- Beranda
- Stories from the Heart
T University 2 (Season 2)
...
TS
anism
T University 2 (Season 2)

Cover Super Keren by Awayaye <Ane minta
> Terima banyak untuk respon positif agan dan aganwati di thread sebelumnya. T University.
Bagi yang belum membacanya. Bisa mengklik judul dibawah ini.
T University
Spoiler for Daftar Isi/Case 1 : Lost Son:
Case 1 Finish
Spoiler for Case 2 : Lativa's Twins Terror:
Case 2 Finish
Spoiler for Case 3 : Arelia And Edward:
Case 3 Finish
Spoiler for Samantha And Mom:
Finish
Spoiler for Case 4 : Johnny Comes Back To China or England:
Case 4 Finish
Spoiler for Case 5 : King Killer's Son:
Case 5 Finish
Spoiler for Case 6 : Losing In A Plane:
Diubah oleh anism 30-05-2019 17:56
anasabila memberi reputasi
1
21.7K
198
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
anism
#32
Don't Get Apart Again : Chosen
“Bisakah kalian membantuku? Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan Adam dengan semua hartaku setelah aku mati kelak.”, ujar Hugo.
“Kenapa dia tidak sekalian membuat sebuah wasiat agar dia dikuburkan bersama harta-hartanya?”, bisik Romeo kepada Gerry yang sebenarnya sengaja untuk diperdengarkan. Gerry hanya bisa tertawa geli.
“Anda mempermudah kerja kami. Ayo, mungkin kami harus minta maaf. Karena tanpa kami sadari bahwa putra Anda telah bersama kami selama beberapa minggu lalu. Anda ingat? Anak di dalam bus yang duduk bersama Anda saat kami mencu…. Ah, saat kami menjemput Anda.”, ujar Cindy bersemangat.
“Anak itu?”, tanpa sadar air mata menggenang di pipi keriput Hugo. Ia tidak sanggup menahannya lebih lama lagi.
“Tapi….”, dia mendesis.
“Tapi?”, tanya Cindy.
“Mengapa aku bisa mengingatnya sekarang?”, tanya Hugo.
“Anda mungkin terlalu banyak mendengarkan Adam.”, tegas Cindy.
“Dia salah satu keluargaku yang tersisa. Anda tidak bisa menuduhnya sembarangan.”, ujar Hugo tidak senang.
“Tapi, kini apa yang harus aku lakukan?”, Hugo tampak bingung.
“Maksudmu soal apa yang harus kamu lakukan terhadap Adam?’, tanya Cindy.
“Iya.”, jawab Hugo lemah.
“Anda punya seorang yang adalah putra Anda sekarang. Dia tidak mengenal Anda pastinya. Tapi tidak ada yang bisa memisahkan kekentalan darah. Anda bisa melihat bahwa kalian punya banyak kesamaan struktur tubuh. Oke lupakan itu. Sekarang saatnya kalian saling mendekatkan diri. Kami akan meminta orang untuk menguruskan surat pengalihan adopsi Kleint kepada Anda.”, Samantha mengambil alih kali ini.
“Adam? Anda mau berurusan dengannya dan merebut kembali harta Anda atau memilih untuk meninggalkan semua dan memperoleh putra Anda kembali?”, tawar Arelia.
“Berikan saja padanya. Sedari awal dia sangat tertarik untuk mengurusnya.”, gelak Hugo.
“Aku suka orang seperti ini.”, ujar Johnny.
Pertama kalinya. Mereka melihat senyum normal yang bahagia di muka seorang Hugo. Mereka yakin ada secercah sinar dalam kasus ini.
Maka, mereka kembali dan mengemasi barang. Adam ada di sana. Melihat dengan pandangan nyalang. Ia tampak ingin berbicara dengan Hugo.
Hugo tampak tak bisa mengacuhkan orang yang telah setia dengannya selama bertahun-tahun.
Dia mendekati pria itu. Menepuk pundak pria yang belakangan ini mulai kurang tegap. Mungkin karena tekanan dari para murid-murid itu.
“Adam, terima kasih atas apa yang sudah kamu lakukan selama ini. Aku tidak bisa memberikan apa-apa untuk kesetiaanmu. Mungkin aku sudah harus memilih kehidupan yang bebas. Aku ingin menyerahkan segalanya untukmu.”, ujar Hugo. Tiada ekspresi dari Adam.
--- Dan begitulah, saat itu. Hugo dan kekayaan menjadi dua hal yang berbeda. Bukanlah teman lagi. ---
Dia memilih Kleint, putranya. Hidup di sebuah rumah sederhana yang dia beli. Dan menggunakan uang di rekeningnya. Dia siapkan untuk putranya hingga ia berusia 18 tahun.
First Case Finish
“Bisakah kalian membantuku? Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan Adam dengan semua hartaku setelah aku mati kelak.”, ujar Hugo.
“Kenapa dia tidak sekalian membuat sebuah wasiat agar dia dikuburkan bersama harta-hartanya?”, bisik Romeo kepada Gerry yang sebenarnya sengaja untuk diperdengarkan. Gerry hanya bisa tertawa geli.
“Anda mempermudah kerja kami. Ayo, mungkin kami harus minta maaf. Karena tanpa kami sadari bahwa putra Anda telah bersama kami selama beberapa minggu lalu. Anda ingat? Anak di dalam bus yang duduk bersama Anda saat kami mencu…. Ah, saat kami menjemput Anda.”, ujar Cindy bersemangat.
“Anak itu?”, tanpa sadar air mata menggenang di pipi keriput Hugo. Ia tidak sanggup menahannya lebih lama lagi.
“Tapi….”, dia mendesis.
“Tapi?”, tanya Cindy.
“Mengapa aku bisa mengingatnya sekarang?”, tanya Hugo.
“Anda mungkin terlalu banyak mendengarkan Adam.”, tegas Cindy.
“Dia salah satu keluargaku yang tersisa. Anda tidak bisa menuduhnya sembarangan.”, ujar Hugo tidak senang.
“Tapi, kini apa yang harus aku lakukan?”, Hugo tampak bingung.
“Maksudmu soal apa yang harus kamu lakukan terhadap Adam?’, tanya Cindy.
“Iya.”, jawab Hugo lemah.
“Anda punya seorang yang adalah putra Anda sekarang. Dia tidak mengenal Anda pastinya. Tapi tidak ada yang bisa memisahkan kekentalan darah. Anda bisa melihat bahwa kalian punya banyak kesamaan struktur tubuh. Oke lupakan itu. Sekarang saatnya kalian saling mendekatkan diri. Kami akan meminta orang untuk menguruskan surat pengalihan adopsi Kleint kepada Anda.”, Samantha mengambil alih kali ini.
“Adam? Anda mau berurusan dengannya dan merebut kembali harta Anda atau memilih untuk meninggalkan semua dan memperoleh putra Anda kembali?”, tawar Arelia.
“Berikan saja padanya. Sedari awal dia sangat tertarik untuk mengurusnya.”, gelak Hugo.
“Aku suka orang seperti ini.”, ujar Johnny.
Pertama kalinya. Mereka melihat senyum normal yang bahagia di muka seorang Hugo. Mereka yakin ada secercah sinar dalam kasus ini.
Maka, mereka kembali dan mengemasi barang. Adam ada di sana. Melihat dengan pandangan nyalang. Ia tampak ingin berbicara dengan Hugo.
Hugo tampak tak bisa mengacuhkan orang yang telah setia dengannya selama bertahun-tahun.
Dia mendekati pria itu. Menepuk pundak pria yang belakangan ini mulai kurang tegap. Mungkin karena tekanan dari para murid-murid itu.
“Adam, terima kasih atas apa yang sudah kamu lakukan selama ini. Aku tidak bisa memberikan apa-apa untuk kesetiaanmu. Mungkin aku sudah harus memilih kehidupan yang bebas. Aku ingin menyerahkan segalanya untukmu.”, ujar Hugo. Tiada ekspresi dari Adam.
--- Dan begitulah, saat itu. Hugo dan kekayaan menjadi dua hal yang berbeda. Bukanlah teman lagi. ---
Dia memilih Kleint, putranya. Hidup di sebuah rumah sederhana yang dia beli. Dan menggunakan uang di rekeningnya. Dia siapkan untuk putranya hingga ia berusia 18 tahun.
First Case Finish
Diubah oleh anism 12-03-2017 21:48
0