Sambil berjalan pincang gw sampai di rumah gw, tanpa mengeluarkan kata-kata gw segera merebahkan diri gw di kasur gw biasa tertidur, cahaya matahari berwarna orange mulai memasuki kamar yang telah gw tinggali selama 10 tahun pertanda waktu sudah semakin gelap, perlahan gw keluarkan sebatang coklat, gw buka secara perlahan kemudian gw perhatikan dengan seksama biarpun berubah bentuk isinya tetep coklat ama kacang mede, rasa manis sewaktu gw mengunyah coklat tersebut sedikit bisa mengalihkan rasa sakit yang sedikit terasa di betis gw.
“Na ini Iyan mau nantangin balap renang kalo kamu bisa menang nilai renang bapak kasih gede” Ucap pak Kumis ke Lyana yang sudah berada di tepi kolam
Lyana melirik ke arah gw sebentar seperti memberikan isyarat “Lu mau lawan gw?”, gw menggelengkan tanda menyerah seperti gw bilang hanya keledai yang mau jatoh ke lubang yang sama biarpun gw sudah berguru ke ahlinya renang tetap saja murid masih belum bisa mengalahkan gurunya.
“Na tanding lawan gw, gw mau balas dendam” Tantang gw ke Lyana beberapa minggu sebelumnya
“Ayo ujung ke ujung ya Yan” Lyana menjawab tantangan gw
“JEBURRR…KECUPLAK…KECUPLAKK”
“Yan lu kebanyakan gerakan yang ga perlu, jangan rusuh renang yang santai aja” Lyana menceramahi gw setelah gw kalah lagi dari Lyana
“Iya Na” Jawab gw sambil mengeluarkan ingus
Semenjak gw dipermalukan Lyana di kolam renang gw selalu mengajak Lyana tanding balap renang, sekaligus modus eh engga sekaligus belajar menyempurnakan gerakan renang gw yang acak kadut, dan selama gw sparing lawan Lyana belum sekalipun gw bisa mengalahkan Lyana walaupun sudah bisa memangkas jarak antara gw dan Lyana, namun jarak hubungan antara gw dan Lyana diluar kolam ya segitu-gitu aja.
Dengan bahasa isyarat gw menunjuk sosok Chacha yang tengah sibuk bermain ciprat-cipratan air sambil tertawa, Ya Allah bukakan pintu hati Chacha ya Allah. Lyana yang paham dengan maksud, tujuan dan ruang lingkup gw pun mengangguk tanda setuju.
“Aduh pak perut saya sakit..” Lyana tiba-tiba memegang perutnya, ingat gaes cewe cakep juga kentut dan nyetor
“Iyan sama Chacha aja ya Pak” Ucap Lyana dengan ekspresi ala orang kebelet
“Waduh cepet ke wc Na bahaya ini Pak! Gapapa saya lawan Chacha aja” Ucap gw menambahi acting Lyana yang jauh dibawah gw
“Iya udah deh, Na kamu ke wc aja dulu, biar Iyan lawan Chacha aja” Ucap pak Kumis memberikan izin
“Na perlu gw bantuin?” Tanya gw ke Lyana
“PLAKKK” Kepala gw dipukul buku absen
“Eta mah kahoyong maneh tumila” Ucap Pak Kumis
Sambil tersenyum Lyana beranjak menuju kamar ganti, entahlah dia beneran mau upload atau mau tidur-tiduran bukan urusan gw, yang penting difficulty levelnya udah diturunin dari Nightmare jadi Easy lah, bukan gw mau sombong atau anggap enteng Chacha, dari segi body dan paras oke Chacha menang lawan Lyana tapi kalo soal renang Lyana tetap terdepan yang lain makin ketinggalan (kayak Komeng aja Pak!).
“PRITTTT, Chacha sini!” Panggil Pak Kumis, dah kayak tukang parker aja pak tinggal bunyiin peluit cewe cakep dateng
Chacha kemudian beranjak menuju tepi kolam renang sambil berenang, dengan anggunnya gaya renang kodok pun bisa terlihat elegan apalagi dengan balutan pakaian renang warna hitam yang seksi membuat beberapa pasang mata langsung tertuju ke sosok wanit tersebut
“Ya Pak?” Ucap Chacha sewaktu menonjolkan kepalanya dari kolam renang
“Glekkk” Gw hanya menelan ludah melihat paras Chacha yang cantik apalagi dengan sentuhan air yang membasahi wajahnya dan rambutnya membuat detak jantung semakin kencang layaknya kafein dalam darah (alah)
“Kamu lawan Iyan ya, Lyana lagi ke wc” Tanya pak Kumis
“Ohh boleh pak saya ke atas dulu” Ucap Chacha sambil menuju tangga ke atas
“Glekkk” Lagi-lagi gw harus menelan ludah, gerakan Chacha menaiki tangga hingga berjalan menuju tempat start betul-betul elegan apalagi Chacha hanya berjalan dengan mengenakan pakaian renangnya kalo pake mukena pasti mau Sholat. Situasi kolam yang ribut ga karuan tiba-tiba hening terpusat kepada sosok wanita yang berjalan menuju calon suaminya dan penghulu untuk menempuh hidup baru (pengennya!)
“Hai..Iyan” Ucap Chacha sambil tersenyum
“H..H..Hai..ii” Gw grogi pak..grogi!, seorang Iyan Supersaiyan dibuat grogi Cuma disapa doank
“Dah buruan jangan pake acara salah tingkah Yan” Ucap Pak Kumis sambil mendorong gw naik ke atas tempat start, Chacha pun ikut naik ke tempat start kakinya yang mulus putih dan panjang sempat mengalihkan pandangan gw dari kolam renang.
“PRIITTTTT” Ga pake lama pak Kumis meniup peluitnya, gw yang memang dalam kondisi tidak siap akhirnya melakukan start dengan agak tidak sempurna
“BYURRRR”
Hasil start yang kurang baik menyebabkan badan gw menghantam permukaan air terlebih dahulu sehingga Chacha memimpin jauh didepan, ga bisa kayak gini masa gw mengecewakan Lyana yang sudah memberikan kesempatan untuk melawan Chacha batin gw menyemangati diri gw sendiri, dengan daya upaya gw berusaha mengejar ketertinggalan namun semakin gw berusaha mengejar semakin jauh gw dari Chacha, okey gw tarik ucapan gw ternyata Difficulty nya bukan turun dari Nightmare ke Easy namun ke Hell.
“Yan jangan rusuh!” Terdengar seruan diantara seruan dukungan terhadap Chacha mulai bergemuruh sewaktu Chacha melewati gw untuk menyelesaikan balikan terakhir, berkat teriakan tersebut biarpun samar-samar atau mungkin imajinasi gw aja gw bisa mengingat apa yang diucapkan Lyana, perlahan namun pasti gw bisa mengejar Chacha hingga jarak tinggal 5 meter gw bisa mengucapkan selamat tinggal kepada pak Kumis.
“NYUUTTT” Kaki gw merasakan kontraksi otot yang kuat dan tiba-tiba, perlahan kecepatan gw berkurang hingga akhirnya kaki gw menyerah untuk mengayuh , gw merasakan sakit yang luar biasa pada bagian betis yap gw Kram, posisi gw saat itu hanya 5 meter menjelang finish namun naas garis finish terletak pada daerah paling dalam kira-kira 2 meter, dengan kondisi normal gw bisa mengapung dengan namun dengan kaki gw yang sakit gw kesulitan untuk menjaga kepala gw tetap diatas permukaan air.
“To..blebek..lo..blebek” Gw kesulitan berteriak meminta tolong, perhatian anak-anak disibukkan dengan Chacha yang jauh telah melewati gw
“BYURRRR” Gw mendengar seseorang nyemplung ke air, semoga saja yang nyemplung Tante Pamela Anderson untuk menyelamatkan gw
“Yan sini gw bantu, jangan banyak gerak berat tau!” Ucap orang itu, gw hanya mengangguk dan mengikuti semua instruksi orang tersebut, hingga ke atas tepi kolam renang
“Lurusin kakinya! Makanya pemanasan dulu! Sok-sokan renang ga pake pemanasan!” Lyana terus menggerutu sambil meluruskan dan menekan kaki gw ke atas
Gw hanya bisa menyesali tindakan gw yang tidak melakukan pemanasan sebelum berenang tadi, Lyana terlihat marah sekali sepertinya marah karena gw menyia-nyiakan kesempatan yang dibuat Lyana, gw hanya bisa terdiam sambil menyesal
“Kenapa Yan?” Pak Kumis datang menghampiri, kemudian menggantikan Lyana merawat gw, yah Pak padahal lagi enak-enaknya
“Kram pak” Ucap gw sambil cengengesan sambil menatap Lyana yang hanya menggelengkan kepalanya kemudian meninggalkan gw dan Pak Kumis
“Makanya pemanasan dulu, ngeliat yang putih-putih jadi weh Kram!” Ucap Pak Kumis masih memijat kaki gw yang sakit
“Besok bantuin bapak beresin lapangan lagi ya” Tambah pak Kumis
“Yahh Pak, kan Kram pak” Ucap gw memelas
“Jadi cowo jangan lemah!” Ucap pak Kumis sambil memijit dengan keras
“Iyaaa..ya..yaa Pak! Sakit pak!” Teriak gw
Dengan kaki terpincang-pincang gw keluar dari kolam renang, gw belum sempat berterima kasih kepada Lyana berkat bantuannya gw masih bisa menatap matahari terbenam, kira-kira gw ngasi apa ya ke Lyana, ah gw teringat dengan sebatang coklat yang dikasi Uwiw, gw kemudian mengubek-ubek tas tempat gw menyimpan coklat tersebut mudah-mudahan Lyana suka dengan coklat itu.
“Ahh ketemu juga ni coklat” Ucap gw dalam hati sambil mengangkat coklat itu
“Yan gw duluan ya” Lyana bersama teman-temannya melewati gw, sontak gw pun kaget dan berusaha menyembunyikan coklat tersebut kayak kucing ketauan nyomot ikan pindang
“Na makasi ya dah nolongin gw” Ucap gw
“Iya makanya pemanasan dulu!, Eh apaan tuh Yan?” Tanya Lyana melihat tangan gw menggenggam batang coklat tersebut
“Wah itu silverspoon ya? Gw suka banget coklat” Ucap Lyana
“Masa? Oh iya ini buat kamu aja Na” Ujar gw sambil menyodorkan coklat tersebut
“Yan kok coklatnya kayak meleleh?” Tunjuk Lyana, gw perhatikan batang coklat yang masih dibungkus memang bentuknya seperti melengkung, gw pegang, emoy awww beneran udah meleleh
“Kayaknya emang meleleh Na, tadi gw simpen di tas” Ucap gw sambil cengengesan
“Ishh masa ngasih yang meleleh Yan” Ucap Lyana
“Ya udah kalo ga mau buat gw aja” Ucap gw sambil mengantongi coklat tersebut
“Eh Na balik bareng yu!” Teriak Uwiw keluar dari kolam renang
“Yan itu coklatnya belum dimakan? Ma’af ya soal kemaren” Ucap Uwiw melihat gw masih memegang coklat, gw melirik Lyana hanya mengangguk-angguk entah apa maksud anggukkannya
“Dimakan Yan coklatnya udah meleleh itu!” Ucap Lyana sambil menarik tangan Uwiw dengan ekspresi jutek sambil memalingkan wajahnya
.
“Senyum kecut menghiasi diriku yang berjalan pincang menuju tempat yang dapat menghantarkan ku pulang ditemani sebatang coklat yang telah meleleh seperti hatiku “ (Supersaiyan, Iyan. 2004)
PART EEN EN DERTIG – MELTDOWN END