- Beranda
- Stories from the Heart
Penghujung Hari
...
TS
black.sweater
Penghujung Hari
Senja, dimana kita mencoba menggali memori tentang diri kita, orang-orang disekitar kita yang mencoba memudar akan hadirnya sebuah akhir dari hari yang akan berlalu. Tentang canda, tawa, tangis dan semua rasa apa yang kita dapat saat bersama. Dulu.
..
Senja, dimana kita menikmati akhir dari sebuah cerita dari buku harian kita, yang kita tulis bersama dengan bertintakan waktu kita. Dan semua kejadian itu hanya dapat kita baca bersama. Tersimpan rapi pada rak buku terasingkan oleh kesibukan kita masing-masing yang akan menjadi usang, berdebu dan tak tersentuh
..
Senja, dimana aku mulai melihat satu bintang yang bernama bintang senja, kata orang. Bintang yang sendiri, dingin, tak terjangkau karna jarak yang begitu jauh. Tetapi dari tempat yang jauh, aku hanya bisa mengagumi dalam jarak dan menikmati keindahannya dalam jarak ataupun sekedar mengagumi. Bagiku bintang itu mempunyai nama. Ya, kamu.
..
Sebelum senja tiba ada dimana waktu kita berdua menulis cerita kita. Bersama. Dimana kita menikmati pemandangan di langit. Melihat Kristal-kristal es bersama. Merasakan dinginnya angin disiang hari ini. Dimana, di kota kita menuliskan cerita yang singkat. Seperti senja, dimana dia hanya menjadi pemisah waktu siang dan malam.
Indek
..
Senja, dimana kita menikmati akhir dari sebuah cerita dari buku harian kita, yang kita tulis bersama dengan bertintakan waktu kita. Dan semua kejadian itu hanya dapat kita baca bersama. Tersimpan rapi pada rak buku terasingkan oleh kesibukan kita masing-masing yang akan menjadi usang, berdebu dan tak tersentuh
..
Senja, dimana aku mulai melihat satu bintang yang bernama bintang senja, kata orang. Bintang yang sendiri, dingin, tak terjangkau karna jarak yang begitu jauh. Tetapi dari tempat yang jauh, aku hanya bisa mengagumi dalam jarak dan menikmati keindahannya dalam jarak ataupun sekedar mengagumi. Bagiku bintang itu mempunyai nama. Ya, kamu.
..
Sebelum senja tiba ada dimana waktu kita berdua menulis cerita kita. Bersama. Dimana kita menikmati pemandangan di langit. Melihat Kristal-kristal es bersama. Merasakan dinginnya angin disiang hari ini. Dimana, di kota kita menuliskan cerita yang singkat. Seperti senja, dimana dia hanya menjadi pemisah waktu siang dan malam.
Indek
Quote:
Diubah oleh black.sweater 19-03-2017 01:48
kulitkacang10 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
2.9K
13
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
black.sweater
#11
Part 2
2016
“Drtt drrt drtt”
Getar suara hp dengan suksesnya membangunkan gue dari mimpi indah. Gue ambil hp lalu matiin alarm yang dari tadi berbunyi. Gue bangun dan membuka pintu untuk menghirup udara segar pagi yang belum tercemar dengan datangnya siang.
“Jika saja keegoisan dan sifat kekanakan dari masing-masing kita bisa kita tahan, apakah sekarang kita masih menuliskan cerita pada lembar yang sama?” Gumamku dalam hati, sambil memandang langit pagi. Ku raih cangkir yang tergeletak di meja dan menyesap teh hangat dengan kadar gula seujung sendok. Aroma dari teh cukup menenangkan hati yang sedang gundah. Ku coba mendengus dan meregangkan otot agar rileks dan membuang jauh-jauh pikiran tersebut.
.
“Na, udah siap belum?”
“Belum Dan, bentar lagi ya”
“Jam 8 gue ke kosan lo ya”
“Ok”
Setelah menghabiskan teh gue bersiap-siap dulu sebelum menjemput nana. Walaupun pagi nan dingin tak menghalangi gue untuk mandi. Karna waktu di asrama dulu, gue biasa mandi jam 5 pagi kalau ada kelas pagi.
.
“Na, lo mau bubur pake apa?”
“Gue pake ayam aja Dan”
Sebelum berangkat ke Kawah Putih kita sarapan dulu di langganan gue. Dengan harga yang murah dapat isinya banyak banget dan pasti bikin kenyang. Mahasiswa banget.
“Dan gue ga habis nih”
“Ah kebiasaan deh”
“Hihi”
“Sih ketawa lagi”
Gue mengelus rambutnya yang lembut. Dia melihat gue dan tersenyum, momen ini mengingatkan gue pada suatu masa dimana gue pertama kalinya mengelus halus rambutnya dan dia marah-marah karena rambutnya acak-acakan.
.
Gue dan Nana sekarang sudah dalam perjalanan ke Kawah Putih. Sepanjang perjalanan dia banyak banget ngomongnya, gue yang sebagai sopir kadang tidak fokus dan hanya menjawab seadanya dan kadang menghasilkan sebuah cubitan di pinggang gue karna gue yang cuma nanggepin omongan dia dengan “oh,gitu”, “iya ya”.
Selama perjalanan gue benar-benar nikmatin banget suasana jalan menuju ke Kawah Putih, bener-bener sejuk banget udaranya. Nana mulai melingkarkan tanganya di pinggang gue, karna udara yang mulai dingin disini. Gue merasa nyaman banget di peluk dari belakang, dia seolah-olah juga tau kalau gue kedinginan di depan dan dia juga merasa butuh kehangatan untuk mengurangi rasa udara dingin.
.
Nasib sial. Di depan ternyata ada razia motor dari pihak kepolisian lalu lintas. Gue disuruh minggir dulu sama pak polisi, disini gue merasa deg-degan ya karena ini pertama kalinya kena razia motor selama gue tinggal di Bandung. Gue deg-degan karna ada kelengkapan motor yang kurang di motor gue.
Fiuh. Untung saja lolos, coba kalau ga duit udah ludes deh dan ga jadi ke Kawah Putih karna duit habis duluan. Gue pun melanjutkan perjalanan lagi ke Kawah Putih
.
Akhirnya sampai juga di tempat wisata Kawah Putih, gue dan Nana pun menitipkan helm dan langsung menuju ke loket. Gue lupa berapa harga masuknya tp kalau ga salah harganya untuk dua orang ga nyampe 100 ribu. Setelah dapat tiket kita pun menunggu kendaraan yang bakal mengangkut para pengungjung menuju ke Kawah Putih.
.
“Dan, disini dingin banget”
“Iya lah, kan di gunung”
“Hehe” Nana ketawa sambil menggandeng tangan gue.
“Dasar, yuk ah”
“Hayu a”
“Dasar si neng bawel”
Nyuutt-, gue dapet cubitan gara-gara ngatain bawel. Dasar aneh, udah tau bawel tapi marah kalau dipanggil bawel.
.
Disini gue dan Nana saling mengabadikan poto. Nana ribet banget minta potonya, yang ini jeleklah, keliatan gendutanlah, keliatan itemlah. Ah elah, lo nya aja Na yang ga mau nerimaan. Disini kita lumayan lama, sambil membuang waktu kita banyak berbincang-bincang tentang masa depan kita gimana dan juga tentang “kita” kedepannya. Gue paling males kalau udah ngebahas masalah “kita”, palingan gue jawab, kalau udah takdirnya suatu saat bakal terjadi kok dan Nana hanya tersenyum saat gue ngomong gitu. Dia mungkin udah tau bahwasannya dia hanya bisa menunggu karna dia paham keputusannya dulu yang dia ambil membuatnya tidak banyak hal yang bisa dilakukan.
Andai aja Na dulu lo ga ngambil keputusan itu, mungkin lo ga harus mengalami yang namanya penyesalan, ataupun menunggu untuk dibukakan pintu lagi agar lo bisa masuk lagi. Gue paham banget dengan keadaan hati gue, udah tiga tahun berlalu tapi tetap saja gue belum bisa membuka hati lagi karna gue tahu ga segampang membalikkan telapak tangan untuk membuka hati lagi. Dan ini yang gue lakukan ke semua orang. Membatasi diri. Hanya sebagai teman. Tidak lebih.
Hari sudah semakin sore dan langit yang tadinya cerah kini mulai berawan dan udara semakin dingin disini. Gue akhirnya mengajak Nana untuk pulang saja karna takut kehujanan dalam perjalanan. Sambil menunggu kendaraan untuk turun ke tempat parkiran kita berbincang-bincang tentang suasana kota masing-masing yang kita tinggalin. Dingin. Membuat Nana melingkarkan tangannya ke tangan gue dan menyenderkan kepala di tangan gue.
.
Setelah mengambil helm kita pun melanjutkan perjalanan untuk pulang. Nana memeluk gue dengan eratnya dari belakang, seolah ingin mengatakan aku ingin memelukmu disini dan sampai nanti. Aku tak ingin pergi jauh darimu. Aku hanya ingin kamu. Kamu, Dande. Seolah ingin mengatakan, aku akan menunggumu. Disini, di depan pintu aku akan siap menunggumu untuk kamu bukakan. Agar bahwasannya yang pertama kali kamu lihat adalah gue saat lo udah mulai membuka pintu hatimu, Dan.
.
Sesampainya di tempat kos-kosan gue ajak dia ke kamar gue. Pengen ngobrol-ngobrol sebentar sebelum besoknya dia pulang.
Gue peluk erat dia sesampainya didalam kamar gue.
Gue pengen banget ngomong ke lo Na. Pengen banget. Gue pengen banget ngomong ke lo kalo gue juga masih sayang ke lo. Tapi apa daya, mulut gue ga mampu untuk ngomong. Semoga dengan pelukan ini lo bisa tahu na kalau gue masih sayang ke lo. Andai saja waktu dapat diputar, gue pengen kita bisa memperbaiki masalah kita. Tapi apa daya waktu yang tak bisa diputar kembali. Kalaupun bisa, gue juga tahu lo ga bakal mau untuk mengulangi waktu lagi karna lo pernah ngomong “ ngapain diulang? Hidup ya jalan terus. Ngulang juga ga bakal bisa balikin waktu yang udah kelewat. Masa lalu ya buat pelajaran, tapi hidup ya jalan terus.LIFE MUST GO ON.”
2016
“Drtt drrt drtt”
Getar suara hp dengan suksesnya membangunkan gue dari mimpi indah. Gue ambil hp lalu matiin alarm yang dari tadi berbunyi. Gue bangun dan membuka pintu untuk menghirup udara segar pagi yang belum tercemar dengan datangnya siang.
“Jika saja keegoisan dan sifat kekanakan dari masing-masing kita bisa kita tahan, apakah sekarang kita masih menuliskan cerita pada lembar yang sama?” Gumamku dalam hati, sambil memandang langit pagi. Ku raih cangkir yang tergeletak di meja dan menyesap teh hangat dengan kadar gula seujung sendok. Aroma dari teh cukup menenangkan hati yang sedang gundah. Ku coba mendengus dan meregangkan otot agar rileks dan membuang jauh-jauh pikiran tersebut.
.
“Na, udah siap belum?”
“Belum Dan, bentar lagi ya”
“Jam 8 gue ke kosan lo ya”
“Ok”
Setelah menghabiskan teh gue bersiap-siap dulu sebelum menjemput nana. Walaupun pagi nan dingin tak menghalangi gue untuk mandi. Karna waktu di asrama dulu, gue biasa mandi jam 5 pagi kalau ada kelas pagi.
.
“Na, lo mau bubur pake apa?”
“Gue pake ayam aja Dan”
Sebelum berangkat ke Kawah Putih kita sarapan dulu di langganan gue. Dengan harga yang murah dapat isinya banyak banget dan pasti bikin kenyang. Mahasiswa banget.
“Dan gue ga habis nih”
“Ah kebiasaan deh”
“Hihi”
“Sih ketawa lagi”
Gue mengelus rambutnya yang lembut. Dia melihat gue dan tersenyum, momen ini mengingatkan gue pada suatu masa dimana gue pertama kalinya mengelus halus rambutnya dan dia marah-marah karena rambutnya acak-acakan.
.
Gue dan Nana sekarang sudah dalam perjalanan ke Kawah Putih. Sepanjang perjalanan dia banyak banget ngomongnya, gue yang sebagai sopir kadang tidak fokus dan hanya menjawab seadanya dan kadang menghasilkan sebuah cubitan di pinggang gue karna gue yang cuma nanggepin omongan dia dengan “oh,gitu”, “iya ya”.
Selama perjalanan gue benar-benar nikmatin banget suasana jalan menuju ke Kawah Putih, bener-bener sejuk banget udaranya. Nana mulai melingkarkan tanganya di pinggang gue, karna udara yang mulai dingin disini. Gue merasa nyaman banget di peluk dari belakang, dia seolah-olah juga tau kalau gue kedinginan di depan dan dia juga merasa butuh kehangatan untuk mengurangi rasa udara dingin.
.
Nasib sial. Di depan ternyata ada razia motor dari pihak kepolisian lalu lintas. Gue disuruh minggir dulu sama pak polisi, disini gue merasa deg-degan ya karena ini pertama kalinya kena razia motor selama gue tinggal di Bandung. Gue deg-degan karna ada kelengkapan motor yang kurang di motor gue.
Fiuh. Untung saja lolos, coba kalau ga duit udah ludes deh dan ga jadi ke Kawah Putih karna duit habis duluan. Gue pun melanjutkan perjalanan lagi ke Kawah Putih
.
Akhirnya sampai juga di tempat wisata Kawah Putih, gue dan Nana pun menitipkan helm dan langsung menuju ke loket. Gue lupa berapa harga masuknya tp kalau ga salah harganya untuk dua orang ga nyampe 100 ribu. Setelah dapat tiket kita pun menunggu kendaraan yang bakal mengangkut para pengungjung menuju ke Kawah Putih.
.
“Dan, disini dingin banget”
“Iya lah, kan di gunung”
“Hehe” Nana ketawa sambil menggandeng tangan gue.
“Dasar, yuk ah”
“Hayu a”
“Dasar si neng bawel”
Nyuutt-, gue dapet cubitan gara-gara ngatain bawel. Dasar aneh, udah tau bawel tapi marah kalau dipanggil bawel.
.
Disini gue dan Nana saling mengabadikan poto. Nana ribet banget minta potonya, yang ini jeleklah, keliatan gendutanlah, keliatan itemlah. Ah elah, lo nya aja Na yang ga mau nerimaan. Disini kita lumayan lama, sambil membuang waktu kita banyak berbincang-bincang tentang masa depan kita gimana dan juga tentang “kita” kedepannya. Gue paling males kalau udah ngebahas masalah “kita”, palingan gue jawab, kalau udah takdirnya suatu saat bakal terjadi kok dan Nana hanya tersenyum saat gue ngomong gitu. Dia mungkin udah tau bahwasannya dia hanya bisa menunggu karna dia paham keputusannya dulu yang dia ambil membuatnya tidak banyak hal yang bisa dilakukan.
Andai aja Na dulu lo ga ngambil keputusan itu, mungkin lo ga harus mengalami yang namanya penyesalan, ataupun menunggu untuk dibukakan pintu lagi agar lo bisa masuk lagi. Gue paham banget dengan keadaan hati gue, udah tiga tahun berlalu tapi tetap saja gue belum bisa membuka hati lagi karna gue tahu ga segampang membalikkan telapak tangan untuk membuka hati lagi. Dan ini yang gue lakukan ke semua orang. Membatasi diri. Hanya sebagai teman. Tidak lebih.
Hari sudah semakin sore dan langit yang tadinya cerah kini mulai berawan dan udara semakin dingin disini. Gue akhirnya mengajak Nana untuk pulang saja karna takut kehujanan dalam perjalanan. Sambil menunggu kendaraan untuk turun ke tempat parkiran kita berbincang-bincang tentang suasana kota masing-masing yang kita tinggalin. Dingin. Membuat Nana melingkarkan tangannya ke tangan gue dan menyenderkan kepala di tangan gue.
.
Setelah mengambil helm kita pun melanjutkan perjalanan untuk pulang. Nana memeluk gue dengan eratnya dari belakang, seolah ingin mengatakan aku ingin memelukmu disini dan sampai nanti. Aku tak ingin pergi jauh darimu. Aku hanya ingin kamu. Kamu, Dande. Seolah ingin mengatakan, aku akan menunggumu. Disini, di depan pintu aku akan siap menunggumu untuk kamu bukakan. Agar bahwasannya yang pertama kali kamu lihat adalah gue saat lo udah mulai membuka pintu hatimu, Dan.
.
Sesampainya di tempat kos-kosan gue ajak dia ke kamar gue. Pengen ngobrol-ngobrol sebentar sebelum besoknya dia pulang.
Gue peluk erat dia sesampainya didalam kamar gue.
Gue pengen banget ngomong ke lo Na. Pengen banget. Gue pengen banget ngomong ke lo kalo gue juga masih sayang ke lo. Tapi apa daya, mulut gue ga mampu untuk ngomong. Semoga dengan pelukan ini lo bisa tahu na kalau gue masih sayang ke lo. Andai saja waktu dapat diputar, gue pengen kita bisa memperbaiki masalah kita. Tapi apa daya waktu yang tak bisa diputar kembali. Kalaupun bisa, gue juga tahu lo ga bakal mau untuk mengulangi waktu lagi karna lo pernah ngomong “ ngapain diulang? Hidup ya jalan terus. Ngulang juga ga bakal bisa balikin waktu yang udah kelewat. Masa lalu ya buat pelajaran, tapi hidup ya jalan terus.LIFE MUST GO ON.”
Diubah oleh black.sweater 19-03-2017 01:49
roridande memberi reputasi
1