Kertas
Quote:
“Teo...”, kata Luna manja
Kali ini aku melakukannya dengan Luna dan tak lama jemputan pun datang.
“hei, stop dulu, pak Jono udah dateng”, kata Rathi
Kamipun langsung bangun dan bersiap pulang. selama perjalanan pulang pak Jono hanya senyam-senyum melihat ku, dan menggelengkan kepala. Akhirnya sampai di rumah Luna, dan dia pamitan kepada kami.
“awas yang, nanti kamu di gigit tuh. Thi jangan apa-apan ayang aku”, ledek Luna lalu menutup pintu
Pak Jono pun tertawa mendengarnya. Rathi terluhat cuek dengan merangkul tanganku. Akhirnya sampai di rumahku, dan akupun pamit ke mereka, lalu saat dirumah.
“baru sampe mas?”, kata bibi
“iya bi, cape banget”, jawabku sambil menaiki tangga
Di kamar akupun langsung rebahan. Ku lihat jam ternyata jam 3 sore. Tak lama akupun tertidur.
Akupun terbangun lalu melihat jam, masih jam 5 tak lama terdengar pintu kamarku di ketuk
“Teo bangun, kamu harus sekolah kan sekarang”, kata ibuku
Ku lihat jam masih jam 5
“aku kan masih libur bu”, jawabku
“libur gimana, ini udah pagi”, kata ibuku
“hah! Pagi?! Yang bener bu?”, tanyaku
“iya, mangkanya bangun”, kta ibuku
“iya ini udah bangun”, kataku
Akupun pun mencoba meyakinkan diriku dengan membuka tirai dan memang gelap. Berarti aku tidur sangat lama. Akupun mandi dan bersiap kesekolah.
“hampir di bawa ke rumah sakit kamu sama ayah”, kata ibuku
“ko gitu?”, tanyaku
“kamu di bangunin ga bangun-bangun, udah gitu telepon dari Rathi sama Luna nanyain kamu terus sampe bosen ibu”, kata ibuku
“maaf bu, aku juga ga tau kenapa bisa tidur lama gitu”, kataku
“yaudah kamu sarapan”, kata ibuku
“aku ga laper bu, nunggu bentar lagi berangkat, di sekolah masih kosong jam segini”, kataku
Ibuku pun menyuapi Violet, dan bersiap berangkat. Tak lama ibuku berangkat akupun berangkat sekolah.
Sesampainya di kelaspun belum ada orang, lalu
“Teo, aku mau ngomong bentar”, kata Vivi menarik tanganku
akupun kaget, karena Vivi muncul entah dari mana. Dia menariku ke belakang kantin.
“maaf aku tarik kamu. Huffff. Aku mau nanya, kamu pacaran sama Rathi apa Luna?”, kata Vivi
“dua-duanya”, jawabku ketus
“serius Teo”, tanyanya
“iya”, jawabku
“kenapa?”, lanjutku
“aku mau minta maaf. Aku tau aku salah, selama kamu jauhin aku, aku nyoba buat deketin kamu tapi kamu sama mereka terus”, kata Vivi
“terus?”, kataku
“aku masih sayang sama kamu, aku mau kita kaya dulu lagi”, katanya
Akupun langsung menghela nafas panjang
“sory, gua ga bisa”, kataku sambil meninggalkan Vivi,
Ternyata di balik tembok ada Luna. Akupun kaget melihatnya, lalu dia merangkul tanganku.
“Lun...”, sapaku
Namun dia tidak menjawab, sesampainya di kelasku diapun hanya diam saja, samapi akhirnya Rathi datang
“haloooo”, sapa Rathi
“hai Thi”, kataku
Luna masih saja diam, suasana kelas pun mulai ramai karena murid lain sudah mulai berdatangan.
“Lun kamu ko diem aja”, kataku
Lalu Luna menarikku dan Rathi ke dekat tiang bendera dan duduk disana.
“ada apa Lun?”, tanya Rathi dengan wajah serius
“Teo di tembak cewe tadi”, kata Luna
Akupun langsung melihat Rathi
“siapa yang nembak?”, kata Rathi dengan wajah kesal
“Vivi”, jawab Luna
Rathi langsung bangun namun di tahan Luna
“ga usah Thi”, kata Luna
“Teo jelasin sama aku”, kata Rathi
“jadi gini....”, belum aku selesai bicara Luna memotongnya
“jadi tadi pagi aku baru dateng, dari jauh aku liat Teo di tarik sama Vivi, yaudah aku ikutin aja mereka, ternyata Vivi nanya pacarnya Teo itu
kamu apa aku. Abis itu dia bilang masih sayang sama Teo”, kata Luna lalu menutup mukanya
Raut wajah Rathi terlihat sangat emosi, sepertinya ingin berkata sesusatu tapi masih di tahan
“terus Lun”, kata Rathi
“dia di tolak sama Teo, udah gitu dia bilang kalo pacarnya Teo itu aku sama kamu”, kata Luna
“kamu tu tadi kalo ada pasti kaget Thi, bisa aku bayangin kaya gimana kerennya Teo, udah bilang gitu dia langsung pergi gitu ninggalin Vivi”, lanjutnya dengan wajah yang berseri
“LUNAAAAA!! aku udah tegang aja, kirain ada apa! Dasar!”, teriak Rathi sambil memukulku
“ko aku yang di pukul Thi?”, tanyaku
“maaf yang. Abis aku kesel, kirain aku ada apa”, kata Rathi sambil membenamkan mukanya di bahuku
Luna pun tertawa senang melihat Rathi yang salting seperti itu. suasana yang tegang tadi langsung menjadi cair sampai bel masuk pun berbunyi.
“Lun, jangan apa-apain ayang aku”, kata Rathi
“kan dia ayang aku juga. Weeee”, balas Luna mencibir sambil merangkulku.
Oh iya, bel masuk ini bukan bel masuk sekolah ya, tapi pembagian kelas untuk kelas 2. Selebaran di bagikan oleh Iam, kami memang belum pindah dari gedung kelas 1, besok baru kami langsung menempati gedung baru untuk kelas 3 dan kelas 2.
“ini selebaran buat tau kita di tempatin di kelas mana nanti, semua kebagian, jadi antri”, kata Iam
Saat selebaran sudah di bagikan semua, ada yang senang karena sekelas dengan temannya, ada yang sedih karena harus pisah. Saat ku lihat punyaku