- Beranda
- Stories from the Heart
PREMAN DAN WANITA BERCADAR
...
TS
laodetahsin
PREMAN DAN WANITA BERCADAR
Genre: Romantis, Horor, Aksi.
By
Laode Tahsin
Selamat pagi, aku mau minta ijin nulis cerita nih. Kisah romantis yang bercampur horror dan banyak aksi.
Nama-nama aku samarkan, jadi kalau ada kesamaan nama tokoh, peristiwa, dan tempat kejadian, tolong maafin ya guys.
Mau tahu kisah cinta mereka?
So, happy reading sobat dumay.

DAFTAR ISI :
Prolog
Part 1 - Penginapan Pertamaku
Part 2 - Persahabatan
Part 3 - Wanita Asing
Part 4 - Mata Ketiga
Part 5 - Pernikahanku Dengan Wanita Bercadar
Part 6 - Perpisahan Kedua
Part 7 - Cukup Satu Maria Yang Ku Cinta
Part 8 - Selamat Datang Anakku
Part 9 - Maria Dan Cadarnya
By
Laode Tahsin
Selamat pagi, aku mau minta ijin nulis cerita nih. Kisah romantis yang bercampur horror dan banyak aksi.
Nama-nama aku samarkan, jadi kalau ada kesamaan nama tokoh, peristiwa, dan tempat kejadian, tolong maafin ya guys.
Mau tahu kisah cinta mereka?
So, happy reading sobat dumay.

DAFTAR ISI :
Prolog
Part 1 - Penginapan Pertamaku
Part 2 - Persahabatan
Part 3 - Wanita Asing
Part 4 - Mata Ketiga
Part 5 - Pernikahanku Dengan Wanita Bercadar
Part 6 - Perpisahan Kedua
Part 7 - Cukup Satu Maria Yang Ku Cinta
Part 8 - Selamat Datang Anakku
Part 9 - Maria Dan Cadarnya
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 2 suara
Sobat mengira, Tina wanita bercadar itu? atau Maria?
Jelas bukan.
0%
Penasaran ya? hehehe..
100%
Diubah oleh laodetahsin 08-03-2017 17:36
anasabila memberi reputasi
1
19.9K
72
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
laodetahsin
#61
Part 9 - Maria Dan Cadarnya
Aku dibangunkan Shinta untuk makan sahur. Setelah itu, aku mengisi waktu dengan membaca Al-Quran hingga tiba waktu subuh. Aku dan Shinta pergi ke masjid dekat rumah kami.
‘tok tok tok tok!’
‘tok tok tok. tok tok tok!’
“Siapa?” tanya Shinta.
‘Shinta, ini aku Rina kakak Maryam. Ada Baim?’ Shinta membuka pintu rumah dan mempersilakan Rina masuk..
“Baim masih tidur kak. Sebentar ya, aku bangunkan dia dulu.” Jawab Shinta.
‘Iya Shinta. Cepat ya!’
Aku dibangunkan Shinta, lalu menemui Rina. Tanpa penjelasan yang banyak, Rina mengajakku ke rumahnya pagi itu.
“Bu, dimana Maria?” tanya Rina ke ibunya.
Ibunya menjawab sambil menangis: ‘dia sudah pergi ke bandara nak.’
“Ayo im, cepat kita susul Maria!” ajak Rina.
Aku masih bingung saat itu, karena aku tidak tahu apa yang sudah terjadi. Setibanya kami di bandara Juanda, kami telat menyusul Maria.
Maria telah lepas landas ke Jakarta, maka aku kembali pulang bersama RIna ke rumahku. Aku meminta padanya untuk bercerita apa yang terjadi pada adiknya yang ku cintai itu.
Rina mulai bercerita padaku..
“Dulu, saat kau pergi ke Malaysia dengan meninggalkan surat untuk Maria, hatinya sangat hancur!
“Maria masih mencintaimu Baim, dia ingin kamu berjuang untuknya. Tapi kamu malah pergi meninggalkan dia.” Kata Rina.
‘Mba tau sendiri, kalau ibu kalian tidak merestui hubungan kami.’ Jawabku padanya.
“Tapi im, setidaknya kamu harus berusaha dulu. Lihat yang terjadi sekarang, adikku kembali ke Jakarta menemui mantan suaminya yang brengsek itu!”
‘Jadi dia pernah menikah kak? Lalu bagaimana dengan anakku? Apa anakku ada di rumah mba kemarin?’ Tanyaku penasaran.
“Iya, anakmu di kamar waktu itu. Dia laki-laki, namanya Ahmad Rijal.” Jawab Rina.
‘Alhamdulillah kalau dia baik-baik saja.’ Ucapku.
“Jangan alihkan pembicaraan im. Anakmu memang penting, tapi ibunya juga penting! Kalau kamu masih mencintai adikku, susul dia ke Jakarta, dan bawa dia pulang kesini!”
‘Baiklah mba, aku akan berangkat besok. Tolong ceritakan padaku mengenai hubungan Maria dan suaminya itu?’ Tanyaku kemudian.
“Aku akan cerita ke kamu im. Catatlah dulu alamat Maria ini di Jakarta.” Jawabnya seraya mengeluarkan hp nya.
Esok paginya, aku menaiki pesawat ke Jakarta. Aku menyusul Maria dan anakku untuk ku bawa pulang kembali ke rumahnya. Aku sangat sedih mendengar cerita kakak Maria. Selama ini, aku mengira Maria sangat bahagia, tapi nyatanya tidak.
Maria pindah ke Jakarta enam tahun lalu karena mengikuti nasehat ibunya. Maria tinggal dengan pamannya di Jakarta Utara.
Sebulan kemudian, Maria bekerja di perusahaan swasta di Jakarta. Setelah setahun bekerja, Maria tinggal berdua dengan anakku di rumah kontrakan.
Di kantornya, ada pria yang menyukai Maria. Pria itu menjabat sebagai manager. Dan akhirnya Maria juga suka kepada pria itu. Maria dilamar oleh pria tadi. Ibu dan kakaknya pun setuju dengan lamarannya. Lalu Maria menikah.
Pria itu melakukan pesugihan untuk kesuksesan kariernya. Dan hal itu baru diketahui Maria setelah setahun menikah dengannya.
Ibu dan kakaknya diajak pindah oleh Maria ke Jakarta. Karena pria itu jarang pulang ke rumahnya, dan Maria selalu takut jika tinggal berdua saja dengan anakku di rumah itu.
Awalnya pria itu menerima ibu dan kakaknya untuk tinggal di rumahnya. Tapi kemudian, dia mengusir ibu Maria dan kakaknya. Lalu mereka berdua kembali ke kota Surabaya.
Maria hanya menghubungi ibu dan kakaknya lewat telepon. Maria selalu curhat mengenai perlakuan suaminya padanya. Maria seringkali di pukuli oleh suaminya.
Dan suatu hari, Maria mendapati bahwa suaminya itu sering bersama perempuan lain. Maria menanyakan hal itu, tapi Maria malah di siksa oleh suaminya.
Pria itu pergi ke dukun langganannya, dan melakukan sihir pada Maria. Segala perlakuan buruk pria itu, mulai diacuhkan oleh Maria.
Karena Maria sudah kena pelet oleh suaminya. Maria selalu menuruti perintah suaminya, dan tak mempedulikan perbuatan buruknya itu.
Hingga suatu hari, ibunya meminta tolong pada pamannya agar Maria dilepaskan dari gangguan pelet suaminya. Lalu Maria dibawa pamannya untuk dilakukan ruqyah ke ustad kenalannya. Maria dinasehati ustad tersebut untuk mendekatkan dirinya pada Allah SWT.
Ustad itu melakukan ruqyah pada Maria setiap minggu selama dua bulan, hingga sihir hitam itu dapat lepas dari Maria sepenuhnya.
Maria juga sering bermimpi buruk mengenai suaminya. Di mimpinya, Maria berada di sebuah gua gelap dan di tutup dengan pagar besi. Maria melihat suaminya berdiri di luar gua sambil tertawa. Mimpi yang sama itu sering datang pada Maria.
Akan tetapi, Maria menurut pada ustad yang membimbingnya. Pak ustad juga menyarankan Maria mengenakan cadar, agar ketika dia keluar rumah, tidak ada yang mengenalinya.
Maria memakai cadar setelah setahun benar-benar terlepas dari pelet yang dikirim suaminya. Maria mulai bekerja lagi di rumah temannya yang mempunyai bisnis wedding organizer. Rumah teman Maria itu tak jauh dari rumah pamannya, sehingga pamannya dapat mengawasi Maria dengan mudah.
Pada akhirnya, Maria disuruh mengurus surat cerai oleh ibunya dan kembali ke Surabaya. Maria melaksanakan perintah ibunya. Setelah Maria benar-benar cerai, Maria pulang ke Surabaya bersama anakku. Dan setelah beberapa hari di Surabaya, mimpi buruk Maria terulang lagi. Mimpi itu yang menjadi penyebab Maria bersikeras kembali ke Jakarta menemui pria itu.
Aku telah berpamitan pada ibunya Maria, dan beliau merestuiku untuk menjemput Maria dan anakku.
Di dalam pesawat, amarahku selalu bangkit untuk segera mengakhiri hidup pria itu.
Aku langsung menaiki taksi di depan pintu keluar bandara. Aku memberikan alamat rumah yang ku tuju pada sopir taksi itu, dan dia mengetahui alamat tersebut.
Sekitar lima puluh meter aku turun dari jarak alamat pria itu. Aku berjalan pelan sambil melihat keadaan sekitar komplek perumahan itu.
Keadaan komplek perumahan itu sangat sepi. Dan akhirnya, aku berdiri di depan rumah pria itu. Suasananya sepi, bahkan aku tidak yakin jika Maria berada didalam rumah itu.
Aku melihat pagar rumah terkunci rapat dengan gembok. Dengan terpaksa, aku memanjat pagar tinggi itu.
Pintu rumah juga terkunci. Kemudian aku mengintip keadaan di dalam lewat jendela. Dan betapa kagetnya aku, bahwa Maria dan anakku duduk di atas kursi dengan kondisi terikat tali. Mulut Maria dan anakku ditutup dengan isolasi besar.
Ku lihat lagi ke sekeliling mereka, dan tak ada pria itu di samping mereka. Aku lantas mengangkat kursi kayu di depan rumah, aku memecahkan jendela besar itu.
Aku masuk ke dalam rumah. Aku membuka ikatan tali yang mengikat Maria dan anakku. Maria mengisyaratkan sesuatu; “AWAASS MAAAS!” teriak Maria. “Praank!” Sebuah botol pecah diatas kepalaku. Aku berbalik ke belakang.
“Jadi lu pria brengsek itu!” Aku mencekik lehernya.
‘Siapa kau?’ tanya pria itu.
“Gue malaikat pencabut nyawa lu! Bukk! Bak buk!” ku layangkan beberapa pukulan di perutnya.
Aku menarik tangannya, menendang perutnya lagi dengan lutut kananku. Tubuhnya aku angkat, dan membantingnya ke lantai.
Ku tendang dia berkali-kali, dia berusaha menangkisnya dengan kedua tangannya. Lalu aku angkat dia lagi, aku dorong dia ke meja kaca.
Meja kaca pecah terkena benturan tubuh pria itu. Aku mengambil vas bunga di samping sofa. Aku angkat vas itu, “stop mas! Sudah cukup mas Baim!” teriakan Maria menghentikan langkahku.
Aku meletakkan vas bunga itu; “Cepat kau telpon polisi!” perintahku padanya.
Sesaat kemudian, aku mengambil tali yang berada di samping Maria. Aku mengikat pria itu dengan erat.
“Braakk!” aku terjatuh di lantai.
‘Mas Baim? Mas? Mas, bangun mas!’ Maria membuka jilbab dan cadarnya, dan mengikatkan di kepalaku yang berdarah.
Aku memandang cahaya putih, dan ku dengar suara Maria yang berusaha membangunkan ku. Lalu mataku tertutup.
####
“Jadi bu Maria, pria itu tidak menculikmu?” seorang polisi mengetik laporan yang Maria berikan.
‘Tidak pak. Saya terkena pelet olehnya, saya selalu ga bisa menahan diri untuk menemuinya. Padahal dia sering menyiksa saya!’
“Lalu ada hubungan apa, antara ibu dengan pria satunya?”
‘Dia mantan saya pak. Tadi kakak saya menelepon, dia memberitahu kalau mas Baim ke Jakarta untuk menyusul saya.’
“Baiklah, kalau kami masih butuh keterangan lainnya, saya akan hubungi ibu!”
‘Iya pak insya Allah. Terima kasih pak.’ Maria keluar dari ruang investigasi itu.
Anakku digandengnya keluar dari kantor polisi. Mereka menghentikan taksi untuk menjengukku di rumah sakit.
“Assalamualaikum dek Shinta.” Maria menelepon adikku.
‘Waalaikum salam kak. Apa mas ku sudah sadar kak?’ tanya Shinta
“Belum dek. Kakak minta maaf ya? Ini semua karena kakak!”
‘Ga kak. Aku tahu yang dilakukan mas Baim itu benar. Dan kak Maria ga salah kok.’
“Oh ya, tadi kamu sms kakak mau ke Jakarta. Kapan kamu berangkat?”
‘Insya Allah besok pagi kak. Kalau begitu, sudah dulu ya kak. Tetap kabari ya kak!’
“Iya dek, pasti. Assalamualaikum”
‘Waalaikum salam kak.’ Shinta menutup teleponnya.
Lalu Maria menghubungi ibu dan kakaknya, untuk menjelaskan dengan detail yang sudah terjadi. Maria dan anakku menginap di rumah sakit menungguku.
Maria menunaikan sholatnya, lalu dia duduk di sampingku membacakan ayat-ayat Al-Quran. Dia tak dapat menahan tangisnya. Sesekali dia melihat keadaanku yang masih koma.
Diubah oleh laodetahsin 08-03-2017 17:34
0