- Beranda
- Stories from the Heart
PREMAN DAN WANITA BERCADAR
...
TS
laodetahsin
PREMAN DAN WANITA BERCADAR
Genre: Romantis, Horor, Aksi.
By
Laode Tahsin
Selamat pagi, aku mau minta ijin nulis cerita nih. Kisah romantis yang bercampur horror dan banyak aksi.
Nama-nama aku samarkan, jadi kalau ada kesamaan nama tokoh, peristiwa, dan tempat kejadian, tolong maafin ya guys.
Mau tahu kisah cinta mereka?
So, happy reading sobat dumay.

DAFTAR ISI :
Prolog
Part 1 - Penginapan Pertamaku
Part 2 - Persahabatan
Part 3 - Wanita Asing
Part 4 - Mata Ketiga
Part 5 - Pernikahanku Dengan Wanita Bercadar
Part 6 - Perpisahan Kedua
Part 7 - Cukup Satu Maria Yang Ku Cinta
Part 8 - Selamat Datang Anakku
Part 9 - Maria Dan Cadarnya
By
Laode Tahsin
Selamat pagi, aku mau minta ijin nulis cerita nih. Kisah romantis yang bercampur horror dan banyak aksi.
Nama-nama aku samarkan, jadi kalau ada kesamaan nama tokoh, peristiwa, dan tempat kejadian, tolong maafin ya guys.
Mau tahu kisah cinta mereka?
So, happy reading sobat dumay.

DAFTAR ISI :
Prolog
Part 1 - Penginapan Pertamaku
Part 2 - Persahabatan
Part 3 - Wanita Asing
Part 4 - Mata Ketiga
Part 5 - Pernikahanku Dengan Wanita Bercadar
Part 6 - Perpisahan Kedua
Part 7 - Cukup Satu Maria Yang Ku Cinta
Part 8 - Selamat Datang Anakku
Part 9 - Maria Dan Cadarnya
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 2 suara
Sobat mengira, Tina wanita bercadar itu? atau Maria?
Jelas bukan.
0%
Penasaran ya? hehehe..
100%
Diubah oleh laodetahsin 08-03-2017 17:36
anasabila memberi reputasi
1
19.9K
72
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
laodetahsin
#1
Prolog
Aku mendengar suara azan, dan aku bergegas ke mushola rumah sakit ini. Aku berdoa dengan khusyuk, agar istriku segera siuman. Air mata mengalir tanpa disuruh saat ku berdoa.
Lalu aku kembali ke ruangan, dimana istriku di rawat. Aku duduk di samping tempat tidurnya. Aku sungguh tidak tega melihat penderitaan yang dialami istriku, selang infus terpasang di tangannya, dan oksigen mengalir ke alat yang terpasang di mulutnya. Aku hanya menunduk, dalam diamku selalu ku ucapkan doa.
Kudengar seseorang mengetuk pintu kamar. Ku lihat ibu mertuaku sudah datang. "nak, kamu sudah makan? Ini ummi bawakan nasi Padang buat kamu".
"Iya ummi sebentar. Saya masih ga nafsu makan". Jawabku sambil menaruh bungkusan nasi ke atas meja.
‘Jangan gitu nak. Kamu harus jaga kondisimu juga! Nanti pas Tina sadar, dan gantian kamu yang sakit bagaimana..? kan ga lucu!’
“Baik ummi, saya makan sekarang.”
‘Nah gitu dong. Kamu pindah ke sofa, ummi yang duduk di samping Tina.’ Kata ibu mertuaku sambil berjalan ke arahku. Aku pindah ke sofa dan memakan makananku.
Orang tua istriku termasuk orang yang berkecukupan, dan mereka juga dermawan. Pak Ali adalah nama ayah mertuaku, dan istrinya bernama ibu Nur Laili. Sudah satu tahun aku menikah dengan Tina, anak satu-satunya dari pasangan itu.
Tina adalah wanita yang taat beribadah, dan sungguh baik perangainya. Beda denganku, yang hanya mantan seorang preman. Dialah yang membuatku taubat kembali ke jalan Allah. Tapi selama pernikahanku dengan Tina, aku belum di karuniai seorang anak.
Namaku Alex, itu nama yang diberikan orang tuaku. Dan saat ini, aku memakai nama Ibrahim, sebut saja aku Baim. Aku anak pertama dari dua bersaudara, dan orang tuaku sudah meninggal sejak umurku 16 tahun. Saat itu, adikku Shinta yang perempuan, berumur 12 tahun. Jadi, orang tua Tina sudah aku anggap sebagai orang tua kandungku.
"Selamat siang mas, ibu, saya mau check kondisi Tina!” Rupanya ada dokter dan satu perawatnya yang masuk ke ruangan. Aku menghentikan makanku.
‘Oh iya dok, silahkan.’ Jawab ibuku ke dokter itu.
Selesai memeriksa kondisi istriku, ibuku bertanya; “bagaimana dok, kondisi anak saya?”
‘Ibu dan keluarga berdoa ya, supaya Tina cepat sadar dari koma nya. Nanti saya tuliskan tambahan obat, ibu bisa tebus obatnya di apotik dilantai bawah.’ Terang dokter itu.
Ibuku hanya mengangguk pelan, dokter dan perawatnya langsung keluar dari ruangan kami. Aku pun hanya diam membisu. Aku lihat mata ibuku mulai berkaca-kaca, lalu aku mendatanginya.
‘Ummi, tolong jangan sedih. Kita sama-sama berdoa ya untuk Tina.’ Kataku sambil memeluknya.
“Iya nak. Kalau begitu,ummi mau sholat dulu.” Jawabnya sambil terisak pelan.
Setelah aku makan, aku duduk disamping istriku. Tak lama kemudian, aku mulai mengantuk. Kedua tanganku berada di atas tempat tidur Tina, dan menyangga kepalaku di atasnya. Hanya satu jam aku tertidur, dan aku di kejutkan sesuatu...
Tangan kanan Tina memegang tanganku. Padahal aku ingat betul sebelum aku tidur tadi, kalau tangannya tak menyentuhku. Aku terheran, dan mau membangunkan ibuku, tapi beliau tertidur nyenyak di sofa. Lalu aku hanya mengucap syukur pada Tuhanku Allah SWT.
"Tolong sembuhkan Tina Ya Allah.. Aku tau, dia lagi berjuang untuk kembali ke kehidupan nya, maka bantulah dia, amiin.." doaku dalam hati.
Sekitar jam 5.30 sore, aku membangunkan ibuku, karena waktunya sholat maghrib. Saat malamnya, ibuku menebus obat ke apotik, lalu beliau memberikan obat itu ke perawat untuk diberikan ke Tina lewat suntikan.
Sudah jam 01.00 pagi, mataku sangat berat, aku tak dapat menahan kantuk ku. Tapi mataku terus terjaga, aku berharap Tina bangun dari koma nya. Tapi akhirnya, aku pun tertidur di kursi besi itu.
"Mas, temani aku keliling ya." ajak Tina padaku.
‘Iya sayang. Oh ya, kita duduk di pinggir danau itu yuk?’ Kataku padanya.
Aku dan Tina duduk di pinggir danau. Sebuah danau yang airnya sangat jernih, di sekitarnya tumbuh pohon-pohon yang sangat rindang. Banyak rumput di sekelilingnya, tapi rerumputan itu tidak tinggi, semua ukurannya rendah dan cantik sekali.
Tiba-tiba...
"Tina, ini sudah waktunya. Ayo ikut saya!" kata seorang laki-laki yang tak ku kenal, muncul dari belakang kami.
Aku dan Tina menoleh ke arah orang itu, dan Tina menuruti ajakan laki-laki itu. "Tina, kamu mau kemana?” Tanyaku padanya.
Tapi istriku hanya tersenyum, dan berjalan menjauh dariku. Anehnya, aku tidak mengejar istriku dan laki-laki itu.
"tuuuuuuuuuuuuuuuuuuutttt....!" aku terbangun, dan aku melihat alat yang berbunyi di atas tempat tidur Tina.
Aku panik, lalu aku membangunkan ibu mertuaku; “Ummi, Tina mi. Cepat bangun mi.” Aku terus menggoyang kaki ibuku.
"Astaghfirullah. Cepat im, panggil perawat kesini!" suruh ibu padaku. Aku langsung lari ke ruang perawat, dan untungnya masih ada satu orang yang terjaga.
"Mba. Cepat mba, istriku..!" kataku dengan nafas terengah-engah.
‘Ada apa mas?’ Tanya perawat itu.
"Sudahlah mba, ayo cepat ke ruangan istriku!”
Aku dan perawat itu lari ke ruangan. Tiba di ruangan, air mata mulai keluar membasahi pipi ibuku. Perawat itu mulai memeriksa denyut jantung dan nadi istriku Tina. 'sebentar ya mas, saya mau panggil perawat atau dokter lain yang masih terjaga.’ Katanya perawat itu.
"Ya sudah mba, cepat ya mba!” jawabku padanya.
Aku mendekati ibuku, dan memeluknya erat. Dia menangis di bahuku. "Ummi, tolong jangan nangis, Tina ga apa-apa mi, dia akan sadar, dia akan sembuh!" kataku padanya.
Ibu mertuaku menelpon suaminya, memberitahu agar cepat datang ke rumah sakit. Beberapa menit kemudian, dua perawat dan satu dokter masuk ke ruangan. Dokter mulai memeriksa Tina dengan alat yang di bawanya.
“Bu, kami sudah berusaha maksimal, tapi ini sudah takdir-Nya. Kami mohon maaf.” Ucap dokter itu.
--------------------------------------------------------------
Aku masih belum percaya atas kejadian tadi malam. Air mataku tidak bisa berhenti mengalir. Sudah 4 jam lebih aku menangis. Jasad Tina sudah di mandikan, dan beberapa menit lagi, ustad memimpin sholat jenazah, aku ikut sholat di belakang beliau.
Banyak yang ikut menyolatkan Tina. Setelah itu, aku dan beberapa warga menggotong tubuh Tina yang berada di atas keranda, ke persinggahan terakhirnya.
Doa sudah di bacakan, warga sudah mulai sepi meninggalkan pemakaman. Kedua mertuaku juga mengajakku untuk pulang ke rumahnya. Tapi aku menolak untuk berdiri dari tanah itu.
Aku meratapi batu nisan Tina dengan pandangan kosong. Hanya kenangan-kenangan indah yang sesekali muncul dalam pikiranku bersamanya.
Aku masih ingat betul saat pertama kali aku melihat Tina. Yaitu ketika di kenalkan oleh temanku Andre. Tina adalahseorang istri yang Solehah, dan seorang wanita yang paling cantik di hatiku.
Beda sekali dengan Maria, wanita yang ku kenal sebagai pacar pertamaku. Memang di dalam hidupku, aku hanya mengenal empat wanita, yaitu ibuku, Shinta, Maria, dan Tina. Sebelum mengenal Maria dan Shinta, aku akan menceritakan sosok diriku yang kelam.
Diubah oleh laodetahsin 07-03-2017 10:08
0