Kaskus

Story

aboutmypastAvatar border
TS
aboutmypast
A (REAL) STORY of MY PAST
PROLOG

Salam semua
Gw ngaskus sudah lama banget. Gw kenal kaskus sejak tahun 2004, tapi baru registered tahun 2012. Sebelumnya, gw selalu login ke Kaskus dengan id "jamaah", id yang dipake bareng-bareng ama temen-teman kantor. Kebayang dong, tahun 2004, gw udah "ngantor", artinya agan2 semua, n aganwati semua bisa perkirakan umur gw...hehehe emoticon-Malu (S)

Punya ID sendiri resmi tahun 2012, itupun jarang gw pake signin ke kaskus. Entah kenapa, gw lebih menikmati posisi sebagai silent reader, yang bebas kemanapun, dan gak bisa kasih komen. Bukan nggak ngehargain yang sudah susah-susah ngeluangin waktu buat treat, tapi karena gw nggak mau "tersandera" pada keinginan melihat "komen dari komen gw".

Akhirnya, ID resmi pertama gw resmi dipakai temen, buat ngejar postingan...hehehe.

Skip

Kurang lebih dua bulan yang lalu, gw terdampar di forum SftH ini. dan gw tertarik untuk baca banyak cerita. Hingga, hari ini, gw memutuskan untuk bikin ID baru, dan pengen share ke agan2 semua (aganwati juga), tentang sebuah cerita masa lalu gw (pas jaman masih sangat muda dulu).

Ada cerita indah, pahit, manis, nakal, kurang ajar, lengkap, karena insya Allah ini real. Tidak ada maksud mengumbar aib sendiri, karena insya Allah, semua nama disamarkan, termasuk nama TS sendiri. Bagaimanapun, ini masa lalu gw, dan gw punya kehidupan "normal" sekarang.

Setting cerita ini di Jogja, sekitar tahun 1993 - 2008. Rentang yang cukup panjang, yang semoga akan ada banyak hikmah yang bisa kita ambil bareng.

Ane memutuskan menulis ini di Kaskus, karena ini nggak mungkin ane ceritain di dunia nyata, karena di dunia nyata, ane memilih menyimpan cerita ini, sebagai rahasia diri, yang gw nikmatin sendiri.

So, hope you all would enjoy this.
First story, would be started, right away...
Salam

aboutmypast

NB: Buat agan2 kaskuser yang udah jago, tolongin ane yak.
Babar blas nggak ngerti cara bikin index n spoiler.
Thanks all.

Thank you for Agan luckyismine untuk Index-nya

I N D E X

Diubah oleh aboutmypast 15-07-2014 16:16
anasabilaAvatar border
strangerfdotnetAvatar border
strangerfdotnet dan anasabila memberi reputasi
2
464.4K
2.5K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
aboutmypastAvatar border
TS
aboutmypast
#2026
STRIKING
"May..."
"Hmm..."
Jilbabnya bergoyang pelan, seiring gerakan lembutnya, menoleh ke arah gue.
Dan as always, kata-kata gue nyangkut di tenggorokan.
"Damn!"
Gue baru sadar, gue bener-bener jatuh cinta dengan gadis ini. Situasi ini pernah gue rasakan dulu.
Satu hal yang bikin gue sakit, potensi gue untuk 'terkapar', lebih parah, lebih sakit.
Sayang, entah ini logika gue, atau gengsi, atau jeratan cinta yang benar-benar memaksa gue untuk maju terus.

"Mas...?"
Maya memanggil pelan. Sayup suara TV terdengar kembali, setelah beberapa microseconds, dunia gue seperti sedang di mute.
Sentuhan ringan di lutut gue, menyadarkan gue dari ketidaksadaran sesaat. Kaget.
"Kok malah bengong?"
"Eh..." gue sesaat kebingungan. Jam terbang yang lumayan tinggi, membuat recovery gue dari kebingungan dapat berlangsung sangat cepat.
"Nggak apa-apa..." gue menarik nafas dalam. Lalu menghembuskan.
Menggeser duduk, sedikit ke bagian seperempat lingkaran dari sofa sudut ini. Mendekatinya.
Maya tak beranjak. Hanya menatap gue dengan penuh tanya.

"Kapan terakhir gue bilang, kalau gue masih sayang kamu..." kata gue setengah berbisik. Jelas, ini bukan percakapan yang gue pengen banyak orang dengar. Sementara gue tahu, di ruang sebelah, mungkin ada telinga yang sedang mendengarkan, entah sengaja, atau tidak, percakapan kami.
Mata Maya terbelalak sesaat.
Bukan pertanyaan yang siap untuk dijawabnya, pasti.
Maya menoleh. Ke depan. Sama seperti gue.
Mata kami menembus kegelapan dibalik kaca ruang tamu ini.

Maya menghela nafas.
"Kenapa mas tanya itu?"
Gue tertawa kecil. Entah mentertawakan apa. Lalu menggeleng, dan menoleh kembali ke Maya, yang pada saat yang sama, juga mengalihkan pandangan dari kaca depan, ke gue.
Tatapan kami beradu sejenak.
"Gue udah nggak ingat itu kapan..." kata gue lagi.
"Sekedar memastikan, bahwa itu..." gue berhenti sejenak. Menatap wajah cantik didepan gue.
"...itu bukan yang terakhir..."

Maya tersenyum tipis mendengar kalimat terakhir gue.
Menoleh kedepan. Tangannya bergerak membenahi jilbabnya. Kemudian menunduk.
"...aku tahu mas..."

Lalu kami, larut dalam kediaman.
Sibuk dengan pikiran masing-masing.

***

"Kamu kapan berangkat KKN?"
Maya merubah posisi duduknya. Kakinya bersila di sofa.
Seperti yang gue duga, meski cantik, Maya punya karakter asli yang sedikit tomboy. Cara duduk ini menunjukkan kebenaran hipotesis gue.
Tentu, kebetulan karena sofa sudut tempat kami duduk, memungkinkan buatnya melakukan itu.
"Dua minggu lagi..."
Gue mengangguk kecil. Meski sebenarnya gue udah tahu, dan sangat tahu jadwal keberangkatannya, gue merasa cukup perlu untuk tanya langsung.

"Dua bulan May..."
Maya menatap gue.
Gue menggeser duduk. Sedikit menjauhinya. Keingiinan berlama-lama menatapnya, membuat gue sadar, posisi duduk siku-siku adalah posisi ideal. Nggak jauh, masih terasa cukup dekat, tetapi gue nggak kehilangan pemandangan yang gue selalu tunggu. Termasuk gerakan-gerakan "world-stopper' nya, yang buat gue yang sedang mabuk kepayang, terasa sangat anggun. Memabukkan.

"Dua bulan..." lanjut gue. "Bukan waktu yang pendek."
"Akan banyak orang baru yang akan intens bersama kamu, di tempat kalian sana."
"Akan banyak orang yang coba deket kamu..." gue menghentikan kata-kata gue sejenak. menghela nafas.
"...dan..." kata gue lagi, "makin besar potensi gue untuk kehilangan kamu..."
Maya diam. Jemarinya memainkan ujung jilbabnya.
"Akan makin berat usaha gue buat ngedapetin cinta kamu..."
Gue nyengir, kecut. Menatap wajah didepan gue, yang lebih banyak tertunduk.

"Gue takut May..." lanjut gue lagi.
Maya mengangkat mukanya, menghentikan aktivitas yang dia lakukan. Menatap gue.
Pandangannya terlihat cukup tajam. Meski gue menangkap ada semburat kesedihan dibalik tajamnya pandangan itu.
"Kamu nggak akan kehilangan aku mas..." Maya akhirnya bersuara.
Gue diem.
"Mas harus inget..." katanya lagi.
"Tidak ada apa-apa diantara kita..." katanya tajam, meski kalimatnya terdengar bergetar.
Maya menarik nafas.
"Kamu nggak akan kehilangan, karena kamu belum memiliki aku mas..." kalimat terakhir terdengar lirih.
Meski terdengar menusuk buat gue, gue menangkap ada selaput kaca di kedua mata Maya, yang coba disamarkannya dengan menoleh ke tempat lain. Sayang, nggak cukup cepat.

"Belum," kata gue tegas.
Maya menoleh ke gue. Gagal menyembunyikan matanya yang tampak berkaca-kaca. Meski gue nggak tahu karena apa.
"Seperti katamu tadi May..." kata gue kemudian, sambil sedikit senyum. "Cuma belum..."

Maya memandangi gue dengan pandangan tak percaya.
"Sampai kapan kamu akan terus berpikir seperti ini mas?"
"Sampai gue yakin, bahwa usaha gue untuk mendapatkan kamu memang mentok" sahut gue lagi.
"Sampai saat itu tiba, maka, gue, nggak akan berhenti mengusahakan itu."

Kami kembali terdiam.
"Kamu tahu May..." kata gue memecah kediaman. "Seperti apa cara berusaha mendapatkan orang yang kucintai..."
Maya menoleh sekilas. Lalu kembali menundukkan kepalanya. Ujung jilbabnya kembali menjadi korban.
"Itu pernah gue lakuin..." lanjut gue. Gue menatap lurus ke Maya.
"Lihat gue May..."
Maya mengangkat muka, menatap gue. Genangan disudut matanya sudah pecah. Anak sungai itu sudah muncul.
"Gue pastikan akan gue lakuin lagi..." kata gue lagi.
"...buat kamu..."
Maya cuma menatap gue. Matanya kembali berair.

***

"Sudah malam May..." kata gue memecah keheningan.
Sudah cukup drama malam ini. Gue lelah, seperti halnya Maya.
Emosi kami berdua banyak teraduk-aduk.
Dan gue memutuskan buat pamit pulang.
Maya mengangguk. Tangannya bergerak ke arah mata.
Menyapu bekas linangan air matanya. Kemudian senyum, sembari membetulkan jilbabnya. Menghadirkan kembali pemandangan memabukkan, pengantar yang indah untuk menutup malam ini.

"Gue pulang May..."
Maya mengangguk lagi.
"Ati-ati mas..."
Gue mengangguk sambil bangkit.
"Pamitin ya..." kata gue setengah berbisik, disambut anggukan Maya lagi.

"Assalamu'alaikum"
"Waalaikum salam" sahut Maya pelan, tertahan, sedikit serak.

Gue naik motor.
Maya menatap dari pintu ruang tamu, yang hanya berjarak beberapa meter dari motor gue.
"Breeem...brrrreem...!"
Tiger gue meraung pelan, memecah keheningan malam ini.
Lampu motor menyala, memberikan tanda bahwa gue siap jalan.
Gue menatap Maya sembari memasang helm. Ngangguk.
Maya menatap gue.
Tangan kanannya melambai pelan.

Dan gue melepas kopling motor pelan, lalu menghilang ditelan gelap malam.

Sampai bertemu besok Cinta!

to be continued
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.