Quote:
Sedikit pertengkaran kemaren ternyata tak butuh waktu lama bagi kami untuk bisa berbaikan kembali, sekurangnya hanya cukup 2 hari saja waktu yang kami butuhkan saat itu, kita sepakat kembali berbaikan setelah masing2 dari kami saling introspeksi, dan beberapa hari kemudian hubungan kamipun sudah mulai melunak dan mencair seperti biasa
Menjelang akhir kelas 3 dimana kami mesti dihadapkan dengan banyaknya tugas dan kesibukan mengerjakan materi tray out dan pra UAN, sudah saatnya bagiku untuk mulai dari sekarang merubah orientasi dan pandanganku, dimana setelah 3 tahun ini banyak kuisi dengan kegiatan yang sia2, bersenang2 dan pacaran, mungkin saat ini lebih tepat untuk aku memulai memikirkan masa depan, jadi aku berkeinginan untuk menghentikan semua komunikasi dengan Agri, mengurangi jadwal kita bertemu dan lain2, mencoba untuk serius belajar dari mulai mengikuti proses penggemblengan materi UAN hingga kita sama2 dinyatakan lulus nanti, sungguh berat memang, tapi sudah sewajarnya kulakukan demi masa depan pendidikanku, pun demi masuk ke sekolah negri yang aku incar kala itu
Namun keputusanku waktu itu rupanya benar2 dimanfaatkan oleh Astri, beberapa kali kudapati dia meminta antar Agri ketika hendak pulang, dan benar saja selanjutnya Astri kian dekat seperti dugaanku, sempat ada sedikit rasa iri melihat kemesraan mereka, namun apa daya karena sudah kutekadkan dan telah menjadi keputusanku, aku tak akan kembali menjilat ludahku sendiri, dan menarik lagi apa yang sudah pernah aku katakan
Sebuah sore di satu hari menjelang UAN aku datang bertamu kerumah Agri, tujuanku tak lain adalah meminta restu darinya dan juga keluarga, agar nilai ujianku diberkahi dan mendapatkan apa yang aku inginkan, tapi apa daya rumahnya tampak kosong tak ada orang, selanjutnya kuputuskan untuk pulang, tapi belum juga ada beberapa langkah aku meninggalkan rumahnya kudengar pintu pagarnya bergeser yang selanjutnya keluar dari dalam sana Agri dan Astri, kenapa? apa yang baru saja mereka lakukan dirumah sepi dalam keadaan pintu terrtutup, mencurigakan! waktu itu Agri turut mengantar kepulangan Astri hingga ke ujung gang rumahnya, sehingga kumanfaatkan waktu itu untuk aku masuk ke halaman teras rumahnya
Begitu Agri kembali dia tampak kaget setelah melihat kehadiranku disana yang kemudian segera menyapaku, lhoh Ning kok kamu ada disini sejak kapan datang? tanyanya, cukup lama dari sejak Mas tadi pergi mengantar Astri, kenapa? gak boleh ya aku maen lagi kesini? tanyaku, eh gak gitu, maksudnya kok gak bilang2 dulu kalo mau datang kesini, tanyanya balik, apakah sebelumnya Mas pernah mewajibkanku untuk membikin janji dulu sebelum bertamu kesini, terlebih sejak kapan Mas sudah mulai bisa bohong, tanyaku, bohong soal? jawabnya balik tanya, soal yang dulu katanya selain aku belum pernah ada seorang cew yang berani datang kerumah ini, tuh tadi buktinya si Astri bisa dengan leluasa masuk, mana pake acara tutup tirai dan pintu lagi, kira2 perbuatan apa yang barusan kalian lakuin di dalam sana hingga orang luar gak boleh tau, apa yang coba kalian sembunyikan? jawabku, Astaugfirullah Ning demi Allah Mas gak akan mungkin berbuat seperti yang kamu tuduhkan, terlebih kepada Astri yang kamu tahu sendiri seperti apalah anaknya, kamu pasti sedang bercanda jika kamu sampai mau mencurigainya, jawabnya, mungkin saja jika itu atas kemauan Mas dan justru Mas yang maksa, Astri mana bisa nolak, tanyaku, jadi seperti itu, semua kamu kira hanya karena salah Mas ya? jadi selama ini kamu belum cukup benar2 mengenal Mas, terserah lah apa katamu yang pasti Mas selamanya gak akan mungkin melakukanya, Mas gak akan pernah melanggar steatmen dan prinsip yang pernah Mas buat sendiri? baiklah, biar kujelaskan singkat bahwa Astri tadi emang datang kesini atas undangan Mas karena katanya ada beberapa materi pelajaran yang kurang bisa dia mengerti dan memintaku menjelaskanya, yah intinya kita hanya sekedar diskusi dan belajar, tapi silahkan saja buatmu untuk tetap tak percaya karena Mas sendiri memang tak bisa membuktikanya, mengapa pintu tadi tertutup! itulah masalahnya, Mas sendiri juga kurang tau awalnya, karena tak seperti Astri yang biasanya, hari ini dia memang agak berbeda dan sedikit kelewatan, saat hendak pamit tadi dia nekat cium pipi Mas yang seumur2 ketika Mas jalan bereng dia baru sekali ini dia berani lakukan, sedang pintu tadi sengaja dia yang menutupnya jadi bukan atas kemauan dan perintah Mas, padahal sejak awal datang dia hanya hendak memohon restu dari Mas sebelum besok menghadapi UAN dan meminta Mas menjanjikannya sebuah hadiah jika hasil nilai UAN nya bagus, dan seperti itulah kejadian sebenarnya, jawabnya, tapi kenapa Mas waktu itu gak berusaha menolaknya, tanyaku, gimana Mas mau nolak, karena kejadianya berlalu dengan spontan tanpa juga sebelumnya dia meminta ijin dulu dari Mas, sekarang apa bedanya denganmu yang biasa juga melakukannya, apa Mas juga pernah larang kamu cium tanpa ijin, seperti itulah kira2 kejadianya, ya anggap aja waktu itu kita hanya kilaf, jawabnya, enak aja bilang kilaf, iya sih Mas enak dapet cium gratisan, sementara adek apa khabar? pokoknya adek gak rela ya jika itu bukan dari adek dan dari orang lain, jawabku, terus kamu maunya ap……pha? belum juga dia selesaikan kalimatnya, bibirku sudah mendapatkan tempat untuk mendarat, dan yang selanjutnya terjadi yah seperti itulah, di bidang ini tentu aku dan Astri tak dapat dibandingkan karena dilihat dari mana pun aku lebih expert darinya, namun apa aku lantas bangga dengan itu, tentu saja tidak
Hari ini saat tiba pengumuman kelulusan, setelah beberapa bulan kami harus berjibaku dengan soal2 tray out dan buku diktat, akhirnya tuntas sudah perjuangan kita yang mati2an belajar, didapati semua siswa lulus kala itu, ketika tiba pembagian ijazah dimana kami sengaja diliburkan, ijazah hanya boleh diambil oleh wali murid yang bersangkutan, tak ada acara seeremonial semacam dis natalis atau perpisahan yang layaknya tahun2 sebelumnya digelar di hotel, hari itu memang ekonomi Indonesia demikian terpuruk dampak akibat moneter, itulah mungkin pertimbangan sekolah untuk mengeluarkan kebijakan penghematan
Berlanjut setelahnya kemana kita akan memutuskan melanjutkan sekolah ketingkat berikutnya, waktu itu aku masuk kesekolah kejuruan yang menjadi tujuanku, tapi rupanya aku tak sendiri Astri juga masuk ke sekolah yang sama dan kebetulan juga mengambil jurusan yang sama, sedang Agri malah lebih memilih masuk ke sekolah kejuruan swasta yang belum juga jelas status akreditasinya, padahal sangat mungkin dengan nilai NEM nya waktu itu yang tertinggi ke dua se-sekolahan akan gampang baginya bila harus masuk ke sekolah negri
Walau sekarang kita berbeda sekolah hubungan kami masih baik, jadwal kita bertemu juga tak banyak berubah, walau tak seperti dulu lagi saat kita masih sering bertemu dikelas, kini kita harus sebisa mungkin memaksimalkan waktu pertemuan kita yang terbatas, menjaganya agar tetap bermutu dan berkualitas, paling tidak komunikasi jangan sampai terputus, suatu hari Agri memberi sebuah kejutan dimana untuk pertama kalinya dia menjemputku ke sekolah, waktu itu dia sudah memiliki motor walau bukan keluaran terbaru, kedatanganya pun lekas saja menjadi perhatianku dan Astri, entah siapa yang hari itu mendapatkan giliran pertama diantar jemput olehnya, kami berdua tak masalah asal bisa adil seterusnya, namun kehadiran Agri disana bukan tanpa ada masalah, ada salah satu siswi teman sekolah kami yang kemudian mencibir kami, "kalian berdua apa sudah kelewatan gak waras, dengan anak bentukan macem gitu aja kalian mau2nya diantar pulang bahkan sampai berebut, mana udah gak ganteng2 amat, tongkrongan juga butut, terlebih dari sekolah udik pula, komplitlah aib buatmu nanti, apa yang mau kalian harepin darinya yang masa depanya juga suram dan gak jelas" kata cew tersebut (memanglah tempat sekolahku sekarang cukup bergengsi, beberapa siswi disini kebanyakan berasal dari keluarga berada, adapun lainya mungkin karena murni prestasi akademik atau karena kebetulan berotak encer sepertiku dan Astri, sedang tempat Agri menuntut ilmu sekarang yah bisa dikatakan lebih kebalikan dari itu semua, itulah mengapa siswi2 disini seperti anti dan alergi menerima cow2 dari sekolah tersebut)
Aku yang kala itu tak terima awalnya langsung balas melabrak cew tersebut, apa hakmu mengatur2 hidup kami, bukankah hidup itu sebuah pilihan, biarlah kami memilih sendiri jalan hidup kami, dan selayaknya kamu juga sebaliknya jalani hidup kamu sendiri, jangan pernah atur2 kami, silahkan aja jika kamu memang menginginkan cow yang tajir, yang kaya dari golongan ningrat dan sekolah elit, karena bagi kami, kami sudah cukup dengan dia, karena kami yang lebih tau dia selama ini, 3 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk kami kemudian bisa memutuskan untuk memilihnya, bagi kami dia sudah jauh melebihi semua harapan yang telah kamu syaratkan untuk menjadi pertimbangan tentang masa depan, kataku waktu itu, iya memang benar tapi aku tetep gak rela jika seandainya dia dengan segala atributnya justru mengotori tempat ini, kalian berdua ingat ya selama masih ada aku disini jangan harap dia atau siapapun yang berasal dari satu atribut denganya bisa menginjakkan kakinya disini, tentu saja bagiku sangat mudah melakukanya, karena aku adalah salah satu putri dewan direksi disekolah ini, balas cew tersebut
Agri yang dari ketika awal datang memang banyak diam dan tak banyak bereaksi, terlihat lebih memilih mengalah dan mencari jalan tengah, akhirnya sampai terpaksa bersuara juga "baiklah dengan mbak siapa saya bicara? hari ini dan seterusnya saya berjanji gak akan pernah menginjakan kaki saya lagi disini seperti yang mbak minta, saya juga menerima semua perkataan Mbak tadi tentang saya, saya memang tak pantas dan seharusnya berada di tempat ini, tapi ketahuilah Mbak bahwa setau saya hidup dan sukses seseorang itu gak memandang tampang orang itu baik atau buruk, tak ditentukan oleh atribut dan pangkat yang sekarang dia sandang, tak ditentukan oleh kendaraan yang digunakanya, bukan juga status elit dan gak elit dia bersekolah, tapi kualitas ilmunya, mbak bisa lihat banyak contohnya, beberapa orang besar di negri ini dulu awalnya juga bukan siapa2, beberapa diantara mereka banyak dulunya juga berasal dari orang susah, jangankan bersekolah elit seperti Mbak bahkan mereka tak sedikit yang kesulitan menempuh jalur pendidikan, tapi apa yang berhasil mereka buktikan, mereka bisa sukses karena keuletan, ketelatenan, dan juga tentunya menguasai jenis keterampilan dan keilmuani, saya tantang Mbak, semenjak hari ini kita lihat saja nanti kedepan, 3 tahun, 5 tahun, atau mungkin berpuluh tahun setelah hari ini ketika kita mungkin dipertemukan kembali, siapa yang akan sukses diatas siapa, siapa yang akan tertawa diatas siapa, dan siapa yang bisa membuktikan benar dan salah antara kita, kita sama2 saja tunggu dan nantikan, jawab Agri ketika itu, tutur bahasanya yang cukup diplomatis waktu itu berhasil telah membungkam cew tersebut seketika
Tak terasa waktu berjalan dengan cepat hingga saat ini kita telah sampai di akhir kelas 2 dan sedang mempersiapkan kegiatan praktek magang PSG, sebuah kebetulan waktu itu tempat kami Aku, Agri dan Astri mengambil PSG adalah di tempat yang kebetulan saling berdekatan, masih berada di jalan yang sama dimana gedung tempat kami PSG saling berhadap2an atau bersebelahan, jadi entah itu disengaja atau sebuah kebetulan kita jadi sering ketemu, beberapa kali kita juga sempet bolos bertiga terutama disetiap hari jum’at karena beberapa instansi tempat kita PSG memang memiliki jam fleksibel/ longgar pada hari tersebut, selain jam operasional yang pendek dan kerjaan yang gak begitu banyak
3 bulan waktu yang kita habiskan pada kegiatan PSG itu, hingga kita ditarik lagi oleh pihak sekolah kita masing2 dan kembali harus mulai menjalani proses KBM seperti biasa, walau terasa belum cukup waktu kebersamaan yang berusaha kita ciptakan selama 3 bulan itu, tapi apalah daya kita, tentu kita masih dituntut untuk menuntaskan pembelajaran di sekolah kita masing2
Sebulan berlalu hingga tiba kita menyongsong bulan ramadhan, berbeda dengan ramadhan sebelum2nya, ramadhan kali ini terasa sekali jauh berbeda, seperti berkah tersendiri bagi kami para pelajar kala itu, dimana kita bisa full libur selama sebulan lebih, buah dari kebijakan pemerintah waktu itu, tentu saja dengan begitu jadwalku bertemu Agri akan kian bertambah, beberapa kali di hari bulan ramadhan Agri sering datang dan berkunjung ke rumah, beberapa kali juga sempat berbuka bersama dengan kami sekeluarga, ikut pula jamaah sholat tarawih di masjid depan rumahku, waktu itu dia mengatakan tengah mengambil kerja sampingan disebuah perusahaan rokok tak jauh dari tempatku tinggal, terhitung sejak hari pertama ramadhan dia udah masuk katanya, jadi dia meminta kerelaanku jika kemungkinan waktu kebersamaan kita akan banyak berkurang, dikarenakan kesibukannya tentang pekerjaan atau kondisi badanya yang capek
Hari terus berlalu, dan dia masih berusaha menemuiku disela waktunya yang padat setelah sepulang bekerja, walau tak sesering seperti dulu, dia masih rutin menanyakan khabarku, dan menunjukkan sedikit perhatianya ketika kita bertemu, hingga khabar duka kami terima dari keluarga Astri, tepatnya Nyokapnya telah berpulang pada hari itu, Agri ketika itu meminta ijinku jika beberapa hari mungkin akan jarang kasih khabar dan mungkin akan sulit untuk ditemui, dikarenakan waktunya akan banyak tersita untuk menemani Astri, mengingat kondisi Astri ketika itu, tampaknya dia lebih sangat dibutuhkan disana, aku mengijinkanya walau dengan berat hati
Benar saja, 1 hari, 2 hari, 3 hari bahkan hingga 4 hari, dia gak pernah kasih khabar lagi, pas banget ketika itu adalah hari minggu sengaja kuniatkan untuk menemuinya di rumah, berharap aja jika saat itu dia tak sedang keluar, jam 11 kira2 aku sudah sampai dirumahnya, di halaman depan kulihat Bokapnya sedang perbaiki sangkar burung, setelah menyapa dan kemudian bertanya tentang keberadaan Agri aku selanjutnya dipersilahkan masuk, sedang di dalam rumah tak kujumpai ada siapapun, baik itu Nyokapnya atau Adiknya, mungkin sedang berbelanja kebutuhan untuk menu berbuka nant pikirkui, langsung saja aku menuju kamar Agri yang memang setahuku gak pernah dikunci, begitu masuk aku sungguh kaget, jadi waktu itu dia tidur hanya dengan bercelana kolor, melihatnya seperti itu malah timbul lagi pikiran negatifku, perasaan yang sudah dengan susah payah berhasil kutekan setelah beberapa tahun ini, yang rupanya kembali aku tergoda untuk menuruti hawa nafsuku, aku tak sadar apa yang telah kulakukan padanya ketika itu, pokoknya aku menggila pada hari itu, sebuah kejadian yang hampir saja kulakukan pada sebuah sore di rumahku bersama Agri dulu, hampir juga kulakukan pada hari itu, berpuluh menit waktu berlalu sedang aku terus berusaha untuk mencoba mengakhiri perbuatan tersebut, tapi entah kenapa anggota tubuhku seperti enggan menuruti perintah dari otakku ketika itu
Kegiatan itu akhirnya terhenti ketika Agri sepenuhnya tersadar dan kemudian terbangun dari tidurnya, selekas itu mendorong tubuhku menjauh hingga jatuh dari ranjangnya, berikutnya menyuruhku untuk membetulkan letak pakaianku, sedang dia sendiri juga langsung menyambar kaos untuk dia pakai, hening seketika yang terjadi di ruangan itu, dengan tak ada satupun dari kita mencoba mengawali pembicaraan, setelah beberapa waktu dalam diam Agri kemudian meraih tanganku dan mengajakku keluar dengan paksa, memboncengku waktu itu ke sebuah tempat, segera ketika sampai disana beberapa kali dia mengumpatku atas tindakanku yang barusan kulakukan, menyalahkanku, menuduhku mengajaknya membatalkan puasa di hari itu, mempertanyakan pula alasanku berbuat seperti itu di tengah hari bulan ramadhan, sedang tak ada sedikitpun jawaban yang keluar dari mulutku kala itu, aku tak sedikitpun membantah atas apa yang dia tuduhkan, karena kejadian memang benar seperti yang dikatakanya walau itu tak kulakukan dengan sadar, kemudian dia menanyakanku, bagaimana seharusnya dia memperlakukanku setelah kejadian ini, dan kujawab bahwa aku pasrah apapun menjadi keputusanya, bilamana kesalahanku memang tak lagi dapat dimaafkan aku akan menerima resiko dan segala konsekuensinya, aku tak akan berharap banyak, tapi diluar dugaan dia malah memaafkanku walau masih menyayangkan atas apa yang kulakukan
Berikutnya kami ngobrol seperti biasa, dan disela waktu itu tak lupa juga aku menyatakan tentang kerinduanku akan kehadiranya yang selama beberapa hari ini sangat kurang kudapatkan, sekaligus memberitahukan jika mungkin besok aku akan mengadakan sebuah trip ke Dolo, dan meminta kesediaanya untuk menemaniku kala itu, namun sebuah kekecewaan yang kudapatkan, dia tak dapat menjanjikan karena besok kebetulan adalah tepat ke tujuh hari meninggalnya nyokap Astri, dan dia sudah ada janji dengan Astri sebelumnya untuk menemaninya belanja kebutuhan selamatan, dia coba menawariku hari lain untuk kita berdua bisa kesana, tapi kutolak dan kujawab kala itu, jika dengan atau tanpa dia aku akan tetap berangkat kesana
Pada suatu hari aku memang sempat bernadzar, bahwa di hari pertama kali Agri dulu menyatakan perasaanya padaku di tempat yang sama yang hendak kutuju, terhitung 4 tahun sejak hari itu yang tepatnya adalah besok, aku berencana akan kembali lagi kesana dengan orang yang sama, aku ingin menunjukkan bahwa kami masih saling setia, bahwa kami masih saling mencintai, dan aku ingin ini bisa berlanjut seterusnya
Aku masih ingat dulu Agri pernah mengatakan, bahwa jika kita memiliki sebuah keinginan atau permohonan cobalah ungkapkan di atas puncak sebuah gunung, “kejadian yang sama seperti dulu ketika dia pertama menembakku” dengan begitu permintaanmu akan lebih cepat didengar dan dikabulkan oleh Tuhan, karena itulah aku ingin kembali lagi kesana, aku ingin membuat lagi permintaan dimana aku ingin menjadi wanita paling bahagia di dunia, dengan mendapatkan Agri sebagai tujuan hidupku yang akan mendampingiku disisa umur yang dikasihkan Tuhan untukku, tapi rencana akan sekedar menjadi rencana kalo Agri besok benar2 tak bisa menemaniku kesana, apakah iya aku harus benar2 berangkat sendiri sesuai janjiku?, tapi aku masih benar2 berharap bahwa Agri besok bisa berubah pikiran
Demikian isi buku diary yang ditulis Aning ketika itu, dengan selesai gue membacanya tak terasa air mata gue sudah banyak terkuras, gue gak berhenti menyesali akan kebodohan gue di waktu2 sebelumnya dengan telah menyia2kanya ketika Almarhumah masih berada disamping gue, sedang waktu gue masih banyak untuknya, ingin sekali gue bisa mengatakan, betapa gue dulu sungguh mencintainya, betapa gue masih membutuhkanya disamping gue, betapa hari2 gue sekarang terasa sepi setelah kepergianya
Tapi kehidupan tak selayaknya diisi dengan sebuah penyesalan, pengalaman berharga yang telah gue dapatkan dari ini akan gue gunakan untuk menjadi lebih baik di masa yang akan datang, gue akan berusaha lebih mengharagai keberadaan pasangan gue kelak, dan memastikan mereka mendapatkan apa yang mereka selayaknya dapatkan dari gue