- Beranda
- Stories from the Heart
Balai desa merah
...
TS
achanyoe
Balai desa merah
Quote:
]
Untuk Agan agan pembaca setia thread ane terimakasih ane ucapkan atas kesetiannya. Mau menunggu dan bersabar, Ane setelah rutin nulis ini sering diteror gan, mulai dari mimpi aneh. Dan beberapa kejadian yang aneh seperti laptop rusak yang sebelumnya gak kenapa kenapa. Jatuh juga gak padahal dan kemarin sempet sakit juga. Jadi ane ucapkan terimakasih buat pembaca setia thread ane yang mau bersabar.
Dan juga ane ucapkan Mohon maaf lahir dan batin karena ini masih suasana lebaran. Terimakasih.
Yaudah gan langsung aja di nikmati threadnya gan.

Untuk Agan agan pembaca setia thread ane terimakasih ane ucapkan atas kesetiannya. Mau menunggu dan bersabar, Ane setelah rutin nulis ini sering diteror gan, mulai dari mimpi aneh. Dan beberapa kejadian yang aneh seperti laptop rusak yang sebelumnya gak kenapa kenapa. Jatuh juga gak padahal dan kemarin sempet sakit juga. Jadi ane ucapkan terimakasih buat pembaca setia thread ane yang mau bersabar.
Dan juga ane ucapkan Mohon maaf lahir dan batin karena ini masih suasana lebaran. Terimakasih.

Yaudah gan langsung aja di nikmati threadnya gan.

Balai desa merah
Quote:
Part I
Wanita penjaga pintu masuk
Wanita penjaga pintu masuk
Spoiler for Kuntilanak:

Quote:
Waktu itu, gerimis menyambut kedatanganku. Suasana gelap ditambah sepinya jalan yang kulalui membuat suasana malam itu jadi sedikit menakutkan. Supir becak yang umurnya sudah lumayan tua, mengayuh becak dengan tenaga ala kadarnya. Jadilah perjalananku menuju kampugku terasa begitu lama. Waktu itu pukul 9 malam, namun tidak ada satupun warga yang kelihatan. Mungkin faktor gerimis membuat orang orang malas keluar rumah. Jalanan yang kulalui banyak lubang sana sini. Menambah ketidaknyamanan perjalanan ku. Aku heran kenapa jalanan yang sudah hancur lebur seperti ini masih dipiara saja. Apa yang dilakukan pak lurah selama menjabat. Untuk memecah keheningan aku coba mengajak supir becak yang dari tadi susah payah mengayuh becaknya bicara
.
Aku : “Pak ini ko jalan gak dibenerin sih pak, udah ancur gini padahal?”
Pak Becak :“Oh nganu mas, ga tau juga saya udah lama gak dibenerin udah 6 tahun dibiarin gini aja mas”
Aku : “ Udah lama juga yah pak, terakhir saya kesini 6 tahun lalu pak, makannya saya bingung ko jalannya bukan nambah bagus malah nambah parah. Apa ngga ditanyain sama lurahnya Pak”
Pak becak : “ Sudah mas, tapi jawabnya ya gitu mas. Dananya belum ada katanya”
Saat asik berbicara tiba tiba ada sekelebat bayangan lewat tepat didepan becak. Tiba tiba saja aku merinding.
Aku : “ Pak tadi liat ada bayangan lewat ga pak?”
Pak becak tidak menjawab pertanyaanku. Aku coba bertanya lagi namun pak becak masih diam seribu bahasa. Tapi entah kenapa aku merasa becaknya melaju lebih cepat dari sebelumnya. Aku lihat kebelakang pak becak nampak berkeringat disekujur tubuhnya. Lantas ia memberi isyarat kepadaku untuk jangan berbicara. Aku tidak mengerti maksud pak becak. Namun aku yakin isyarat itu ada hubungannya dengan bayangan yang lewat tadi. Aku menurut saja dengan pak becak. Sepanjang jalan kami hanya diam. Dan sepanjang jalan itu juga bulu kudukku merinding bukan main. Sampai akhirnya kami melewati sebuah balai desa. Balai desa itu adalah balai desa kampungku. Balai desa yang tidak terlalu besar namun memiliki lapangan yang luas. Di sisi kanannya ada pohon beringin besar. Didepan balai desa ada 4 pohon cemara yang sudah sangat tinggi. Entah kenapa tepat sampai disini aku merasa pak becak semakin cepat mengayuh becaknya. Firasatku makin tak enak, sepertinya pak becak tau sesuatu tentang tempat ini. Becak melaju dengan cepat gerimis masih menemani perjalanan kami sepi lengang ditambah dengan suasana ganjil ini. Sampai akhirnya kita akan melewati sebuah jembatan. Aku melihat ada wanita yang sedang duduk dijembatan itu. Mengadap kebelakang sambil mengayun ayunkan kakinya. Aku tau kalau itu bukan manusia. Malam malam begini ditambah suasana ganjil ini mana mungkin wanita itu manusia. Aku merinding bukan main. Aku menengok ke pak becak. Terlihat kringat pak becak makin membanjir Dia menggeleng gelengkan kepala dan memberi isyarat kepadaku untuk tetap diam. Aku tak tau harus bagaimana jadi aku menurut saja dengan yang dikatakan oleh pak becak. Wanita itu masih ada di jembatan itu masih mengayun ayukan kakinya. Rambutnya panjang sepinggang. Baju putih yang sudah tercampur dengan tanah menjadi lusuh dan berwarna kecoklat coklatan. Hingga akhirnya kami lewat tepat dibelakangnya aku tak berani menoleh. Bau busuk menusuk hidung. Benar benar busuk baunya sampai sampai aku mau muntah. Kami makin jauh melewati wanita tadi sekarang baunya sudah tidak begitu terasa. Pak becak mulai menghela nafas, becak kembali berjalan lambat. Aku pun sudah tidak mencium bau busuk lagi. Aku mulai memberanikan diri bertanya kembali dengan pak becak.
Aku : “ Pak yang tadi itu bukan manusia kan ?”
Pak becak : “ Demit itu mas, mana mungkin manusia malem malem duduk dijembatan sendirian. Mana perempuan lagi, sebenernya bayangan yang mas liat itu perempuan yang tadi dijembatan mas’
Aku : “ Owh, saya bener bener takut pak. Hampir kencing dicelana saya. Terus tadi kenapa bapak suruh saya diem aja?
Pak Becak : “ Mas emang pas 6 tahun lalu kesini ga tau apa apa mas tentang cerita kampung mas?”
Aku : “ Gak pak, Saya kesini 6 tahun lalu kesini Cuma main beberapa hari aja. Itupun saya naik mobil tau tau udah sampai rumah nenek.”
Pak becak : “ Jalan yang pas mas liat bayangan itu pintu masuk kampung demit mas, didesa mas ini ada kampung demit mas. Nah balai desa sampai ngelewatin jembatan itu pasarnya mas. Kenapa saya suruh mas diem aja. Soalnya konon kalau kita liat penampakan perempuan tadi terus dia noleh kekita terus senyum sambil nunjukin wajah ancurnya dia bakalan buka pintu pasar demitnya mas. Dan kita bisa kesasar disana mas. Kalau kita diem dia kira kita sopan mas.
Aku : Waduh serem amat pak, terus kalau sampai masuk pasar itu gimana pak?
Pak becak : Ya kalau kita ga kuat bisa pingsan dijalan pak. Disana bakalan ditampakin penduduk desa demitnya mas,
Dalam hati aku bersyukur untung ga sampai mampir kepasar demit. Hufft,ibu ku kenapa ga cerita masalah ini yah. Kalau saja sudah diceritakan kan jadi ada persiapan, Mau kirim anaknya buat sekolah dikampung tapi ga bilang apa apa. Untung aja anakmu ga pingsan dijalan.
Pak becak : Mas kan rumahnya deket balai desa jangan aja main kesitu lebih dari jam 9 malem yah mas..
Aku : Emangnya kenapa pak ? Angker yah..
Pak becak : Entar mas juga tau dari orang sini ,, saya ga berani cerita ini masih wilayahnya soalnya mas...
Bersambung ke part II..... lanjut besok ya merinding disko nih ngetiknya
.
Aku : “Pak ini ko jalan gak dibenerin sih pak, udah ancur gini padahal?”
Pak Becak :“Oh nganu mas, ga tau juga saya udah lama gak dibenerin udah 6 tahun dibiarin gini aja mas”
Aku : “ Udah lama juga yah pak, terakhir saya kesini 6 tahun lalu pak, makannya saya bingung ko jalannya bukan nambah bagus malah nambah parah. Apa ngga ditanyain sama lurahnya Pak”
Pak becak : “ Sudah mas, tapi jawabnya ya gitu mas. Dananya belum ada katanya”
Saat asik berbicara tiba tiba ada sekelebat bayangan lewat tepat didepan becak. Tiba tiba saja aku merinding.
Aku : “ Pak tadi liat ada bayangan lewat ga pak?”
Pak becak tidak menjawab pertanyaanku. Aku coba bertanya lagi namun pak becak masih diam seribu bahasa. Tapi entah kenapa aku merasa becaknya melaju lebih cepat dari sebelumnya. Aku lihat kebelakang pak becak nampak berkeringat disekujur tubuhnya. Lantas ia memberi isyarat kepadaku untuk jangan berbicara. Aku tidak mengerti maksud pak becak. Namun aku yakin isyarat itu ada hubungannya dengan bayangan yang lewat tadi. Aku menurut saja dengan pak becak. Sepanjang jalan kami hanya diam. Dan sepanjang jalan itu juga bulu kudukku merinding bukan main. Sampai akhirnya kami melewati sebuah balai desa. Balai desa itu adalah balai desa kampungku. Balai desa yang tidak terlalu besar namun memiliki lapangan yang luas. Di sisi kanannya ada pohon beringin besar. Didepan balai desa ada 4 pohon cemara yang sudah sangat tinggi. Entah kenapa tepat sampai disini aku merasa pak becak semakin cepat mengayuh becaknya. Firasatku makin tak enak, sepertinya pak becak tau sesuatu tentang tempat ini. Becak melaju dengan cepat gerimis masih menemani perjalanan kami sepi lengang ditambah dengan suasana ganjil ini. Sampai akhirnya kita akan melewati sebuah jembatan. Aku melihat ada wanita yang sedang duduk dijembatan itu. Mengadap kebelakang sambil mengayun ayunkan kakinya. Aku tau kalau itu bukan manusia. Malam malam begini ditambah suasana ganjil ini mana mungkin wanita itu manusia. Aku merinding bukan main. Aku menengok ke pak becak. Terlihat kringat pak becak makin membanjir Dia menggeleng gelengkan kepala dan memberi isyarat kepadaku untuk tetap diam. Aku tak tau harus bagaimana jadi aku menurut saja dengan yang dikatakan oleh pak becak. Wanita itu masih ada di jembatan itu masih mengayun ayukan kakinya. Rambutnya panjang sepinggang. Baju putih yang sudah tercampur dengan tanah menjadi lusuh dan berwarna kecoklat coklatan. Hingga akhirnya kami lewat tepat dibelakangnya aku tak berani menoleh. Bau busuk menusuk hidung. Benar benar busuk baunya sampai sampai aku mau muntah. Kami makin jauh melewati wanita tadi sekarang baunya sudah tidak begitu terasa. Pak becak mulai menghela nafas, becak kembali berjalan lambat. Aku pun sudah tidak mencium bau busuk lagi. Aku mulai memberanikan diri bertanya kembali dengan pak becak.
Aku : “ Pak yang tadi itu bukan manusia kan ?”
Pak becak : “ Demit itu mas, mana mungkin manusia malem malem duduk dijembatan sendirian. Mana perempuan lagi, sebenernya bayangan yang mas liat itu perempuan yang tadi dijembatan mas’
Aku : “ Owh, saya bener bener takut pak. Hampir kencing dicelana saya. Terus tadi kenapa bapak suruh saya diem aja?
Pak Becak : “ Mas emang pas 6 tahun lalu kesini ga tau apa apa mas tentang cerita kampung mas?”
Aku : “ Gak pak, Saya kesini 6 tahun lalu kesini Cuma main beberapa hari aja. Itupun saya naik mobil tau tau udah sampai rumah nenek.”
Pak becak : “ Jalan yang pas mas liat bayangan itu pintu masuk kampung demit mas, didesa mas ini ada kampung demit mas. Nah balai desa sampai ngelewatin jembatan itu pasarnya mas. Kenapa saya suruh mas diem aja. Soalnya konon kalau kita liat penampakan perempuan tadi terus dia noleh kekita terus senyum sambil nunjukin wajah ancurnya dia bakalan buka pintu pasar demitnya mas. Dan kita bisa kesasar disana mas. Kalau kita diem dia kira kita sopan mas.
Aku : Waduh serem amat pak, terus kalau sampai masuk pasar itu gimana pak?
Pak becak : Ya kalau kita ga kuat bisa pingsan dijalan pak. Disana bakalan ditampakin penduduk desa demitnya mas,
Dalam hati aku bersyukur untung ga sampai mampir kepasar demit. Hufft,ibu ku kenapa ga cerita masalah ini yah. Kalau saja sudah diceritakan kan jadi ada persiapan, Mau kirim anaknya buat sekolah dikampung tapi ga bilang apa apa. Untung aja anakmu ga pingsan dijalan.
Pak becak : Mas kan rumahnya deket balai desa jangan aja main kesitu lebih dari jam 9 malem yah mas..
Aku : Emangnya kenapa pak ? Angker yah..
Pak becak : Entar mas juga tau dari orang sini ,, saya ga berani cerita ini masih wilayahnya soalnya mas...
Bersambung ke part II..... lanjut besok ya merinding disko nih ngetiknya
Part II Penampakan 4 pocong
Part III Indra
Part IV Si mata merah
Part V Cerita dibalik Kesurupan
Part VI Kembalinya kuntilanak
Part VII Pocong dan Kunti
Thread ane lain di SFTH Tanpa Kaca Mata.. Mampir yah gan
Part VIII - Kebenaran dukun desa
Part IX - Andi, Joni Dan Kuntilanak Merah
Part X - Kamis Sore Horror
Part XI - The Dukun Is Back
Part XII - Kesurupan Bagian Kedua
Part XIII - Penampakan Jin Pendamping
Part XIV - Teror jin pendamping
Part XV - Review Part I - Part XIV
Part XVI - Pak Joko Si Tukang kebun
Part XVII - Pertempuran pak Joko Vs jin Pendamping aka Khadam
Part XVIII - Firasat
Part XIX - Seminggu sebelum kematian pak joko
Part XX - Malam paling mencekam Part I
Part XXI - Malam paling Mencekam Part II
Part XXII - Misteri yang terpecahkan
Part XXIII - Identitas dibalik mbah ngadiman dukun desa misterius
Part XXIV - Kisah Yudi
Part XXV - Munculnya Penolong Baru
Part XXVI - Mendekati akhir cerita
Part XXVII - Bersekutu dengan jin
Part XXVIII - Hidup Atau Mati
Part XIX - Yang Nyata dan Tidak Nyata
Sekuel Balai Desa Merah
Quote:
Original Posted By pipiettripitaka►kebayang kalo jadi film, tp yg garap sineas thailand, kebayang tuh ngeri luar biasa. tengkyu udah berbagi cerita gan,, 5* buat agan,,
Quote:
Original Posted By paking.disgrace►Bagus gan critanya
Bisa membawa pembaca larut dalam alur ceritanya plus ada twist nya
Kasihan juga dengan pak joko, niat menolong nya kuat, sayang agak over PD ketika sukses menundukkan jin pendamping malah langsung nantang ke balai desa.
Udah gregetan pas agan disuruh minum tu air sumur, duh kenapa diminum sih, katanya klo ada hidangan dari jin jangan pernah disentuh.
Dari crita agan dan hasil penjelasan dari ust danu di TV, ternyata emang manusia dan jin berdampingan. Dan klo mo lawan jin, manusia/dukun akan juga mengandalkan jin juga. Mereka yg akan bertempur saling adu kuat. Dan makanan jin adalah sesaji dan memakai tumbal untuk memperbesar kekuatan mereka.
Yg paling baik emang berharap ke Allah semata, yg maha memiliki kekuatan.
Thx gan, atas critanya, jadi memperjelas apa yg selama ini ust danu sering cerita kan
Bisa membawa pembaca larut dalam alur ceritanya plus ada twist nya
Kasihan juga dengan pak joko, niat menolong nya kuat, sayang agak over PD ketika sukses menundukkan jin pendamping malah langsung nantang ke balai desa.
Udah gregetan pas agan disuruh minum tu air sumur, duh kenapa diminum sih, katanya klo ada hidangan dari jin jangan pernah disentuh.
Dari crita agan dan hasil penjelasan dari ust danu di TV, ternyata emang manusia dan jin berdampingan. Dan klo mo lawan jin, manusia/dukun akan juga mengandalkan jin juga. Mereka yg akan bertempur saling adu kuat. Dan makanan jin adalah sesaji dan memakai tumbal untuk memperbesar kekuatan mereka.
Yg paling baik emang berharap ke Allah semata, yg maha memiliki kekuatan.
Thx gan, atas critanya, jadi memperjelas apa yg selama ini ust danu sering cerita kan
Diubah oleh achanyoe 20-01-2019 16:15
arieaduh dan 37 lainnya memberi reputasi
38
146.1K
Kutip
749
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
achanyoe
#213
Quote:
Part X – Kamis Sore Horror
Spoiler for Hantu Raksasa:

Quote:
Seminggu sesudah kejadian andi dan joni. Mereka berdua udah mulai masuk sekolah lagi. Dan semenjak kejadian itu diputuskan bahwa gak akan pernah lagi ngadain belajar kelompok di rumah ane. Temen temen kelas ane kapok katanya. Tapi ane juga gak ambil pusing karena sebentar lagi liburan kenaikan kelas jadi gak akan ada belajar kelompok dalam waktu yang lama.
Setelah pembagian raport ane diajak jalan jalan kelaut, sama temen temen ane yang rumahnya deket laut. Disana katanya banyak ikan yang siap dibakar dan dimakan rame rame. Ane mau ikut, tapi sebelumnya ane bilang sama temen temen kalau berangkatnya harus siang - siang aja dan pulangnya juga pagi pagi biar sampai rumah siang soalnya jaraknya lumayan jauh dan waktu itu cuma ada sepeda. Ane jaga jaga aja, takut ada hal hal yang tidak diinginkan. Temen temen setuju sama syarat yang ane kasih,mereka juga khawatir kalau berangkat sama pulangnya malem malem. Takut ane kenapa kenapa.
Waktu itu tiba saatnya ane berangkat ke laut, ane jalan bareng sama andi dan joni. Tapi ane nunggu mereka dulu. Karena merekakan rumahnya harus ngelewatin desa ane. Ane nunggu dijalan agak jauh dari balai desa. Andi dan joni yang nyuruh ane nunggu disitu. Padahal kalau nunggu dideket balai desa lebih enak. Karena nanti toh harus lewat sini juga kalau mau kelaut. Tapi mereka minta ditemenin ngelewatin balai desa biar ada warga aslinya katanya. Padahal mah ane lebih parah dikerjainnya daripada mereka.
Ane nunggu lama banget, ane kesel soalnya janji jam 2 sekarang mau setengah 4 belum dateng juga tuh orang. Sedangkan ane gak tau dimana tempat temen ane yang ngajakin kelaut. Waktu itu belum punya hp jadi susah mau hubunginnya, Ane tunggu sampe jam 4, setengah 5 tapi gak dateng juga. Karena ane kesel akhirnya ane mutusin buat gak jadi ikut. Karena bentar lagi malem. Ane jalan pulang pas sampai depan balai desa ane lliat nenek ane lagi dibalai desa gak tau lagi ngapain ane samperin. Ane tanya lagi apa nek tapi dia gak jawab Mukanya juga pucet. Dan anehnya ane denger suara orang lagi pake mesin ketik. Padahal kalau diliat balai desanya kosong gak ada siapa siapa. Ane tegor lagi nenek tapi gak jawab jawab. Perasaan ane udah gak enak nih. Ane yakin ini bukan nenek ane soalnya lokasinya dibalai desa. Ane taksir itu jam 5 lewat tapi jam segitu udah sepi banget di balai desa. Apalagi ane baru inget kalau itu hari kamis dan bentar lagi udah mau malem. Suara orang pakai mesin ketiknya kedengeran jelas banget. Karena ane udah tau ada yang gak beres sama situasi ini. Ane putusin buat balik arah dan pergi. Tapi pas ane mau pergi ane bingung tiba tiba sepeda ane ilang padahal tadi ane parkir dibelakang ane, ane liat sekeliling gak ada dimanapun. Dan anehnya lagi, pas ane liat kearah nenek ane lagi. Nenek ane udah gak ada, berarti bener itu bukan nenek ane. Itu pasti salah satu penunggu balai desa yang ngejebak ane buat ane kebalai desa. Saat kejadian itu ane bingung mau nyari sepeda atau langsung kabur ninggalin sepeda yang entah dimana.
Tapi ane putusin buat kabur aja, ane lari kenceng banget tapi pas sampe gerbang ada sosok kaki raksasa yang gede banget didepan gerbang balai desa. Ane liat keatas, itu gak kelihatan ujungnya kepalanya sampai tembus awan. Dari kaki sampai badan itu badannya berbulu hitam. Liat penampakan itu ane gak berani lewat gerbang. Ane ketakutan bingung gak bisa lari. Ada jalan keluar lain sebenernya Cuma itu lewat belakang balai desa dan itu tempat pertama kali indra nampakin wujud seremnya. Karena rasa takut ane, ane mutusin buat lewat belakang balai desa, ane udah gak bisa mikir lagi. Pokoknya yang penting ane bisa pulang.
Ane ngelewatin kebon, ane lari secepet yang ane bisa. Sampai didalem kebon ane kaget soalnya ane liat sepeda ane kok ada disitu. Ane liat kebelakang si jin berwujud raksasa gak ngejar ane, ane liat sekeliling juga gak ada penampakan menyeramkan. Ane lari ke sepeda ane, sialnya pas ane udah mau deket dari belakang pohon ada pocong nongolin kepalanya aja. Ane teriak sekenceng kencengnya karena kaget. Itu pocong tiba tiba nongol dengan wajah seremnya yang rusak. Ane mundur perlahan dari sepeda ane, itu pocong masih aja liatin ane terus. Masa bodoh sama sepeda yang penting ane lari dari pocong itu. Ane liat kebelakang pocongnya liatin aja dari sana. Dan kampretnya baru aja liat kedepan itu pocong udah ada didepan ane.
Ane jatoh gitu aja gan gak bisa ngerem lari ane yang lagi kenceng – kencengnya. Ane Cuma bisa nunduk ketanah gak mau liat tuh muka pocong karena ancurnya. Ane Cuma bisa liat kain kafan bagian bawahnya aja. Ane baca baca sebisa ane, pocong makin lama makin ngedeket ke ane. Ane udah pasrah aja. Terserahlah tuh pocong mau ngapain. Ane juga udah lemes lari lari dari tadi.
Sukurya pertolongan itu datang gan, ane denger suara adzan magrib berkumandang. Pas adzan itu pocong tiba tiba ngilang gitu aja. Ane liat sekitar gak ada tuh pocong. Ane pikir mungkin dia lari pas denger adzan. Ane gak pikir panjang, ane langsung lari kerumah. Pas udah sampe rumah, ane heran sepeda ane kenapa ada didepan rumah. Dalam hati ane jancuk nih setan, ngerjain ane sampe segitunya.
Bersambung..
Setelah pembagian raport ane diajak jalan jalan kelaut, sama temen temen ane yang rumahnya deket laut. Disana katanya banyak ikan yang siap dibakar dan dimakan rame rame. Ane mau ikut, tapi sebelumnya ane bilang sama temen temen kalau berangkatnya harus siang - siang aja dan pulangnya juga pagi pagi biar sampai rumah siang soalnya jaraknya lumayan jauh dan waktu itu cuma ada sepeda. Ane jaga jaga aja, takut ada hal hal yang tidak diinginkan. Temen temen setuju sama syarat yang ane kasih,mereka juga khawatir kalau berangkat sama pulangnya malem malem. Takut ane kenapa kenapa.
Waktu itu tiba saatnya ane berangkat ke laut, ane jalan bareng sama andi dan joni. Tapi ane nunggu mereka dulu. Karena merekakan rumahnya harus ngelewatin desa ane. Ane nunggu dijalan agak jauh dari balai desa. Andi dan joni yang nyuruh ane nunggu disitu. Padahal kalau nunggu dideket balai desa lebih enak. Karena nanti toh harus lewat sini juga kalau mau kelaut. Tapi mereka minta ditemenin ngelewatin balai desa biar ada warga aslinya katanya. Padahal mah ane lebih parah dikerjainnya daripada mereka.
Ane nunggu lama banget, ane kesel soalnya janji jam 2 sekarang mau setengah 4 belum dateng juga tuh orang. Sedangkan ane gak tau dimana tempat temen ane yang ngajakin kelaut. Waktu itu belum punya hp jadi susah mau hubunginnya, Ane tunggu sampe jam 4, setengah 5 tapi gak dateng juga. Karena ane kesel akhirnya ane mutusin buat gak jadi ikut. Karena bentar lagi malem. Ane jalan pulang pas sampai depan balai desa ane lliat nenek ane lagi dibalai desa gak tau lagi ngapain ane samperin. Ane tanya lagi apa nek tapi dia gak jawab Mukanya juga pucet. Dan anehnya ane denger suara orang lagi pake mesin ketik. Padahal kalau diliat balai desanya kosong gak ada siapa siapa. Ane tegor lagi nenek tapi gak jawab jawab. Perasaan ane udah gak enak nih. Ane yakin ini bukan nenek ane soalnya lokasinya dibalai desa. Ane taksir itu jam 5 lewat tapi jam segitu udah sepi banget di balai desa. Apalagi ane baru inget kalau itu hari kamis dan bentar lagi udah mau malem. Suara orang pakai mesin ketiknya kedengeran jelas banget. Karena ane udah tau ada yang gak beres sama situasi ini. Ane putusin buat balik arah dan pergi. Tapi pas ane mau pergi ane bingung tiba tiba sepeda ane ilang padahal tadi ane parkir dibelakang ane, ane liat sekeliling gak ada dimanapun. Dan anehnya lagi, pas ane liat kearah nenek ane lagi. Nenek ane udah gak ada, berarti bener itu bukan nenek ane. Itu pasti salah satu penunggu balai desa yang ngejebak ane buat ane kebalai desa. Saat kejadian itu ane bingung mau nyari sepeda atau langsung kabur ninggalin sepeda yang entah dimana.
Tapi ane putusin buat kabur aja, ane lari kenceng banget tapi pas sampe gerbang ada sosok kaki raksasa yang gede banget didepan gerbang balai desa. Ane liat keatas, itu gak kelihatan ujungnya kepalanya sampai tembus awan. Dari kaki sampai badan itu badannya berbulu hitam. Liat penampakan itu ane gak berani lewat gerbang. Ane ketakutan bingung gak bisa lari. Ada jalan keluar lain sebenernya Cuma itu lewat belakang balai desa dan itu tempat pertama kali indra nampakin wujud seremnya. Karena rasa takut ane, ane mutusin buat lewat belakang balai desa, ane udah gak bisa mikir lagi. Pokoknya yang penting ane bisa pulang.
Ane ngelewatin kebon, ane lari secepet yang ane bisa. Sampai didalem kebon ane kaget soalnya ane liat sepeda ane kok ada disitu. Ane liat kebelakang si jin berwujud raksasa gak ngejar ane, ane liat sekeliling juga gak ada penampakan menyeramkan. Ane lari ke sepeda ane, sialnya pas ane udah mau deket dari belakang pohon ada pocong nongolin kepalanya aja. Ane teriak sekenceng kencengnya karena kaget. Itu pocong tiba tiba nongol dengan wajah seremnya yang rusak. Ane mundur perlahan dari sepeda ane, itu pocong masih aja liatin ane terus. Masa bodoh sama sepeda yang penting ane lari dari pocong itu. Ane liat kebelakang pocongnya liatin aja dari sana. Dan kampretnya baru aja liat kedepan itu pocong udah ada didepan ane.
Ane jatoh gitu aja gan gak bisa ngerem lari ane yang lagi kenceng – kencengnya. Ane Cuma bisa nunduk ketanah gak mau liat tuh muka pocong karena ancurnya. Ane Cuma bisa liat kain kafan bagian bawahnya aja. Ane baca baca sebisa ane, pocong makin lama makin ngedeket ke ane. Ane udah pasrah aja. Terserahlah tuh pocong mau ngapain. Ane juga udah lemes lari lari dari tadi.
Sukurya pertolongan itu datang gan, ane denger suara adzan magrib berkumandang. Pas adzan itu pocong tiba tiba ngilang gitu aja. Ane liat sekitar gak ada tuh pocong. Ane pikir mungkin dia lari pas denger adzan. Ane gak pikir panjang, ane langsung lari kerumah. Pas udah sampe rumah, ane heran sepeda ane kenapa ada didepan rumah. Dalam hati ane jancuk nih setan, ngerjain ane sampe segitunya.
Bersambung..
Diubah oleh achanyoe 15-04-2017 09:58
sampeuk dan 12 lainnya memberi reputasi
13
Kutip
Balas
Tutup