- Beranda
- Stories from the Heart
Biro Detektif Supranatural PSYCH: Prince Charming #2
...
TS
dianmaya2002
Biro Detektif Supranatural PSYCH: Prince Charming #2
Biro Detektif Supranatural PSYCH: Prince Charming #2
Erick dan Darren kembali dihadapkan dengan seorang psikopat gila pecinta Disney Princess yang menyebut dirinya sebagai PRINCE CHARMING. Korban - korbannya selalu ditemukan dalam berbagai tema Disney Princess, seperti Stella Magnolia yang ditemukan ditepi dermaga dalam balutan kostum mermaid seperti Princess Ariel.
Apakah duo detektif ini dapat menghentikan kegilaan Prince Charming?
Apakah duo detektif ini dapat menghentikan kegilaan Prince Charming?
Hai Agan dan Aganwati...
Ane balik lagi nih buat posting sequel nya Biro Detektif Supranatural PSYCH
Yang masih penasaran sama Mbak Samantha Reindhaard bakal ane buat tambah penasaran lagi...
ini akun wattpad ane Anthazagoraphobia
karya ane:
Biro Detektif Supranatural PSYCH : Pieces #1
The Haunted Hotel La Chandelier
bagi cendol dan rate nya ya
DAFTAR ISI
Spoiler for Index:
Diubah oleh dianmaya2002 07-03-2017 20:20
zeref13 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
17.1K
Kutip
80
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dianmaya2002
#52
Spoiler for 24:
Pria dengan lengan bertato itu membawa Yamaguchi ke sebuah taman sepi jauh dari hingar bingar pesta. Taman tersebut sangat berbeda dari taman yang digunakan untuk tempat menyelenggarakan pesta. Atmosfir taman tersebut sangat mengerikan dengan pohon – pohon yang mengering hanya menyisakan ranting – ranting kurus. Lampu taman yang remang dan temaram. Ditambah suasana hening mencekam.
"Kau mengajak wanita sepertiku ke tempat mengerikan seperti ini. Sungguh romantis." Cibir Yamaguchi pada pria bertato itu.
Pria itu menatap Yamaguchi melalui sklera mata berwarna hitam dengan iris kemerahan. Pria itu tersenyum geli melihat penampilan Yamaguchi yang sangat norak.
"Sejak kapan kau berubah menjadi wanita?" tanyanya.
"Sejak para polisi - polisi itu mengintaiku tanpa henti karena kematian Stella Magnolia." Jelas Yamaguchi. Lalu ia beralih menatap kedua bola mata pria dihadapannya tersebut. "Matamu berubah."
"Keren kan?" ujarnya sambil tersenyum. "Kekuatanku meningkat sejak bergabung dengan Demons."
"
"..."
"Senpai jika kau bergabung dengan kami! Maka kita tidak perlu bertarung."
Yamaguchi tertawa hambar. Ia tengah menahan emosinya.
"Dimana Ayase?"
"Jangan bilang kau kemari untuk memisahkanku dengan kekasih yang paling kucintai."
Yamaguchi kembali tertawa hambar kali ini memijat pelipisnya. Ia pernah mendengar pepatah jika berbicara pada orang yang tengah jatuh cinta itu ibarat berbicara pada sebuah batu besar. Karena orang yang tengah jatuh cinta tidak akan pernah menggunakan logikanya walaupun hanya sedikit. Contohnya pria yang dihadapannya ini.
"Itu memang tujuan utamaku Yuuta!"
"Senpai! Berhentilah mengusikku! Apa salahku sampai kau menentang hubungan kami? Kau tahu kan aku sangat mencintainya! Ayase pun cinta padaku. Kami saling mencintai!"
"KARENA KALIAN SAUDARA SATU DARAH!!!!" teriak Yamaguchi dengan luapan amarah yang sudah tak tertahan lagi. Ia menarik nafas panjang berusaha menetralkan amarahnya hingga intonasi suaranya pun melembut. "Apalagi ayahmu, Aragaki-san, berpesan padaku untuk menjaga kalian berdua! Apa yang akan dikatakan mendiang ayah kalian jika mengetahui bahwa kau sendirilah yang menjerumuskan adikmu kedalam jurang kesesatan."
Yuuta menatap tajam Yamaguchi. Keheningan menyelimuti mereka berdua. Tidak ada yang bersuara sampai pada akhirnya Yuuta bersuara.
"Kau ingin bertemu Ayase? Ia pasti akan sangat senang jika bertemu denganmu." Ujarnya dengan ekspresi datar walaupun kemarahan masih menyelimutinya.
Yuuta membuka singlet hitam yang menutupi tubuhnya hingga membuat dadanya terekspos. Kedua bola mata Yamaguchi nyaris keluar saat melihat tubuh Yuuta. Bukan karena dada bidang, perut kotak – kotak atletis dan apa pun itu yang kalian pikirkan. Ini mengerikan! Sangat mengerikan! Yamaguchi melihat wajah Ayase yang manis menyatu dengan perut Yuuta.
"Sayangnya kau tidak dapat memisahkan kami berdua!" lanjut Yuuta. "Ayase bangunlah! Senpai ada disini. Ia ingin bertemu denganmu." Sambil mengelus perutnya dengan lembut.
Perlahan – lahan kedua bola mata Ayase yang tertutup mulai mengerjap – ngerjap secara perlahan lalu terbuka. Dua bola mata berwarna abu – abu itu menatap Yamaguchi dengan tatapan teduh penuh kerinduan. Ayase telah menganggap Yamaguchi sebagai kakak yang selalu mengayominya.
"Senpai kau datang untuk menjengukku?" tanya Ayase dengan suara lembutnya
Namun Yamaguchi yang terlanjur terluka dan kecewa malah membalas perkataan Ayase dengan kasar.
"Bakemono!" desis Yamaguchi. (trans: monster)
Perkataan itu membuat Ayase menatap Yamaguchi sedih. Kesedihannya membuat Yuuta emosi lalu ia mengenakan kembali singlet hitamnya.
"Beraninya kau berkata seperti itu pada Ayase! Shinu!"
Yuuta berlari kearah Yamaguchi dengan sangat cepat. Kecepatannya melebihi manusia normal hingga membuat Yamaguchi terkejut karena tidak siap dengan serangan tiba – tiba seperti itu. Namun langkah Yuuta dihentikan oleh Kaito yang tiba – tiba sudah berada dihadapan Yamaguchi dengan dua buah samurai tajam yang menyilang menahan tangan Yuuta.
"Lama tidak jumpa, Yuuta-kun! Sekarang kau sudah lebih kuat."
"Aku juga akan membunuhmu Kaito!"
Sebelum menyelesaikan perkataannya, sebuah peluru melesat dengan cepat dan bersarang pada kepala Yuuta. Namun sedetik kemudian, peluru tersebut seperti terdorong keluar dari kepala pria itu begitu saja. Yuuta tersenyum sinis saat mengetahui bahwa Yuri yang menembaknya.
"Kita selesaikan dengan cepat." Ujar Yuuta kepada mereka bertiga.
Yuuta kembali menyerang Kaito sehingga Yamaguchi mempunyai waktu untuk menerima lemparan samurai dari Yuri. Mereka bertiga bersama – sama menyerang Yuuta tetapi pria tersebut sangat lincah bahkan beberapa kali hampir melukai salah satu dari mereka.
"Kenapa? Lelah?" cibir Yuuta. "Dasar manusia!"
Tangan kanan Yuuta mengeluarkan bola kehitaman yang berpendar. Saat akan melemparkannya kearah mereka bertiga, muncul Prince Charming dan Samantha tepat dihadapannya hingga Yuuta menghentikan aksinya.
"Kenapa kau selalu menggangguku bersenang – senang?" protes Yuuta dengan wajah masam. "Padahal aku ingin memamerkan sedikit kekuatanku."
Kedatangan mereka berdua membuat Yamaguchi terkejut, apalagi disana ada sosok Samantha Reindhaard.
"Misi kita disini sudah selesai!" Lalu Prince Charming membalikkan tubuhnya dan menatap mereka bertiga. "Sebaiknya kalian bertiga bergegas mengevakuasi jenasah teman kalian. Sam, siapa tadi yang baru saja kau bunuh? Bisa katakan pada mereka karena aku lupa namanya."
Samantha menengadahkan kepalanya yang tertunduk lalu memandang tepat kearah netra Yamaguchi.
"Don Geraldine."ucapnya tanpa penyesalan sedikit pun.
Tangan Yamaguchi melemas. Tenaganya seperti menghilang begitu saja hingga samurai yang berada digenggaman tangannya terjatuh ke tanah.
"Kau bohong kan?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Tidak!" jawabnya singkat dan tegas.
"Dia jatuh cinta padamu. Kau tahu itu kan?" Yamaguchi kembali tertawa hambar. "Dan kau membunuhnya sungguh ironis."
Prince Charming dan Yuuta tertawa tertahan.
"Ayo Sam! Kita pergi dari sini." ajak Prince Charming.
"TUNGGU!" teriak Yamaguchi lantang lalu maju beberapa langkah setelah memungut samurainya yang terjatuh. Lalu menggores telapak tangannya hingga berdarah. "Aku Keichi Yamaguchi bersumpah akan membunuh kalian bertiga. Walaupun hal itu akan menghancurkan tubuhku bahkan menghilangkan nyawaku. Itu sumpahku!"
"Kami menunggu kedatanganmu." Cemooh Yuuta.
Mereka bertiga pun menghilang dibalik kepulan asap hitam. Tubuh Yamaguchi luruh lalu meraung cukup keras. Menangisi sahabat baiknya yang telah tiada.
***
Setelah berhasil keluar dari kerumunan tersebut, Erick dan Darren berlari mengejar Prince Charming yang memasuki bagian dalam Wellington Palace. Akhirnya mereka sampai didepan sebuah pintu bercat putih dengan ornamen keemasan yang tertutup rapat. Tak lama kemudian pintu tersebut terbuka secara perlahan seakan mempersilahkan mereka berdua untuk masuk.
Mereka berdua langsung disambut oleh Prince Charming yang berdiri tepat dibelakang Andini Stark yang terkulai lemah tak berdaya dilantai ruangan. Ia seperti mahluk tak bernyawa dengan tatapan mata kosong dan nanar.
"LEPASKAN DIA!" teriak Erick marah.
"Aku ingin tahu apa yang akan kau lakukan jika aku tidak mau melepaskannya?" tanya Prince Charming yang dijawab oleh Erick dengan mengacungkan baretta-nya yang telah penuh terisi peluru.
Prince Charming terdiam. Ia tengah berkonsentrasi mendengar suara – suara yang masuk ke dalam pikirannya. Lalu senyuman lebar menghiasi wajahnya yang tertutup topeng.
"Si mafia itu sudah mati! Dia telah membunuhnya.
"Tidak mungkin!" sanggah Darren tak percaya bahwa sahabatnya mati dengan begitu mudah. "Kau pasti hanya membual!"
"Untuk apa aku berbohong? Prince Charming yang satu lagi. Eh maksudku partnerku mengatakan bahwa gadis itu sendiri yang membunuhnya." Ujarnya santai. "Apa aku pernah mengatakan jika Prince Charming itu bukan hanya satu orang?"
Rahang Erick mengeras. Ia menarik pelatuk barettanya dan menembak Prince Charming. Peluru perak yang ia tembakkan menembus dada sebelah kirinya hingga mengeluarkan darah kehitaman yang sangat kental.
"Sakit? Rasakan itu brengsek."
Melihat Prince Charming kesakitan, Erick dan Darren pun terus menyerangnya bertubi – tubi hingga ia tidak mempunyai kesempatan untuk melawan balik. Butiran garam yang dilempar Darren membuat kulit wajahnya melepuh.
Seorang pria berkostum badut joker tengah menatap mereka bertiga yang tengah sibuk berkelahi. Beberapa kali ia melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Lima menit lagi tepat jam dua belas malam, ritual pengorbanan itu harus segera diselesaikan. Jika tidak, maka seluruh ritual yang mereka lakukan akan dianggap gagal.
Ia pun melangkah maju mendekati Andini Stark yang masih terkulai lemah diatas lantai
Ia pun melangkah maju mendekati Andini Stark yang masih terkulai lemah diatas lantai. Mengangkat dagunya lembut dan memandangnya dari bali topeng porselen yang dipakainya.
"Cantik."
Lalu berbisik sangat lirih.
"Die."
Seluruh isi ruang bergetar hebat seperti diguncang oleh gempa berskala besar. Lampu kristal yang menggantung dilangit – langit bergoyang hingga mengeluarkan suara gemerincing yang sangat hebat. Lemari – lemari kaca berisi berbagai macam senjata jatuh begitu saja. Pecahan kaca berserakan dilantai. Berbagai macam senjata yang tadinya bergantungan didinding pun jatuh ke lantai.
Hal itu membuat Erick dan Darren berhenti menyerang Prince Charming. Celah tersebut digunakan Prince Charming untuk melempar tubuh mereka berdua hingga membentur dinding.
Tiba – tiba semua pecahan kaca dan berbagai senjata tajam melayang ke udara. Mengarah langsung pada Andini. Erick dan Darren bangkit dan berlari kearah gadis itu. Sayangnya pecahan kaca dan senjata tajam tersebut melesat cepat dan menembus tubuh gadis itu. Lantai ruangan tersebut dibanjiri oleh darah milik Andini. Prince Charming dan pria berkostum joker tersebut menghilang dibalik asap hitam. Korban keempat mati. Ritual pun terpenuhi.
***
Luna memasuki Wellington Palace susah payah. Beberapa kali dirinya hampir saja terbunuh oleh anjing – anjing penjaga kastil. Kini dirinya tengah bersembunyi disebuah taman labirin, tentunya menghindari anjing – anjing itu.
Hidung kecilnya mencium bau darah yang sangat amis. Karena penasaran, ia pun berjalan menghampiri sumber bau amis tersebut. Ia begitu terkejut saat melihat tubuh Donny yang ambruk berlumur darah.
"Apa dia sudah mati?"
Luna terus memperhatikannya hingga tiga orang pengawal Donny datang dan memeriksa tubuh bosnya yang telah terkapar dilantai.
"Shit! Dia mati!" ujarnya setelah memeriksa denyut nadi bosnya tersebut.
"Hubungi markas! Kita harus segera mengevakuasinya diam – diam." ujar salah satunya.
Ketiga pengawal Donny ketakutan, pasalnya Martin tidak akan memaafkan keteledoran mereka. Secara tidak langsung mereka yang menyebabkan Donny meninggal.
"Shit! Habislah kita."
Luna hanya melihat mereka dengan tatapan mata datar. Sepertinya mereka bertiga tak peduli sedikit pun dengan kehadiran Luna hingga akhirnya kucing itu pergi menuju ke tempat Erick berada. Sebelum pergi ia sempat menatap wajah Donny lalu menggesekkan kepalanya lembut dirahang pria itu.
***
Pagi harinya, mereka bertiga yaitu Erick, Darren dan Yamaguchi menghadiri acara pemakaman Don Geraldine. Semua anggota Geraldine Family menangisi kepergian bosnya. Viola menangis tersedu – sedu menatap peti mati berwarna putih yang tengah diturunkan perlahan kedalam liang lahat. Yamaguchi memeluk Viola yang hampir terjatuh saat peti tersebut akan ditimbun.
Polisi menganggap kematian Donny sebagai salah satu peristiwa pembunuhan yang biasa terjadi di dunia hitam dengan motif perebutan wilayah dan kekuasan. Para rival Don Geraldine tertawa bahagia karena kematiannya. Sekarang Geraldine Family berada dibawah pimpinan Martin Argasatya dan tujuan utama mereka adalah balas dendam terhadap kematian bos mereka.
Samantha menghilang begitu saja.
Tiga korban lagi maka ritual tersebut akan sempurna.
***
kurang puas sama part ini... tapi post dulu lah ntar dibenerin ulang kalo udah kelar smpe ending
0
Kutip
Balas