Kaskus

Story

laodetahsinAvatar border
TS
laodetahsin
PREMAN DAN WANITA BERCADAR
Genre: Romantis, Horor, Aksi.
By
Laode Tahsin

Selamat pagi, aku mau minta ijin nulis cerita nih. Kisah romantis yang bercampur horror dan banyak aksi.
Nama-nama aku samarkan, jadi kalau ada kesamaan nama tokoh, peristiwa, dan tempat kejadian, tolong maafin ya guys.
Mau tahu kisah cinta mereka?


So, happy reading sobat dumay.

PREMAN DAN WANITA BERCADAR

DAFTAR ISI :
Prolog
Part 1 - Penginapan Pertamaku
Part 2 - Persahabatan
Part 3 - Wanita Asing
Part 4 - Mata Ketiga
Part 5 - Pernikahanku Dengan Wanita Bercadar
Part 6 - Perpisahan Kedua
Part 7 - Cukup Satu Maria Yang Ku Cinta
Part 8 - Selamat Datang Anakku
Part 9 - Maria Dan Cadarnya
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 2 suara
Sobat mengira, Tina wanita bercadar itu? atau Maria?
Jelas bukan.
0%
Penasaran ya? hehehe..
100%
Diubah oleh laodetahsin 08-03-2017 17:36
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
19.9K
72
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
laodetahsinAvatar border
TS
laodetahsin
#21
Part 5 - Pernikahanku Dengan Wanita Bercadar


Besok adalah hari pernikahanku dengan wanita bercadar. Aku melamun di dalam kamar, bagaimana pertama kalinya aku jatuh cinta pada Tina.

Sejak enam tahun yang lalu, aku meninggalkan negara tercintaku untuk merantau kerja di Malaysia. Aku diberi biaya oleh pamanku. Dan dari saat itu hingga sekarang, aku tak bisa melupakan jasa-jasa pamanku. Aku selalu mengirimkan uang pada paman dan adikku.

Adikku telah lulus S2, di salah satu universitas di Surabaya. Aku bahagia sekali saat itu, walaupun tak bisa menghadiri acara wisudanya, dan aku bangga pada Shinta. Kini dia pun telah bekerja di perusahaan swasta di Surabaya.

Aku bekerja siang malam, sebagai buruh bangunan sampai menjadi buruh pabrik. Semua ku lewati tanpa mengeluh, hanya untuk memenuhi janjiku pada adikku. Hingga akhirnya aku bertemu dengan Tina. Aku dikenalkan oleh temanku Andre.

Tina yang saat itu memakai busana muslimah panjang, dengan cadar di wajahnya. Aku hanya melihat telapak tangannya saja, bahkan saat berkenalan pun dia tidak menjabat tanganku.

Aku: “jadi, umurmu berapa Tina?”

Tina: ‘saya 28 tahun mas. Kalau mas?’

Aku: “wah..aku sudah tua Tina, umurku 32 tahun.”

Tina: ‘semua manusia akan tua mas dan akan kembali pada-Nya.’

Aku terkagum dengan kata-kata Tina. Dan siang itu aku memberanikan diri untuk melakukan ta’aruf pada orang tua Tina.

Saat di rumah Tina, kedua orang tua Tina sangat ramah padaku. Mereka berdua menyuguhkan makanan dan minuman yang lezat. Setelahnya, aku menceritakan latar belakang keluargaku. Tak semuanya aku ceritakan pada mereka, terutama aib ku ketika masih menjadi preman.

Mereka berasal dari Indonesia, tapi mereka sudah lama tinggal di Johor, Malaysia. Aku sangat menghormati keluarga Tina, dan mereka memiliki kesederhanaan yang tinggi.

Tibalah hari pernikahanku. Acara ijab kabul berjalan dengan lancar, beserta acara walimah/ resepsi pernikahan kami yang sederhana. Aku juga menyewa satu kamar hotel di Erica Hotel, Johor Bahru dengan tabunganku, untuk malam pertama kami.

Tiga hari kemudian, kami berdua pulang ke rumahnya Tina..

Ayah Tina: “jadi, kau putuskan untuk tinggal di kontrakan Baim nak?”

Tina: ‘iya abi. Apa ummi juga setuju dengan keinginan Tina?’

Aku hanya diam mendengar pembicaraan mereka..

Ibu Tina: ‘ummi setuju nak, asalkan kau tetap meminta ridho Allah. Dan jangan lalaikan tugasmu sebagai seorang istri.’

Tina: “iya ummi. Insya Allah Tina akan tetap menjadi istri yang baik untuk Baim.”

Ibu Tina: ‘nak Baim, kamu juga harus laksanakan tugasmu sebagai suami. Kamu harus menafkahi Tina, dan menjaga Tina baik-baik.’

Aku: “ummi, abi, saya sudah berjanji dengan ijab kabul yang ku ucapkan. Itu sudah menjadi kewajibanku pada Tina.”

Ayah Tina: ‘alhamdulillah. Bagus itu nak Baim. Ya sudah Tina, kamu rapikan baju-bajumu sekarang. Dan nak Baim, mari kita main catur dulu!’

Tina: “iya bi.”

Aku melayani ayah mertua ku (pak Ali) bermain catur. Aku sudah menganggap mereka sebagai orang tua kandungku sendiri. Saat ini, adalah saat paling damai dan bahagia dalam hidupku.

Setelah selesai berkemas, aku berpamitan pada kedua mertuaku. Lalu kami pergi ke rumah kontrakanku. Semua barang-barang dirumah, kami rapikan hari itu.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar.”

Tina: “mas, ayo bangun mas. Sudah azan subuh!”

Aku: ‘iya sayang, sebentar lagi!’

Tina: “ayo mas bangun. Mas mandi terus sholat subuh! Mas ga mau sholat berjamaah ya sama Tina?”

Aku: ‘kamu mandi duluan sayang. Aku masih ngantuk!’

Tina mandi dulu saat itu. Selesai mandi, dia menyiram wajahku dengan air satu gelas. Sejak saat itu, dia selalu melakukannya setiap subuh.

Tina: ‘mas cuti liburnya tinggal dua hari kan?’

Aku: “iya sayang, ada apa?”

Tina: ‘kalau begitu, bantu aku pasang gorden di ruang tamu dan bersih-bersih rumah.’

Aku: “mas kira, sayang mau ajak bercinta lagi. Hehehe.”

Tina: ‘apaan sih mas. Kan sudah tadi malam. Tina capek kalau tiap saat bercinta terus!’

Aku: “iya deh sayang, mas becanda. Ayo kita bersihkan rumah sama-sama sekarang?”

Aku dan istriku membersihkan seluruh ruangan di dalam rumah, dan halaman rumah. Lalu kami bersantai dengan menonton televisi bersama.

Hari-hari ku jalani bersama Tina dengan penuh kasih sayang. Aku saat itu bekerja di pabrik, sedangkan Tina mengisi waktunya dengan menjual busana muslim secara online. Tina juga menjalani tugasnya sebagai istri, dia memasak untukku dan menyayangiku dengan tulus.

Pada bulan kedua pernikahan kami, aku mengajaknya jalan-jalan ke tempat wisata. Kami berdua menikmati hari-hari indah kami.

Pernah juga aku mengajaknya menonton film bioskop di TGV cinemas di Kuala Lumpur, Malaysia, setelah itu aku dan Tina berbelanja pakaian dan kebutuhan kami lainnya.

Suatu malam di rumah, ketika kami bersantai di ruang televisi..

“Sayang, ada satu pertanyaan yang ku simpan dari dulu.” Ucapku padanya.

‘Mas mau tanya apa?’ Kata Tina.

“Sebenarnya sejak kapan kamu memakai cadar? Kalau mas boleh tau.”

‘Tina juga sudah lupa mas. Kemungkinan saat aku masih di bangku SMA. Aku di sarankan abi untuk memakai cadar.’ Jawab Tina

“Oh begitu.”

‘Iya mas. Apa mas tidak suka?’

“Ah tidak! Mas suka sekali. Aku mencintaimu Tina, bagaimanapun keadaanmu.” Ucapku mesra padanya.

‘Aku juga mencintai mas apa adanya sampai kapanpun. Tapi Tina sedih mas!’

“Kenapa sayang?” Tanyaku kebingungan.

‘Sudah tujuh bulan kita menikah, tapi aku belum juga hamil.’ Tina mulai menangis saat itu.

‘Apa Tina yang mandul, Tina ga tahu mas.’

“Sudahlah sayang. Mungkin Allah belum memberi kita anak saat ini. Bersabarlah sayang.” Jawabku sambil memeluknya.

Tina selalu sedih sejak saat itu. Kami berdua memang belum diberikan momongan anak oleh Tuhan, namun aku dan istriku tetap bersabar.

Aku mendapat bonus komisi dari perusahaan. Saat itu, aku membelikan sebuah kalung emas untuk Tina. Aku selalu berusaha untuk tidak membuatnya sedih. Karena sudah berhari-hari Tina selalu melamun dan menangis.

“Assalamu’alaikum.” Ucapku ketika sampai di rumah.

‘Waalaikum salam mas. Tunggu ya mas, aku lagi memasak di dapur, nanti masakanku gosong.’

“Iya. Setelah itu, kamu kesini ya.” Suruhku untuk ke ruang tamu.

Beberapa menit kemudian, Tina membawakanku segelas teh hangat dan roti. Aku menyuruhnya duduk di sampingku.

“Tina, sekarang tutup matamu.” Pintaku padanya.

‘Ada apa sih mas? Jangan aneh-aneh lho mas.’

“Ga. Ayo cepat, tutup matamu.”

“Sekarang buka matamu sayang!” suruhku lagi.

‘Masya Allah, indah sekali ini mas. Mas dapat uang dari mana?’

“Alhamdulillah tadi aku dapat uang komisi dari perusahaan. Mas belikan ini untukmu.”

‘Terima kasih ya mas. Tina suka sekali.’ Tina memeluk ku.

Di saat aku memeluknya, Tina memegang dadanya..

“Sayang, kamu kenapa? Kamu sakit?”

‘Oh ga apa-apa mas. Tina cuman sedikit sesak.’ Jawabnya singkat.

“Kamu harus periksakan sakitmu ini. Nanti malam kita ke dokter umum ya sayang.” Tawarku padanya.

‘Ga usah mas. Aku ga apa-apa kok.’

Tina menyuruhku makan lebih dulu. Setelah aku makan dan mandi, aku masuk ke kamar. Aku melihat istriku sedang tidur.

Aku hanya bersantai di ruang tamu sambil memakan roti yang dibeli Tina. Aku membangunkan istriku saat magrib tiba. Namun, dia tidak juga bangun. Lalu aku segera menelpon taksi. Aku membawanya ke rumah sakit. Dan malam itu, aku langsung menelpon orang tua Tina.

“Halo, assalamualaikum abi. Ini Baim.”

‘Iya nak. Kamu menelpon dari mana? Nomer siapa yang kamu pakai?’ tanya ayah Tina.

“Tina sakit abi, tolong kabari ummi juga. Aku sekarang di rumah sakit PSH (inisialnya). Aku menelpon abi dari rumah sakit.’ Jawabku padanya.

‘Astagfirullah, tunggu kami disana nak. Kami segera datang!’

“Mi, ummi, cepat sedikit mandimu.” Kata ayah Tina, ketika di rumahnya.

‘Ada apa bi?’ jawab ibunya.

“Tina dirawat di rumah sakit. Ayo kita ke rumah sakit sekarang!”

‘Iya bi, iya. Tunggu ummi, ini sudah mau selesai!’

Setengah jam kemudian, orang tua Tina tiba di rumah sakit. Mereka menanyakan sakit yang di derita Tina padaku. Namun aku pun tidak tau penyakitnya Tina, karena dokter belum memberitahuku malam itu.

Esok paginya, dokter kembali memeriksa Tina. Lalu dokter itu memanggil ayahnya Tina ke ruangan dokter. Mereka bicara empat mata.

Aku sangat terkejut dan sedih, ketika ayahnya Tina mengabarkan penyakit Tina. Dia bilang, Tina menderita penyakit kanker hati.

Dua malam aku tidak tidur. Aku terus menunggu disamping tempat tidur Tina. Dan malam itu, Tina siuman. Aku segera membangunkan ibuku yang juga menginap di rumah sakit.

Ibuku meneteskan air mata kala melihat Tina siuman. Ibuku juga menanyakan pada Tina, apa yang dia rasakan saat itu. Tina meminta pada ibunya untuk tidak menangis, dia menjawab bahwa dia baik-baik saja.

Aku menghibur istriku selama beberapa jam, aku bercerita padanya mengenai pekerjaanku di hari itu. Aku juga mengajaknya untuk ke tempat wisata, jika istriku sudah sembuh dari sakitnya. Aku dan orang tua Tina memang sepakat untuk tidak memberitahu penyakit nya pada Tina.
Diubah oleh laodetahsin 07-03-2017 10:36
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.