Kaskus

Story

taucolamaAvatar border
TS
taucolama
Cahaya Dalam Kelam
Sebelum membaca mohon diperhatikan:

1. Cerita ini fiksi bila ada kejadian yg sama dengan kehidupan nyata anggap saja kebetulan. Atau kejadian nyata yang udah dirubah kedalam cerita.
2. Jangan kepo tentang ane dan tokoh tokoh dalam cerita. Nikmati aja jalan ceritanya.
3. Update diusahakan secepatnya. Jangan protes kalo updatenya sedikit. Yang penting diusahakan sampe tamat.

Prolog


Namaku Cahya. Asli dari kota kecil di Jawa Barat. Aku merantau ke kota setelah tamat SMU. Maklum ortuku hanya petani dengan penghasilan pas pasan sehingga tak mampu membiayai kuliah. Aku merantau kekota pun gara gara sakit hati diputuskan oleh Nala pacarku yang memilih lelaki lain.

Aku dimasukkan kerja di toko pakaian disalah satu mall dikota oleh sepupuku Irene (salah satu tokoh di cerita Gelap Tak Selamanya Kelam). Aku bekerja serabutan dari membantu dirumah pemilik toko sebut saja pak Budi dan beres dirumah, lanjut ke Toko Pakaian. Aku sendiri kost di dekat rumah pak Budi.


INDEX

CHAPTER 1
part 1
part 2
part 3
part 4
part 5
part 6
part 7
part 8
part 9
part 10
part 11
part 12
part 13
part 14
part 15
part 16
part 17
part 18
part 19
part 20


Yang suka Rate, Share ,Komen gak nolak dikasih yg ijo ijo.
Diubah oleh taucolama 14-04-2017 17:43
nona212Avatar border
ameyliasalsaAvatar border
4BrotherTanAvatar border
4BrotherTan dan 4 lainnya memberi reputasi
5
73.2K
306
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
taucolamaAvatar border
TS
taucolama
#70
part 7

Tak terasa sudah dua bulan aku kerja ditempat ini. Aku merasa betah karena rekan kerjanya baik baik. Dan gaji lumayan bisa kukirim kekampung dan untuk kebutuhan sehari hari dari lemburan dan uang tip mencuci truk.

Sore semua pekerjaan sudah beres. Karyawan yang lain sudah pada pulang, sedangkan Itong beres kerja langsung mandi dandan dan cabut ga tau kemana. Katanya sih mau janjian ama cewe. Tinggal aku dan mba Susan yang lagi beresin pembukuan. Aku mandi kemudian duduk santai didepan ruang kantor gudang.

"Cahya, masuk sini deh": kata mba Susan.
"Iya mba": kataku.
Aku masuk ruangan kantor.
"Duduk, saya mau bicara": kata mba Susan.
"Iya mba": kataku.
Aku sedikit bertanya tanya ada apa mba Susan memanggilku.
"Gini Cahya, rencananya gudang ini mau digabung dengan gudang yang dipusat. Akan ada phk": kata mba Susan.
Duh baru enak kerja dah mau di phk lagi.
"Kalo mba ditawari mengelola penginapan kalo di phk kerja. Gaji sama dengan yang disini bonus dari pendapatan penginapan. Nah kamu mau ikut mba kerja di penginapan": kata mba Susan
"Kalo saya kerja dimana aja mau mba asal digaji": kataku sambil tersenyum.
"Jangan khawatir nanti gajinya sama dengan disini, mba ajak kamu karena liat kamu kerjanya tekun dan rajin.": kata mba Susan
"Terimakasih mba": kataku.
"Masalahnya mba sendiri belum pengalaman ngelola penginapan. Penginapan itu sekarang merugi terus sama katanya orang angker. Kamu ada kenalan yang bisa ngilangin hal seperti itu": kata mba Susan
"Saya coba tanya tanya dulu mba": kataku.
"Ok saya tunggu kabar dari kamu, mba sekarang mau pulang dulu": kata mba Susan.

Mba susan mengambil tasnya kemudian pergi keluar menuju mobilnya. Aku duduk termenung, pada siapa aku minta tolong agar penginapan gak angker.

Aku menelpon teh Irene cerita tentang penginapan itu. Teh Irene bilang mau nanya Aka siapa tau dia ada kenalan yang bisa bantu dan bilang akan mengabari aku secepatnya.
Aku keluar kantor dan menyetel tv yang ada digudang.
Ada sms masuk dari teh Irene. Katanya Aka dan temennya akan coba bantu.

Singkat cerita mba Susan dan aku membuat janji dengan Aka dan rekannya untuk melihat penginapan. Di hari sabtu sore setelah beres kerjaan. Aku dan mba Susan pergi menuju cafe menemui Aka dan rekannya. Sesampainya di cafe aku dan mba Susan duduk dikursi dihalaman cafe. Teh Irene menghampiri kami

"Mba Susan kenalin ini sepupu saya teh Irene": kataku.
Mereka bersalaman sambil saling mengenalkan diri.
"Teh, Akanya ada ga?": tanyaku.
"Nah itu yang lagi nelpon di ujung sana itukan Aka": kata teh Irene.
"Yakin kamu cahya, Aka bisa bantu orangnya masih muda": bisik mba Susan.
"Yakin mba, dulu pernah nolong saya": kataku.
Aka mendatangi kami dan mengajak salaman. Aku mengenalkan mba Susan ke Aka.

"Sebentar yah nunggu pak Dayat dulu. Ren mau ikut juga ngga?": tanya Aka.
"Emang boleh, terus yang ngurusin cafe siapa?": kata Irene
"Kalo ngajak pasti boleh, biar Siti yang ngatur cafe 2 hari itung itung kasih kesempatan buat belajar": kataku.
"Kalo gitu aku ngomong dulu sama Siti": kata Irene.
"Sekalian bawain makanan kasian tamunya belum makan": kata Aka.
"Siap": kata teh Irene sambil berlalu.
"Jangan repot repot": kata mba Susan.
"Ngga koq, sambil nunggu pak Dayat. Agak telat sepertinya nolong orang dulu.": kata Aka
Seorang pelayan membawa makanan. Aku dan mba Susan makan, aku heran kenapa Aka tau kami belum makan. Beres makan pak Dayat datang lalu kami bersiap menuju mobil. Kami naik mobil mba Susan, kali ini Aka yang menyetir. Setelah beberapa jam perjalanan kami sampai penginapan. Penginapan itu berada dijalur wisata daerah pegunungan.

Seorang tua membuka pintu gerbang lalu mobil masuk kepekarangan penginapan. Kami turun, dari arah penginapan berjalan seorang lelaki.

"Mba Susan, saya mang Jajang tadi bos telpon kalo mba mau kesini": kata mang Jajang.
"Oh iya mang kenalin ini temen temen saya": kata mba Susan.
Kami bergantian berkenalan dengan mang Jajang.
Bapak tua yang membuka gerbang mengenalkan diri sebagai penjaga penginapan namanya pak Tolib. Mang Jajang mengajak kami berkeliling penginapan yang kosong karena sebulan lalu tutup karena merugi terus.

Kami berkeliling dari kantor,tempat resepsionis, dapur, kamar kamar penginapan, hingga kolam renang. Dikolam renang hawanya tak enak. Pak Dayat mulai bergumam seperti membaca sesuatu. Kulihat Aka malah asik ngerokok.

Beres dari kolam renang, mang Jajang menunjukkan kamar buat kami tempati. Satu kamar untuk mba Susan dan teh Irene dan satu kamar untuk Aka, pak Dayat dan aku.

"Mba Susan dan aden aden, mang kedepan dulu di pos dekat gerbang nemenin pak Tolib. Kalau ada perlu tinggal pake telpon kamar pencet 12 nyambung ke pos depan": kata mang Jajang.
"Iya mang Jajang, terima kasih": kata mba Susan.
Mang Jajang pergi ke pos.
Teh Irene dan mba Susan masuk kamar. Pak Dayat dan Aka ngobrol sambil duduk dikursi depan kamar. Aku membuat kopi dalam kamar untuk kami bertiga. Hawa disini memang dingin tapi aneh kali ini dingin tak enak yang kurasa. Aku membawa kopi ke luar. Astaga kenapa aku merinding . Kulihat pak Dayat menatap kearah halaman mulutnya berkomat kamit. Sedang Aka melihat kearah sama tapi tetap mengisap rokok. Aku mencoba melihat kearah yang mereka liat.
Astaga apa itu benda putih berkelebatan pindah pindah tempat secara cepat. Bulu kudukku merinding hebat melihat hal seperti itu.
radityodhee
khuman
khuman dan radityodhee memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.