hallo All,
We come back!!

thanks all for HT
Setelah sekian lama vakum di Kaskus dan hanya menulis di tempat lain. Akhirnya kami memutuskan kembali. Yap, Ayano dan Elisa kembali akan membagikan kisah kami di Kaskus.
Tadinya, kami tidak berpikir untuk kembali ke Kaskus, tapi ternyata banyak Inbox ke ID ini maupun ke ID Ayanokouji (yang sayangnya sedang bermasalah untuk Login) supaya kami mau kembali melanjutkan cerita di Kaskus ini. Jadi, here we are, we came back.
Post #1 ini akan khusus untuk INDEX. Cerita akan dimulai di Post selanjutnya.
Yang mau baca season 1 nya ada di sini
INDEX
Kisah Pertama - Hantu Pembawa Janin
Kisah Kedua - Mereka Mengawasiku?
Kisah Ketiga - Lily (Bagian Pertama)
Kisah keempat - Lily (bagian kedua)
Kisah Kelima - Penguntit (bagian pertama)
Kisah Keenam - Penguntit (Bagian Kedua)
Kisah Ketujuh - Possession (part 1)
Kisah Kedelapan - Possession (part 2)
Kisah Kesembilan - Mahluk di langit-langit
Kisah Kesepuluh - Susahnya kalau yang ngefans 'mereka'
Kisah Kesebelas - Hantu di gedung tua
Kisah Keduabelas - Ternyata
Kisah Ketigabelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (Bag pertama)
Kisah Keempatbelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (bag kedua)
Kisah Kelimabelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (1)
Kisah Keenambelas - Kisah hantu di sekolah - Sri (2)
Kisah Ketujuhbelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (3)
Kisah Kedelapanbelas - Kisah hantu di sekolah - Belum berakhir
Kisah Kesembilanbelas - Kisah hantu di sekolah - Cerita dari Bi Sumi (1)
Kisah Keduapuluh - Kisah Hantu Disekolah - Cerita dari Bi Sumi (2)
Kisah Keduapuluhsatu - Kisah hantu disekolah - Gangguan Dimulai Lagi
Kisah Keduapuluhdua - Kisah Hantu Disekolah - Terkuak
Kisah KeduapuluhTiga - Kisah Hantu Di Kantor - Prologue
Kisah KeduapuluhEmpat - Kisah Hantu Di Kantor - Putih, Hitam dan Ungu
Kisah KeduapuluhLima - Kisah Hantu di Kantor - Sidestory
Kisah Keduapuluhenam - Kisah hantu di Kantor - Resign
Kisah Keduapuluhtujuh - Kisah Hantu di Kantor - Kembali Bekerja (1)

We come back!!

thanks all for HT
Setelah sekian lama vakum di Kaskus dan hanya menulis di tempat lain. Akhirnya kami memutuskan kembali. Yap, Ayano dan Elisa kembali akan membagikan kisah kami di Kaskus.
Tadinya, kami tidak berpikir untuk kembali ke Kaskus, tapi ternyata banyak Inbox ke ID ini maupun ke ID Ayanokouji (yang sayangnya sedang bermasalah untuk Login) supaya kami mau kembali melanjutkan cerita di Kaskus ini. Jadi, here we are, we came back.
Post #1 ini akan khusus untuk INDEX. Cerita akan dimulai di Post selanjutnya.
Yang mau baca season 1 nya ada di sini
Quote:
INDEX
Kisah Pertama - Hantu Pembawa Janin
Kisah Kedua - Mereka Mengawasiku?
Kisah Ketiga - Lily (Bagian Pertama)
Kisah keempat - Lily (bagian kedua)
Kisah Kelima - Penguntit (bagian pertama)
Kisah Keenam - Penguntit (Bagian Kedua)
Kisah Ketujuh - Possession (part 1)
Kisah Kedelapan - Possession (part 2)
Kisah Kesembilan - Mahluk di langit-langit
Kisah Kesepuluh - Susahnya kalau yang ngefans 'mereka'
Kisah Kesebelas - Hantu di gedung tua
Kisah Keduabelas - Ternyata
Kisah Ketigabelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (Bag pertama)
Kisah Keempatbelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (bag kedua)
Kisah Kelimabelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (1)
Kisah Keenambelas - Kisah hantu di sekolah - Sri (2)
Kisah Ketujuhbelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (3)
Kisah Kedelapanbelas - Kisah hantu di sekolah - Belum berakhir
Kisah Kesembilanbelas - Kisah hantu di sekolah - Cerita dari Bi Sumi (1)
Kisah Keduapuluh - Kisah Hantu Disekolah - Cerita dari Bi Sumi (2)
Kisah Keduapuluhsatu - Kisah hantu disekolah - Gangguan Dimulai Lagi
Kisah Keduapuluhdua - Kisah Hantu Disekolah - Terkuak
Kisah KeduapuluhTiga - Kisah Hantu Di Kantor - Prologue
Kisah KeduapuluhEmpat - Kisah Hantu Di Kantor - Putih, Hitam dan Ungu
Kisah KeduapuluhLima - Kisah Hantu di Kantor - Sidestory
Kisah Keduapuluhenam - Kisah hantu di Kantor - Resign
Kisah Keduapuluhtujuh - Kisah Hantu di Kantor - Kembali Bekerja (1)

Diubah oleh ayanorei 20-10-2017 13:04
scorpiolama dan 15 lainnya memberi reputasi
16
119.8K
Kutip
380
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayanorei
#58
Kisah Keempat - Lily (Bagian Kedua)
Note :
Untuk mempermudah dan mempersingkat waktu penulisan ulang, semua percakapan dengan Lily langsung diterjemahkan ke bahasa Indonesia.
=====
Firasat burukku semakin bertambah seiring langkahku mengikuti Lily berjalan di taman pilar batu itu.
Kami terus berjalan sampai tiba di suatu tempat yang seperti tebing.
"Di sana" Lily menunjuk ke suatu tempat di pinggir tebing itu.
Apa? maksudnya kami di suruh ke tebing?
Kurang lebih itulah arti tatapanku ke Ayano, yang untungnya mengerti isyarat dariku.
"Kita lihat saja, dan jangan terlalu dekat dengan tebing" bisik Ayano.
"Turun di sini..." Lily berdiri di pinggir tebing dan menunjuk ke bawah.
Kami mendekat dan mendapati adanya tangga batu buatan manusia yang dipakai untuk menuruni tebing itu.
"Ke sini" panggil Lily yang tau-tau saja sudah separuh menuruni tangga batu itu.
"Bagaimana?" tanyaku pada Ayano.
"Tangganya kelihatan kuat, dan ada pegangan di samping kiri dan kanannya. Harusnya nggak usah takut jatuh" kata Ayano.
"Ya udah, kita turun.." kataku.
Kami berdua menuruni tangga, mengikuti Lily yang selalu menghilang dan muncul lagi jauh di bawah kami.
Sampai akhirnya kami sampai di dasar.
"Ini adalah tempatku bermain dulu..." ucap Lily dengan nada lirih.
Aku melihat tempat yang dimaksud Lily.
Tempat itu adalah tanjung yang berbatasan langsung dengan laut. Dari tanjung ini, aku dapat melihat jelas pantai tempatku berjalan kemarin dengan Ayano. Pantai tempat kami bertemu dengan Lily pertama kalinya.
Tempat itu indah...
Cahaya bulan yang cukup terang memantulkan bias dari air laut ke dinding-dinding batu di tanjung itu. Membuat pemandangan indah bagaikan gua di bawah laut.
"Lily... kamu kehilangan kalung itu di sini?" tanya Ayano.
Lily menggeleng "Aku nggak tau... aku nggak pernah menemukannya"
Ayano menatapku dengan menaikkan satu alisnya "Kita coba saja?" tanyanya.
"Ya, ----" sebelum aku sempat meneruskan jawabanku, tiba-tiba aku merasa bulu kudukku meremang dan aku merasakan tekanan bagaikan jantungku diremas. Dan aku merasakan dingin.
"Ayano...." bisikku lirih dengan bibir gemetar yang tidak bisa kutahan.
"El? kamu kenapa?"
"Aku takut..."
Sepertinya Ayano menyadari tubuhku yang gemetaran. Dia menarikku mendekat. "Ada apa? kamu terasa apa?"
"Nggak tau... tiba-tiba aku ngerasa takut banget..." kataku.
"Aneh... kenapa koko malah nggak terasa apa-apa..." ucap Ayano dengan nada gusar.
Kegusaran Ayano bukan tanpa sebab. Karena biasanya, dia 'radar' yang berkali lipat lebih peka daripadaku.
"Dia datang.... terlambat..... dia datang...."
Tiba-tiba saja Lily sudah berada di balik tubuh Ayano, bersembunyi. Dan aku menyadari satu hal : Lily juga gemetaran hebat, sama sepertiku....
'Tak... Tak... Tak....'
'Tak... Tak.... Tak...'
Kami semua hening ketika mendengar suara itu.
Suara ketukan bernada itu bergema di lorong gua kecil itu.
Aku mengenal suara itu...
"High heels?" gumamku.
"Hah?"
"Itu suara high heels , ko..."
"Ohh..."
Kami berdua saling berpandangan. Aku tau apa yang ada di kepala Ayano sekarang. Pasti sama sepertiku bagaimana mungkin ada suara orang memakai high heels di tanjung kecil seperti ini?
Tidak butuh waktu lama bagi kami untuk mendapat jawabannya.
Dari lorong yang diterangi pantulan laut itu, berjalan dengan anggunnya seorang wanita dengan gaun duka cita berwarna hitam, dengan cadar yang menutupi wajahnya.
Gaun dan cadar wanita itu berkibar ditiup angin, sehingga menimbulkan gerakan seakan-akan gaun dan cadar wanita itu mengembang bagaikan sayap hitam yang berkembang di belakang sosok wanita itu.
![kaskus-image]()
'Tak... tak... tak....'
Wanita itu berjalan dengan anggun mendekati kami. Dan berhenti beberapa meter di depan kami.
Aku tidak bisa melihat wajah wanita itu di balik cadarnya. Tapi aku bisa merasakan wanita itu adalah berita buruk. Aku merasakan kakiku tidak dapat bergerak, dan jantungku bagaikan diremas-remas oleh rasa takut. Beberapa bulir keringat dingin menetes di pipiku.
"Lily......"
Suara wanita itu terasa sedingin es. Hanya satu kata darinya membuat seluruh tubuhku bagai meremang.
Aku menengok ke arah Lily, gadis kecil itu memeluk tubuhnya sambil gemetaran hebat. Wajahnya menggambarkan ketakutan yang amat sangat.
'Tak... Tak... Tak....'
Wanita itu berjalan kembali ke arah kami.
"AHHHH!!!!" teriak Lily tiba-tiba, gadis itu memeluk erat punggung Ayano.
Ayano memeluk gadis itu dengan sebelah tangannya, dan menatap lurus ke arah wanita berbaju hitam itu. "Berhenti!!!" serunya.
'Tak!.....'
Wanita itu menghentikan langkahnya.
"Siapa kamu!!" teriak Ayano.
Wanita itu menjawab, dengan bahasa Inggris dan aksen eropa yang kental "Minggirlah" katanya (langsung di terjemahkan).
Sekali lagi satu kata dari wanita itu terdengar lembut, namun membuat seluruh tubuhku diserang kedinginan. "Ayano...." bisikku sambil gemetaran.
Ayano menatapku dan mengangguk. "Koko tau" jawabnya "Bawa Lily pergi!" desisnya.
Aku mengangguk dan memegang tangan Lily.
Dingin.... pikirku ketika menyentuh lengan anak itu.
Lily menatapku ketika lengannya kusentuh. "Ayo.. kita harus pergi.." kataku pada Lily.
Gadis itu menundukkan kepalanya dan melepaskan pelukannya pada Ayano. Kemudian dia mengikutiku untuk menjauh dari sana.
"Lily" wanita baju hitam itu berkata lagi. Dan aku merasakan Lily menegang di tempatnya.
"Kau mau kemana?" tanya wanita itu lagi, masih dengan nada dingin yang sama.
"Kau tidak akan bisa lari dariku"
"Pada akhirnya kau harus kembali padaku"
"Agar aku bisa membunuhmu"
"Lagi..."
Dan setelah wanita itu mengatakan hal itu, Lily menangis.
Aku merasakan badannya gemetar hebat ketika dia menangis. Tangannya yang dingin mencengkeram bajuku erat. Aku hanya bisa memeluk gadis yang gemetaran itu.
"Ayano..." panggilku.
Dia menoleh dan melihatku sedang memeluk Lily.
"Kau siapa?" tanya Ayano ke wanita itu.
"Aku adalah keluarganya" jawabnya.
"Apa?"
"Aku adalah keluarganya!"
"Aku adalah bibi dari anak terkutuk itu!!"
"Dan akulah yang berhak membunuhnya lagi!!"
"Lagi!!"
"Membunuhnya untuk selama-lamanya!!!!"
Teriaknya histeris.
"Tidak" Ayano memotong tawa histeris wanita itu "Aku tidak akan membiarkan itu!!"
"Apa?" tanya wanita itu dengan nada mengancam.
"Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti anak itu lagi" ucap Ayano dengan nada pelan dan mengancam.
Aku tidak bisa melihat ekspresi wanita itu karena tertutup cadar hitamnya, namun aku bisa merasakan kalau dia sedang tertawa.
"Kau bisa apa?!" tanya wanita itu sambil berteriak.
Dan Ayano terpental beberapa meter ke belakang dan menghantam dinding gua.
"KOKOO!!!!" Aku berteriak panik memanggilnya, namun ketika aku hendak berlari ke arahnya, aku merasakan Lily yang berada di pelukanku tidak bergeming sama sekali. Seakan gadis itu terbuat dari patung batu yang sangat berat.
"KOKO!!!!" Panggilku sekali lagi. Aku panik dan kebingungan. Aku tidak bisa memilih apakah aku harus meninggalkan Lily yang berdiri kaku di pelukanku, atau harus lari ke tempat Ayano dan melihat keadaannya.
"Elisa!! koko nggak apa..." teriak Ayano.
Aku melihatnya sedang berdiri dengan susah payah.
"Aww.. aww.. lumayan sakit juga rupanya" katanya yang membuatku kesal karena bisa-bisanya dia menyempatkan dirinya untuk berkelakar.
"Masih ingin melawanku? Manusia?" wanita berbaju hitam itu berkata pada Ayano.
"Ya, tentu saja!" jawab Ayano.
"Baiklah, biar aku membunuhmu duluan" kata wanita itu.
"Sebelum itu, ceritakan kau ini apa?" kata Ayano sambil terseok-seok maju ke arah wanita itu.
"Hmm? ahahahahahaha" wanita itu tertawa dengan lengkingan mengerikan "Baiklah, aku adalah wanita yang terhormat!! wanita yang terpelajar!! sampai akhirnya kakakku mengawini ibu anak sialan itu!!" teriak wanita itu sambil menunjuk ke arah Lily.
"Apa maksudnya itu?" tanya Ayano lagi.
"Aku adalah putri bangsawan Belanda!! dan keluargaku adalah keluarga terhormat. Sampai kakakku, ayah gadis sialan itu memilih menikah dengan pembantu!!!"
"Ya!! ibu dari gadis sialan itu adalah wanita rendah!! pembantu!!!"
Aku merasakan Lily semakin keras terisak di pelukanku, namun tubuh gadis itu masih menolak untuk beranjak dari tempatnya.
"Jadi kau membunuh gadis tidak berdosa itu?" tanya Ayano geram.
"Gadis tidak berdosa? DIA SANGAT BERDOSA KEPADAKU!!!!"
Suara teriakan wanita itu menyebabkan gemuruh di gua itu.
"KARENA IBUNYA YANG RENDAHAN ITU, KELUARGA KAMI DICABUT DARI KEBANGSAWANANNYA, DAN AKU HARUS HIDUP SEBAGAI RAKYAT BIASA!!!!!!" teriak wanita itu sambil menuding ke arah Lily.
"Dan kau membunuhnya?"
Wanita itu mengeluarkan dengusan, dan berkata dengan nada menghina "Tentu saja. Untuk membuat wanita sialan yang menipu kakakku itu menderita, aku mengambil hal yang paling berharga baginya"
"Anaknya!"
"Gadis sialan itu!!"
"Hehehehehehehehehehehehhh"
Tawa wanita itu terdengar seperti seorang maniak. Seorang psycho.
"Aku tau gadis itu selalu bermain dengan teman-teman kampungannya di tempat ini"
"Karena itu, aku menghampirinya, dan berpura-pura baik padanya"
"Aku membujuknya untuk ikut denganku berkayuh dengan menggunakan sekoci kecil"
"Dan ditengah laut, aku mencekiknya sampai mati!!!!"
"HAHAHAHAHAHAHAHA!!! Ohhh!!! Aku masih bisa merasakan kegembiraan ketika nafas gadis itu habis di kedua tangan ini!!!!"
"Dan aku membuangnya ke laut!!!"
"Sialnya bagiku, mayat gadis sialan itu tersangkut pada kayuh sekoci itu dan membawanya tenggelam bersamanya!!!"
"Kau bisa bayangkan? dua hari aku hampir gila kehausan dan kelaparan di tengah terik matahari tengah laut? sampai akhirnya kegelapan menjemputku"
"TAPI DENDAMKU MASIH MEMBARA!!!"
"AKU TIDAK TERIMA HARUS MATI KARENA GADIS SIALAN ITU!!!"
"Hhehehehehehehehehehe!!! Hahaahahahahahahahahaha!!!!"
"Karena itu..."
"Karena itulah aku mengejarnya terus!!!"
"Aku tau gadis itu belum bisa mati dengan tenang!! karena sebelum dia mati, aku mengambil barang miliknya!!! Kalung sialan ini!!!"
Wanita itu mengeluarkan kalung dengan liontin kecil dari roknya yang mengembang.
"Kalung mama..." bisik Lily dari pelukanku.
"Aku mengejarnya... dan beruntungnya aku, gadis itu tidak bisa keluar dari pulau ini!! sama sepertiku!! Hahahahahahahahahaha!!!"
"Karena itu aku bisa membunuhnya berkali-kali!! dengan cara yang sama seperti aku membunuhnya pertama kali!! mencekiknya sampai nafasnya menghilang!!! Ahahahahahahahahaha"
Aku merasakan hatiku jadi panas mendengar cerita dari wanita berbaju hitam itu. Aku berdiri dan hendak mendekati wanita itu ketika tangan Ayano menghalangi jalanku.
Aku menatap ke arahnya dan melihat ekspresi Ayano yang sedang berusaha menahan amarahnya agar tidak meledak.
"Mahluk terkutuk.." desis Ayano "Kau sudah busuk bahkan sebelum mati"
"Katamu, kau orang Belanda kan? kalau begitu, bagus sekali..." Ayano berdiri di hadapanku "Aku punya satu hal yang akan sangat manjur untukmu.." kata-kata Ayano mengandung amarah yang tertahan.
Kemudian Ayano mulai melantunkan sebuah doa. Doa yang tidak kukenal bahasanya, yang jelas itu bukan doa dari bahasa latin yang seringkali kudengar. Doa itu singkat, hanya dua kalimat yang diulang-ulang.
Tapi aku melihat efeknya luar biasa bagi wanita itu.
Wanita itu berteriak-teriak kesakitan. Baju wanita itu terbakar oleh api yang entah bagaimana menyala dengan hebatnya dan membakar seluruh tubuh wanita itu.
Api itu membakar cadar wanita itu dan menunjukkan wajahnya.
Wajahnya sudah bukan wajah manusia lagi...
Aku bisa melihat wajah wanita itu sudah membusuk, daging-daging di wajahnya sudah menghijau dan menggantung pada tengkoraknya, selain itu, anehnya aku melihat sesuatu seperti tanduk mencuat keluar dari kedua pipi wanita itu.
"KAU!!!! SIALAAANNN!!!!!"
Wanita itu terjatuh ke depan, dan dengan kedua tangannya dia mencakar-cakar tanah di depannya sambil menyeret tubuhnya untuk maju mendekati kami.
"AKU TIDAK AKAN PERGI SENDIRI!!! GADIS SIALAN ITU AKAN IKUT KE NERAKA JUGA!!!"
Apabila selama ini Ayano tidak pernah sama sekali melakukan serangan balasan secara fisik ke 'mereka' maka kali ini apa yang dilakukan oleh Ayano benar-benar di luar dugaanku.
Entah sejak kapan Ayano sudah berada di dekat wanita yang sedang terbakar itu.
Dan berdiri di depannya.
Kemudian, dengan semua keterkejutanku, dia menendang wanita itu.
Ya, aku tidak salah lihat.
Ayano memang menendang wanita itu.
"Aku tidak akan memberikan Lily untukmu!!!" desis Ayano. Sebelum dia mengucapkan lagi kedua baris kalimat yang disebutkannya tadi. Api yang menyelimuti wanita itu semakin berkobar seiring dengan Ayano membaca kedua bait kalimat tersebut.
Aku memandangi tubuh wanita itu bergelut di dalam api sampai akhirnya sebuah teriakan nyaring dari wanita itu terasa membelah gua itu.
Dan kemudian, tubuh wanita itu lebur menjadi abu.
Bau belerang memenuhi gua kecil itu.
Dan aku duduk terpana sambil menatap ke bekas abu yang ditinggalkan wanita itu perlahan-lahan hilang ditiup angin.
"Ko..... tadi itu apa?" tanyaku.
"Oh... yahh.. itu sebenarnya... ehmm...." Ayano menggaruk kepalanya dengan sedikit malu "Itu sebenarnya sih buat iblis, yang... yah... itulah, macemnya legion. Tapi wanita tadi sepertinya hatinya udah seperti iblis. Jadi... ehm.... gitulah..."
"Itu doa untuk apa?"
"Itu... ehh.... itu doa buat supaya 'mereka' terbakar di neraka"
"Haaah?"
"Sebenernya itu nggak boleh sembarangan dipake.. karena doa itu buat ngebunuh.. bukan mengusir"
"Haaaaaah?"
"Harusnya koko nggak boleh pake sembarangan... tapi.. well.. koko marah banget tadi.."
"Koko bisa bunuh 'mereka'?"
"Eh? ya... begitulah..."
"Sejak kapan?"
"Eh? doa itu? udah dari awal belajar"
"Dan selama itu koko nggak pernah pake?"
Ayano menggeleng "Nggak boleh dipake, saat-saat khusus aja"
Aku mengangguk, tapi agak sedikit kesal karena Ayano sama sekali tidak mengatakan ini padaku sebelumnya.
"El... nanti dulu soal kita.." bisik Ayano, kemudian dia berlutut di samping Lily "Lily... semua sudah selesai. Waktunya kamu pulang ke mama kamu.." katanya.
Lily menatap Ayano sambil tersenyum kecil "Kalung mama..." katanya pelan.
"Ini..." Ayano mengeluarkan kalung dengan liontin kecil dari genggaman tangannya, dan meletakkannya di tangan Lily yang menyambut kalung itu.
"Ko?"
"Koko ambil dari sisa abu di sana" kata Ayano sambil menunjuk dengan jempolnya.
"Hiks..."
Aku menoleh dan mendapati Lily sedang menangis.
"Hiks..."
"Kenapa Lily?" tanyaku sambil mengusap rambutnya.
"Lily bisa pulang..."
Oh....
"Lily bisa ketemu mama dan papa lagi..."
Oh.. Tuhan....
Aku merasakan pelupuk mataku jadi panas. Aku memeluk Lily sambil ikut menangis.
Aku merasakan tangan hangat memeluk kami. Ayano.
"Istirahatlah dengan tenang, Lily... sampai bertemu lagi.." kata Ayano lembut.
"Yes" kata Lily sambil tersenyum.
Perlahan-lahan tubuh gadis itu bagaikan berpendar sinar temaram. Dan semakin transparan.
"Brother.. sister.... My name is V****Ly ***** **********... please, don't forget about me" kata Lily sambil tersenyum.
"Goodbye, Lily" kata Ayano.
"Goodbye, Lily" aku membeo.
Gadis itu tersenyum manis dan menghilang.
===
In memories of V***ily.
![kaskus-image]()
May you rest in peace, little angel.
Spoiler for Lily (Bagian kedua):
Note :
Untuk mempermudah dan mempersingkat waktu penulisan ulang, semua percakapan dengan Lily langsung diterjemahkan ke bahasa Indonesia.
=====
Firasat burukku semakin bertambah seiring langkahku mengikuti Lily berjalan di taman pilar batu itu.
Kami terus berjalan sampai tiba di suatu tempat yang seperti tebing.
"Di sana" Lily menunjuk ke suatu tempat di pinggir tebing itu.
Apa? maksudnya kami di suruh ke tebing?
Kurang lebih itulah arti tatapanku ke Ayano, yang untungnya mengerti isyarat dariku.
"Kita lihat saja, dan jangan terlalu dekat dengan tebing" bisik Ayano.
"Turun di sini..." Lily berdiri di pinggir tebing dan menunjuk ke bawah.
Kami mendekat dan mendapati adanya tangga batu buatan manusia yang dipakai untuk menuruni tebing itu.
"Ke sini" panggil Lily yang tau-tau saja sudah separuh menuruni tangga batu itu.
"Bagaimana?" tanyaku pada Ayano.
"Tangganya kelihatan kuat, dan ada pegangan di samping kiri dan kanannya. Harusnya nggak usah takut jatuh" kata Ayano.
"Ya udah, kita turun.." kataku.
Kami berdua menuruni tangga, mengikuti Lily yang selalu menghilang dan muncul lagi jauh di bawah kami.
Sampai akhirnya kami sampai di dasar.
"Ini adalah tempatku bermain dulu..." ucap Lily dengan nada lirih.
Aku melihat tempat yang dimaksud Lily.
Tempat itu adalah tanjung yang berbatasan langsung dengan laut. Dari tanjung ini, aku dapat melihat jelas pantai tempatku berjalan kemarin dengan Ayano. Pantai tempat kami bertemu dengan Lily pertama kalinya.
Tempat itu indah...
Cahaya bulan yang cukup terang memantulkan bias dari air laut ke dinding-dinding batu di tanjung itu. Membuat pemandangan indah bagaikan gua di bawah laut.
"Lily... kamu kehilangan kalung itu di sini?" tanya Ayano.
Lily menggeleng "Aku nggak tau... aku nggak pernah menemukannya"
Ayano menatapku dengan menaikkan satu alisnya "Kita coba saja?" tanyanya.
"Ya, ----" sebelum aku sempat meneruskan jawabanku, tiba-tiba aku merasa bulu kudukku meremang dan aku merasakan tekanan bagaikan jantungku diremas. Dan aku merasakan dingin.
"Ayano...." bisikku lirih dengan bibir gemetar yang tidak bisa kutahan.
"El? kamu kenapa?"
"Aku takut..."
Sepertinya Ayano menyadari tubuhku yang gemetaran. Dia menarikku mendekat. "Ada apa? kamu terasa apa?"
"Nggak tau... tiba-tiba aku ngerasa takut banget..." kataku.
"Aneh... kenapa koko malah nggak terasa apa-apa..." ucap Ayano dengan nada gusar.
Kegusaran Ayano bukan tanpa sebab. Karena biasanya, dia 'radar' yang berkali lipat lebih peka daripadaku.
"Dia datang.... terlambat..... dia datang...."
Tiba-tiba saja Lily sudah berada di balik tubuh Ayano, bersembunyi. Dan aku menyadari satu hal : Lily juga gemetaran hebat, sama sepertiku....
'Tak... Tak... Tak....'
'Tak... Tak.... Tak...'
Kami semua hening ketika mendengar suara itu.
Suara ketukan bernada itu bergema di lorong gua kecil itu.
Aku mengenal suara itu...
"High heels?" gumamku.
"Hah?"
"Itu suara high heels , ko..."
"Ohh..."
Kami berdua saling berpandangan. Aku tau apa yang ada di kepala Ayano sekarang. Pasti sama sepertiku bagaimana mungkin ada suara orang memakai high heels di tanjung kecil seperti ini?
Tidak butuh waktu lama bagi kami untuk mendapat jawabannya.
Dari lorong yang diterangi pantulan laut itu, berjalan dengan anggunnya seorang wanita dengan gaun duka cita berwarna hitam, dengan cadar yang menutupi wajahnya.
Gaun dan cadar wanita itu berkibar ditiup angin, sehingga menimbulkan gerakan seakan-akan gaun dan cadar wanita itu mengembang bagaikan sayap hitam yang berkembang di belakang sosok wanita itu.
'Tak... tak... tak....'
Wanita itu berjalan dengan anggun mendekati kami. Dan berhenti beberapa meter di depan kami.
Aku tidak bisa melihat wajah wanita itu di balik cadarnya. Tapi aku bisa merasakan wanita itu adalah berita buruk. Aku merasakan kakiku tidak dapat bergerak, dan jantungku bagaikan diremas-remas oleh rasa takut. Beberapa bulir keringat dingin menetes di pipiku.
"Lily......"
Suara wanita itu terasa sedingin es. Hanya satu kata darinya membuat seluruh tubuhku bagai meremang.
Aku menengok ke arah Lily, gadis kecil itu memeluk tubuhnya sambil gemetaran hebat. Wajahnya menggambarkan ketakutan yang amat sangat.
'Tak... Tak... Tak....'
Wanita itu berjalan kembali ke arah kami.
"AHHHH!!!!" teriak Lily tiba-tiba, gadis itu memeluk erat punggung Ayano.
Ayano memeluk gadis itu dengan sebelah tangannya, dan menatap lurus ke arah wanita berbaju hitam itu. "Berhenti!!!" serunya.
'Tak!.....'
Wanita itu menghentikan langkahnya.
"Siapa kamu!!" teriak Ayano.
Wanita itu menjawab, dengan bahasa Inggris dan aksen eropa yang kental "Minggirlah" katanya (langsung di terjemahkan).
Sekali lagi satu kata dari wanita itu terdengar lembut, namun membuat seluruh tubuhku diserang kedinginan. "Ayano...." bisikku sambil gemetaran.
Ayano menatapku dan mengangguk. "Koko tau" jawabnya "Bawa Lily pergi!" desisnya.
Aku mengangguk dan memegang tangan Lily.
Dingin.... pikirku ketika menyentuh lengan anak itu.
Lily menatapku ketika lengannya kusentuh. "Ayo.. kita harus pergi.." kataku pada Lily.
Gadis itu menundukkan kepalanya dan melepaskan pelukannya pada Ayano. Kemudian dia mengikutiku untuk menjauh dari sana.
"Lily" wanita baju hitam itu berkata lagi. Dan aku merasakan Lily menegang di tempatnya.
"Kau mau kemana?" tanya wanita itu lagi, masih dengan nada dingin yang sama.
"Kau tidak akan bisa lari dariku"
"Pada akhirnya kau harus kembali padaku"
"Agar aku bisa membunuhmu"
"Lagi..."
Dan setelah wanita itu mengatakan hal itu, Lily menangis.
Aku merasakan badannya gemetar hebat ketika dia menangis. Tangannya yang dingin mencengkeram bajuku erat. Aku hanya bisa memeluk gadis yang gemetaran itu.
"Ayano..." panggilku.
Dia menoleh dan melihatku sedang memeluk Lily.
"Kau siapa?" tanya Ayano ke wanita itu.
"Aku adalah keluarganya" jawabnya.
"Apa?"
"Aku adalah keluarganya!"
"Aku adalah bibi dari anak terkutuk itu!!"
"Dan akulah yang berhak membunuhnya lagi!!"
"Lagi!!"
"Membunuhnya untuk selama-lamanya!!!!"
Teriaknya histeris.
"Tidak" Ayano memotong tawa histeris wanita itu "Aku tidak akan membiarkan itu!!"
"Apa?" tanya wanita itu dengan nada mengancam.
"Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti anak itu lagi" ucap Ayano dengan nada pelan dan mengancam.
Aku tidak bisa melihat ekspresi wanita itu karena tertutup cadar hitamnya, namun aku bisa merasakan kalau dia sedang tertawa.
"Kau bisa apa?!" tanya wanita itu sambil berteriak.
Dan Ayano terpental beberapa meter ke belakang dan menghantam dinding gua.
"KOKOO!!!!" Aku berteriak panik memanggilnya, namun ketika aku hendak berlari ke arahnya, aku merasakan Lily yang berada di pelukanku tidak bergeming sama sekali. Seakan gadis itu terbuat dari patung batu yang sangat berat.
"KOKO!!!!" Panggilku sekali lagi. Aku panik dan kebingungan. Aku tidak bisa memilih apakah aku harus meninggalkan Lily yang berdiri kaku di pelukanku, atau harus lari ke tempat Ayano dan melihat keadaannya.
"Elisa!! koko nggak apa..." teriak Ayano.
Aku melihatnya sedang berdiri dengan susah payah.
"Aww.. aww.. lumayan sakit juga rupanya" katanya yang membuatku kesal karena bisa-bisanya dia menyempatkan dirinya untuk berkelakar.
"Masih ingin melawanku? Manusia?" wanita berbaju hitam itu berkata pada Ayano.
"Ya, tentu saja!" jawab Ayano.
"Baiklah, biar aku membunuhmu duluan" kata wanita itu.
"Sebelum itu, ceritakan kau ini apa?" kata Ayano sambil terseok-seok maju ke arah wanita itu.
"Hmm? ahahahahahaha" wanita itu tertawa dengan lengkingan mengerikan "Baiklah, aku adalah wanita yang terhormat!! wanita yang terpelajar!! sampai akhirnya kakakku mengawini ibu anak sialan itu!!" teriak wanita itu sambil menunjuk ke arah Lily.
"Apa maksudnya itu?" tanya Ayano lagi.
"Aku adalah putri bangsawan Belanda!! dan keluargaku adalah keluarga terhormat. Sampai kakakku, ayah gadis sialan itu memilih menikah dengan pembantu!!!"
"Ya!! ibu dari gadis sialan itu adalah wanita rendah!! pembantu!!!"
Aku merasakan Lily semakin keras terisak di pelukanku, namun tubuh gadis itu masih menolak untuk beranjak dari tempatnya.
"Jadi kau membunuh gadis tidak berdosa itu?" tanya Ayano geram.
"Gadis tidak berdosa? DIA SANGAT BERDOSA KEPADAKU!!!!"
Suara teriakan wanita itu menyebabkan gemuruh di gua itu.
"KARENA IBUNYA YANG RENDAHAN ITU, KELUARGA KAMI DICABUT DARI KEBANGSAWANANNYA, DAN AKU HARUS HIDUP SEBAGAI RAKYAT BIASA!!!!!!" teriak wanita itu sambil menuding ke arah Lily.
"Dan kau membunuhnya?"
Wanita itu mengeluarkan dengusan, dan berkata dengan nada menghina "Tentu saja. Untuk membuat wanita sialan yang menipu kakakku itu menderita, aku mengambil hal yang paling berharga baginya"
"Anaknya!"
"Gadis sialan itu!!"
"Hehehehehehehehehehehehhh"
Tawa wanita itu terdengar seperti seorang maniak. Seorang psycho.
"Aku tau gadis itu selalu bermain dengan teman-teman kampungannya di tempat ini"
"Karena itu, aku menghampirinya, dan berpura-pura baik padanya"
"Aku membujuknya untuk ikut denganku berkayuh dengan menggunakan sekoci kecil"
"Dan ditengah laut, aku mencekiknya sampai mati!!!!"
"HAHAHAHAHAHAHAHA!!! Ohhh!!! Aku masih bisa merasakan kegembiraan ketika nafas gadis itu habis di kedua tangan ini!!!!"
"Dan aku membuangnya ke laut!!!"
"Sialnya bagiku, mayat gadis sialan itu tersangkut pada kayuh sekoci itu dan membawanya tenggelam bersamanya!!!"
"Kau bisa bayangkan? dua hari aku hampir gila kehausan dan kelaparan di tengah terik matahari tengah laut? sampai akhirnya kegelapan menjemputku"
"TAPI DENDAMKU MASIH MEMBARA!!!"
"AKU TIDAK TERIMA HARUS MATI KARENA GADIS SIALAN ITU!!!"
"Hhehehehehehehehehehe!!! Hahaahahahahahahahahaha!!!!"
"Karena itu..."
"Karena itulah aku mengejarnya terus!!!"
"Aku tau gadis itu belum bisa mati dengan tenang!! karena sebelum dia mati, aku mengambil barang miliknya!!! Kalung sialan ini!!!"
Wanita itu mengeluarkan kalung dengan liontin kecil dari roknya yang mengembang.
"Kalung mama..." bisik Lily dari pelukanku.
"Aku mengejarnya... dan beruntungnya aku, gadis itu tidak bisa keluar dari pulau ini!! sama sepertiku!! Hahahahahahahahahaha!!!"
"Karena itu aku bisa membunuhnya berkali-kali!! dengan cara yang sama seperti aku membunuhnya pertama kali!! mencekiknya sampai nafasnya menghilang!!! Ahahahahahahahahaha"
Aku merasakan hatiku jadi panas mendengar cerita dari wanita berbaju hitam itu. Aku berdiri dan hendak mendekati wanita itu ketika tangan Ayano menghalangi jalanku.
Aku menatap ke arahnya dan melihat ekspresi Ayano yang sedang berusaha menahan amarahnya agar tidak meledak.
"Mahluk terkutuk.." desis Ayano "Kau sudah busuk bahkan sebelum mati"
"Katamu, kau orang Belanda kan? kalau begitu, bagus sekali..." Ayano berdiri di hadapanku "Aku punya satu hal yang akan sangat manjur untukmu.." kata-kata Ayano mengandung amarah yang tertahan.
Kemudian Ayano mulai melantunkan sebuah doa. Doa yang tidak kukenal bahasanya, yang jelas itu bukan doa dari bahasa latin yang seringkali kudengar. Doa itu singkat, hanya dua kalimat yang diulang-ulang.
Tapi aku melihat efeknya luar biasa bagi wanita itu.
Wanita itu berteriak-teriak kesakitan. Baju wanita itu terbakar oleh api yang entah bagaimana menyala dengan hebatnya dan membakar seluruh tubuh wanita itu.
Api itu membakar cadar wanita itu dan menunjukkan wajahnya.
Wajahnya sudah bukan wajah manusia lagi...
Aku bisa melihat wajah wanita itu sudah membusuk, daging-daging di wajahnya sudah menghijau dan menggantung pada tengkoraknya, selain itu, anehnya aku melihat sesuatu seperti tanduk mencuat keluar dari kedua pipi wanita itu.
"KAU!!!! SIALAAANNN!!!!!"
Wanita itu terjatuh ke depan, dan dengan kedua tangannya dia mencakar-cakar tanah di depannya sambil menyeret tubuhnya untuk maju mendekati kami.
"AKU TIDAK AKAN PERGI SENDIRI!!! GADIS SIALAN ITU AKAN IKUT KE NERAKA JUGA!!!"
Apabila selama ini Ayano tidak pernah sama sekali melakukan serangan balasan secara fisik ke 'mereka' maka kali ini apa yang dilakukan oleh Ayano benar-benar di luar dugaanku.
Entah sejak kapan Ayano sudah berada di dekat wanita yang sedang terbakar itu.
Dan berdiri di depannya.
Kemudian, dengan semua keterkejutanku, dia menendang wanita itu.
Ya, aku tidak salah lihat.
Ayano memang menendang wanita itu.
"Aku tidak akan memberikan Lily untukmu!!!" desis Ayano. Sebelum dia mengucapkan lagi kedua baris kalimat yang disebutkannya tadi. Api yang menyelimuti wanita itu semakin berkobar seiring dengan Ayano membaca kedua bait kalimat tersebut.
Aku memandangi tubuh wanita itu bergelut di dalam api sampai akhirnya sebuah teriakan nyaring dari wanita itu terasa membelah gua itu.
Dan kemudian, tubuh wanita itu lebur menjadi abu.
Bau belerang memenuhi gua kecil itu.
Dan aku duduk terpana sambil menatap ke bekas abu yang ditinggalkan wanita itu perlahan-lahan hilang ditiup angin.
"Ko..... tadi itu apa?" tanyaku.
"Oh... yahh.. itu sebenarnya... ehmm...." Ayano menggaruk kepalanya dengan sedikit malu "Itu sebenarnya sih buat iblis, yang... yah... itulah, macemnya legion. Tapi wanita tadi sepertinya hatinya udah seperti iblis. Jadi... ehm.... gitulah..."
"Itu doa untuk apa?"
"Itu... ehh.... itu doa buat supaya 'mereka' terbakar di neraka"
"Haaah?"
"Sebenernya itu nggak boleh sembarangan dipake.. karena doa itu buat ngebunuh.. bukan mengusir"
"Haaaaaah?"
"Harusnya koko nggak boleh pake sembarangan... tapi.. well.. koko marah banget tadi.."
"Koko bisa bunuh 'mereka'?"
"Eh? ya... begitulah..."
"Sejak kapan?"
"Eh? doa itu? udah dari awal belajar"
"Dan selama itu koko nggak pernah pake?"
Ayano menggeleng "Nggak boleh dipake, saat-saat khusus aja"
Aku mengangguk, tapi agak sedikit kesal karena Ayano sama sekali tidak mengatakan ini padaku sebelumnya.
"El... nanti dulu soal kita.." bisik Ayano, kemudian dia berlutut di samping Lily "Lily... semua sudah selesai. Waktunya kamu pulang ke mama kamu.." katanya.
Lily menatap Ayano sambil tersenyum kecil "Kalung mama..." katanya pelan.
"Ini..." Ayano mengeluarkan kalung dengan liontin kecil dari genggaman tangannya, dan meletakkannya di tangan Lily yang menyambut kalung itu.
"Ko?"
"Koko ambil dari sisa abu di sana" kata Ayano sambil menunjuk dengan jempolnya.
"Hiks..."
Aku menoleh dan mendapati Lily sedang menangis.
"Hiks..."
"Kenapa Lily?" tanyaku sambil mengusap rambutnya.
"Lily bisa pulang..."
Oh....
"Lily bisa ketemu mama dan papa lagi..."
Oh.. Tuhan....
Aku merasakan pelupuk mataku jadi panas. Aku memeluk Lily sambil ikut menangis.
Aku merasakan tangan hangat memeluk kami. Ayano.
"Istirahatlah dengan tenang, Lily... sampai bertemu lagi.." kata Ayano lembut.
"Yes" kata Lily sambil tersenyum.
Perlahan-lahan tubuh gadis itu bagaikan berpendar sinar temaram. Dan semakin transparan.
"Brother.. sister.... My name is V****Ly ***** **********... please, don't forget about me" kata Lily sambil tersenyum.
"Goodbye, Lily" kata Ayano.
"Goodbye, Lily" aku membeo.
Gadis itu tersenyum manis dan menghilang.
===
In memories of V***ily.
May you rest in peace, little angel.
bungamempesona dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Kutip
Balas