- Beranda
- Stories from the Heart
GANTUNG DIRI (Horror Story)
...
TS
endokrin
GANTUNG DIRI (Horror Story)
selamat jumpa kembali agan dan sista setelah beberapa lama saya ga nongol disini, akhirnya kembali memberanikan diri membuat cerita horror misteri.
Quote:
bagi agan dan sista yang masih pm saya nanyain bapak, semoga agan dan sista mengerti cerita santet yang saya buat sebelumnya cuma fiksi belaka, karangan, dan hanya imajinasi liar saja. ditambah embel-embel kisah nyata waktu itu cuma untuk menarik perhatian, semoga agan dan sista memakluminya..hehe
Quote:
untuk agan dan sista yang belum tahu cerita misteri saya sebelumnya silahkan klik
SANTET
SANTET
selamat menikmati
Quote:
Diubah oleh endokrin 03-05-2017 14:16
JabLai cOY dan 8 lainnya memberi reputasi
9
433.5K
Kutip
1.3K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
endokrin
#210
update edisi lagi punya kuota
![kaskus-image]()
Kata bapak siang itu rumah pak Lurah kedatangan seorang pemuda, usianya sekitar 30-an. Mengenakan peci hitam dan sorban. Kebetulan bapak lagi dirumah pak Lurah sedang membicarakan rencana untuk mengefektifkan kembali jadwal ronda yang selama ini kacau karena tidak ada orang yang mau datang.
“Nama saya Ridwan pak Lurah” ucap pemuda itu memperkenalkan diri setelah pak Lurah menyuruhnya masuk dan duduk.
Seperti mengerti tatapan tuan rumah, si permuda menjelaskan maksud kedatangannya tanpa harus menunggu pertanyaan.
“Maksud kedatangan saya kesini adalah soal salah satu warga bapak.” Kata ustad Ridwan.
Bapak dan pak Lurah berpandangan semakin tidak mengerti.
“Begini pak Lurah, sebelumnya saya akan jelaskan terlebih dahulu. Kebetulan dikampung sebelah, saya mengelola sebuah kelompok pengajian. Pengajian ibu-ibu disiang hari dan bapak-bapak dimalam hari. Dan juga anak-anak disore hari.”
“Untuk pengajian ibu-ibu, kebetulan saya punya peserta pengajian yang berasal dari kampung bapak. Sejujurnya saya tidak terlalu mengenal jamaah saya, kecuali yang dekat-dekat saja.”
Mata pak Lurah kini sedikit berbinar, mungkin dapat sedikit jawaban atas pertanyaannya pada orang yang sedang dihadapinya sekarang.
“Ini tentang bu Ratmi” Lanjut Ustad Ridwan.
“Iyah Ratmi memang salah satu warga saya yang meninggal beberapa minggu lalu.” Kata pak Lurah.
“Iya pak, belakangan saya mendapat selentingan yang tidak mengenakan datang ke telinga saya. kabar ini bahkan sudah ramai dibicarakan. Katanya bu Ratmi ini menjadi stress dan gantung diri karena telah mengikuti pengajian saya.”
“Tapi demi Alloh pak, saya bisa jamin, dalam pengajian tidak ada satu halpun yang saya ajarkan kepada ibu-ibu itu menyimpang dari ajaran al-quran.” Lanjut ustad Ridwan.
“Iya, saya mengerti. Tapi tidak mungkin ada asap bila tidak ada api. Kenapa kabar itu tiba-tiba saja menjadi ramai kalau memang tidak ada yang aneh ?” Tanya pak Lurah.
“Saya juga tidak tahu pak Lurah. tapi bapak boleh Tanya ke peserta lain, khususnya ibu-ibu yang sering mengikuti pengajian saya, adakah hal-hal yang menyimpang yang saya ajarkan ?”
“Tapi biasanya setiap orang mempunyai filternya masing-masing dalam memahami ucapan-ucapan atau ajaran-ajaran yang disampaikan. Bisa saja ada seseorang yang mensalah artikan atas sebuah petuah atau ajaran.” Pak Lurah masih tetap ngotot dengan pendiriannya.
Kali ini ustad Ridwan tak bisa menjawab, dia terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu. Mungkin dia sedang mengingat-ngingat adakah ucapannya yang bisa membuat seseorang salah arti sehingga bisa melakukan perbuatan yang salah.
“Mungkin sebaiknya begini saja bapak – bapak, saya mengerti dengan kecurigaan pak Lurah dan saya juga mengerti dengan pak ustad kalau merasa tidak ada yang salah atas apa yang telah bapak ajarkan. Mari bersama-sama kita mencari tahu sebenarnya apa penyebab Ratmi bunuh diri. Lagian Pak Lurah, bukankah itu yang selama ini kita cari, agar arwah Ratmi kembali tenang dan tidak lagi menghantui.” Bapak mencoba menjadi penengah.
“Ya, saya sangat setuju atas saran bapak. Ini juga menyangkut nama baik pengajian saya. bukan, bukan saya ingin membela diri. Tapi saya hanya tidak ingin ini menjadi fitnah yang lebih luas lagi, sehingga orang – orang punya prasangka buruk kepada saya atas apa yang tidak diketahuinya.” Kata ustad Ridwan.
“Jadi mau bagaimana kita sekarang ?” Tanya pak Lurah.
“Maaf sebelumnya pak, begini sedikit banyak saya mengetahui tentang kasus-kasus kematian yang tidak wajar, biasanya ditangani oleh polisi, hanya untuk memastikan penyebab kematian dan motifnya. Jadi apa keterangan yang telah dirilis kepolisian tentang kematian bu Ratmi ?” tanya ustad Ridwan.
“Ini kampung terpencil, tidak bisa disamakan dengan dikota tempat dimana anda tinggal. Biaya otopsi, penyelidikan mana mungkin pihak keluarga mau mengeluarkannya. Untuk biaya kebutuhan sehari-hari saja mereka itu masih susah. Belum lagi tradisi upacara kematian yang tidak murah biayanya, tiga harian, tujuh harian, sampai nanti empat puluh harian.” Jawab Pak Lurah.
“Begini saja pak, karena saya telah dilibatkan dalam hal ini. Untuk semua biaya terkait kepolisian biar saya yang menanggung semuanya. Saya hanya ingin kasus ini cepat selesai.” Kata ustad Ridwan.
“Alhamdulilah, akhirnya kita menemukan jalan tengahnya.” Kata bapak saya sambil melirik pak Lurah.
“Tapi bagaimana dengan Ratmo, suaminya ?” Tanya Pak Lurah.
“Saya yakin dia pasti setuju pak, toh ini untuk kebaikan istrinya juga.” Kata bapak saya.
“Pasti dia tidak akan mau kalau makam istrinya diacak-acak lagi. Apakah ini memang harus diungkit-ungkit lagi. Bagaimana kalau kita biarkan saja. Bukankah kejadian ini akan berakhir dan keadaan kembali normal. Kita hanya perlu bersabar sampai 40 hariannya kan ?” kata pak Lurah sambil melirik bapak saya.
“Maaf kalau saya memeotong pembicaraan bapak – bapak. Tapi bagi saya masalah akan semakin berlarut-larut kalau kita tidak menyelesaikannya.” Kata ustad Ridwan.
“Maaf pak lurah, kali ini saya lebih setuju dengan pak ustad ini” bapak saya seperti sedang melakukan pembenaran akan ucapan ustad Ridwan.
“Mungkin kalau pak Lurah butuh partner untuk menjelaskan kepada suami bu Ratmi, saya mau mendampingi.” Lanjut ustad Ridwan
“Tuh kan pak, bapak jangan takut lagi. Pak ustad ini akan mendampingi bapak. Bukankah tugas bapak akan lebih ringan. Biarkan dia saja yang bicara nanti.” Bisik bapak kepada pak Lurah.
……………………………………………………………………………………….
“Gimana ceritanya mba ?” Tanya bang Burhan.
“Kejadiannya hari.. eh malam selasa kemarin. Saya masih inget.” Jawab mba Susi.
Dengan seksama saya mendengarkan cerita itu sambil menikmati pisang goreng bersama anak-anak lain.
Waktu itu jam 6 sore mba susi hendak menutup warungnya. Sebelum ada kejadian arwah teh Ratmi gentayangan dia biasa buka sampai malam hari, biasanya warung ini menjadi tempat nongkrong bapak-bapak yang ronda.
“Walaupun saya belum pernah bertemu dengan hantunya si Ratmi, saya ga mau ambil resiko. Makanya semenjak ada kabar-kabar menyeramkan itu saya ga mau buka sampai malam lagi.” Lanjut mba Susi.
Tapi malam itu berbeda, ketika hendak menutup warung. Mba susi didatangi beberapa orang laki-laki. Rupanya mereka tamu yang kebetulan sedang lewat dan sedang mencari tempat istirahat. Setelah memarkirkan mobilnya didepan warung. Rombongan yang terdiri dari enam orang ini langsung memesan kopi.
Mba susi yang awalnya mau menutup warungpun jadi tak tega. dia pikir setelah menghidangkan enam gelas kopi terus sedikit ngobrol-ngobrol, nanti juga mereka akan langsung pergi. Tapi dugaannya salah, tak terasa obrolan para lelaki ini cukup lama dan sampai jam Sembilan malam.
“kopi dan gorengan semuanya jadi 30 ribu.” ucapan itu menutup kepergian rombongan tamu.
Mba susi baru menengok jam, suasana sepi langsung menyelimuti. Mobil yang tadi terparkir didepan warungpun kini telah pergi jauh dan kini tinggal dia seorang diri. Awalnya dia belum tersadar, mungkin karena masih dalam suasana gembiran setelah tadi berbincang-bincang dengan tamunya.
Namun tiba-tiba semilir angin lewat begitu saja menggoyangkan beberapa dahan pohon disekitar warung.
“Mba..mba..mba” terdengar suara berbisik ditelinga mba Susi.
Mba Susi menengok kebelakang, kanan dan kiri namun nihil tidak seorangpun yang terlihat.
Mba susi yang masih belum sadar katanya, dia tenang-tenang aja membereskan semua dangannya, sampai pada akhirnya dari kejauhan dia melihat seoarang perempuan sedang berjalan kearahnya.
“Eh kamu Mi, malem-malem gini mau beli apa ?” ucap mba Susi begitu sosok itu sudah dekat didepan warung.
Namun perempuan yang mengenakan daster itu tidak menjawab pertanyaan mba Susi. Dia malah masuk dan duduk dibangku. Mba Susi yang kebingungan dengan tingkah tamunya itu malah ikut duduk disampingnya.
“Kenapa ?” Tanya mba susi sambil memegang tangan perempuan itu.
Kata mba susi waktu itu dia sempat kaget karena tangan yang dipegangnya begitu dingin. sosok perempuan yang dikenal mba susi sebagai teh Ratmi itu masih belum menjawab pertanyaannya.
“Sudah malam loh ini, saya mau pulang, cape seharian jaga warung. Kalau mau beli sesuatu bilang aja yah, saya sambil beres-beres dulu.” Mba Susi kembali berdiri untuk menyelesaikan pekerjaannya.
“Tolong saya mba..” ucap perempuan itu dengan suara lirih.
Mba Susi yang kaget langsung menengok ke arah bangku, dan sosok perempuan yang tadi dilihatnya kini sudah tidak terlihat lagi. Dari situlah dia baru sadar, bahwa teh Ratmi yang sedari tadi diajak ngobrolnya telah meninggal dua minggu kebelakang.
Tubuh mba Susi menggigil karena ketakutan, dia masih terbayang bagaimana dinginnya tangan yang tadi dia pegang, wajah teh Ratmi yang pucat selalu masih terbayang dikepalanya.
Dengan perasaan takut malam itu mba Susi menutup warungnnya dengan tergesa-gesa, tak peduli dengan barang dagangannya yang berserakan, dia langsung lari sekencang-kencangnnya untuk pulang.
“hiyyy.. bahkan sampai sekarang saya selalu kebayang-bayang muka si Ratmi. sampai ga bisa tidur saya.” ucap mba Susi mengakhiri ceritanya.
Bersambung dulu ya gan
Quote:

Kata bapak siang itu rumah pak Lurah kedatangan seorang pemuda, usianya sekitar 30-an. Mengenakan peci hitam dan sorban. Kebetulan bapak lagi dirumah pak Lurah sedang membicarakan rencana untuk mengefektifkan kembali jadwal ronda yang selama ini kacau karena tidak ada orang yang mau datang.
“Nama saya Ridwan pak Lurah” ucap pemuda itu memperkenalkan diri setelah pak Lurah menyuruhnya masuk dan duduk.
Seperti mengerti tatapan tuan rumah, si permuda menjelaskan maksud kedatangannya tanpa harus menunggu pertanyaan.
“Maksud kedatangan saya kesini adalah soal salah satu warga bapak.” Kata ustad Ridwan.
Bapak dan pak Lurah berpandangan semakin tidak mengerti.
“Begini pak Lurah, sebelumnya saya akan jelaskan terlebih dahulu. Kebetulan dikampung sebelah, saya mengelola sebuah kelompok pengajian. Pengajian ibu-ibu disiang hari dan bapak-bapak dimalam hari. Dan juga anak-anak disore hari.”
“Untuk pengajian ibu-ibu, kebetulan saya punya peserta pengajian yang berasal dari kampung bapak. Sejujurnya saya tidak terlalu mengenal jamaah saya, kecuali yang dekat-dekat saja.”
Mata pak Lurah kini sedikit berbinar, mungkin dapat sedikit jawaban atas pertanyaannya pada orang yang sedang dihadapinya sekarang.
“Ini tentang bu Ratmi” Lanjut Ustad Ridwan.
“Iyah Ratmi memang salah satu warga saya yang meninggal beberapa minggu lalu.” Kata pak Lurah.
“Iya pak, belakangan saya mendapat selentingan yang tidak mengenakan datang ke telinga saya. kabar ini bahkan sudah ramai dibicarakan. Katanya bu Ratmi ini menjadi stress dan gantung diri karena telah mengikuti pengajian saya.”
“Tapi demi Alloh pak, saya bisa jamin, dalam pengajian tidak ada satu halpun yang saya ajarkan kepada ibu-ibu itu menyimpang dari ajaran al-quran.” Lanjut ustad Ridwan.
“Iya, saya mengerti. Tapi tidak mungkin ada asap bila tidak ada api. Kenapa kabar itu tiba-tiba saja menjadi ramai kalau memang tidak ada yang aneh ?” Tanya pak Lurah.
“Saya juga tidak tahu pak Lurah. tapi bapak boleh Tanya ke peserta lain, khususnya ibu-ibu yang sering mengikuti pengajian saya, adakah hal-hal yang menyimpang yang saya ajarkan ?”
“Tapi biasanya setiap orang mempunyai filternya masing-masing dalam memahami ucapan-ucapan atau ajaran-ajaran yang disampaikan. Bisa saja ada seseorang yang mensalah artikan atas sebuah petuah atau ajaran.” Pak Lurah masih tetap ngotot dengan pendiriannya.
Kali ini ustad Ridwan tak bisa menjawab, dia terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu. Mungkin dia sedang mengingat-ngingat adakah ucapannya yang bisa membuat seseorang salah arti sehingga bisa melakukan perbuatan yang salah.
“Mungkin sebaiknya begini saja bapak – bapak, saya mengerti dengan kecurigaan pak Lurah dan saya juga mengerti dengan pak ustad kalau merasa tidak ada yang salah atas apa yang telah bapak ajarkan. Mari bersama-sama kita mencari tahu sebenarnya apa penyebab Ratmi bunuh diri. Lagian Pak Lurah, bukankah itu yang selama ini kita cari, agar arwah Ratmi kembali tenang dan tidak lagi menghantui.” Bapak mencoba menjadi penengah.
“Ya, saya sangat setuju atas saran bapak. Ini juga menyangkut nama baik pengajian saya. bukan, bukan saya ingin membela diri. Tapi saya hanya tidak ingin ini menjadi fitnah yang lebih luas lagi, sehingga orang – orang punya prasangka buruk kepada saya atas apa yang tidak diketahuinya.” Kata ustad Ridwan.
“Jadi mau bagaimana kita sekarang ?” Tanya pak Lurah.
“Maaf sebelumnya pak, begini sedikit banyak saya mengetahui tentang kasus-kasus kematian yang tidak wajar, biasanya ditangani oleh polisi, hanya untuk memastikan penyebab kematian dan motifnya. Jadi apa keterangan yang telah dirilis kepolisian tentang kematian bu Ratmi ?” tanya ustad Ridwan.
“Ini kampung terpencil, tidak bisa disamakan dengan dikota tempat dimana anda tinggal. Biaya otopsi, penyelidikan mana mungkin pihak keluarga mau mengeluarkannya. Untuk biaya kebutuhan sehari-hari saja mereka itu masih susah. Belum lagi tradisi upacara kematian yang tidak murah biayanya, tiga harian, tujuh harian, sampai nanti empat puluh harian.” Jawab Pak Lurah.
“Begini saja pak, karena saya telah dilibatkan dalam hal ini. Untuk semua biaya terkait kepolisian biar saya yang menanggung semuanya. Saya hanya ingin kasus ini cepat selesai.” Kata ustad Ridwan.
“Alhamdulilah, akhirnya kita menemukan jalan tengahnya.” Kata bapak saya sambil melirik pak Lurah.
“Tapi bagaimana dengan Ratmo, suaminya ?” Tanya Pak Lurah.
“Saya yakin dia pasti setuju pak, toh ini untuk kebaikan istrinya juga.” Kata bapak saya.
“Pasti dia tidak akan mau kalau makam istrinya diacak-acak lagi. Apakah ini memang harus diungkit-ungkit lagi. Bagaimana kalau kita biarkan saja. Bukankah kejadian ini akan berakhir dan keadaan kembali normal. Kita hanya perlu bersabar sampai 40 hariannya kan ?” kata pak Lurah sambil melirik bapak saya.
“Maaf kalau saya memeotong pembicaraan bapak – bapak. Tapi bagi saya masalah akan semakin berlarut-larut kalau kita tidak menyelesaikannya.” Kata ustad Ridwan.
“Maaf pak lurah, kali ini saya lebih setuju dengan pak ustad ini” bapak saya seperti sedang melakukan pembenaran akan ucapan ustad Ridwan.
“Mungkin kalau pak Lurah butuh partner untuk menjelaskan kepada suami bu Ratmi, saya mau mendampingi.” Lanjut ustad Ridwan
“Tuh kan pak, bapak jangan takut lagi. Pak ustad ini akan mendampingi bapak. Bukankah tugas bapak akan lebih ringan. Biarkan dia saja yang bicara nanti.” Bisik bapak kepada pak Lurah.
……………………………………………………………………………………….
“Gimana ceritanya mba ?” Tanya bang Burhan.
“Kejadiannya hari.. eh malam selasa kemarin. Saya masih inget.” Jawab mba Susi.
Dengan seksama saya mendengarkan cerita itu sambil menikmati pisang goreng bersama anak-anak lain.
Waktu itu jam 6 sore mba susi hendak menutup warungnya. Sebelum ada kejadian arwah teh Ratmi gentayangan dia biasa buka sampai malam hari, biasanya warung ini menjadi tempat nongkrong bapak-bapak yang ronda.
“Walaupun saya belum pernah bertemu dengan hantunya si Ratmi, saya ga mau ambil resiko. Makanya semenjak ada kabar-kabar menyeramkan itu saya ga mau buka sampai malam lagi.” Lanjut mba Susi.
Tapi malam itu berbeda, ketika hendak menutup warung. Mba susi didatangi beberapa orang laki-laki. Rupanya mereka tamu yang kebetulan sedang lewat dan sedang mencari tempat istirahat. Setelah memarkirkan mobilnya didepan warung. Rombongan yang terdiri dari enam orang ini langsung memesan kopi.
Mba susi yang awalnya mau menutup warungpun jadi tak tega. dia pikir setelah menghidangkan enam gelas kopi terus sedikit ngobrol-ngobrol, nanti juga mereka akan langsung pergi. Tapi dugaannya salah, tak terasa obrolan para lelaki ini cukup lama dan sampai jam Sembilan malam.
“kopi dan gorengan semuanya jadi 30 ribu.” ucapan itu menutup kepergian rombongan tamu.
Mba susi baru menengok jam, suasana sepi langsung menyelimuti. Mobil yang tadi terparkir didepan warungpun kini telah pergi jauh dan kini tinggal dia seorang diri. Awalnya dia belum tersadar, mungkin karena masih dalam suasana gembiran setelah tadi berbincang-bincang dengan tamunya.
Namun tiba-tiba semilir angin lewat begitu saja menggoyangkan beberapa dahan pohon disekitar warung.
“Mba..mba..mba” terdengar suara berbisik ditelinga mba Susi.
Mba Susi menengok kebelakang, kanan dan kiri namun nihil tidak seorangpun yang terlihat.
Mba susi yang masih belum sadar katanya, dia tenang-tenang aja membereskan semua dangannya, sampai pada akhirnya dari kejauhan dia melihat seoarang perempuan sedang berjalan kearahnya.
“Eh kamu Mi, malem-malem gini mau beli apa ?” ucap mba Susi begitu sosok itu sudah dekat didepan warung.
Namun perempuan yang mengenakan daster itu tidak menjawab pertanyaan mba Susi. Dia malah masuk dan duduk dibangku. Mba Susi yang kebingungan dengan tingkah tamunya itu malah ikut duduk disampingnya.
“Kenapa ?” Tanya mba susi sambil memegang tangan perempuan itu.
Kata mba susi waktu itu dia sempat kaget karena tangan yang dipegangnya begitu dingin. sosok perempuan yang dikenal mba susi sebagai teh Ratmi itu masih belum menjawab pertanyaannya.
“Sudah malam loh ini, saya mau pulang, cape seharian jaga warung. Kalau mau beli sesuatu bilang aja yah, saya sambil beres-beres dulu.” Mba Susi kembali berdiri untuk menyelesaikan pekerjaannya.
“Tolong saya mba..” ucap perempuan itu dengan suara lirih.
Mba Susi yang kaget langsung menengok ke arah bangku, dan sosok perempuan yang tadi dilihatnya kini sudah tidak terlihat lagi. Dari situlah dia baru sadar, bahwa teh Ratmi yang sedari tadi diajak ngobrolnya telah meninggal dua minggu kebelakang.
Tubuh mba Susi menggigil karena ketakutan, dia masih terbayang bagaimana dinginnya tangan yang tadi dia pegang, wajah teh Ratmi yang pucat selalu masih terbayang dikepalanya.
Dengan perasaan takut malam itu mba Susi menutup warungnnya dengan tergesa-gesa, tak peduli dengan barang dagangannya yang berserakan, dia langsung lari sekencang-kencangnnya untuk pulang.
“hiyyy.. bahkan sampai sekarang saya selalu kebayang-bayang muka si Ratmi. sampai ga bisa tidur saya.” ucap mba Susi mengakhiri ceritanya.
Bersambung dulu ya gan
lophcifer dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Kutip
Balas
