Ketakutan
Quote:
“Teo…”, kata Rathi lemas
“Thi , mungkin Teo mau sendiri”, kata Luna sambil menarik Luna
Akupun memegang tangan mereka berdua.
“temenin aku, aku Cuma mau diem dulu sebentar”, kataku
Merekapun kembali duduk. Kami pun terdiam cukup lama. Pikiranku blank, tak tau harus bertindak seperti apa. Sampai waktunya pulangpun aku tidak berbicara apapun pada Rathi dan Luna. Aku langsung mengambil tas, menunggu Rathi dan Luna lalu pulang. Ternyata di gerbang sudah ada ibunya Rathi
“mamah? Ko ada disini?”, kata Rathi
“kalian masuk dulu kemobil”, kata ibu Rathi serius
Kamipun masuk k mobil
“Teo, Rathi bilang aneh-aneh di kelas?”, tanya ibu Rathi
Akupun hanya mengangguk. Dan ibu Rathi menghela nafas
“kamu bilang apa Thi?”, tanya ibunya
“aku bilang kalo kita bertiga udah di jodohin mah” kata Rathi
“tapi aku gad a maksud apa-apa ko”, lanjutnya
“Teo”, kata ibu Rathi
“ga apa-apa ko tante, aku ngerti”, jawabku
“jadi tadi dari sekolah telepon ke rumah, untungnya tante ada di rumah. Waktu denger pihak sekolah nanya hal itu, tante tau pasti Rathi ngomong sesuatu. Mangkanya tante jemput kalian baut jelasinnya. Tante memang bilang kalian itu udah di jodohin supaya gad a rebut disekolah.”, kata ibu Rathi
“jadi kamu ga tenang aja ya”, lanjut ibu Rathi sambil menepuk pundakku
Aku pun menghela nafas lega mendengarnya.
“maafin aku ya Teo, kamu jadi kepikiran”, kata Rathi
“aku kesel sebenernya tapi, aku tau kamu kaya gimana orangnya dan aku ga mau bikin kamu sedih kaya dulu”, kataku
“makasih ya”, kata Rathi mencubit pipiku
“tante, aku cemburu”, kata Luna
Akupun melirik Luna. Terlihat Luna sedang di peluk ibunya Rathi. Sebenarnya ingin memegang tangan Luna tapi aku tidak enak ke ibunya Rathi
“yaudah sekarang kita makan dulu”, kata ibu Rathi
Kamipun pergi ke salah satu tempat makan di dekat sekolahku. Selesai makan kami pun pulang, kami ke rumah Rathi untuk mengantar ibunya Rathi karena sudah ada janji, kami pun menunggu pak Jono di dalam mobil. Entah kenapa sekarang-sekarang jika keadaan nya kami hanya bertiga dan suasananya mendukung dadaku selalu berdetak kencang dan wajahku memerah. Jika itu sudah terjadi secara spontan pun aku memegang tangan Rathi dan Luna dengan begitu aku bisa kembali tenang.
“maaf ya nunggu lama tadi bapak abis makan dulu”, kata pak Jono,
“iya ga apa-apa pak”, kata Luna
“kamu hati-hati yang”, kata Rathi lalu mencium keningku
“iya, kamu juga istirahat besok kan masih sekolah”, kataku
Lalu pak Jono berangkat dan mengantarkan Luna terlebih daulu karena rumahnya yang cukup jauh. Sepanjang perjalanan Luna tertidur di bahuku, pak Jono pun bercerita dan meledeku yang membuat kami tertawa. Setelah mengantarkan Luna, akupun pulang. drirumah seperti biasanya hanya ada bibi dan Violet, ortu ku pulang nanti malam, sehingga kuhabiskan waktu dengan menonton lalu tidur.
Besoknya di sekolah
“Teo”, sapa seseorang dari warung, itu Kiki
Ku dekati dia
“ngapain lu pagi-pagi udah nongkrong aja?”, kataku
“laper gua belum sarapan”, terlihat ada potongan roti di tangannya
“gua duluan dah, ngaso di kelas mumpung belum belajar”, kataku
“Sip dah. Kalo ada Iam suruh kesini”, katanya setengah berteriak
Aku hanya mengacungkan jempol tanda setuju. Sesampainya di kelas, belum terlalu ramai yang datang, beberapa siswa masih terlihat canggung karena memang ini masih hari ke dua. Akupun duduk di bangkuku dan mengeluarkan buku untuk menggambar
“bisa gambar juga?”, tanya seseorang
Saat kulihat dia, aku tidak mengenalnya jadi tidak terlalu ku respon.
“bener ya kata orang lu tu dingin. Nama gua Ali”, katanya sambil mengulurkan tangan
“Teo”, kataku menjabat tangannya
Ali duduk di bangku depanku sambil melihatku menggambar.
“lu sering ngegambar?”, tanyanya
“ga, Cuma buat ngabisin waktu aja”, jawabku
“gua juga suka ngegambar, nanti kalo ada waktu kita gambar bareng”, katanya lalu pergi
Akupun tidak terlalu meresponnya, satu yang ku pikirkan waktu itu, dia agak aneh. Bukan karena penampilan atau apa tapi ada sesuatu yang aku rasakan dan itu tidak biasa. Tak lama Luna datang.
“hei sayang”, kata Luna
“hai”, kataku
Setelah menaruh tas Luna pun duduk di bangku depanku melihatku menggambar. Dia tidak berkomentar apa-apa hanya tersenyum, sampai akhirnya bel masuk Rathi belum juga datang.
“Lun, Rathi kemana?”, tanyaku
“ga tau, ga ada kabar deh”, kata Luna
Akupun tidak bisa menghubungi Rathi karena waktu itu aku belum punya hp. Begitu juga Luna dan Rathi katanya menunggu aku punya dulu. Selama orientasi guru dan pelajaran aku tidak bisa konsen. Memang bukan menyampaikan materi hanya perkenalan tetapi tetap saja aku tidak konsen.
“kamu gelisah banget. Gara-gara ga ada kabar dari Rathi ya?”, tanya Luna
“iya Lun. Perasaanku ga enak”
Ya, perasanku tidak karuan. Benar-benar perasaan tidak nyaman. Akhirnya jam pulang sekolah, akupun bergegas pulang.
“Teo hari ini aku di jemput papah, nanti bareng aja ke rumah Rathi”, kata Luna
Akupun tidak meresponnya, aku benar-benar ingin cepat sampai sana. Di gerbang sekolah setelah menunggu 2 menit, ayah Luna datang, kamipun langsung menuju rumah Rathi. Sesampainya di sana apa yang ku takutkan ternyata benar terjadi.