- Beranda
- Stories from the Heart
PREMAN DAN WANITA BERCADAR
...
TS
laodetahsin
PREMAN DAN WANITA BERCADAR
Genre: Romantis, Horor, Aksi.
By
Laode Tahsin
Selamat pagi, aku mau minta ijin nulis cerita nih. Kisah romantis yang bercampur horror dan banyak aksi.
Nama-nama aku samarkan, jadi kalau ada kesamaan nama tokoh, peristiwa, dan tempat kejadian, tolong maafin ya guys.
Mau tahu kisah cinta mereka?
So, happy reading sobat dumay.

DAFTAR ISI :
Prolog
Part 1 - Penginapan Pertamaku
Part 2 - Persahabatan
Part 3 - Wanita Asing
Part 4 - Mata Ketiga
Part 5 - Pernikahanku Dengan Wanita Bercadar
Part 6 - Perpisahan Kedua
Part 7 - Cukup Satu Maria Yang Ku Cinta
Part 8 - Selamat Datang Anakku
Part 9 - Maria Dan Cadarnya
By
Laode Tahsin
Selamat pagi, aku mau minta ijin nulis cerita nih. Kisah romantis yang bercampur horror dan banyak aksi.
Nama-nama aku samarkan, jadi kalau ada kesamaan nama tokoh, peristiwa, dan tempat kejadian, tolong maafin ya guys.
Mau tahu kisah cinta mereka?
So, happy reading sobat dumay.

DAFTAR ISI :
Prolog
Part 1 - Penginapan Pertamaku
Part 2 - Persahabatan
Part 3 - Wanita Asing
Part 4 - Mata Ketiga
Part 5 - Pernikahanku Dengan Wanita Bercadar
Part 6 - Perpisahan Kedua
Part 7 - Cukup Satu Maria Yang Ku Cinta
Part 8 - Selamat Datang Anakku
Part 9 - Maria Dan Cadarnya
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 2 suara
Sobat mengira, Tina wanita bercadar itu? atau Maria?
Jelas bukan.
0%
Penasaran ya? hehehe..
100%
Diubah oleh laodetahsin 08-03-2017 17:36
anasabila memberi reputasi
1
19.9K
72
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
laodetahsin
#3
Part 1 - Penginapan Pertamaku
“Alex, kau itu sudah tidak punya bapak, tidak punya ibu. Kamu masih saja membuat onar! Kapan kau taubat Alex?” teriak paman Farid.
Adikku Shinta hanya menangis di kursi paling sudut. Aku menatap Shinta penuh iba. Aku menghampirinya dan memeluknya.
“Maafkan mas ya dek. Mas tadi mencuri uang untuk penuhi kebutuhan kita.” Kataku padanya.
Adikku tetap diam, sesekali dia hanya menggelengkan kepalanya.
“Lex, ubahlah kebiasaan burukmu itu! Sekarang kau sudah 18 tahun, kau sudah dewasa!” Kata pamanku lagi.
Aku berkata padanya; ‘sudahlah om, aku bisa mengurus diriku! Om dan tante kan juga sudah berjanji mau mengasuh Shinta sampai dia menyelesaikan sekolahnya. Jadi jangan urus kehidupanku om!’
Tanteku menghampiri Shinta, dia mengajak Shinta ke rumahnya. Dan tanpa bicara apa-apa lagi, om ku menyusul Shinta dan istrinya pulang. Yang jarak rumahnya hanya beberapa puluh meter saja.
Aku ke dapur, lalu membuka kulkas. Aku mengambil empat kaleng bir dan kembali duduk di ruang tamu. Aku menghabiskannya seorang diri. Aku melipat kakiku, menundukkan kepala sambil merenung.
“Ya Tuhan, aku sangat lelah tanpa kehadiran orang tuaku. Tolong aku di manapun Engkau berada.” Ucapku dalam hati.
Keesokan paginya, aku ke rumah paman. Ada hal penting yang ingin ku sampaikan pada Shinta..
“Tante, dimana Shinta? Apa dia sudah pergi sekolah?” Tanyaku padanya.
‘dia masih ada di kamar.’ Jawab tante Tatik.
Aku masuk ke kamar. Aku melihatnya tengah merapikan buku-buku sekolahnya. Lalu aku mengajaknya ke ruang tamu.
“Dek dengerin mas. Ini penting!” kataku sambil memegang pundaknya.
‘Ada apa mas?’ Jawab Shinta.
“Mulai hari ini, kamu jangan merepotkan om Farid dan tante Tatik. Karena mas akan meninggalkanmu disini.”
Shinta bertanya padaku; ‘memang mas mau kemana?’
“Mas mau keluar kota, mencari pekerjaan. Mas mau kumpulkan uang untuk sekolahmu. Supaya kelak kamu jadi orang yang sukses!” jawabku padanya.
Shinta mulai menitikkan air mata. Aku berpamitan ke paman dan tanteku. Aku berjalan keluar rumah paman, lalu menengok ke belakang sekali lagi. Tanpa terasa, air mataku mengalir pelan. Aku merasa berat meninggalkan adikku sendirian.
Aku merapikan pakaianku ke dalam tas. Aku belum tahu kemana kakiku akan melangkah. Aku hanya punya satu tujuan, yaitu rumah abang Frans.
“Tok tok tok, permisi, tok tok tok!” Aku berdiri di depan pintu rumah abang Frans.
‘Klekk!’
“Iya dek, cari siapa ya?” Seorang wanita paruh baya keluar rumah menyapaku. Sepertinya dia istri abang Frans.
“Ada mas Frans mba?” Tanyaku kemudian.
‘Oh iya ada dek, ayo masuk dulu.’ Katanya seraya mempersilakanku duduk di ruang tamu.
Abang Frans keluar dari kamarnya menemuiku.
“Oh kamu Lex, tumben kesini. Ada apa Lex?” kata bang Frans yang sedang memakai kaosnya.
“Maaf bang, pagi-pagi udah ganggu. Aku butuh pekerjaan nih bang. Apa abang bisa bantu aku?” pintaku padanya tanpa basa-basi.
‘Jadi begitu Lex. Kalau pekerjaan pabrik sih, abang gak tahu. Kalau kamu mau, ikut abang jadi kernet di truk!’ tawaran bang Frans menarik minatku.
Tanpa berpikir lama, aku menjawabnya “aku mau bang. Kapan aku bisa mulai kerja?”
‘Nanti malam aku mau kirim barang dari Sidoarjo ke Solo. Kamu bisa ikut abang mulai nanti malam.’
Aku menyetujuinya, lalu aku pamit pulang ke abang Frans dan istrinya. Aku sudah bertekad, tidak akan pulang ke rumah sebelum aku menjadi orang sukses. Maka pagi itu, aku memutuskan untuk menunggu abang Frans di kos temanku, mas Beni.
Sekitar jam 11 malam, aku pergi ke rumah abang Frans. Aku melihatnya tengah memanaskan mesin truknya. Aku pun bersiap-siap melakukan pekerjaan pertamaku.
Tiba di sebuah gudang pupuk di Sidoarjo, aku dan bang Frans menunggu di sebuah warung, sambil melihat para pekerja memindahkan barang-barang ke gudang. Setelah semuanya selesai, kami berangkat menuju Solo. Malam itu, pekerjaanku lancar hingga aku kembali ke Surabaya.
Empat bulan aku menjalani pekerjaanku. Tapi tak ada uang yang bisa ku tabung. Semuanya habis untuk kebutuhanku, tak jarang pula aku menghabiskan uang untuk membeli minuman keras.
Suatu malam, aku dan abang Frans singgah di sebuah kedai kopi di Batu, Malang.
"Susi, kamu kesini dulu sebentar." panggil bang Frans ke wanita paruh baya itu.
Ada apa toh mas? Jawabnya kemudian.
"Kamu ajarkan anak ini biar jadi lelaki sejati! Hahahaha.” Aku bingung saat mendengar ucapannya.
Lalu tante Susi menggandeng tanganku ke ruangan. Dan malam itu, adalah malam pertamaku melepas masa lajang, pada tante Susi. Kemudian kami pulang ke Surabaya. Di tengah perjalanan, kami singgah di SPBU untuk mengisi solar.
Tak terasa, sudah dua tahun aku menjalani pekerjaanku itu. Karena hidupku selalu di jalan, aku sampai tak pernah pulang ke rumah.
Aku diajak temanku Bobi, menuju Krian. Sore itu, kami menemui dua temannya. Aku masih belum tahu apa yang mereka rencanakan.
Malam pun tiba, aku dibonceng Bobi, dan satu motor lainnya, ada dua temannya yang lain. Aku belum tahu tempat tujuan kami. Dan kami berhenti di jalan raya yang sunyi. Kedua motor kami parkir di balik pepohonan.
"Bob, kita mau ngapain sih disini?" tanyaku pada Bobi.
'Merampok mobil yang lewat Lex.' jawabnya.
"Wah gila kamu Bob. Kalau aku tau, aku ga ikut tadi!" ucapanku sedikit marah padanya.
‘Sudahlah Lex, kau diam aja. Kalau ga berani, kau sembunyi saja disini. Tapi nanti jangan minta bagianmu ya!' kata Bobi.
Beberapa menit kemudian, ada truk yang datang dari kejauhan. Bobi dan kedua temannya duduk menunggu truk itu di balik pepohonan. Saat truk yang berjalan pelan itu melintas di depan kami...
"Ayo rek, sekarang!" ajak Bobi pada kedua temannya.
'Oke Bob siap.' Jawab mereka bersamaan.
Bobi melempar kaca truk dengan batu. Dan supir itu menginjak rem seketika. Bobi lari ke arah truk, diikuti kedua temannya. Mereka mengeluarkan golok dari belakang bajunya. Ada tiga orang di dalam truk itu.
'Woi, ada apa ini?' teriak salah seorang dari dalam truk.
"Diam kalian. Ayo keluar semua!" ancam Bobi seraya menodongkan golok ke sopir truk.
Dua orang langsung turun dari truk dan menyerang Bobi. Kedua teman Bobi berusaha melawan dua orang itu. Terjadi adu pukul antar mereka.
Beberapa pukulan dan tendangan mendarat di tubuh sopir. Dan sopir itu jatuh ke tanah. Teman supir itu melompat ke arah Bobi, dan menikamnya dari belakang.
Aku masih sembunyi di balik pohon. Tidak ada ketakutan yang ku rasa. Darahku semakin bergejolak melihat pertarungan itu.
Tak sabar aku duduk, aku berlari ke salah satunya. Aku memukul kepalanya dengan batu. Darah segar keluar dari telinga kiri orang itu. Dan temannya menyerangku tiba-tiba. Kepalaku pening, mataku mulai berkunang-kunang, dan aku merasakan sakit yang luar biasa di seluruh tubuhku.
"Daaaakk!" aku dipukul lagi dengan sebuah kayu.
Aku terbangun dari tidurku. Aku memandang sekeliling, dan mendapati diriku terbaring di kos Bobi. Lalu Bobi dan temannya Adi menceritakan kalau malam itu operasinya gagal. Aku juga pingsan hampir 6 jam.
Tiga hari kemudian, sakit memar dan luka ku mulai membaik. Aku bercerita ke abang Frans mengenai kejadianku, dia hanya tertawa mendengarnya. Dan malam itu, abang Frans mendapat job mengantar kaca ke kota Sragen. Kami memulai perjalanan kami dari Surabaya sekitar jam 8 malam.
Di tengah perjalanan, saat itu di perbatasan Nganjuk - Madiun, kami mengalami kecelakaan. Abang Frans yang sedikit mengantuk, keluar ke jalur kiri. Lalu bis yang mau melambung truk abang Frans dari kiri, menabrak keras bagian belakang truk.
Abang Frans kehilangan kendali mobil, dan menabrak seorang warga di daerah itu hingga tewas. Kami berdua dilaporkan warga setempat ke polisi. Dan mulai hari itu, aku dan abang Frans menginap di ruangan penuh jeruji besi. Itu pengalaman pertamaku menginap di penjara.
Ternyata kehidupan di penjara tidak terlalu buruk. Selain makanan yang setengah matang, atau kamar yang bercampur dengan kamar mandi, orang-orang di dalam penjara sangat baik.
Ruangan tiap penjara juga dipisah, aku dan bang Frans di ruangan penjara kategori kriminal umum, seperti kecelakaan lalu lintas, perampokan, tindak asusila, atau lainnya. Sedangkan ruangan untuk para narapidana narkoba di ruangan terpisah, begitu pula ruangan untuk pembunuhan, dan teroris.
Aku dihukum 6 bulan, dan bang Frans dipidana selama setahun. Pernah suatu hari, aku diberi hukuman berat. Saat itu, aku sedang berada di dapur umum.
“Hey anak baru tuh!” bisik seseorang ke temannya seraya melihatku.
Mereka berdua mendatangiku. Salah seorang menghadang jalanku, dan satunya lagi di belakangku. “Sudah kenyang makannya?” kata salah satu dari mereka.
“Woi jawab! Kau ini punya mulut. Oh jangan-jangan kau ini bisu hahaha!” ucap seorang lagi di belakangku.
Aku tetap diam. Orang yang di depanku mendaratkan pukulan keras ke rahangku. Aku terjatuh di lantai. Suasana di dapur itu langsung gaduh. Mereka menyoraki kami yang akan bertarung. Aku berdiri kembali, dengan menahan sedikit sakit di rahangku.
‘Maaf mas, saya ga mau terlibat masalah.’ Kataku pada mereka.
“Hahaha. Masalah katamu? Akulah masalahmu!” teriak orang yang ada di depanku.
“Bug bag bug. Aku terus dipukuli dua orang itu, sampai aku terpojok di dinding. Penonton semakin berteriak senang.
“Daaash!” sebuah tendangan keras mengenai perutku. Aku merintih kesakitan.
Aku berusaha berdiri, dan mengambil piring perak yang jatuh tadi, aku layangkan piring itu ke wajah salah seorang dari mereka. Di tengah perkelahianku dengan dua orang itu, petugas lapas mendatangi kami. Aku dan kedua orang itu mendapat hukuman berat.
Bang Frans kaget dengan apa yang terjadi padaku, saat itu dia ada di ruangandan diberi info temanku. Aku dihukum berjalan diatas pecahan kaca dengan kaki telanjang. Jauhnya jarak itu sekitar 20 meter. Aku tidak punya pilihan lagi, selain menjalani hukuman itu.
Setelah selesai, beberapa pecahan kaca yang menembus kaki ku mulai aku bersihkan. Aku ingin menangis, tapi aku tetap menahan air mataku agar tidak tumpah.
Tak terasa, sudah 5 bulan aku mendekam di penjara. Tinggal sebulan lagi aku berada disini, itulah pikiranku saat itu. Dan aku tidak tertarik membuat kekacauan atau perkelahian lagi.
Diubah oleh laodetahsin 07-03-2017 10:14
0