Kaskus

Story

taucolamaAvatar border
TS
taucolama
Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]
Quote:




Quote:
Quote:
Spoiler for Prolog:
Quote:
Quote:
Yang suka mohon Rate,Komen, Share.
Diubah oleh taucolama 28-02-2017 07:49
junti27Avatar border
ichamkbkAvatar border
afrizal7209787Avatar border
afrizal7209787 dan 47 lainnya memberi reputasi
42
1M
1.8K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
taucolamaAvatar border
TS
taucolama
#1758
Akhir semua ini part 6


Tubuhku tak bisa bergerak sedangkan makhluk tinggi besar itu tertawa. Nafasku mulai sesak dan aku hampir hilang kesadaranku. Hawa panas dan aura kuat muncul di kamar ini. Sungguh kuat aura ini bahkan makhluk itu mundur menjauh dariku.

Cahaya seperti api bercampur warna hitam muncul disampingku. Aku seperti mengenal pancaran energi ini. Kekuatan ini yang selalu muncul menguasai tubuhku ketika terdesak. Aneh kali ini kekuataan itu tidak bisa mengambil alih tubuhku. Hawa panas kekuatan itu membuat makhluk yg menggangguku terlempar keluar dari kamarku.

Dari luar kamar kurasakan kini banyak makhluk makhluk beraura hitam berdatangan. Tiba tiba muncul sosok kakek tua disampingku. Sosok kakek berjanggut panjang muncul disisiku.

"Ngger, kenapa kamu ngga ijinkan eyang masuk ketubuhmu?": tanya sosok eyang.
"Eyang siapa?": kataku.
"Aku eyang lanang jagad": kata sosok eyang.
"Kenapa eyang mau merasuki": kataku.
"Aku mau menjaga kamu, seperti aku menjaga leluhur kamu": kata eyang.
"Terimakasih eyang mau membantu, tapi tak perlu merasukiku": kataku.
"Baiklah itu mau kamu biar makhluk makhluk itu aku hadapi, urusanmu dengan dia pengirim makhluk makhluk itu": kata eyang.
Tak lama sosok eyang hilang dan terdengar seperti suara perkelahian diluar sana.

Rasa sesak didadaku berkurang tapi rasa sakit diseluruh tubuh masih terasa. Aku kembali berdoa. Tiba tiba hawa sejuk terasa disisiku. Tercium wangi harum. Kubuka mataku, sesosok perempuan cantik berkebaya hijau tersenyum.

"Nyimas": sapaku.
"Kanda, bersabarlah dalam menghadapi semua ini. Ingat pesan bunda. Kuncinya ada pada dirimu. Untung kamu tidak membiarkan eyang jagad lanang merasuki tubuhmu": kata sosok nyimas
"Kenapa bila aku membiarkan merasukiku?": tanyaku.
"Kanda akan terus bergantung padanya akhirnya akan terjadi perjanjian. Bila ada perjanjian akan terjadi akibat buruk": kata nyimas.
"Terimakasih atas nasihatnya": kataku.
"Aku harus pergi, hati hati dan bersabarlah": kata Nyimas.

Perlahan sosok Nyimas menjadi samar dan hilang disertai angin berhembus pelan disertai wangi harum tercium dan menghilang.
Tiba tiba pandangan mataku menjadi jelas sekali. Aku bisa melihat sosok yang duduk didalam rumah mewah. Tiga orang ada dalam rumah itu. Seorang tua, dan dua orang itu aku kenal. Satunya mantan karyawanku dan satu orang itu yang pernah mengganggu viona dan ingin memiliki Viona.

Sekelebat penglihatan penglihatan terlihat jelas. Orang tua itu pernah di mintai tolong om Broto, guru dari orang yang memiliki ilmu panglimunan yg menyerang rumahku. Leluhur orang tua itu yg mencuri keris dari Abah Nata. Leluhurnya yang memusuhi leluhurku. Dan pegangan orang tua itu turun dari leluhurnya yang telah berseteru dengan leluhurku.

Kini tampak sosok suruhan orang itu ular besar hitam dan sosok raksasa mengerikan. Sosok harimau putih muncul disisiku. Dan sosok lelaki mirip kakekku muncul disisiku yang lain.
Sosok mirip kakekku menjelaskan mantan karyawanku mengumpulkan dan mengambil apa yang diperlukan untuk mengerjaiku.

"Manusia wajib berusaha, tapi dalam usahanya tidak boleh yang ditentukan yang Maha Kuasa, sekarang berusaha lah demi kebaikanmu": kata sosok mirip kakek.
Setelah berkata seperti itu sosok yg menyerupai kakek berubah menjadi harimau belang.

Harimau belang dan harimau putih maju menyerang. Sosok raksasa itu menyambut serangan kedua harimau itu. Pertarungan terjadi, saling serang antara mereka disertai pusaran angin terdengar.

Sosok orang tua itu kini menyatu dengan ular hitam besar. Ular besar itu menyerangku. Aku yang merasakan nyeri dibadanku tak bisa berbuat banyak. Hingga sekali lilitan aku tak bisa bergerak.
Kali ini ular itu langsung menhujamkan taringnya di pundakku. Nyeri sekali kurasa. Bahkan untuk menjerit aku tak sanggup. Mataku kembali gelap.

Hanya gelap, rasa sakit yang kurasa. Susah payah aku berdoa. Aku tau aku harus berusaha, tapi aku hanya bisa berdoa. Mungkin itu yang ingin disampaikan sosok kakek. Doa termasuk usaha. Hal yang terakhir bisa kulakukan berdoa. Kupanjatkan doa setulua hati menyerahkan segalanya pasa Allah SWT. Bila aku harus mati kuingin dalam ridhomu. Ku mohon keluargaku dalam lindungan Nya.

Gelap dan sakit. Aku hampir tak sadarkan diri. Tapi aneh seperti ada benda benda yang berjalan dari dalam tubuhku keluar dengan sendirinya. Setiap satu benda keluar dari tubuhku, aku merasa hilang sakit di tubuhku sedikit demi sedikit. Nafasku sedikit lega tapi lilitan ular itu terasa masih menyesakkan. Aku bisa merasakan kehangatan di tubuhku.

Lilitan ular mulai melonggar. Aku bisa melihat kembali dengan jelas. Ular itu masih menggigit pundakku. Aku bisa melepaskan tanganku. Tiba tiba aku merasakan sesuatu benda ada ditanganku. Panas benda itu sangat terasa. Kulihat ada kwria ditanganku. Keris yang sama yg pernah dipakai menusukku. Ki genggam keris itu. Kutusukkan keris itu kekepala ular itu.

Terdengar suara jeritan menyayat hati. Anehnya terdengar suara jeritan lelaki dan perempuan. Tubuh ular itu menggelepar gelepar hingga aku terlempar terkena tubuh ular itu hingga aku tak sadarkan diri.

Aku terbangun ketika tepukan dipipiku beberapa kali. Kulihat Anisa yang menepuk pipiku. Disampingnya ada Viona yang sedang mengusap air mata. Disisiku yang lain ada ibuku yang beres mengaji. Aku merasa seluruh tubuhku berkeringat. Kurasa badanku jadi ringan seluruh sakit ditubuhku hilang. Kulihat dibeberapa bagian tubuhku lebam lebam.
Aku mencoba berdiri. Alhamdulillah aku merasa kembali seperti biasa.

"Yang, kamu sudah sembuh?": tanya Viona.
"Iya badanku seperti kembali sehat": kataku.
"Alhamdulillah tadi kami sempat khawatir kamu gak sadarkan diri": kata ibu.
"Aku mandi dulu biar seger": kataku

Aku segera mandi. Beres mandi aku keruang makan. Aku segera makan makanan yang ada. Rasanya enak sekali, mengingat lama aku tak bisa makan ketika sakit. Ibu dan Viona tersenyum melihatku makan dengan lahap.

Beres makan aku keluar rumah. Kulihat Yusuf sedang dipangku bibi. Aku mengambil yusuf dan menggendongnya. Aku merasa tubuhku kembali normal. Viona memelukku dari belakang. Aku bersyukur masih diberi kesempatan berkumpul dengan keluargaku.

Tamat.

maaf bila ada salah kata. Terima kasih udah nyimak ceritanya sampai tamat. Ambil yang baik dan buang yang buruk dari cerita ini. Cerita ini anggaplah fiksi belaka bila ada kesamaan nama mohon maaf itu hanya kebetulan saja. Sampai bertemu dicerita yang lain
khuman
edima46260
jenggalasunyi
jenggalasunyi dan 18 lainnya memberi reputasi
19
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.