Kaskus

Story

laodetahsinAvatar border
TS
laodetahsin
PREMAN DAN WANITA BERCADAR
Genre: Romantis, Horor, Aksi.
By
Laode Tahsin

Selamat pagi, aku mau minta ijin nulis cerita nih. Kisah romantis yang bercampur horror dan banyak aksi.
Nama-nama aku samarkan, jadi kalau ada kesamaan nama tokoh, peristiwa, dan tempat kejadian, tolong maafin ya guys.
Mau tahu kisah cinta mereka?


So, happy reading sobat dumay.

PREMAN DAN WANITA BERCADAR

DAFTAR ISI :
Prolog
Part 1 - Penginapan Pertamaku
Part 2 - Persahabatan
Part 3 - Wanita Asing
Part 4 - Mata Ketiga
Part 5 - Pernikahanku Dengan Wanita Bercadar
Part 6 - Perpisahan Kedua
Part 7 - Cukup Satu Maria Yang Ku Cinta
Part 8 - Selamat Datang Anakku
Part 9 - Maria Dan Cadarnya
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 2 suara
Sobat mengira, Tina wanita bercadar itu? atau Maria?
Jelas bukan.
0%
Penasaran ya? hehehe..
100%
Diubah oleh laodetahsin 08-03-2017 17:36
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
19.9K
72
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
laodetahsinAvatar border
TS
laodetahsin
#7
Part 3 - Wanita Asing


Hari-hari kulalui dengan berkelahi, menghabiskan minuman keras di café, dan bercinta dengan wanita-wanita di tempat lokalisasi. Tak ada sisi positif dalam kehidupanku. Dan aku tak pernah menyesal melakukan semua itu.

Suatu hari, aku melihat Rina dari kejauhan. Saat itu, aku di dalam mobil Kijang sedang menunggu Kapten yang berada di bank. Aku keluar dari mobil, dan berjalan mendekati Maria.

“Hai Rin. Aku tadi melihatmu dari jauh. Kamu mau kemana?” tanyaku padanya.

‘Aku mau ke kampus mas.’ Jawabnya kemudian.

“Oh, jadi kamu ini mahasiswa? Baguslah!”

‘Maaf mas. Pertama, aku ga kenal mas. Dan kedua, aku ga suka bicara sama orang asing!’

“Hahahaha. Apa maksudmu Rin? Apa kamu sudah hilang ingatan?” kataku sambil tertawa.

Rina menghentikan mobil angkutan umum, dan masuk ke dalamnya. Aku masih heran melihat tingkah laku Rina. Lalu aku kembali ke mobil, dan mengantar Kapten pulang ke rumah.

Aku kembali ditugaskan mengawal perjudian di arena tinju. Beberapa uang yang terkumpul, aku masukkan ke dalam kopor. Aku mencatat semua daftar pemasang taruhan, dengan dibantu Sandi.

Terdapat dua pertandingan malam itu. Semuanya petinju lokal. Ada yang berasal dari jawa timur dan jawa tengah. Aku menyaksikan serunya pertandingan. Ada keinginanku untuk bertanding di atas arena itu. Tapi tak bisa ku wujudkan.

Pertandingan itu selesai, dan bandar menang banyak malam itu. Aku merapikan lagi semua uang ke dalam koper. Aku hanya bisa membawa 3 koper, dan sebagian lainnya dibawa temanku Sandi. Setibanya kami di rumah, kami menghitung kembali uang itu.

“Bagus Lex. Sudah beberapa kali pekerjaan lu rapih. Lu termasuk professional Lex!” Ucap Kapten dengan tersenyum lebar.

Aku hanya menganggukkan kepala; ‘semua ini bukan karena gue aja Kapten. Tapi karena kerjasama teman-teman lain!’

“Iya Lex gue paham. Oke, sekarang gue mau bagikan komisi kalian. Semuanya harap duduk!” Kapten memanggil semua penghuni rumah.

Aku diberi komisi oleh Kapten dua. Dan esok paginya, aku pulang ke rumah untuk pertama kalinya. Aku tidak melihat adik ku Shinta di rumah. Lalu aku bergegas ke rumah paman Farid.

“Tante Tatik, dimana Shinta?”

‘Sebentar lagi juga pulang sekolah. Kamu makan dulu ya Lex?’ Tawarnya padaku.

“Aku sudah makan tante.”

‘Bagaimana pekerjaan mu Lex? Kamu kemana saja selama ini?’

“Aku kerja di luar kota tante. Aku pulang ke rumah dulu ya, tolong kastau Shinta untuk temui aku dirumah.” Ucapku singkat, karena mulai merasa bosan di rumahnya.

‘Iya nak Alex.’ Jawab tante Tatik.

Siang harinya, Shinta menemuiku di rumah. Aku bicara seperlunya saja dengannya. Dan aku memberinya sejumlah uang.

Di tempat lain, markas geng kobra...

“Kalau kita terus begini, bisa rusak bisnis kita Wan! Apa lu ga tau siapa nama anak itu?” kata bos kobra.

‘Anak buahku sudah dapat info tentang dia bos. Dia Alex, anak buahnya Jimmy!’

“Pokoknya, lu urus itu Alex. Bunuh dia dalam 24 jam!”

‘Siap bos.’

“Satu lagi Wan, ada tamu besar dari Jakarta yang mau datang besok. Siapkan segalanya. Kita ga boleh mengecewakan dia!”

‘Iya bos.’ Jawab Wawan yang langsung pergi dari markas kobra.

Aku kembali ke tempat kerja ku. Dan aku melihat tidak ada orang di rumah. Lalu aku pergi ke rumah Rina sore itu. Setiba ku disana, aku bertemu ibunya. Dia bilang padaku kalau Rina tidak di rumah. Tapi, ada wajah yang ku kenal menghampiriku.

Maria: “kau lagi? Dari mana kau tau alamat rumahku?”

Aku: ‘apa maksudmu? Kita sudah sering bertemu. Seingatku, terakhir kali kamu yang mengajak berkenalan.’

Maria: “apa maksudmu? Kapan kita berkenalan?”

Ibunya Maria: “apa dia temanmu nak?”

Maria: “bukan bu, saya ga kenal dia!”

Aku: ‘baiklah, aku akan jelaskan lagi dari awal pertemuan kita!’

Maria: “ga perlu. Lebih baik sekarang kau keluar. Aku ga mau bicara dengan orang asing!”

Aku pamit pulang pada ibunya. Aku masih belum bisa menerima perlakuan wanita itu. Aku bahkan bingung kenapa dia berubah seperti itu.

Suatu hari, Kapten memberiku wewenang mencari anak buah sendiri. Katanya untuk memudahkan pekerjaanku. Ketika aku keluar dari rumah, aku melihat seseorang berdiri di samping mobil Jeepnya, aku tidak mengenal orang itu, tapi dia terus memandangku.

Aku mengeluarkan motor dan pergi ke terminal. Aku mengajak empat temanku Ozi, Vicky, Hendra, dan Rico bergabung denganku. Mereka teman yang bisa aku andalkan, jaringannya pun banyak. Dari tempat dudukku saat itu, aku melihat laki-laki tadi di dalam wartel. Dia terus melihatku.

“Hei siapa lu? Kenapa lu selalu ikutin gue?” kataku ketika menghampirinya.

‘Gue bukan siapa-siapa.’

“Kalau begitu, pergi lu dari hadapan gue!” aku mendorongnya.

‘Daaagg!’ Perutku ditendangnya. Aku langsung membalasnya dengan pukulan. Terjadi perkelahian di antara kami. Teman-teman yang melihat segera menghampiri ku. Laki-laki itu dipukuli teman-temanku. Setelah puas, aku menyuruhnya pergi.

Di tengah perjalanan pulang, aku di ikuti oleh tiga motor..

‘Woi berhenti lu!’ teriak seorang dari mereka.

Aku terus memacu motorku, tapi tiba-tiba motorku di tendang salah satu dari mereka. Aku tak dapat mengendalikan motor dan terjatuh. Lalu aku di pukuli enam orang itu.

“Sialan! makan ini. Bakk!” kata salah seorang dari mereka.

‘Bruukk!’ aku menangkis pukulan mereka.

Lalu salah seorang dari mereka menikamku dari depan. Pinggang kiriku berdarah. Aku terjatuh di tanah. Enam orang tadi segera melarikan diri. Kondisi tubuhku sangat lemas.

“Pak, pak, berhenti. Itu ada yang terluka di pinggir jalan!” ucap Maria yang sedang naik taksi.

“Ya Allah mas ini lagi. Kenapa dengan dia! Pak, ayo bantu, kita bawa ke rumah sakit.” kata Maria.

‘Jangan mba, nanti kita yang dituduh menusuk dia!’ jawab sopir taksi itu.

“Tidak apa-apa pak. Disini juga sepi, perkampungan masih jauh di depan. Saya ini perawat di rumah sakit. Ayo pak, tolong angkat tubuhnya!” kata Maria.

Hanya sedikit kekuatan yang ku punya. Aku mempertahankan kesadaranku. Dan ketika di dalam mobil taksi, aku sudah tidak ingat apa-apa.

Dua hari kemudian, aku sadar dari pingsan, setidaknya itulah yang dikatakan perawat. Aku melihat dua polisi duduk di sampingku. Mereka mengajukan banyak pertanyaan; ‘Kau masih ingat siapa namamu?’

“Alex pak. Saya dimana ini pak?” Tanyaku dengan gaya pura-pura bodoh.

‘Kamu di rumah sakit. Kami sudah melihat KTP mu, sekarang ceritakan pada kami apa yang terjadi?’

“Saya tidak ingat pak. Maaf pak!” Jawabku ke mereka.

‘Oya? Aku tau kalau kau ini mantan narapidana. Kau juga bekerja untuk Jarot kan?’

“Apa maksud bapak? saya tidak kenal Jarot.” Jawabku berbohong melindungi bosku.

‘Kami memang belum punya bukti keterlibatan mu di perjudian. Jadi lebih baik ceritakan saja apa yang terjadi padamu, sebelum kami kehilangan kesabaran!’

“Saya hanya ingat sedikit pak. Saya di ikuti tiga motor, jumlah mereka enam orang. Motor ku dijatuhkan, lalu saya dikeroyok mereka.”

‘Baiklah, nanti kau ceritakan ciri-ciri mereka.’

Aku hanya mengangguk, lalu mereka keluar dari ruangan. Beberapa menit kemudian, seorang wanita masuk ke ruang inap ku.

“Kamu...?” aku terkejut melihatnya di ruangan.

‘Iya, aku yang menolongmu di jalan!’

“Kamu kerja disini?” tanyaku padanya.

‘Iya. Aku akan menyuntikmu sekarang. Luruskan tangan kananmu!’ Perintahnya padaku.

“Hahahaha. Aku ga sangka kau ini perawat!”

‘Hei, kamu ini sudah aku tolong! Setidaknya ucapkan terima kasih!’ katanya seraya merapikan alat suntiknya.

“Maaf, terima kasih ya? Aku berhutang budi sama kamu.” Aku menundukkan kepala karena malu.

‘Sudahlah. Kenapa juga kamu harus berkelahi?’

“Aku diserang enam orang di jalan!”

‘Tapi kan pasti ada alasannya kamu punya musuh begitu. Dasar laki-laki, selalu sok kuat!’ kata Maria.

“Apa kau bilang barusan?”

‘Ga ada, lupakan saja!’ jawabnya sambil keluar dari ruangan.

Lima hari aku dirawat di rumah sakit. Aku menghubungi sang kapten, untuk membayar biaya rumah sakit. Dan salah satu anak buahnya yang juga temanku, yang diutus menemuiku di rumah sakit.

Aku masih menyimpan dendam pada mereka yang mencederaiku. Dan aku mendapat kabar, kalau mereka dari geng kobra. Aku dan empat anak buahku berencana membalas dendam.

Kami berlima pergi ke markas kobra di malam hari. Aku membagi Ozi, Hendra dan Vicky ke belakang rumah yang menjadi markas kobra itu. Lalu aku dan Rico masuk dari depan rumah. Aku bersiap di depan rumah itu.

“Rico, ayo masuk!”

‘Ya Lex.’ jawab Rico.

“Hei siapa kalian?” teriak salah satu penjaga di depan rumah itu.

Tanpa bicara apa-apa lagi, kami berdua menyerang laki-laki itu hingga pingsan. Aku mendobrak pintu rumah yang terkunci itu. Aku melihat sekitar enam orang di ruang tamu sedang bermain kartu.

“Rico, hati-hati. Ayo maju!” Aku berlari ke arah mereka.

‘Iya Lex. Hiiiaaaaatt. Buk bak buk.!’ Kami menghajar semua orang itu.

Pemukul kasti yang ku bawa patah, lalu aku mengeluarkan rantai besi, dan aku lilitkan di tangan. Beberapa orang dari mereka mengambil pedangnya, dan mengenai tubuh ku dua kali.

Aku berhasil melumpuhkan mereka, dengan datangnya tiga temanku. Lalu ada empat orang lagi yang turun dari lantai atas. Ada dua wajah yang aku kenal.

Dengan sisa tenaga, kami menghajar mereka habis-habisan. Tidak ada yang meninggal dalam perkelahian itu, kami hanya membuat mereka babak belur hingga pingsan. Kami berlima ke lantai atas dan masuk ke salah satu kamar. Kami melihat ada tiga orang di dalam kamar itu.

“Jadi lu, yang sudah buat kekacauan di rumah gue ini Lex!” Ucap salah seorang dari mereka.

‘Lex, lu kenal dia?’ kata Rico.

‘Ga Rick.’ Jawabku padanya.

“Lu memang ga kenal gue Lex. Tapi komplotan lu itu saingan berat bisnis gue. Dan hari ini, lu juga harus tanggung jawab atas perbuatan lu ini!” kata bos itu.

Dua orang anak buahnya mengeluarkan samurai. Mereka berdua memburu kami dengan brutal. Aku dan teman-temanku kewalahan menghadapinya, karena mereka ahli beladiri.

Aku berhasil mengenai lengan orang itu dengan kursi yang ku lemparkan. Dan satunya lagi dilumpuhkan oleh Hendra. Vicky mengikat mereka berdua.Tiba-tiba bos itu mengarahkan dua pistol yang di pegangnya ke arah kami.

“Diam di tempat kalian. Kalau ada yang bergerak, gue bunuh kalian!” ancam bos itu.

“Taruh senjata kalian di lantai!” suruhnya lagi.

Aku dan teman-temanku menuruti perintahnya. Dan kami disuruh berdiri di sudut kamar. Bos itu berjalan keluar pintu dengan tetap menodongkan kedua pistolnya. Lalu dia mengunci pintu kamar dari luar.

Kami mendengar langkah bos itu menuruni anak tangga. Salah satu temanku mendobrak pintu kayu itu. Saat kami mengejar keluar rumah, kami sudah kehilangan jejak bos itu dan sebagian anak buahnya.

Dua hari berlalu, aku duduk di sebuah halte bis. Aku berhasil mencopet dompet seorang laki-laki yang berdiri di depanku. Laki-laki itupun pergi menaiki bis yang dihentikannya. Lalu ada seorang pria tua mendatangiku..

“Apa yang kau lakukan anak muda?” Katanya dengan wajah mengkerut.

Aku tidak menjawabnya dan langsung berdiri.

“Hei duduk kamu!” katanya lagi dengan memegang tangan kiriku.

‘Ada apa pak?’ Tanyaku ke pria itu.

“Jangan pura-pura bodoh. Aku lihat kamu mencuri dompet pria tadi. Taubatlah nak, tinggalkan pekerjaanmu itu!”

‘Aaahh. Bapak ini tau apa!’

“Saya memang ga tau apa-apa, tapi Allah Maha Tahu perbuatanmu. Dia mencatat semua dosamu!”

‘Bapak ceramah ke saya, seolah-olah bapak ini orang suci.’

“Saya juga banyak dosa nak. Tapi saya mengajakmu untuk taubat.”

‘Aaahh sudahlah. Banyak omong kau pak!’ aku berjalan menjauhinya dan menaiki salah satu bus.

Setibaku di terminal, ada seorang pria berbadan besar menungguku. Lelaki itu mencariku setelah bertanya ke teman-teman.

“Alex, ikut gue sekarang!” katanya seraya menghadangku.

Dalam pikiranku, lelaki itu seorang polisi intel. Aku langsung berlari menjauhinya. Aku melihat ke belakang, dan dia mengejarku.
Diubah oleh laodetahsin 08-03-2017 05:20
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.