- Beranda
- Stories from the Heart
PREMAN DAN WANITA BERCADAR
...
TS
laodetahsin
PREMAN DAN WANITA BERCADAR
Genre: Romantis, Horor, Aksi.
By
Laode Tahsin
Selamat pagi, aku mau minta ijin nulis cerita nih. Kisah romantis yang bercampur horror dan banyak aksi.
Nama-nama aku samarkan, jadi kalau ada kesamaan nama tokoh, peristiwa, dan tempat kejadian, tolong maafin ya guys.
Mau tahu kisah cinta mereka?
So, happy reading sobat dumay.

DAFTAR ISI :
Prolog
Part 1 - Penginapan Pertamaku
Part 2 - Persahabatan
Part 3 - Wanita Asing
Part 4 - Mata Ketiga
Part 5 - Pernikahanku Dengan Wanita Bercadar
Part 6 - Perpisahan Kedua
Part 7 - Cukup Satu Maria Yang Ku Cinta
Part 8 - Selamat Datang Anakku
Part 9 - Maria Dan Cadarnya
By
Laode Tahsin
Selamat pagi, aku mau minta ijin nulis cerita nih. Kisah romantis yang bercampur horror dan banyak aksi.
Nama-nama aku samarkan, jadi kalau ada kesamaan nama tokoh, peristiwa, dan tempat kejadian, tolong maafin ya guys.
Mau tahu kisah cinta mereka?
So, happy reading sobat dumay.

DAFTAR ISI :
Prolog
Part 1 - Penginapan Pertamaku
Part 2 - Persahabatan
Part 3 - Wanita Asing
Part 4 - Mata Ketiga
Part 5 - Pernikahanku Dengan Wanita Bercadar
Part 6 - Perpisahan Kedua
Part 7 - Cukup Satu Maria Yang Ku Cinta
Part 8 - Selamat Datang Anakku
Part 9 - Maria Dan Cadarnya
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 2 suara
Sobat mengira, Tina wanita bercadar itu? atau Maria?
Jelas bukan.
0%
Penasaran ya? hehehe..
100%
Diubah oleh laodetahsin 08-03-2017 17:36
anasabila memberi reputasi
1
19.9K
72
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
laodetahsin
#35
Part 7 - Cukup Satu Maria Yang Ku Cinta
Sebelumnya aku sempat kebingungan, karena aku bertemu dua wanita dengan karakter yang berbeda. Di saat itu pula, aku berpikir kalau Rina mengalami amnesia atau semacamnya.
Tapi aku salah, wanita yang ku kenal pertama itu kakak kembarnya, Marina Putri (Rina). Dan adiknya yang pendiam sekaligus pemarah, adalah Siti Maryam (Maria).
Kembali ke enam tahun lalu, saat aku baru keluar dari rumah tahanan. Saat itu, aku langsung pulang ke rumah menemui adikku.
“Assalamualaikum.” Ucapku di depan rumah.
‘Kakak? Ternyata kakak masih berani pulang ke rumah ini. Kakak sudah membuat malu nama keluarga!’ Ujar Shinta.
“Dek, maafkan kakak. Selama ini, kakak selalu membuat masalah. Kakak ga tau harus mulai dari mana sekarang.”
‘Kakak dulu juga pernah minta maaf ke Shinta. Hanya orang bodoh yang berbuat dua kali kesalahan yang sama kak!’
“Aku janji dek, kali ini aku akan berusaha mengubah perlakuan ku. Tolong maafkan kakak ya dek?”
‘Terserah kakak, Shinta mau ke rumah Paman.’
Aku terus meratapi nasibku di dalam kamar sembari melamun. Lalu paman datang menemuiku. Dia menanyakan apa yang ku rencanakan selanjutnya, dan aku menjawabnya untuk mencari pekerjaan yang halal.
Dimulai dari keesokan harinya, aku keliling toko dan beberapa pabrik, untuk melamar pekerjaan. Saat itu, adikku Shinta telah bekerja part time di konveksi temannya. Selain itu, dia juga telah kuliah di salah satu universitas, dari beasiswa yang dia dapatkan.
Di tengah perjalanan, aku bertemu Siti Maryam (Maria)..
“Assalamualaikum Maria, dari mana kamu?” Tanyaku.
‘Aku baru pulang kerja mas. Kalau mas dari mana?’ tanya balik Maria.
“Aku lagi mencari pekerjaan, tapi belum dapat juga dari pagi.”
‘Memangnya mas ahli di bidang apa?’
“Semuanya bisa ku lakukan Maria. Apa temanmu ada yang butuh karyawan?”
‘Sebenarnya ada lowongan kerja di rumah sakit mas, tapi aku ga yakin mas mau.’
“Aku mau Maria, apapun pekerjaannya. Apa kau bisa bantu aku untuk bekerja di tempatmu?”
‘Insya Allah ya mas. Yang dibutuhkan itu cleaning service mas.’
“Iya Maria aku mau. Tolong bantu aku ya.”
‘Baik mas, aku usahakan ya! Aku pulang dulu mas.’
“Eh tunggu, kamu naik apa? Lebih baik aku antar kamu pulang. Aku janji, aku ga akan macam-macam.” Tawarku padanya.
Maria menerima tawaranku. Dan aku mengantarnya sampai di rumah. Ketika di rumahnya, aku mengobrol lama dengan dua wanita kembar itu.
Kemiripan wajah mereka membuatku bingung. Maria (adiknya) lebih feminim, tapi mudah tersinggung. Sedangkan kakaknya lebih ke sifat laki-laki (tomboy).
Mereka pun tertawa saat aku bercerita, bertemu Maria. Semua kesalahpahaman yang terjadi, membuat kita saling mengejek. Lalu aku pamit pulang, dengan mengingatkan Maria untuk membantuku mendapatkan pekerjaan.
Dua minggu aku menunggu kabar dari Maria, dan akhirnya Maria ke rumahku memberi kabar gembira. Aku diterima bekerja di rumah sakit. Aku satu tempat pekerjaan dengan Maria.
“Anak baru, silahkan perkenalkan diri.” Kata seorang Supervisor.
‘Namaku Alex pak. Umurku 25 tahun.’
“Baik. Sekarang masing-masing dari kalian dengarkan, apa yang menjadi tugas kalian di rumah sakit ini.” Terang atasanku itu.
Hari pertama ku lalui dengan baik. Aku juga menemui Maria ketika dia tidak sibuk. Sesekali kami hanya mengobrol ringan seputar rumah sakit itu.
Di hari gajian pertamaku, sebagian uang ku berikan pada Shinta. Aku juga berjanji untuk mentraktir Maria setelah membantuku mendapat pekerjaan. Dan aku hanya mentraktir nya makan bakso saat itu.
Aku: “Maria maaf ya. Aku cuman traktir kamu makan bakso.”
Maria: ‘hahaha. Apaan sih Lex! Justru bakso ini favoritku. Lagian kamu pake janji traktir segala!’
Aku: “yaaah, aku kan cuman untuk berterima kasih ke kamu.”
Maria: ‘iya Lex, makasih juga ya hehe. Gimana pekerjaan mu Lex?’
Aku: “biasa saja Maria. Semuanya lancar sih.”
Maria: ‘kamu ga capek Lex? Bagian cleaning service kan banyak banget pekerjaannya!’
Aku: “seperti yang ku bilang tadi, biasa saja. Aku ga merasa capek kok!”
Maria: ‘kamu lucu juga ya.’
Aku: “kapan aku melucu sih? Memangnya aku ini pelawak.”
Maria: ‘hahaha. Alex, Alex!’
Beberapa kali, aku membuat Maria tertawa. Sejak saat itu, bayangan Maria selalu hadir di pikiranku. Setiap malam tiba, aku selalu tak sabar untuk menunggu datangnya pagi, hanya untuk menemui Maria.
Tak jarang pula aku mengantarnya pulang, kalau kami pulang kerja bersamaan. Dan aku juga sering menjemput Maria ketika dia masuk shift malam.
Keakraban kami, membuatku merindukannya saat dia tak ada di sisiku. Untuk pertama kalinya, aku merasakan jatuh cinta. Aku selalu memikirkan Maria, saat bekerja ataupun di rumah.
Saat aku mengantarnya malam hari, aku di ikuti satu motor dari belakang. Maria panik ketakutan, aku menyuruhnya untuk tetap tenang.
Kami tiba di depan rumah sakit. Aku menyuruh Maria untuk segera masuk ke dalam rumah sakit. Aku melihat motor yang mengikutiku, dan mereka berdua berhenti jauh di belakangku.
Aku lantas memacu motorku. Sesekali aku melihat mereka dari kaca spion, mereka tetap mengikuti ku. Lalu aku membawanya ke tempat yang sepi, aku menghentikan motor. Dan aku menghampiri mereka.
“Siapa lu berdua?” teriak ku.
‘Ga penting kita siapa! Yang penting, lu harus mati malam ini!’ jawab salah satunya.
“Oh ya? Coba saja kalau berani. Kalian berdua menyerang gue sekaligus, gue juga ga takut!”
‘Jangan banyak bacot lu! Ayo serang dia bro!’
Perkelahian pun terjadi. Hingga aku berhasil membuat mereka terluka. Aku memaksa mereka untuk bicara, siapa yang mengirim mereka untuk menyerangku.
Akhirnya mereka mau buka mulut. Mereka dibayar bosnya kobra untuk membunuhku. Sejenak aku berpikir, apa bosnya kobra itu benar-benar sudah bebas dari penjara.
Maka malam itu juga, aku mendatangi markas mereka. Tanpa senjata apapun yang ku bawa. Aku hanya ingin berunding pada bosnya.
Ketika didepan gerbangnya, aku dihalangi dua laki-laki bertubuh besar. Aku dipukuli mereka tanpa bertanya apapun. Awalnya aku tak ingin melawan mereka, lalu akhirnya aku terpaksa mencederai mereka.
Aku menyuruh berdiri salah seorang dari mereka, dan ku ancam mereka dengan menodongkan pisau di lehernya. Aku hanya meminta untuk bertemu dengan bosnya.Seisi rumah terkejut dengan kedatangan ku.
‘Alex! Woi semuanya, itu Alex!’ teriak salah seorang dari mereka yang berada di dalam.
‘Lex, lepasin teman kita, atau lu nerima ganjarannya!’
“Diam semua! Gue kesini cuman untuk berdamai ama bos kalian!” kataku dengan suara keras.
“Mereka berdua terpaksa gue buat cedera. Sebelumnya gue uda kastau ke mereka maksud kedatangan gue.” Tambahku lagi.
‘Plok plok plok plok. Bagus Alex! Bagus sekali. Berani sekali lu datang kesini sendirian!’ ucap bos kobra seraya menuruni anak tangga.
“Oke. Gue akan melepaskan anak buah lu ini. Pisau ini juga akan gue lempar. Gue kesini cuman mau berunding damai sama lu!”
‘Biarkan dia menemuiku di ruang atas.’ Bos itu menyuruh anak buahnya.
Aku melepaskan pria yang ku sandera, lalu aku melempar pisauku ke sudut ruang tamu. Aku berjalan menyusul bos itu ke ruangannya.
Aku: “gue langsung aja ke pointnya. Gue ini uda ga kerja untuk mas Jarot. Kenapa lu masih memburu gue?”
Bos kobra: ‘hahahaha. Omong kosong apa yang lu bicarakan Lex?’
Aku: “gue berani bersumpah ke lu, kalau gue uda ga kerja lagi untuk mas Jarot!”
Bos kobra: ‘oke, andaikan gue percaya itu Lex. Terus lu kerja untuk siapa sekarang?’
Aku: “gue kerja di rumah sakit sekarang.”
Bos kobra: ‘hahaha Alex, Alex. Becandamu terlalu berlebihan!’
Aku: “diam! Lu bisa cek gue di rumah sakit. Lu lihat sendiri kalau gue ga bohong.”
Bos kobra: ‘bagaimana kalau lu kerja buat gue Lex? Gue kasih lu bayaran tinggi.’
Aku: “maaf bos, gue ga mau. Jadi gue minta, lu ga ganggu gue lagi sekarang. Atau lu terima akibatnya!”
Bos itu berkali-kali aku ancam, sebelum aku keluar dari ruangan itu. Aku melewati semua anak buah kobra. Lalu aku keluar dari rumah itu.
Di tengah perjalanan pulang, aku merasakan sakit dan perih di tubuhku. Aku sampai di rumah, dan langsung mengunci kamarku.
Esok paginya, Shinta kaget dengan beberapa perban yang membalut muka dan tanganku. Shinta melarangku untuk bekerja, tapi aku menolaknya. Aku ingin bertemu Maria yang saat itu pulang pagi.
“Ya Allah. Alex, apa yang terjadi padamu. Apa kamu dihajar dua orang tadi malam?” Maria memegangi pipiku.
‘Sudahlah Maria. Aku tidak apa-apa! Aku mau lanjutkan pekerjaanku ya. Maaf, aku ga bisa antar kamu pulang.’
“Tunggu Lex, ikut aku!” Maria menarik tanganku.
Yang kurasakan saat itu hanya ketenangan. Aku digandeng Maria ke sebuah ruangan. Maria membersihkan luka-lukaku dengan obat merah dan alkohol. Maria sangat berhati-hati merawatku saat itu.
Kami saling berhadapan. Aku menatapnya mesra, Maria hanya membalasku dengan senyuman. Tak pernah ku kedipkan mataku. Aku sangat terpesona olehnya.
Di saat bersamaan..
“Maria, aku..”
‘Ada apa Lex?’ tanya Maria.
“Ah ga, aku cuman mau bilang terima kasih.”
‘Iya Lex, sama-sama. Lagipula sudah tugasku juga merawat orang sakit kan?’
“Hehehe. Iya Maria, tapi kamu baik sekali padaku!”
Maria diam membisu. Aku melihat pipinya memerah. Dan saat kami akan berjalan keluar ruangan, aku memegang tangan kirinya.
“Tunggu Maria, ada yang mau aku katakan.”
‘Ada apa lagi Lex? Tadi kan kamu sudah ngucapin terima kasih. Lalu apa lagi sekar...’
“Ssstt diam. Aku mencintaimu Maria!” ku ucapkan kata itu seraya menutup bibirnya.
Aku langsung berjalan keluar ruangan, tanpa menunggu jawaban darinya. Karena aku juga sadar, bahwa diriku tak pantas untuknya.
Ketika sudah menjauhi ruangan itu, aku menoleh ke belakang. Ku lihat Maria menatapku di depan pintu ruangan itu dengan tersenyum.
Itu adalah senyuman paling indah dari Maria untukku. Dan sejak hari itu, kerjaku menjadi semakin bersemangat.
“Lex, nanti kita pulang bareng ya?” pinta Maria.
‘Iya Maria. Nanti aku tunggu kamu didepan ruko biasanya.’
“Jangan Lex, aku capek jalan kesana terus. Kita naik sama-sama diparkiran ya?”
‘Apa kamu ga malu Maria? Bagaimana kalau teman-temanmu melihatmu jalan bersamaku?’
“Ga apa-apa Alex. Aku ga peduli juga apa kata teman-temanku!”
‘Kenapa kamu bilang begitu Maria? Kamu bisa dikucilkan temanmu nanti.’
“Sudahlah Lex. Pokoknya aku tunggu kamu diparkiran nanti. Aku balik ke ruangan ku dulu!” Jawab Maria.
Jam kerjaku pun selesai. Aku ke parkiran dan menunggu Maria. Ketika di motor, Maria memegang pinggangku erat. Sesekali dia memelukku dan tertawa kecil. Aku heran dengan tingkahnya itu.
“Lex, ayo masuk dulu ke rumah.”
‘Ga Maria, lain kali saja.’
“Sudah, ayo masuk!” Maria menarik tanganku.
Ibunya Maria melihatku, dia memberitahu Maria agar aku segera pulang. Ibunya tidak suka kalau anaknya berteman denganku. Tanpa berpikir panjang, aku pamit pulang ke Maria.
Tak ku sangka, Maria ke rumahku malam itu.
Maria: “Lex, aku minta maaf ya atas perlakuan ibuku tadi.”
Aku: ‘ga apa-apa Maria. Aku juga ga masukin ke hati. Kamu cuman mau sampaikan itu saja?’
Maria: “ga juga. Aku lagi malas di rumah. Lex kita nonton bioskop yuk?”
Aku: ‘tapi aku ga pernah ke bioskop. Kalau aku tertidur gimana?’
Maria: “ayolah Lex, please?”
Aku: ‘ya sudah ayo. Tapi kamu yang bayar!’
Maria: “iya. Tenang saja.”
Di mall itu, Maria selalu menggenggam tanganku. Sesekali dia bersandar padaku. Dan aku sangat nyaman dibuatnya. Tapi bukan itu yang ku inginkan, aku mau status yang jelas dengan Maria.
Kami menonton film horror saat itu. Ketika ada adegan-adegan seram, Maria memelukku. Tidak ada film horor yang membuatku takut, selain pengalamanku dengan jin dipenjara dulu.
Selesai menonton, Maria minta ditemani keliling mall. Dia juga membeli satu baju dan sandal. Lalu kami makan di food court.
Aku mengantar Maria pulang ke rumahnya. Aku sengaja menurunkan Maria ditempat yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya, karena malam itu sudah jam 23.30.
“Maria, terima kasih atas malam ini.” Ucapku seraya membelai rambutnya.
‘Aku senang sekali Lex. Kamu hati-hati ya di jalan nanti.'
Tepat di kata terakhirnya, aku langsung mengecup bibir Maria. Dia pun tidak marah dan tidak menolak ciumanku. Kemudian aku mengatakan cinta lagi padanya.
‘Kamu kan sudah pernah menyatakan cintamu ke aku Lex.’ Kata Maria.
“Apa salahnya kalau aku bilang dua kali?”
‘Cinta itu ga perlu diucapkan Lex, tapi dengan perbuatan.’
“Apa kau juga mencintaiku Maria?” Tanyaku dengan penuh harapan.
‘Menurutmu bagaimana?’
“Jawablah aku malam ini!”
‘mmuuuaah’ sebuah ciuman dari bibirnya, mendarat di pipi kananku.
‘Itu jawabanku Lex. Aku pulang dulu ya.’ Maria berjalan pulang ke rumahnya dengan tersenyum.
Aku bahagia sekali malam itu. Aku tidak menyangka kalau Maria juga mencintaiku. Dan keakraban kami sejak aku bekerja di rumah sakit itu, hanya empat bulan lebih.
Hari-hariku dengan Maria dipenuhi canda tawa dan kemesraan. Tak peduli saat bekerjapun, kami saling mengucap kata mesra.
Maria tak peduli dengan kata-kata temannya, karena berpacaran denganku yang hanya seorang cleaning service.
Dan suatu hari, Maria menyewa kos yang tak jauh dari rumah sakit. Maria ingin menghindari ibunya yang selalu melarang pertemuan kami.
Aku selalu ke kos Maria sepulang kerja. Bahkan banyak bajuku yang sudah ku bawa ke kosnya. Kos Maria itu sangat bebas. Dan aku tidak dilarang ibu kosnya menginap disana.
Diubah oleh laodetahsin 08-03-2017 05:43
0