TS
User telah dihapus
NULL
NULL
more than just none
Cerita ini lebih saya kategorikan ke Action-Mistery,yah apapun itu.
sudut pandang orang ketiga(serba tau) dan bahasa indonesia semi baku.
Sinopsis
Bagas,seorang pemuda biasa dipercaya dan diikutsertakan oleh kepolisian untuk membantu menangani kasus-kasus pembunuhan di Ibu Kota.
Keahliannya berhasil menuntun dirinya bergabung ke dalam 'Divisi 1', sebuah grup berisi sekumpulan veteran anak muda dengan keahliannya di masing-masing cabang ilmu forensik.
Rules
- nggak ada peraturan tambahan,bebas aja.
- batasan-batasannya mengacu penuh ke rules H2H & SFTH.
- komentar & teguran langsung saja dilayangkan via Post atau PM.
Warning!
- Cerita ini benang merahnya adalah tentang jagoan lawan penjahat jadi temanya nggak jauh-jauh dari kekerasan.( dengan kata lain kalau kalian sangat tabu dengan kata 'pembunuhan' dan sebagainya, sebaiknya pindah ke bacaan lain ).
- sebagian dari inti cerita ini bukan untuk ditiru atau diidolakan,begitu. ( Hal baik selalu menang jadi jangan tiru yang buruknya )
- Tokoh,Tempat,Kejadian semuanya Fiksi. (Extremely fiksi mungkin)
- Banyak hal terjadi di cerita ini;beberapa masuk akal,beberapa belum bisa dilakukan di jaman ini dan beberapa mungkin mustahil dilakukan di dunia ini.
- Berdasarkan temanya ane pribadi bilang konten cerita ini untuk umur 17 tahun ke atas atau mereka yang sudah mampu menalar cerita fiksi.
- Kentang, pasti! ( TSnya masih belum lancar menulis jadi jeda per part-nya bakalan cukup lama )
- N/A.
Isi Cerita
Spoiler for Ilustrasi karakter:
Spoiler for CHAPTER 1:
Spoiler for CHAPTER 2:
Spoiler for CHAPTER 3:
Spoiler for CHAPTER 4:
Pengumuman tutup lapak (closed permanently)
Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 0 suara
Masukkan dan Update Cerita
Cerita GaJe, 1 hari = 10 chapter ( Random )
0%
Cerita biasa, 1 hari = 1 chapter ( 00:00 - 12:00 )
0%
Cerita lumayan, 1 hari = 1 chapter ( 12:00 - 00:00 )
0%
Cerita bagus, 2 hari = 1 chapter ( 17:00 - 20:00 )
0%
Cerita menarik, 3 hari = 2 chapter ( 12:00 & 17:00 )
0%
NULL, 7 hari = 1 chapter ( 15:00 )
0%
Diubah oleh User telah dihapus 11-04-2017 20:43
anasabila memberi reputasi
1
21.4K
98
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
User telah dihapus
#82
Chapter 2 - Side story
Invitation - Part 1
> TKP,kamar korban - 10:00 WIB,Minggu.
tiba lah Raka,Arya dan Jessica beserta beberapa kru lapangan dan anggota polisi di rumah korban,siang itu keadaan di sekitar rumah korban sudah ramai dikerumuni warga sekitar yang tinggal saling berdekatan.
polisi sudah sedari awal menghimbau warganya agar mau tertib dan menjauh dari spot-spot strategis di sekitar rumah korban,beberapa petugas juga ditempatkan untuk berjaga di sekitaran rumah,garis polisi pun sudah ada di sana sebelum rombongan ketiganya hadir,tidak setelahnya,karena semua petugas tau garis itu akan berakhir sia-sia di tanah.
.......
"periksalah.. tim kami akan periksa setelahmu" kata seorang pria dari kru divisi utama di batas masuk rumah korban,ia tak tiba bersamaan dengan ketiganya jadi bisa dipastikan kalau dia dan krunya datang lebih awal.
"kami sebentaran aja" balas Raka baru saja mendapat ijin ikut dalam penyelidikan kasus kali ini.
"....."
.......
ketiganya masuk ke dalam rumah,dua penghuninya lengkap di dalam,yakni seorang perempuan sekaligus ibu dari korban,dan satu lagi adalah suaminya.
"kali ini aku yang tangani mayatnya,kamu temani jessica aja cari bukti keterangan" kata Raka cukup jelas memberi instruksi pada dua temannya.
"Arya ikut sama kamu,aku mau sendiri" kata Jessica tak setuju rupanya,konsisten dengan gaya bicaranya yang sedikit.
"hhh? kalian lagi berantem?" tanya Raka lagi namun diabaikan begitu saja oleh jessica yang langsung pergi mencari keluarga korban di dalam.
"paling dia lagi kepikiran Karina" kata Arya sambil berjalan melewati Raka,menuju ruang yang lebih kecil,tempat korbannya ditemukan meninggal.
"sensitiv" kata Raka samar,kemudian menyusul temannya masuk.
"oke,dok.. kamu duluan" kata Raka sudah bergabung bersama Arya di dalam.
"masih baru.. pasti setengah jam yang lalu" kata Arya mengamati mayat anak laki-laki berusia 15 tahun,berpakaian lengkap dengan leher yang terikat pada simpul gantung yang berbuntut vertikal ke rangka atap ruangan.
"nghh,'pasti'.. ya ampun ini yang aku suka darimu sejak dulu" puji Raka yang masih berdiri diam menjaga jarak dari mayat korban,tentunya untuk mengamati dari sudut pandang yang lebih jauh bukannya ia tidak suka berada berdekatan dengan mayat.
"mereka melapor ke polisi tepat di waktu bocah ini meninggal-" lanjut Arya terpotong oleh pertanyaan yang berbeda topik dari Raka.
"hei,mana Christ? kamu liat dia di depan tadi?" tanya Raka tiba-tiba.
".....?"
Raka kemudian nampak pergi ke luar ruangan untuk memastikan sesuatu,dan tak lama kemudian ia hanya kembali begitu saja ke ruangan tadi dengan ekspresi serius,mengamati lagi kondisi korban,kini dari jarak yang lebih dekat.
"dapet sesuatu?" tanya Arya langsung mengenali ciri-ciri kepribadian Raka yang satunya kini sedang aktif.
"yeah.. bocah itu bunuh diri di kamar ini.." jawab Raka begitu yakin.
"hey,kamu nggak bisa mendahuluiku soal itu" kata Arya.
"kamu selalu lelet.. pintu kamar itu rusak,dibuka paksa dari luar,artinya itu terkunci dari dalam.. kualitas kunci kamar ini tergolong bagus,bukan wanita,pria dewasa yang berpendidikan harusnya cukup kuat untuk merusaknya,bukan ayahnya,bukan saudaranya"
"apa hubungannya dengan 'berpendidikan',hah?" tanya Arya merasa janggal saja.
"kalau dia pria yang nggak bisa mengontrol emosinya,dia bakalan melepas ikatan tali itu langsung saat itu juga.. dia panik tapi berhati-hati,rasa empatinya nggak cukup besar dia seorang yang nggak punya hubungan dekat sama korban.. ada sepatu kerja yang baru dilepas di dalem ruang depan,punya urusan ekstra di hari minggu,sizenya ukuran dewasa itu pasti punya ayahnya,datang buru-buru,panik.. dia pasti dapat kabar buruk soal anaknya,bukan dari istrinya,istrinya sudah pingsan sebelum kamar ini terbuka,karna kalau nggak pasti ikatan itu juga sudah dilepas langsung oleh si pria yang mendobrak pintu atas permintaan wanita itu.."
"menurutmu si ibu korban sejak awal lari meminta bantuan tetangganya untuk mendobrak pintu itu?"
"yoyoi.. wanita itu entah bagaimana caranya sudah tau kalau anaknya dalam keadaan bahaya,kamar ini ada di lantai dua,jendelanya dilengkapi jeruji besi sebagai pengaman dan itu mengarah ke sisi luar bangunan,so.. dari mana dia lihat sesuatu yang nggak bisa dilihat dari balik tembok ini"
"bocah ini udah remaja nggak mungkin ada kamera pengintai di kamarnya-" percakapan berlanjut,kini respon dari Arya.
"ibunya punya penghasilan tetap dari bisnis MLM,wanita pebisnis yang sibuk sehari-harinya,ayahnya pekerja kantoran yang punya koleksi uang kuno,punya jabatan menengah dan selalu tertekan oleh tanggung jawabnya di kantor,keliatan banget dari kondisi wadah sabun mukanya.." lanjut Raka.
"itu bisa jadi punya anaknya" bantah Arya sekedar terpikir kemungkinan-kemungkinan lain.
"nggak,anaknya kidal liat aja meja belajarnya,rata kanan.. bekas genggamannya akan beda antara kidal sama normal" balas Raka masih menatap serius ke arah mayat anak laki-laki itu.
"...."
"walau rumah ini sederhana sebenarnya mereka keluarga kaya.. lemari anak ini penuh sama stiker tokoh fiksi,dan hei- poster The last survivor 3,itu official merchandise kalau kamu pre-order soft-copy originalnya,dan baru rilis versi PC sama PS4 nya bulan ini.. nggak ada console game di rumah ini,sudah pasti dia punya PC spek dewa untuk hobinya yang satu ini.. tapi nggak ada di mana pun di rumah ini" tambah Raka sampai pada kesimpulan dari mana asal muasal pertanyaan awalnya tadi.
"Christ mengambilnya?" tanya Arya sependapat.
"entahlah,selama dia ambil sesuatu dari TKP artinya benda itu berkaitan sama kasusnya.. abaikan soal PCnya,coba cermati bocah itu" jawab Raka ingin beralih pada detail mayatnya kali ini.
"bocah ini belum mandi sejak kemarin,ini hari minggu tapi seragam sekolahnya nggak ia taruh di tempat cuci,tempat tidurnya berantakan,nggak ada bekas keringat di pakaiannya.. dia cukup tertutup,kurang disiplin,males aktifitas dan nggak punya hobi di luar.. gamer addict sesuai ceritamu bisa saja" sambar Arya memaparkan pendapatnya juga.
"hei,aku nggak mewajibkanmu buat bisa menyimupulkan seperti itu sih,tapi barusan lumayan.." ejek temannya,Raka.
"sialan,kerjaanku lebih rumit dari sekedar omong kosong kayak gitu.. semua orang juga bisa" ejek Arya kembali.
"....."
"....kenapa?"
"nggak,kasih aku waktu sebentar.."
Raka yang baru saja meminta waktu sebentar untuk konsentrasi,kini selesai dengan satu kesimpulan baru lagi di kepalanya.
"komputernya.. dia mati terekam secara LIVE di internet,kah?... temen sekelasnya pasti nggak sengaja liat dan langsung menelfon orang tua korban,itu kenapa orang tuanya panik dan langsung bertindak.." jelasnya.
"well,jadi ini kasus bunuh diri?" tanya Arya dengan niat yang memang murni pertanyaan.
"hei,kamu bilang waktu kematiannya terlalu mepet sama waktu pintu ini didobrak!? kalau ini pembunuhan,amatiran nggak mungkin punya waktu buat-" jawab Raka sedikit menekan,tapi sekaligus terhenti oleh kemauannya sendiri.
"....................."
"nggak,ini bukan pembunuhan.. orang mana yang bisa keluar dari ruang tertutup ini di detik-detik terakhir.."
"entah kenapa setiap berangkat ke TKP,akhir-akhir ini aku selalu punya firasat soal kehadiran mereka.."
"apa motifnya kalau ini pembunuhan? aneh banget seseorang membunuh pakai cara seperti ini,pembunuhan ruang tertutup dengan satu kamera merekam aksinya secara live.. pakai aja pisau,kan simpel"
"liat semua ini,Raka.. siapapun akan mengira ini kasus bunuh diri,itu lah tujuannya... mereka selalu aneh kan,membunuh dangan cara aneh,target random,nggak ada motif,nggak ada bukti,nggak ada saksi mata,nggak ada tersangka.. mereka tau jelas cara main bersihnya" balas Arya panjang.
"....gehh,inilah enaknya jadi mereka.. dapet giliran jalan pertama,bersihin TKP,terus ilang" gerutu Raka kesal.
"sudahlah.. kalau perkataanmu soal korban terekam secara LIVE benar,berarti kita cuma perlu tonton video rekamannya" kata Arya memilih untuk selesai di sana.
situasi baru reda sebentar,belum berujung pada hipotesa matang Raka yang sedang jengkel justru bertambah jengkel lagi karena nada dering HPnya yang berbunyi keras sekali dari dalam saku celananya.
diingat-ingatnya ia tak pernah memberi nada dering untuk panggilan maupun pesan masuk di HPnya,bahkan sering sekali dirinya justru mematikan HPnya saat sedang berada di luar kantor untuk tugas seperti yang sedang dilakukannya saat ini.
{ sejak kapan dia pakek nada telfon?} batin Raka kesal pada dirinya yang satunya,diambilnya smartphone layar sentuh berwarna putih dari sakunya.
{ Bagas? lagi-lagi si Christ ngelakuin hal ini..} batinnya lagi saat mengetahui identitas si penelfonnya,tak tahan dengan nada telfon yang berisik Raka pun bergegas mengangkatnya.
"yoo.. ada apa telfon? dapat sesuatu dari PC bocah itu? kamu lumayan cepet kali ini" tanya Raka langsung saja setelah menjawab telfon tersebut.
"yang terhormat kalian para divisi 1.. aku nggak keberatan kalau kau mau loudspeaker panggilan ini supaya teman laki-laki di sebelahmu bisa ikut dengar,teman perempuanmu yang di belakang juga boleh ikut dengar" balas pria dari panggilan yang berasal dari nomor Bagas itu.
Raka tak tau kalau Jessica sudah berdiri di batas pintu ruangan mereka saat ini,ia baru sadar setelah menengokkan kepalanya ke belakang setelah pria di percakapan tadi memberitahukannya.
"oke,siapa yang sedang berbicara? ...kau bisa katakan langsung padaku" balas Raka dilengkapi penolakannya soal permintaan mengeraskan suara panggilannya.
"okee.. makasih..." balas pria itu konyol kini justru terdengar keras dari HP Raka,Raka yang terkejut sontak menjauhkan HPnya dari telinga,ia menyadari bahwa pria di telfon itu lah yang mengeraskan suara panggilannya entah bagaimana yang Raka tak tau caranya.
"siapa?" tanya Arya enteng setelah mendengar panggilan telfon barusan diloudspeaker oleh Raka,paling tidak itu lah yang ia kira karena Raka lah yang memegang HPnya.
"ohh.. kau mau main-main,hah!?" balas Raka untuk pria di panggilan itu,kini mau tak mau panggilan itu terloudspeaker di tengah-tengah suasana berduka di rumah itu.
"aku persingkat saja kapten,perempuan itu kembali ke ruangan kalian untuk memperlihatkan rekaman kematian korban yang terekam melalui akun medsosnya beberapa saat yang lalu,karna ku kira forensik digitalmu nggak ada di sana jadi biar ku bantu sedikit.." kata pria itu lagi tanpa memperkenalkan namanya.
"kau sedang menelfon menggunakan nomornya,kalau gitu dia juga ada di sana bersamamu" kata Raka enteng,mengira kalau ini salah satu kerja sama Bagas dengan seseorang.
"nggak tuh,dia lagi berduaan di apartemen pacarnya... gimana? mau ku lanjut?"
".........."
"dengar bocah,aku bisa saja menelfonmu pakai nomor psikiater perempuanmu,atau nomor teman perempuan di dekatmu itu,atau nomor siapapun.. so abaikan sesi ini aku mau jelaskan sesuatu yang lumayan penting..dengarkan baik-baik" kata pria itu jelas.
"kau salah satu dari mereka kan!? pembunuh berantai yang kami cari-cari" tebak Raka begitu saja.
"gehh.. bicara denganmu bisa serepot ini ternyata... aku cuma warga biasa yang mau ngobrol sama kalian.. anggep aja aku mengidolakan kalian,semua orang begitu kan?" balas pria itu masih enggan memperkenalkan namanya.
"......."
"kita dengarkan aja dulu" kata Arya berpendapat,hal yang sama juga dikatakan oleh Jessica di sana.
"video yang akan kau tonton adalah palsu,itu animasi 3D dengan kualitas super gila yang bisa menyamai tampilan dari video CAM asli.. perempuan itu nggak menyadarinya,karna dia bukan ahlinya CGI.. " jelas pria itu lagi.
"bagaimana bisa-" kata Jessica spontan ingin membalasnya namun terhenti saat Raka memberi aba-aba dengan tangannya agar dia tetap diam terlebih dahulu mengenai informasi baruan.
"ide dari video palsu itu adalah untuk membuat kalian beranggapan kalau bocah itu mati karena gantung diri,well polisi nggak akan langsung percaya dan akan mencari motif di baliknya,kan? kalau kau periksa teman dekatnya kau akan tau kalau bocah itu cuma bermaksud melakukan prank dengan simpul tali palsu,karena bagian badan atas korban nggak terekam dan fakta di sana dia mati karena simpul jerat,akhirnya kalian akan berkesimpulan kalau bocah itu mati karena kecelakaan teknis.. apapun yang kau lihat di video itu,kanyataan yang sebenarnya adalah seseorang sudah membunuh bocah gak berdosa itu tanpa alasan,lalu merekayasa video buktinya agar polisi mengira ia mati oleh kesalahannya sendiri" jelas pria itu lagi setelah mendapat jeda waktu untuk berbicara lagi.
"dari mana kau bisa bilang video rekamannya palsu saat itu ditayangkan live dari komputer korban? juga,TKP ini terkunci dari dalam,kalau pembunuhnya sama-sama terperangkap di dalam kenapa nggak ada satu pun yang menyadarinya.." kata Arya kali ini.
"teknologi itu makanan sehari-hariku,membedakan mana video asli dan palsu itu sama aja seperti membedakan air biasa dan air mendidih.. soal pembunuhnya,itu bukan pekerjaanku lagi,udah yah??" balas pria itu enteng hendak menyudahi obrolan seriusnya yang sudah berada di puncaknya.
"siapa kau sebenarnya!? kau nggak mungkin secara kebetulan memakai nomor ini untuk menelfonku.." tanya Raka prioritasnya kini hanya ingin mengetahui siapa pria di balik suara tersebut.
".....adikku emang nggak ada gunanya sama sekali yah.. " jawabnya ambigu memancing ke arah kemungkinan-kemungkinan lain soal identitasnya.
"....!!?"
"ngomong-ngomong kalau kalian mau ambil kasus ini,pastikan tersangka kalian bukan semua orang yang tinggal dekat dengan keluarga itu.. ini pembunuhan berencana tanpa motif kalau kataku sih,dan lagi aku nggak tau video aslinya seperti apa karena pelakunya cukup terampil menyembunyikannya.. pelakunya pasti ahli di bidang komputer,jaringan internet,video editing sama animasi 3D kalau sampai bisa melakukan sejauh ini.." kata pria yang baru saja mengganti nama Bagas dengan sebutan adiknya itu.
"kenapa aku harus percaya omonganmu?" tanya Raka menantang.
"karena orang yang sedang berbicara ini tau semuanya,lebih dari siapapun.. ingat nasehatku tadi,video rekaman yang dilihat semua orang adalah video palsu" jawab pria itu mantap,dan setelahnya diikuti oleh nada sambungan telfon yang terputus.
# Wujud seseorang yang sekian lama ia harapkan ada di timnya.
> TKP,kamar korban - 10:00 WIB,Minggu.
tiba lah Raka,Arya dan Jessica beserta beberapa kru lapangan dan anggota polisi di rumah korban,siang itu keadaan di sekitar rumah korban sudah ramai dikerumuni warga sekitar yang tinggal saling berdekatan.
polisi sudah sedari awal menghimbau warganya agar mau tertib dan menjauh dari spot-spot strategis di sekitar rumah korban,beberapa petugas juga ditempatkan untuk berjaga di sekitaran rumah,garis polisi pun sudah ada di sana sebelum rombongan ketiganya hadir,tidak setelahnya,karena semua petugas tau garis itu akan berakhir sia-sia di tanah.
Spoiler for Picture:
.......
"periksalah.. tim kami akan periksa setelahmu" kata seorang pria dari kru divisi utama di batas masuk rumah korban,ia tak tiba bersamaan dengan ketiganya jadi bisa dipastikan kalau dia dan krunya datang lebih awal.
"kami sebentaran aja" balas Raka baru saja mendapat ijin ikut dalam penyelidikan kasus kali ini.
"....."
.......
ketiganya masuk ke dalam rumah,dua penghuninya lengkap di dalam,yakni seorang perempuan sekaligus ibu dari korban,dan satu lagi adalah suaminya.
"kali ini aku yang tangani mayatnya,kamu temani jessica aja cari bukti keterangan" kata Raka cukup jelas memberi instruksi pada dua temannya.
"Arya ikut sama kamu,aku mau sendiri" kata Jessica tak setuju rupanya,konsisten dengan gaya bicaranya yang sedikit.
"hhh? kalian lagi berantem?" tanya Raka lagi namun diabaikan begitu saja oleh jessica yang langsung pergi mencari keluarga korban di dalam.
"paling dia lagi kepikiran Karina" kata Arya sambil berjalan melewati Raka,menuju ruang yang lebih kecil,tempat korbannya ditemukan meninggal.
"sensitiv" kata Raka samar,kemudian menyusul temannya masuk.
"oke,dok.. kamu duluan" kata Raka sudah bergabung bersama Arya di dalam.
"masih baru.. pasti setengah jam yang lalu" kata Arya mengamati mayat anak laki-laki berusia 15 tahun,berpakaian lengkap dengan leher yang terikat pada simpul gantung yang berbuntut vertikal ke rangka atap ruangan.
"nghh,'pasti'.. ya ampun ini yang aku suka darimu sejak dulu" puji Raka yang masih berdiri diam menjaga jarak dari mayat korban,tentunya untuk mengamati dari sudut pandang yang lebih jauh bukannya ia tidak suka berada berdekatan dengan mayat.
"mereka melapor ke polisi tepat di waktu bocah ini meninggal-" lanjut Arya terpotong oleh pertanyaan yang berbeda topik dari Raka.
"hei,mana Christ? kamu liat dia di depan tadi?" tanya Raka tiba-tiba.
".....?"
Raka kemudian nampak pergi ke luar ruangan untuk memastikan sesuatu,dan tak lama kemudian ia hanya kembali begitu saja ke ruangan tadi dengan ekspresi serius,mengamati lagi kondisi korban,kini dari jarak yang lebih dekat.
"dapet sesuatu?" tanya Arya langsung mengenali ciri-ciri kepribadian Raka yang satunya kini sedang aktif.
"yeah.. bocah itu bunuh diri di kamar ini.." jawab Raka begitu yakin.
"hey,kamu nggak bisa mendahuluiku soal itu" kata Arya.
"kamu selalu lelet.. pintu kamar itu rusak,dibuka paksa dari luar,artinya itu terkunci dari dalam.. kualitas kunci kamar ini tergolong bagus,bukan wanita,pria dewasa yang berpendidikan harusnya cukup kuat untuk merusaknya,bukan ayahnya,bukan saudaranya"
"apa hubungannya dengan 'berpendidikan',hah?" tanya Arya merasa janggal saja.
"kalau dia pria yang nggak bisa mengontrol emosinya,dia bakalan melepas ikatan tali itu langsung saat itu juga.. dia panik tapi berhati-hati,rasa empatinya nggak cukup besar dia seorang yang nggak punya hubungan dekat sama korban.. ada sepatu kerja yang baru dilepas di dalem ruang depan,punya urusan ekstra di hari minggu,sizenya ukuran dewasa itu pasti punya ayahnya,datang buru-buru,panik.. dia pasti dapat kabar buruk soal anaknya,bukan dari istrinya,istrinya sudah pingsan sebelum kamar ini terbuka,karna kalau nggak pasti ikatan itu juga sudah dilepas langsung oleh si pria yang mendobrak pintu atas permintaan wanita itu.."
"menurutmu si ibu korban sejak awal lari meminta bantuan tetangganya untuk mendobrak pintu itu?"
"yoyoi.. wanita itu entah bagaimana caranya sudah tau kalau anaknya dalam keadaan bahaya,kamar ini ada di lantai dua,jendelanya dilengkapi jeruji besi sebagai pengaman dan itu mengarah ke sisi luar bangunan,so.. dari mana dia lihat sesuatu yang nggak bisa dilihat dari balik tembok ini"
"bocah ini udah remaja nggak mungkin ada kamera pengintai di kamarnya-" percakapan berlanjut,kini respon dari Arya.
"ibunya punya penghasilan tetap dari bisnis MLM,wanita pebisnis yang sibuk sehari-harinya,ayahnya pekerja kantoran yang punya koleksi uang kuno,punya jabatan menengah dan selalu tertekan oleh tanggung jawabnya di kantor,keliatan banget dari kondisi wadah sabun mukanya.." lanjut Raka.
"itu bisa jadi punya anaknya" bantah Arya sekedar terpikir kemungkinan-kemungkinan lain.
"nggak,anaknya kidal liat aja meja belajarnya,rata kanan.. bekas genggamannya akan beda antara kidal sama normal" balas Raka masih menatap serius ke arah mayat anak laki-laki itu.
"...."
"walau rumah ini sederhana sebenarnya mereka keluarga kaya.. lemari anak ini penuh sama stiker tokoh fiksi,dan hei- poster The last survivor 3,itu official merchandise kalau kamu pre-order soft-copy originalnya,dan baru rilis versi PC sama PS4 nya bulan ini.. nggak ada console game di rumah ini,sudah pasti dia punya PC spek dewa untuk hobinya yang satu ini.. tapi nggak ada di mana pun di rumah ini" tambah Raka sampai pada kesimpulan dari mana asal muasal pertanyaan awalnya tadi.
"Christ mengambilnya?" tanya Arya sependapat.
"entahlah,selama dia ambil sesuatu dari TKP artinya benda itu berkaitan sama kasusnya.. abaikan soal PCnya,coba cermati bocah itu" jawab Raka ingin beralih pada detail mayatnya kali ini.
"bocah ini belum mandi sejak kemarin,ini hari minggu tapi seragam sekolahnya nggak ia taruh di tempat cuci,tempat tidurnya berantakan,nggak ada bekas keringat di pakaiannya.. dia cukup tertutup,kurang disiplin,males aktifitas dan nggak punya hobi di luar.. gamer addict sesuai ceritamu bisa saja" sambar Arya memaparkan pendapatnya juga.
"hei,aku nggak mewajibkanmu buat bisa menyimupulkan seperti itu sih,tapi barusan lumayan.." ejek temannya,Raka.
"sialan,kerjaanku lebih rumit dari sekedar omong kosong kayak gitu.. semua orang juga bisa" ejek Arya kembali.
"....."
"....kenapa?"
"nggak,kasih aku waktu sebentar.."
Raka yang baru saja meminta waktu sebentar untuk konsentrasi,kini selesai dengan satu kesimpulan baru lagi di kepalanya.
"komputernya.. dia mati terekam secara LIVE di internet,kah?... temen sekelasnya pasti nggak sengaja liat dan langsung menelfon orang tua korban,itu kenapa orang tuanya panik dan langsung bertindak.." jelasnya.
"well,jadi ini kasus bunuh diri?" tanya Arya dengan niat yang memang murni pertanyaan.
"hei,kamu bilang waktu kematiannya terlalu mepet sama waktu pintu ini didobrak!? kalau ini pembunuhan,amatiran nggak mungkin punya waktu buat-" jawab Raka sedikit menekan,tapi sekaligus terhenti oleh kemauannya sendiri.
"....................."
"nggak,ini bukan pembunuhan.. orang mana yang bisa keluar dari ruang tertutup ini di detik-detik terakhir.."
"entah kenapa setiap berangkat ke TKP,akhir-akhir ini aku selalu punya firasat soal kehadiran mereka.."
"apa motifnya kalau ini pembunuhan? aneh banget seseorang membunuh pakai cara seperti ini,pembunuhan ruang tertutup dengan satu kamera merekam aksinya secara live.. pakai aja pisau,kan simpel"
"liat semua ini,Raka.. siapapun akan mengira ini kasus bunuh diri,itu lah tujuannya... mereka selalu aneh kan,membunuh dangan cara aneh,target random,nggak ada motif,nggak ada bukti,nggak ada saksi mata,nggak ada tersangka.. mereka tau jelas cara main bersihnya" balas Arya panjang.
"....gehh,inilah enaknya jadi mereka.. dapet giliran jalan pertama,bersihin TKP,terus ilang" gerutu Raka kesal.
"sudahlah.. kalau perkataanmu soal korban terekam secara LIVE benar,berarti kita cuma perlu tonton video rekamannya" kata Arya memilih untuk selesai di sana.
situasi baru reda sebentar,belum berujung pada hipotesa matang Raka yang sedang jengkel justru bertambah jengkel lagi karena nada dering HPnya yang berbunyi keras sekali dari dalam saku celananya.
diingat-ingatnya ia tak pernah memberi nada dering untuk panggilan maupun pesan masuk di HPnya,bahkan sering sekali dirinya justru mematikan HPnya saat sedang berada di luar kantor untuk tugas seperti yang sedang dilakukannya saat ini.
{ sejak kapan dia pakek nada telfon?} batin Raka kesal pada dirinya yang satunya,diambilnya smartphone layar sentuh berwarna putih dari sakunya.
{ Bagas? lagi-lagi si Christ ngelakuin hal ini..} batinnya lagi saat mengetahui identitas si penelfonnya,tak tahan dengan nada telfon yang berisik Raka pun bergegas mengangkatnya.
"yoo.. ada apa telfon? dapat sesuatu dari PC bocah itu? kamu lumayan cepet kali ini" tanya Raka langsung saja setelah menjawab telfon tersebut.
"yang terhormat kalian para divisi 1.. aku nggak keberatan kalau kau mau loudspeaker panggilan ini supaya teman laki-laki di sebelahmu bisa ikut dengar,teman perempuanmu yang di belakang juga boleh ikut dengar" balas pria dari panggilan yang berasal dari nomor Bagas itu.
Raka tak tau kalau Jessica sudah berdiri di batas pintu ruangan mereka saat ini,ia baru sadar setelah menengokkan kepalanya ke belakang setelah pria di percakapan tadi memberitahukannya.
"oke,siapa yang sedang berbicara? ...kau bisa katakan langsung padaku" balas Raka dilengkapi penolakannya soal permintaan mengeraskan suara panggilannya.
"okee.. makasih..." balas pria itu konyol kini justru terdengar keras dari HP Raka,Raka yang terkejut sontak menjauhkan HPnya dari telinga,ia menyadari bahwa pria di telfon itu lah yang mengeraskan suara panggilannya entah bagaimana yang Raka tak tau caranya.
"siapa?" tanya Arya enteng setelah mendengar panggilan telfon barusan diloudspeaker oleh Raka,paling tidak itu lah yang ia kira karena Raka lah yang memegang HPnya.
"ohh.. kau mau main-main,hah!?" balas Raka untuk pria di panggilan itu,kini mau tak mau panggilan itu terloudspeaker di tengah-tengah suasana berduka di rumah itu.
"aku persingkat saja kapten,perempuan itu kembali ke ruangan kalian untuk memperlihatkan rekaman kematian korban yang terekam melalui akun medsosnya beberapa saat yang lalu,karna ku kira forensik digitalmu nggak ada di sana jadi biar ku bantu sedikit.." kata pria itu lagi tanpa memperkenalkan namanya.
"kau sedang menelfon menggunakan nomornya,kalau gitu dia juga ada di sana bersamamu" kata Raka enteng,mengira kalau ini salah satu kerja sama Bagas dengan seseorang.
"nggak tuh,dia lagi berduaan di apartemen pacarnya... gimana? mau ku lanjut?"
".........."
"dengar bocah,aku bisa saja menelfonmu pakai nomor psikiater perempuanmu,atau nomor teman perempuan di dekatmu itu,atau nomor siapapun.. so abaikan sesi ini aku mau jelaskan sesuatu yang lumayan penting..dengarkan baik-baik" kata pria itu jelas.
"kau salah satu dari mereka kan!? pembunuh berantai yang kami cari-cari" tebak Raka begitu saja.
"gehh.. bicara denganmu bisa serepot ini ternyata... aku cuma warga biasa yang mau ngobrol sama kalian.. anggep aja aku mengidolakan kalian,semua orang begitu kan?" balas pria itu masih enggan memperkenalkan namanya.
"......."
"kita dengarkan aja dulu" kata Arya berpendapat,hal yang sama juga dikatakan oleh Jessica di sana.
"video yang akan kau tonton adalah palsu,itu animasi 3D dengan kualitas super gila yang bisa menyamai tampilan dari video CAM asli.. perempuan itu nggak menyadarinya,karna dia bukan ahlinya CGI.. " jelas pria itu lagi.
"bagaimana bisa-" kata Jessica spontan ingin membalasnya namun terhenti saat Raka memberi aba-aba dengan tangannya agar dia tetap diam terlebih dahulu mengenai informasi baruan.
"ide dari video palsu itu adalah untuk membuat kalian beranggapan kalau bocah itu mati karena gantung diri,well polisi nggak akan langsung percaya dan akan mencari motif di baliknya,kan? kalau kau periksa teman dekatnya kau akan tau kalau bocah itu cuma bermaksud melakukan prank dengan simpul tali palsu,karena bagian badan atas korban nggak terekam dan fakta di sana dia mati karena simpul jerat,akhirnya kalian akan berkesimpulan kalau bocah itu mati karena kecelakaan teknis.. apapun yang kau lihat di video itu,kanyataan yang sebenarnya adalah seseorang sudah membunuh bocah gak berdosa itu tanpa alasan,lalu merekayasa video buktinya agar polisi mengira ia mati oleh kesalahannya sendiri" jelas pria itu lagi setelah mendapat jeda waktu untuk berbicara lagi.
"dari mana kau bisa bilang video rekamannya palsu saat itu ditayangkan live dari komputer korban? juga,TKP ini terkunci dari dalam,kalau pembunuhnya sama-sama terperangkap di dalam kenapa nggak ada satu pun yang menyadarinya.." kata Arya kali ini.
"teknologi itu makanan sehari-hariku,membedakan mana video asli dan palsu itu sama aja seperti membedakan air biasa dan air mendidih.. soal pembunuhnya,itu bukan pekerjaanku lagi,udah yah??" balas pria itu enteng hendak menyudahi obrolan seriusnya yang sudah berada di puncaknya.
"siapa kau sebenarnya!? kau nggak mungkin secara kebetulan memakai nomor ini untuk menelfonku.." tanya Raka prioritasnya kini hanya ingin mengetahui siapa pria di balik suara tersebut.
".....adikku emang nggak ada gunanya sama sekali yah.. " jawabnya ambigu memancing ke arah kemungkinan-kemungkinan lain soal identitasnya.
"....!!?"
"ngomong-ngomong kalau kalian mau ambil kasus ini,pastikan tersangka kalian bukan semua orang yang tinggal dekat dengan keluarga itu.. ini pembunuhan berencana tanpa motif kalau kataku sih,dan lagi aku nggak tau video aslinya seperti apa karena pelakunya cukup terampil menyembunyikannya.. pelakunya pasti ahli di bidang komputer,jaringan internet,video editing sama animasi 3D kalau sampai bisa melakukan sejauh ini.." kata pria yang baru saja mengganti nama Bagas dengan sebutan adiknya itu.
"kenapa aku harus percaya omonganmu?" tanya Raka menantang.
"karena orang yang sedang berbicara ini tau semuanya,lebih dari siapapun.. ingat nasehatku tadi,video rekaman yang dilihat semua orang adalah video palsu" jawab pria itu mantap,dan setelahnya diikuti oleh nada sambungan telfon yang terputus.
# Wujud seseorang yang sekian lama ia harapkan ada di timnya.
Diubah oleh User telah dihapus 26-02-2017 07:04
0





















