- Beranda
- Stories from the Heart
Disastrous in My Youth! (Kisah Remaja Yang Rumit )
...
TS
gublug.tolol
Disastrous in My Youth! (Kisah Remaja Yang Rumit )
Prolog
Manusia adalah makhluk hidup dengan pemikiran yang rumit dan juga makhluk hidup yang memiliki perasaan yang jauh dari kata logis. Sebagai contoh, Manusia yang sedang dilanda perasaan jatuh cinta maka dia akan rela mengorbankan semua yang dia punya untuk orang yang sedang ia cintai.
Manusia itu tidak 'Irasional', terutama yang melakukan hidup-nya sebagai peralihan, pengertiannya seperti hal-nya manusia yang menganggap hidup di suatu masa yang dapat dibengkalaikan dengan hal yang menyenangkan. Seperti contoh: Pelajar SMA yang melakukan kesenangan yang disebut sebagai "Masa Remaja".
Mereka yang terpesona oleh "Masa Remaja" senantiasa melakukan hal-hal seperti mengikuti gaya dan kebiasaan orang lain di sekitarnya. Bahkan parahnya sebuah kegagalan atau suatu hal yang seharusnya disesali dianggap sebagai 'penanda' dari masa remaja yang seluruhnya membekas dalam lembar kenangan dari masing-masing mereka.
Beberapa dari sekian contoh yang paling berbahaya.
Kegiatan yang paling terkait dengan masa remaja, sebut saja tindakan kriminal seperti tawuran, dan pemakaian obat-obatan terlarang. Hanya akan membuat mereka dicap sebagai "Kenakalan Remaja" yang bahkan tidak ada rasa pedulinya bagi orang yang merasa tidak dirugikan.
Kegagalan saat ujian sekolah, hanya akan disangkal dengan ucapan "Sekolah itu tempat untuk belajar, bukan untuk bersaing" dengan jawaban se-simpel itu saja, mereka mampu memutar balikan semua keadaan dari norma yang berlaku di masyarakat.
Dengan meng-atasnamakan masa remaja mereka bisa melakukan hidup seenaknya. Bagi mereka kebohongan, kegagalan, rahasia kejahatan, hanya mereka anggap sebagai 'bumbu penyedap' dari 'masa remaja'. Segala keburukan yang dilakukan dari perbuatan tersebut dicap sebagai pengecualian semata. Sedangkan, kumpulan dari kegagalan tersebut mereka tulis dalam kenangan dari indahnya "Masa Muda".
Tidak ada yang namanya 'Kegagalan' dari yang namanya masa remaja. Itu juga dijadikan hal pokok untuk membangun kepuasan tersendiri, jika ada 'Kegagalan' dalam masa muda itu hanyalah "Bagi mereka yang tidak bisa berteman" dengan standar pergaulan.
"Peralihan hidup" seperti itu adalah hal yang salah, itu adalah hal yang sangat buruk. Peralihan hidup seperti hal-nya masa remaja itu bagaikan kegelapan yang membuat 'tersesat' seperti ayam yang kehilangan kepalanya namun masih bisa bergerak.
Oleh karena itu terdapat kehidupan yang 'sejati' yang bersifat mutlak bagi orang yang menghindari 'peralihan hidup'
Itulah kesimpulan yang paling sempurna yang bisa kutarik.
Maaf Gan/Sis Mohon Berkenan Kenalkan Namaku Rohim Setidaknya Itu Namaku Di sini
Aku Bersekolah di sekolah Swasta Yang Lumayan Bebas
Cerita Ini Tentang Masa Sulit Saat Sekolah
Mohon Rate/Kritik Nya Gan/Sis
Kalo Ngasih
Juga Di Tampung

Manusia adalah makhluk hidup dengan pemikiran yang rumit dan juga makhluk hidup yang memiliki perasaan yang jauh dari kata logis. Sebagai contoh, Manusia yang sedang dilanda perasaan jatuh cinta maka dia akan rela mengorbankan semua yang dia punya untuk orang yang sedang ia cintai.
Manusia itu tidak 'Irasional', terutama yang melakukan hidup-nya sebagai peralihan, pengertiannya seperti hal-nya manusia yang menganggap hidup di suatu masa yang dapat dibengkalaikan dengan hal yang menyenangkan. Seperti contoh: Pelajar SMA yang melakukan kesenangan yang disebut sebagai "Masa Remaja".
Mereka yang terpesona oleh "Masa Remaja" senantiasa melakukan hal-hal seperti mengikuti gaya dan kebiasaan orang lain di sekitarnya. Bahkan parahnya sebuah kegagalan atau suatu hal yang seharusnya disesali dianggap sebagai 'penanda' dari masa remaja yang seluruhnya membekas dalam lembar kenangan dari masing-masing mereka.
Beberapa dari sekian contoh yang paling berbahaya.
Kegiatan yang paling terkait dengan masa remaja, sebut saja tindakan kriminal seperti tawuran, dan pemakaian obat-obatan terlarang. Hanya akan membuat mereka dicap sebagai "Kenakalan Remaja" yang bahkan tidak ada rasa pedulinya bagi orang yang merasa tidak dirugikan.
Kegagalan saat ujian sekolah, hanya akan disangkal dengan ucapan "Sekolah itu tempat untuk belajar, bukan untuk bersaing" dengan jawaban se-simpel itu saja, mereka mampu memutar balikan semua keadaan dari norma yang berlaku di masyarakat.
Dengan meng-atasnamakan masa remaja mereka bisa melakukan hidup seenaknya. Bagi mereka kebohongan, kegagalan, rahasia kejahatan, hanya mereka anggap sebagai 'bumbu penyedap' dari 'masa remaja'. Segala keburukan yang dilakukan dari perbuatan tersebut dicap sebagai pengecualian semata. Sedangkan, kumpulan dari kegagalan tersebut mereka tulis dalam kenangan dari indahnya "Masa Muda".
Tidak ada yang namanya 'Kegagalan' dari yang namanya masa remaja. Itu juga dijadikan hal pokok untuk membangun kepuasan tersendiri, jika ada 'Kegagalan' dalam masa muda itu hanyalah "Bagi mereka yang tidak bisa berteman" dengan standar pergaulan.
"Peralihan hidup" seperti itu adalah hal yang salah, itu adalah hal yang sangat buruk. Peralihan hidup seperti hal-nya masa remaja itu bagaikan kegelapan yang membuat 'tersesat' seperti ayam yang kehilangan kepalanya namun masih bisa bergerak.
Oleh karena itu terdapat kehidupan yang 'sejati' yang bersifat mutlak bagi orang yang menghindari 'peralihan hidup'
Itulah kesimpulan yang paling sempurna yang bisa kutarik.
Maaf Gan/Sis Mohon Berkenan Kenalkan Namaku Rohim Setidaknya Itu Namaku Di sini
Aku Bersekolah di sekolah Swasta Yang Lumayan Bebas
Cerita Ini Tentang Masa Sulit Saat Sekolah
Mohon Rate/Kritik Nya Gan/Sis

Kalo Ngasih
Juga Di Tampung Quote:
Spoiler for INDEX:

Diubah oleh gublug.tolol 18-04-2017 16:00
tien212700 dan anasabila memberi reputasi
2
4.6K
32
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
gublug.tolol
#13
Part 4
"Kring~kriiing!!" Bunyi bel tanda istirahat selesai. Waktunya kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran.
Oh~ya, sekarang'kan jam pelajaran kelas memasak. Mungkin di sekolah pada umumnya tidak akan ada pelajaran seperti ini. Justru karena itulah, aku masuk ke sekolah ini. Dengan kemampuan memasakku, aku rasa bisa percaya diri dibandingkan orang lain.
Tapi ada satu orang yang lebih hebat dariku, mungkin bisa dibilang orang itu menganggapku sebagai rival-nya, tetapi aku tidak ingin mengakuinya.
Orang itu adalah Reza. Mungkin sedikit aneh, tetapi sebenarnya orang itu bisa melakukan apa saja asalkan tidak berurusan dengan kepintaran.
"Yooo!! --Sobat. Mau masak apa? Ayo kita bersaing dengan resep yang sama!" Reza memanggilku sambil memgang pundakku yang sedikit terasa pegal.
"Sobat.. Kau mengabaikanku ya!? Dengar, tidak! Ayo bersaing! Kalo begitu aku akan memasak 'Omelet' ya."
Setelah mengatakan hal yang semestinya ingin dikatakan. Dia pun pergi ke meja guru. Kira-kira apa yang dia ingin katakan pada guru? Lebih baik aku melepaskan 'penyumbat telinga' ini. Dan mulai memasak. Mau masak apa ya? Yang bisa mendapatkan nilai tinggi dari guru, tetapi tidak memiliki aroma yang 'mencolok' yang cukup untuk menarik perhatian orang lain.
Jika kupikir kembali, apa ada masakan yang seperti itu? Jika masakan itu terasa enak pastinya akan menarik perhatian. Apalagi kalo makanan itu terlalu banyak bumbu, maka bau aroma-nya akan tercium oleh orang disekitarku.
Lebih baik, singkirkan pikiran tentang masakan yang menggunakan banyak bumbu dan rempah. Maka bisa dikatakan, masakan yang akan dibuat harus-lah 'sederhana' tetapi mewah.
Yap --aku mendapatkan ide. Makanan yang bakal terasa enak, tidak terlalu banyak bumbu ataupun rempah dan juga tidak menarik perhatian baik melalui penglihatan maupun aroma. Sudah pasti jawabannya, yaitu 'Omelet'. Makanan yang dibagian luarnya terlihat biasa tetapi di dalamnya kaya akan rasa.
Itu pasti pilihan yang paling tepat dari semua masakan.
Yes.. Aku tinggal mengumpulkan bahan-bahannya. Yang paling terpenting adalah telur. Sekarang aku harus cepat mengambil telur yang masih bagus.
Sial.. Telur yang disediakan ternyata sudah habis. Bagaimana ini? Apa ya, barang yang masih tersisa? Aku harus cepat mengambil pilihan dari sini.
Barang yang tersisa: garam, merica, bumbu penyedap, dan minyak goreng.
Buset! Parah. Kalo begini, apa yang bisa dimasak!? Semuanya tinggal bumbu dan bahan awal saja. Siapa yang mengambil sampai habis seperti ini? Lagipula tidak mungkin Sekolah hanya menyiapkan bahan se-sedikit ini. Ini pasti perbuatan salah satu orang.
"Plok!" suara telur yang pecah karena jatuh ke lantai.
Dengan melihatnya sudah membuatku sangat muak. Aku disini kesusahan mencari bahan, tetapi dia malah membuangnya.
Menilik sedikit keatas dari telur yang jatuh tergeletak di lantai. Ternyata yang memecahkan telur tadi adalah Rita. Tetapi bukan itu saja, ternyata dia yang mengambil semua telurnya. Untuk apa 7 butir telur diatas meja? Dan yang satunya sudah pecah, yang artinya dia tadi mengambil 8 butir.
Aku mendatanginya dengan gerak langkah kaki yang lambat seperti raksasa di film action yang mencoba mendekati sang tokoh utama dalam cerita.
"Sepertinya sudah tidak ada bahan yang tersisa untukku. Boleh aku minta telur-nya? Dan sedikit bahan yang lainnya!?" tanyaku dengan nada berat, dan sepertinya bahasa yang kugunakan sangat sopan, yang artinya tidak ada alasan untuk menolak.
"Tidak mau. Kamu siapa? Kesini kalo susah doang! Enak banget." jawab Rita dengan sombong.
Sial.. Nih cewek tidak mengerti ya situasinya..? Seandainya dia ini laki pasti sudah kupukul dengan sendok sup di depanku.
"Minta'lah 2 butir saja. Nanti kuajari memasak makanan yang enak dengan bahan sebanyak ini. Bagaimana? Cukup menguntungkan'bukan?"
Terjadilah sedikit tawar menawar antara orang yang sedikit mengalami kesialan dan orang bodoh yang tidak mengerti situasi temannya.
"Woy --Sobat!! Kesusahan ya?"
Tiba-tiba Reza memanggilku dengan suara yang berisik.
"Yoo --Sobat!! Mau minta telur ya? Ini akan kuberikan. Ayo kita bersaing!"
Mengetahui kalo Reza selalu berusaha berbuat baik pada Rohim, membuatnya sedikit berikir "kenapa Reza baik sekali dengan Rohim? Aku tidak boleh kalah dengan orang bodoh sepertinya!".
Baiklah. Aku akan menawari Rohim dengan syarat mengajarinya cara memasak makanan yang enak. Karena aku juga tahu, kalo Rohim setiap pagi, memasak makanannya sendiri. Dengan begitu juga aku bisa sedikit berterima kasih padanya soal tadi istirahat.
"Hei, Rohim! Nih akan kukasih 3 butir telur. Tapi ajari aku memasak dulu ya!?"
"Sip, ayo! Aku akan mengajarimu memasak makanan yang bisa dimasak oleh koki profesional." dengan penawaran tadi, Rohim langsung bersemangat seperti orang yang melihat secercah harapan setelah hampir dilanda keputusasaan.
"Masakan apa ya?, yang bisa membuatku mendapatkan nilai yang tinggi? Telur rebus, telur goreng atau telur mata sapi saja ya!?" Rita sedikit mengungkapkan pikirannya.
"Jika ingin mendapat nilai tinggi dengan masakan telur. Lebih baik coba masakan yang bisa disisipkan berbagai bumbu, seperti telur dadar atau omelet contohnya!.."
"Kamu mau masak apa? Aku ikutin aja, dah!" Rita menepuk pundakku sambil mengacungkan jempol seolah percaya sekali padaku. Sepertinya lama-kelamaan caranya mengobrol bersamaku sama saja seperti Reza.
"Aku ingin memasak Omelet. Dengan menyisipkan banyak rasa didalamnya. Bagaimana menurutmu? Lumayan'kan!?" aku mengacungkan jempol juga kearah Rita, sudah seperti sahabat yang sangat dekat saja.
"Boleh juga. Ayo cepat mulai! Waktunya tinggal se-jam lagi."
Oh~ya, aku keluapaan dengan waktu. Tidak terasa 30 menit sudah berlalu. Apakah waktunya akan cukup? Semoga tidak ada halangan dengan masakannya..! Aku ingin menyelesaikan dengan cepat saja.
Ehh, ~sepertinya aku mengingat sebuah ramalan bintang dalam sebuah majalah tadi pagi, Yang didalamnya terdapat ramalan bahwa zodiak Aries akan mendapatkan keberuntungan di minggu ini dengan barang spesialnya adalah; Cewek berambut pirang.
Apa ini sebuah kebetulan dari refleks naluri manusia, yang membuatku mendekati Rita tanpa pikir panjang. Padahal biasanya aku selalu menghindari interaksi dengan orang lain.
Soal keberuntungan lebih baik lupakan saja. Sekarang aku harus berpacu pada waktu ditambah lagi Rita juga ingin diajari cara memasak, yang itu artinya aku harus bisa membuat 2 masakan secara bersamaan.
Tunggu apa itu di saku Rita? Gimana aku memberitahunya? Sebenarnya aku ingin mengambilnya diam-diam, karena aku ingin menghindari negoisasi seperti tadi.
"Rit, itu di saku bajumu ada apaan?"
"Oh, ini ya ..ini Keju, biasanya aku memakannya saat di kelas."
"Boleh aku minta untuk bahan masakan!? Kalo bisa aku ingin membuat masakan yang sangat enak dengan tambahan beberapa bahan."
"Tunggu, nanti aku di kelas mau makan apa?"
Benar saja dugaanku. Jika seperti ini kejadian tadi akan terulang dan waktunya akan semakin sempit. Lagipula kenapa dia makan di saat pelajaran berlangsung? Itu jelas melanggar peraturan, tapi sepertinya juga tidak apa sih.. Asal jangan ketahuan, kenapa aku bilang begini karena aku juga sering melakukannya.
"Ya sudah, begini saja. Kamu ingin membuat masakan yang lebih enak tidak?! Aku ingin menyarankan agar kamu memberikan keju itu padaku!"
"Tapi nanti pulang bareng ya!, dan belikan aku keju lagi sebagai gantinya!"
"Iya- baiklah!"
"Janji'kan? Jangan berbohong!" wajah merona Rita tampak imut sekali, walaupun aku juga sudah sering melihatnya waktu kecil.
Tapi ada apa ini, dengan situasi ini? Semua perasaan pasti akan terungkap walaupun tanpa disebut.. Ini bagaikan.. Kejadian Rom-Com di komik yang sering aku baca.
"Iya, aku janji.. Ayo cepatlah!! Nanti malah ditegur guru."
Rita tersenyum dengan lesung pipi yang sangat menonjol. Aku sudah tau kalo Rita itu cantik dan populer di kalangan laki-laki, tetapi aku tidak menyadari kalo dia itu sangat cantik menyilaukan saat tersenyum.
Tapi sepertinya kejadian ini juga pernah terjadi saat SMP dulu. Saat pelajaran olahraga pertama kali di kelas 7. Pada saat itu, ia sedang terluka di kaki kanannya yang membuatnya tidak bisa berjalalan.
"Bo'im, gimana nih sakit sekali. Aku tidak bisa berjalan..."
"Boleh liat kakinya!?"
"Dibagian engkel kakiku sangat sakit.. Gimana nanti kalo diamputasi..?"
"Tidak sampai diamputasi kok.. Udah SMP jangan nangis dong! Sini aku gendong sampai rumah!"
"Emang kamu kuat gendong aku!?"
"Pasti kuat'kok.. Aku tidak akan membiarkan kamu jatuh."
"Janji'kan? Tidak akan menjatuhkanku..!"
"Iya, pasti --udah ayo cepat!"
Jika aku mengingat kejadian itu, kenapa ya aku sangat baik padanya? Setidaknya jika dia terus bergantung padaku pasti dia akan jatuh cinta padaku. Dalam maksud yang lain, bukan berarti aku tidak menyukainya, hanya saja aku tidak ingin menghianati filosofi hidupku sejauh ini. Aku paling benci dengan masa remaja termasuk salahsatu-nya adalah 'pacaran'
..tetapi bukan berarti aku tidak ingin memiliki perempuan yang disukai, tetapi aku hanya ingin berpacaran setelah lulus sekolah dan mulai menyukai perempuan saat aku sudah benar-benar dewasa dan bisa memberikan sesuatu kepada perempuan itu dengan jerit payah sendiri. bukan seperti remaja sekarang ini, mereka bergaya dan berkelakuan seperti orang keren, mapan, dan sok bisa diandalkan padahal semuanya adalah jerit payah orang tua mereka.
Aku sangat membenci orang yang seperti mereka. Orang yang melebih-lebihkan kesenangan diri sendiri dan terlalu mengandalkan uang pada keseharian mereka.
Setelah beberapa menit berlalu.. Akhirnya aku berhasil memasak 2 masakan untukku dan Rita dengan kualitas yang hampir sama.
"Stop..!! Siapkan masakan kalian di atas meja!" suruh Bu Liliana selaku guru memasak biasanya kami memanggilnya 'Bu Padang' dengan suara teriak setelah menunggu selama 1 jam. Daritadi Bu Liliana hanya duduk dibangku tanpa bergerak sedikitpun. Hampir saja tadi aku mengira dia mati dalam keadaan duduk.
"Rit, ini masakanmu.. Pokoknya jangan beritahu Bu Padang kalo aku yang memasak, ya!"
"Santai saja." Rita mengacungkan jempolnya
"Hmm~ada apa dengan bau aroma sedap ini? Apa yang dihidangkan di meja sana.." Bu Liliana mendatangi Reza dengan tatapan serius namun ramah seperti kebanggaan diri sendiri baginya telah mengizinkan Reza menghidangkan makanan.
"Masakan apa ini? Apa yang membuatnya sangat wangi? Gimana cara membuatnya? Apa saja resepnya? Benarkah anda yang membuatnya?"
"Ini hanyalah Omelet biasa..-" saut Reza
Tunggu dulu, dia tadi mendekatiku untuk mengajak bersaing membuat omelet ya!? Kenapa aku baru sadar.. Tetapi aku sedikit terlambat menanggapinya. Sebenarnya bukan berarti aku tidak ingin bersaing dengannya, tapi lebih tepatnya aku sangat benci jika kalah dengannya.. Karena pasti saat kembali ke kelas, ia akan menyombongkan diri di hadapanku.. Itu terlalu menarik perhatian dan menyebalkan.
"--Ini hanya makanan biasa yang dibuat dengan cara biasa dan resepnya juga biasa yang bahkan bisa dibuat oleh orang biasa. Pokoknya lebih biasa dari biasanya."
Hebat banget dah! Emang standar biasa menurutmu itu gimana sih? Dimana lagi ada orang yang membuat masakan biasa bisa se-sedap ini.
"Tidak, tidak --ini bukan masakan biasa. Pasti ada suatu hal tersembunyi. Dimana itu? Apa bahan pentingnya?"
Bu liliana memakan omelet buatan Reza dengan sangat lahap seperti kucing yang sudah lama tidak makan ikan.
"Jika ada bahan penting.. Maka itu adalah-"
"Apa itu, nak? Cepat beritahu!"
"Bumbu yang paling penting dimasakan itu adalah.. Persahabatan dan persaingan sebagai rival abadi."
Hah~…
Apa yang kau katakan? Persahabatan? Rival abadi, Hah? Jangan bercanda..! Aku tidak sehebat yang kau pikirkan.. Aku hanyalah manusia biasa dengan kemampuan rata-rata, jauh dibandingkan monster sepertimu.
"Seperti apa rivalmu itu? Seperti apa masakannya?"
Tolong jangan terlalu berharap denganku! Aku bukanlah monster kesepian sepertinya. Aku hanyalah diriku sendiri.
"Itu disana. Sobat-ku yang bernama Rohim yang disebelahnya ada cewek berambut pirang yang tidak bisa memasak."
"Ho~ho, jadi kamu yang namanya Rohim, ya!? Aku sudah banyak mendengar tentangmu, loh.."
Hah, tolong jangan sok tau dah! Tidak ada yang mengenalku selain Rita disini, jika engkau mempercayai Reza si orang bodoh disana.. Itu artinya kau telah ditipu oleh orang bodoh.
"Iya, aku adalah Rohim.. Aku tidak sehebat yang dikatakan Reza'kok."
"Biarkan lidahku yang menilainya.. Bersiaplah!"
Bu Liliana memakan omelet-ku dengan hati-hati, padahal aku hanya menggunakan bahan-bahan yang tersisa.
"Wow~Delicious!! Ini adalah berkah dari surga.. Aku belum pernah memakan masakan ini sejak murid-ku tiga tahun lalu yang kini sudah lulus."
"Masa iya, bisa seenak itu" aku langsung mencobanya dengan sendok yang berada tepat di mejaku "memang enak, sih! Tapi-- ...Jangan berlebihan'lah! Aku hanya membuat dengan terburu-buru' kok." sepertinya Bu Liliana terlalu berlebihan menanggapinya.
"Bumbu apa yang digunakan didalamnya!?"
"Aku hanya menggunakan merica, garam, dan sedikit taburan keju."
Seluruh murid-murid disekitarku yang tampak ingin mencoba masakan, mereka berbisik kepada teman di sebelahnya "Aku ingin mencoba makanan itu" … "sepertinya enak, ya?" … "kalo mendapat pujian dari Bu Padang, sudah pasti enak'kan!" seru murid disekitarku.
Aku yang menjadi pusat perhatian di kelas, membuatku begitu berdebar-debar ..aku sangat membenci ini ..tapi aku sangat senang bisa membungkam mereka yang biasanya sombong dan membuang muka di hadapanku kini mereka mengagumiku.
Sepertinya hari ini cukup memuaskan.. Betul tidak?
Oh~ya, sekarang'kan jam pelajaran kelas memasak. Mungkin di sekolah pada umumnya tidak akan ada pelajaran seperti ini. Justru karena itulah, aku masuk ke sekolah ini. Dengan kemampuan memasakku, aku rasa bisa percaya diri dibandingkan orang lain.
Tapi ada satu orang yang lebih hebat dariku, mungkin bisa dibilang orang itu menganggapku sebagai rival-nya, tetapi aku tidak ingin mengakuinya.
Orang itu adalah Reza. Mungkin sedikit aneh, tetapi sebenarnya orang itu bisa melakukan apa saja asalkan tidak berurusan dengan kepintaran.
"Yooo!! --Sobat. Mau masak apa? Ayo kita bersaing dengan resep yang sama!" Reza memanggilku sambil memgang pundakku yang sedikit terasa pegal.
"Sobat.. Kau mengabaikanku ya!? Dengar, tidak! Ayo bersaing! Kalo begitu aku akan memasak 'Omelet' ya."
Setelah mengatakan hal yang semestinya ingin dikatakan. Dia pun pergi ke meja guru. Kira-kira apa yang dia ingin katakan pada guru? Lebih baik aku melepaskan 'penyumbat telinga' ini. Dan mulai memasak. Mau masak apa ya? Yang bisa mendapatkan nilai tinggi dari guru, tetapi tidak memiliki aroma yang 'mencolok' yang cukup untuk menarik perhatian orang lain.
Jika kupikir kembali, apa ada masakan yang seperti itu? Jika masakan itu terasa enak pastinya akan menarik perhatian. Apalagi kalo makanan itu terlalu banyak bumbu, maka bau aroma-nya akan tercium oleh orang disekitarku.
Lebih baik, singkirkan pikiran tentang masakan yang menggunakan banyak bumbu dan rempah. Maka bisa dikatakan, masakan yang akan dibuat harus-lah 'sederhana' tetapi mewah.
Yap --aku mendapatkan ide. Makanan yang bakal terasa enak, tidak terlalu banyak bumbu ataupun rempah dan juga tidak menarik perhatian baik melalui penglihatan maupun aroma. Sudah pasti jawabannya, yaitu 'Omelet'. Makanan yang dibagian luarnya terlihat biasa tetapi di dalamnya kaya akan rasa.
Itu pasti pilihan yang paling tepat dari semua masakan.
Yes.. Aku tinggal mengumpulkan bahan-bahannya. Yang paling terpenting adalah telur. Sekarang aku harus cepat mengambil telur yang masih bagus.
Sial.. Telur yang disediakan ternyata sudah habis. Bagaimana ini? Apa ya, barang yang masih tersisa? Aku harus cepat mengambil pilihan dari sini.
Barang yang tersisa: garam, merica, bumbu penyedap, dan minyak goreng.
Buset! Parah. Kalo begini, apa yang bisa dimasak!? Semuanya tinggal bumbu dan bahan awal saja. Siapa yang mengambil sampai habis seperti ini? Lagipula tidak mungkin Sekolah hanya menyiapkan bahan se-sedikit ini. Ini pasti perbuatan salah satu orang.
"Plok!" suara telur yang pecah karena jatuh ke lantai.
Dengan melihatnya sudah membuatku sangat muak. Aku disini kesusahan mencari bahan, tetapi dia malah membuangnya.
Menilik sedikit keatas dari telur yang jatuh tergeletak di lantai. Ternyata yang memecahkan telur tadi adalah Rita. Tetapi bukan itu saja, ternyata dia yang mengambil semua telurnya. Untuk apa 7 butir telur diatas meja? Dan yang satunya sudah pecah, yang artinya dia tadi mengambil 8 butir.
Aku mendatanginya dengan gerak langkah kaki yang lambat seperti raksasa di film action yang mencoba mendekati sang tokoh utama dalam cerita.
"Sepertinya sudah tidak ada bahan yang tersisa untukku. Boleh aku minta telur-nya? Dan sedikit bahan yang lainnya!?" tanyaku dengan nada berat, dan sepertinya bahasa yang kugunakan sangat sopan, yang artinya tidak ada alasan untuk menolak.
"Tidak mau. Kamu siapa? Kesini kalo susah doang! Enak banget." jawab Rita dengan sombong.
Sial.. Nih cewek tidak mengerti ya situasinya..? Seandainya dia ini laki pasti sudah kupukul dengan sendok sup di depanku.
"Minta'lah 2 butir saja. Nanti kuajari memasak makanan yang enak dengan bahan sebanyak ini. Bagaimana? Cukup menguntungkan'bukan?"
Terjadilah sedikit tawar menawar antara orang yang sedikit mengalami kesialan dan orang bodoh yang tidak mengerti situasi temannya.
"Woy --Sobat!! Kesusahan ya?"
Tiba-tiba Reza memanggilku dengan suara yang berisik.
"Yoo --Sobat!! Mau minta telur ya? Ini akan kuberikan. Ayo kita bersaing!"
Mengetahui kalo Reza selalu berusaha berbuat baik pada Rohim, membuatnya sedikit berikir "kenapa Reza baik sekali dengan Rohim? Aku tidak boleh kalah dengan orang bodoh sepertinya!".
Baiklah. Aku akan menawari Rohim dengan syarat mengajarinya cara memasak makanan yang enak. Karena aku juga tahu, kalo Rohim setiap pagi, memasak makanannya sendiri. Dengan begitu juga aku bisa sedikit berterima kasih padanya soal tadi istirahat.
"Hei, Rohim! Nih akan kukasih 3 butir telur. Tapi ajari aku memasak dulu ya!?"
"Sip, ayo! Aku akan mengajarimu memasak makanan yang bisa dimasak oleh koki profesional." dengan penawaran tadi, Rohim langsung bersemangat seperti orang yang melihat secercah harapan setelah hampir dilanda keputusasaan.
"Masakan apa ya?, yang bisa membuatku mendapatkan nilai yang tinggi? Telur rebus, telur goreng atau telur mata sapi saja ya!?" Rita sedikit mengungkapkan pikirannya.
"Jika ingin mendapat nilai tinggi dengan masakan telur. Lebih baik coba masakan yang bisa disisipkan berbagai bumbu, seperti telur dadar atau omelet contohnya!.."
"Kamu mau masak apa? Aku ikutin aja, dah!" Rita menepuk pundakku sambil mengacungkan jempol seolah percaya sekali padaku. Sepertinya lama-kelamaan caranya mengobrol bersamaku sama saja seperti Reza.
"Aku ingin memasak Omelet. Dengan menyisipkan banyak rasa didalamnya. Bagaimana menurutmu? Lumayan'kan!?" aku mengacungkan jempol juga kearah Rita, sudah seperti sahabat yang sangat dekat saja.
"Boleh juga. Ayo cepat mulai! Waktunya tinggal se-jam lagi."
Oh~ya, aku keluapaan dengan waktu. Tidak terasa 30 menit sudah berlalu. Apakah waktunya akan cukup? Semoga tidak ada halangan dengan masakannya..! Aku ingin menyelesaikan dengan cepat saja.
Ehh, ~sepertinya aku mengingat sebuah ramalan bintang dalam sebuah majalah tadi pagi, Yang didalamnya terdapat ramalan bahwa zodiak Aries akan mendapatkan keberuntungan di minggu ini dengan barang spesialnya adalah; Cewek berambut pirang.
Apa ini sebuah kebetulan dari refleks naluri manusia, yang membuatku mendekati Rita tanpa pikir panjang. Padahal biasanya aku selalu menghindari interaksi dengan orang lain.
Soal keberuntungan lebih baik lupakan saja. Sekarang aku harus berpacu pada waktu ditambah lagi Rita juga ingin diajari cara memasak, yang itu artinya aku harus bisa membuat 2 masakan secara bersamaan.
Tunggu apa itu di saku Rita? Gimana aku memberitahunya? Sebenarnya aku ingin mengambilnya diam-diam, karena aku ingin menghindari negoisasi seperti tadi.
"Rit, itu di saku bajumu ada apaan?"
"Oh, ini ya ..ini Keju, biasanya aku memakannya saat di kelas."
"Boleh aku minta untuk bahan masakan!? Kalo bisa aku ingin membuat masakan yang sangat enak dengan tambahan beberapa bahan."
"Tunggu, nanti aku di kelas mau makan apa?"
Benar saja dugaanku. Jika seperti ini kejadian tadi akan terulang dan waktunya akan semakin sempit. Lagipula kenapa dia makan di saat pelajaran berlangsung? Itu jelas melanggar peraturan, tapi sepertinya juga tidak apa sih.. Asal jangan ketahuan, kenapa aku bilang begini karena aku juga sering melakukannya.
"Ya sudah, begini saja. Kamu ingin membuat masakan yang lebih enak tidak?! Aku ingin menyarankan agar kamu memberikan keju itu padaku!"
"Tapi nanti pulang bareng ya!, dan belikan aku keju lagi sebagai gantinya!"
"Iya- baiklah!"
"Janji'kan? Jangan berbohong!" wajah merona Rita tampak imut sekali, walaupun aku juga sudah sering melihatnya waktu kecil.
Tapi ada apa ini, dengan situasi ini? Semua perasaan pasti akan terungkap walaupun tanpa disebut.. Ini bagaikan.. Kejadian Rom-Com di komik yang sering aku baca.
"Iya, aku janji.. Ayo cepatlah!! Nanti malah ditegur guru."
Rita tersenyum dengan lesung pipi yang sangat menonjol. Aku sudah tau kalo Rita itu cantik dan populer di kalangan laki-laki, tetapi aku tidak menyadari kalo dia itu sangat cantik menyilaukan saat tersenyum.
Tapi sepertinya kejadian ini juga pernah terjadi saat SMP dulu. Saat pelajaran olahraga pertama kali di kelas 7. Pada saat itu, ia sedang terluka di kaki kanannya yang membuatnya tidak bisa berjalalan.
"Bo'im, gimana nih sakit sekali. Aku tidak bisa berjalan..."
"Boleh liat kakinya!?"
"Dibagian engkel kakiku sangat sakit.. Gimana nanti kalo diamputasi..?"
"Tidak sampai diamputasi kok.. Udah SMP jangan nangis dong! Sini aku gendong sampai rumah!"
"Emang kamu kuat gendong aku!?"
"Pasti kuat'kok.. Aku tidak akan membiarkan kamu jatuh."
"Janji'kan? Tidak akan menjatuhkanku..!"
"Iya, pasti --udah ayo cepat!"
Jika aku mengingat kejadian itu, kenapa ya aku sangat baik padanya? Setidaknya jika dia terus bergantung padaku pasti dia akan jatuh cinta padaku. Dalam maksud yang lain, bukan berarti aku tidak menyukainya, hanya saja aku tidak ingin menghianati filosofi hidupku sejauh ini. Aku paling benci dengan masa remaja termasuk salahsatu-nya adalah 'pacaran'
..tetapi bukan berarti aku tidak ingin memiliki perempuan yang disukai, tetapi aku hanya ingin berpacaran setelah lulus sekolah dan mulai menyukai perempuan saat aku sudah benar-benar dewasa dan bisa memberikan sesuatu kepada perempuan itu dengan jerit payah sendiri. bukan seperti remaja sekarang ini, mereka bergaya dan berkelakuan seperti orang keren, mapan, dan sok bisa diandalkan padahal semuanya adalah jerit payah orang tua mereka.
Aku sangat membenci orang yang seperti mereka. Orang yang melebih-lebihkan kesenangan diri sendiri dan terlalu mengandalkan uang pada keseharian mereka.
Setelah beberapa menit berlalu.. Akhirnya aku berhasil memasak 2 masakan untukku dan Rita dengan kualitas yang hampir sama.
"Stop..!! Siapkan masakan kalian di atas meja!" suruh Bu Liliana selaku guru memasak biasanya kami memanggilnya 'Bu Padang' dengan suara teriak setelah menunggu selama 1 jam. Daritadi Bu Liliana hanya duduk dibangku tanpa bergerak sedikitpun. Hampir saja tadi aku mengira dia mati dalam keadaan duduk.
"Rit, ini masakanmu.. Pokoknya jangan beritahu Bu Padang kalo aku yang memasak, ya!"
"Santai saja." Rita mengacungkan jempolnya
"Hmm~ada apa dengan bau aroma sedap ini? Apa yang dihidangkan di meja sana.." Bu Liliana mendatangi Reza dengan tatapan serius namun ramah seperti kebanggaan diri sendiri baginya telah mengizinkan Reza menghidangkan makanan.
"Masakan apa ini? Apa yang membuatnya sangat wangi? Gimana cara membuatnya? Apa saja resepnya? Benarkah anda yang membuatnya?"
"Ini hanyalah Omelet biasa..-" saut Reza
Tunggu dulu, dia tadi mendekatiku untuk mengajak bersaing membuat omelet ya!? Kenapa aku baru sadar.. Tetapi aku sedikit terlambat menanggapinya. Sebenarnya bukan berarti aku tidak ingin bersaing dengannya, tapi lebih tepatnya aku sangat benci jika kalah dengannya.. Karena pasti saat kembali ke kelas, ia akan menyombongkan diri di hadapanku.. Itu terlalu menarik perhatian dan menyebalkan.
"--Ini hanya makanan biasa yang dibuat dengan cara biasa dan resepnya juga biasa yang bahkan bisa dibuat oleh orang biasa. Pokoknya lebih biasa dari biasanya."
Hebat banget dah! Emang standar biasa menurutmu itu gimana sih? Dimana lagi ada orang yang membuat masakan biasa bisa se-sedap ini.
"Tidak, tidak --ini bukan masakan biasa. Pasti ada suatu hal tersembunyi. Dimana itu? Apa bahan pentingnya?"
Bu liliana memakan omelet buatan Reza dengan sangat lahap seperti kucing yang sudah lama tidak makan ikan.
"Jika ada bahan penting.. Maka itu adalah-"
"Apa itu, nak? Cepat beritahu!"
"Bumbu yang paling penting dimasakan itu adalah.. Persahabatan dan persaingan sebagai rival abadi."
Hah~…
Apa yang kau katakan? Persahabatan? Rival abadi, Hah? Jangan bercanda..! Aku tidak sehebat yang kau pikirkan.. Aku hanyalah manusia biasa dengan kemampuan rata-rata, jauh dibandingkan monster sepertimu.
"Seperti apa rivalmu itu? Seperti apa masakannya?"
Tolong jangan terlalu berharap denganku! Aku bukanlah monster kesepian sepertinya. Aku hanyalah diriku sendiri.
"Itu disana. Sobat-ku yang bernama Rohim yang disebelahnya ada cewek berambut pirang yang tidak bisa memasak."
"Ho~ho, jadi kamu yang namanya Rohim, ya!? Aku sudah banyak mendengar tentangmu, loh.."
Hah, tolong jangan sok tau dah! Tidak ada yang mengenalku selain Rita disini, jika engkau mempercayai Reza si orang bodoh disana.. Itu artinya kau telah ditipu oleh orang bodoh.
"Iya, aku adalah Rohim.. Aku tidak sehebat yang dikatakan Reza'kok."
"Biarkan lidahku yang menilainya.. Bersiaplah!"
Bu Liliana memakan omelet-ku dengan hati-hati, padahal aku hanya menggunakan bahan-bahan yang tersisa.
"Wow~Delicious!! Ini adalah berkah dari surga.. Aku belum pernah memakan masakan ini sejak murid-ku tiga tahun lalu yang kini sudah lulus."
"Masa iya, bisa seenak itu" aku langsung mencobanya dengan sendok yang berada tepat di mejaku "memang enak, sih! Tapi-- ...Jangan berlebihan'lah! Aku hanya membuat dengan terburu-buru' kok." sepertinya Bu Liliana terlalu berlebihan menanggapinya.
"Bumbu apa yang digunakan didalamnya!?"
"Aku hanya menggunakan merica, garam, dan sedikit taburan keju."
Seluruh murid-murid disekitarku yang tampak ingin mencoba masakan, mereka berbisik kepada teman di sebelahnya "Aku ingin mencoba makanan itu" … "sepertinya enak, ya?" … "kalo mendapat pujian dari Bu Padang, sudah pasti enak'kan!" seru murid disekitarku.
Aku yang menjadi pusat perhatian di kelas, membuatku begitu berdebar-debar ..aku sangat membenci ini ..tapi aku sangat senang bisa membungkam mereka yang biasanya sombong dan membuang muka di hadapanku kini mereka mengagumiku.
Sepertinya hari ini cukup memuaskan.. Betul tidak?
Diubah oleh gublug.tolol 24-02-2017 19:40
0
