Aku, Kamu dan Dia
Quote:
“gini ya Teo, kamu taukan gimana sayang nya aku sama kamu?”, tanya Rathi dengan wajah serius
“iya Thi”, jawabku
“kamu juga taukan aku sama kamu udah kenal lama banget?”, ucapnya lagi
Aku hanya menganguk
“yang tadi aku ceritain sama Luna itu ya rasa sayangnya aku sama kamu, semuanya. Tentang temen-temen kita, perlakuan kamu kaya gimana”, ucapnya sambil agak menunduk
“waktu aku lagi cerita itu tiba-tiba Luna bilang kalau dia juga sayang sama kamu, dari awal MOS, ya kalau dibilang cinta pada pandangan pertama”, ucapnya sambil tersenyum melihatku
Mendengar hal itu akupun tidak bisa berkata apa-apa. Akupun bersandar. Ternyata ini yang membuat perasaanku tidak enak.
“aku kesel dengernya tapi aku juga ga bisa larang kalau dia sayang sama kamu, aku sempet marah sama dia, kenapa harus kamu. Hiks. Hiks”, Rathi pun mulai menangis
Mendapati posisi seperti itu akupun merangkul Rathi. Semakin lama tangisannya semakin kencang. Terlihat bu Irna dan pak Jono datang menghampiri, tapi aku memberikan tanda kalau Rathi tidak apa-apa. Setelah tangisnya mereda Rathi pun melanjutkan.
“Luna juga cerita ada juga yang suka sama kamu di kelas kamu selain Luna. Ada 2 orang lagi”, ucapnya sambil tersenyum
“akhirnya aku sama Luna bikin keputusan kalau kamu bebas milih mau sama siapa, aku sama Luna terima, tapi selama kamu belum sama siapa-siapa aku sama Luna bakal perjuangin kamu”, lanjutnya
Mendengar hal itu perasaanku semakin tidak karuan. Aku terus berfikir apa yang spesial pada diriku, bahkan untuk berkomunikasi saja aku ogah-ogahan, hanya seperlunya.
“aku ga tau...”, belum aku selesai bicara, jari Rathi menutup mulutku
“kamu ga usah bilang apa-apa Teo, Luna juga udah siap sama resikonya. Kamu Cuma perlu tau aja semuanya”, ucap Rathi
Kami berduapun sama-sama terdiam. Aku benar-benar tidak tau harus bagaimana. Keputusan apa yang harus ku buat. Tak terasa hari sudah sore dan akupun pamit pulang.
Sesampainya di rumah akupun langsung pergi ke kamar, merebahkan diri
“Teo, kamu ga makan?”, ucap ibuku dari balik pintu
“aku uda makan tadi sama Rathi bu, aku capek mau tidur”, ucapku
Terdengar langkah kaki yang perlahan menjauh. Perkataan Rathi masih terus terngiang di kepalaku. entah keputusan apa yang harus ku ambil. Aku pun berdiri dan menghadap cermin, bisa ku lihat di pojok akamar ada “silver”, aku sudah terbiasa dengan keberadaannya, bahkan di sekolah dia ada, entah itu di pojokan kelas atau di samping meja guru. Tingkahnya tidak se agresif dulu.
“pusing kepala gua”, gumamku
Tiba-tiba “silver” berada tepat di sampingku. Di meja aku lihat ada buku file, saat kubuka ada beberapa foto saat aku masih sd dulu. Ku lihat satu persatu sampai pada suatu foto. Jari “silver” menunjuk ke arah Rathi sambil tersenyum lalu dia menghilang. Aku pun membawa file tersebut dan rebahan sampai akhirnya aku tertidur.
Keesokan harinya saat aku bangun, kepala terasa sakit dan pusing. Akupun masih rebahan di kasur, dan kembali memasang selimut. Rasanya tidak kuat untuk bangun.
“Teo, kamu ga sekolah?”, ucap ibuku dari balik pintu
“kepalaku sakit bu”, ucapku
Ibuku langsung bergegas masuk kamar, memegang dahiku. Lalu beliau berlari keluar kamar dan kembali dengan membawa termometer.
“38,90C. Kamu demam”, ucap ibuku
“ibu telepon sekolah ya buat kasih tau kamu sakit”, lanjutnya
“iya bu, aku mau lanjut tidur ya”, ucapku
“kamu ga apa-apa ibu tinggal”, ucap ibuku
“iya”, ucapku sambil salim
“kalau ada apa-apa kamu telepon ya”, ucap ibuku lalu pergi
Akupun agak sulit untuk tidur kembali lalu akupun duduk dan mngambil buku, lalu aku mulai menggambar.
“mas Teo, ini bibi bawain bubur”, ucapbibi
“masuk aja bi pntu ga aku kunci”, ucapku
Lalu bibipun masuk dan menaruh bubur di meja. Setelah merasa lelah menggambar akupun kembali rebahan sampai akhirnya tertidur. Terasa ada yang menepuk pelan pipiku. Ku coba membuka mata dan ternyata ada Rathi dan Luna.
“maaf kamu jadi kebangun gara-aku ya”, ucap Luna
“ga apa-apa Lun, kalian ga sekolah?”, ucapku
“udah jam pulang Teo”, ucap Rathi
Ku lihat jam di meja sudah menunjukan jam 3 sore.
“kamu kenapa bisa sakit?”, ucap Rathi
“aku ga tau Thi tadi pagi kepala aku berat banget, trnyata demam”, ucapku
“kamu besok udah masuk?”, tanya Luna
“belum tau Lun, liat kondisi besok”, ucapku
“mmm gitu”, ucap Luna
“kangen tuh dia Teo sama kamu, baru ga masuk sehari udah uring-uringan”, ucap Rathi
“tapi siapa yang panik terus langsung nerobos kelas orang sambil teriak-teriak nanya Teo?”, ucap luna
“hehehehehe. Aku sih, abis dari pagi di tungguin Teo ga da”, ucap Rathi
Aku hanya mendengarkan percakapan mereka berdua sambil tersenyum. Saat mereka sedang bercanda ku fokuskan mata ku pada satu titik dan ku lihat “silver” disana sedang berdiri dekat lemari buku.
“TEO TEO TEO”, ku rasakan tubuhku bergoyang