Jahat
Quote:
Besok harinya aku belum masuk sekolah namun badannku sudah mulai baikan. Seharian dirumah tidak terlalu banyak kegiatan yang bisa kulakukan, kebanyakan kuhabiskan waktu hanya untuk nonton Tv, saat sepi seperti ini “silver” lebih sering menemaniku. Oh iya, orangtuaku semenjak kejadian ibuku menangis didapur itu ada perlakuan yang agak aneh, saat bertemu denganku suka bilang “kalian sudah makan?”, hal-hal yang seperti itu. entah orangtuaku bisa melihat “silver” atau bagaimana akupun belum menanyakan hal itu. kejadian aneh pun kadang terjadi di rumahku, seperti ada yang mengetuk jendela, memanggil namaku, atau adikku yang bercerita melihat anak kecil di ruang tv.
Akupun masuk sekolah minggu berikutnya karena ibuku tidak mau mengambil resiko kalau aku masuk dengan keadaan yang belum benar-benar sehat. Luna dan Rathi masihn sering berkunjung selama aku sakit, dan Iam dkk juga datang. Saat berada di sekolah.
“TEOOOOOOO!!!!”, Luna langsung berlari menghampiriku yang masih berada di pintu kelas
“kamu udah sehat kan?”, ucapnya sambil memainkan kedua pipiku
“udah Lun”, ucapku masih lemas
“tapi kamu lemes banget ini”, ucapnya tetap masih memegang pipiku
“iya Lun”, ucapku yang masih berdiri
“TEOOOOOOOOOOO!!”, teriak Rathi yang di lihat oleh semua anak kelas
“ko kamu malah ketemua sama Luna dulu sih bukan sama aku??”, ucapnya sambil mengusap kepalaku
“kalian berdua bisa ga berenti dulu, aku mau duduk baru dateng, emang aku kucing apa diginiin”, ucapku agak kesal tapi menikmatinya.
“hehehe. Maaf. Maaf.”, ucap Luna
Akupun langsung duduk di bangkuku.
“udah sehat lu?”, ucap Kiki, teman sebangkuku.
“ya lumayan lah gua hibernasi”, sambil bersandar
Bel sekolah pun berbunyi. Aneh nya Kiki tidak duduk di bangku sebelahku dia malah duduk di barisan depan. Kulihat semuanya bukan duduk di tempat mereka biasa duduk.”argh pergantian tempat duduk”, gumamku dalam hati. Reflek akupun langsung mengambil tas dan berjalan ke pintu.
“eh eh kamu mau kemana?”, ucap Luna menahan tanganku
“pergantian tempat duduk akn Lun? Aku ga tau duduk sama siapa”, ucapku
“sini, kamu sebangku sama aku ko”, ucapnya
“masa?”, heemh
“udah ayo sini”, Luna menarik tanganku
Akupun mengikuti Luna, lalu duduk. Belum lama aku duduk tiba-tiba Iam berdiri di depanku dengan tatapan yang aneh
“kenapa Am?”, ucapku
“lu ga salah duduk kan? Setau gua itu bangku gua deh”, ucapnya
“lah...”, aku kaget mendengarnya saat ku akan pindah
“oh, pantesan, gua lupa”, ucap Iam sambil melihat ke arah Luna
“hehehe. Thanks ya Am”, ucap Luna
“jangan lupa traktiran Lun”, ucap Iam sambil duduk di tempat yang sebelumnya ku duduki.
Tak lama kemudian pelajaran pun dimulai, semua guru yang mengajar hari ini memberikan selamat atas kesembuhanku dan meminta agar aku menjaga kesehatan. Sampai akhirnya jam pulang sekolah pun tiba. Akupun membereskan bukuku, ku lihat Luna duduk dekat tiang bendera, akupun langsung duduk disana.
“Lun”, sapaku
Dia tidak menjawab, hanya melihatku dengan senyuman yang tertahan kemudian menunduk.
“Teo! Sini deh bentar”, teriak seorang teman sekelasku
Akupun menghampirinya dan mengikutinya.
“hari ini tembak Vivi ya Teo”, ucapnya
Akupun menghentikan langkahku.
“apaan?”, ucapku
“tembak Vivi”, ucapnya lagi
“dia suka sama lu,pengen lu jadi pacarnya tapi dia malu sama lu. Lagian lu nempel mulu sama Luna n Rathi”, lanjutnya
Akupun langsung pergi meninggalkannya.
“eh Teo, jangan lupa nembaknya, kita tunggu di kelas!”, teriaknya
Aku tidak menghiraukannya dan kembali ke dekat tiang bendera. Ternyata di sana sudah ada Rathi yang menemani Luna. Terlihat Luna seperti habis menangis
“eh Teo, dari mana?”, ucap Rathi
“ketemu orang ga jelas”, ucapku
“oh iya thi aku mau ngomong”, ucapku
“aku udah tau Teo, Luna udah cerita semua ko”,ucap Rathi
“sok tau”, ucapku
“masalah kamu nembak Vivi kan?”, ucapnya
Aku hanya terdiam mendengar itu.
“aku tau ko kamu ga suka sama Vivi, dan kamu juga ga suka hal yang kaya gitu. Ya aku ga bisa ngasih masukan apa-apa. Terserah kamu mau gimana. Yang pasti kamu udah tau tentang aku sama Luna”, ucapnya sambil mengusap Luna yang masih menangis.
“Teo ayo cepetan!”, teriak salah satu teman Vivi
Akupun bangkit.
“kamu serius Teo?”, ucap Luna pelan
Aku hanya mengangkat bahuku. Lalu
“aku ga bisa jauh dari kalian”, ucapku sambil berjalan
“kamu harus tegas Teo, kalo kamu milih Vivi jauhin kita berdua. Kita ngalah ko. Kamu jangan jahat dan jangan nyakitin perasaan orang lain”,ucap Rathi sambil memegang tanganku
“aku emang udah jahat dan ga punya perasaan Thi”, ucapku sambil tersenyum dan melepaskan tangan Rathi.