- Beranda
- Stories from the Heart
2 Warna 1 Cinta - Kisah Romansa dengan Gadis Eropa [REBORN]
...
TS
air_fachry
2 Warna 1 Cinta - Kisah Romansa dengan Gadis Eropa [REBORN]
Last Updated on 17/02/17
Halo agan-agan sekalian,
Ane mau coba bawa kembali tulisan lama dengan judul yang sama, dulu pernah dipublish oleh ID:
Karena ada yang kepo hingga mengganggu real lifetokoh dalam cerita, tulisan tersebut sengaja diminta untuk dihapus. Pada kesempatan ini ane mau kembali menuangkan tulisan tersebut, sekaligus menjawab rasa penasaran terhadap ending dari cerita untuk agan-agan sekalian. Tapi sebelumnya mohon untuk memperhatikan Peraturan dan Kesepakatan yang ane buat.
1. Ane gak terlalu peduli dengan diri ane, TAPI kalau ada yang sampai berusaha mencari, menguntit, mengontak, atau mengganggu kehidupan nyata karakter lain di cerita ini, ane bakal secepatnya hapus thread ini.
2. Mohon untuk saling menghormati, baik itu kepada TS maupun kepada penikmat cerita lainnya.
3. Mohon untuk tidak menulis kata-kata atau menaruh gambar menggoda yang kelewat batas kepada tokoh-tokoh wanita di cerita ini.
4. Arsenal
5. Mohon untuk tidak meng-quote cerita ini di komen yang akan ente tulis, karena hal kayak gitu ngabisin paket data.
6. Cerita akan diupdate paling lambat 1 minggu sekali.
7. Mohon maaf apabila ada komen dari agan-agan tidak dapat terbalas semuanya dikarenakan kesibukan ane di real life.
Terimakasih telah membaca Peraturan dan Kesepakatan yang ane buat. Mohon dimaklumi oleh agan-agan sekalian. Jangan sampai pelanggaran terulang dan menyebabkan dihapusnya thread ini kembali.
Mohon maaf apabila cerita kurang rapi karena memang ane tidak pernah sama sekali menulis sebelumnya, dan juga alur cerita kurang menarik dan terkesan membosankan, tapi mohon untuk bersabar sampai ending cerita. Mudah-mudahan agan-agan akan mengerti alasannya.
ENJOY!
Quote:
"Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value."
Halo agan-agan sekalian,
Ane mau coba bawa kembali tulisan lama dengan judul yang sama, dulu pernah dipublish oleh ID:
Quote:
cep_pahri
Karena ada yang kepo hingga mengganggu real lifetokoh dalam cerita, tulisan tersebut sengaja diminta untuk dihapus. Pada kesempatan ini ane mau kembali menuangkan tulisan tersebut, sekaligus menjawab rasa penasaran terhadap ending dari cerita untuk agan-agan sekalian. Tapi sebelumnya mohon untuk memperhatikan Peraturan dan Kesepakatan yang ane buat.
Spoiler for Rules and Regulations:
Quote:
"Rules are for the obedience of fools and the guidance of wise man."
1. Ane gak terlalu peduli dengan diri ane, TAPI kalau ada yang sampai berusaha mencari, menguntit, mengontak, atau mengganggu kehidupan nyata karakter lain di cerita ini, ane bakal secepatnya hapus thread ini.
2. Mohon untuk saling menghormati, baik itu kepada TS maupun kepada penikmat cerita lainnya.
3. Mohon untuk tidak menulis kata-kata atau menaruh gambar menggoda yang kelewat batas kepada tokoh-tokoh wanita di cerita ini.
4. Arsenal
5. Mohon untuk tidak meng-quote cerita ini di komen yang akan ente tulis, karena hal kayak gitu ngabisin paket data.
6. Cerita akan diupdate paling lambat 1 minggu sekali.
7. Mohon maaf apabila ada komen dari agan-agan tidak dapat terbalas semuanya dikarenakan kesibukan ane di real life.
Terimakasih telah membaca Peraturan dan Kesepakatan yang ane buat. Mohon dimaklumi oleh agan-agan sekalian. Jangan sampai pelanggaran terulang dan menyebabkan dihapusnya thread ini kembali.
Mohon maaf apabila cerita kurang rapi karena memang ane tidak pernah sama sekali menulis sebelumnya, dan juga alur cerita kurang menarik dan terkesan membosankan, tapi mohon untuk bersabar sampai ending cerita. Mudah-mudahan agan-agan akan mengerti alasannya.
ENJOY!
Spoiler for Index:
Diubah oleh air_fachry 17-02-2017 21:39
Kurohige410 dan muhammadafdal15 memberi reputasi
2
18.5K
Kutip
96
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
air_fachry
#8
Chapter 2 - Stalker
Spoiler for Chapter 2 - Stalker:
Tempat ini masih terasa sangat asing bagiku. Bersusah payah aku menemukan kelasku, sebelum akhirnya aku terdampar di sebuah ruangan di basement gedung fakultasku. Kelas yang cukup besar untuk menampung 100 mahasiswa. Terdapat jendela-jendela kecil di pojok atas kelas, menandakan bahwa kelas ini memang berada di bawah tanah. Kulihat sebuah komputer berada di atas meja guru, dan sebuah papan tulis modern dan proyektor LCD terpajang di depan kelas. Langit-langit yang dipenuhi jejeran lampu LCD menerangi seisi kelas. Tak ketinggalan sebuah Infocus tergantung pasrah berada diantara lampu-lampu itu.
“Fachry,” kudengar seseorang memanggilku. Akupun menoleh ke arah suara.
“Ivan, amel? Kalian di kelas ini juga? Kok nggak bilang?” tanyaku kaget.
“Kita kan gak tahu kamu mau ke kelas apa, lagian main pergi aja.” Ivan menjawab santai.
“Kayaknya tahun pertama masih ada beberapa pelajaran yang sama deh, kita kan sama-sama di Faculty of Economics and Public Adminitstration,” tambah Amel.
Aku mengambil tempat duduk nomor dua dari paling depan, sedangkan Amel dan Ivan duduk tepat di deretan meja sampingku. Aku merasa senang aku tidak sendirian di kelas ini. Karena aku masih belum kenal satupun mahasiswa yang ada di kelasku. Tapi aku merasa bahwa mahasiswa lain sudah saling kenal satu sama lain. Mungkin karena mereka dulu mengambil kelas bahasa bersama, pikirku.
Sebuah ketokan hangat mendobrak kesunyian kelasku. Aku menoleh ke arah pintu, kuliah seseorang dengan muka yang sangat cantik berjaket hitam dengan rambut coklat terikat memasuki ruangan kelas. Kemudian tepat di belakanganya berdiri seseorang dengan jaket pink dan jeans biru robek-robek khas rock ‘n roll, yang rasanya, aku kenal dengan pemandangan itu. Hatiku berdegup kencang tak menentu. Aku tahu siapa dia. Aku pernah lihat dia. Dia, gadis itu.
Aku terperanjak bukan main ketika mengetahui dia teman sekelasku. Rasa canggungku tidak pernah bisa sirna tatkala dia masuk dan memberi senyum manis ke seisi kelas. Mereka duduk tepat di depanku. Di baris pertama ruangan kelas ini. Mereka terlihat sangat akrab sekali. Mungkin karena mereka sama-sama cantik, atau mungkin karena mereka sudah kenal lama, entahlah.
Tiba-tiba sang gadis berjaket hitam menoleh ke belakang sehingga matanya bertemu mataku. Aku gugup tak karuan. Aku tahu apa yang dia mau.
“Hey, apakabar? Kenalin namaku Esra,” dia mengenalkan dirinya padaku dengan ramah sekali.
“Hey, aku baik. Kamu? Namaku Fachry,” aku berusaha menjawab dengan sesantai mungkin, menutupi kegugupanku.
“Kamu darimana asalnya?”
“Indonesia. Kamu?”
Kulihat sang gadis berbaju pink ikut menoleh ke arahku penasaran.
“Turki...” jawab Esra.
Belum sempat dia berbicara lanjut, aku refleks memotongnya.
“Kalo kamu?” tanyaku spontan ke gadis berbaju pink itu. Ah, bodoh sekali. Terlihat sekali kalau aku memuja dan penasaran dengan gadis itu, berontak batiku.
“Namaku Sara, dari Montenegro, tapi aku asli Bosniak,” jawabnya manis.
Tak berapa lama, guruku datang. Dia memperkenalkan dirinya sebelum pelajaran dimulai. Mehmet Calışkan, lulusan perguruan tinggi di Amerika Serikat. Pantas saja penampilannya seperti anak gaul yang baru pulang dari nongkrong, dengan rambut panjang ,baju polo berkerah, dan celana jinsnya.
Karena itu hari pertamaku masuk kelas, aku mengambil handycam-ku, mencoba merekam seisi kelas dan juga guruku. Aku ingin mendokumentasikan hari bersejarah di hidupku. Aku sibuk merekam guruku dan sebisa mungkin agar tak ketahuan olehnya. Lalu aku tersadar ada sosok menoleh kebelakang yang memperhatikanku dari deretan kursi di depan. Aku tahu itu bidadari koridorku.
Mungkin dia bingung melihat apa yang sedang aku lakukan. Aku berusaha secuek mungkin dan tetap merekam sekelilingku. Namun aku benar-benar tak sanggup untuk tak menoleh ke arahnya. Mata kami bertemu, dan dia menyunggingkan senyum manis ke arahku. Manis semanis rambut nenek lampir di jajanan SD. Semanis biang gula yang belum pernah terceraikan oleh encernya air mineral kemasan. Semanis madu yang bersarang di pantat lebah di musim kimpoi. Manis sekali. Aku meleleh.
~~~~~~
Tak terasa kelas pun usai. Aku belum sempat untuk ngobrol banyak dengan mereka. Aku harus pulang karena mobil jemputanku sudah menunggu. Aku berlari kearah jemputan meninggalkan kerumunan mahasiswa-mahasiswa yang baru saja menyelesaikan kuliah mereka. Berlari melewati bukit-bukit landai, melangkahi gerbang kampusku, kemudian tiba tepat sebelum mobil jemputanku yang sudah terlihat tua dan berkarat itu meninggalkan tempat parkir.
Sepanjang perjalanan aku hanya bisa melamun memikirikan wajah itu. Ah, indahnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Kulitnya yang putih bersih seperti kain ihrom. Rambut pirangnya yang terurai panjang melewati bahu. Alisnya yang tajam bagaikan perosotan landai anak TK. Matanya yang lonjong seperti bola Rugby. Bola matanya yang sangat indah bewarna kehijau kemerahan. Hidungnya yang mancung bagaikan hidung kereta super cepat sinkansen. Bibir tipisnya yang bewarna pink natural tanpa lipstik sedikitpun. Barbie. She is a living barbie, pikir ku.
Lamunan indahku bubar seketika saat sang sopir yang sudah terlihat tua itu berteriak kencang. “Ne yapıyon lan!” ucapnya tinggi dengan tangan menghentakkan ke atas dan sorot mata yang tajam menghujam pengendara lain. Pria tua itu tidak berhenti menggerutu sepanjang jalan. Semua orang pusing dibuatnya.
“Abi, sabar.. sabar..” ucapku kepadanya. Aku benar-benar tak tahan mendengar orang berteriak marah sepanjang waktu. Dan ini terjadi setiap hari, dimanapun, dan kapanpun, selama aku berada di Turki. Memang dibalik kelembutan dan keramahan orang-orang Turki, mereka terkenal sangat keras.
Urat di kepalanya terlihat melentur. “Tamam, saya pusing melihat orang-orang menyetir semaunya” ujarnya menanggapi, meski aku masih kurang paham apa yang ia katakan, tapi aku tahu intinya adalah itu.
“Nerelisin sen?” tanya pria tua itu, menatapku dari spion tengah bis.
Aku menatap balik pria tua itu melalui kaca spion dan tersenyum. “Indonesia,” jawabku singkat.
“Nasıl, Turki enak gak?” tanyanya padaku.
“Vallah abi, aslinda, enak tapi aku gak suka sama makanan Turki,” jawabku sekenanya.
Dia tertawa terbahak-bahak. Kemudian dia bertanya,
“Memang apa yang makanan yang kamu suka?”
Aku berusaha mengingat makanan yang paling aku gemari dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Turki. “Tavuk pilav!” jawabku lantang, diikuti oleh tawa riuh seisi bis. Aku tak mengerti apa yang menurut mereka lucu, sampai akhirnya ada yang memberitahuku bahwa nasi dengan ayam itu Tavuklu pilav dalam bahasa Turki. Tavuk pilav saja itu terdengar sangat lucu. Aneh sekali, pikirku.
Tak berapa lama kemudian bis sampai di depan gang rumahku. Aku bersiap meninggalkan bis yang sudah tua renta itu. Sama tuanya dengan si sopir yang sudah beruban putih berkepala 6 itu. Dengan senyum jahil dia mengucapkan sesuatu kepadaku sebelum aku turun dari bisnya. “Görüşürüz tavuk pilav!” disambut gelak tawa para penumpang yang lain. Resmilah aku di panggil tavuk pilav di bis jemputanku mulai detik itu.
~~~~~~
Teman kamarku sudah berada di rumah ketika aku sampai. Namanya Zac Coulibaly, datang dari Mali, sebuah negara di barat Afrika, bersebelahan dengan Senegal. Badannya yang tinggi gemuk tidak menutupi kepintarannya yang luar biasa. Dia juga mahasiswa baru sepertiku. Dia kuliah di jurusan Teknik Komputer, salah satu jurusan tersusah di kampusku.
Karena setiap hari bertemu dan mengobrol, ia mengajariku bahasa Inggris secara tidak langsung. Beruntung aku bisa lulus tes bahasa Inggris minggu lalu, kalau tidak, mungkin aku akan sekelas dengan Rama di kelas bahasa. Ayahku sudah ketar-ketir khawatir aku tak akan lulus. Karena seingatnya, ketika meninggalkan Indonesia dulu, bahasa Inggris yang aku tahu hanya, ‘how are you’ dan ‘I love you’.
Aku menaruh tasku di atas meja belajar kemudian duduk di atas kasurku dan menatapnya. “Bro, gua barusan ketemu cewek tercantik yang pernah gua lihat!” ceritaku penuh semangat membuka percakapanku.
Zac mengalihkan pandangannya kepadaku. Ia terlihat terkejut dengan pernyataanku tadi. “Oh ya? Di mana?”
“Di koridor kampus, diantara blok F dan blok B,” jawabku bersemangat. Blok F adalah nama gedung fakultasku dan Blok B adalah nama untuk gedung fakultas Ilmu Pengetahuan Murni.
“Oh man, gua gak percaya hari pertama lo di kampus, dan lo udah jatuh cinta haha,” tawanya menggodaku.
“Gua mau cari nama dia di sistem akademik online gua, mau gua add dia di facebook!” ucapku berapi-api.
Mataku sudah sibuk mencari deretan nama-nama mahasiswa yang sekelas denganku. Aku mencari satu nama, Sara. Aku ingin tahu nama belakangnya, supaya aku bisa meng-add-nya di facebook.
“Sara Mudiec, ketemu!” teriakku penuh semangat. Nama yang indah. Perpaduan nama Islam dengan Eropa. Aku segera mencarinya di facebook dan menemukannya. Hanya satu orang yang memiliki nama itu, dengan foto profil berjaket ungu, dan tangan bersandar di pinggang. Cantik sekali, aku tak tahan menatapnya berlama-lama. Namun aku ragu untuk menambahkannya ke daftar temanku. Mungkin bukan saatnya, pikirku.
Mannheim, Desember 2013..
Lamunanku bubar ketika kereta berhenti dan kulihat papan bertuliskan Mannheim HBF bediri di pinggir rel. Ini stasiun terakhir dari kereta ini. Aku harus melanjutkan perjalananku dengan mengganti kereta yang lain. Kulihat jam masih menunjukkan pukul 12.29 malam. Sedangkan keretaku akan datang pukul 01.06. Aku masih punya waktu untuk cari makanan, pikirku.
Aku berjalan menyusuri stasiun, berharap masih ada toko yang buka di tengah malam seperti ini. Namun tak kutemukan satupun toko yang buka. Akhirnya aku kembali ke jalur kereta, menunggu di pinggir rel sambil menahan lapar.
Tak lama kemudian kudengar pengumuman dari speaker di stasiun, aku kurang begitu mengerti apa arti pastinya. Tapi yang jelas ia menyebut kata ICE, München, dan 80 minuten. Kemudian aku sadar keretaku delay selama 80 menit. Untuk meyakinkan, aku bertanya kepada calon penumpang lain, dan mereka mengiyakan. Lalu aku bertemu dengan mahasiswa dari Brasil bernama Pedro, dan gadis karir muda bernama Xiu, yang sama-sama tak bisa bahasa Jerman, dan sama-sama penasaran arti dari pengumuman tadi.
Udara benar-benar dingin, mungkin mencapai minus. Tapi hanya butiran-butiran salju tipis yang mewarnai langit malam ini. Karena tak tahan, aku mengajak mereka mencari toko yang masih buka untuk menghangati tubuh, sekalian mencari makanan pengganjal perut. Ternyata masih ada toko yang masih buka, tidak jauh dari stasiun. Kami menuju kesana dan langsung mencari tempat duduk.
Di dalam, kami bertemu dengan seorang mahasiswi Jerman bernama Stefani yang kebetulan menunggu kereta yang sama dengan kami. Aku mengobrol banyak dengan mereka. Tentang bagaimana mereka bisa sampai disini, dan apa pekerjaan mereka. Tentang semua yang bisa kita obrolkan untuk membunuh waktu.
Jam menunjukkan pukul 02.20 malam. Akhirnya kereta datang dan kita bergegas menuju ke dalam gerbong untuk mencari tempat duduk. Karena Pedro dan Stefani sudah punya reservasi tempat duduk, aku dan Xiu belum, mereka membantuku dan Xiu untuk mendapatkan tempat duduk. Sempat beberapa kursi yang aku duduki ternyata punya pemilik. Sampai akhirnya aku mendapatkan kursi yang benar-benar tak bertuan.
Kereta mulai meninggalkan kota Mannheim. Kembali sunyi. Aku menatap kosong, jauh ke depan. Dan aku berkata dalam hatiku, well, my adventure has just begun..
“Fachry,” kudengar seseorang memanggilku. Akupun menoleh ke arah suara.
“Ivan, amel? Kalian di kelas ini juga? Kok nggak bilang?” tanyaku kaget.
“Kita kan gak tahu kamu mau ke kelas apa, lagian main pergi aja.” Ivan menjawab santai.
“Kayaknya tahun pertama masih ada beberapa pelajaran yang sama deh, kita kan sama-sama di Faculty of Economics and Public Adminitstration,” tambah Amel.
Aku mengambil tempat duduk nomor dua dari paling depan, sedangkan Amel dan Ivan duduk tepat di deretan meja sampingku. Aku merasa senang aku tidak sendirian di kelas ini. Karena aku masih belum kenal satupun mahasiswa yang ada di kelasku. Tapi aku merasa bahwa mahasiswa lain sudah saling kenal satu sama lain. Mungkin karena mereka dulu mengambil kelas bahasa bersama, pikirku.
Sebuah ketokan hangat mendobrak kesunyian kelasku. Aku menoleh ke arah pintu, kuliah seseorang dengan muka yang sangat cantik berjaket hitam dengan rambut coklat terikat memasuki ruangan kelas. Kemudian tepat di belakanganya berdiri seseorang dengan jaket pink dan jeans biru robek-robek khas rock ‘n roll, yang rasanya, aku kenal dengan pemandangan itu. Hatiku berdegup kencang tak menentu. Aku tahu siapa dia. Aku pernah lihat dia. Dia, gadis itu.
Aku terperanjak bukan main ketika mengetahui dia teman sekelasku. Rasa canggungku tidak pernah bisa sirna tatkala dia masuk dan memberi senyum manis ke seisi kelas. Mereka duduk tepat di depanku. Di baris pertama ruangan kelas ini. Mereka terlihat sangat akrab sekali. Mungkin karena mereka sama-sama cantik, atau mungkin karena mereka sudah kenal lama, entahlah.
Tiba-tiba sang gadis berjaket hitam menoleh ke belakang sehingga matanya bertemu mataku. Aku gugup tak karuan. Aku tahu apa yang dia mau.
“Hey, apakabar? Kenalin namaku Esra,” dia mengenalkan dirinya padaku dengan ramah sekali.
“Hey, aku baik. Kamu? Namaku Fachry,” aku berusaha menjawab dengan sesantai mungkin, menutupi kegugupanku.
“Kamu darimana asalnya?”
“Indonesia. Kamu?”
Kulihat sang gadis berbaju pink ikut menoleh ke arahku penasaran.
“Turki...” jawab Esra.
Belum sempat dia berbicara lanjut, aku refleks memotongnya.
“Kalo kamu?” tanyaku spontan ke gadis berbaju pink itu. Ah, bodoh sekali. Terlihat sekali kalau aku memuja dan penasaran dengan gadis itu, berontak batiku.
“Namaku Sara, dari Montenegro, tapi aku asli Bosniak,” jawabnya manis.
Tak berapa lama, guruku datang. Dia memperkenalkan dirinya sebelum pelajaran dimulai. Mehmet Calışkan, lulusan perguruan tinggi di Amerika Serikat. Pantas saja penampilannya seperti anak gaul yang baru pulang dari nongkrong, dengan rambut panjang ,baju polo berkerah, dan celana jinsnya.
Karena itu hari pertamaku masuk kelas, aku mengambil handycam-ku, mencoba merekam seisi kelas dan juga guruku. Aku ingin mendokumentasikan hari bersejarah di hidupku. Aku sibuk merekam guruku dan sebisa mungkin agar tak ketahuan olehnya. Lalu aku tersadar ada sosok menoleh kebelakang yang memperhatikanku dari deretan kursi di depan. Aku tahu itu bidadari koridorku.
Mungkin dia bingung melihat apa yang sedang aku lakukan. Aku berusaha secuek mungkin dan tetap merekam sekelilingku. Namun aku benar-benar tak sanggup untuk tak menoleh ke arahnya. Mata kami bertemu, dan dia menyunggingkan senyum manis ke arahku. Manis semanis rambut nenek lampir di jajanan SD. Semanis biang gula yang belum pernah terceraikan oleh encernya air mineral kemasan. Semanis madu yang bersarang di pantat lebah di musim kimpoi. Manis sekali. Aku meleleh.
~~~~~~
Tak terasa kelas pun usai. Aku belum sempat untuk ngobrol banyak dengan mereka. Aku harus pulang karena mobil jemputanku sudah menunggu. Aku berlari kearah jemputan meninggalkan kerumunan mahasiswa-mahasiswa yang baru saja menyelesaikan kuliah mereka. Berlari melewati bukit-bukit landai, melangkahi gerbang kampusku, kemudian tiba tepat sebelum mobil jemputanku yang sudah terlihat tua dan berkarat itu meninggalkan tempat parkir.
Sepanjang perjalanan aku hanya bisa melamun memikirikan wajah itu. Ah, indahnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Kulitnya yang putih bersih seperti kain ihrom. Rambut pirangnya yang terurai panjang melewati bahu. Alisnya yang tajam bagaikan perosotan landai anak TK. Matanya yang lonjong seperti bola Rugby. Bola matanya yang sangat indah bewarna kehijau kemerahan. Hidungnya yang mancung bagaikan hidung kereta super cepat sinkansen. Bibir tipisnya yang bewarna pink natural tanpa lipstik sedikitpun. Barbie. She is a living barbie, pikir ku.
Lamunan indahku bubar seketika saat sang sopir yang sudah terlihat tua itu berteriak kencang. “Ne yapıyon lan!” ucapnya tinggi dengan tangan menghentakkan ke atas dan sorot mata yang tajam menghujam pengendara lain. Pria tua itu tidak berhenti menggerutu sepanjang jalan. Semua orang pusing dibuatnya.
“Abi, sabar.. sabar..” ucapku kepadanya. Aku benar-benar tak tahan mendengar orang berteriak marah sepanjang waktu. Dan ini terjadi setiap hari, dimanapun, dan kapanpun, selama aku berada di Turki. Memang dibalik kelembutan dan keramahan orang-orang Turki, mereka terkenal sangat keras.
Urat di kepalanya terlihat melentur. “Tamam, saya pusing melihat orang-orang menyetir semaunya” ujarnya menanggapi, meski aku masih kurang paham apa yang ia katakan, tapi aku tahu intinya adalah itu.
“Nerelisin sen?” tanya pria tua itu, menatapku dari spion tengah bis.
Aku menatap balik pria tua itu melalui kaca spion dan tersenyum. “Indonesia,” jawabku singkat.
“Nasıl, Turki enak gak?” tanyanya padaku.
“Vallah abi, aslinda, enak tapi aku gak suka sama makanan Turki,” jawabku sekenanya.
Dia tertawa terbahak-bahak. Kemudian dia bertanya,
“Memang apa yang makanan yang kamu suka?”
Aku berusaha mengingat makanan yang paling aku gemari dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Turki. “Tavuk pilav!” jawabku lantang, diikuti oleh tawa riuh seisi bis. Aku tak mengerti apa yang menurut mereka lucu, sampai akhirnya ada yang memberitahuku bahwa nasi dengan ayam itu Tavuklu pilav dalam bahasa Turki. Tavuk pilav saja itu terdengar sangat lucu. Aneh sekali, pikirku.
Tak berapa lama kemudian bis sampai di depan gang rumahku. Aku bersiap meninggalkan bis yang sudah tua renta itu. Sama tuanya dengan si sopir yang sudah beruban putih berkepala 6 itu. Dengan senyum jahil dia mengucapkan sesuatu kepadaku sebelum aku turun dari bisnya. “Görüşürüz tavuk pilav!” disambut gelak tawa para penumpang yang lain. Resmilah aku di panggil tavuk pilav di bis jemputanku mulai detik itu.
~~~~~~
Teman kamarku sudah berada di rumah ketika aku sampai. Namanya Zac Coulibaly, datang dari Mali, sebuah negara di barat Afrika, bersebelahan dengan Senegal. Badannya yang tinggi gemuk tidak menutupi kepintarannya yang luar biasa. Dia juga mahasiswa baru sepertiku. Dia kuliah di jurusan Teknik Komputer, salah satu jurusan tersusah di kampusku.
Karena setiap hari bertemu dan mengobrol, ia mengajariku bahasa Inggris secara tidak langsung. Beruntung aku bisa lulus tes bahasa Inggris minggu lalu, kalau tidak, mungkin aku akan sekelas dengan Rama di kelas bahasa. Ayahku sudah ketar-ketir khawatir aku tak akan lulus. Karena seingatnya, ketika meninggalkan Indonesia dulu, bahasa Inggris yang aku tahu hanya, ‘how are you’ dan ‘I love you’.
Aku menaruh tasku di atas meja belajar kemudian duduk di atas kasurku dan menatapnya. “Bro, gua barusan ketemu cewek tercantik yang pernah gua lihat!” ceritaku penuh semangat membuka percakapanku.
Zac mengalihkan pandangannya kepadaku. Ia terlihat terkejut dengan pernyataanku tadi. “Oh ya? Di mana?”
“Di koridor kampus, diantara blok F dan blok B,” jawabku bersemangat. Blok F adalah nama gedung fakultasku dan Blok B adalah nama untuk gedung fakultas Ilmu Pengetahuan Murni.
“Oh man, gua gak percaya hari pertama lo di kampus, dan lo udah jatuh cinta haha,” tawanya menggodaku.
“Gua mau cari nama dia di sistem akademik online gua, mau gua add dia di facebook!” ucapku berapi-api.
Mataku sudah sibuk mencari deretan nama-nama mahasiswa yang sekelas denganku. Aku mencari satu nama, Sara. Aku ingin tahu nama belakangnya, supaya aku bisa meng-add-nya di facebook.
“Sara Mudiec, ketemu!” teriakku penuh semangat. Nama yang indah. Perpaduan nama Islam dengan Eropa. Aku segera mencarinya di facebook dan menemukannya. Hanya satu orang yang memiliki nama itu, dengan foto profil berjaket ungu, dan tangan bersandar di pinggang. Cantik sekali, aku tak tahan menatapnya berlama-lama. Namun aku ragu untuk menambahkannya ke daftar temanku. Mungkin bukan saatnya, pikirku.
Mannheim, Desember 2013..
Lamunanku bubar ketika kereta berhenti dan kulihat papan bertuliskan Mannheim HBF bediri di pinggir rel. Ini stasiun terakhir dari kereta ini. Aku harus melanjutkan perjalananku dengan mengganti kereta yang lain. Kulihat jam masih menunjukkan pukul 12.29 malam. Sedangkan keretaku akan datang pukul 01.06. Aku masih punya waktu untuk cari makanan, pikirku.
Aku berjalan menyusuri stasiun, berharap masih ada toko yang buka di tengah malam seperti ini. Namun tak kutemukan satupun toko yang buka. Akhirnya aku kembali ke jalur kereta, menunggu di pinggir rel sambil menahan lapar.
Tak lama kemudian kudengar pengumuman dari speaker di stasiun, aku kurang begitu mengerti apa arti pastinya. Tapi yang jelas ia menyebut kata ICE, München, dan 80 minuten. Kemudian aku sadar keretaku delay selama 80 menit. Untuk meyakinkan, aku bertanya kepada calon penumpang lain, dan mereka mengiyakan. Lalu aku bertemu dengan mahasiswa dari Brasil bernama Pedro, dan gadis karir muda bernama Xiu, yang sama-sama tak bisa bahasa Jerman, dan sama-sama penasaran arti dari pengumuman tadi.
Udara benar-benar dingin, mungkin mencapai minus. Tapi hanya butiran-butiran salju tipis yang mewarnai langit malam ini. Karena tak tahan, aku mengajak mereka mencari toko yang masih buka untuk menghangati tubuh, sekalian mencari makanan pengganjal perut. Ternyata masih ada toko yang masih buka, tidak jauh dari stasiun. Kami menuju kesana dan langsung mencari tempat duduk.
Di dalam, kami bertemu dengan seorang mahasiswi Jerman bernama Stefani yang kebetulan menunggu kereta yang sama dengan kami. Aku mengobrol banyak dengan mereka. Tentang bagaimana mereka bisa sampai disini, dan apa pekerjaan mereka. Tentang semua yang bisa kita obrolkan untuk membunuh waktu.
Jam menunjukkan pukul 02.20 malam. Akhirnya kereta datang dan kita bergegas menuju ke dalam gerbong untuk mencari tempat duduk. Karena Pedro dan Stefani sudah punya reservasi tempat duduk, aku dan Xiu belum, mereka membantuku dan Xiu untuk mendapatkan tempat duduk. Sempat beberapa kursi yang aku duduki ternyata punya pemilik. Sampai akhirnya aku mendapatkan kursi yang benar-benar tak bertuan.
Kereta mulai meninggalkan kota Mannheim. Kembali sunyi. Aku menatap kosong, jauh ke depan. Dan aku berkata dalam hatiku, well, my adventure has just begun..
0
Kutip
Balas