Quote:
Masih dihari yang sama, dimana Agri sempat menjadi bulan2an Irfan ketika itu, masih dibawah ancaman balok kayu yang sedang diayun2 Irfan, aku sama sekali tak melihat adanya celah bagi Agri, namun gak tahu bagaimana awalnya dia justru bisa membalik keadaan dan sukses membuat Irfan jatuh tersungkur dan terluka lebih parah dari sebelumnya, masih dengan emosi yang meledak2 ketika itu dengan cepat aku segera menghampirinya dan memeluknya dari belakang, hingga sesaat diapun kembali tenang, aku menasehatinya untuk tak melanjutkan keributan, dan memintanya saling meminta maaf sebelum terjadi hal yang lebih fatal, walau kulihat sangat sulit bagi Agri ketika itu untuk mengabulkan permintaanku, tapi dia telah berusaha sekeras yang dia bisa, dia segera menghampiri Irfan yang kala itu sedang dievakuasi oleh beberapa petugas keamanan, itulah sebuah kecerobohan yang selanjutnya sangat2 kusesali selama hidupku, jadi saat Agri hendak memberi jabat tangan ke Irfan sebagai tanda permintaan maaf, bersamaan waktu itu pula kulihat Irfan mencabut sebuah belati dari balik sakunya yang selanjutnya ditikamkanya ke arah Agri, sadar ada yang salah aku segera menuju kesana untuk mencoba melerai mereka, sebelum akhirnya tiba2 aku telah berada di tengah2 arena perang mereka, berikutnya aku sengaja mencoba menjadi tameng untuk Agri dengan terpaksa merelakan kedua tanganku untuk menghambat laju belati itu mengenai tubuhnya, dan hanya sampai disitu yang selanjutnya selama beberapa hari aku tak ingat lagi apa2 karena keadaanku waktu itu kritis
Aku tersadar setelah mungkin sudah beberapa hari dirawat di rumah sakit, dimana saat pertama kali aku membuka mata sudah nampak Agri disana yang menemaniku, dari raut wajahnya dia tampak merasa bersalah dan menyesal, berulang kali dia meminta maaf padaku atas peristiwa yang mengharuskanku selama beberapa hari ini dirawat di rumah sakit, belum sempat kita berbincang kemudian dia pamit meninggalkanku untuk memanggil dokter dan memberitahukan keadaanku yang telah siuman, hingga beberapa menit setelahnya telah datang bersamanya sang dokter juga seorang perawat, dari beberapa penjelasan dokter dikatakan aku sempet kritis beberapa hari, dimana sedikit saja waktu itu aku terlambat mendapatkan donor kemungkinan aku sudah tak tertolong, dari sang dokter juga kuketahui bahwa Agri lah orang yang telah mendonorkan darahnya untukku, sumpah antara terharu juga bahagia aku bingung mengungkapkanya, setiba dokter tadi meninggalkan ruangan langsung saja aku menangis di bahu Agri ketika itu, diam2 aku telah membuat sumpah dimana jika hari ini mungkin baru darahnya yang telah bercampur dan ikut mengalir dalam tubuhku, maka berikutnya kujanjikan bila sebagian tulang rusuknya juga ada padaku, begitulah aku kemudian mengibaratkanya, yang selanjutnya kita berdua mengamininya
Semenjak hari ini panggilan ku padanya pun turut berubah, dimana yang biasanya hanya saling sebut nama kini aku memanggilnya seperti panggilan Astri kepadanya, masih belum dapat kupercaya, bahwa dengan aku mendapatkan musibah seperti ini ternyata semakin mendekatkan hubungan kita lebih dari sebelum2nya, dimana aku yang biasa senantiasa kurang mendapat perhatianya, namun saat ini perhatian dan kasih sayangnya dapat kenyang kurasakan, jika memang musibah ini bisa merubahnya menjadi seperti yang sekarang, aku rela jika seterusnya merasakan sakit ini, asalkan dia terus selalu ada bersamaku, itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri buatku
Tepat beberapa hari setelah aku dirawat dimana setiap harinya aku menjadi tak kesepian lagi karena terus selalu ditemani oleh Agri, aku puas2kan setiap malam selalu berdua denganya, ada banyak moment2 romantis yang terjadi walaupun sengaja harus kuciptakan sendiri, karena dia masih seperti biasanya yang kurang peka dan kurang inisiatif jadi sulit untuk aku mengharapkan lebih darinya, tapi kesenanganku kemudian segera terusik setelah kehadiran Astri yang kala itu datang menjenguk, bersamaan dengan itu pula kurasakan perhatianya mulai ikut luntur dan kembali lagi seperti di awal2, bagaimana bisa kehadiran seorang Astri telah begitu banyak membuat sebuah perbedaan, peristiwa2 yang sebelumnya terjadi beberapa hari ini seakan demikian mudah berusaha dia lupakan, dengan menganggapnya seperti tak pernah terjadi, ibarat aku ini anak seorang tetangga yang baru saja senang dikasih pinjam sebuah mainan, namun belum juga genap satu hari mainan itu diambil lagi oleh pemiliknya, ya kira2 seperti itulah perasaanku ketika itu
Hari ini tepat 10 hari atau lebih dari seminggu aku dirawat disini, dan dokter sudah mengijinkanku untuk pulang waktu itu, sebelumnya aku sempat tak enak dikarenakan semua biaya perawatan ditanggung semua oleh keluarga Agri, mereka juga turut mengantarku sampai kerumah ketika itu, sekarang bagaimana caraku untuk membalas kebaikan mereka, tentu saja dengan berusaha menjadi sebaik2nya calon menantu mereka, atau calon istri yang sholehah bagi Agri, hahaha apa aku mungkin terlalu banyak berharap ya? namun cukup kuaminkan saja, karena belakangan memang sempat kuketahui juga bahwa sebelumnya ada sebuah pembicaraan tepatnya antara Papaku dan Bokapnya Agri yang lebih kurangnya akan menjodohkan kami berdua
Hari pertama aku masuk sekolah setelah lebih 10 hari aku absen, posisi bangku telah banyak berubah, kudapati ketika itu Agri dan Astri duduk sebangku sedang bangku belakang mereka terisi oleh Doni dan Putri, satu2nya bangku yang tersisa ketika itu adalah bangku pojok belakang namun posisinya bersebrangan dengan bangku Agri, manapula cuman hanya aku seorang yang mengisinya, yah dari pada gak kebagian tempat segera saja kulempar tas kesitu dan selekas meninggalkannya ke kantin, memang sebuah kebiasaanku dipagi hari selalu memesan teh hangat, aku memang ada sedikit gejala Anemia, dimana sekali saja aku melupakan rutinirasku mengkonsumsinya akan berdampak banyak, seperti kehilangan konsentrasi belajar, mudah terserang kantuk saat dikelas, menderita pusing2, dan terparah kehilangan kesadaran, dulu pernah hingga beberapa kali aku pingsan dikelas, itulah sebab hingga di usiaku sekarang aku belum pernah berpuasa ramadhan secara penuh, begitu sekembalinya aku dari kantin kulihat disebelah bangku ku sudah ada Agri disana, sementara saat kupandangi Astri dia tampak cemberut ke arahku, yah dia ngambek lagi pikirku, padahal jelas2 Agri pindah bukan karena aku yang menyuruhnya bukan pula aku yang memintanya, tapi atas kemauanya sendiri, hingga selepas jam istirahat terakhir tasku tau2 berpindah tempat lagi kali ini berada di bangku sebelah Astri, sedang tas Agri di belakang bangkuku, pikirku wah ada apa lagi ini? dengan aku duduk sebangku lagi dengan Astri, sedang Agri duduk sebangku dengan Doni, yah finally posisi kita pun kembali seperti semula, sungguh sulit bagiku untuk memahami seorang Astri, jauh dari beberapa yang kukagumi darinya rupanya dia tetap saja masih anak2 dengan segala tingkah manja dan kekanakanya
Setelah beberapa waktu hubunganku dengan Agri sepertinya mulai membaik, di beberapa kesempatan saat kita sedang jalan berdua, sekarang dia tak lagi segan dan canggung menunjukkan sisi romantisnya dalam bentuk perhatian2nya, walaupun itu sebenarnya merupakan bentuk perhatian yang kecil, seperti saat kami sedang bersepeda gunung, beberapa kali dia menawariku minum dari bekal air mineral yang dia bawa, beberapa saat juga ketika kita lagi beristirahat dia menawari memijiti kakiku, mengusap peluh yang menetes di dahi dan mukaku dengan handuknya, sampai yang terakhir ketika telah sampai dipuncak dia meminta ijinku untuk bertanya, Ning mungkin dari masing2 kita sebenernya sudah sama2 mengetahui, tapi apakah boleh jika yang lainya turut pula menjadi saksi, katanya waktu itu, maksudnya? jawabku, ya aku ingin kisah kita bukan hanya menjadi milik kita berdua, biarlah disaksikan pula oleh Alam, belum terjawab! selekasnya dia dia langsung menuju ke arah tengah puncak dan meneriakkan, “Ning apakah aku boleh mencintaimu, dengan masih banyaknya kekurangan ada padaku, kurang romantis, kurang peka, dan kurang inisiatif seperti yang pernah kamu bilang, bisakah aku menjadi bagian paling berharga bagimu, menjadi orang teristimewa yang selalu dapat menjaga semua harapanmu, menjadi mata atas penglihatan, menjadi akhir dari sebuah awal, menjadi abstrak dalam bermacam rupa dan bentuk, dan menjadi tujuan dari sebuah pilihan”, begitulah pernyataanya waktu itu yang tak terasa di akhir kalimatnya air mataku telah banyak menetes, haru dan bahagia yang kurasakan, segera kususul dia yang selanjutnya menjatuhkan pelukanku padanya, turut kubenamkan pula wajahku di dadanya hingga kemudian menangis sejadinya, iya Gri jauh sebelum kamu mengatakanya, jawabanku adalah selalu iya untukmu! mungkin lebih dari seratus, seribu, bahkan pun berjuta iya untukmu tanda aku setuju
Ketika perjalanan pulang, karena mataku masih merah dan sembab sehabis nangis, dia malah mengejek dan menggodaku, masih nangis Ning, habis uang jajan ya, atau habis permen? tanyanya waktu itu, ini nangis juga karena siapa? kenapa sih kamu suka banget bikin aku nangis, jawabku berikutnya sambil meninju ujung lengannya, ya sekali2 aja aku ingin melakukanya buat kamu, emang kamu tadi gak seneng ya? tanyanya, ya seneng sih tapi kata2nya terlalu gombal aja menurutku seperti tak coba diucapkan dengan tulus, balasku kemudian, selanjutnya tiba2 dia berhentikan sepedanya pun demikian juga sepedaku, kemudian dia coba meraih tanganku dan menempelkanya ke dadanya, dapat kurasakan jantungnya berdegup kencang waktu itu, yah beginilah resiko kalo orang kurang bisa menyatakan isi hatinya, bermaksud ingin menyampaikan kejujuran, sedang si target justru gak berasa apapun bahkan seakan pesanku belum tersampaikan, cukup ketahuilah Ning dengan ini sebenarnya aku telah banyak berkorban, telah banyak waktu yang ku buang demi mempersiapkan untuk hari ini, sebelumnya sangat sulit bagiku berusaha mengurangi egoku, dan mencoba keluar dari zona nyaman, karena seperti yang kamu tau, sehari2 aku biasanya memang gak bisa menjadi orang lain, tapi terpaksa aku harus rela lakukan itu semua demi kamu demi untuk melihatmu bahagia, demi melihat seutas senyum yang terkembang dari bibirmu
Sekarang mungkin kamu juga dapat rasakan detak jantungku saat ini, apakah ini normal? kenapa itu hanya terjadi ketika aku bersamamu, bahkanpun ketika bersama Astri aku belum pernah sebelumnya merasakanya, aku akui bahwa aku takut untuk menghadapimu, aku takut memperlakukanmu dengan salah, itulah mengapa susah bagiku untuk mengawali sebuah topik pembicaraan denganmu karena aku takut menyakitimu lewat perkataanku, sedangkan tutur bahasaku yang memang dari dulu sangat payah dan kurang bisa diandalkan, seperti itulah kurang lebihnya semoga dapat menggambarkanmu tentang perasaanku, maka jika dengan berada di dekatmu belum bisa membuktikan sesuatu, dan belum bisa meyakinkanmu, aku bersedia melakukan apapun untukmu, penjelasanya panjang lebar waktu itu, dia baru bisa tenang dan berhenti bicara setelah ujung bibirku kemudian menyentuh bibirnya, ya ini adalah lips kiss kami yang ke sekian, tak perlu kamu buktikan, karena yang sebenranya aku sudah sangat percaya ke kamu, semua usaha dan perhatianmu selama ini sudah sangat bisa kurasakan, sangat bohong jika aku kemudian meragukanmu, dan untuk itu Mas jangan khawatir, jawabku kemudian, benarkah? yasudah sekarang satu lagi permintaanku berjanjilah untuk tak menangis lagi di hadapanku, karena sebuah tangisan terlebih dari seorang wanita, adalah kelemahan bagiku, dengan masih ada seorang gadis yang menangis di samping Mas terlebih itu akibat dari kesalahanku, ibaratnya aku udah gagal menjadi seorang laki2, lanjutnya, kemudian buru2 kuhapus air mata dan mencoba mengembangkan senyum termanis yang kupunya, nah begitu lebih baik, Mas akui kamu lebih cantik ketika dalam mode tersenyum
Hingga akhir kita kelas 2 tak banyak terjadi sesuatu, di kelas 3 juga tak banyak berubah, kelas masih dihuni oleh murid2 yang sama, ibaratnya kita hanya boyongan saja, soalnya memasuki kelas 3 tidak ada program secara khusus seperti kelas unggulan, tak ada pengelompokan berdasar kualitas, kita semua sama statusnya sama2 dipersiapkan untuk menghadapi UAN, ah iya ada sebuah moment ketika itu yang sangat mengecewakan, dimana untuk tradisi study tour untuk tahun itu sengaja ditiadakan karena adanya krisis moneter
Awal2 kami masuk kelas 3, kami dihebohkan bahwa ada salah satu siswi teman sekolah kami yang diketemukan OD di dalam kelas, yah orang itu adalah Nisa orang yang sempat kucurigai dulu memiliki hubungan istimewa dengan Agri, selama beberapa minggu itu dia diharuskan mendapatkan rehabilitasi, dan di waktu itu pula Agri seperti menghilang dari kehidupanku, waktunya sedemikian banyak dia curahkan pada sahabatnya itu, siapa orang pasti curiga akan hubungan keduanya dimasa lalu, sangat naïf jika menyimpulkan bahwa mereka sekedar sahabat, andaikan dia memang begitu baik apakah harus kepada semuanya, tak adakah yang secara khusus dia prioritaskan, contohnya kepadaku dan Astri yang jelas2 pacarnya waktu itu, sempat suatu kali kuprotes dan kutanyai apa motifnya selalu menemui Nisa, dan jawabanya hanya mengambang, jika kamu telah benar2 mengenal Mas pastinya kamu tahu apa yang menjadi tujuan Mas, tak lebih dari solidaritas antar teman untuk saling membantu yang sedang kesulitan, katanya waktu itu, melihat keadaan Nisa dia merasa seperti berkewajiban mendampinginya secara mental dan psikologis, lanjutnya, kemudian namun jawabanya sama sekali belum bisa memuaskanku, apakah hanya dia orang yang harus terus selalu berpura2 menjadi pahlawan, sedang masih ada orang tuanya yang bertanggung jawab penuh atas Nisa, juga perhatianya kepada Nisa apakah tak terlalu berlebihan, jika dia memang niat mau jadi super hero kenapa gak disama ratakan, kenapa gak semua manusia yang susah di dunia ini yang dia bantu, kenapa harus pilih NIsa, kataku waktu itu, andaikanpun jika dia ingin benar2 ingin membantu Nisa sebenarnya sangat mudah, cukup jangan kasih dia fasilitas, imbalan juga kemudahan, kasih aja dia waktu untuk instrospeksi dengan gitu dia akan sadar dengan sendirinya, ingat sudah berapa kali kamu udah bantu dia, dia udah menerima yang sepantasnya kamu beri sebagai seorang teman, sekarang giliran dia yang harus berusaha sendiri untuk mandiri, berdiri diatas kakinya sendiri tanpa harus mengandalkanmu, tanpa berkeluh kesah padamu, kataku di pengujung percakapanku, entahlah aku sulit memahami cara dia berfikir, hingga aku akhirnya gak tahan, dan mengharuskanya memilih antara tetap bertahan denganku atau berhenti memberi perhatian lebih ke Nisa, walau sedikit egois namun aku benar2 tak bisa menemukan cara lain untuk bisa menyadarkanya kecuali hanya dengan ini, kemudian diputuskan olehnya untuk memilih tetap bertahan denganku, sedang Nisa diserahkan sepenuhnya mengenai tanggung jawab dan perawatanya pada orang tuanya
Beberapa minggu setelah kejadian itu aku seperti menemukan babak baru dalam kehidupan percintaanku, dimana Agri telah kembali sepenuhnya seperti Agri yang kukenal dulu yang kian hangat menyayangiku, ditambah pula aku mulai mendapatkan kermbali perhatian2 kecil darinya yang sedikit aku kangen setelah selama beberapa minggu ini, beberapa kali kita juga rajin keluar, pokoknya beberapa bulan itu aku selalu dimanjakannya, diberikan hadiah2, dijanjikan untuk nonton dan dinner berdua, semakin lengkap ketika aku juga diperbolehkan main kerumahnya, entah setiap aku punya waktu luang aku selalu bertamu kerumahnya, walau bukan terkhusus menemui Agri tapi aku emang sengaja niatkan ingin dekat dengan keluarganya, terlebih adeknya si Nawang, sumpah andai dia itu manequin pengen saja kubawa pulang terus kubuat mainan.
Waktu berlalu sedang hubungan kami masih tetap harmonis, hingga pada sebuah waktu tepatnya sebelum akan diadakan pesta ultah temanku, kami sempat hampir bertengkar hebat kala itu, dia mengolokku untuk tak bersikap kolot dengan masih mempercayai sebuah ramalan bintang, kita banyak beradu argument ketika itu, tetapi atas dasarnya memang susah untuk dibuktikan akupun mengalah darinya, waktu itu sebenarnya hanya masalah sepele kita meributkan tentang masalah warna baju yang hendak kupakai ke pesta itu, waktu itu di ramalan dikatakan merah adalah warna yang buruk untukku pada minggu2 ini, tapi tak demikian menurut Agri, menurutnya aku lebih cantik dan pantas jika mengenakan yang merah diantara banyak pilihan warna lainya, karena tak mau berdebat dan sudah bosan selalu kalah darinya, selanjutnya aku menurutinya memakai baju yang dia suka, hingga saat tiba pada waktu hari H saat kami berdua mengahadiri pesta itu, aku mendapatkan sebuah kecelakaan, jadi ketika itu aku memang yang bertugas membawa kue tart untuk teman yang sedang berulang tahun, tanpa diduga sebagian rambutku ikut terbakar nyala api lilin pada kue tart itu, tentu saja setelah kami pulang tak henti2nya aku terus menyalahkan Agri atas tindakanya tadi yang tak mau mempercayaiku akan isi buku ramalan tersebut, namun dia juga tak mau kalah berdebat, dia balik menuduhku yang telah ceroboh dan kurang berhati2, berkeras tidak ada sangkut pautnya kejadian tadi dengan warna baju yang dipilihkannya untukku, karena sama sekali bajuku tak tersentuh api, itu alasanya, jadi Mas akan percaya pada ramalan itu jika baju ini juga ikut terbakar dan turut pula membakarku begitu, jadi Mas senang seperti itu? sergahku kemudian, dan dia hanya diam tak menjawab
Sebelumnya aku memang bukan orang bodoh yang dengan begitu saja mudah mempercayai sebuah isi ramalan, sebab aku terlahir memang untuk selalu berpikir logis dan rasional, tapi setelah semasa aku kecil ada beberapa banyak dalam ramalan itu yang kemudian terjadi dan telah beberapa menjadi kenyataan aku kemudian seperti mulai mempercayainya, salah satu contoh yang paling hangat adalah ketika pertemuan reuniku dengan Agri saat kita di kelas 2 berikut pula statusku yang turut pula berubah semenjak hari itu, siapa yang sangka semuanya sudah tertulis dalam ramalan itu, tapi memanglah sulit memang bagiku untuk membuktikanya, karena betapapun luar biasanya isi ramalan itu, tetap saja aku masih mempercayai adanya Tuhan berikut pula takdirnya, karena sesungguh2nya takdir yang benar dan kekal adalah semata2 miliknya, bukan dituliskan pada sebuah lembar majalah