- Beranda
- Stories from the Heart
Disastrous in My Youth! (Kisah Remaja Yang Rumit )
...
TS
gublug.tolol
Disastrous in My Youth! (Kisah Remaja Yang Rumit )
Prolog
Manusia adalah makhluk hidup dengan pemikiran yang rumit dan juga makhluk hidup yang memiliki perasaan yang jauh dari kata logis. Sebagai contoh, Manusia yang sedang dilanda perasaan jatuh cinta maka dia akan rela mengorbankan semua yang dia punya untuk orang yang sedang ia cintai.
Manusia itu tidak 'Irasional', terutama yang melakukan hidup-nya sebagai peralihan, pengertiannya seperti hal-nya manusia yang menganggap hidup di suatu masa yang dapat dibengkalaikan dengan hal yang menyenangkan. Seperti contoh: Pelajar SMA yang melakukan kesenangan yang disebut sebagai "Masa Remaja".
Mereka yang terpesona oleh "Masa Remaja" senantiasa melakukan hal-hal seperti mengikuti gaya dan kebiasaan orang lain di sekitarnya. Bahkan parahnya sebuah kegagalan atau suatu hal yang seharusnya disesali dianggap sebagai 'penanda' dari masa remaja yang seluruhnya membekas dalam lembar kenangan dari masing-masing mereka.
Beberapa dari sekian contoh yang paling berbahaya.
Kegiatan yang paling terkait dengan masa remaja, sebut saja tindakan kriminal seperti tawuran, dan pemakaian obat-obatan terlarang. Hanya akan membuat mereka dicap sebagai "Kenakalan Remaja" yang bahkan tidak ada rasa pedulinya bagi orang yang merasa tidak dirugikan.
Kegagalan saat ujian sekolah, hanya akan disangkal dengan ucapan "Sekolah itu tempat untuk belajar, bukan untuk bersaing" dengan jawaban se-simpel itu saja, mereka mampu memutar balikan semua keadaan dari norma yang berlaku di masyarakat.
Dengan meng-atasnamakan masa remaja mereka bisa melakukan hidup seenaknya. Bagi mereka kebohongan, kegagalan, rahasia kejahatan, hanya mereka anggap sebagai 'bumbu penyedap' dari 'masa remaja'. Segala keburukan yang dilakukan dari perbuatan tersebut dicap sebagai pengecualian semata. Sedangkan, kumpulan dari kegagalan tersebut mereka tulis dalam kenangan dari indahnya "Masa Muda".
Tidak ada yang namanya 'Kegagalan' dari yang namanya masa remaja. Itu juga dijadikan hal pokok untuk membangun kepuasan tersendiri, jika ada 'Kegagalan' dalam masa muda itu hanyalah "Bagi mereka yang tidak bisa berteman" dengan standar pergaulan.
"Peralihan hidup" seperti itu adalah hal yang salah, itu adalah hal yang sangat buruk. Peralihan hidup seperti hal-nya masa remaja itu bagaikan kegelapan yang membuat 'tersesat' seperti ayam yang kehilangan kepalanya namun masih bisa bergerak.
Oleh karena itu terdapat kehidupan yang 'sejati' yang bersifat mutlak bagi orang yang menghindari 'peralihan hidup'
Itulah kesimpulan yang paling sempurna yang bisa kutarik.
Maaf Gan/Sis Mohon Berkenan Kenalkan Namaku Rohim Setidaknya Itu Namaku Di sini
Aku Bersekolah di sekolah Swasta Yang Lumayan Bebas
Cerita Ini Tentang Masa Sulit Saat Sekolah
Mohon Rate/Kritik Nya Gan/Sis
Kalo Ngasih
Juga Di Tampung

Manusia adalah makhluk hidup dengan pemikiran yang rumit dan juga makhluk hidup yang memiliki perasaan yang jauh dari kata logis. Sebagai contoh, Manusia yang sedang dilanda perasaan jatuh cinta maka dia akan rela mengorbankan semua yang dia punya untuk orang yang sedang ia cintai.
Manusia itu tidak 'Irasional', terutama yang melakukan hidup-nya sebagai peralihan, pengertiannya seperti hal-nya manusia yang menganggap hidup di suatu masa yang dapat dibengkalaikan dengan hal yang menyenangkan. Seperti contoh: Pelajar SMA yang melakukan kesenangan yang disebut sebagai "Masa Remaja".
Mereka yang terpesona oleh "Masa Remaja" senantiasa melakukan hal-hal seperti mengikuti gaya dan kebiasaan orang lain di sekitarnya. Bahkan parahnya sebuah kegagalan atau suatu hal yang seharusnya disesali dianggap sebagai 'penanda' dari masa remaja yang seluruhnya membekas dalam lembar kenangan dari masing-masing mereka.
Beberapa dari sekian contoh yang paling berbahaya.
Kegiatan yang paling terkait dengan masa remaja, sebut saja tindakan kriminal seperti tawuran, dan pemakaian obat-obatan terlarang. Hanya akan membuat mereka dicap sebagai "Kenakalan Remaja" yang bahkan tidak ada rasa pedulinya bagi orang yang merasa tidak dirugikan.
Kegagalan saat ujian sekolah, hanya akan disangkal dengan ucapan "Sekolah itu tempat untuk belajar, bukan untuk bersaing" dengan jawaban se-simpel itu saja, mereka mampu memutar balikan semua keadaan dari norma yang berlaku di masyarakat.
Dengan meng-atasnamakan masa remaja mereka bisa melakukan hidup seenaknya. Bagi mereka kebohongan, kegagalan, rahasia kejahatan, hanya mereka anggap sebagai 'bumbu penyedap' dari 'masa remaja'. Segala keburukan yang dilakukan dari perbuatan tersebut dicap sebagai pengecualian semata. Sedangkan, kumpulan dari kegagalan tersebut mereka tulis dalam kenangan dari indahnya "Masa Muda".
Tidak ada yang namanya 'Kegagalan' dari yang namanya masa remaja. Itu juga dijadikan hal pokok untuk membangun kepuasan tersendiri, jika ada 'Kegagalan' dalam masa muda itu hanyalah "Bagi mereka yang tidak bisa berteman" dengan standar pergaulan.
"Peralihan hidup" seperti itu adalah hal yang salah, itu adalah hal yang sangat buruk. Peralihan hidup seperti hal-nya masa remaja itu bagaikan kegelapan yang membuat 'tersesat' seperti ayam yang kehilangan kepalanya namun masih bisa bergerak.
Oleh karena itu terdapat kehidupan yang 'sejati' yang bersifat mutlak bagi orang yang menghindari 'peralihan hidup'
Itulah kesimpulan yang paling sempurna yang bisa kutarik.
Maaf Gan/Sis Mohon Berkenan Kenalkan Namaku Rohim Setidaknya Itu Namaku Di sini
Aku Bersekolah di sekolah Swasta Yang Lumayan Bebas
Cerita Ini Tentang Masa Sulit Saat Sekolah
Mohon Rate/Kritik Nya Gan/Sis

Kalo Ngasih
Juga Di Tampung Quote:
Spoiler for INDEX:

Diubah oleh gublug.tolol 18-04-2017 16:00
tien212700 dan anasabila memberi reputasi
2
4.6K
32
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
gublug.tolol
#3
Part 2

"Kring~kriiing!!" Bunyi bel jam pelajaran ke-4, yaitu saatnya istirahat makan siang.
Setelah aku membereskan buku di meja ke kolong meja. Aku mrasakan hawa yang sangat menyeramkan bahkan mungkin lebih seram dari anak perempuan di kelas yang menyuruh mengerjakan piket kelas.
Tetapi aku tidak akan ketakutan, ku beranikan diri untuk melihat ke belakang.
Tepat dibelakangku, lelaki yang berbadan besar dengan tinggi 185 cm, dan memiliki wajah yang agak aneh seperti preman, goresan luka di bawah pelipis matanya, dan dagu yang lancip agak tumpul di bagian ujung seperti gambar gunung yang dibuat anak kecil. Pantas saja aku merasakan sedikit ketakutan yang meresahkan.
Dia adalah Reza, lelaki yang paling dibenci di kelas. Ia dibenci bukan karena penyendiri sepertiku, melainkan karena terlalu 'sok gaul' seperti memanggil dengan panggilan yang kadangkala terlalu blak-blakan seperti: Kerdil pada orang pendek, jangkung pada orang tinggi, semua panggilan itu dipanggil pada orang yang baru dikenal selama beberapa menit, dan sepertinya kata 'dibenci' kurang cocok, mungkin lebih cocok 'dijauhi' karena dia ini sangat bodoh, saking bodohnya disaat teman sebangkunya yang sedang tidur di kelas ia pikir sedang pingsan sehingga ia berikan napas buatan dari mulut ke mulut ditambah lagi laki sesama laki... Itu sangat Irasional bahkan untuk orang bodoh.
Dengan ciri-ciri wajah dan kepribadian seperti ini, mungkin jika Reza tersesat. Maka orang disekitar akan langsung menyadarinya dan langsung mengetahuinya dengan keberadaan yang mencolok, dan hanya dalam hitungan menit akan langsung ketemu.
"Yoo --Sobat! Makan bareng yoo!!" Reza menyapa sambil menepuk pundakku. Ia pikir jika menepuk pundakku aku akan menengok padanya.
Aku sendiri saja tidak tahu, kenapa dia memanggilku Sobat? Apa aku terlihat seperti orang yang bersahabat? Apa ada orang bodoh yang melihatku sebagai orang yang pantas disebut sobat? Aku sendiri tidak mengerti, apa yang dianggap sahabat dariku?.. Atau lebih parahnya dia itu tidak pernah memerhatikan tingkah orang lain.
Lama-lama aku bosan.. mendengar kata "Yoo --Sobat!" darinya, dan sepertinya wajah dan suaranya telah bergumam di otakku. Lebih baik aku mengalah padanya. Setelah aku menanyakan apa yang ia ingin tanya maka langsung akan kutolak.
"Mmm.. Mau ngomong apa?"
"Tadi mau ngomong apa ya? Yoo -- Sobat, tadi aku mau ngomong apa ya?!"
Sial.. Malah semakin rumit, sebenarnya akulah yang paling ingin bertanya padanya. Sebenarnya dia ini punya otak gak sih!? Bukan dengan maksud menghina tetapi aku benar-benar ingin mengetahuinya.
"Kalo gak jadi ngomong, aku ingin ke kantin untuk beli makanan."
"Hah!! ~Aku ikut dong!"
"Berhenti disitu! Rohim si manusia penyendiri, yang lahir dari perutnya sendiri, dan bertumbuh dewasa dengan sendirinya."
Suara tersebut keluar dari mulut cewek yang duduk di bangku paling belakang di barisanku.
Cewek yang cantik dengan rambut warna pirang diikat 'Ponytail' matanya coklat muda, ia mengenakan sweater olahraga berwarna biru pekat dan sedikit garis warna kuning, ia memakai rok mini yang tidak menutupi lututnya. Kakinya yang sangat ramping diletakan di atas meja dengan posisi terlipat kaki kanan diatas. Pada saat itu, Rohim langsung sadar siapa gadis itu.
Dia adalah Rita Riviere Aveiros, bisa dibilang ia adalah teman masa kecilku tetapi aku tidak pernah menganggapnya teman, namun ada satu hal yang menggangguku, yaitu sulit sekali menghindarinya.. karena aku dan dia sudah kenal lama sekali.
Rita adalah seorang bule yang berasal dari Italia, besar di Indonesia dan juga mungkin terdengar 'aneh' karena ia tidak tahu seperti apa kampung halamannya, dan ada satu hal yang paling aneh yaitu dia tidak bisa berbicara bahasa italia, bukankah sangat aneh jika orang italia tidak bisa memakai bahasa italia.
Rita Riviere Aveiros dan aku kenal sejak ia saat masih berumur 4 tahun. Dia pindah dikarenakan ayahnya yang terkesan dengan tingkat kemiskinan di Indonesia, karena di negara Italia jarang orang yang dianggap miskin, dengan kata lain ayahnya adalah orang yang sadis (senang melihat orang menderita)..
Beberapa contoh kelakuan sadis yang dilakukan ayahnya Rita; Pada malam hari dia selalu berjalan menuju perempatan lalu lintas yang biasanya malam hari rame akan Pengemis, Pengamen, dan Orang cacat. Dia akan memberikan mereka uang sambil menamparkannya dengan uang 10-ribu rupiah berjumlah 100-ribu.. Sebenarnya niatnya baik, tapi cara memberikannya itu yang bermasalah.
"Rita, ada apa memanggilku? Mau menghina? Aku terburu-buru nih!!"
"Jangan kasar gitu dong! Mau ngomong sedikit kita'kan teman!?!"
Setahuku, aku tidak merasa memiliki teman, kok! Teman itu orang terdekat yang saling membantu, menolong begitulah intinya, jika memiliki teman hanya membuatku merasa terganggu lebih baik tidak punya teman.
Setelah beberapa saat, setelah dia mengatakan sedikit. Aku sudah menunggunya selama 45 detik. Apakah prinsip "waktu adalah uang" berlaku dalam hidupku, jika aku Polisi lalu lintas dalam 45 detik, kira-kira sudah berapa kendaraan yang sudah kutilang. Sebenarnya aku juga mulai muak menunggunya berbicara.
"Mau ngomong apa? Woy! ..gak ngerti arti terburu-buru yah?!"
"Bentar dulu!! Sabar dikit ...aku ingin mengatakan apa ya?" ia memegang pipinya seperti orang yang kelupaan barang. Aku sedikit memiliki pertanyaan padanya, kenapa orang yang mendekatiku selalu orang yang aneh dan rumit? Dan juga kenapa aku terlalu baik pada Rita?
Aku sudah menunggunya ngomong selama 1 menit, tetapi dia belum juga menggerakan salahsatu anggota tubuhnya.
"Woy, cepetan lah!! Aku sudah kelaparan nih!!"
Rita masih juga belum ngomong apapun, dan menggerakan satupun anggota tubuhnya. Sebenarnya aku ingin meninggalkannya, tapi di dekat pintu kelas ada Reza, orang yang juga sulit dimengerti, mungkin saja jika Rita kutinggalkan, nantinya Reza malah mengatakan "Sobat, engkau tidak mengajaknya, itu artinya sobat-ku ini lebih suka denganku"... Pokoknya aku tidak ingin itu terjadi.
"Aku tinggalin yah!! Capek aku menunggumu!"
"Bentar dulu ...aku ingin menitip!"
"Cepetan lah! Lama sekali!.. Sebenarnya kau maunya apa?! Aku sudah naik darah nih!!"
Sebenarnya bukan gayaku memarahi perempuan, tetapi aku yang terbiasa menyendiri tidak suka berinteraksi dengan orang lain, mencoba menahan sabar pun aku tidak kuat.
"Boleh, aku ikut denganmu?! Tapi tunggu bentar ya!"
Entah berapa lama, aku menunggunya? Mungkin saat aku ke kantin sudah bel masuk pelajaran.
"Cepetan dikit! Sedang apa sih?!"
"Sedang mencari uang jajanku.. Tadi aku menaruhnya di kantong celana.. Tapi hilang entah kemana? Bisa bantu cari gak!?"
"Ya.. Aku bantu dah!"
Aku yang merasa 'Gentleman' akan sedikit membantunya, aku sebenarnya paling malas dengan yang namanya membantu orang lain terutama orang yang menganggapku teman, lagipula aku tidak ingin memiliki teman.
"Boleh pinjam uang dulu?! Nanti aku ganti." tanya Rita dengan tatapan melas
"Kapan mau gantinya?!"
"Kalo uang-ku sudah ketemu, pasti akan kukembalikan" Rita mengatakannya sambil tersenyum seolah dia mengetahui, pasti aku akan memberikannya uang
Kalo kupikir kembali, kapan uang-nya akan ketemu? Berapa yang akan ia pinjam? Jika dia meminjam uangku, aku akan makan apa? Semua pemikiran itu sudah tercampur aduk dalam pikiranku... Tetapi ada masih satu jalan keluar, Yaitu
"Woy, Reza! Boleh pinjamkan uang untuk Rita gak?!"
"Yoo --Sobat, engkau memanggilku? Mau ngomong apa?!"
Entah kenapa aku melihat Reza yang tidak merespon perkataanku.. Aku baru saja tersadar sepertinya otak Reza emang sudah mampet.. Bukan hanya otaknya saja, tetapi juga telinga-nya sudah 'Kadaluwarsa'.. Tetapi jika dipikir kembali, bagaimana cara Reza bisa masuk ke sekoah ini? Jika kebodohan-nya tidak berubah dari dulu.. Atau mungkin dia itu 'menyogok' pihak sekolah untuk menerimanya sekolah.. Yang itu artinya dia itu anak orang kaya.
"Reza, kesini dah! ..Boleh pinjam duit gak? Buat cewek yang ada didekatku ini" jariku menunjuk kearah Rita, karena kutahu Reza itu bodoh.. Jika tidak kuberitahu, mungkin saja ia malah berpikir ke hal yang tidak ada hubungannya.
"Boleh saja sih!! Tapi kenapa?~ Sobat, sepertinya sangat memperdulikannya?" Reza menggaruk kepalanya seperti orang yang sedikit bingung.
Oh~ya, jika dipikir kembali.. Kenapa aku sangat baik pada Rita? Apa mungkin karena dia itu perempuan?.. Tapi itu tidak mungkin, karena biasanya aku juga biasanya tidak pernah menghiraukan perempuan.. Tapi tunggu dulu.. Ada satu pemikiran lagi yang sebaiknya kuhindari.
Mungkin aku sudah jatuh cinta pada Rita! Pokoknya jangan sampai itu terjadi.. Aku akan mencintai wanita yang normal dan mengerti sifatku, bukan yang memanfaatkanku.
"Pokoknya begini, dah!.. Reza, kamu punya uang berapa?"
"Jika di saku baju ada 2 ribu.. Di kantong celana ada 2 ribu.. Di Kaos kaki ada 2 ribu.. Di dalam sepatu ada 2 ribu juga ...berarti semuanya.." Reza menghitung dengan gerak jari, padahal itu hal yang sangat mudah bagi anak SD sekalipun, lantasnya jari ada 10 jika dihitung 2x4=8 itu langsung selesai dalam waktu 1 detik. Tapi tanpa sadar aku menunggunya hampir 10 detik. "WOW Hebat...7 ribu!!" Reza mengatakannya dengan suara yang lantang seolah itu adalah hal yang luar biasa.
Tunggu! Apa aku salah dengar? Jika aku tidak salah dengar, maka jawabannya sudah jelas. Ternyata benar otaknya sudah kadaluwarsa.. Kenapa bisa hal mudah seperti itu bisa salah ..kacau banget nih orang ..bagaimana caranya ia bisa naik kelas? Dan juga gimana caranya dia mengerjakan ujian esay? Tapi ada satu hal yang lebih ingin kutanyakan, IQ-nya berapa? Apa mungkin sama dengan Kera.
"Woy,Rita!! Lu mau pinjam uang berapa?!"
"Sekitar lima ribu atau tujuh ribu lah!!"
Kenapa aku tidak menanyainya dulu ya!? Berapa uang yang diperlukan.. Jika hanya 7 ribu lebih baik aku yang meminjamkannya.
"Nih.. Duit tujuh ribu'kan!? Jadi ayo cepat!"
"Makasih banget! Pasti akan kubayar!.." mata Rita bersinar seprtinya didalam hatinya sudah tetanam rasa terima kasih yang begitu dalam.
"Lagipula kenapa aku harus bersikap baik padamu? Apa gunanya meningkatkan cara pandangmu terhadapku? Jika aku akan memulai kejadian aneh ini dan sampai ke ‘rute Rita’, lebih baik aku mati saja daripada berurusan denganmu."
"Hmm~Sudah kuduga! ...dari semua orang dikelas, cuma kamu yang jujur."
Aku adalah orang yang paling misterius diantara semua murid di sekolahku. Tetapi dari ratusan murid hanya Rita yang benar-benar mengenalku, begitu juga denganku, dari seluruh murid di Sekolah yang tahu rahasia Rita hanyalah aku, namun hal ini tidak bisa dibeberkan secara langsung, karena demi kelangsungan jalan cerita juga.
Reza langsung menarik kerah bajuku dari belakang, padahal kukira dia ini orang bodoh yang hanya bisa bengong.
"Yo --sobat, ayo cepet kita ke kantin! Sudah lapar nih.."
"Rita, Ayo Cepatlah!!"
Aku dan Rita jalan bersebelahan. Tapi entah mengapa aku memperhatikan Rita yang seperti kebingungan, kira-kira orang seperti dia sedang mengakhawatirkan apa ya? Semoga tidak ada hubungannya denganku.
Entah mengapa mulai detik ini, aku jadi ingin lebih menjauh dari yang namanya masa remaja. Jika dilihat kembali, aku tidak benar-benar menjadi penyendiri, lebih tepatnya aku adalah orang yang acuh.. Tapi mulai saat ini sebelum sifat Anti-sosialku bertambah parah, mungkin mencoba mengawasi orang-orang aneh akan lebih menarik.
Lebih baik memiliki teman sedikit tetapi mudah dipercaya dan setia, daripada teman yang banyak tetapi sulit dipercaya dan hanya memikirkan diri sendiri.
Ya, Tidak?!
Diubah oleh gublug.tolol 19-02-2017 20:17
0
