- Beranda
- Stories from the Heart
Biro Detektif Supranatural PSYCH: Prince Charming #2
...
TS
dianmaya2002
Biro Detektif Supranatural PSYCH: Prince Charming #2
Biro Detektif Supranatural PSYCH: Prince Charming #2
Erick dan Darren kembali dihadapkan dengan seorang psikopat gila pecinta Disney Princess yang menyebut dirinya sebagai PRINCE CHARMING. Korban - korbannya selalu ditemukan dalam berbagai tema Disney Princess, seperti Stella Magnolia yang ditemukan ditepi dermaga dalam balutan kostum mermaid seperti Princess Ariel.
Apakah duo detektif ini dapat menghentikan kegilaan Prince Charming?
Apakah duo detektif ini dapat menghentikan kegilaan Prince Charming?
Hai Agan dan Aganwati...
Ane balik lagi nih buat posting sequel nya Biro Detektif Supranatural PSYCH
Yang masih penasaran sama Mbak Samantha Reindhaard bakal ane buat tambah penasaran lagi...
ini akun wattpad ane Anthazagoraphobia
karya ane:
Biro Detektif Supranatural PSYCH : Pieces #1
The Haunted Hotel La Chandelier
bagi cendol dan rate nya ya
DAFTAR ISI
Spoiler for Index:
Diubah oleh dianmaya2002 07-03-2017 20:20
zeref13 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
17.1K
Kutip
80
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dianmaya2002
#38
Spoiler for 14:
"Jika aku adalah dirimu lebih baik aku segera pergi dari sini karena ia lebih mengerikan dibanding diriku."
-Luna The Succubus-
***
Peringatan Luna sama sekali tidak digubris oleh mereka bertiga. Setelah berjalan selama 15 menit, akhirnya mereka tiba di gedung utama Metropolis Abandoned Botanical Garden. Darren menyorotkan senternya ke arah bangunan tersebut. Terlihat beberapa coretan grafiti yang menghiasi dinding bangunan yang didominasi oleh batu bata itu.
Beberapa jendela tampak tak berkaca hingga dipenuhi oleh jaring laba – laba. Mereka tidak sadar bahwa seseorang tengah memperhatikan gerak – gerik mereka dari balik pilar jendela tersebut seakan menunggu waktu yang tepat untuk menampakkan diri. Samantha yang menyadari hal itu langsung mengarahkan kedua matanya kearah pilar jendela tersebut namun ia tak menemukan apa pun.
"Kita masuk lewat jendela saja." ujar Darren menunjuk jendela besar tak berkaca yang terdapat disamping pintu masuk. Erick dan Samantha hanya mengangguk.
Luna semakin gelisah hingga membuat dirinya memeluk Erick erat dengan menancapkan cakar – cakarnya dijaket Erick. Pria itu menyadari gelagat Luna yang aneh namun membiarkannya. Ia merasakan ada aura aneh yang menyelubungi bangunan tersebut.
Mereka melewati ruangan demi ruangan yang kosong terbengkalai. Hingga pada akhirnya mereka tiba disebuah ruangan yang luas dengan ratusan kursi lapuk didalamnya.
"Sepertinya ruangan ini dulu digunakan sebagai aula." Ujar Erick melangkah masuk kedalamnya diikuti oleh Darren dan Samantha.
Pintu masuk ruangan tersebut tertutup dengan suara debuman yang cukup keras hingga mereka bertiga terkunci didalam ruangan tersebut.
"Sialan!" umpat Erick.
Tak lama kemudian, seluruh tempat duduk yang ada diruangan itu diduduki oleh puluhan mahluk menyerupai manusia yang ditutup oleh kain lebar berwarna putih kusam lengkap dengan bercak darah tepat dibagian kedua mata mereka. Seluruh mahluk itu menatap tajam mereka bertiga dari balik kain penutup tersebut.
"Mahluk apa itu?" tanya Darren penasaran.
"Lady in White." Jelas Luna sambil menyembulkan kepala mungilnya dari jaket Erick. "Dulunya mereka adalah manusia seperti kalian namun mereka mati dengan cara mengenaskan hingga arwah mereka masih terikat ditempat ini."
"Kita jalan kearah pintu perlahan!" ujar Erick dengan suara lirih.
Mereka bertiga berjalan perlahan menuju pintu tanpa suara diikuti tatapan tajam para mahluk tersebut. Mahluk aneh tersebut hanya menatap mereka bertiga tanpa bergerak sedikit pun dari tempatnya. Namun tanpa sengaja Darren menginjak sebuah botol plastik hingga mengeluarkan suara. Hal itu membuat Erick dan Samantha menghentikan langkahnya lalu menatap Darren dengan garang.
"Sorry!" ujar Darren meminta maaf.
Kini semua mahluk itu melayang diatas kursinya masing – masing dengan tubuh menghadap mereka bertiga. Darren, Erick dan Samantha dapat melihat dengan jelas kaki – kaki kaku nan pucat milik mahluk tersebut dari balik kain putih kusam yang tersingkap begitu saja.
"Ini bukan pertanda baik!" ujar Erick sambil menatap ngeri fenomena yang tengah terjadi dihadapannya.
Tangan mahluk tersebut memiliki jari – jari yang aneh. Jari telunjuk dan jari tengah mereka menyatu begitu pula dengan jari manis dan kelingking. Jari – jari aneh tersebut dilengkapi dengan kuku – kuku runcing berwarna kehitaman yang sangat tajam. Siap untuk mengoyak tubuh lawan kapan saja.
Darren, Samantha dan Erick menatap ngeri penampakan yang tengah berlangsung dihadapan mereka. Luna yang melihat hal itu langsung masuk kedalam jaket Erick untuk bersembunyi.
"Sial! Pintunya tidak dapat dibuka sama sekali." ujar Erick panik sambil menarik gagang pintu yang tertutup tersebut.
"Kau kan punya kekuatan super masa tidak bisa membuka pintu ini!" teriak Darren panik.
"Tidak ada cara lain! Kita harus melawan mereka." ujar Samantha santai sambil mengeluarkan pisau kecil yang selalu ia selipkan dibalik sepatu bootnya.
Darren mengeluarkan seplastik garam laut yang selalu ia simpan dibalik jaketnya. Erick yang melihat itu hanya terkekeh geli.
"Apa?!" ujar Darren sambil menatap Erick dengan kedua mata tajamnya. "Sejak berpartner denganmu, aku selalu merasa aman jika membawa garam laut kemana pun aku pergi."
Garam laut memiliki aura positif yang dapat menghalau mahluk halus dan juga sering sekali digunakan sebagai media untuk membuat pagar gaib. Aura positif tersebut akan berbenturan dengan aura negatif yang dikeluarkan oleh mahluk halus dan semacamnya. Namun jika yang dihadapi oleh mereka adalah mahluk halus tingkat tinggi, sepertinya tidak akan berefek sama sekali contohnya saat Darren melempar sesosok kuntilanak merah saat akan mengambil tanah kuburan. Mahluk tersebut marah dan hampir saja mencelakai Devon.
(searching aja di google kalo gak percaya... makanya author sering bawa garem kalo kemping, bukan Cuma buat ngusir lintah, siput, kelabang dll tapi juga buat ngelempar demit XD) *Abaikan Note ini*
Kini seluruh mahluk berjubah putih tersebut tengah mengepung mereka hingga membuat kondisi Erick, Darren dan Samantha benar – benar terpojok. Darren melempar garam laut kearah mereka dan membuat tubuh mahluk tersebut terbakar hingga hangus. Darren pun tersenyum lebar.
"Jangan senang dulu! Jumlah mereka masih banyak." Cibiran Erick membuat senyum diwajah Darren lenyap seketika.
"Seharusnya aku membawa lebih banyak bungkusan garam."
"Bagus sekali Darren! kau membuat mereka semakin marah." Desis Samantha kesal.
Mahluk – mahluk itu mulai mengeluarkan suara seperti ratapan kesedihan yang amat pilu. Syarat akan kemarahan. Kini semua mahluk tersebut menukik kearah mereka bertiga. Menyerang dari berbagai arah. Entah mengapa kekuatan magic Erick dan Samantha tidak dapat digunakan sama sekali. Artinya mereka harus melawan mahluk – mahluk tersebut secara manual.
Nafas Erick terengah – engah. Tenaganya terkuras habis. Beberapa luka sayatan menghiasi lengannya. Luka Erick cukup dalam hingga darahnya mengucur deras dan membasahi jaket yang dikenakannya. Keadaan Darren dan Samantha pun tak kalah memprihatinkan. Luka sayatan kuku tajam yang berasal dari mahluk tersebut menghiasi beberapa bagian tubuh mereka berdua. Luna sendiri masih setia bersembunyi didalam jaket Erick. Ia enggan untuk menampakkan dirinya.
"Aku sudah tidak kuat lagi!" keluh Darren. "Garamku pun sudah habis!"
"Semoga saja ada sebuah keajaiban." Jawab Erick sambil menyeka peluhnya dengan telapak tangan kanannya.
"Berharap saja ada malaikat turun dari langit untuk menolong kita." Cibir Luna yang tiba – tiba menyembulkan kepalanya dari dalam jaket Erick.
"Jaga ucapanmu kucing kecil!" balas Erick kesal.
"Siapa suruh kau masuk ruangan ini! Dasar manusia bodoh!"
Dilain tempat, Devon dan Azka telah sampai di depan Metropolis Abandoned Botanical Garden. Mata mereka berdua tertuju pada mobil milik Erick.
"Mereka pasti sudah ada didalam." Ujar Devon pada Azka yang berdiri disebelahnya.
"Sebaiknya kita menyusul mereka."
"Tunggu! Aku ambil peralatanku dulu."
Devon membuka bagasi mobilnya lalu mengambil lima buah senjata tajam seperti samurai, golok, katana, dan sebuah zombie knife yang tergolong kedalam senjata ilegal. Zombie knife adalah pisau yang memiliki gagang melengkung dengan beberapa sisi tajam dan dapat menyebabkan luka yang sangat parah karena 'damage' yang ditimbulkan. Pisau ini hanya dijual dipasar gelap dan biasanya digunakan oleh para gangster jalanan karena penampilannya menakutkan.
"Kau pakai ini!" Devon menyerahkan sebuah samurai pada Azka.
"Apa kita akan melawan iblis seperti waktu itu?"
"Jangan banyak tanya! Pakai saja itu untuk melindungi dirimu."
Azka hanya mengangguk lalu meraih samurai bersarung hitam yang diberikan oleh Devon. Kemudian mereka berdua memasuki Metropolis Abandoned Botanical Garden yang menebarkan aura sunyi nan mencekam. Pengalaman menegangkan yang dialami oleh mereka sebelumnya membuat keduanya semakin waspada. Jangan sampai hal mengerikan yang sempat memporak – porandakan kesatuannya terulang kembali.
Mereka berjalan memasuki bangunan berdinding batu bata dengan berbagai grafiti yang menghiasi dindingnya. Dari kejauhan Azka dan Devon mendengar suara – suara gaduh seperti suara benda yang dilempar begitu saja. Mereka berlari menuju tempat yang menjadi sumber kegaduhan tersebut. Langkah mereka berdua terhenti didepan sebuah pintu yang tertutup rapat.
"Apa kita harus masuk kedalam sana?" tanya Azka pada Devon yang ada dihadapannya.
"Kita harus mengeceknya." Jawab Azka sambil meraih gagang pintu itu.
Sayangnya pintu tersebut tidak dapat terbuka. Akhirnya Azka pun mendobraknya hingga pintu tersebut terbuka lebar dan memperlihatkan pemandangan amat mengerikan yang tidak lain adalah tiga orang yang terkepung oleh mahluk berkuku runcing. Jangan ditanya lagi bahwa keadaan ketiga orang itu sangat berantakan dengan luka sayatan mengerikan disekujur tubuh mereka.
Devon menyayat telapak tangannya hingga berdarah dengan katana yang ada digenggaman tangannya. Azka yang melihat hal itu hanya bergidik ngeri.
"Ini adalah satu – satunya cara untuk menghancurkan mahluk bernama Lady in White itu." Jelas Devon pada Azka disebelahnya. "Kau juga harus melakukannya jika tidak maka mereka tidak akan lenyap."
Azka mengangguk lalu melakukan hal yang sama seperti yang Devon lakukan. Menyayat telapak tangannya dan melumuri samurai miliknya dengan darahnya sendiri. Setelah itu mereka langsung melangkah maju dan menebas mahluk – mahluk tersebut hingga musnah tak berbekas.
"Kalian bertiga tidak apa – apa?" tanya Azka pada mereka bertiga.
"Kami baik – baik saja! Terima kasih karena telah menyelamatkan kami bertiga." Jawab Erick tulus.
Devon menyerahkan zombie knife miliknya pada Samantha dan sebuah golok besar pada Darren. Sedangkan Erick mendapatkan sepasang katana untuk melindungi dirinya.
"Waktu kita semakin sempit. Sebaiknya kita pergi sekarang." Ajak Devon.
Kini mereka berjalan diantara rumah – rumah kaca yang dulunya digunakan sebagai tempat bercocok tanaman tumbuhan – tumbuhan langka dan juga berbagai tanaman hasil persilangan yang ditemukan oleh para botanis.
Tanpa disadari olehnya sebuah sulur tanaman rambat menarik kaki Azka hingga tubuhnya jatuh telentang dilantai lalu menyeretnya dengan cepat. Samantha, Devon, Erick dan Darren pun mengejarnya hingga mereka berempat tiba disebuah ruangan yang dulunya dijadikan sebagai salah satu tempat budidaya tanaman langka. Namun sekarang ruangan tersebut terbengkalai dan ditumbuhi oleh tumbuhan liar setinggi pinggang pria dewasa.
Erick mengarahkan senternya pada sebuah plang dan mulai membaca tulisan yang tertulis disana.
"Dionaea muscipula." Ujarnya pelan. "Sepertinya aku pernah mendengar nama itu tapi aku lupa dimana aku pernah mendengarnya."
"Venus Flytrap." Bisik Samantha pelan sambil menengadahkan kepalanya. Memandang sesosok mahluk setinggi tiga meter dengan gigi – gigi yang menyerupai gerigi tajam.
Siap untuk menelan mangsanya yang tidak lain adalah Azka yang tergantung terbalik dengan kepala dibawah dan kaki diatas. Sepertinya mahluk itu berniat untuk memakan kepala Azka lebih dulu.
"Holy Shit!" umpat Erick. "Ini salah satu sebab kenapa aku benci pelajaran biologi."
"Jika kau benci biologi maka kau tidak mungkin menjadi pengoleksi dvd film 'reproduksi manusia'. " ejek Darren yang dihadiahi tatapan tajam penuh kebencian oleh Erick.
"Kita tidak punya banyak waktu." Ujar Devon memotong perdebatan tidak penting mereka berdua. "Sebaiknya kalian pergi! Temukan Prince Charming dan bebaskan wanita itu."
"Lalu kau bagaimana?" tanya Darren.
"Aku akan menolong Azka. Cepat pergi!" ujarnya lagi. "Kami berdua akan menyusul kalian bertiga secepatnya."
Erick mengangguk lalu mereka bertiga meninggalkan Devon.
Kini mereka bertiga memasuki kawasan rekreasi pegawai dimana dulunya tempat itu adalah tempat melepas penat bagi para pegawai. Disana terdapat kafetaria dengan kursi – kursi yang mulai lapuk dan rusak. Beberapa mesin game jadul seperti dingdong dan juga pinball yang sepertinya sudah tidak dapat berfungsi kembali. Mereka bertiga melewati ruangan itu dengan lancar tanpa ada hambatan apa pun sampai mereka tiba disebuah kolam renang berukuran besar yang digenangi oleh air yang telah menghijau karena lumut dan ganggang.
"Sebaiknya kita lekas pergi dari sini." ujar Erick yang merasakan ada sesuatu yang tidak beres ditempat itu.
Firasat Erick menjadi kenyataan. Tepat dihadapan mereka muncul seorang wanita nyaris telanjang bulat yang tubuhnya ditutupi oleh ganggang hijau yang menjijikan. Rambut panjangnya basah. Wajah mahluk itu dipenuhi luka lebam akibat pukulan. Entah apa yang terjadi padanya hingga seperti itu. Mahluk itu berdiri diatas air kolam renang sambil meratap pilu.
"Aku heran kenapa setiap hantu yang kita temui lebih sering menangis daripada tertawa." Bisik Darren kepada Erick.
"Kenapa kau tidak menghiburnya? Kau kan gentleman!"
"Oh maaf! Aku hanya menghibur wanita yang satu spesies denganku."
"Kau tidak boleh pilih – pilih Darren! Itu namanya tidak adil."
Perdebatan mereka terhenti ketika melihat miniatur tsunami setinggi dua meter yang berasal dari air kolam renang yang kotor itu. Darren berjengit ngeri. Bukan karena tingginya air tetapi karena kotoran yang ada didalam air tersebut. Darren adalah penggila kebersihan akut.
"Kalian berdua pergi! Biar aku yang akan menghadapi iblis rendahan itu." ujar Samantha.
Belum sempat Erick menolak permintaan gadis itu, sebuah kekuatan tak kasat mata mendorong tubuhnya dan Darren kearah pintu keluar secara paksa. Kekuatan tersebut tentu saja milik Samantha.
Pintu tersebut tertutup rapat. Samantha masih sempat mendengar umpatan dan gedoran dari Erick dan Darren namun ia tak menggubrisnya. Kini fokusnya terarah pada mahluk jalang menjijikan yang ada dihadapannya.
"Lets fight bitch!" ucapnya sambil mengacungkan zombie knife kearah mahluk itu.
***
Enjoy Reading... don't forget to tap the star button

kritik saran silahkan inbox...
mau tanya - tanya inbox ajahhh....
0
Kutip
Balas