- Beranda
- Stories from the Heart
Love (After) Magnitude [TAMAT]
...
TS
fadw.crtv
Love (After) Magnitude [TAMAT]
Quote:
PERINGATAN!
Cerita ini bisa membuat anda baper, ngg bisa tidur, teringat mantan dan gangguan hubungan lainnya.
Cerita ini bisa membuat anda baper, ngg bisa tidur, teringat mantan dan gangguan hubungan lainnya.
Selamat datang di cerita ane yang ke-4. :welcome
Cerita ini adalah cerita lanjutan dari Love Magnitudeyang sudah tamat dan sudah di gembok.
Kenapa buat baru gan? karena cerita di sini akan menceritakan kejadian setelah apa yang terjadi di Love Magnitude.
Jadi harus baca cerita itu dong? ya kalau agan ingin ngerti betul cerita selanjutnya memang wajib baca cerita sebelumnya, karena pasti akan ada keterikatan.

Ucapan dari saya, Selamat menikmati kelanjutan ceritanya. :terimakasih
Quote:
Quote:
Ane menerima segala bentuk komentar dan kritik yang membangun, cendol juga ane terima. 

Diubah oleh fadw.crtv 29-05-2017 20:16
santet72 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
27.4K
Kutip
114
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
fadw.crtv
#53
Part 8
Quote:
Aku membuka sedikit pintuku lalu melihat dari keluar, dan aku melihat Wisnu sedang berdiri.
“Eh, Mas, kirain siapa.” Ucapku sambil membuka pintu lebar.
Aku sudah percaya dengan Wisnu karena hubungan aku dan Mita mungkin dia sudah tahu, tapi satu hal yang membuat aku kaget setengah mati.
“Sore, Rud.” Ucap Bayu yang tiba-tiba muncul dari samping Wisnu yang tidak aku lihat tadi.
Sedikit terkaget dan panik karena dengan posisi seperti ini, mereka bisa melihat Mita, dan aku tidak tahu seperti apa ekspresi Mita saat itu.
“Sorry, Rud, rahasia kamu bocor, udah kamu jangan tanya siapa yang bocorin.” Ucap Wisnu.
“Yaudah sini pada masuk.” Ucapku.
Kami lalu duduk di samping tempat tidur dengan Mita duduk diantara aku dan Bayu.
“Kamu koq, ngg bilang-bilang sih kalau udah jadian sama Mita?” Ucap Bayu membuka pembicaraan.
“Aku takut ngg enak, Mas, waktu dulu aja ekspresi Mas Bayu gimana waktu saya deket sama Mita.” Jelasku.
“Sebenernya yang ada di divisi kita udah komitmen, selama wanita-wanita yang ada di divisi PR belum jadian, kita boleh cemburu, marah kalau ada yang deketin, tapi kalau udah jadian kita harus bisa menerimanya.” Jelas Bayu panjang.
“Tapi saya orang baru, Mas, jadi ngg tahu.” Ucapku.
“Tenang aja kali, Udah kalian ngg usah nutup-nutupin lagi.” Ucap Bayu.
“Iya maaf, Mas.” Ucapku dan melihat Mita tertunduk malu.
“Mau aku bikinin kopi, ngg?, masa tamu ngg dikasih minum sih.” Ucap Wisnu.
“Ngg usah, ngerepotin.” Jawab Bayu.
Kami lalu sejenak terdiam, dan waktu sudah menunjukan pukul setengah tujuh malam.
“Makan diluar, yuk Mas.” Ajakku karena sudah merasa lapar.
“Asyik, mau ditraktir kita ya, Mas, pajak jadian.” Ucap Bayu bercanda.
“Yaudah enggak apa-apa deh.” Ucapku terpaksa.
“Bentar yah aku cuci muka dulu.” Mita pun pergi ke kamar mandi.
“Perasaan dari tadi ngg bunyi, aku kira habis batrenya.” Ucap Bayu yang di sambut tawa aku dan Wisnu.
Ternyata hal yang aku khawatirkan selama ini benar-benar jauh dari pemikiran, memang hidup itu terkadang lucu, kita sudah khawatir dan negative thinkingterhadap sesuatu, padahal belum tentu hal tersebut akan berakibat seperti yang kita fikirkan.
“Ayok, Mas, aku sudah koq.” Ucap Mita keluar dari kamar mandi.
Kami lalu pergi dari kamar kosanku, berjalan mencari tempat makan yang kami rasa cocok.
“Mau makan di mana nih, Mas?” Tanyaku.
“Di restoran mahal dong.” Ucap Wisnu.
“Yah, jangan di restoran mahal dong, nanti uang aku habis buat bayar kosan.” Ucapku bercanda.
“Enaknya dimana yah?” Gumam Bayu.
“Makan sate aja, yuk.” Ajak Mita.
“Eh, temen aku ada yang habis jadian terus ngajak makan sate, terus besoknya putus loh.” Ucap Wisnu bercanda.
“Eh, jangan doain gitu dong.” Jawab Mita sambil memeluk lenganku.
Sontak aku kaget dan kata “ciyeee” pun keluar dari mulut mereka.
“Nah gitu dong, mesra.” Ucap Bayu.
“Eh, tapi beneran enggak apa-apa ini, Mas?, emang bener yah ada peraturan itu?.” Tanyaku sekali lagi.
“Iya bener Mas, kalau enggak percaya besok tanya aja sama temen-temen yang lain.” Jawab Wisnu.
Setelah cukup lama kami berjalan, kami sampai di kedai sate yang cukup ramai. Kami lalu mencari tempat duduk setelah memesan empat puluh tusuk sate.
“Sialan, duit gue abis nih kalau yang lain minta jatah juga.” Gumamku dalam hati.
Setelah dapat tempat duduk, kami mengobrol hal-hal banyak menunggu sate yang kami pesan datang.
“Eh, ceritain dong kenapa kalian bisa jadian?.” Tanya Bayu.
“Kenapa ya?, mungkin karena Mita sayang sama saya sih Mas.” Jawabku.
“Jadi kamu ngg sayang sama aku.” Ucap Mita sambil matanya melotot.
“Iya, iya sayang lah.” Jawabku dan aku diberi hadiah satu buah pukulan di bagian lenganku oleh Mita.
“Mesra amat sih kalian, padahal dari dulu Bayu yang perjuangin Mita loh, Rud.” Ucap Wisnu.
“Oh gitu ya, Mas, maafkan juniormu ini yang telah lancang.” Ucapku.
“Enggak apa-apa koq, Rud, Sebenernya saya ngg terima pas tahu kamu jadian sama Mita, tapi ya saya harus mengikuti “Rules of Division”.” Ucapnya.
“Bahasa Mas, tinggi amat.” Ucapku.
Sate yang kami pesan pun akhirnya datang, dan kami mengobrol sambil menikmati sate.
“Oh iyah, Rud, gimana kabar keluarga kamu?” Tanya Bayu.
“Baik-baik koq Mas, sekarang lagi di Jateng.” Jawabku.
“Oh, sekarang pindah ya habis bencana kemarin, tiap weekend pulang ngg?” Tanyanya lagi.
“Ngg tahu nih Mas, saya pengen ambil motor juga sih, biar bisa keliling Surabaya enak.” Jawabku.
“Bilang aja biar bisa bonceng Mita, biar bisa dipeluk dari belakang.” Ucap Wisnu yang memperagakannya ke Bayu dan sontak tawa pun pecah.
“Sialan Mas ini, tapi beneran sih Mas, saya pulang juga bingung, harus ganti-ganti bis, kalau ada motorkan tinggal sekali jalan aja.” Jelasku.
“Iya nih, dia hebat dari Jakarta ke sini pake motor dulu, pulang pergi lagi.” Ucap Mita.
“Wih, yang bener aja kamu Mas. Suka touring gitu ya Mas?” Tanya Bayu.
“Enggak koq, itu juga aku maksain, biasalah demi uang seseorang biasanya punya kekuatan lebih.” Ucapku.
“Tapi bener juga itu Mas, uang bisa membuat orang buta tapi bisa bikin cinta ngg jadi buta lagi.” Ucap Wisnu.
“Wih si Mas, bijak banget kata-katanya.” Ucapku.
Kami pun tertawa karna kata-kata Wisnu. Tak terasa sate di piringku sudah habis, tapi Mita dan Bayu masih ada beberapa tusuk lagi.
“Tahu gini, saya bilang dari awal kalau udah jadian Mas.” Ucapku.
“Iya Mas, kan enak saya bisa di traktir gini, besok saya ajak si Anwar, terus masih ada enam lagi ya, Bay, wah minggu ini saya makan malem gratis terus dong.” Ucap Wisnu gembira.
“Jangan dong Mas, saya baru dua hari kerja, belum gajian.” Ucapku yang disusul tawa mereka.
“Udah yuk pulang, udah jam setengah sembilan nih.” Ucap Mita khawatir.
“Yaudah yuk, bisa pulang sendiri kan Mit?” Tanyaku.
“Anterin dulu sana, kamu kan cowoknya, gimana nanti kalau dia dirampok terus dirudapaksa.” Ucap Bayu menakut-nakuti.
“Tapi saya juga ngg tahu jalan dong, Mas.” Ucapku.
“Ngg apa-apa, deket koq, yuk anterin yah.” Pinta Mita, aku pun mengiyakan.
Kami lalu beranjak dan aku terpaksa membayar semua makanan itu, bisa membuat dompetku jebol jika tiap haris seperti ini.
Di persimpangan kami semua berpisah, aku yang seharusnya pulang bersama Wisnu, kali ini harus mengantar terlebih dahulu ke rumah Mita, dan Bayu mengambil jalan lain.
“Makasih yah sayang hari ini.” Ucap Mita.
“Aku juga minta maaf soal tadi siang.” Ucapku sambil menatap ke arah jalan.
“Udah lupain yang kemarin, sekarang kita bisa lebih baik koq, hubungan ini, kerjaan, aku juga sekarang ngg kaya kemarin kalau nerima tamu.” Ucapnya.
“Iya lah, nanti aku ngambek lagi, ngomong-ngomong koq tamu yang tadi gitu amat sih.” Tanyaku.
“Iya dia orangnya agak-agak, tapi gitu sih asyik aja kayanya.” Ucapnya.
“Agak-agak gimana maksudnya?” Tanyaku.
“Iya sebelum ke sini dia putus sama pacarnya, gatau gara-gara apa dia ngg cerita, jadinya dia kaya yang cari pelarian gitu sih menurut aku.” Ucapnya.
“Pelarian tapi nyari masalah gitu sih, emang kamu ngg bilang udah punya pacar?” Tanyaku.
“Aku bilang sih, cuma dia ngg percaya kalau ngg nunjukin orangnya yang mana.” Ucapnya.
Tanpa sadar kami sampai di depan Rumah Mita. Rumah sederhana dengan pagar sebahu orang dewasa dan ada taman di halaman rumahnya, rumahnya lantai satu dan tidak terlalu besar.
“Ayok masuk dulu.” Ucapnya.
“Enggak ah, udah malem, aku pulang lewat mana yah?” Tanyaku.
“Jalan barusan aja, biar gampang.” Ucapnya.
“Yaudah yah, aku pulang.” Ucapku.
“Makasih yah hari ini, sini deh aku mau bisikin sesuatu.” Ucapnya sambil menyuruhku mendekatinya.
Aku pun mendekatkan telingaku ke bibirnya, tapi tangannya membuat kepalaku memjadi melihat wajahnya secara dekat dan dia memberikan kecupan di bibirku, hanya sebuah kecupan kecil lalu dia lepas dan langsung masuk kerumah.
Jujur, aku kaget saat itu, aku baru pertama kalinya mendapat sebuah kecupan di bibir, entah aku yang terlalu polos atau memang aku tidak berani melakukan hal tersebut.
Akhirnya kesepian pun datang menjelma ke dalam sanubariku, diiringi rasa rindu terhadapnya.
Mungkin ini adalah awal dari cintaku terhadapnya secara sungguh-sungguh dan akhir dari cerita lamaku yang harus aku lupakan, tetapi dia akan selalu di hatiku walau telah tiada.
“Eh, Mas, kirain siapa.” Ucapku sambil membuka pintu lebar.
Aku sudah percaya dengan Wisnu karena hubungan aku dan Mita mungkin dia sudah tahu, tapi satu hal yang membuat aku kaget setengah mati.
“Sore, Rud.” Ucap Bayu yang tiba-tiba muncul dari samping Wisnu yang tidak aku lihat tadi.
Sedikit terkaget dan panik karena dengan posisi seperti ini, mereka bisa melihat Mita, dan aku tidak tahu seperti apa ekspresi Mita saat itu.
“Sorry, Rud, rahasia kamu bocor, udah kamu jangan tanya siapa yang bocorin.” Ucap Wisnu.
“Yaudah sini pada masuk.” Ucapku.
Kami lalu duduk di samping tempat tidur dengan Mita duduk diantara aku dan Bayu.
“Kamu koq, ngg bilang-bilang sih kalau udah jadian sama Mita?” Ucap Bayu membuka pembicaraan.
“Aku takut ngg enak, Mas, waktu dulu aja ekspresi Mas Bayu gimana waktu saya deket sama Mita.” Jelasku.
“Sebenernya yang ada di divisi kita udah komitmen, selama wanita-wanita yang ada di divisi PR belum jadian, kita boleh cemburu, marah kalau ada yang deketin, tapi kalau udah jadian kita harus bisa menerimanya.” Jelas Bayu panjang.
“Tapi saya orang baru, Mas, jadi ngg tahu.” Ucapku.
“Tenang aja kali, Udah kalian ngg usah nutup-nutupin lagi.” Ucap Bayu.
“Iya maaf, Mas.” Ucapku dan melihat Mita tertunduk malu.
“Mau aku bikinin kopi, ngg?, masa tamu ngg dikasih minum sih.” Ucap Wisnu.
“Ngg usah, ngerepotin.” Jawab Bayu.
Kami lalu sejenak terdiam, dan waktu sudah menunjukan pukul setengah tujuh malam.
“Makan diluar, yuk Mas.” Ajakku karena sudah merasa lapar.
“Asyik, mau ditraktir kita ya, Mas, pajak jadian.” Ucap Bayu bercanda.
“Yaudah enggak apa-apa deh.” Ucapku terpaksa.
“Bentar yah aku cuci muka dulu.” Mita pun pergi ke kamar mandi.
“Perasaan dari tadi ngg bunyi, aku kira habis batrenya.” Ucap Bayu yang di sambut tawa aku dan Wisnu.
Ternyata hal yang aku khawatirkan selama ini benar-benar jauh dari pemikiran, memang hidup itu terkadang lucu, kita sudah khawatir dan negative thinkingterhadap sesuatu, padahal belum tentu hal tersebut akan berakibat seperti yang kita fikirkan.
“Ayok, Mas, aku sudah koq.” Ucap Mita keluar dari kamar mandi.
Kami lalu pergi dari kamar kosanku, berjalan mencari tempat makan yang kami rasa cocok.
“Mau makan di mana nih, Mas?” Tanyaku.
“Di restoran mahal dong.” Ucap Wisnu.
“Yah, jangan di restoran mahal dong, nanti uang aku habis buat bayar kosan.” Ucapku bercanda.
“Enaknya dimana yah?” Gumam Bayu.
“Makan sate aja, yuk.” Ajak Mita.
“Eh, temen aku ada yang habis jadian terus ngajak makan sate, terus besoknya putus loh.” Ucap Wisnu bercanda.
“Eh, jangan doain gitu dong.” Jawab Mita sambil memeluk lenganku.
Sontak aku kaget dan kata “ciyeee” pun keluar dari mulut mereka.
“Nah gitu dong, mesra.” Ucap Bayu.
“Eh, tapi beneran enggak apa-apa ini, Mas?, emang bener yah ada peraturan itu?.” Tanyaku sekali lagi.
“Iya bener Mas, kalau enggak percaya besok tanya aja sama temen-temen yang lain.” Jawab Wisnu.
Setelah cukup lama kami berjalan, kami sampai di kedai sate yang cukup ramai. Kami lalu mencari tempat duduk setelah memesan empat puluh tusuk sate.
“Sialan, duit gue abis nih kalau yang lain minta jatah juga.” Gumamku dalam hati.
Setelah dapat tempat duduk, kami mengobrol hal-hal banyak menunggu sate yang kami pesan datang.
“Eh, ceritain dong kenapa kalian bisa jadian?.” Tanya Bayu.
“Kenapa ya?, mungkin karena Mita sayang sama saya sih Mas.” Jawabku.
“Jadi kamu ngg sayang sama aku.” Ucap Mita sambil matanya melotot.
“Iya, iya sayang lah.” Jawabku dan aku diberi hadiah satu buah pukulan di bagian lenganku oleh Mita.
“Mesra amat sih kalian, padahal dari dulu Bayu yang perjuangin Mita loh, Rud.” Ucap Wisnu.
“Oh gitu ya, Mas, maafkan juniormu ini yang telah lancang.” Ucapku.
“Enggak apa-apa koq, Rud, Sebenernya saya ngg terima pas tahu kamu jadian sama Mita, tapi ya saya harus mengikuti “Rules of Division”.” Ucapnya.
“Bahasa Mas, tinggi amat.” Ucapku.
Sate yang kami pesan pun akhirnya datang, dan kami mengobrol sambil menikmati sate.
“Oh iyah, Rud, gimana kabar keluarga kamu?” Tanya Bayu.
“Baik-baik koq Mas, sekarang lagi di Jateng.” Jawabku.
“Oh, sekarang pindah ya habis bencana kemarin, tiap weekend pulang ngg?” Tanyanya lagi.
“Ngg tahu nih Mas, saya pengen ambil motor juga sih, biar bisa keliling Surabaya enak.” Jawabku.
“Bilang aja biar bisa bonceng Mita, biar bisa dipeluk dari belakang.” Ucap Wisnu yang memperagakannya ke Bayu dan sontak tawa pun pecah.
“Sialan Mas ini, tapi beneran sih Mas, saya pulang juga bingung, harus ganti-ganti bis, kalau ada motorkan tinggal sekali jalan aja.” Jelasku.
“Iya nih, dia hebat dari Jakarta ke sini pake motor dulu, pulang pergi lagi.” Ucap Mita.
“Wih, yang bener aja kamu Mas. Suka touring gitu ya Mas?” Tanya Bayu.
“Enggak koq, itu juga aku maksain, biasalah demi uang seseorang biasanya punya kekuatan lebih.” Ucapku.
“Tapi bener juga itu Mas, uang bisa membuat orang buta tapi bisa bikin cinta ngg jadi buta lagi.” Ucap Wisnu.
“Wih si Mas, bijak banget kata-katanya.” Ucapku.
Kami pun tertawa karna kata-kata Wisnu. Tak terasa sate di piringku sudah habis, tapi Mita dan Bayu masih ada beberapa tusuk lagi.
“Tahu gini, saya bilang dari awal kalau udah jadian Mas.” Ucapku.
“Iya Mas, kan enak saya bisa di traktir gini, besok saya ajak si Anwar, terus masih ada enam lagi ya, Bay, wah minggu ini saya makan malem gratis terus dong.” Ucap Wisnu gembira.
“Jangan dong Mas, saya baru dua hari kerja, belum gajian.” Ucapku yang disusul tawa mereka.
“Udah yuk pulang, udah jam setengah sembilan nih.” Ucap Mita khawatir.
“Yaudah yuk, bisa pulang sendiri kan Mit?” Tanyaku.
“Anterin dulu sana, kamu kan cowoknya, gimana nanti kalau dia dirampok terus dirudapaksa.” Ucap Bayu menakut-nakuti.
“Tapi saya juga ngg tahu jalan dong, Mas.” Ucapku.
“Ngg apa-apa, deket koq, yuk anterin yah.” Pinta Mita, aku pun mengiyakan.
Kami lalu beranjak dan aku terpaksa membayar semua makanan itu, bisa membuat dompetku jebol jika tiap haris seperti ini.
Di persimpangan kami semua berpisah, aku yang seharusnya pulang bersama Wisnu, kali ini harus mengantar terlebih dahulu ke rumah Mita, dan Bayu mengambil jalan lain.
“Makasih yah sayang hari ini.” Ucap Mita.
“Aku juga minta maaf soal tadi siang.” Ucapku sambil menatap ke arah jalan.
“Udah lupain yang kemarin, sekarang kita bisa lebih baik koq, hubungan ini, kerjaan, aku juga sekarang ngg kaya kemarin kalau nerima tamu.” Ucapnya.
“Iya lah, nanti aku ngambek lagi, ngomong-ngomong koq tamu yang tadi gitu amat sih.” Tanyaku.
“Iya dia orangnya agak-agak, tapi gitu sih asyik aja kayanya.” Ucapnya.
“Agak-agak gimana maksudnya?” Tanyaku.
“Iya sebelum ke sini dia putus sama pacarnya, gatau gara-gara apa dia ngg cerita, jadinya dia kaya yang cari pelarian gitu sih menurut aku.” Ucapnya.
“Pelarian tapi nyari masalah gitu sih, emang kamu ngg bilang udah punya pacar?” Tanyaku.
“Aku bilang sih, cuma dia ngg percaya kalau ngg nunjukin orangnya yang mana.” Ucapnya.
Tanpa sadar kami sampai di depan Rumah Mita. Rumah sederhana dengan pagar sebahu orang dewasa dan ada taman di halaman rumahnya, rumahnya lantai satu dan tidak terlalu besar.
“Ayok masuk dulu.” Ucapnya.
“Enggak ah, udah malem, aku pulang lewat mana yah?” Tanyaku.
“Jalan barusan aja, biar gampang.” Ucapnya.
“Yaudah yah, aku pulang.” Ucapku.
“Makasih yah hari ini, sini deh aku mau bisikin sesuatu.” Ucapnya sambil menyuruhku mendekatinya.
Aku pun mendekatkan telingaku ke bibirnya, tapi tangannya membuat kepalaku memjadi melihat wajahnya secara dekat dan dia memberikan kecupan di bibirku, hanya sebuah kecupan kecil lalu dia lepas dan langsung masuk kerumah.
Jujur, aku kaget saat itu, aku baru pertama kalinya mendapat sebuah kecupan di bibir, entah aku yang terlalu polos atau memang aku tidak berani melakukan hal tersebut.
Akhirnya kesepian pun datang menjelma ke dalam sanubariku, diiringi rasa rindu terhadapnya.
Mungkin ini adalah awal dari cintaku terhadapnya secara sungguh-sungguh dan akhir dari cerita lamaku yang harus aku lupakan, tetapi dia akan selalu di hatiku walau telah tiada.
Spoiler for last word:
Bersambung apa tamat yah?
0
Kutip
Balas