- Beranda
- Stories from the Heart
Seperti Air Mengalir
...
TS
haihana
Seperti Air Mengalir
Gue memandang buku berwarna hitam dalam pangkuan tanggan gue, melihat selembar demi lembar isinya dan sesekali tersenyum.
gue seakan kembali ke 10 tahun yang lalu, saat masih berseragam putih abu dan mengulang masa remaja gue seperti dalam gambar di buku ini. gambar sekumpulan laki-laki dan perempuan berfoto dengan tema tahun 80an. "Teko ajaib bawa gue kembali ke masa itu dong"
***
nama gue Raka, gue anak pecicilan yang agak melankolis, gue suka gambar dan yang paling penting gue suka makan dan tidur.hehe..
segitu aja deh ntar kalo kepanjangan pada suka sama gue berabe. anyway selamat baca ya.
***
gue seakan kembali ke 10 tahun yang lalu, saat masih berseragam putih abu dan mengulang masa remaja gue seperti dalam gambar di buku ini. gambar sekumpulan laki-laki dan perempuan berfoto dengan tema tahun 80an. "Teko ajaib bawa gue kembali ke masa itu dong"
***
nama gue Raka, gue anak pecicilan yang agak melankolis, gue suka gambar dan yang paling penting gue suka makan dan tidur.hehe..
segitu aja deh ntar kalo kepanjangan pada suka sama gue berabe. anyway selamat baca ya.
***
Quote:
Spoiler for Index:
Diubah oleh haihana 21-05-2017 18:05
Nankendra dan 2 lainnya memberi reputasi
3
15.9K
99
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
haihana
#87
Duapuluh satu
" Lo ga apa-apa?" tanyanya mendekat ke arah gue yang masih terduduk sambil tersenyum dengan rona pipi yang memerah
'ya Tuhan.. meleleh gue dengan ciptaanMu ini ' batin gue dalam hati sambil mematung.
Dengan entah bentukan muka dan penampilan yang kaya apa sekarang, gue berdiri dengan menahan rasa sedikit sakit di pantat dan malu di wajah yang polos ini. Gue memandang sesosok bidadari dihadapan gue dengan takjub. Wajah yang imut dengan bola mata yang cukup besar tersembunyi dibalik kaca mata berframe hitam. Rambutnya diikat ekor kuda dengan poni yang sepenuhnya menutupi dahi. Hidung mancung dan lesung pipi yang terlihat saat dia tersenyum ini menambah kesempurnaan ciptaanNya yang kini berdiri hanya berjarak setengah meter dihadapan gue.
" Emm.. gue.. gue.. ga apa-apa kok " jawab gue sambil senyum tersipu sambil membersihkan kain sarung gue yang terkena cipratan genangan air. Ingin rasanya gue bersembunyi di balik kain sarung itu saking malunya.
" Syukurlah kalau gitu. lain kali kalau jalan itu hati-hati ya" ucapnya dengan sedikit terkekeh lalu meninggalkan gue yang bengong.
" Ehh... nama lu..." ucap gue pelan..sangan pelan..sampe kayanya cuma gue yang bisa denger ucapan gue sendiri.
Gue baru sadar gue udah kehilangan kesempatan kenalan sama cewek cantik cuma gara-gara gue salting dikasih senyuman doang.
Iya cuma gara-gara dikasih senyum doang gue sampe lupa segalanya. Gue yang tersadar jadi cuma mesem-mesem sendiri menertawakan kebodohan gue tadi. Gadis itu mengalihkan dunia gue.
***
Satu hari di bulan juni,
Pagi yang dingin ini memaksa gue menarik lagi selimut sambil memeluk guling di kamar. Padahal sih ga panas ga dingin gue tetep aja molor sampe siang, efek kelamaan jadi pengangguran jadi hampir setiap malam gue begadang. Ritme pola hidup gue udah ga karu-karuan. Ibaratnya lagi tidur itu miring kanan salah, miring kiri salah, terlentang salah, tengkurep pun salah.
Gue merasakan kebosanan yang teramat sangat. Walau hampir tiap menjelang malam gue ngumpul sama anak-anak komplek tetep aja ga bisa mengusir kebosanan gue dengan rutinitas gue beberapa bulan terakhir ini. Terlebih gue kehilangan semangat gue setelah bulan lalu gue ga lulus test masuk sekolah yang gue impikan selama ini. Pupus sudah cita-cita gue buat jadi seorang chef. Gue merasa seperti mayat hidup yang enggan buat ngapa-ngapain. Ga ada semangat apapun lagi, ga ada tujuan yang ingin gue capai selepas patah semangat.
Gue cuma mengisi hari menunggu pagi menjadi malam lalu malam menjadi pagi. Walaupun gue nyaman dengan temen-teman gue yang sekarang tapi gue merasakan kekosongan di dalam diri gue yang teramat sangat. Gue pun menyerah dan jadi hanya menjalani hari-hari gue mengikuti apa yang Tuhan sudah gariskan untuk gue tanpa ada hasrat dan usaha lebih apapun. Seperti air yang mengalir.
" Raka sayang, bangun nak. Mama mau bicara sebentar" ucap Mama sambil mengusap-usap kepala gue yang setengahnya masih tertutup selimut.
Gue yang masih mengantuk tidak menghiraukan panggilan Mama dan malah menarik selimut menutup seluruh tubuh gue sampai kepala.
" Bangun sayang sudah jam 9 pagi ini" ucap Mama lagi dengan sabar.
Mama memang banyak berubah sejak gue kabur tahun lalu. Mama jadi lebih memperhatikan gue dan selalu menyempatkan waktu untuk gue disela kesibukannya. Kalau Papa masih sama seperti dulu. Masih sibuk dan ga menganggap gue ada. Kalau gue nongol pun paling cuma kena omelannya beliau aja yang kesel ngeliat gue males gerak di rumah. Tapi gue ga peduliin itu sih.
Cukup lama mama dengan sabar bangunin gue sampai gue akhirnya sekarang duduk di kasur mengumpulkan nyawa gue selepas tidur yang belum puas.
"Raka" panggil mama yang duduk di hadapan gue
Gue merebahkan kepala gue di paha mama. Lanjut baringan lagi sambil merem.
"Eh ko malah tidur lagi si?" protes mama sambil membelai lembut rambut gue
"Apa sih ma? tumbenan bangunin Raka sepagi ini" jawab gue masih dengan mata merem
"Udah siang ini sayang. Bagun dulu cepet mama mau ngomong serius" ucap Mama lagi
Dengan malas akhirnya gue bangun lalu duduk menyender ke tembok di samping mama
"Kenapa mama sayang?" tanya gue
"Raka kemarin kan kamu ga lolos test masuk di sekolah yang kamu mau itu. Kamu mau gimana sekarang?" tanya Mama
"..." gue ga tau harus jawab apa. Gue belum kepikiran.
"Sayang kamu mau sekolah lagi?" tanya Mama
"..." gue masih diam
"Atau kamu mau coba sekolah masak di tempat lain?" tanya Mama lagi
"..." gue masih diam
"Atau kamu mau kursus-kursus dulu aja?"
"..." gue masih diam
"Atau mau kerja aja?"
"..."
Mama mendekat ke gue lalu memeluk gue seperti anak kecil.
"Sayang, kalau kamu belum mau ngapa-ngapain, masih ingin main-main mama ga apa-apa ko. Mama ga akan maksa-maksa kamu. Mama mau saat kamu nanti udah memilih itu memang karna kamu mau bukan karna mama paksa. Mama ingin saat kamu sudah memilih nanti, kamu bertanggung jawab sama pilihan kamu. Mama akan dukung dan doakan yang terbaik untuk kamu. Untuk masa depan kamu" ucap Mama sambil mengelus kepala gue.
Cukup lama gue diem.
" Ma..." panggil gue sambil memandang mama kesayangan gue. Mama terbaik yang pernah gue miliki.
" Ya sayang?"
" Raka mau sekolah aja ma. Raka udah bosen juga di rumah terus" jawab gue mantap
" Kamu mau nyoba sekolah masak yang lain?" tanya mama lagi
Gue menggeleng.
"Engga ma, sekolah biasa aja" jawab gue
"Kamu yakin? mama ga mau nanti kamu bolos-bolos lagi karna kamu ga suka sekolahnya" tanya mama lagi meyakinkan gue.
"Engga ma, Raka janji Raka ga akan bolos lagi. Raka janji akan sekolah yang rajin dan ga akan membuat masalah lagi di sekolah" ucap gue sambil memeluk mama.
Mendengar janji gue mama tersenyum. Ada rona sumringah diwajahnya yang mulai menua. Iya dengan spontan gue memilih sekolah di sekolah biasa bukan sekolah masak seperti keinginan gue. Selain mental gue belum sepenuhnya pulih pasca gagal ujian kemarin gue ingin membuat mama tidak lagi stres mikirin gue. Gue ingin melihat mama tersenyum dan bahagia. Gue tau persis sebenarnya dalam hati mama belum yakin jika gue sekolah masak. Mama masih sangsi mau jadi apa gue setelah lulus nanti, mengingat di jaman gue ini sekolah masak dan jadi chef itu belum setenar dan semenjanjikan jaman sekarang, maka dari itu gue memilih sekolah biasa. Jangan lupa bahwa restu dari orang tua adalah jalan yang Tuhan ridhoi.
***
" Lo ga apa-apa?" tanyanya mendekat ke arah gue yang masih terduduk sambil tersenyum dengan rona pipi yang memerah
'ya Tuhan.. meleleh gue dengan ciptaanMu ini ' batin gue dalam hati sambil mematung.
Dengan entah bentukan muka dan penampilan yang kaya apa sekarang, gue berdiri dengan menahan rasa sedikit sakit di pantat dan malu di wajah yang polos ini. Gue memandang sesosok bidadari dihadapan gue dengan takjub. Wajah yang imut dengan bola mata yang cukup besar tersembunyi dibalik kaca mata berframe hitam. Rambutnya diikat ekor kuda dengan poni yang sepenuhnya menutupi dahi. Hidung mancung dan lesung pipi yang terlihat saat dia tersenyum ini menambah kesempurnaan ciptaanNya yang kini berdiri hanya berjarak setengah meter dihadapan gue.
" Emm.. gue.. gue.. ga apa-apa kok " jawab gue sambil senyum tersipu sambil membersihkan kain sarung gue yang terkena cipratan genangan air. Ingin rasanya gue bersembunyi di balik kain sarung itu saking malunya.
" Syukurlah kalau gitu. lain kali kalau jalan itu hati-hati ya" ucapnya dengan sedikit terkekeh lalu meninggalkan gue yang bengong.
" Ehh... nama lu..." ucap gue pelan..sangan pelan..sampe kayanya cuma gue yang bisa denger ucapan gue sendiri.
Gue baru sadar gue udah kehilangan kesempatan kenalan sama cewek cantik cuma gara-gara gue salting dikasih senyuman doang.
Iya cuma gara-gara dikasih senyum doang gue sampe lupa segalanya. Gue yang tersadar jadi cuma mesem-mesem sendiri menertawakan kebodohan gue tadi. Gadis itu mengalihkan dunia gue.
***
Satu hari di bulan juni,
Pagi yang dingin ini memaksa gue menarik lagi selimut sambil memeluk guling di kamar. Padahal sih ga panas ga dingin gue tetep aja molor sampe siang, efek kelamaan jadi pengangguran jadi hampir setiap malam gue begadang. Ritme pola hidup gue udah ga karu-karuan. Ibaratnya lagi tidur itu miring kanan salah, miring kiri salah, terlentang salah, tengkurep pun salah.
Gue merasakan kebosanan yang teramat sangat. Walau hampir tiap menjelang malam gue ngumpul sama anak-anak komplek tetep aja ga bisa mengusir kebosanan gue dengan rutinitas gue beberapa bulan terakhir ini. Terlebih gue kehilangan semangat gue setelah bulan lalu gue ga lulus test masuk sekolah yang gue impikan selama ini. Pupus sudah cita-cita gue buat jadi seorang chef. Gue merasa seperti mayat hidup yang enggan buat ngapa-ngapain. Ga ada semangat apapun lagi, ga ada tujuan yang ingin gue capai selepas patah semangat.
Gue cuma mengisi hari menunggu pagi menjadi malam lalu malam menjadi pagi. Walaupun gue nyaman dengan temen-teman gue yang sekarang tapi gue merasakan kekosongan di dalam diri gue yang teramat sangat. Gue pun menyerah dan jadi hanya menjalani hari-hari gue mengikuti apa yang Tuhan sudah gariskan untuk gue tanpa ada hasrat dan usaha lebih apapun. Seperti air yang mengalir.
" Raka sayang, bangun nak. Mama mau bicara sebentar" ucap Mama sambil mengusap-usap kepala gue yang setengahnya masih tertutup selimut.
Gue yang masih mengantuk tidak menghiraukan panggilan Mama dan malah menarik selimut menutup seluruh tubuh gue sampai kepala.
" Bangun sayang sudah jam 9 pagi ini" ucap Mama lagi dengan sabar.
Mama memang banyak berubah sejak gue kabur tahun lalu. Mama jadi lebih memperhatikan gue dan selalu menyempatkan waktu untuk gue disela kesibukannya. Kalau Papa masih sama seperti dulu. Masih sibuk dan ga menganggap gue ada. Kalau gue nongol pun paling cuma kena omelannya beliau aja yang kesel ngeliat gue males gerak di rumah. Tapi gue ga peduliin itu sih.
Cukup lama mama dengan sabar bangunin gue sampai gue akhirnya sekarang duduk di kasur mengumpulkan nyawa gue selepas tidur yang belum puas.
"Raka" panggil mama yang duduk di hadapan gue
Gue merebahkan kepala gue di paha mama. Lanjut baringan lagi sambil merem.
"Eh ko malah tidur lagi si?" protes mama sambil membelai lembut rambut gue
"Apa sih ma? tumbenan bangunin Raka sepagi ini" jawab gue masih dengan mata merem
"Udah siang ini sayang. Bagun dulu cepet mama mau ngomong serius" ucap Mama lagi
Dengan malas akhirnya gue bangun lalu duduk menyender ke tembok di samping mama
"Kenapa mama sayang?" tanya gue
"Raka kemarin kan kamu ga lolos test masuk di sekolah yang kamu mau itu. Kamu mau gimana sekarang?" tanya Mama
"..." gue ga tau harus jawab apa. Gue belum kepikiran.
"Sayang kamu mau sekolah lagi?" tanya Mama
"..." gue masih diam
"Atau kamu mau coba sekolah masak di tempat lain?" tanya Mama lagi
"..." gue masih diam
"Atau kamu mau kursus-kursus dulu aja?"
"..." gue masih diam
"Atau mau kerja aja?"
"..."
Mama mendekat ke gue lalu memeluk gue seperti anak kecil.
"Sayang, kalau kamu belum mau ngapa-ngapain, masih ingin main-main mama ga apa-apa ko. Mama ga akan maksa-maksa kamu. Mama mau saat kamu nanti udah memilih itu memang karna kamu mau bukan karna mama paksa. Mama ingin saat kamu sudah memilih nanti, kamu bertanggung jawab sama pilihan kamu. Mama akan dukung dan doakan yang terbaik untuk kamu. Untuk masa depan kamu" ucap Mama sambil mengelus kepala gue.
Cukup lama gue diem.
" Ma..." panggil gue sambil memandang mama kesayangan gue. Mama terbaik yang pernah gue miliki.
" Ya sayang?"
" Raka mau sekolah aja ma. Raka udah bosen juga di rumah terus" jawab gue mantap
" Kamu mau nyoba sekolah masak yang lain?" tanya mama lagi
Gue menggeleng.
"Engga ma, sekolah biasa aja" jawab gue
"Kamu yakin? mama ga mau nanti kamu bolos-bolos lagi karna kamu ga suka sekolahnya" tanya mama lagi meyakinkan gue.
"Engga ma, Raka janji Raka ga akan bolos lagi. Raka janji akan sekolah yang rajin dan ga akan membuat masalah lagi di sekolah" ucap gue sambil memeluk mama.
Mendengar janji gue mama tersenyum. Ada rona sumringah diwajahnya yang mulai menua. Iya dengan spontan gue memilih sekolah di sekolah biasa bukan sekolah masak seperti keinginan gue. Selain mental gue belum sepenuhnya pulih pasca gagal ujian kemarin gue ingin membuat mama tidak lagi stres mikirin gue. Gue ingin melihat mama tersenyum dan bahagia. Gue tau persis sebenarnya dalam hati mama belum yakin jika gue sekolah masak. Mama masih sangsi mau jadi apa gue setelah lulus nanti, mengingat di jaman gue ini sekolah masak dan jadi chef itu belum setenar dan semenjanjikan jaman sekarang, maka dari itu gue memilih sekolah biasa. Jangan lupa bahwa restu dari orang tua adalah jalan yang Tuhan ridhoi.
***
0
