5. Mulai bosen baca manga, krn imajinasi terbatas gambar. (ane banget ini... generasi dragon ball soalnya)
6. Penasaran dgn kearifan lokal. (jgn salahkan pengarangnya kalo ada legenda lokal yg diplesetin...)
7. Mengaku nilai geografinya tinggi (sini, ayo kita adu peta buta...)
8. Mencari bacaan ringan buat mengisi waktu senggang. (Lah! Bertentangan dgn poin no. 4. Gapapa)
9. Terbiasa dengan update berkala nan terjadwal (komitmen ini... kalo sempet...)
Spoiler for Pengarang:
PENDEKAR BAYANG
Bayang-bayang sepanjang badan!
Menghargai karunia sastra Indonesia. Memimpikan masyarakat gemar membaca.
Merasa memiliki imajinasi melampaui batas. Mencintai ceritera silat. Memberanikan diri untuk memulai menulis.
Semoga tidak mengecewakan.
Berikut sedikit gambaran:
Spoiler for Sinopsis:
Negeri Dua Samudera yang berjaya dan digdaya luluh lantak. Perang Jagat antara umat manusia dengan kaum siluman berlangsung selama ratusan tahun. Pada akhirnya gencatan senjata terjadi setelah pimpinan kedua belah pihak lenyap.
Peperangan menyisakan abad-abad kegelapan bagi umat manusia. Sebelum akhirnya berupaya bangkit kembali.
Di tenggara Negeri Dua Samudera, seorang anak memulai perjalanan. Ia bertemu dengan guru, teman seperjalanan, dan lawan-lawan tiada tara. Ia mempelajari persilatan dan kesaktian, membangun pemahaman diri, serta menemukan rahasia di balik perang manusia-siluman.
Akan tetapi, hatinya bimbang, “Dimana ayah berada? Siapa sebenarnya ibu? Apa yang mereka perjuangkan?”
Ikuti petualangan Bintang Tenggara menuju Pulau Dewa!
versi apapun pasti ciamik....
Kl versi disney, pasti seseru moana, kalau Jepang, wiiih dah kebayang serunya kaya dragon ball...
ahai... khusus buat sis panda nich, dua episode sekaligus
Spoiler for Episode 8:
Episode 8 - Pulau Asing
Kerumunan pohon kemiri tumbuh menjulang tinggi. Jumlahnya tak terhitung. Dedaunan lebat kerumunan tersebut menjadikan hutan semakin teduh, namun sedikit lembab. Jika diperhatikan baik-baik, maka beraneka jenis serangga akan terlihat sibuk memulai tugas harian mereka, ada yang mengumpulkan makanan, ada yang melindungi sarang. Kicau burung pun sahut-bersahutan, entah apa yang mereka bahas pagi ini, pagi kemarin mereka sibuk berdebat tentang siapa yang terbangun lebih dahulu.
Cahaya matahari pagi menyapa tanah dan rerumputan melalui celah-celah dedaunan pohon kemiri. Sisa-sisa kabut pun tak lupa disapa. Namun, mungkin karena malu, begitu disapa cahaya matahari, kabut lalu menghilang begitu saja.
Seberkas cahaya matahari bermain-main ke kelopak mata seorang anak lelaki berusia sekitar 12 tahun. Ia tergeletak sejak petang hari sebelumnya. Pakaiannya lembab, namun wajahnya kemerahan, tidak menunjukkan tanda-tanda dihinggapi penyakit sama sekali.
Sesekali beberapa ekor monyet menoleh ke arah tubuh tersebut. Ada yang masih di atas pohon, ada pula yang sudah menjejakkan kaki ke tanah. Di antara rasa ingin tahu dan waspada, monyet dengan nyali paling besar pun hanya berani mengambil jarah 3 langkah dari tubuh tersebut.
Kelopak matanya, bergerak perlahan. Sinar matahari yang menyapa, berhasil menarik perhatiannya.
Dimana ini? tanya Bintang dalam hati. Ia segera bangkit, mengayunkan sendi-sendi tubuhnnya sambil memperhatikan apakah ada cedera di sekujur tubuhnya. Yang ia rasakan hanyalah perasaan lembab dari pakaian yang ia kenakan.
Ingatan terakhirnya sebelum terbangun adalah ia jatuh ke laut setelah melemparkan tubuh Lamalera ke peledang yang ia naiki sebelumnya. Harusnya ia telah menjadi korban hentakan ekor Paus Surai Naga.
Pandangannya lalu menyapu sekeliling. Pohon kemiri bukanlah sesuatu yang baru. Seringkali ia berpapasan dengan pohon kemiri saat berlari ke atas bukit, tapi tidak pernah dalam jumlah sepadat ini.
Melihat berkas cahaya matahari, ia sadar bahwa hari masih pagi. Ia mungkin jatuh pingsan semalaman. Di manakah ini? Harusnya ia terbawa arus dan tersadarkan diri di pesisir pantai, bukan di tengah hutan.
Apakah ada yang menyelamatkan jiwaku? Pandangannya sekali lagi menyapu sekeliling, mencari tanda-tanda kehidupan manusia. Tatap matanya lalu berpapasan dengan sekawanan monyet berwarna cokelat.
“Apakah kalian tahu dimana ini?” tanyanya dengan sopan. Berharap bahwa ini adalah dunia khayal, dimana monyet bisa berbicara, karena sesungguhnya ia telah mati. Kematian adalah jawaban paling masuk akal dari seluruh rangkaian kejadian ini.
Sekawanan monyet hanya menatap dirinya, tanpa memberi jawaban. Bintang dan monyet-monyet saling tatap. Tak lama, menyesali tindakannya, Bintang menghela napas panjang lalu mencari cara lain untuk memastikan dimana dirinya kini berada.
Dari posisi matahari dan aliran air, Bintang tau bahwa ke utara berarti arah laut, dan ke selatan adalah arah pegunungan. Dalam keadaan seperti ini, sebagai anak pantai, maka seharusnya ia menuju ke arah laut, lalu mencari petunjuk lebih jauh di sana. Namun, sedari sadar tadi, ada perasaan berbeda dari dalam dirinya. Ia seolah merasakan sesuatu dari arah gunung, semacam tekanan yang tak bisa ia jelaskan.
Tekanan tersebut tidak menandakan bahaya. Tidak pula tekanan yang berupa panggilan atas dirinya. Perasaan seperti ini tidak pernah ada sebelumnya. Sungguh menumbuhkan rasa penasaran. Bintang, meski demikian, melangkah kaki sambil menghitung setiap langkah ke arah pantai. Di wilayah yang tak ia kenal, lebih baik waspada, pikirnya.
Lebih dari satu jam berlalu sejak Bintang tiba di hutan. Kini ia berada di pesisir pantai. Garis pantai, di kiri dan kanannya, panjang sejauh mata memandang. Tetumbuhan yang hidup di sepanjang pantai tidak jauh berbeda dari Pulau Paus. Sengat terik matahari pun sama. Pulau ini bukanlah Pulau Paus, tapi setidaknya masih dalam wilayah yang sama, simpulnya. Pulau ini asing, tapi terasa tidak asing. Apakah Pulau Sabana atau mungkin Pulau Kuda?
Sambil mencari sempalan perut, Bintang masih tidak menemukan tanda-tanda kehidupan manusia. Mungkin ada kehidupan di sisi lain pulau ini, pikirnya. Mengingat garis pantai yang panjang, Bintang berpikir untuk menuju sisi lain pulau melalui hutan dan gunung. Mungkin saja ada kehidupan di tengah pulau. Selain itu, sambil menuju sisi lain pulau, ia juga bisa memeriksa tekanan yang masih samar-samar ia rasakan dari sisi tengah pulau. Sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui, pikirnya.
Enam jam berlalu sejak Bintang tersadar di pulau ini. Ia kini berjalan menyusuri semak-semak. Langkahnya mulai menanjak. Tumbuhan mulai jarang terlihat dan udara semakin menipis. Ia enggan melangkah lebih jauh karena saat ini berada di perbatasan vegetasi.
Berdasarkan ilmu alam yang pernah ia baca, batasan vegetasi adalah wilayah perbatasan antara kawasan hutan dan puncak gunung, yang ditandai oleh daerah berpasir, berkerikil atau penuh bebatuan. Wilayah ini sering dituruni kabut yang membatasi jarak pandang, sehingga cenderung berbahaya, apalagi pada malam hari.
Tanpa sadar, benaknya membayangkan sang ibu. Apakah Bunda akan bersedih karena merasa kehilangan dirinya? Tentu Bunda bersedih, oleh karena itu aku harus kembali dalam keadaan selamat.
Bintang memilih bersabar. Ia kembali ke hutan untuk menghabiskan malam di sana. Besok pagi-pagi aku akan naik ke puncak. Dari atas sana, pastinya akan terlihat pemandangan seputar pulau, dan mungkin pulau-pulau lain di sekitar sini.
Sebelum matahari terbit, Bintang telah bangun dari tidurnya. Ia menghabiskan malam di atas pohon. Setelah menyantap sarapan buah-buah liar seadanya, yang ia kumpulkan pada petang sebelumnya, Bintang memulai lagi perjalanan mendaki.
Hanya tiga jam perjalanan, Bintang telah tiba di puncak. Di sisi dalam puncak, adalah kawah bekas gunung berapi. Anehnya, kawah tersebut membentuk telaga yang luas. Tidak hanya satu telaga saja, tetapi tiga telaga. Dua telaga berdampingan satu sama lain, sedangkan yang ketiga sedikit lebih jauh ke arah barat. Anehnya lagi, ketiga telaga tersebut memiliki warna yang berbeda-beda.
Tekanan yang ia rasakan sebelumnya semakin menguat. Bintang menyapu pandang dan samar-samar melihat ada sebuah gua di antara dua telaga pertama dan telaga ketiga. Dari arah sanalah tekanan itu terasa berasal.
Keraguan melanda benak Bintang. Apakah sebaiknya ia menuju gua tersebut. Atau mengurungkan saja niatnya, dan menuruni sisi utara puncak menuju sisi lain pantai. Dari puncak tidak kelihatan ada tanda-tanda kehidupan manusia di sisi selatan pulau. Sambil beristirahat ia mengamati arah ke gua yang dikelilingi tebing terjal dengan saksama.
Akhirnya Bintang memutuskan untuk menuju gua. Ia berencana mengamati saja isi dalam gua dari luar. Jika berbahaya, ia akan segera melarikan diri. Ia percaya pada kemampuan larinya. Ia telah cukup beristirahat dan menghapal rute lari. Kalau pun yang keluar dari dalam gua adalah binatang siluman yang dapat terbang, ia akan melompat ke telaga, bila binatang siluman darat yang dapat berlari kencang, maka melompat ke telaga pun bisa.
Hanya saja, sekarang ia harus memastikan bahwa telaga-telaga tersebut cukup aman untuk direnangi. Bahwa di dalamnya tidak ada binatang siluman yang berdiam. Percuma saja bila keluar dari kandang harimau, untuk kemudian masuk ke kandang singa, pikirnya.
Dua telaga yang berdampingan tersebut berwarna merah dan biru. Ia telah menyadari perbedaan warna sedari tadi, sejak berada di puncak. Setelah dihampiri, nyatanya perbedaan bukan hanya terletak pada warna, tapi juga pada suhu air telaga. Air di telaga berwarna merah suhunya panas, di tengah-tengah telaga terlihat jelas air bergelegak tanda mendidih. Sedangkan telaga berwarna biru bersuhu dingin dan ditengahnya terdapat bongkahan es yang mengapung. Sungguh aneh, dua telaga yang berdampingan bisa memiliki suhu yang sangat ekstrim berbeda.
Jadi, sekarang tidak mungkin memanfaatkan kedua telaga ini sebagai tempat untuk melarikan diri atau bersembunyi, pikir Bintang. Telaga ketiga, pikirnya lagi, cukup jauh dan mungkin sama berbahayanya. Lebih cepat dan mudah bila ia melarikan diri dan bersembunyi ke arah hutan di sisi selatan.
Setelah menghitung langkah dan memperkirakan waktu tempuh, dengan demikian, rencana telah tersusun. Sungguh persiapan yang panjang.
Bintang menghela napas sambil memantapkan dirinya. Ia berjalan ke arah mulut gua. Jarak semakin memendek. Ia berada hanya sekitar 10 m dari mulut gua. Tekanan yang ia rasakan semakin besar. Akibat tekanan tersebut, sekujur tubuhnya berkeringat.
Kini ia berada tepat di mulut gua. Dengan tekanan seperti ini, sulit baginya melarikan diri dengan kecepatan tinggi bila ada bahaya mengancam.
“Lama sudah tiada tamu yang bertandang.”
Bintang terkejut. Suara yang berat, seperti berasal dari orang tua, sama beratnya dengan tekanan yang kini Bintang rasakan, bergema.
“Hai, anak muda. Masuklah!”
dan
Spoiler for Episode 9:
Episode 9 - Komodo Nagaradja
Sudah kepalang basah, biar basah sekali. Bintang tak lagi menimbang-nimbang. Ia berada tepat di mulut gua. Meski tekanan yang ia rasakan sangat berat, suara tersebut mungkin satu-satunya harapan untuk mengetahui tentang pulau ini.
Bintang melangkahkan kaki masuk ke dalam gua. Radius gua cukup besar, sekitar 3 m, sehingga rongga gua mencapai diameter seluas 6 m. Dinding-dinding gua terbilang mulus, tanpa ada stalaktit maupun stalagmit. Kondisi gua lebih mirip seperti lubang yang sengaja digali, bukan hasil dari terpaan alam.
Bintang terus melangkahkan kaki. Bagian dasar lubang sama seperti dindingnya. Perlahan ia rasakan bahwa lubang ini tidak mendatar, tapi turunan yang semakin lama semakin terjal. Kini ia berada sekitar 10 m di dalam lubang. Semakin terbatas sinar matahari yang menyeruak masuk.
Pada kedalaman sekitar 15 m, ia hanya dapat melihat samar-samar sekeliling. Masih belum terlihat akan tanda-tanda ujung lubang. Di depan hanya kegelapan tanpa batas. Bintang mulai bimbang.
“Sesepuh yang berdiam di dalam gua,” ungkapnya dengan sopan. “Terima kasih atas undangan untuk masuk ke dalam gua. Apakah masih jauh langkah yang harus ditempuh?”
Sesungguhnya tujuan dari pertanyaan ini bukan hanya untuk mengetahui seberapa jauh lagi langkah yang perlu ditempuh. Bintang ingin memastikan apakah yang mengundangnya masuk memiliki niat baik atau sebaliknya. Tergantung dari jawaban yang ia terima, Bintang sudah siap melarikan diri meninggalkan gua. Sudah tidak mungkin gua ini didiami manusia. Manusia pasti memerlukan penerangan yang memadai bila tinggal di dalam lubang seperti ini.
Tidak ada jawaban dari ujung sana. Bintang menghentikan langkah. Tidak lama, matanya menangkap seberkas cahaya termaram yang merambat perlahan dari dalam lubang. Ia pun melanjutkan langkah kaki. Kali ini lebih cepat dari sebelumnya.
Lubang gua berujung ke sebuah ruang bundar. Bintang menyapu pandang. Lantai ruang cukup datar. Yang sebelumnya ia kira bundar, adalah sisi samping dan atas ruang. Di tengah sinar temaram, Bintang belum dapat memastikan luas ruang tersebut. Namun, perkiraannya adalah ruang berbentuk kubah, dengan luas mencapai diameter hampir 40 m. Sangat luas.
“Hm… Sudah cukup lama sejak terakhir kali seorang tamu datang bertandang,” sebuah suara kembali menyapa. Kini terdengar bahwa suara tersebut terasa berat, nuansa kelelahan terasa dari setiap kata yang keluar.
“Nama hamba Bintang Tenggara,” ungkap Bintang ke arah sisi ruang yang masih gelap gulita. “Saya berasal dari Dusun Peledang Paus, di Pulau Paus. Sejak sehari yang lalu saya tiba dan tersesat di pulau ini,” tambah Bintang cepat. Ia menahan diri untuk mengajukan pertanyaan. Lebih sopan memperkenalkan diri terlebih dahulu, pikirnya.
“Oh…”
Perlahan, dua cercah sinar berwarna kuning keemasan muncul dari sisi ruang yang gelap. Jarak yang memisahkan sinar-sinar tersebut hampir 1 m. Ukuran masing-masingnya sebesar kepala manusia dewasa, di tengah-tengah terdapat lingkaran berwarna hitam mengkilap.
Sepasang bola mata! Bintang terkejut, jantungnya berdebar keras, tubuhnya kaku dan sedikit terhuyung ke belakang. Seekor binatang siluman, gumamnya dalam hati.
“Apakah engkau takut?” suara dari kegelapan menyadari rasa tidak nyaman lawan bicaranya.
Perlahan, sejumlah kristal kuarsa berpendar, menyibak cahaya ke penjuru ruang. Bintang melihat sebuah moncong mirip buaya dengan lebar dan tinggi sekitar 2 m menempel di tanah. Perlahan terlihat kepala dan leher yang panjang, dan tubuhnya besar sekali. Tinggi tubuh binatang siluman tersebut mencapai 5 m. Kaki-kakinya besar dengan kuku-kuku panjang berwarna hitam kusam. Ekor panjangnya ditekuk ke samping tubuhnya. Secara keseluruhan, panjang tubuh binatang siluman tersebut dari moncong sampai ekornya mungkin lebih dari 20 m.
Berkas cahaya semakin terang menyibak sang binatang siluman. Kulit di sekujur tubuhnya dilapisi oleh sisik-sisik besar berwarna kemerahan mirip batu bata. Di banyak bagian, sisik telihat mengelupas, menampilkan kulit berwarna abu-abu gelap. Di sisi atas tubuhnya terlihat bergerigi, yang berbaris dari kepala hingga ke ekor.
“Saya takut sekali,” ungkap Bintang tanpa ragu apalagi malu. Hanya orang tidak waras atau bernyali baja yang berani bila berhadapan dengan tekanan luar biasa dan pemandangan yang mengerikan seperti ini.
“Namun, sesepuh siluman mengundangku kemari tidak dengan niat buruk.”
“Hahaha....” suara tawa sang siluman bergema mengisi seluruh ruangan gua.
Bintang terperangah. Meski terdengar suara tawa, moncong sang binatang siluman tidak bergerak sama sekali. Tubuhnya hanya terdiam, sesekali bergetar perlahan saat menarik dan menghempaskan napas.
“Aku berutang budi padamu. Bagaimana mungkin bisa aku berniat buruk?” kembali terdengar suara dari arah sang binatang siluman.
Berutang? Pikir Bintang dalam hati. Bagaimana mungkin sang binatang siluman berutang pada dirinya. Ini kali pertama mereka bertemu. Semakin banyak pertanyaan di benak Bintang. Ia sangat ingin mengetahui tentang pulau ini dan bagaimana caranya kembali ke Dusun Peledang Paus.
Sebelum Bintang sempat mengajukan pertanyaan, sang siluman kembali melontarkan pertanyaan terlebih dahulu. “Tadi kau katakan bahwa tersesat ke pulau ini, bagaimana ceriteranya?”
“Sehari yang lalu saya terjatuh ke laut, dan harusnya cidera berat, bahkan mungkin menghembuskan napas terakhir karena terkena libasan ekor Paus Surai Naga. Saya tak sadarkan diri setelah itu. Saat siuman, saya sudah berada di hutan pulau ini.”
“Jadi kau tidak sengaja membuka segel pulau ini?”
“Segel pulau ini?” Bintang semakin kebingungan. “Pulau apakah ini? Bagaimana caranya saya bisa kembali ke Dusun Peledang Paus?” Bintang tak lagi dapat menahan diri.
“Tidakkah orang tuamu mengajarkan tentang keahlian? Tentang persilatan dan kesaktian?” sang siluman mengabaikan pertanyaan Bintang.
“Orang tua saya bukanlah orang-orang ahli. Mereka tidak pernah berbicara tentang persilatan dan kesaktian, apalagi memberi tunjuk-ajar,” jawab Bintang. Sedikit keraguan terbersit dari jawabannya kali ini.
“Tidak dapat diterima akal. Sudah jelas kau berada di Kasta Perunggu Tingkat 1.”
Bintang terkejut sampai seolah ingin memuntahkan darah. Kepalanya pening, ia terjerembab ke belakang.
“Kemudian, hanya para ahli yang mempraktekkan keterampilan khusus terkait segel, yang dapat menjangkau pulau ini,” lanjut sang binatang siluman.
Bintang hanya terduduk diam. Badannya masih lemas. Apakah binatang siluman ini mengerjainya?
“Sepertinya kau memang tak mengerti apa-apa. Aku perlu istirahat. Kembalilah lagi dalam dua jam. Akan kujawab tiga pertanyaanmu.”
Bintang hanya menatap diam.
“Bila ingin menunggu di situ juga tidak apa-apa,” tutup sang binatang siluman.
Meski memiliki kepintaran di atas rata-rata anak seusianya, Bintang tetaplah seorang anak berusia 12 tahun. Kata-kata sang siluman menggetarkan jiwa. Bagaimana tidak? Bila benar ia memiliki kesaktian, bukankah itu berarti kesempatan untuk mengubah nasib dusunnya? Bukankah menjadi kesempatan untuk membahagiakan ibunya? Bukankah berarti ia bisa menjadi seorang lamafa?!
...
Dua jam berlalu cepat. Bintang kembali ke dalam gua, atau liang binatang siluman untuk lebih tepatnya. Ia telah menimbang-nimbang serangkaian pertanyaan. Mengaitkan satu fakta dengan fakta lainnya. Ada seribu satu pertanyaan yang ingin ia ajukan. Ia mengurutkan pertanyaan paling utama, hanya tiga pertanyaan yang dapat diajukan kepada sang binatang siluman.
“Sudahkah kau siapkan tiga pertanyaan?” tanya sang binatang siluman. Meski tubuhnya hanya terdiam, suaranya mengesankan rasa penasaran terhadap anak yang terdampar ini.
“Pertanyaan pertama, siapakah sesungguhnya jati diri sesepuh siluman?” tanpa basa-basi. Kini Bintang sudah lepas dari keterkejutan. Ia siap.
Sepasang mata siluman menyempit. Ia tidak menyangka pertanyaan pertama malah terkait jati dirinya. Menurut perkiraannya, pertanyaan pertama kemungkinan besar tentang pulau ini.
“Namaku... Komodo Nagaradja,” suara sang siluman berwibawa.
“Aku biasa dipanggil Nagaradja, dan aku adalah siluman sempurna,” tutupnya segera.
Bintang kali ini mampu menyembunyikan keterkejutanya. Padahal, ada dua hal menakjubkan dari jawaban tersebut. Pertama, menurut kakek Kepala Dusun, binatang siluman komodo adalah binatang siluman terkuat di wilayah tenggara, namun mereka diduga punah saat Perang Jagat dahulu.
Kemasyuran komodo sama tingginya dengan gajah dari Pulau Barisan Barat, orangutan dari Pulau Belantara Pusat, babirusa dari Pulau Logam Utara, badak dari Pulau Jumawa Selatan, atau cenderawasih dari Pulau Mutiara Timur.
Kedua, siluman sempurna adalah eksistensi yang bermartabat. Evolusi dari binatang siluman menjadi siluman sempurna setidaknya memerlukan waktu seribu tahun. Dengan umur yang sebegitu panjang, siluman sempurna memiliki kearifan dan keahlian jauh sekali di atas rata-rata manusia.
Kesimpulannya, bila binatang siluman termasyur seperti komodo berevolusi menjadi siluman sempurna, maka pastilah memiliki kesaktian tiada tara.
“Pertanyaan berikutnya?” sergah Nagaradja.
“Pertanyaan kedua...,” Bintang menarik napas, “apakah sesepuh Komodo Nagaradja mengenal ayahku?”
“Tentu saja. Ayahmu adalah Balaputera. Seorang ahli yang menguasai keterampilan khusus segel.”
Bintang telah memperkirakan kemungkinan atas jawaban ini. Benar nama sang ayah adalah Balaputera.
Sang ayah tersebut hilang di laut, tak ada tanda-tanda kekerasan dari peledang yang ia naiki, yang hanyut dibawa ombak kembali ke pesisir dusun.Kemudian, dirinya sendiri tiba di tempat ini saat terjatuh ke laut. Lalu, Nagaradja mengatakan bahwa dirinya berutang budi kepada Bintang, seseorang yang baru ditemuinya beberapa jam lalu. Berutang budi dapat terjadi secara tidak langsung, misalnya seseorang yang dekat dengan Bintang memberikan suatu bentuk bantuan.
Benang merah dari ketiga hal tadi cukup nyata terlihat. Meski sudah memperkirakan, detak jantung Bintang tetap berdetak kencang.
“Pertanyaan terakhir,” Nagaradja tak menyembunyikan rasa ingin tahu. Pertanyaan seperti apa yang akan anak laki-laki ini ajukan.
“Pertanyaan terakhir....”
Bintang sesungguhnya tidak menyiapkan hanya tiga pertanyaan. Pertanyaan pertama adalah pertanyaan pancingan. Sedangkan pertanyaan kedua adalah pertanyaan konfirmasi. Ada belasan pilihan yang ia siapkan untuk pertanyaan ketiga, yang akan ia ajukan sesuai dengan jawaban yang diperoleh atas pertanyaan pertama dan kedua...
“Sudikah kiranya, sesepuh Nagaradja, mengangkat hamba sebagai seorang murid, untuk mendalami persilatan dan kesaktian...?”