TS
User telah dihapus
NULL
NULL
more than just none
Cerita ini lebih saya kategorikan ke Action-Mistery,yah apapun itu.
sudut pandang orang ketiga(serba tau) dan bahasa indonesia semi baku.
Sinopsis
Bagas,seorang pemuda biasa dipercaya dan diikutsertakan oleh kepolisian untuk membantu menangani kasus-kasus pembunuhan di Ibu Kota.
Keahliannya berhasil menuntun dirinya bergabung ke dalam 'Divisi 1', sebuah grup berisi sekumpulan veteran anak muda dengan keahliannya di masing-masing cabang ilmu forensik.
Rules
- nggak ada peraturan tambahan,bebas aja.
- batasan-batasannya mengacu penuh ke rules H2H & SFTH.
- komentar & teguran langsung saja dilayangkan via Post atau PM.
Warning!
- Cerita ini benang merahnya adalah tentang jagoan lawan penjahat jadi temanya nggak jauh-jauh dari kekerasan.( dengan kata lain kalau kalian sangat tabu dengan kata 'pembunuhan' dan sebagainya, sebaiknya pindah ke bacaan lain ).
- sebagian dari inti cerita ini bukan untuk ditiru atau diidolakan,begitu. ( Hal baik selalu menang jadi jangan tiru yang buruknya )
- Tokoh,Tempat,Kejadian semuanya Fiksi. (Extremely fiksi mungkin)
- Banyak hal terjadi di cerita ini;beberapa masuk akal,beberapa belum bisa dilakukan di jaman ini dan beberapa mungkin mustahil dilakukan di dunia ini.
- Berdasarkan temanya ane pribadi bilang konten cerita ini untuk umur 17 tahun ke atas atau mereka yang sudah mampu menalar cerita fiksi.
- Kentang, pasti! ( TSnya masih belum lancar menulis jadi jeda per part-nya bakalan cukup lama )
- N/A.
Isi Cerita
Spoiler for Ilustrasi karakter:
Spoiler for CHAPTER 1:
Spoiler for CHAPTER 2:
Spoiler for CHAPTER 3:
Spoiler for CHAPTER 4:
Pengumuman tutup lapak (closed permanently)
Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 0 suara
Masukkan dan Update Cerita
Cerita GaJe, 1 hari = 10 chapter ( Random )
0%
Cerita biasa, 1 hari = 1 chapter ( 00:00 - 12:00 )
0%
Cerita lumayan, 1 hari = 1 chapter ( 12:00 - 00:00 )
0%
Cerita bagus, 2 hari = 1 chapter ( 17:00 - 20:00 )
0%
Cerita menarik, 3 hari = 2 chapter ( 12:00 & 17:00 )
0%
NULL, 7 hari = 1 chapter ( 15:00 )
0%
Diubah oleh User telah dihapus 11-04-2017 20:43
anasabila memberi reputasi
1
21.4K
98
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
User telah dihapus
#83
Chapter 2 - Side story
Invitation - Part 2
> Markas,ruang kerja kantor divisi kriminal - 11:10 WIB,Minggu.
"Ahh.. payah! usahaku jadi nggak ada gunanya kan?" kata Christ kesal pada seseorang yang baru saja datang ke ruangannya,siapa lagi kalau bukan Bagas.
Bagas yang terakhir kali berada di apartemen Karina kini sudah mendarat di kantor kerjanya,tak ketinggalan dengan Karina yang rupanya juga ikut berangkat walau sebelumnya sempat bilang kalau dia tak ingin berangkat ke kantor hari ini.
"apaan?" tanya Bagas sesudah menutup kembali pintu ruang kerja Christ.
"Christ~ gimana kabarmuu??" sapa Karina hanya terlihat sama anehnya seperti hari-hari biasa.
"kamu kayak habis ngobat,hari ini" jawab Christ datar saja sambil memperhatikan Karina di sana.
{ sialan,dari mana datangnya firasat itu? aku yakin dia terlalu bego buat tau kalau aku kurang fit gara-gara obat } batin Karina memilih membalas kata-kata Christ dengan senyuman seadaanya saja.
"barang bukti apa lagi? kamu belum kapok sama surat peringatanmu yang terakhir kemarin?" kata Bagas mengambil alih arah pembicaraan.
"jangan tanya soal kapok apa nggak.. aku lebih baik pulang pergi ambil barang beginian dari pada harus bareng se-TKP sama divisimu" jawab Christ sambil menyodorkan laptop gaming yang baru saja dicurinya dari TKP,utuh terbungkus oleh plastik transparan.
"heii.. aku denger langsung di sini tauu" kata Karina ikut berbicara.
"ini udah lebih dari 10 menit sejak kamu minta aku ke sini.. mereka pasti udah selesai di sana" kata Bagas tak berminat menyentuh benda itu dengan alasan kalau dirinya yakin misteri kasusnya sudah dipecahkan oleh ketiga temannya di sana.
"huhh.. dasar! terus gimana,mau ambil apa nggak? aku bisa limpah ke Chika kalau kamu nggak mau" balas Christ.
Bagas masih anteng-anteng saja termenung sambil memainkan kartu tanda pengenalnya di sana tanpa banyak bicara soal pekerjaannya,sementara Karina hanya ingin cepat-cepat pergi ke ruangannya dibandingkan harus berlama-lama di ruangan Christ dengan keadaan fisiknya yang seperti itu.
"aku masukk.." sapa Chika tiba-tiba masuk ke ruangan mereka,tak biasanya dia akan masuk begitu saja kalau melihat situasi dalam ruangannya sedang ada tamu,benar saja ternyata maksud ia masuk ke ruangan Christ justru karena kepentingannya dengan Bagas dan Karina di sana.
"ohh,panjang umur.." balas Christ tertawa.
"apaan lagi itu?" tanya Chika basa-basi saja sebelum menuntaskan urusannya dengan kedua anggota divisi 1 di sana.
"nih,bawa sekalian ke ruanganmu.. surat perintahnya nanti nyusul" jawab Christ memberikan kantong berisi laptop yang sebelumnya ia ambil untuk pekerjaan Bagas.
"Bagas juga ada.. lagian kalau kamu ada di sini berarti kasusnya juga lagi dikerjain sama divisi 1 kan?" tanyanya lagi.
"dia- ,punya kerjaan lain" jawab Christ bingung menyampaikannya.
"ya,terserah lah.. bawa aja ke ruanganku,sehabis ini aku ada presentasi" balas Chika terpaksa mengiyakannya,dirinya sudah paham betul kalau kesibukannya jauh lebih banyak dibandingkan kesibukan Bagas yang sebenarnya,dia lah satu-satunya anggota divisi 1 yang paling jarang dipekerjakan.
"........"
"nih,surat buat kalian.." kata Chika menyerahkan amplop coklat tebal pada Bagas sebagai perwakilan untuk menerimanya.
amplopnya terisi penuh hingga menggelembung dan segelnya pun masih rapat.
diterimanya bingkisan berat itu oleh Bagas,sementara Karina masih konsisten dengan perannya yang lihat sana lihat sini,apapun yang sedang terjadi di ruangan itu.
{ untuk Divisi 1? } batin Bagas membaca note yang tertulis menggunakan spidol hitam pada bagian luarnya.
"udah yah? aku mau ada rapat.. soal benda itu,taruh aja di mejaku" kata Chika pertama memberi tau pada semuanya kalau dia sudah selesai dengan urusannya,kedua mengingatkan Christ soal barang bukti curiannya itu.
"hhh.." balas Christ mengiyakan singkat.
Chika pun keluar dari sana beberapa saat setelahnya,disusul oleh Bagas dan Karina yang juga sudah selesai dengan urusannya.
Bagas terlihat sedikit bicara di saat itu,Christ yang sempat punya firasat buruk tak memberanikan dirinya untuk sekedar bertanya soal pekerjaan Bagas atau hal semacamnya yang bersifat pribadi,apa lagi di depan Karina itu tidak mungkin dilakukannya.
......
Pergi lah keduanya menuju ruang kerja mereka,masih sama melewati koridor-koridor terbuka sampai ke gedung seberang,namun di tengah perjalanan keduanya mereka berpapasan dengan ketiga sisanya.
"Karina.. hei,kenapa maksain berangkat?" tanya Jessica saat tak diduga berpapasan dengan keduanya di koridor menuju ruangan mereka,lengkap dengan Arya dan Raka di belakangnya,kini kelimanya pun berhenti sejenak di sana.
"......" Bagas hanya diam saja seperti menyembunyikan sesuatu dari setiap orang yang ia temui hari ini.
"apa itu?" tanya Arya penasaran soal amplop coklat yang kini sudah dibawa Karina.
"nggak tau apa isinya.. tulisannya sih buat kita katanya" jawab Karina yang posisinya sedang memeluk amplop itu.
"Gas,ikut aku sebentar.. penting" kata Raka tiba-tiba di tengah percakapan semuanya,sedangkan Bagas yang sedang fokus diam hanya reflek mengiyakan ajakan tersebut yang akhirnya keduanya pun pergi memisahkan diri dari rombongan.
cukup jauh jarak antara mereka dengan ketiganya yang masih berdiri di koridor tengah,berbeda dengan Jessica dan Arya,Karina jadi satu-satunya yang menunggu sekaligus penasaran dengan keduanya yang tiba-tiba berbicara pribadi seperti itu.
"kenapa? kayaknya ada yang penting" tanya Bagas masih senada dengan sebelum-sebelumnya,yakni seperti kehilangan hasratnya untuk tau sesuatu.
"kamu pernah bilang kalau kamu punya saudara laki-laki kan.. kakakmu itu,apa sama sepertimu?" tanya Raka kali ini.
"maksudmu sama?"
"keahlian kalian dalam bidang teknologi.."
"yah" jawab Bagas pendek.
"......."
"tumben kamu penasara sama hal yang- nggak penting kayak gini" tanya Bagas soal alasan kenapa Raka bertanya seperti barusan.
"kasus tadi.. ini keenambelas kalinya kita gagal-" jawab Raka tak langsung pada pointnya.
"bukan kita.. tapi kalian" potong Bagas dingin.
"..?"
"Christ barusan ambil barang bukti kasus kalian,sekali-kali cobalah minta digital forensik ikut memeriksanya.. siapa tau kamu dapat sesuatu yang bisa membantu"
"kami baru aja dibantu seseorang.. entahlah- dia datang tiba-tiba aja,aku juga belum bisa sepenuhnya percaya dengan kata-kata dia.."
"siapa?"
"dia mengaku kakakmu.."
"..!!!?"
Bagas mengambil jeda sesaat untuk memikirkan perkataan barusan,HPnya pun bergetar singkat di sela-sela reaksinya.
firasatnya hanya bilang kalau pesan masuk itu berasal dari Jaka,karena itulah Bagas memilih untuk mengabaikannya sementara waktu ini.
"sudah lah,ayo ke ruangan.. kita bicarakan sisanya bareng sama mereka" ajak Raka menyudahi topik yang baru saja dimulainya,sekaligus mengajak Bagas kembali bergabung bersama rekan setimnya di ruangan mereka.
"...kayaknya aku kelupaan sesuatu.. aku harus pulang sekarang" balas Bagas menolak untuk kembali menemui mereka.
"..??"
"kata-katamu sama persis kayak perempuan itu.. sehari sebelum dia keluar dari divisi 1" tambah Raka mengomentari tingkah laku serta tutur kata Bagas yang aneh sehari ini,hal lumrah yang takan luput dari pengamatannya.
# Dua kejadian yang sama terulang di hari itu.
> Markas,ruang kerja kantor divisi kriminal - 11:10 WIB,Minggu.
"Ahh.. payah! usahaku jadi nggak ada gunanya kan?" kata Christ kesal pada seseorang yang baru saja datang ke ruangannya,siapa lagi kalau bukan Bagas.
Bagas yang terakhir kali berada di apartemen Karina kini sudah mendarat di kantor kerjanya,tak ketinggalan dengan Karina yang rupanya juga ikut berangkat walau sebelumnya sempat bilang kalau dia tak ingin berangkat ke kantor hari ini.
"apaan?" tanya Bagas sesudah menutup kembali pintu ruang kerja Christ.
"Christ~ gimana kabarmuu??" sapa Karina hanya terlihat sama anehnya seperti hari-hari biasa.
"kamu kayak habis ngobat,hari ini" jawab Christ datar saja sambil memperhatikan Karina di sana.
{ sialan,dari mana datangnya firasat itu? aku yakin dia terlalu bego buat tau kalau aku kurang fit gara-gara obat } batin Karina memilih membalas kata-kata Christ dengan senyuman seadaanya saja.
"barang bukti apa lagi? kamu belum kapok sama surat peringatanmu yang terakhir kemarin?" kata Bagas mengambil alih arah pembicaraan.
"jangan tanya soal kapok apa nggak.. aku lebih baik pulang pergi ambil barang beginian dari pada harus bareng se-TKP sama divisimu" jawab Christ sambil menyodorkan laptop gaming yang baru saja dicurinya dari TKP,utuh terbungkus oleh plastik transparan.
"heii.. aku denger langsung di sini tauu" kata Karina ikut berbicara.
"ini udah lebih dari 10 menit sejak kamu minta aku ke sini.. mereka pasti udah selesai di sana" kata Bagas tak berminat menyentuh benda itu dengan alasan kalau dirinya yakin misteri kasusnya sudah dipecahkan oleh ketiga temannya di sana.
"huhh.. dasar! terus gimana,mau ambil apa nggak? aku bisa limpah ke Chika kalau kamu nggak mau" balas Christ.
Bagas masih anteng-anteng saja termenung sambil memainkan kartu tanda pengenalnya di sana tanpa banyak bicara soal pekerjaannya,sementara Karina hanya ingin cepat-cepat pergi ke ruangannya dibandingkan harus berlama-lama di ruangan Christ dengan keadaan fisiknya yang seperti itu.
Spoiler for Picture:
"aku masukk.." sapa Chika tiba-tiba masuk ke ruangan mereka,tak biasanya dia akan masuk begitu saja kalau melihat situasi dalam ruangannya sedang ada tamu,benar saja ternyata maksud ia masuk ke ruangan Christ justru karena kepentingannya dengan Bagas dan Karina di sana.
"ohh,panjang umur.." balas Christ tertawa.
"apaan lagi itu?" tanya Chika basa-basi saja sebelum menuntaskan urusannya dengan kedua anggota divisi 1 di sana.
"nih,bawa sekalian ke ruanganmu.. surat perintahnya nanti nyusul" jawab Christ memberikan kantong berisi laptop yang sebelumnya ia ambil untuk pekerjaan Bagas.
"Bagas juga ada.. lagian kalau kamu ada di sini berarti kasusnya juga lagi dikerjain sama divisi 1 kan?" tanyanya lagi.
"dia- ,punya kerjaan lain" jawab Christ bingung menyampaikannya.
"ya,terserah lah.. bawa aja ke ruanganku,sehabis ini aku ada presentasi" balas Chika terpaksa mengiyakannya,dirinya sudah paham betul kalau kesibukannya jauh lebih banyak dibandingkan kesibukan Bagas yang sebenarnya,dia lah satu-satunya anggota divisi 1 yang paling jarang dipekerjakan.
"........"
"nih,surat buat kalian.." kata Chika menyerahkan amplop coklat tebal pada Bagas sebagai perwakilan untuk menerimanya.
amplopnya terisi penuh hingga menggelembung dan segelnya pun masih rapat.
diterimanya bingkisan berat itu oleh Bagas,sementara Karina masih konsisten dengan perannya yang lihat sana lihat sini,apapun yang sedang terjadi di ruangan itu.
{ untuk Divisi 1? } batin Bagas membaca note yang tertulis menggunakan spidol hitam pada bagian luarnya.
"udah yah? aku mau ada rapat.. soal benda itu,taruh aja di mejaku" kata Chika pertama memberi tau pada semuanya kalau dia sudah selesai dengan urusannya,kedua mengingatkan Christ soal barang bukti curiannya itu.
"hhh.." balas Christ mengiyakan singkat.
Chika pun keluar dari sana beberapa saat setelahnya,disusul oleh Bagas dan Karina yang juga sudah selesai dengan urusannya.
Bagas terlihat sedikit bicara di saat itu,Christ yang sempat punya firasat buruk tak memberanikan dirinya untuk sekedar bertanya soal pekerjaan Bagas atau hal semacamnya yang bersifat pribadi,apa lagi di depan Karina itu tidak mungkin dilakukannya.
......
Pergi lah keduanya menuju ruang kerja mereka,masih sama melewati koridor-koridor terbuka sampai ke gedung seberang,namun di tengah perjalanan keduanya mereka berpapasan dengan ketiga sisanya.
"Karina.. hei,kenapa maksain berangkat?" tanya Jessica saat tak diduga berpapasan dengan keduanya di koridor menuju ruangan mereka,lengkap dengan Arya dan Raka di belakangnya,kini kelimanya pun berhenti sejenak di sana.
"......" Bagas hanya diam saja seperti menyembunyikan sesuatu dari setiap orang yang ia temui hari ini.
"apa itu?" tanya Arya penasaran soal amplop coklat yang kini sudah dibawa Karina.
"nggak tau apa isinya.. tulisannya sih buat kita katanya" jawab Karina yang posisinya sedang memeluk amplop itu.
"Gas,ikut aku sebentar.. penting" kata Raka tiba-tiba di tengah percakapan semuanya,sedangkan Bagas yang sedang fokus diam hanya reflek mengiyakan ajakan tersebut yang akhirnya keduanya pun pergi memisahkan diri dari rombongan.
cukup jauh jarak antara mereka dengan ketiganya yang masih berdiri di koridor tengah,berbeda dengan Jessica dan Arya,Karina jadi satu-satunya yang menunggu sekaligus penasaran dengan keduanya yang tiba-tiba berbicara pribadi seperti itu.
"kenapa? kayaknya ada yang penting" tanya Bagas masih senada dengan sebelum-sebelumnya,yakni seperti kehilangan hasratnya untuk tau sesuatu.
"kamu pernah bilang kalau kamu punya saudara laki-laki kan.. kakakmu itu,apa sama sepertimu?" tanya Raka kali ini.
"maksudmu sama?"
"keahlian kalian dalam bidang teknologi.."
"yah" jawab Bagas pendek.
"......."
"tumben kamu penasara sama hal yang- nggak penting kayak gini" tanya Bagas soal alasan kenapa Raka bertanya seperti barusan.
"kasus tadi.. ini keenambelas kalinya kita gagal-" jawab Raka tak langsung pada pointnya.
"bukan kita.. tapi kalian" potong Bagas dingin.
"..?"
"Christ barusan ambil barang bukti kasus kalian,sekali-kali cobalah minta digital forensik ikut memeriksanya.. siapa tau kamu dapat sesuatu yang bisa membantu"
"kami baru aja dibantu seseorang.. entahlah- dia datang tiba-tiba aja,aku juga belum bisa sepenuhnya percaya dengan kata-kata dia.."
"siapa?"
"dia mengaku kakakmu.."
"..!!!?"
Bagas mengambil jeda sesaat untuk memikirkan perkataan barusan,HPnya pun bergetar singkat di sela-sela reaksinya.
firasatnya hanya bilang kalau pesan masuk itu berasal dari Jaka,karena itulah Bagas memilih untuk mengabaikannya sementara waktu ini.
"sudah lah,ayo ke ruangan.. kita bicarakan sisanya bareng sama mereka" ajak Raka menyudahi topik yang baru saja dimulainya,sekaligus mengajak Bagas kembali bergabung bersama rekan setimnya di ruangan mereka.
"...kayaknya aku kelupaan sesuatu.. aku harus pulang sekarang" balas Bagas menolak untuk kembali menemui mereka.
"..??"
"kata-katamu sama persis kayak perempuan itu.. sehari sebelum dia keluar dari divisi 1" tambah Raka mengomentari tingkah laku serta tutur kata Bagas yang aneh sehari ini,hal lumrah yang takan luput dari pengamatannya.
# Dua kejadian yang sama terulang di hari itu.
Diubah oleh User telah dihapus 01-03-2017 20:26
0





















