- Beranda
- Stories from the Heart
Love (After) Magnitude [TAMAT]
...
TS
fadw.crtv
Love (After) Magnitude [TAMAT]
Quote:
PERINGATAN!
Cerita ini bisa membuat anda baper, ngg bisa tidur, teringat mantan dan gangguan hubungan lainnya.
Cerita ini bisa membuat anda baper, ngg bisa tidur, teringat mantan dan gangguan hubungan lainnya.
Selamat datang di cerita ane yang ke-4. :welcome
Cerita ini adalah cerita lanjutan dari Love Magnitudeyang sudah tamat dan sudah di gembok.
Kenapa buat baru gan? karena cerita di sini akan menceritakan kejadian setelah apa yang terjadi di Love Magnitude.
Jadi harus baca cerita itu dong? ya kalau agan ingin ngerti betul cerita selanjutnya memang wajib baca cerita sebelumnya, karena pasti akan ada keterikatan.

Ucapan dari saya, Selamat menikmati kelanjutan ceritanya. :terimakasih
Quote:
Quote:
Ane menerima segala bentuk komentar dan kritik yang membangun, cendol juga ane terima. 

Diubah oleh fadw.crtv 29-05-2017 20:16
santet72 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
27.4K
Kutip
114
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
fadw.crtv
#89
Part 13
Quote:
Ya, memang yang datang adalah Surti, tapi aku tidak tahu kenapa dia datang ke sini. Aku pun menghampirinya yang sedang duduk di kursi luar.
“Eh, ada apa, Ti?” Tanyaku.
“Mas, boleh minta anterin ke kota enggak?” Tanyanya.
“Boleh, tumben minta anter.” Ucapku.
“Mas, koq gitu amat sih bilangnya.” Ucapnya, “Itu tukang ojeg di pangkalan pada ngg ada, Mas, kalau Mas ngg mau ngg apa-apa Mas.” Jelasnya.
“Oh, yaudah bentar, Mas pake jaket dulu.” Aku lalu menuju ke kamarku untuk memakai jaket.
Aku sejenak mengirim pesan ke Mita untuk mengabarinya bahwa aku akan pergi ke kota dan tidak bisa mengabarinya karena aku tidak membawa ponsel.
Selepas itu aku langsung ke belakang untuk mengeluarkan motorku. Aku menuntunnya ke depan karena aku tidak biasa menyalakan motor di belakang sini.
Saat aku sampai depan, aku melihat mamaku sedang mengobrol dengan Surti. Aku lalu mencoba menyalakan motorku, tapi motorku sulit untuk menyala, mungkin karena sudah dua minggu tidak aku nyalakan.
Saat motorku menyala, terlihat Surti seperti berpamitan ke mamaku dan segera mendatangiku.
“Sudah, Mas?” Tanyanya.
“Naik aja dulu, lagi manasin dulu mesinnya.” Ucapku.
Dia lalu duduk menyamping karena menggunakan kain sampingyang dia lilitkan ke tubuhnya, memang di sini hal tersebut sudah biasa dan mereka masih menggunakannya tanpa malu-malu walau mereka pergi ke kota.
Saat aku akan berpamitan, mamaku sudah masuk ke dalam rumah dan aku langsung menjalankan motorku.
Tak lama aku sudah keluar dari desaku, dan saat itu juga Surti memeluk tubuhku dengan erat. Aku benar-benar kaget dan bertanya dalam hatiku, “Apakah dia cinta sama aku?”.
Sambil mengendarai motorku, aku terus berfikir dan melawan perasaan, “Kamu koq kemarin pas aku pulang ngg keliatan sih, Ti, tahu gitu Mas ngg nerima Mita jadi pacar Mas.” Ucapku dalam hati.
Dua puluh menit kami sudah memasuki kota, dan aku tidak tahu akan kemana.
“Mau kemana, Ti?” Tanyaku sambil sedikit berteriak.
“Ke pasar aja, Mas.” Jawabnya dan aku lalu mengendarai motorku.
“Mau makan dulu ngg?, Mas laper nih.” Ucapku.
“Yaudah enggak apa-apa, Mas.” Jawabnya.
“Kamu sih ke pasar siang gini.” Ucapku tak dibalas olehnya.
Aku lalu menuju sebuah tempat makan, sebuah rumah makan yang berada dekat dengan pasar, kami pun turun dari motor setelah aku memarkirkannya. Kami memesan makanan di sana dan duduk di salah satu meja.
Aku teringat akan kejadian itu, aku pun khawatir jika Mita tiba-tiba berada di belakangku dan melakukan hal seperti dulu.
“Tadi Mamaku tanya apa aja, Ti?” Tanyaku membuka obrolan.
“Cuma nanya kapan ketemu sama Mas, terus kaya diledek gitu Mas.” Jawabnya.
“Diledek gimana?” Tanyaku.
“Pacar kamu ya, pacar baru ya.” Ucapnya sambil menirukan gaya Mamaku berbicara.
Aku hanya bisa tertawa mendengar perkataannya.
“Kamu waktu minggu-minggu kemarin kemana, Ti? Mas pulang tapi ngg ngeliat kamu.” Tanyaku.
“Saya lagi ngejemput suami saya, Mas. Waktu pemakamannya juga saya ke rumah Mas, tapi kata Ibu Mas, Masnya lagi pergi.” Jawabnya.
“Oh gitu yah.” Jawabku singkat.
Makanan kami yang kami pesan pun datang. Kali ini aku makan dengannya tanpa ada satu kata pun terucap, dia benar-benar tidak berbicara saat makan, tidak seperti teman-temanku yang lain bahkan tidak seperti diriku.
Makanan kami habis dengan cepat, aku tidak tahu apakah dia lapar atau memang suka dengan makanannya.
“Udah yuk, Mas, keburu sore nanti pada tutup.” Ucapnya dan aku pun mengiyakan.
Kami berjalan keluar dan membayar makanan kami. Tapi saat aku akan membayarkan makanannya, dia menolak dan memilih membayarnya sendiri.
Kami keluar, aku lalu kembali memacu motorku ke pasar yang jaraknya sudah dekat.
“Mas, tunggu di sini aja yah.” Ucapku saat telah memarkirkan motor.
“Yaudah Mas, tunggu yah.” Ucapnya.
Dia lalu pergi menuju pasar, aku hanya menunggu di sini sambil melihat indahnya tumpukan sampah pasar yang sedikit menggunung di salah satu sudut pasar.
Memang di sini ada angkutan umum, tetapi tidak sampai ke desaku. Mungkin butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai jalan yang dilalui angkutan umum, mungkin karena sudah siang sehingga dia memintaku.
Tak lama, Surti kembali membawa kantong plastik yang cukup besar.
“Buat sebulan ya, Ti?” Ucapku bercanda.
“Enggak lah Mas, paling cuma tiga hari.” Ucapnya.
Dia lalu naik ke motorku dengan duduk menyamping seperti saat kita pergi. Kali ini dia tidak bisa memelukku, tetapi satu tangannya tetap melingkar di perutku. Kami lalu segera pulang setelah aku mengisi bensinku.
Tak sampai setengah jam kami sudah sampai dan aku mengantarkan sampai ke depan rumahnya.
“Makasih ya, Mas.” Ucapnya sambil turun.
“Iyah sama-sama.” Jawabku.
Aku pun pulang dengan pelan ke rumah ku. Aku kemudian memasukan kembali motorku ke belakang setelah sampai di rumah.
“Pacar baru kamu, ya?” Ledek mamaku.
“Masa ngg kenal sih, Ma?, temen Rudi pas kecil.” Jawabku.
“Tumben minta anter ke kamu.” Ucap Mamaku.
“Ya, ngg tau, bilangnya sih ngg ada ojeg.” Jawabku.
“Waktu pemakaman suaminya kamu ikut ngg sih?” Tanya Mamaku.
“Boro-boro ikut Ma, tau aja ngg.” Ucapku.
“Kamu waktu ke Surabaya itu, yah?” Ucap Mamaku.
“Iyah Ma.” Jawabku.
“Pacar baru kamu di Surabaya atau si Surti?” Tanya Mamaku.
“Di Surabaya Ma, Mungkin.” Jawabku.
“Surti juga cantik koq, Rud.” Ucap Mamaku.
“Terus kenapa, Ma?” Tanyaku sambil menuju kamarku.
Aku lalu terbaring di tempat tidurku tanpa melepas jaketku, aku terfikir maksud dari kata-kata Mamaku. Jujur aku bisa melupakan Riska, bahkan Mita pun bisa sejenak aku lupakan saat bersama Surti.
Aku lalu mengambil ponselku, dan melihat pesan dari Mita. Dia mengirim beberapa foto dengan background sebuah bangunan di Surabaya bersama Ayu dan aku tidak tahu empat orang lainnya.
“Ciyeee, ibu-ibu PKK pada jalan-jalan.” Pesanku sedikit meledeknya.
“Bukan ibu-ibu PKK, divisi srikandi.” Balasnya Cepat.
“Udah pulang?” Tanyaku.
“Udah, baru nyampe banget. Tadi kamu kemana aja?” Tanyanya kembali.
“Ke kota, cuci mata sama cari makan.” Balasku.
“Sendirian?” Tanyanya membuat aku serba salah.
Apakah aku harus jujur aku bersama dengan orang lain atau aku harus sedikit berbohong dan bilang aku sendirian.
Cukup lama aku berfikir dan akhirnya aku balas dengan segala resiko yang pasti akan aku dapat.
Bersambung ...
“Eh, ada apa, Ti?” Tanyaku.
“Mas, boleh minta anterin ke kota enggak?” Tanyanya.
“Boleh, tumben minta anter.” Ucapku.
“Mas, koq gitu amat sih bilangnya.” Ucapnya, “Itu tukang ojeg di pangkalan pada ngg ada, Mas, kalau Mas ngg mau ngg apa-apa Mas.” Jelasnya.
“Oh, yaudah bentar, Mas pake jaket dulu.” Aku lalu menuju ke kamarku untuk memakai jaket.
Aku sejenak mengirim pesan ke Mita untuk mengabarinya bahwa aku akan pergi ke kota dan tidak bisa mengabarinya karena aku tidak membawa ponsel.
Selepas itu aku langsung ke belakang untuk mengeluarkan motorku. Aku menuntunnya ke depan karena aku tidak biasa menyalakan motor di belakang sini.
Saat aku sampai depan, aku melihat mamaku sedang mengobrol dengan Surti. Aku lalu mencoba menyalakan motorku, tapi motorku sulit untuk menyala, mungkin karena sudah dua minggu tidak aku nyalakan.
Saat motorku menyala, terlihat Surti seperti berpamitan ke mamaku dan segera mendatangiku.
“Sudah, Mas?” Tanyanya.
“Naik aja dulu, lagi manasin dulu mesinnya.” Ucapku.
Dia lalu duduk menyamping karena menggunakan kain sampingyang dia lilitkan ke tubuhnya, memang di sini hal tersebut sudah biasa dan mereka masih menggunakannya tanpa malu-malu walau mereka pergi ke kota.
Saat aku akan berpamitan, mamaku sudah masuk ke dalam rumah dan aku langsung menjalankan motorku.
Tak lama aku sudah keluar dari desaku, dan saat itu juga Surti memeluk tubuhku dengan erat. Aku benar-benar kaget dan bertanya dalam hatiku, “Apakah dia cinta sama aku?”.
Sambil mengendarai motorku, aku terus berfikir dan melawan perasaan, “Kamu koq kemarin pas aku pulang ngg keliatan sih, Ti, tahu gitu Mas ngg nerima Mita jadi pacar Mas.” Ucapku dalam hati.
Dua puluh menit kami sudah memasuki kota, dan aku tidak tahu akan kemana.
“Mau kemana, Ti?” Tanyaku sambil sedikit berteriak.
“Ke pasar aja, Mas.” Jawabnya dan aku lalu mengendarai motorku.
“Mau makan dulu ngg?, Mas laper nih.” Ucapku.
“Yaudah enggak apa-apa, Mas.” Jawabnya.
“Kamu sih ke pasar siang gini.” Ucapku tak dibalas olehnya.
Aku lalu menuju sebuah tempat makan, sebuah rumah makan yang berada dekat dengan pasar, kami pun turun dari motor setelah aku memarkirkannya. Kami memesan makanan di sana dan duduk di salah satu meja.
Aku teringat akan kejadian itu, aku pun khawatir jika Mita tiba-tiba berada di belakangku dan melakukan hal seperti dulu.
“Tadi Mamaku tanya apa aja, Ti?” Tanyaku membuka obrolan.
“Cuma nanya kapan ketemu sama Mas, terus kaya diledek gitu Mas.” Jawabnya.
“Diledek gimana?” Tanyaku.
“Pacar kamu ya, pacar baru ya.” Ucapnya sambil menirukan gaya Mamaku berbicara.
Aku hanya bisa tertawa mendengar perkataannya.
“Kamu waktu minggu-minggu kemarin kemana, Ti? Mas pulang tapi ngg ngeliat kamu.” Tanyaku.
“Saya lagi ngejemput suami saya, Mas. Waktu pemakamannya juga saya ke rumah Mas, tapi kata Ibu Mas, Masnya lagi pergi.” Jawabnya.
“Oh gitu yah.” Jawabku singkat.
Makanan kami yang kami pesan pun datang. Kali ini aku makan dengannya tanpa ada satu kata pun terucap, dia benar-benar tidak berbicara saat makan, tidak seperti teman-temanku yang lain bahkan tidak seperti diriku.
Makanan kami habis dengan cepat, aku tidak tahu apakah dia lapar atau memang suka dengan makanannya.
“Udah yuk, Mas, keburu sore nanti pada tutup.” Ucapnya dan aku pun mengiyakan.
Kami berjalan keluar dan membayar makanan kami. Tapi saat aku akan membayarkan makanannya, dia menolak dan memilih membayarnya sendiri.
Kami keluar, aku lalu kembali memacu motorku ke pasar yang jaraknya sudah dekat.
“Mas, tunggu di sini aja yah.” Ucapku saat telah memarkirkan motor.
“Yaudah Mas, tunggu yah.” Ucapnya.
Dia lalu pergi menuju pasar, aku hanya menunggu di sini sambil melihat indahnya tumpukan sampah pasar yang sedikit menggunung di salah satu sudut pasar.
Memang di sini ada angkutan umum, tetapi tidak sampai ke desaku. Mungkin butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai jalan yang dilalui angkutan umum, mungkin karena sudah siang sehingga dia memintaku.
Tak lama, Surti kembali membawa kantong plastik yang cukup besar.
“Buat sebulan ya, Ti?” Ucapku bercanda.
“Enggak lah Mas, paling cuma tiga hari.” Ucapnya.
Dia lalu naik ke motorku dengan duduk menyamping seperti saat kita pergi. Kali ini dia tidak bisa memelukku, tetapi satu tangannya tetap melingkar di perutku. Kami lalu segera pulang setelah aku mengisi bensinku.
Tak sampai setengah jam kami sudah sampai dan aku mengantarkan sampai ke depan rumahnya.
“Makasih ya, Mas.” Ucapnya sambil turun.
“Iyah sama-sama.” Jawabku.
Aku pun pulang dengan pelan ke rumah ku. Aku kemudian memasukan kembali motorku ke belakang setelah sampai di rumah.
“Pacar baru kamu, ya?” Ledek mamaku.
“Masa ngg kenal sih, Ma?, temen Rudi pas kecil.” Jawabku.
“Tumben minta anter ke kamu.” Ucap Mamaku.
“Ya, ngg tau, bilangnya sih ngg ada ojeg.” Jawabku.
“Waktu pemakaman suaminya kamu ikut ngg sih?” Tanya Mamaku.
“Boro-boro ikut Ma, tau aja ngg.” Ucapku.
“Kamu waktu ke Surabaya itu, yah?” Ucap Mamaku.
“Iyah Ma.” Jawabku.
“Pacar baru kamu di Surabaya atau si Surti?” Tanya Mamaku.
“Di Surabaya Ma, Mungkin.” Jawabku.
“Surti juga cantik koq, Rud.” Ucap Mamaku.
“Terus kenapa, Ma?” Tanyaku sambil menuju kamarku.
Aku lalu terbaring di tempat tidurku tanpa melepas jaketku, aku terfikir maksud dari kata-kata Mamaku. Jujur aku bisa melupakan Riska, bahkan Mita pun bisa sejenak aku lupakan saat bersama Surti.
Aku lalu mengambil ponselku, dan melihat pesan dari Mita. Dia mengirim beberapa foto dengan background sebuah bangunan di Surabaya bersama Ayu dan aku tidak tahu empat orang lainnya.
“Ciyeee, ibu-ibu PKK pada jalan-jalan.” Pesanku sedikit meledeknya.
“Bukan ibu-ibu PKK, divisi srikandi.” Balasnya Cepat.
“Udah pulang?” Tanyaku.
“Udah, baru nyampe banget. Tadi kamu kemana aja?” Tanyanya kembali.
“Ke kota, cuci mata sama cari makan.” Balasku.
“Sendirian?” Tanyanya membuat aku serba salah.
Apakah aku harus jujur aku bersama dengan orang lain atau aku harus sedikit berbohong dan bilang aku sendirian.
Cukup lama aku berfikir dan akhirnya aku balas dengan segala resiko yang pasti akan aku dapat.
Bersambung ...
pulaukapok memberi reputasi
1
Kutip
Balas