- Beranda
- Stories from the Heart
Diary Si Jomblo Perak (Cerita Cinta, Komedi, Plus Horror)
...
TS
dylancalista
Diary Si Jomblo Perak (Cerita Cinta, Komedi, Plus Horror)

Hay agan dan aganwati, salam kenal. Ane new bie nih di kaskus, jadi mohon bantuannya untuk kasih saran atau kritik kalau cerita ane nnti rada mulai ngebosenin atau nggak nyambung.
Ane mau nulis cerita nih, tentang kehidupan jomblo yang ane lakoni, selama 25 tahun! Ceritanya nggak real 100%, tapi ada beberapa scene yang emang asli ane alami, Oo yah, Nama Ane Evan, keren ya nama ane? tapi sama teman-teman ane sering diplesetin jadi Epan, Yah, biar ga lama-lama berbasa basi, kita mulai aja ya gan? cekidot.
Quote:
Klik me!
Prolog
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14 (1)
Part 14 (2)
Part 15 (1)
Part 15 (2)
Part 16
Part 17 (1)
Part 17(2)
Part 17(2)
Part 18(1)
Part 18(2)
Part 19(1)
Part 19(2)
Part 19(3)
Part 20
Part 21
Part 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 26(2)
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30(1)
Part 30(2)
Part 30(3)
Part 31(1)
Part 31(2)
Part 32(1)
Part 32(2)
Part 33
Part 34
Part 35
Part 36
Part 36(2)
Part 36(3)
Part 37(1)
Part 37(2)
Part 38(1)
Part 38(2)
Part 39
Part 40(1)
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44
Part 45
Part 46
Part 47
Diubah oleh dylancalista 27-03-2019 21:27
mrezapmrg97 dan 27 lainnya memberi reputasi
28
322.7K
1.1K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dylancalista
#547
Part 36 (3)
Pagi ini gua kembali ke rutinitas biasa, gua kembali ke kantor gua untuk siaran hari ini. Gua memasuki ruangan gua, baru saja gua duduk, gua langsung melihat ada notes di atas meja kerja gua. Gua bangkit berdiri dan mengikuti perintah dari notes itu. Gua mengetuk pintu coklat di ruangan pojok dekat tempat siaran. Tak lama kemudian gua dengar suara dari dalam yang meminta gua untuk masuk. Gua memasuki ruangan, kayak udah mau disidang. Gua melihat Bu Dena menatap gua dan mempersilakan gua duduk.
Bu Dena: Epan
Gua: Iya, Bu. Saya tahu, gaji saya dipotong kan, bu?
Bu Dena: Sudah pasti. Tapi ada pertanyaan yang harus saya tanyakan ke kamu juga
Gua: Apa, bu?
Bu Dena: kenapa kamu sering telat siaran dan kata kru kamu sering nggak konsen, dan kamu juga sering minta digantiin sama Dion, Kenapa?
Gua: Maaf, Bu. saya hanya lagi ada masalah keluarga
Bu Dena: Harus profesional dong, kamu kan dibayar. Masa kerja kayak gak niat gitu. Masih butuh pekerjaan?
Gua: Masih, Bu.
Bu Dena: Saya sebenarnya udah pingin mecat kamu, Van. Kalau bukan siaran kamu ratingnya bagus, pasti udah saya pecat kamu. Tapi, saya liat kamu itu punya bakat, sayang kalau kamu kerjanya ogah-ogahan gini. Tapi saya juga gak bisa tolerir kalau misalnya kamu suka bolos dan gak konsen, makanya tujuan saya manggil kamu, untuk mastiin, apa kamu masih mau bekerja di sini?
Gua: Saya masih butuh pekerjaan ini, Bu. Tapi saya...
Bu Dena: Apa?
Gua: kalau ibu kurang puas dengan kinerja saya, saya siap dikeluarkan.
Gua diam sambil menunggu jawaban Bu dena, gua juga ga tahu apa yang buat gua nekat gitu. Mungkin karna gua udah emang gak betah atau apalah, yang pasti gua juga sebenarnya sudah kurang nyaman bekerja dibawah tekanan dan gaji yang sering dipotong. Tapi gua juga deg-degan juga sih nunggu jawaban Bu Dena, karna kalau dia bilang oke, artinya gua harus nyari kerjaan mulai hari ini.
Bu Dena menatap gua dengan tatapan serius: Kamu serius minta dikeluarkan?
Gua: Ya, kalau Ibu menilai kinerja saya kurang, saya bisa apa lagi, Bu?
Bu dena: Kamu dapat tawaran dari radio lain? lebih besar gajinya?
Gua: Gak kok, Bu.
Bu Dena: Lalu dengan kata lain, kamu siap saya pecat?
Gua: Iya, kalau emang Ibu merasa kerjaan saya kurang bagus
Bu Dena: Ya sudah, selama seminggu ni, saya akan nilai kerjaan kamu. Kalau kamu masih belum menunjukkan perubahan, saya akan mengeluarkan kamu
Gua: Oke, Bu.
Gua keluar dari ruangan Bu Dena dengan perasaan campur aduk, ya wajar saja kayak berada diujung tanduk. Itu artinya, gua mesti cari kerjaan baru yang bisa menghidupi gua kalau gua dipecat nanti. Emang gua juga merasa sih, kerjaan gua kurang maksimal akhir-akhir ni. masalah datang silih berganti, buat gua makin nggak fokus sama hidup gua sendiri. Dan yah, gua rasa kerjaan gua ini nggak bisa menghidupi masa depan gua. Gua masuk ke ruangan gua dan membuka laptop gua, membuka dokumen curriculum vitae gua. Gak tahu mau melamar di mana, lulusan ekonomi yang pengalaman kerjanya di radio. Gua membuka linkend in gua, salah satu media sosial yang bisa membantu orang mencari pekerjaan. Dan gua mulai mengupdate cv gua, dering handphone mengagetkan gua. Dari Myanca.
Gua: Halo
Myanca: halo, van?
Gua: Ada apa, Ca?
Myanca: Kamu di mana?
Gua: Di kantor, kenapa?
Myanca: Lagi sibuk?
Gua: Belum sih, lagi nunggu jadwal siaran. Kenapa? Cici lu baik-baik aja kan?
Myanca: Iya, baik-baik aja. Aku cuma pingin ketemu kamu bentar nanti, boleh kan?
Gua: Boleh, kapan?
Myanca: Jam 4 nanti bisa? di kafe deket tempat kerja kamu?
Gua: Oke
Myanca: see you.
Gua meletakkan hp gua dan bergegas untuk memasuki ruangan siaran, di sana Mellyn dan Leandra udah menunggu gua, hari ni gua siaran dengan dua teman gua ini. Setelah siaran sekitar sejam lebih, akhirnya gua pun balik lagi ke ruangan gua karna dering hp gua.
Gua: Halo
xxx: Van, ini gua Angel
Gua: Ya? Kenapa jel?
Angel: Soal permintaan lu waktu itu. Gua rasa, gua bisa bantu lu.
Gua: Kenapa lu tiba-tiba mau bantu gua?
Angel: Temuin gua jam 3 sore nanti, biar gua jelasin ke lu, Di kafe deket apartemen lu ya. Bye.
Gua: Oke.
Gua segera kembali ke ruangan siaran untuk menuntaskan siaran gua berikutnya. Siaran gua berikutnya bersama Dion. Gua pun segera menyelesaikan siaran secepatnya agar gua bisa segera pulang.
Begitu gua sampai di kafe dekat apartemen gua, Angel sudah di sana. Gua hampiri dia.
Gua: Jel
Angel: Van,
Gua: Soal masalah tadi, kenapa lu tiba-tiba mau bantu gua?
Angel: Tadi malam, gua mimpi didatangi sama temen lu itu
Gua: temen gua?
Angel mengangguk pelan: Iya, temen lu yang sama-sama lu di pesawat
Gua: Maksud lu Kayla?
Angel: Gua nggak tahu namanya tapi dia datang ke mimpi gua dan dia minta bantuan gua
Saking gua paniknya gua sampai mencengkram tangan Angel: Dia gimana kabarnya, jel? apa dia baik-baik aja? Dia bilang apa? Dia minta bantuan apa?
Angel melepaskan cengkraman tangan gua: sakit banget, Van. Intinya, dia minta bantuan gua untuk membebaskan dia
Gua: Dia dalam bahaya?
Angel: Gua nggak tahu, Van. Hanya saja, gua merasa gua perlu bantu dia
Gua: Jel, lu harus pertemuin gua sama dia, Jel.
Angel: Sebenarnya, gua nggak mau cerita ini ke lu, Van. Tapi ntah mengapa gua merasa, gua harus bantu dia.
Gua: Kapan lu bisa bantu gua, Jel? Bentar 3 hari lagi dia seratus hari, Jel.
Angel: Yang pasti, kita mesti tahu di mana tubuhnya berada, Van.
Gua: itu bakal memakan waktu lama, Jel. paling nggak kita mesti menyelamatkan jiwanya dulu, Jel.
Angel: Tapi apa lu yakin, akan ke sana Van?
Gua: Jel, lu pernah suka sama seseorang?
Angel mengangguk pelan: Ya
Gua: Kalau lu pernah suka sama seseorang, lu pasti tahu rasa sakitnya kalau kehilangan orang yang lu sayang. Tanpa kabar. Dan jel, gua merasa gua bisa membantu Kayla, Jel. Gua nggak mau dicelaka, Jel.
Angel: Tapi...
Gua: Jel, waktu dia hanya 3 hari lagi.
Angel terdiam dan menatap gua ragu, gua masih mencoba menyakinkan dia kalau gua siap untuk menghadapi apapun asal bisa bertemu Kayla.
Angel: Oke, kapan lu siap?
Gua: Kapan aja gua siap
Angel mengangguk pelan: Oke besok lu datang ke alamat gua yang gua kasih di kartu nama gua ya. Malam ni seharian lu mesti meditasi dan pikiran lu harus fokus. Jangan keluar dari apartemen lu untuk memastikan tubuh lu beristirahat total malam ni. Oke?
Gua: oke, jel.
Pagi ini gua kembali ke rutinitas biasa, gua kembali ke kantor gua untuk siaran hari ini. Gua memasuki ruangan gua, baru saja gua duduk, gua langsung melihat ada notes di atas meja kerja gua. Gua bangkit berdiri dan mengikuti perintah dari notes itu. Gua mengetuk pintu coklat di ruangan pojok dekat tempat siaran. Tak lama kemudian gua dengar suara dari dalam yang meminta gua untuk masuk. Gua memasuki ruangan, kayak udah mau disidang. Gua melihat Bu Dena menatap gua dan mempersilakan gua duduk.
Bu Dena: Epan
Gua: Iya, Bu. Saya tahu, gaji saya dipotong kan, bu?
Bu Dena: Sudah pasti. Tapi ada pertanyaan yang harus saya tanyakan ke kamu juga
Gua: Apa, bu?
Bu Dena: kenapa kamu sering telat siaran dan kata kru kamu sering nggak konsen, dan kamu juga sering minta digantiin sama Dion, Kenapa?
Gua: Maaf, Bu. saya hanya lagi ada masalah keluarga
Bu Dena: Harus profesional dong, kamu kan dibayar. Masa kerja kayak gak niat gitu. Masih butuh pekerjaan?
Gua: Masih, Bu.
Bu Dena: Saya sebenarnya udah pingin mecat kamu, Van. Kalau bukan siaran kamu ratingnya bagus, pasti udah saya pecat kamu. Tapi, saya liat kamu itu punya bakat, sayang kalau kamu kerjanya ogah-ogahan gini. Tapi saya juga gak bisa tolerir kalau misalnya kamu suka bolos dan gak konsen, makanya tujuan saya manggil kamu, untuk mastiin, apa kamu masih mau bekerja di sini?
Gua: Saya masih butuh pekerjaan ini, Bu. Tapi saya...
Bu Dena: Apa?
Gua: kalau ibu kurang puas dengan kinerja saya, saya siap dikeluarkan.
Gua diam sambil menunggu jawaban Bu dena, gua juga ga tahu apa yang buat gua nekat gitu. Mungkin karna gua udah emang gak betah atau apalah, yang pasti gua juga sebenarnya sudah kurang nyaman bekerja dibawah tekanan dan gaji yang sering dipotong. Tapi gua juga deg-degan juga sih nunggu jawaban Bu Dena, karna kalau dia bilang oke, artinya gua harus nyari kerjaan mulai hari ini.
Bu Dena menatap gua dengan tatapan serius: Kamu serius minta dikeluarkan?
Gua: Ya, kalau Ibu menilai kinerja saya kurang, saya bisa apa lagi, Bu?
Bu dena: Kamu dapat tawaran dari radio lain? lebih besar gajinya?
Gua: Gak kok, Bu.
Bu Dena: Lalu dengan kata lain, kamu siap saya pecat?
Gua: Iya, kalau emang Ibu merasa kerjaan saya kurang bagus
Bu Dena: Ya sudah, selama seminggu ni, saya akan nilai kerjaan kamu. Kalau kamu masih belum menunjukkan perubahan, saya akan mengeluarkan kamu
Gua: Oke, Bu.
Gua keluar dari ruangan Bu Dena dengan perasaan campur aduk, ya wajar saja kayak berada diujung tanduk. Itu artinya, gua mesti cari kerjaan baru yang bisa menghidupi gua kalau gua dipecat nanti. Emang gua juga merasa sih, kerjaan gua kurang maksimal akhir-akhir ni. masalah datang silih berganti, buat gua makin nggak fokus sama hidup gua sendiri. Dan yah, gua rasa kerjaan gua ini nggak bisa menghidupi masa depan gua. Gua masuk ke ruangan gua dan membuka laptop gua, membuka dokumen curriculum vitae gua. Gak tahu mau melamar di mana, lulusan ekonomi yang pengalaman kerjanya di radio. Gua membuka linkend in gua, salah satu media sosial yang bisa membantu orang mencari pekerjaan. Dan gua mulai mengupdate cv gua, dering handphone mengagetkan gua. Dari Myanca.
Gua: Halo
Myanca: halo, van?
Gua: Ada apa, Ca?
Myanca: Kamu di mana?
Gua: Di kantor, kenapa?
Myanca: Lagi sibuk?
Gua: Belum sih, lagi nunggu jadwal siaran. Kenapa? Cici lu baik-baik aja kan?
Myanca: Iya, baik-baik aja. Aku cuma pingin ketemu kamu bentar nanti, boleh kan?
Gua: Boleh, kapan?
Myanca: Jam 4 nanti bisa? di kafe deket tempat kerja kamu?
Gua: Oke
Myanca: see you.
Gua meletakkan hp gua dan bergegas untuk memasuki ruangan siaran, di sana Mellyn dan Leandra udah menunggu gua, hari ni gua siaran dengan dua teman gua ini. Setelah siaran sekitar sejam lebih, akhirnya gua pun balik lagi ke ruangan gua karna dering hp gua.
Gua: Halo
xxx: Van, ini gua Angel
Gua: Ya? Kenapa jel?
Angel: Soal permintaan lu waktu itu. Gua rasa, gua bisa bantu lu.
Gua: Kenapa lu tiba-tiba mau bantu gua?
Angel: Temuin gua jam 3 sore nanti, biar gua jelasin ke lu, Di kafe deket apartemen lu ya. Bye.
Gua: Oke.
Gua segera kembali ke ruangan siaran untuk menuntaskan siaran gua berikutnya. Siaran gua berikutnya bersama Dion. Gua pun segera menyelesaikan siaran secepatnya agar gua bisa segera pulang.
****
Begitu gua sampai di kafe dekat apartemen gua, Angel sudah di sana. Gua hampiri dia.
Gua: Jel
Angel: Van,
Gua: Soal masalah tadi, kenapa lu tiba-tiba mau bantu gua?
Angel: Tadi malam, gua mimpi didatangi sama temen lu itu
Gua: temen gua?
Angel mengangguk pelan: Iya, temen lu yang sama-sama lu di pesawat
Gua: Maksud lu Kayla?
Angel: Gua nggak tahu namanya tapi dia datang ke mimpi gua dan dia minta bantuan gua
Saking gua paniknya gua sampai mencengkram tangan Angel: Dia gimana kabarnya, jel? apa dia baik-baik aja? Dia bilang apa? Dia minta bantuan apa?
Angel melepaskan cengkraman tangan gua: sakit banget, Van. Intinya, dia minta bantuan gua untuk membebaskan dia
Gua: Dia dalam bahaya?
Angel: Gua nggak tahu, Van. Hanya saja, gua merasa gua perlu bantu dia
Gua: Jel, lu harus pertemuin gua sama dia, Jel.
Angel: Sebenarnya, gua nggak mau cerita ini ke lu, Van. Tapi ntah mengapa gua merasa, gua harus bantu dia.
Gua: Kapan lu bisa bantu gua, Jel? Bentar 3 hari lagi dia seratus hari, Jel.
Angel: Yang pasti, kita mesti tahu di mana tubuhnya berada, Van.
Gua: itu bakal memakan waktu lama, Jel. paling nggak kita mesti menyelamatkan jiwanya dulu, Jel.
Angel: Tapi apa lu yakin, akan ke sana Van?
Gua: Jel, lu pernah suka sama seseorang?
Angel mengangguk pelan: Ya
Gua: Kalau lu pernah suka sama seseorang, lu pasti tahu rasa sakitnya kalau kehilangan orang yang lu sayang. Tanpa kabar. Dan jel, gua merasa gua bisa membantu Kayla, Jel. Gua nggak mau dicelaka, Jel.
Angel: Tapi...
Gua: Jel, waktu dia hanya 3 hari lagi.
Angel terdiam dan menatap gua ragu, gua masih mencoba menyakinkan dia kalau gua siap untuk menghadapi apapun asal bisa bertemu Kayla.
Angel: Oke, kapan lu siap?
Gua: Kapan aja gua siap
Angel mengangguk pelan: Oke besok lu datang ke alamat gua yang gua kasih di kartu nama gua ya. Malam ni seharian lu mesti meditasi dan pikiran lu harus fokus. Jangan keluar dari apartemen lu untuk memastikan tubuh lu beristirahat total malam ni. Oke?
Gua: oke, jel.
Diubah oleh dylancalista 19-02-2017 20:51
adityazafrans dan 4 lainnya memberi reputasi
5
