Kaskus

Story

taucolamaAvatar border
TS
taucolama
Gelap tak selamanya kelam [TAMAT]
Quote:




Quote:
Quote:
Spoiler for Prolog:
Quote:
Quote:
Yang suka mohon Rate,Komen, Share.
Diubah oleh taucolama 28-02-2017 07:49
junti27Avatar border
ichamkbkAvatar border
afrizal7209787Avatar border
afrizal7209787 dan 47 lainnya memberi reputasi
42
1M
1.8K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
taucolamaAvatar border
TS
taucolama
#1744
Akhir Semua Ini Part 5


Sebulan telah berlalu semenjak kejadian di pantai. Hidupku berjalan seperti biasa. Roda kehidupan berputar, manusia mengikuti takdirnya masing masing.

Hari itu aku bertemu dengan Deni dikantor. Deni tidak terpilih dalam pencalonannya sebagai anggota DPRD. Tetapi ayahnya terpilih menjadi anggota DPRD provinsi. Deni diangkat menjadi pengurus sebuah partai besar.

"Aka kamu gak mau ikut aku jadi pengurus parpol?": kata Deni.
"Ngga Den, aku ngga ngerti politik": kataku.
"Nanti aku ajari aku bisa tempatkan kamu jadi pengurus": kata Deni.
"Ga perlu Den, aku ingin benerin diri sendiri sendiri dulu. Jadi pemimpin itu berat, pertanggung jawabannya berat. Mimpin diri sendiri dan keluarga saja aku gak tau apa bisa mempertanggung jawabkannya nanti di akhirat": kataku.
"Kalau duduk di partai atau jadi anggota legislatif bisa memperjuangkan aspirasi dan kepentingan rakyat": kata Deni.
"Bila tujuan kamu berpolitik seperti itu aku dukung Den, aku lebih suka berbuat baik dijalan yang lain": kataku.
"Hahaha kamu masih seperti Aka yang dulu. Idealis dan baik kamu tak pernah berubah.": kata Deni.
"Kamu juga sama Den, tetap bercita cita menggenggam dunia": kataku.
"Hahahaha kamu masih ingat aja obrolan kita waktu sma, kamu memang sobat karibku ka bahkan seperti keluarga"; kata Deni
"Den, aku pulang dulu. Aku janji sama anakku mau beliin es krim.
"Ok, aku juga mo balik mesti kekantor parpol ada pertemuan": kata Deni.

Aku pulang menuju rumah. Dalam perjalanan aku sempatkan membeli es krim kesukaan Anisa. Sore itu jalanan sedikit macet. Tiba tiba hawa tak enak menyergapku, aku mengucap istigfar dan mempercepat laju kendaraan. Sesampai dirumah kulihat Anisa sedang bermain dengan Yusuf adiknya yang sedang belajar berjalan. Viona tertawa kecil melihat kelucuan anakku yg bermain. Aku memberikan es krim pada Anisa dan Yusuf. Ketika hendak menggendong Yusuf, Viona melarangku. Viona menyuruh mandi dulu

Aku menuju kamar mandi. Aku segera mandi, beres mandi tiba tiba badanku serasa panas dan pusing. Aku terduduk disisi ranjang. Berulangkali aku mengucap istigfar. Aku merebahkan diri diranjang, badanku serasa sakit semua aku hanya bisa berbaring dan berdoa.

Viona masuk kekamar melihatku.

"Yang ditunggu dihalaman koq malah tiduran, kenapa?": kata Viona
"Aku gak enak badan": kataku
Viona meraba dahiku.
"Yang panas banget, aku panggil dokter yah": kata Viona
Aku mengangguk.

Viona pergi memanggil dokter dan tak lama dokter datang dan memeriksaku. Dokter memberiku beberapa obat obatan.
Setelah dokter pergi aku meminum obat. Aku mencoba tidur.

Aku merasa antara tidur dan tidak. Ketika tiba tiba ada sosok ular hitam besar seperti melilitku. Aku merasa sesak dan sulit bernafas. Lilitan itu terasa sangat kuat. Astaga muka ular itu mendekati wajahku kulihat matanya begitu mengerikan. Desisnya terdengar keras bahkan hembusan nafas nya terasa belum juluran lidahnya.

Astaga tiba tiba muka ular itu berubah jadi wajah wanita berambut panjang bermata seperti ular. Kepalanya mendekat sekali denganku. Berjarak hanya beberapa centi dari mukaku. Lidah nya menjulur seperti lidah ular beberapkali hampir menyentuhku. Aku tak bisa berpaling badanku tak bisa bergerak.

"Seandainya kamu mau jadi pengikutku kamu gak akan mengalami seperti ini.": kata sosok ular itu sambil berdesis.

Aku diam dan membaca doa dan surat yang kuhapal. Kadang aku seperti hilang kesadaran dan sadar kembali tapi ular itu tetap melilitku. Kembali aku berdoa kuatnya lilitan ular itu membuatku sesak nafas seperti kehabisan nafas. Aku terus saja berdoa kembali aku tak sadarkan diri.

Dimana aku, gelap terasa dan dingin. Rasa sakit masih terasa tapi sesak sudah berkurang kembali aku berdoa. Terdengar suara lantunan ayat suci. Suaranya terdengar lembut dan seperti kukenal siapa yang mengaji. Itu suara Viona .

Aku berdoa dan perlahan lahan aku bisa membuka mata. Aku berada diruang yang serba putih. Kulihat Viona disisiku sedang mengaji. Kugerakkan tanganku menyentuh tangannya.
Viona seperti kaget kemudian memelukku dan mencium keningku.

"Yang, sudah sadar": kata Viona
"Dimana ini, aku gak kenal ruangan ini": kataku.
"Dirumah sakit": kata Viona.
"Kenapa aku bisa disini": kataku
"Kamu gak sadar malam itu, aku dan ibu membawa kamu kerumah sakit. Sudah 4 hari kamu gak sadar yang": kata Viona.
Aku hanya terdiam selama itu aku tak sadar. Aku bersyukur masih diberi kesadaran kembali.
"Dokter juga belum tau pasti sakit kamu apa, jangan seperti itu lagi yang. Aku dan anak anak masih membutuhkanmu": kata Viona.

Viona kembali memelukku erat. Air matanya menetes membasahi pipinya. Kuusap air matanya.

"Anak anak sama siapa?": tanyaku.
"Sama ibu. Siang aku nunggu kamu kalau malam ibu dan mama Shinta yang nungguin": kata Viona.
"Yang, sebaiknya kita kembali kerumah saja": kataku.
"Kenapa, kamu belum sembuh": kata Viona.
"Aku sakit bukan sakit biasa": kataku.
"Iya dokter aja ga bisa nemuin apa penyakitnya": kata Viona.

Keesokan hari Viona membawa pulang dari rumah sakit. Aku masih merasa panas dan sakit disekujur tubuh tapi kupaksakan bisa beraktifitas walau dalam rumah.

Hari demi hari belum ada perubahan kini aku tidak bisa makan. Aku hanya bisa minum susu. Setiap malam ada saja makhluk makhluk menyeramkan menggangguku. Aku tidur terpisah dikamar lain, aku takut anak anak ikut terkena imbasnya.
Walau ada sosok sosok yang aku kenal seperti menjaga anggota keluargaku yang lain.

Malam itu aku tak bisa tidur, aku berdzikir menunggu kantukku tiba, panas ini lebih terasa ketika malam. Sesosok makhluk tinggi besar datang membungkuk. Dengan membungkuk saja kepalanya menyentuh langit langit kamar ini. Taringnya sebesar lengan dewasa. Ketika membuka mulut bau tak sedap menerpaku. Aku terus berdizikir. Makhluk itu meletakkan telapak tangannya yang menutupi seluruh tubuhku kembali sesak kurasa dan pandanganku berkunang kunang.
khuman
xue.shan
jenggalasunyi
jenggalasunyi dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.