- Beranda
- Stories from the Heart
Love (After) Magnitude [TAMAT]
...
TS
fadw.crtv
Love (After) Magnitude [TAMAT]
Quote:
PERINGATAN!
Cerita ini bisa membuat anda baper, ngg bisa tidur, teringat mantan dan gangguan hubungan lainnya.
Cerita ini bisa membuat anda baper, ngg bisa tidur, teringat mantan dan gangguan hubungan lainnya.
Selamat datang di cerita ane yang ke-4. :welcome
Cerita ini adalah cerita lanjutan dari Love Magnitudeyang sudah tamat dan sudah di gembok.
Kenapa buat baru gan? karena cerita di sini akan menceritakan kejadian setelah apa yang terjadi di Love Magnitude.
Jadi harus baca cerita itu dong? ya kalau agan ingin ngerti betul cerita selanjutnya memang wajib baca cerita sebelumnya, karena pasti akan ada keterikatan.

Ucapan dari saya, Selamat menikmati kelanjutan ceritanya. :terimakasih
Quote:
Quote:
Ane menerima segala bentuk komentar dan kritik yang membangun, cendol juga ane terima. 

Diubah oleh fadw.crtv 29-05-2017 20:16
santet72 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
27.4K
Kutip
114
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
fadw.crtv
#65
Part 11
Quote:
“Ah, Akhirnya libur juga.” Ucapku sambil meregangkan badanku.
Hari ini hari kamis dan kami hanya bekerja dari hari senin sampai hari kamis, aku tidak tahu alasannya kenapa, tetapi cukup membuatku senang.
“Mau liburan kemana, Mas?” Tanya Anwar.
“Saya mau pulang dulu ke Jateng.” Jawabku.
“Mau ketemu keluarga ya, Mas?” Tanyanya lagi.
“Iyah, mau sekalian ambil motor sama laptop saya Mas.” Jelasku.
Aku akan pulang malam ini dengan menggunakan bis malam. Waktu aku pergi ke sini hanya memerlukan waktu sekitar enam jam, mungkin kalau aku berangkat jam delapan bisa sampai jam dua atau tiga pagi.
“Mudah-mudahan masih ada tukang ojeg nanti.” Ucapku dalam hati.
Aku pun pulang dan belum mengabari Mita, mungkin nanti malam akan aku SMS karena dia dari kemarin sibuk menerima tamu perusahaan. Kali ini aku menyimpan percaya terhadapnya walau rasa khawatir pasti akan aku rasakan selama rasa sayang aku terhadapnya masih ada.
Aku langsung mandi dan mempersiapkan diri untuk pulang setelah sampai kosan.
Setelah beres aku lalu mengabari Mita.
“Aku hari ini pulang dulu ya Sayang, sampai minggu.” SMSku terkirim.
Pesanku ternyata tidak langsung di balasnya. Aku lalu pergi ke kamar Wisnu untuk mengabarinya.
“Mas, permisi.” Ucapku sambil mengetuk pintu kamarnya.
Namun tidak ada jawaban dari dalam, kemudian aku urungkan niatku untuk mengabarinya. Aku kembali ke kamar mengambil tasku yang berisi beberapa potong pakaian kemudian pergi meninggalkan kamarku.
Tak lupa aku pergi ke minimarket dulu untuk membeli makanan saat perjalanan, kemudian aku menggunakan jasa ojeg untuk sampai ke terminal.
Aku terbangun saat di perjalanan karena ponselku bergetar.
“Halo.” Ucapku dengan mata tertutup karena mengantuk.
“Halo sayang, maaf baru ngabarin, aku baru beres nerima tamu.” Ucapnya.
“Oh, baru beres yah.” Ucapku sambil melihat jam tanganku.
Sontak rasa kantukku berubah menjadi rasa kesal, aku kemudian berpindah kebagian belakang bus, tepatnya di ruangan merokok.
“Ngapain aja kamu, sampai jam segini sama tamu?” Ucapku sedikit emosi.
“Iyah tadi tamunya dia cuma di kasih waktu sehari di sini dan baru beres sampai jam sebelas, aku juga nyuruh Wisnu buat nemenin koq.” Jawabnya.
“Yaudah oke.” Aku lalu menutup telepon secara sepihak.
Aku kemudian mematikan ponselku kemudian kembali tidur, walau memang tidak bisa tidur.
“Sampai jam dua belas malam kerja apa mereka.” Gumamku dalam hati.
Aku paksakan tertidur sambil menahan rasa kesal, sampai akhirnya aku kembali tertidur.
“Mas, mas bangun, udah sampai.” Ucap petugas bis sambil membangunkanku.
“Ouh udah sampe ya, makasih mas.” Aku lalu cepat-cepat turun.
Ibarat artis, aku lalu di serbu oleh tukang ojeg dan supir taksi yang menjajakan jasanya.
“Ke daerah ini berapa, Mas?” tanyaku.
“Ke situ tiga puluh ribu, Mas.” Jawab tukang ojeg yang aku tanya.
“Biasanya dua puluh ah.” Tawarku.
“Harga malam, Mas.” Ucapnya dan aku mengalah.
Aku kemudian diantar menuju daerah yang lumayan jauh. Jalanan sudah cukup sepi dan di daerahku ini pencahayaan masih kurang namun jalanan sudah mulus di aspal.
Sekitar dua puluh menit aku sampai ke depang rumahku, aku membayar tukang ojeg tersebut dan segera masuk kerumah. Aku tidak perlu mengetuk meminta dibukakan pintu, karena aku memegang satu buah kunci rumah.
Aku masuk dan segera tidur di kursi tamu karena saking mengantuknya.
Tak terasa, aku sudah dibangunkan oleh Ibuku jam enam pagi.
“Rud, bangun sudah pagi.” Ucap Ibuku.
“Eh Ma, masih ngantuk ah, lima menit lagi.” Ucapku setengah sadar.
“Yaudah sana pindah ke kamar.” Suruh Ibuku.
Aku lalu berjalan ke kamar dengan mengantuk, aku meninggalkan tasku di ruang tamu.
Aku kemudian menyalakan ponselku, “Mudah-mudahan bisa membuat aku tidak ngantuk pagi ini.” Gumamku dalam hati.
Beberapa pesan masuk setelah aku menyalakan ponselku, dan aku lihat pesan dari Mita.
“Sayang maaf, beneran aku ngg bohong, kamu tanya aja Wisnu, jangan ngambek gitu dong.” Salah satu pesan yang aku baca.
Aku lalu bangun kemudian pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukaku, selesai itu aku ke dapur untuk mencari makanan.
“Ma, si Papa kemana?” Tanyaku sambil memakan gorengan.
"Dia lagi bangun kandang, Rud, mau ternak katanya.” Jawab Mamaku
“Tumben bisa bangun pagi.” Ucapku.
“Rajin Papa kamu kalau di desa gini, orang bawaannya seger daripada di kota.” Jawab Mamaku membela.
“Bukannya makin pengen tidur pules ya Ma.” Ucapku.
“Udah sana kamu susul aja.” Suruh Mamaku.
“Dimana, Rudi ngg tahu.” Ucapku.
“Itu jalan aja lurus ke sana sampai pertigaan belok kanan, dari situ keliatan koq, soalnya belum banyak rumah.” Jelas Mamaku.
Aku kemudian beranjak sambil membawa dua buah gorengan di tangan.
Suasana di desa ini sangat aku rindukan, aku sebenarnya ingin kembali ke desa seperti ini, namun aku belum bisa meninggalkan teknologi walaupun aku tidak terlalu terbelenggu oleh teknologi.
Aku berjalan mengikuti arahan Mamaku dan tak lama aku melihat sebuah bangunan yang belum jadi dan ada beberapa orang di sana.
“Pagi Pa.” Sapaku.
“Eh, kamu Rud, kirain belum bangun.” Ucap Papaku.
“Mau buat apa ini Pa?” Tanyaku.
“Buat rumah kamu.” Ucap Papa bercanda.
“Masa rumah Rudi pake tempat makan gini.” Aku sambil menunjuk tempat pakan ternak seperti bak.
“Yaudah kalau udah tahu kenapa nanya.” Ucap Papaku sambil tertawa.
“Iya ternak apa?” Tanyaku lagi.
“Ternak Sapi kayanya, Rud, biar kamu bisa nyusu tiap hari.” Tawa Papaku sedikit pecah.
“Ah bercanda terus.” Aku pun pergi dari situ.
Papaku memang hanya melihat pekerja yang sedang membuat kandang ternak. Aku lalu pergi meninggalkannya.
Waktu kecil aku sering main ke sini saat libur semester atau tahun baru. Rasanya senang bermain di sini seperti dulu, masih dengan anak-anak yang lain aku bermain, mungkin sekarang sudah banyak yang pergi ke kota untuk bekerja.
Terbersit di benakku untuk pergi ke air terjun di dekat sini, air terjun yang tidak terlalu tinggi namun aku bilang cukup untuk mencuci mata dan otak.
Sepanjang perjalanan aku di sapa oleh masyarakat di sini, aku sangat akrab dengan orang-orang tua di sini karena selain bermain, kadang-kadang aku membantu mereka.
Sekitar lima belas menit aku sampai ke tempat ini, air terjun yang aku tidak tahu namanya. Dengan suguhan pepohonan yang rindang, percikan air terjun yang sejuk, membuat orang akan betah di sini.
Aku pun duduk di atas sebuah batu dengan mengarah ke air terjun, melamun akan masa kecilku yang sekarang sudah tidak bisa aku rasakan lagi.
Lamunanku akhirnya terpecah oleh suara seorang gadis yang memanggil namaku.
“Rudi!.” Teriak seorang gadis tersebut memanggil namaku.
Bersambung ...
Hari ini hari kamis dan kami hanya bekerja dari hari senin sampai hari kamis, aku tidak tahu alasannya kenapa, tetapi cukup membuatku senang.
“Mau liburan kemana, Mas?” Tanya Anwar.
“Saya mau pulang dulu ke Jateng.” Jawabku.
“Mau ketemu keluarga ya, Mas?” Tanyanya lagi.
“Iyah, mau sekalian ambil motor sama laptop saya Mas.” Jelasku.
Aku akan pulang malam ini dengan menggunakan bis malam. Waktu aku pergi ke sini hanya memerlukan waktu sekitar enam jam, mungkin kalau aku berangkat jam delapan bisa sampai jam dua atau tiga pagi.
“Mudah-mudahan masih ada tukang ojeg nanti.” Ucapku dalam hati.
Aku pun pulang dan belum mengabari Mita, mungkin nanti malam akan aku SMS karena dia dari kemarin sibuk menerima tamu perusahaan. Kali ini aku menyimpan percaya terhadapnya walau rasa khawatir pasti akan aku rasakan selama rasa sayang aku terhadapnya masih ada.
Aku langsung mandi dan mempersiapkan diri untuk pulang setelah sampai kosan.
Setelah beres aku lalu mengabari Mita.
“Aku hari ini pulang dulu ya Sayang, sampai minggu.” SMSku terkirim.
Pesanku ternyata tidak langsung di balasnya. Aku lalu pergi ke kamar Wisnu untuk mengabarinya.
“Mas, permisi.” Ucapku sambil mengetuk pintu kamarnya.
Namun tidak ada jawaban dari dalam, kemudian aku urungkan niatku untuk mengabarinya. Aku kembali ke kamar mengambil tasku yang berisi beberapa potong pakaian kemudian pergi meninggalkan kamarku.
Tak lupa aku pergi ke minimarket dulu untuk membeli makanan saat perjalanan, kemudian aku menggunakan jasa ojeg untuk sampai ke terminal.
***
Aku terbangun saat di perjalanan karena ponselku bergetar.
“Halo.” Ucapku dengan mata tertutup karena mengantuk.
“Halo sayang, maaf baru ngabarin, aku baru beres nerima tamu.” Ucapnya.
“Oh, baru beres yah.” Ucapku sambil melihat jam tanganku.
Sontak rasa kantukku berubah menjadi rasa kesal, aku kemudian berpindah kebagian belakang bus, tepatnya di ruangan merokok.
“Ngapain aja kamu, sampai jam segini sama tamu?” Ucapku sedikit emosi.
“Iyah tadi tamunya dia cuma di kasih waktu sehari di sini dan baru beres sampai jam sebelas, aku juga nyuruh Wisnu buat nemenin koq.” Jawabnya.
“Yaudah oke.” Aku lalu menutup telepon secara sepihak.
Aku kemudian mematikan ponselku kemudian kembali tidur, walau memang tidak bisa tidur.
“Sampai jam dua belas malam kerja apa mereka.” Gumamku dalam hati.
Aku paksakan tertidur sambil menahan rasa kesal, sampai akhirnya aku kembali tertidur.
“Mas, mas bangun, udah sampai.” Ucap petugas bis sambil membangunkanku.
“Ouh udah sampe ya, makasih mas.” Aku lalu cepat-cepat turun.
Ibarat artis, aku lalu di serbu oleh tukang ojeg dan supir taksi yang menjajakan jasanya.
“Ke daerah ini berapa, Mas?” tanyaku.
“Ke situ tiga puluh ribu, Mas.” Jawab tukang ojeg yang aku tanya.
“Biasanya dua puluh ah.” Tawarku.
“Harga malam, Mas.” Ucapnya dan aku mengalah.
Aku kemudian diantar menuju daerah yang lumayan jauh. Jalanan sudah cukup sepi dan di daerahku ini pencahayaan masih kurang namun jalanan sudah mulus di aspal.
Sekitar dua puluh menit aku sampai ke depang rumahku, aku membayar tukang ojeg tersebut dan segera masuk kerumah. Aku tidak perlu mengetuk meminta dibukakan pintu, karena aku memegang satu buah kunci rumah.
Aku masuk dan segera tidur di kursi tamu karena saking mengantuknya.
Tak terasa, aku sudah dibangunkan oleh Ibuku jam enam pagi.
“Rud, bangun sudah pagi.” Ucap Ibuku.
“Eh Ma, masih ngantuk ah, lima menit lagi.” Ucapku setengah sadar.
“Yaudah sana pindah ke kamar.” Suruh Ibuku.
Aku lalu berjalan ke kamar dengan mengantuk, aku meninggalkan tasku di ruang tamu.
Aku kemudian menyalakan ponselku, “Mudah-mudahan bisa membuat aku tidak ngantuk pagi ini.” Gumamku dalam hati.
Beberapa pesan masuk setelah aku menyalakan ponselku, dan aku lihat pesan dari Mita.
“Sayang maaf, beneran aku ngg bohong, kamu tanya aja Wisnu, jangan ngambek gitu dong.” Salah satu pesan yang aku baca.
Aku lalu bangun kemudian pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukaku, selesai itu aku ke dapur untuk mencari makanan.
“Ma, si Papa kemana?” Tanyaku sambil memakan gorengan.
"Dia lagi bangun kandang, Rud, mau ternak katanya.” Jawab Mamaku
“Tumben bisa bangun pagi.” Ucapku.
“Rajin Papa kamu kalau di desa gini, orang bawaannya seger daripada di kota.” Jawab Mamaku membela.
“Bukannya makin pengen tidur pules ya Ma.” Ucapku.
“Udah sana kamu susul aja.” Suruh Mamaku.
“Dimana, Rudi ngg tahu.” Ucapku.
“Itu jalan aja lurus ke sana sampai pertigaan belok kanan, dari situ keliatan koq, soalnya belum banyak rumah.” Jelas Mamaku.
Aku kemudian beranjak sambil membawa dua buah gorengan di tangan.
Suasana di desa ini sangat aku rindukan, aku sebenarnya ingin kembali ke desa seperti ini, namun aku belum bisa meninggalkan teknologi walaupun aku tidak terlalu terbelenggu oleh teknologi.
Aku berjalan mengikuti arahan Mamaku dan tak lama aku melihat sebuah bangunan yang belum jadi dan ada beberapa orang di sana.
“Pagi Pa.” Sapaku.
“Eh, kamu Rud, kirain belum bangun.” Ucap Papaku.
“Mau buat apa ini Pa?” Tanyaku.
“Buat rumah kamu.” Ucap Papa bercanda.
“Masa rumah Rudi pake tempat makan gini.” Aku sambil menunjuk tempat pakan ternak seperti bak.
“Yaudah kalau udah tahu kenapa nanya.” Ucap Papaku sambil tertawa.
“Iya ternak apa?” Tanyaku lagi.
“Ternak Sapi kayanya, Rud, biar kamu bisa nyusu tiap hari.” Tawa Papaku sedikit pecah.
“Ah bercanda terus.” Aku pun pergi dari situ.
Papaku memang hanya melihat pekerja yang sedang membuat kandang ternak. Aku lalu pergi meninggalkannya.
Waktu kecil aku sering main ke sini saat libur semester atau tahun baru. Rasanya senang bermain di sini seperti dulu, masih dengan anak-anak yang lain aku bermain, mungkin sekarang sudah banyak yang pergi ke kota untuk bekerja.
Terbersit di benakku untuk pergi ke air terjun di dekat sini, air terjun yang tidak terlalu tinggi namun aku bilang cukup untuk mencuci mata dan otak.
Sepanjang perjalanan aku di sapa oleh masyarakat di sini, aku sangat akrab dengan orang-orang tua di sini karena selain bermain, kadang-kadang aku membantu mereka.
Sekitar lima belas menit aku sampai ke tempat ini, air terjun yang aku tidak tahu namanya. Dengan suguhan pepohonan yang rindang, percikan air terjun yang sejuk, membuat orang akan betah di sini.
Aku pun duduk di atas sebuah batu dengan mengarah ke air terjun, melamun akan masa kecilku yang sekarang sudah tidak bisa aku rasakan lagi.
Lamunanku akhirnya terpecah oleh suara seorang gadis yang memanggil namaku.
“Rudi!.” Teriak seorang gadis tersebut memanggil namaku.
Bersambung ...
pulaukapok memberi reputasi
1
Kutip
Balas