- Beranda
- Stories from the Heart
Disastrous in My Youth! (Kisah Remaja Yang Rumit )
...
TS
gublug.tolol
Disastrous in My Youth! (Kisah Remaja Yang Rumit )
Prolog
Manusia adalah makhluk hidup dengan pemikiran yang rumit dan juga makhluk hidup yang memiliki perasaan yang jauh dari kata logis. Sebagai contoh, Manusia yang sedang dilanda perasaan jatuh cinta maka dia akan rela mengorbankan semua yang dia punya untuk orang yang sedang ia cintai.
Manusia itu tidak 'Irasional', terutama yang melakukan hidup-nya sebagai peralihan, pengertiannya seperti hal-nya manusia yang menganggap hidup di suatu masa yang dapat dibengkalaikan dengan hal yang menyenangkan. Seperti contoh: Pelajar SMA yang melakukan kesenangan yang disebut sebagai "Masa Remaja".
Mereka yang terpesona oleh "Masa Remaja" senantiasa melakukan hal-hal seperti mengikuti gaya dan kebiasaan orang lain di sekitarnya. Bahkan parahnya sebuah kegagalan atau suatu hal yang seharusnya disesali dianggap sebagai 'penanda' dari masa remaja yang seluruhnya membekas dalam lembar kenangan dari masing-masing mereka.
Beberapa dari sekian contoh yang paling berbahaya.
Kegiatan yang paling terkait dengan masa remaja, sebut saja tindakan kriminal seperti tawuran, dan pemakaian obat-obatan terlarang. Hanya akan membuat mereka dicap sebagai "Kenakalan Remaja" yang bahkan tidak ada rasa pedulinya bagi orang yang merasa tidak dirugikan.
Kegagalan saat ujian sekolah, hanya akan disangkal dengan ucapan "Sekolah itu tempat untuk belajar, bukan untuk bersaing" dengan jawaban se-simpel itu saja, mereka mampu memutar balikan semua keadaan dari norma yang berlaku di masyarakat.
Dengan meng-atasnamakan masa remaja mereka bisa melakukan hidup seenaknya. Bagi mereka kebohongan, kegagalan, rahasia kejahatan, hanya mereka anggap sebagai 'bumbu penyedap' dari 'masa remaja'. Segala keburukan yang dilakukan dari perbuatan tersebut dicap sebagai pengecualian semata. Sedangkan, kumpulan dari kegagalan tersebut mereka tulis dalam kenangan dari indahnya "Masa Muda".
Tidak ada yang namanya 'Kegagalan' dari yang namanya masa remaja. Itu juga dijadikan hal pokok untuk membangun kepuasan tersendiri, jika ada 'Kegagalan' dalam masa muda itu hanyalah "Bagi mereka yang tidak bisa berteman" dengan standar pergaulan.
"Peralihan hidup" seperti itu adalah hal yang salah, itu adalah hal yang sangat buruk. Peralihan hidup seperti hal-nya masa remaja itu bagaikan kegelapan yang membuat 'tersesat' seperti ayam yang kehilangan kepalanya namun masih bisa bergerak.
Oleh karena itu terdapat kehidupan yang 'sejati' yang bersifat mutlak bagi orang yang menghindari 'peralihan hidup'
Itulah kesimpulan yang paling sempurna yang bisa kutarik.
Maaf Gan/Sis Mohon Berkenan Kenalkan Namaku Rohim Setidaknya Itu Namaku Di sini
Aku Bersekolah di sekolah Swasta Yang Lumayan Bebas
Cerita Ini Tentang Masa Sulit Saat Sekolah
Mohon Rate/Kritik Nya Gan/Sis
Kalo Ngasih
Juga Di Tampung

Manusia adalah makhluk hidup dengan pemikiran yang rumit dan juga makhluk hidup yang memiliki perasaan yang jauh dari kata logis. Sebagai contoh, Manusia yang sedang dilanda perasaan jatuh cinta maka dia akan rela mengorbankan semua yang dia punya untuk orang yang sedang ia cintai.
Manusia itu tidak 'Irasional', terutama yang melakukan hidup-nya sebagai peralihan, pengertiannya seperti hal-nya manusia yang menganggap hidup di suatu masa yang dapat dibengkalaikan dengan hal yang menyenangkan. Seperti contoh: Pelajar SMA yang melakukan kesenangan yang disebut sebagai "Masa Remaja".
Mereka yang terpesona oleh "Masa Remaja" senantiasa melakukan hal-hal seperti mengikuti gaya dan kebiasaan orang lain di sekitarnya. Bahkan parahnya sebuah kegagalan atau suatu hal yang seharusnya disesali dianggap sebagai 'penanda' dari masa remaja yang seluruhnya membekas dalam lembar kenangan dari masing-masing mereka.
Beberapa dari sekian contoh yang paling berbahaya.
Kegiatan yang paling terkait dengan masa remaja, sebut saja tindakan kriminal seperti tawuran, dan pemakaian obat-obatan terlarang. Hanya akan membuat mereka dicap sebagai "Kenakalan Remaja" yang bahkan tidak ada rasa pedulinya bagi orang yang merasa tidak dirugikan.
Kegagalan saat ujian sekolah, hanya akan disangkal dengan ucapan "Sekolah itu tempat untuk belajar, bukan untuk bersaing" dengan jawaban se-simpel itu saja, mereka mampu memutar balikan semua keadaan dari norma yang berlaku di masyarakat.
Dengan meng-atasnamakan masa remaja mereka bisa melakukan hidup seenaknya. Bagi mereka kebohongan, kegagalan, rahasia kejahatan, hanya mereka anggap sebagai 'bumbu penyedap' dari 'masa remaja'. Segala keburukan yang dilakukan dari perbuatan tersebut dicap sebagai pengecualian semata. Sedangkan, kumpulan dari kegagalan tersebut mereka tulis dalam kenangan dari indahnya "Masa Muda".
Tidak ada yang namanya 'Kegagalan' dari yang namanya masa remaja. Itu juga dijadikan hal pokok untuk membangun kepuasan tersendiri, jika ada 'Kegagalan' dalam masa muda itu hanyalah "Bagi mereka yang tidak bisa berteman" dengan standar pergaulan.
"Peralihan hidup" seperti itu adalah hal yang salah, itu adalah hal yang sangat buruk. Peralihan hidup seperti hal-nya masa remaja itu bagaikan kegelapan yang membuat 'tersesat' seperti ayam yang kehilangan kepalanya namun masih bisa bergerak.
Oleh karena itu terdapat kehidupan yang 'sejati' yang bersifat mutlak bagi orang yang menghindari 'peralihan hidup'
Itulah kesimpulan yang paling sempurna yang bisa kutarik.
Maaf Gan/Sis Mohon Berkenan Kenalkan Namaku Rohim Setidaknya Itu Namaku Di sini
Aku Bersekolah di sekolah Swasta Yang Lumayan Bebas
Cerita Ini Tentang Masa Sulit Saat Sekolah
Mohon Rate/Kritik Nya Gan/Sis

Kalo Ngasih
Juga Di Tampung Quote:
Spoiler for INDEX:

Diubah oleh gublug.tolol 18-04-2017 16:00
tien212700 dan anasabila memberi reputasi
2
4.6K
32
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
gublug.tolol
#11
Part 3
Spoiler for Ilustrasi:
"Hei!! Rohim ..kesini dulu sebentar!"
Suara itu, terdengar sangat tidak asing ...mungkin tanpa menoleh aku sudah bisa menebaknya! Pasti di belakangku sekitar 5 meter dariku, sedang berdiri guru perempuan ..yaitu Bu Maria
Namun setelah aku menoleh ke belakang, aku tidak bisa kembali lagi. Apa yang harus kulakukan? Mengatakan padanya bahwa aku punya teman? Atau kubilang dua orang disebelahku ini adalah kenalan saja?
Mungkin lebih baik aku katakan saja apa perlunya.
"Ada perlu apa Bu?"
"Hmm ..sepertinya kamu sudah punya teman ya?! "
Bagaimana ya jawabnya? Kalo aku mengatakan mereka temanku, maka aku akan berurusan dengan Reza dan Rita, mereka berdua itu orang yang sangat rumit berurusan dengan mereka berdua bagaikan menemani 2 ekor anjing 'Bulldog' yang bisa menyerang kapan saja. Tetapi kalo jika aku mengatakan mereka bukan temanku, maka aku akan dibenci oleh dua orang ini. Sepertinya kedua pilihannya sama saja membawa malapetaka pada hidupku, pokoknya jika dua-duanya berakhir sama, apapun pilihanku tidak ada bedanya.
"Anu, sebenarnya mereka itu-"
Tiba-tiba Reza memegang pundakku, aku pun kaget apa yang akan ia lakukan? Semoga bukan hal yang akan merepotkanku.
"Ya, aku dan Sobatku ini sudah sangat serasi dan persahabatan kami sudah sangat luar biasa! Sepertinya takdir aku dan sobatku dilahirkan untuk selalu bersama"
Ehh!! Kenapa aku begitu percaya dengannya? Sekarang bukan saatnya memikirkan itu, apa yang kaukatakan? Kenapa harus orang bego ini yang menjawab? Pilihanku hancur dah!
Sial!.. Aku terlalu berharap pada orang bego ini.. Sebenarnya kata-katanya agak terdengar keren apabila aku juga menganggapnya teman, tapi aku tidak benar-benar ingin mengatakan ini.. Cari sahabat yang lebih baik sana!
Rita tolong bantu aku! Urus kesalahan orang bodoh ini! (Rohim mengedipkan mata ke arah Rita seolah mereka memiliki Telepati)
Rita tiba-tiba memegang tanganku, semoga aku tidak salah berharap padanya.
"Ya, aku dan Rohim bukan teman... Hmm--"
"Nice, Good Job! Rita" Rohim mengacungkan jempol dengan maksud kode 'terus lanjutkan'
"...aku dengannya tidak pantas disebut teman, --tapi lebih tepatnya dia itu adalah pemuas nafsu birahiku." Rita mengatakannya dengan wajah tersenyum puas, sedikit tersenyum menahan tawa, ditambah lagi ia sedang memegang tanganku.
Ahh!! Sialan emang nih cewek ..rasanya kesel banget dibilang 'pemuas' nafsu birahi ..emang ya, kalo ngomong kagak ditahan dulu! Dasar Jablay! ...Sial~ aku terlalu berharap dengannya? Jika diingat kembali, aku sama sekali tidak pernah dibantu olehnya...
"Anu.. Bu! Mereka ini- ...sedikit bingung gimana ngomongnya, yang pasti mereka ini orang aneh. Ehh~ mungkin kurang tepat dibilang aneh, lebih tepatnya orang bodoh."
"Apa maksudmu, bodoh? Lu gak pantas ngomong gitu'tau!" Rita memukulku dengan keras.
"Woy-- Sobat, kami bukan orang bodoh tau! Kita cuma kurang pintar."
Nih orang bego ngomong apaan sih? Bisa diam gak?!, sebenarnya bentuk otaknya bagaimana? Apa mungkin berbentuk Segitiga sehingga aliran darahnya berliku-liku.
"Ya~sudah! Kita kesampingkan dulu soal 'orang bodoh'!" Bu Maria mencoba menguraikan pendapat dengan wajah yang merasa tidak nyaman dengan obrolan yang dibicarakan.
"Ini adalah hal yang penting, jangan dikesampingkan!!"
Heh~ kenapa aku marah? Apa aku ketularan bodoh oleh mereka? Tunggu, 'Positive Thinking' aja, padahal sudah jelas'kan, aku marah karena tidak mau disamakan oleh 2 orang bodoh ini.
"Ya~sudah! Begini saja, kalian tidak bodoh.. Ibu mengerti bagaimana pemikiran kalian, mungkin!" Lerai Bu Maria
Begitulah. Tunggu, apa tadi ada pernyataan, mungkin! ? Jika hanya untuk menandakan ekspresi keraguan, jelas tak ada gunanya.
"Okelah.. Lagipula bukan hal yang penting juga. Kok!"
Wajah Bu Maria tampak kasihan melihatku, yah --mau bagaimana lagi ..bukan aku yang menginginkan bersama mereka. Aku hanya ingin sendiri, tenang, damai, dan bebas. Bukannya terjebak dalam persahabatan kedua orang bodoh ini.
"Rohim kesini dulu! Cepetan! Aku ingin bicara sedikit..!" Bu Maria memberikan isyarat untuk memanggil.
Aku mendatangi Bu Maria, dan menyodorkan telingaku mendekati mulutnya, bahkan desahan nafas-nya terasa halus sekali. Eeeh..tidak! Apa pengaruh masa muda sudah menular padaku? Aku tidak boleh terangsang hanya dengan desahan nafas seorang guru perempuan yang masih lajang.
"Aku tau, alasanmu tidak mau memiliki teman! Tetapi apa kamu tak merasa terganggu dengan mereka?!" Bisik Bu Maria
"Terganggu sekali, tapi mau gimana lagi.. Mereka selalu mengikutiku."
"Jika seperti itu, sudah tidak ada lagi yang bisa kubantu juga'kan!?.." mengetahui kalo aku punya teman yang sama aneh, mungkin dia tertawa di dalam hatinya.
"Yah~ lagipula aku sudah tahu kenyataan orang aneh hanya bisa bergaul dengan orang aneh." caraku berbicara mungkin agak sedikit suram, seperti polisi yang sedang kebuntuan untuk melapor pada atasannya.. "Kalo bisa, aku ingin menghindari dua orang tolol di belakangku ini."
"Kan' sudah kubilang, itu sih urusanmu! Untuk ketenanganmu gunakan caramu!" Bu Maria memberikan nasihat, tapi mungkin juga bukan.
"Baiklah, aku pergi dulu..! Nanti bel berbunyi, malah jadi tidak makan." kata-kataku untuk mengakhiri obrolan.
"Ya sudahlah!! Ingat kataku! Carilah teman yang setia, yang bahkan siap membantumu di kala senang maupun susah".
Aku hanya melambaikan tangan seolah mengatakan "bye-bye" jika kita bisa bertemu lagi, dengan adanya dua orang tolol ini, aku tidak yakin masih bisa melihat matahari esok hari.
Kehidupanku mulai berantakan mulai dari sekarang, ditambah lagi kemungkinan orang-orang aneh di sekolahku mungkin akan berkumpul di sekitarku.
Ya tuhan, jika engkau emang peduli denganku. Kabulkanlah doa'ku "Aku ingin hidup tenang, damai, dan menyediri" hanya itulah permintaanku.
Sedikit berpindah cerita. Sekarang di kantin sekolah, terdengar suara yang sedikit rusuh menemani suasana keramaian kantin di jam istirahat.
"Bruuggh!!" suara itu berasal dari seorang lelaki yang berbenturan dengan tembok.
"Woy, Deni! Jangan melibatkan orang lain'dong!"
"Aku tidak melibatkan siapapun, kamulah yang hampir menyerang mereka."
Sepertinya pertarungan mereka masih berlanjut.. Sampai kedatangan satu orang yang berani melerai mereka berdua.
Orang itu datang dari jendela kantin arah jam 3 dari arah mereka berdua, dia melompat dari jendela dan jatuh dengan gaya 'rolling'.. Gerakannya begitu indah dan lembut seperti atlet senam atletis atau mungkin gaya Roll-nya itu lebih mirip seperti tentara yang bersiap membunuh kapanpun.
Dia adalah Aldi Sulaksana, sesuai namanya dia itu orang yang sedikit aneh tetapi dihormati karena memiliki sifat yang selalu semangat dan berjiwa pemimpin.
"Sedang apa kalian? Apa bertengkar itu betul-betul menarik, ya?" Aldi mencoba bertanya kepada 2 orang itu, seperti seorang ayah yang melihat kedua anaknya bertengkar.
"Yang salah itu dia! Saat aku tanya peribahasa 'tong kosong nyaring bunyinya' itu apa artinya. Dia malah mengatakan "itu adalah kamu" ..padahal kukira itu jawaban yang benar ..saat aku bertanya pada yang lainnya, mereka bilang 'orang bodoh banyak omongnya' ..yang itu artinya dia bermaksud menghina'kan!?" Roy terlihat kesal, lagi juga di obrolan ini, cuma dia yang susah-susah me-ringkas ceritanya agar lebih detil.
"Padahal kukira, dia sudah tahu. Oleh karena itu aku berpura-pura bodoh dengan menjawab salah. Tetapi percuma aku berpura-pura bodoh. Karena dihadapanku adalah orang yang benar-benar bodoh!" saut Deni dengan tenang tanpa terbata-bata, sungguh orang yang bijaksana.
"Jika seperti ini tidak akan selesai. Dalam pertarungan ini, Roy sangat kuat jika dalam hal kekuatan. Tetapi Beni lebih pintar dan licik daripada Roy.. Jadi lebih baik bagaimana, ya!?~ hmm"
Aldi mencoba berpikir sesuatu agar lebih menarik, sambil memegang dagunya seperti seorang pejabat pemerintah yang sedang memikirkan solusi untuk mendalatkan keuntungan.
Namun sikap tidak bisa diam Roy dan Deni terus berulah, mereka saling mengejek dengan kata-kata dan wajah meledek seperti anak-anak yang saling bermusuhan.
"Baiklah,Untuk pertarungan ini agar lebih adil, kalian semua yang ada disini, lemparkan barang apapun. --Tidak apa walaupun barang tidak berguna! Ready Fight"
"Lempar semua yang ada di sekitarmu!" saut murid-murid yang sedang menonton pertarungan mereka, dengan begitu pula seluruh benda berterbangan di udara, menyebabkan berantakan dimana-mana.
"Kalian berdua, sudah mendapatkan senjata!?" Tanya Aldi sebagai wasit di pertandingan ini.
Roy dan Deni menganggukan kepalanya, seolah pertarungan ini sudah 'resmi', mereka berdua menganggap pertarungan ini sebagai kenangan masa muda yang akan sulit dilupakan.
Itulah yang membuatku begitu membenci mereka.
"Di sebelah kiri, Roy si 'Maniak Otot' maju dengan senjata 'Kerupuk Cabai' di tangannya." Aldi menyambut Roy sebagai pembawa acara sekaligus wasit.
"Huuuuhhh!! Roy pasti bakal menang" saut penonton dengan meriahnya.
"Di sebelah kanan, Deni si 'orang licik' maju dengan..!!"
"Hoooyy..!! Aldi~tunggu dulu! Kenapa orang itu memegang 'pemukul Bisbol' di tangannya? Itu jelas curang."
Roy menentangnya dengan suara teriak yang sedikit berat, lagipula sekuat apapun dia, tidak mungkin untuk menahan serangan yang menggunakan 'pemukul bisbol'. Itu jelas pelanggaran.
"Aku tidak curang ataupun licik. Aku hanya menangkap benda yang dilemparkan padaku. Bukankah itu sah, Pak Wasit!?" Deni menegur Wasit dengan senyuman jahat tersembunyi dari bibirnya.
"Itu sah saja. Tidak melanggar peraturan. Jika ingin marah, marahlah pada orang yang melemparnya! Oh, ya~ jangan panggil aku 'Pak Wasit'!" saut pak Wasit dengan kata sok bijak.
"Baiklah, aku akan bertarung secara sportif. Tanpa penyesalan. Ayo --Deni majulah! Dengan seluruh kekuatanmu!" Roy menantangnya seolah dia tahu kalau dia telah dicurangi dari awal.
"Hyaattt!!" Roy menyerang Deni dengan kerupuk di genggamannya. Ini sama saja menonjok dengan tangan kosong yang membedakan hanyalah di tangan Roy terdapat banyak remahan kerupuk.
"Bersiaplah!" Deni juga siap menyerang dengan Pemukul Bisbol dengan posisi vertikal, seolah dia siap memukul kepala Roy kapanpun.
Bukankah ini sangat bodoh! Inilah yang dinamakan 'kelakuan' masa muda. Sangat memuakkan, tetapi aku lebih membenci mereka yang menyalahkan masa remaja untuk kesenangan sendiri. Disinilah aku sangat membenci Aldi, orang yang mencoba menipu mereka yang mudah dipermainkan hanya untuk kesenangan sendiri.
"Rasakan ini!" Deni hampir memukul kepala Roy, mungkin jika berhasil kena, maka Roy akan 'Amnesia'. Manusia mana yang masih kuat bangun dari pukulan telak terkena pemukul bisbol di bagian kepala.
"Naif sekali! Jika hanya ini kekuatanmu. Aku akan menunjukan, seperti apa serangan yang sebenarnya." Roy menyengir seolah mengatakan "aku lebih maju satu langkah"
"Apa yang akan terjadi?!" Deni kebingungan dengan arah serangannya.
Serang Deni, akhirnya meleset dan berakhir mengenai pundak kiri Roy.
Tetapi Roy menyerang Beni menggunakan tangan kanan, yang dikepal sangat kuat dan keras.
"Syuuuttt!!" serangan 'Uppercut' mengenai dagu Deni dengan telak, yang membuatnya terlempar.
Namun tidak semudah itu. Semua pergerakan Roy sudah diprediksi oleh Deni dengan pikiran cerdas dan liciknya.
Dalam waktu 0,3 detik, pemukul bisbol yang dipegang Deni terlempar tepat diatas kepala Roy. Dalam waktu selang waktu yang sangat cepat, itulah pertaruhan ditentukan oleh Deni. Perkiraan ini sangat brilian dan cerdas.
"Sepertinya aku yang menang!" kata-kata Deni sesaat setelah terkapar di lantai.
Oh, sungguh tidak diduga~ yang diincar Deni bukanlah Pemukul Bisbol yang mengenai kepala Roy, melainkan suatu hal yang tidak diduga, yaitu 'melempar satu batu terkena dua burung'...
Diatas Roy, ada sebuah kipas gantung yang sedang berputar dengan cepat. Jika perkiraan Beni benar, maka Kipas itu akan jatuh ke lantai dengan kekuatan gravitasi 2x lipat dikarenakan kipas itu sedang bergerak.
"Brughh!! Bruuuggh!!" dua serangan bertubi-tubi mengenai Roy, yang pertama adalah Pemukul bisbol yang mengenai bagian atas kepalanya. Dan yang kedua kipas itu mengenai Roy di bagian kepala belakang.
"Dengan begini, pemenangnya adalah... Deni" Wasit sudah menentukan pemenangnya dengan hasil yang paling adil.
"Wow!!.. Hebat" Seru penonton di Kantin yang menandai akhir dari pertarungan ini.
Tepat disinilah, Aku, Rita, dan Reza datang ke kantin.
"Kenapa, bisa berantakan seperti ini?!" tanya Reza dengan kalimat tanya yang terdengar aneh
Padahal sudah jelas, ini semua kelakuan Trio Sableng yang disana (Aldi, Deni, dan Roy). Mereka hanyalah orang yang ingin menarik perhatian dengan 'pertunjukan' kenangan masa muda mereka. Orang-orang seperti itu adalah yang paling kubenci.
"Jadi kau disini ya!? Padahal tadi aku mencarimu kemana-mana." Aldi mengatakannya kearahku.
"Mau ngapain'sih!?"
"Bukan lu, tetapi yang disebelahmu." Cela Aldi dengan nada kasar, sebagaimana mestinya mengatakan hal itu pada orang yang 'penyendiri' sepertiku.
Ternyata dia menunjuk kearah Rita.
"Ada apa denganku? Apa aku punya salah?" Rita tampak kebingungan
"Bukan, aku hanya ingin melihatmu 'kok."
Entah kenapa, aku melihat tatapan Aldi terasa menjijikan. Tatapannya seperti seorang 'Playboy' yang sedang mencoba menarik perhatian mangsanya. Tapi aku yakin, orang seperti Rita juga pasti bakal terpincut olehnya.
Tunggu, bukankah itu sangat menguntungkan bagiku. Jika Rita mengikutinya, maka aku bisa jadi penyendiri lagi. Soal Reza bisa diselesaikan dengan mudah.
"Hei, Rita. Sini kubisik sebentar!"
"Ada apa? Apa perlu omongan ini disembunyikan?." keluh Rita
"Apa kamu punya urusan dengannya?!~hah"
"Sebenarnya, tidak juga sih. Aku juga tidak tertarik dengannya."
Waduh, sedikit salah perkiraanku. Kukira Rita akan tertarik dengan orang ini.
"Ya, sudah! Katakan saja! Walaupun tersa berat, lebih baik jujur saja!" ucapku sok bijak
Perempuan seperti apapun, walaupun dia itu orang aneh seperti Rita, dia pasti tidak mengikuti nasihatku apalagi untuk mengatakan hal yang tidak sopan kepada laki-laki populer seperti Aldi.
"Tadi nama lu siapa, ya?~ hah! Sombong banget lu, coba mendekatiku" saut Rita dengan nada yang sombong terasa aneh juga bila didengar.
Lah, kok! Aneh, ya? Kenapa dia ngomongnya begitu. Bukannya malah membuatku terancam. Apa gaya bicara remaja jaman sekarang seperti itu? Atau mungkin itu adalah gaya berbicara ala barat yang sedang terkenal itu? Tapi yang pasti aku tidak akan mendengar dari orang normal.
"Kasar-nya, tapi hal itulah yang membuatmu sangat cantik dan elegan." Aldi masih mencoba merayu dengan gaya 'raja gombal' miliknya.
Cih..!! Dasar Raja Gombal. Tidak usah ngomong lebay gitu'lah! Kalo aku bilang orang kayak lu tuh, lebih cocok berbicara sama Reza aja. Orang sombong dan orang bodoh, pasti akan terlihat sangat menarik. Membayangkan-nya saja sudah terdengar menarik.
Begitulah. Tunggu, apa tadi aku berkomentar? Ehh --bukan itu yang jadi masalah, kenapa aku tiba-tiba jadi lebay seperti itu. Ini pasti efek dari masa remaja yang tertular dari orang-orang aneh disini.
Harusnya aku tetap di kelas saja. Bersantai menatap keluar jendela pasti terasa sangat damai. Bukankah itu akan sangat menyenangkan?
Diubah oleh gublug.tolol 19-02-2017 20:27
0

