- Beranda
- Stories from the Heart
(HORROR) Kisah Untuk Malam Seratus Lilin - (Diary Gadis Bermata Indigo return)
...
TS
ayanorei
(HORROR) Kisah Untuk Malam Seratus Lilin - (Diary Gadis Bermata Indigo return)
Hallo All,
We come back!!

thanks all for HT
Setelah sekian lama vakum di Kaskus dan hanya menulis di tempat lain. Akhirnya kami memutuskan kembali. Yap, Ayano dan Elisa kembali akan membagikan kisah kami di Kaskus.
Tadinya, kami tidak berpikir untuk kembali ke Kaskus, tapi ternyata banyak Inbox ke ID ini maupun ke ID Ayanokouji (yang sayangnya sedang bermasalah untuk Login) supaya kami mau kembali melanjutkan cerita di Kaskus ini. Jadi, here we are, we came back.
Post #1 ini akan khusus untuk INDEX. Cerita akan dimulai di Post selanjutnya.
Yang mau baca season 1 nya ada di sini
INDEX
Kisah Pertama - Hantu Pembawa Janin
Kisah Kedua - Mereka Mengawasiku?
Kisah Ketiga - Lily (Bagian Pertama)
Kisah keempat - Lily (bagian kedua)
Kisah Kelima - Penguntit (bagian pertama)
Kisah Keenam - Penguntit (Bagian Kedua)
Kisah Ketujuh - Possession (part 1)
Kisah Kedelapan - Possession (part 2)
Kisah Kesembilan - Mahluk di langit-langit
Kisah Kesepuluh - Susahnya kalau yang ngefans 'mereka'
Kisah Kesebelas - Hantu di gedung tua
Kisah Keduabelas - Ternyata
Kisah Ketigabelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (Bag pertama)
Kisah Keempatbelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (bag kedua)
Kisah Kelimabelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (1)
Kisah Keenambelas - Kisah hantu di sekolah - Sri (2)
Kisah Ketujuhbelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (3)
Kisah Kedelapanbelas - Kisah hantu di sekolah - Belum berakhir
Kisah Kesembilanbelas - Kisah hantu di sekolah - Cerita dari Bi Sumi (1)
Kisah Keduapuluh - Kisah Hantu Disekolah - Cerita dari Bi Sumi (2)
Kisah Keduapuluhsatu - Kisah hantu disekolah - Gangguan Dimulai Lagi
Kisah Keduapuluhdua - Kisah Hantu Disekolah - Terkuak
Kisah KeduapuluhTiga - Kisah Hantu Di Kantor - Prologue
Kisah KeduapuluhEmpat - Kisah Hantu Di Kantor - Putih, Hitam dan Ungu
Kisah KeduapuluhLima - Kisah Hantu di Kantor - Sidestory
Kisah Keduapuluhenam - Kisah hantu di Kantor - Resign
Kisah Keduapuluhtujuh - Kisah Hantu di Kantor - Kembali Bekerja (1)

We come back!!

thanks all for HT
Setelah sekian lama vakum di Kaskus dan hanya menulis di tempat lain. Akhirnya kami memutuskan kembali. Yap, Ayano dan Elisa kembali akan membagikan kisah kami di Kaskus.
Tadinya, kami tidak berpikir untuk kembali ke Kaskus, tapi ternyata banyak Inbox ke ID ini maupun ke ID Ayanokouji (yang sayangnya sedang bermasalah untuk Login) supaya kami mau kembali melanjutkan cerita di Kaskus ini. Jadi, here we are, we came back.
Post #1 ini akan khusus untuk INDEX. Cerita akan dimulai di Post selanjutnya.
Yang mau baca season 1 nya ada di sini
Quote:
INDEX
Kisah Pertama - Hantu Pembawa Janin
Kisah Kedua - Mereka Mengawasiku?
Kisah Ketiga - Lily (Bagian Pertama)
Kisah keempat - Lily (bagian kedua)
Kisah Kelima - Penguntit (bagian pertama)
Kisah Keenam - Penguntit (Bagian Kedua)
Kisah Ketujuh - Possession (part 1)
Kisah Kedelapan - Possession (part 2)
Kisah Kesembilan - Mahluk di langit-langit
Kisah Kesepuluh - Susahnya kalau yang ngefans 'mereka'
Kisah Kesebelas - Hantu di gedung tua
Kisah Keduabelas - Ternyata
Kisah Ketigabelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (Bag pertama)
Kisah Keempatbelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (bag kedua)
Kisah Kelimabelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (1)
Kisah Keenambelas - Kisah hantu di sekolah - Sri (2)
Kisah Ketujuhbelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (3)
Kisah Kedelapanbelas - Kisah hantu di sekolah - Belum berakhir
Kisah Kesembilanbelas - Kisah hantu di sekolah - Cerita dari Bi Sumi (1)
Kisah Keduapuluh - Kisah Hantu Disekolah - Cerita dari Bi Sumi (2)
Kisah Keduapuluhsatu - Kisah hantu disekolah - Gangguan Dimulai Lagi
Kisah Keduapuluhdua - Kisah Hantu Disekolah - Terkuak
Kisah KeduapuluhTiga - Kisah Hantu Di Kantor - Prologue
Kisah KeduapuluhEmpat - Kisah Hantu Di Kantor - Putih, Hitam dan Ungu
Kisah KeduapuluhLima - Kisah Hantu di Kantor - Sidestory
Kisah Keduapuluhenam - Kisah hantu di Kantor - Resign
Kisah Keduapuluhtujuh - Kisah Hantu di Kantor - Kembali Bekerja (1)

Diubah oleh ayanorei 20-10-2017 13:04
scorpiolama dan 15 lainnya memberi reputasi
16
119.7K
Kutip
380
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayanorei
#49
Update lagi nih
Semoga saja threadnya nggak tenggelam ya.
KISAH KETIGA - LILY (BAGIAN PERTAMA)
Kali ini aku akan berbagi cerita pada saat aku dan Ayano sedang berlibur ke luar kota. Bahkan ke luar pulau.
Sebenarnya kedatangan kami kemari karena salah satu teman dekat Ayano semasa kuliah dulu, sudah pindah ke kota ini setelah lulus kuliah. Dan saat ini temannya itu hendak menikah dan dia mengundang Ayano.
Secara otomatis, aku juga mengikuti Ayano sebagai partnernya di pesta itu.
Kami bermaksud berada di kota itu selama tiga hari. Hari pertama, malamnya kami akan menghadiri undangan pesta pernikahan teman Ayano, sedangkan dua hari sisanya, kami akan berlibur.
Tidak ada hal spesial di malam pertama selain kemunculan sosok wanita dengan baju belanda di aula pesta pernikahan teman Ayano yang berbaur dengan para tamu undangan.
Baru di hari kedua, sesuatu yang tidak dapat kami lupakan terjadi.
Ayano mengajakku mengunjungi pantai yang merupakan tempat wisata di pulau itu.
"Wow..." kataku ketika melihat pemandangan pantai yang sangat indah menghampar di depanku.
"Bagus, El?"
"Bagus banget!!"
Ya, katakan aku seperti anak kecil, tapi memang pantai itu sangat indah.
Aku berjalan-jalan di pesisir pantai itu bersama Ayano sambil menikmati pemandangan pantai yang indah itu.
Pada saat itulah sudut mataku menangkap suatu sosok yang sedang berdiri di kejauhan.
Aku menengok dan mendapati seorang sosok gadis, sepertinya berumur sekitar 10 sampai 12 tahun, memiliki rambut panjang berombak yang tertiup angin, dan memakai gaun berwarna putih.
![kaskus-image]()
Gadis itu tampak seakan sedang menatap pantai dari kejauhan.
"Ko..." aku memanggil Ayano dengan menarik lengan bajunya, dan memberikan isyarat padanya untuk melihat ke arah gadis kecil itu.
"Hmm.. koko juga lihat."
"Oh... berarti dia bukan 'mereka' ?"
"Nggak tau juga"
"Aku nggak merasa merinding sih"
"Iya, koko juga nggak merasa apa-apa"
Aku memperhatikan rambut panjang gadis itu berkibar-kibar diterpa angin. Dan aku tidak bisa mengalihkan mataku dari gadis itu seakan terpana melihatnya.
"Kamu kayaknya penasaran? mau coba samperin dia?" tanya Ayano.
Aku mengangguk. "Sepertinya begitu"
Karena itu, aku dan Ayano beranjak dari pesisir pantai dan mulai menaiki tangga batu yang membawa kami ke taman yang cukup luas, terawat dan tidak kalah indahnya dengan pantai.
Sosok gadis bergaun putih itu masih berada di tempatnya semula.
Aku dan Ayano mendekati gadis kecil itu.
"Hai..." panggilku dari jauh.
Gadis itu menengok kami.
Astaga.. wajahnya cantik sekali, walaupun terlihat dari jauh, wajah gadis itu sangat cantik.
Kemudian dia berlari ke semak yang berada di sampingnya.
"Eh? apa kita ngagetin dia?" tanyaku.
Kami mendekati semak-semak itu.
"Loh? dia hilang?" seruku.
"Kakak bisa lihat aku?"
"!!!!!"
Aku dan Ayano benar-benar terkejut ketika mendapati gadis kecil itu sudah berada di belakang kami.
Benar kataku, gadis ini sangat luar biasa cantik. Ternyata setelah dilihat dari dekat, gadis ini bukan keturunan indonesia, wajahnya terlihat seperti campuran orang bule dengan pipi sedikit tembam dan kulit yang berwarna putih pucat. Namun, yang paling luar biasa adalah pupil matanya yang berwarna hijau terang.
Untuk sejenak aku terpana melihat kedua mata berwarna hijau yang jernih dan polos itu
![kaskus-image]()
Tunggu....
Tadi dia bertanya apa?
"Kamu.... " Ayano bergumam dan berjongkok di depan gadis itu.
"Can you two see me? (Kakak berdua bisa melihat aku?)" tanyanya lagi.
Aku terkejut...
Gadis ini bukan manusia? setidaknya bukan yang hidup?
Tapi... wajahnya begitu damai. Dan aku bahkan tidak merasakan ancaman apapun atau pertanda apapun yang biasanya muncul ketika berhadapan dengan 'mereka'.
"Yes, we can see you (Ya, kami bisa lihat kamu)" jawab Ayano lembut.
Gadis itu tersenyum dengan manis.
"What are you doing here? (Sedang apa kamu di sini?)" tanya Ayano lagi.
"I am searching for something (Aku mencari sesuatu)" katanya.
"Searching for something? what is it? (Mencari sesuatu? apa?)" tanyaku.
"Something very important to me (Sesuatu yang penting untukku)" jawab gadis itu lagi.
"Apa yang...." perkataan Ayano terpotong karena ponselnya berbunyi.
"SMS..." kata Ayano ketika melihat layar ponselnya.
Dan pada sesaat itu, perhatianku teralihkan dari gadis itu hanya sedetik. Namun gadis itu sudah tidak berada di tempatnya saat aku menoleh kembali.
"Dimana dia?" tanyaku.
Ayano menggeleng "Mungkin udah pergi"
Kemudian kami pergi dari pantai itu. Selama perjalanan sampai ke hotel tempat kami menginap, aku masih memikirkan soal gadis kecil itu.
Gadis kecil itu siapa... atau lebih tepatnya. Apa?
Aku tidak bisa merasakan apapun darinya, apa mungkin itu berarti gadis itu adalah hantu?
Tapi bagaimana aku dan Ayano bisa melihatnya dengan begitu jelas?
Dan... tadi dia mengatakan dia mencari sesuatu...
Apa mungkin itu yang membuatnya masih gentayangan?
Lalu pertanyaan yang paling membuatku bingung adalah...
Apa yang dilakukan hantu gadis kecil bule di sini? di pulau ini?
Pulau ini bahkan bukan merupakan pulau yang ramai dikunjungi wisatawan asing. Dan kalaupun memang dia adalah gadis kecil anak dari wisatawan asing yang meninggal di pulau ini berarti beritanya akan sangat santer terdengar.
Tapi aku sudah mencoba mencarinya semenjak terhubung dengan wi-fi di kamar kami sampai dengan sore ini dan tidak mendapatkan berita apapun yang berkaitan dengan gadis kecil itu.
"Masih mikirin gadis gaun putih tadi?" tanya Ayano yang baru keluar dari kamar mandi dan sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Hmmm... ya..."
"Dapat beritanya?"
"Nggak... makanya aku bingung"
"Mau coba ke sana lagi besok?"
Aku menggeleng "Nggak tau deh, ko.... biasanya aku nggak mau terlalu tau soal 'mereka'. Aku sudah terlatih untuk tidak terlalu terlibat, berdasarkan pengalamanku...
Tapi...
Kalau bilang aku nggak penasaran... ya aku bohong juga. Aku penasaran banget malah"
Ayano duduk di sebelahku dan mengucek-ucek rambutku. "Ya udah, besok kita ke sana"
Tepat ketika Ayano berkata demikian. Aku mencium bau harum yang lembut, seperti bau taman bunga yang lembut bercampur dengan bau rumput basah di pagi hari.
"Ah!!!" seruku.
Gadis kecil itu sedang duduk dan menggoyang-goyangkan kakinya di atas kursi sambil tersenyum ke arah kami.
"Kayaknya nggak usah nunggu sampai besok, ko" kataku.
Ayano mengangguk "What is it? why do you came here? (Ada apa? kenapa kamu kemari?)" tanya Ayano.
"Lily!" seru gadis kecil itu.
"Lily?"
"My name is Lily (Namaku Lily)"
"(Oh okay... right then, Lily... why'd you came here? (Ohh begitu... baiklah, Lily.. kenapa kamu ke sini?)"
"Can you help me? (Kakak mau bantu aku?)" tanya Lily lagi.
"Help with? (Bantu apa?)"
"Find something.... (Mencari sesuatu...)"
Aku dan Ayano saling berpandangan. Aku mengangguk.
"Okay then, Lily, what are you searching for? (Baiklah, Lily, apa yang mau kamu cari?)" tanyaku.
"(Mommy's necklace) kalung mama"
"Kalung?"
"If I can't find it, Lily can't go home to mommy (kalau tidak ada itu, Lily tidak bisa pulang ke mama)"
Kami berdua kembali berpandangan.
"Okay, let's find it (oke, mari kita cari)" kataku.
Gadis itu tersenyum dan mengangguk. "I'll wait for you (aku akan menunggu kalian)" katanya sambil berbalik dan menghilang di balik sandaran kursi.
"Kamu yakin?" Ayano bertanya kepadaku setelahnya.
Aku mengangguk, "Sangat yakin. Dia... maksudnya Lily sepertinya nggak jahat. Dan aku sih ngerasa kalau kalung itu kuncinya, supaya dia bisa lanjut"
"Apa ini karena mbak M******?" tanya Ayano (wanita ber-dress putih) "Apa kamu pikir... Lily kemungkinan sama nasibnya seperti mbak M****** juga?"
Aku mengangguk menyetujui "Bisa jadi juga begitu... sepertinya..." jawabku tidak yakin.
"Ya udah kalau begitu.. ayo kita pergi." Ajak Ayano.
"Ke mana?"
"Kemungkinan besar di taman tempat kita ketemu Lily pertama kali"
Aku mengangguk paham dan beranjak dari tempat tidur, mengikuti Ayano ke mobil.
Namun, perkiraan kami berdua salah.
Lily tidak menunggu kami di taman itu.
Ketika kami masuk ke mobil, kembali aku mencium aroma segar bunga dan rerumputan.
Lily sudah berada di belakang kami.
"Lily!!" teriakku.
Gadis kecil itu tersenyum.
"There! (Di sana!)" tunjuknya.
Aku dan Ayano mengikuti arah tunjukannya.
Tidak nampak apapun di kejauhan... "What is in there, Lily? (ada apa di sana, Lily?)" tanyaku.
"That is where I think I lost it (Di sana sepertinya aku kehilangan kalung itu)" kata Lily.
"But.... (tapi...)" kataku tidak yakin melihat arah yang ditunjuk Lily.
Perasaanku sedikit tidak enak...
"Ayo kita coba lihat dulu saja" kata Ayano, meletakkan tangannya di atas tanganku.
"Baiklah.." kataku menyetujui.
Dan kami mengendarai mobil sewaan kami menuju arah yang ditunjuk Lily.
Sesekali Lily memberikan petunjuk arah baru ketika kami menemui persimpangan.
Perlahan-lahan, jalanan itu mulai meninggalkan kota.
Rumah-rumah penduduk semakin jarang.
Dan perasaanku makin tidak enak.
Aku mulai berpikir yang tidak-tidak. Apakah mungkin ini jebakan? apa Lily menjebak kami?
Tidak mungkin... aku masih tidak merasakan apapun..
Sampai sekarang..
Aku menengok ke Lily untuk memastikan dia masih duduk di kursi belakang.
Yap.. dia masih ada di sana. Namun, yang membuatku bingung adalah ekspresi wajahnya yang tegang dan sedikit pucat.
Apa yang terjadi?..... pikirku.
"Here... (di sini...)" tiba-tiba Lily membuka suara.
Aku kembali menengok ke depan. Kami sudah tiba di...
Sepertinya ini seperti sebuah tanah lapang yang luas. Pada salah satu sisi, hanya terdapat beberapa rumput yang terlihat sudah meninggi dan tidak terurus. Sedangkan sisi satunya lagi terdapat tanah lapang dengan beberapa monumen batu yang berjejer membentuk jalan setapak.
Aku menengok ke arah Lily yang juga sedang melihatku. Kemudian dia beranjak dan menembus pintu.
Lily berjalan ke arah tanah lapang dengan monumen batu itu. Sebelum berbalik menatapku dan Ayano. Dia menunggu kami.
"Ayo..." kata Ayano.
Ayano mengajakku turun, namun sebelum keluar, dia memintaku mengenakan kalung yang selalu dia pakai "Just in case" katanya sambil tersenyum.
"Umm" aku mengangguk dan mengenakan kalung itu.
Ketika aku membuka pintu mobil, udara dingin yang tidak wajar menghampiriku.
Bulu kudukku meremang dan jantungku berdebar.
Firasatku berubah dari firasat buruk, menjadi firasat sangat buruk...
- Bersambung -
Semoga saja threadnya nggak tenggelam ya.
KISAH KETIGA - LILY (BAGIAN PERTAMA)
Spoiler for Lily (first half):
Kali ini aku akan berbagi cerita pada saat aku dan Ayano sedang berlibur ke luar kota. Bahkan ke luar pulau.
Sebenarnya kedatangan kami kemari karena salah satu teman dekat Ayano semasa kuliah dulu, sudah pindah ke kota ini setelah lulus kuliah. Dan saat ini temannya itu hendak menikah dan dia mengundang Ayano.
Secara otomatis, aku juga mengikuti Ayano sebagai partnernya di pesta itu.
Kami bermaksud berada di kota itu selama tiga hari. Hari pertama, malamnya kami akan menghadiri undangan pesta pernikahan teman Ayano, sedangkan dua hari sisanya, kami akan berlibur.
Tidak ada hal spesial di malam pertama selain kemunculan sosok wanita dengan baju belanda di aula pesta pernikahan teman Ayano yang berbaur dengan para tamu undangan.
Baru di hari kedua, sesuatu yang tidak dapat kami lupakan terjadi.
Ayano mengajakku mengunjungi pantai yang merupakan tempat wisata di pulau itu.
"Wow..." kataku ketika melihat pemandangan pantai yang sangat indah menghampar di depanku.
"Bagus, El?"
"Bagus banget!!"
Ya, katakan aku seperti anak kecil, tapi memang pantai itu sangat indah.
Aku berjalan-jalan di pesisir pantai itu bersama Ayano sambil menikmati pemandangan pantai yang indah itu.
Pada saat itulah sudut mataku menangkap suatu sosok yang sedang berdiri di kejauhan.
Aku menengok dan mendapati seorang sosok gadis, sepertinya berumur sekitar 10 sampai 12 tahun, memiliki rambut panjang berombak yang tertiup angin, dan memakai gaun berwarna putih.
Gadis itu tampak seakan sedang menatap pantai dari kejauhan.
"Ko..." aku memanggil Ayano dengan menarik lengan bajunya, dan memberikan isyarat padanya untuk melihat ke arah gadis kecil itu.
"Hmm.. koko juga lihat."
"Oh... berarti dia bukan 'mereka' ?"
"Nggak tau juga"
"Aku nggak merasa merinding sih"
"Iya, koko juga nggak merasa apa-apa"
Aku memperhatikan rambut panjang gadis itu berkibar-kibar diterpa angin. Dan aku tidak bisa mengalihkan mataku dari gadis itu seakan terpana melihatnya.
"Kamu kayaknya penasaran? mau coba samperin dia?" tanya Ayano.
Aku mengangguk. "Sepertinya begitu"
Karena itu, aku dan Ayano beranjak dari pesisir pantai dan mulai menaiki tangga batu yang membawa kami ke taman yang cukup luas, terawat dan tidak kalah indahnya dengan pantai.
Sosok gadis bergaun putih itu masih berada di tempatnya semula.
Aku dan Ayano mendekati gadis kecil itu.
"Hai..." panggilku dari jauh.
Gadis itu menengok kami.
Astaga.. wajahnya cantik sekali, walaupun terlihat dari jauh, wajah gadis itu sangat cantik.
Kemudian dia berlari ke semak yang berada di sampingnya.
"Eh? apa kita ngagetin dia?" tanyaku.
Kami mendekati semak-semak itu.
"Loh? dia hilang?" seruku.
"Kakak bisa lihat aku?"
"!!!!!"
Aku dan Ayano benar-benar terkejut ketika mendapati gadis kecil itu sudah berada di belakang kami.
Benar kataku, gadis ini sangat luar biasa cantik. Ternyata setelah dilihat dari dekat, gadis ini bukan keturunan indonesia, wajahnya terlihat seperti campuran orang bule dengan pipi sedikit tembam dan kulit yang berwarna putih pucat. Namun, yang paling luar biasa adalah pupil matanya yang berwarna hijau terang.
Untuk sejenak aku terpana melihat kedua mata berwarna hijau yang jernih dan polos itu
Tunggu....
Tadi dia bertanya apa?
"Kamu.... " Ayano bergumam dan berjongkok di depan gadis itu.
"Can you two see me? (Kakak berdua bisa melihat aku?)" tanyanya lagi.
Aku terkejut...
Gadis ini bukan manusia? setidaknya bukan yang hidup?
Tapi... wajahnya begitu damai. Dan aku bahkan tidak merasakan ancaman apapun atau pertanda apapun yang biasanya muncul ketika berhadapan dengan 'mereka'.
"Yes, we can see you (Ya, kami bisa lihat kamu)" jawab Ayano lembut.
Gadis itu tersenyum dengan manis.
"What are you doing here? (Sedang apa kamu di sini?)" tanya Ayano lagi.
"I am searching for something (Aku mencari sesuatu)" katanya.
"Searching for something? what is it? (Mencari sesuatu? apa?)" tanyaku.
"Something very important to me (Sesuatu yang penting untukku)" jawab gadis itu lagi.
"Apa yang...." perkataan Ayano terpotong karena ponselnya berbunyi.
"SMS..." kata Ayano ketika melihat layar ponselnya.
Dan pada sesaat itu, perhatianku teralihkan dari gadis itu hanya sedetik. Namun gadis itu sudah tidak berada di tempatnya saat aku menoleh kembali.
"Dimana dia?" tanyaku.
Ayano menggeleng "Mungkin udah pergi"
Kemudian kami pergi dari pantai itu. Selama perjalanan sampai ke hotel tempat kami menginap, aku masih memikirkan soal gadis kecil itu.
Gadis kecil itu siapa... atau lebih tepatnya. Apa?
Aku tidak bisa merasakan apapun darinya, apa mungkin itu berarti gadis itu adalah hantu?
Tapi bagaimana aku dan Ayano bisa melihatnya dengan begitu jelas?
Dan... tadi dia mengatakan dia mencari sesuatu...
Apa mungkin itu yang membuatnya masih gentayangan?
Lalu pertanyaan yang paling membuatku bingung adalah...
Apa yang dilakukan hantu gadis kecil bule di sini? di pulau ini?
Pulau ini bahkan bukan merupakan pulau yang ramai dikunjungi wisatawan asing. Dan kalaupun memang dia adalah gadis kecil anak dari wisatawan asing yang meninggal di pulau ini berarti beritanya akan sangat santer terdengar.
Tapi aku sudah mencoba mencarinya semenjak terhubung dengan wi-fi di kamar kami sampai dengan sore ini dan tidak mendapatkan berita apapun yang berkaitan dengan gadis kecil itu.
"Masih mikirin gadis gaun putih tadi?" tanya Ayano yang baru keluar dari kamar mandi dan sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Hmmm... ya..."
"Dapat beritanya?"
"Nggak... makanya aku bingung"
"Mau coba ke sana lagi besok?"
Aku menggeleng "Nggak tau deh, ko.... biasanya aku nggak mau terlalu tau soal 'mereka'. Aku sudah terlatih untuk tidak terlalu terlibat, berdasarkan pengalamanku...
Tapi...
Kalau bilang aku nggak penasaran... ya aku bohong juga. Aku penasaran banget malah"
Ayano duduk di sebelahku dan mengucek-ucek rambutku. "Ya udah, besok kita ke sana"
Tepat ketika Ayano berkata demikian. Aku mencium bau harum yang lembut, seperti bau taman bunga yang lembut bercampur dengan bau rumput basah di pagi hari.
"Ah!!!" seruku.
Gadis kecil itu sedang duduk dan menggoyang-goyangkan kakinya di atas kursi sambil tersenyum ke arah kami.
"Kayaknya nggak usah nunggu sampai besok, ko" kataku.
Ayano mengangguk "What is it? why do you came here? (Ada apa? kenapa kamu kemari?)" tanya Ayano.
"Lily!" seru gadis kecil itu.
"Lily?"
"My name is Lily (Namaku Lily)"
"(Oh okay... right then, Lily... why'd you came here? (Ohh begitu... baiklah, Lily.. kenapa kamu ke sini?)"
"Can you help me? (Kakak mau bantu aku?)" tanya Lily lagi.
"Help with? (Bantu apa?)"
"Find something.... (Mencari sesuatu...)"
Aku dan Ayano saling berpandangan. Aku mengangguk.
"Okay then, Lily, what are you searching for? (Baiklah, Lily, apa yang mau kamu cari?)" tanyaku.
"(Mommy's necklace) kalung mama"
"Kalung?"
"If I can't find it, Lily can't go home to mommy (kalau tidak ada itu, Lily tidak bisa pulang ke mama)"
Kami berdua kembali berpandangan.
"Okay, let's find it (oke, mari kita cari)" kataku.
Gadis itu tersenyum dan mengangguk. "I'll wait for you (aku akan menunggu kalian)" katanya sambil berbalik dan menghilang di balik sandaran kursi.
"Kamu yakin?" Ayano bertanya kepadaku setelahnya.
Aku mengangguk, "Sangat yakin. Dia... maksudnya Lily sepertinya nggak jahat. Dan aku sih ngerasa kalau kalung itu kuncinya, supaya dia bisa lanjut"
"Apa ini karena mbak M******?" tanya Ayano (wanita ber-dress putih) "Apa kamu pikir... Lily kemungkinan sama nasibnya seperti mbak M****** juga?"
Aku mengangguk menyetujui "Bisa jadi juga begitu... sepertinya..." jawabku tidak yakin.
"Ya udah kalau begitu.. ayo kita pergi." Ajak Ayano.
"Ke mana?"
"Kemungkinan besar di taman tempat kita ketemu Lily pertama kali"
Aku mengangguk paham dan beranjak dari tempat tidur, mengikuti Ayano ke mobil.
Namun, perkiraan kami berdua salah.
Lily tidak menunggu kami di taman itu.
Ketika kami masuk ke mobil, kembali aku mencium aroma segar bunga dan rerumputan.
Lily sudah berada di belakang kami.
"Lily!!" teriakku.
Gadis kecil itu tersenyum.
"There! (Di sana!)" tunjuknya.
Aku dan Ayano mengikuti arah tunjukannya.
Tidak nampak apapun di kejauhan... "What is in there, Lily? (ada apa di sana, Lily?)" tanyaku.
"That is where I think I lost it (Di sana sepertinya aku kehilangan kalung itu)" kata Lily.
"But.... (tapi...)" kataku tidak yakin melihat arah yang ditunjuk Lily.
Perasaanku sedikit tidak enak...
"Ayo kita coba lihat dulu saja" kata Ayano, meletakkan tangannya di atas tanganku.
"Baiklah.." kataku menyetujui.
Dan kami mengendarai mobil sewaan kami menuju arah yang ditunjuk Lily.
Sesekali Lily memberikan petunjuk arah baru ketika kami menemui persimpangan.
Perlahan-lahan, jalanan itu mulai meninggalkan kota.
Rumah-rumah penduduk semakin jarang.
Dan perasaanku makin tidak enak.
Aku mulai berpikir yang tidak-tidak. Apakah mungkin ini jebakan? apa Lily menjebak kami?
Tidak mungkin... aku masih tidak merasakan apapun..
Sampai sekarang..
Aku menengok ke Lily untuk memastikan dia masih duduk di kursi belakang.
Yap.. dia masih ada di sana. Namun, yang membuatku bingung adalah ekspresi wajahnya yang tegang dan sedikit pucat.
Apa yang terjadi?..... pikirku.
"Here... (di sini...)" tiba-tiba Lily membuka suara.
Aku kembali menengok ke depan. Kami sudah tiba di...
Sepertinya ini seperti sebuah tanah lapang yang luas. Pada salah satu sisi, hanya terdapat beberapa rumput yang terlihat sudah meninggi dan tidak terurus. Sedangkan sisi satunya lagi terdapat tanah lapang dengan beberapa monumen batu yang berjejer membentuk jalan setapak.
Aku menengok ke arah Lily yang juga sedang melihatku. Kemudian dia beranjak dan menembus pintu.
Lily berjalan ke arah tanah lapang dengan monumen batu itu. Sebelum berbalik menatapku dan Ayano. Dia menunggu kami.
"Ayo..." kata Ayano.
Ayano mengajakku turun, namun sebelum keluar, dia memintaku mengenakan kalung yang selalu dia pakai "Just in case" katanya sambil tersenyum.
"Umm" aku mengangguk dan mengenakan kalung itu.
Ketika aku membuka pintu mobil, udara dingin yang tidak wajar menghampiriku.
Bulu kudukku meremang dan jantungku berdebar.
Firasatku berubah dari firasat buruk, menjadi firasat sangat buruk...
- Bersambung -
0
Kutip
Balas