- Beranda
- Stories from the Heart
(HORROR) Kisah Untuk Malam Seratus Lilin - (Diary Gadis Bermata Indigo return)
...
TS
ayanorei
(HORROR) Kisah Untuk Malam Seratus Lilin - (Diary Gadis Bermata Indigo return)
Hallo All,
We come back!!

thanks all for HT
Setelah sekian lama vakum di Kaskus dan hanya menulis di tempat lain. Akhirnya kami memutuskan kembali. Yap, Ayano dan Elisa kembali akan membagikan kisah kami di Kaskus.
Tadinya, kami tidak berpikir untuk kembali ke Kaskus, tapi ternyata banyak Inbox ke ID ini maupun ke ID Ayanokouji (yang sayangnya sedang bermasalah untuk Login) supaya kami mau kembali melanjutkan cerita di Kaskus ini. Jadi, here we are, we came back.
Post #1 ini akan khusus untuk INDEX. Cerita akan dimulai di Post selanjutnya.
Yang mau baca season 1 nya ada di sini
INDEX
Kisah Pertama - Hantu Pembawa Janin
Kisah Kedua - Mereka Mengawasiku?
Kisah Ketiga - Lily (Bagian Pertama)
Kisah keempat - Lily (bagian kedua)
Kisah Kelima - Penguntit (bagian pertama)
Kisah Keenam - Penguntit (Bagian Kedua)
Kisah Ketujuh - Possession (part 1)
Kisah Kedelapan - Possession (part 2)
Kisah Kesembilan - Mahluk di langit-langit
Kisah Kesepuluh - Susahnya kalau yang ngefans 'mereka'
Kisah Kesebelas - Hantu di gedung tua
Kisah Keduabelas - Ternyata
Kisah Ketigabelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (Bag pertama)
Kisah Keempatbelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (bag kedua)
Kisah Kelimabelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (1)
Kisah Keenambelas - Kisah hantu di sekolah - Sri (2)
Kisah Ketujuhbelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (3)
Kisah Kedelapanbelas - Kisah hantu di sekolah - Belum berakhir
Kisah Kesembilanbelas - Kisah hantu di sekolah - Cerita dari Bi Sumi (1)
Kisah Keduapuluh - Kisah Hantu Disekolah - Cerita dari Bi Sumi (2)
Kisah Keduapuluhsatu - Kisah hantu disekolah - Gangguan Dimulai Lagi
Kisah Keduapuluhdua - Kisah Hantu Disekolah - Terkuak
Kisah KeduapuluhTiga - Kisah Hantu Di Kantor - Prologue
Kisah KeduapuluhEmpat - Kisah Hantu Di Kantor - Putih, Hitam dan Ungu
Kisah KeduapuluhLima - Kisah Hantu di Kantor - Sidestory
Kisah Keduapuluhenam - Kisah hantu di Kantor - Resign
Kisah Keduapuluhtujuh - Kisah Hantu di Kantor - Kembali Bekerja (1)

We come back!!

thanks all for HT
Setelah sekian lama vakum di Kaskus dan hanya menulis di tempat lain. Akhirnya kami memutuskan kembali. Yap, Ayano dan Elisa kembali akan membagikan kisah kami di Kaskus.
Tadinya, kami tidak berpikir untuk kembali ke Kaskus, tapi ternyata banyak Inbox ke ID ini maupun ke ID Ayanokouji (yang sayangnya sedang bermasalah untuk Login) supaya kami mau kembali melanjutkan cerita di Kaskus ini. Jadi, here we are, we came back.
Post #1 ini akan khusus untuk INDEX. Cerita akan dimulai di Post selanjutnya.
Yang mau baca season 1 nya ada di sini
Quote:
INDEX
Kisah Pertama - Hantu Pembawa Janin
Kisah Kedua - Mereka Mengawasiku?
Kisah Ketiga - Lily (Bagian Pertama)
Kisah keempat - Lily (bagian kedua)
Kisah Kelima - Penguntit (bagian pertama)
Kisah Keenam - Penguntit (Bagian Kedua)
Kisah Ketujuh - Possession (part 1)
Kisah Kedelapan - Possession (part 2)
Kisah Kesembilan - Mahluk di langit-langit
Kisah Kesepuluh - Susahnya kalau yang ngefans 'mereka'
Kisah Kesebelas - Hantu di gedung tua
Kisah Keduabelas - Ternyata
Kisah Ketigabelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (Bag pertama)
Kisah Keempatbelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (bag kedua)
Kisah Kelimabelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (1)
Kisah Keenambelas - Kisah hantu di sekolah - Sri (2)
Kisah Ketujuhbelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (3)
Kisah Kedelapanbelas - Kisah hantu di sekolah - Belum berakhir
Kisah Kesembilanbelas - Kisah hantu di sekolah - Cerita dari Bi Sumi (1)
Kisah Keduapuluh - Kisah Hantu Disekolah - Cerita dari Bi Sumi (2)
Kisah Keduapuluhsatu - Kisah hantu disekolah - Gangguan Dimulai Lagi
Kisah Keduapuluhdua - Kisah Hantu Disekolah - Terkuak
Kisah KeduapuluhTiga - Kisah Hantu Di Kantor - Prologue
Kisah KeduapuluhEmpat - Kisah Hantu Di Kantor - Putih, Hitam dan Ungu
Kisah KeduapuluhLima - Kisah Hantu di Kantor - Sidestory
Kisah Keduapuluhenam - Kisah hantu di Kantor - Resign
Kisah Keduapuluhtujuh - Kisah Hantu di Kantor - Kembali Bekerja (1)

Diubah oleh ayanorei 20-10-2017 13:04
scorpiolama dan 15 lainnya memberi reputasi
16
119.7K
Kutip
380
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayanorei
#1
KISAH PERTAMA - HANTU PEMBAWA JANIN
Waktu itu kalau tidak salah sekitar jam setengah tujuh lewat. Aku tidak melihat jelas jam.
Jalanan agak sedikit tersendat, seperti biasanya di jalan-jalan utama Jakarta.
Karena bosan dengan kemacetan, aku melihat ke arah luar, ke arah pepohonan yang rimbun di sisi jalan.
Penghijauan kota. Pikirku.
Aku sedang bengong menatapi barisan pohon yang gelap itu tanpa berpikir macam-macam ketika aku melihat sesosok, seperti ibu-ibu berkerudung yang berjalan terbungkuk-bungkuk.
Ibu itu mengenakan baju seluruhnya berwarna putih. Aku tertarik untuk melihat sosok ibu-ibu itu ketika kulihat sepertinya sosok ibu itu membawa sesuatu di gendongannya.
Aku tidak dapat melihat jelas apa yang sedang digendongnya dari jauh karena gelap. Tapi yang jelas, ibu-ibu itu membungkusnya dengan kain berwarna merah.
Pandanganku masih belum teralihkan dari sosok ibu-ibu itu ketika secara tiba-tiba, sosok ibu itu menengok ke arahku.
Aku terkejut bukan kepalang karena mata dari ibu itu menyala terang seakan memantulkan cahaya seperti mata kucing.
"Ah!!" teriakku kaget dan mengalihkan pandanganku dari sosok itu.
"Kenapa?" tanya Ayano (nama samaran), pacarku yang sedang menyetir mobil di sampingku.
"Enggak..."
"Ngelihat 'mereka' lagi?" tanya Ayano.
Aku mengangguk. Pacarku memang sudah mengetahui 'rahasia'ku, yaitu bisa melihat 'mereka' bahkan sebelum kami mulai berpacaran.
"Jangan terlalu diperhatikan..." Ayano menyarankan.
"Iya..."
Aku berusaha dengan keras untuk melupakan sosok ibu-ibu yang kulihat barusan.
Namun, apa daya... rasa penasaran mengalahkan logikaku.
Ketika mobil berhenti karena kemacetan yang sangat parah. Aku menengok kembali ke arah sosok ibu-ibu tadi berada.
"AAAHHHHH!!!!"
Tepat di jendela mobil di sisiku, menempel muka keriput dengan seluruh kulitnya yang terlihat berwarna abu-abu seperti lumpur yang kotor dan terlihat mulai membusuk, dengan kedua bola mata berwarna hitam di tempat seharusnya warna putih berada, dan warna merah pada manik matanya.
Nenek itu menempelkan jari-jari keriputnya yang berwarna sama seperti warna wajahnya.
Tapi bagian yang paling mengerikan bukanlah penampilan dari nenek itu sendiri.
Melainkan benda yang dibawanya.
Aku melihat benda itu seperti onggokan daging berwarna merah. Benda itu berdenyut-denyut seperti hidup.
Kain yang tadinya kukira memang berwarna merah ternyata adalah kain putih yang ternoda warna merah karena darah yang mengalir dari benda berdenyut itu. Darah itu membuat seluruh kain yang membungkusnya berubah warna jadi semerah darah, ditambah dengan tetesan-tetesan darah yang menetes dan mengotori baju putih nenek itu dengan warna merah.
"Uhhhh!!!" aku menutup mulutku karena mual.
Kemudian nenek itu membuka dengan sangat perlahan benda yang terbungkus itu..
Aku melihatnya dengan ngeri, ketika perlahan-lahan beberapa bentuk kecil terlihat di benda berdetak itu.
Bentuk-bentuk kecil itu terlihat bergoyang-goyang seperti empat tetankel kecil yang bergoyang-goyang.
Dan kemudian jantungku terasa berhenti bersamaan dengan membekunya darah di wajahku.
Sebuah mata kecil berkedip di onggokan daging itu, dan menatap tepat ke arahku.
Aku sangat ketakutan sampai-sampai suaraku terasa bagaikan tercekat di tenggorokanku. Dan kemudian aku melihat sesuatu yang dari tadi luput dari perhatianku.
Sosok berdenyut itu memiliki sesuatu seperti tali merah bersimbah darah yang menghubungkannya dengan...
Perut sosok nenek itu...
Ketika itulah sosok berdenyut itu menjadi masuk akal bagiku.
Sosok itu adalah janin.
Bentuk janin yang bersimbah darah dan masih belum terbentuk dengan jelas. Dan tali merah itu? aku sangat yakin tali itu adalah tali dari ari-ari sosok janin itu yang terhubung ke ibunya, dengan kata lain, ibunya adalah sosok nenek-nenek itu.
"AAAAAAAAAAAHHHHHHH!!!!!" aku tidak bisa menghentikan teriakan ketakutan yang rasanya keluar dari rongga dadaku.
"El!! El!! Hei!! kamu kenapa?" tanya Ayano sambil menggoncang-goncangkan tubuhku.
Sambil sesenggukan aku menunjuk ke arah jendela mobil dan berkata dengan takut "Itu... itu...." kataku tanpa bisa mengatakan dengan jelas sosok yang baru saja kulihat.
"Kenapa, El? ada apa? kamu lihat apa?" tanya Ayano panik.
"Ibu-ibu... ibu-ibu bawa janin.. darah.... penuh darah...." kataku meracau tidak karuan.
"Dimana?"
Aku menunjuk jendela lagi.
"Nggak ada El..." bisik Ayano.
Aku merasa heran, akhir-akhir ini Ayano bisa melihat walaupun masih samar-samar sosok dari 'mereka'.
Karena itu aku memberanikan untuk mengintip ke arah jendela.
Dan tidak menemukan sosok tersebut di jendela....
"Apa.....?" kataku bingung.
"Sosok itu hilang...." gumamku keheranan.
"Ya udah, tenang ya... mungkin sosok itu udah pergi" kata Ayano sambil mengelus rambutku.
Tak lama kemudian mobil kembali berjalan walaupun dengan perlahan.
Sampai beberapa menit kemudian, akhirnya kami bisa keluar dari kemacetan dan melanjutkan perjalanan dengan sedikit lebih lancar.
Ayano mengambil jalan tol untuk menghindari kemacetan lebih parah lagi.
Aku baru saja melupakan sosok yang kulihat tadi ketika aku melihat suatu sosok yang berada di pinggir jalan, jauh di depan jalur yang kami lalui.
Ketika mobil kami mendekat dengan kecepatan yang lumayan, tiba-tiba sosok itu bergerak.
Darahku kembali berhenti dan waktu terasa melambat ketika detik-detik di mana sosok itu tersorot oleh lampu mobil kami.
Dan aku kembali melihat sosok ibu yang sedang menggendong janin yang dibalut dengan kain berdarah itu sedang berdiri di depan mobil kami.
Dalam ketakutanku, aku sempat mendengar bisikan kecil terlepas dari mulut Ayano "What.....?"
Detik berikutnya yang terjadi adalah, kami mendengar bunyi sangat kencang ketika mobil kami menabrak sosok nenek itu dengan sangat kencang.
Bunyi keretak tulang dan tubuh yang terhempas dari atas kap mobil kami terlihat dengan jelas, ditambah dengan darah yang seakan tersiram ke kaca depan mobil kami.
'CIIIIIIIITTT!!!'
Ayano menekan rem sekuat-kuatnya hingga mobil kami berhenti sempurna.
Dengan cepat Ayano membuka sabuk pengamannya dan segera keluar dari mobil.
Aku melakukan hal yang sama...
Ketika aku menghampiri Ayano, aku melihatnya berdiri kebingungan di tengah jalan.
Ayano menengok ketika aku sudah berada di belakangnya "Ko?" tanyaku.
"Nggak ada apa-apa..." kata Ayano sambil membentangkan tangannya ke jalanan kosong di depan kami.
"Nggak ada mayat, nggak ada darah.... nothing..." kata Ayano lagi.
Ya... jalanan yang berada di depan kami itu terlihat sangat lowong dan tidak nampak ada apapun yang aneh tergeletak di sana.
Jangankan mayat, bahkan batu kerikilpun tidak ada di atasnya. Hanya jalanan tol yang mulus.
Dengan kebingungan, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke mobil.
"Setidaknya pasti ada bekas darah di kaca depan" kata Ayano sambil terburu-buru berjalan ke sisi depan mobil.
Tapi tidak sesuai dengan perkiraan Ayano, kaca itu bersih. Tanpa ada bekas sama sekali.
"Tidak mungkin...." gumam Ayano.
Ayano memeriksa beberapa bagian mobilnya, ban, bagian bawah pintu, kap mobil... tidak ada satupun bercak darah atau bekas penyok terkena hantaman. Semuanya baik-baik saja.
Setelah pencarian percuma, akhirnya Ayano berkata supaya aku masuk dan agar kami bisa melanjutkan perjalanan kami.
Sebelum aku masuk kembali ke dalam mobil, secara tidak sengaja aku melihat ke arah jalan di mana lampu mobil menyorot.
"Ko!!" teriakku memanggil Ayano.
Ayano yang mendengar teriakanku langsung lari keluar mobil.
"Ada apa? kamu ketemu sosok itu?" tanyanya panik.
Aku menggeleng dan menunjuk ke jalan yang disinari oleh lampu itu.
"Kalau kita nggak berhenti.... mungkin kita bakal mati karena itu..." kataku pada Ayano sambil menunjuk tempat yang kumaksud dengan begidik ngeri.
Beberapa meter di depan kami, jalanan tol yang tadinya mulus itu mengalami keretakan yang sangat parah.
Hingga beberapa bagian jalannya mencuat tajam ke atas.
Andaikan mobil kami melintas tanpa berhenti tadi, sudah pasti kami akan menghantam keretakan yang mencuat itu dan akan membuat mobil kami kecelakaan.
Aku dan Ayano memandang keretakan jalan itu dengan kengerian.
Ayano kemudian menelepon pihak jalan tol dan menginformasikan adanya kerusakan tersebut.
Kurang lebih 15 menit kemudian, pihak patroli jalan tol datang dan segera meletakkan rambu peringatan di sisi jalan rusak itu sehingga tidak ada pengendara malang yang terkena.
Setelah dihujani ucapan terima kasih dari petugas tol itu, kami melanjutkan perjalanan kami.
Di tengah-tengah jalan, aku merasakan hawa dingin di belakangku.
"Matur suwun....." bisik sebuah suara berkata dari belakangku.
Dengan cepat aku menengok ke belakang dan melihat sosok ibu-ibu dengan wajah ramah yang nampak sedang hamil karena perutnya yang membesar. Sosok itu hanya bertahan beberapa detik sebelum akhirnya menghilang dengan senyuman ramah dari sosok itu kepadaku.
Sampai sekarangpun, aku masih bertanya-tanya...
Sebenarnya sosok apakah hantu ibu-ibu itu? dan mengapa sosok hantu ibu-ibu itu menyelamatkan kami dari kemungkinan kecelakaan yang bisa saja merenggut nyawa kami?
![kaskus-image]()
Spoiler for KISAH PERTAMA:
Waktu itu kalau tidak salah sekitar jam setengah tujuh lewat. Aku tidak melihat jelas jam.
Jalanan agak sedikit tersendat, seperti biasanya di jalan-jalan utama Jakarta.
Karena bosan dengan kemacetan, aku melihat ke arah luar, ke arah pepohonan yang rimbun di sisi jalan.
Penghijauan kota. Pikirku.
Aku sedang bengong menatapi barisan pohon yang gelap itu tanpa berpikir macam-macam ketika aku melihat sesosok, seperti ibu-ibu berkerudung yang berjalan terbungkuk-bungkuk.
Ibu itu mengenakan baju seluruhnya berwarna putih. Aku tertarik untuk melihat sosok ibu-ibu itu ketika kulihat sepertinya sosok ibu itu membawa sesuatu di gendongannya.
Aku tidak dapat melihat jelas apa yang sedang digendongnya dari jauh karena gelap. Tapi yang jelas, ibu-ibu itu membungkusnya dengan kain berwarna merah.
Pandanganku masih belum teralihkan dari sosok ibu-ibu itu ketika secara tiba-tiba, sosok ibu itu menengok ke arahku.
Aku terkejut bukan kepalang karena mata dari ibu itu menyala terang seakan memantulkan cahaya seperti mata kucing.
"Ah!!" teriakku kaget dan mengalihkan pandanganku dari sosok itu.
"Kenapa?" tanya Ayano (nama samaran), pacarku yang sedang menyetir mobil di sampingku.
"Enggak..."
"Ngelihat 'mereka' lagi?" tanya Ayano.
Aku mengangguk. Pacarku memang sudah mengetahui 'rahasia'ku, yaitu bisa melihat 'mereka' bahkan sebelum kami mulai berpacaran.
"Jangan terlalu diperhatikan..." Ayano menyarankan.
"Iya..."
Aku berusaha dengan keras untuk melupakan sosok ibu-ibu yang kulihat barusan.
Namun, apa daya... rasa penasaran mengalahkan logikaku.
Ketika mobil berhenti karena kemacetan yang sangat parah. Aku menengok kembali ke arah sosok ibu-ibu tadi berada.
"AAAHHHHH!!!!"
Tepat di jendela mobil di sisiku, menempel muka keriput dengan seluruh kulitnya yang terlihat berwarna abu-abu seperti lumpur yang kotor dan terlihat mulai membusuk, dengan kedua bola mata berwarna hitam di tempat seharusnya warna putih berada, dan warna merah pada manik matanya.
Nenek itu menempelkan jari-jari keriputnya yang berwarna sama seperti warna wajahnya.
Tapi bagian yang paling mengerikan bukanlah penampilan dari nenek itu sendiri.
Melainkan benda yang dibawanya.
Aku melihat benda itu seperti onggokan daging berwarna merah. Benda itu berdenyut-denyut seperti hidup.
Kain yang tadinya kukira memang berwarna merah ternyata adalah kain putih yang ternoda warna merah karena darah yang mengalir dari benda berdenyut itu. Darah itu membuat seluruh kain yang membungkusnya berubah warna jadi semerah darah, ditambah dengan tetesan-tetesan darah yang menetes dan mengotori baju putih nenek itu dengan warna merah.
"Uhhhh!!!" aku menutup mulutku karena mual.
Kemudian nenek itu membuka dengan sangat perlahan benda yang terbungkus itu..
Aku melihatnya dengan ngeri, ketika perlahan-lahan beberapa bentuk kecil terlihat di benda berdetak itu.
Bentuk-bentuk kecil itu terlihat bergoyang-goyang seperti empat tetankel kecil yang bergoyang-goyang.
Dan kemudian jantungku terasa berhenti bersamaan dengan membekunya darah di wajahku.
Sebuah mata kecil berkedip di onggokan daging itu, dan menatap tepat ke arahku.
Aku sangat ketakutan sampai-sampai suaraku terasa bagaikan tercekat di tenggorokanku. Dan kemudian aku melihat sesuatu yang dari tadi luput dari perhatianku.
Sosok berdenyut itu memiliki sesuatu seperti tali merah bersimbah darah yang menghubungkannya dengan...
Perut sosok nenek itu...
Ketika itulah sosok berdenyut itu menjadi masuk akal bagiku.
Sosok itu adalah janin.
Bentuk janin yang bersimbah darah dan masih belum terbentuk dengan jelas. Dan tali merah itu? aku sangat yakin tali itu adalah tali dari ari-ari sosok janin itu yang terhubung ke ibunya, dengan kata lain, ibunya adalah sosok nenek-nenek itu.
"AAAAAAAAAAAHHHHHHH!!!!!" aku tidak bisa menghentikan teriakan ketakutan yang rasanya keluar dari rongga dadaku.
"El!! El!! Hei!! kamu kenapa?" tanya Ayano sambil menggoncang-goncangkan tubuhku.
Sambil sesenggukan aku menunjuk ke arah jendela mobil dan berkata dengan takut "Itu... itu...." kataku tanpa bisa mengatakan dengan jelas sosok yang baru saja kulihat.
"Kenapa, El? ada apa? kamu lihat apa?" tanya Ayano panik.
"Ibu-ibu... ibu-ibu bawa janin.. darah.... penuh darah...." kataku meracau tidak karuan.
"Dimana?"
Aku menunjuk jendela lagi.
"Nggak ada El..." bisik Ayano.
Aku merasa heran, akhir-akhir ini Ayano bisa melihat walaupun masih samar-samar sosok dari 'mereka'.
Karena itu aku memberanikan untuk mengintip ke arah jendela.
Dan tidak menemukan sosok tersebut di jendela....
"Apa.....?" kataku bingung.
"Sosok itu hilang...." gumamku keheranan.
"Ya udah, tenang ya... mungkin sosok itu udah pergi" kata Ayano sambil mengelus rambutku.
Tak lama kemudian mobil kembali berjalan walaupun dengan perlahan.
Sampai beberapa menit kemudian, akhirnya kami bisa keluar dari kemacetan dan melanjutkan perjalanan dengan sedikit lebih lancar.
Ayano mengambil jalan tol untuk menghindari kemacetan lebih parah lagi.
Aku baru saja melupakan sosok yang kulihat tadi ketika aku melihat suatu sosok yang berada di pinggir jalan, jauh di depan jalur yang kami lalui.
Ketika mobil kami mendekat dengan kecepatan yang lumayan, tiba-tiba sosok itu bergerak.
Darahku kembali berhenti dan waktu terasa melambat ketika detik-detik di mana sosok itu tersorot oleh lampu mobil kami.
Dan aku kembali melihat sosok ibu yang sedang menggendong janin yang dibalut dengan kain berdarah itu sedang berdiri di depan mobil kami.
Dalam ketakutanku, aku sempat mendengar bisikan kecil terlepas dari mulut Ayano "What.....?"
Detik berikutnya yang terjadi adalah, kami mendengar bunyi sangat kencang ketika mobil kami menabrak sosok nenek itu dengan sangat kencang.
Bunyi keretak tulang dan tubuh yang terhempas dari atas kap mobil kami terlihat dengan jelas, ditambah dengan darah yang seakan tersiram ke kaca depan mobil kami.
'CIIIIIIIITTT!!!'
Ayano menekan rem sekuat-kuatnya hingga mobil kami berhenti sempurna.
Dengan cepat Ayano membuka sabuk pengamannya dan segera keluar dari mobil.
Aku melakukan hal yang sama...
Ketika aku menghampiri Ayano, aku melihatnya berdiri kebingungan di tengah jalan.
Ayano menengok ketika aku sudah berada di belakangnya "Ko?" tanyaku.
"Nggak ada apa-apa..." kata Ayano sambil membentangkan tangannya ke jalanan kosong di depan kami.
"Nggak ada mayat, nggak ada darah.... nothing..." kata Ayano lagi.
Ya... jalanan yang berada di depan kami itu terlihat sangat lowong dan tidak nampak ada apapun yang aneh tergeletak di sana.
Jangankan mayat, bahkan batu kerikilpun tidak ada di atasnya. Hanya jalanan tol yang mulus.
Dengan kebingungan, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke mobil.
"Setidaknya pasti ada bekas darah di kaca depan" kata Ayano sambil terburu-buru berjalan ke sisi depan mobil.
Tapi tidak sesuai dengan perkiraan Ayano, kaca itu bersih. Tanpa ada bekas sama sekali.
"Tidak mungkin...." gumam Ayano.
Ayano memeriksa beberapa bagian mobilnya, ban, bagian bawah pintu, kap mobil... tidak ada satupun bercak darah atau bekas penyok terkena hantaman. Semuanya baik-baik saja.
Setelah pencarian percuma, akhirnya Ayano berkata supaya aku masuk dan agar kami bisa melanjutkan perjalanan kami.
Sebelum aku masuk kembali ke dalam mobil, secara tidak sengaja aku melihat ke arah jalan di mana lampu mobil menyorot.
"Ko!!" teriakku memanggil Ayano.
Ayano yang mendengar teriakanku langsung lari keluar mobil.
"Ada apa? kamu ketemu sosok itu?" tanyanya panik.
Aku menggeleng dan menunjuk ke jalan yang disinari oleh lampu itu.
"Kalau kita nggak berhenti.... mungkin kita bakal mati karena itu..." kataku pada Ayano sambil menunjuk tempat yang kumaksud dengan begidik ngeri.
Beberapa meter di depan kami, jalanan tol yang tadinya mulus itu mengalami keretakan yang sangat parah.
Hingga beberapa bagian jalannya mencuat tajam ke atas.
Andaikan mobil kami melintas tanpa berhenti tadi, sudah pasti kami akan menghantam keretakan yang mencuat itu dan akan membuat mobil kami kecelakaan.
Aku dan Ayano memandang keretakan jalan itu dengan kengerian.
Ayano kemudian menelepon pihak jalan tol dan menginformasikan adanya kerusakan tersebut.
Kurang lebih 15 menit kemudian, pihak patroli jalan tol datang dan segera meletakkan rambu peringatan di sisi jalan rusak itu sehingga tidak ada pengendara malang yang terkena.
Setelah dihujani ucapan terima kasih dari petugas tol itu, kami melanjutkan perjalanan kami.
Di tengah-tengah jalan, aku merasakan hawa dingin di belakangku.
"Matur suwun....." bisik sebuah suara berkata dari belakangku.
Dengan cepat aku menengok ke belakang dan melihat sosok ibu-ibu dengan wajah ramah yang nampak sedang hamil karena perutnya yang membesar. Sosok itu hanya bertahan beberapa detik sebelum akhirnya menghilang dengan senyuman ramah dari sosok itu kepadaku.
Sampai sekarangpun, aku masih bertanya-tanya...
Sebenarnya sosok apakah hantu ibu-ibu itu? dan mengapa sosok hantu ibu-ibu itu menyelamatkan kami dari kemungkinan kecelakaan yang bisa saja merenggut nyawa kami?
g3nk_24 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Kutip
Balas