- Beranda
- Stories from the Heart
2 Warna 1 Cinta - Kisah Romansa dengan Gadis Eropa [REBORN]
...
TS
air_fachry
2 Warna 1 Cinta - Kisah Romansa dengan Gadis Eropa [REBORN]
Last Updated on 17/02/17
Halo agan-agan sekalian,
Ane mau coba bawa kembali tulisan lama dengan judul yang sama, dulu pernah dipublish oleh ID:
Karena ada yang kepo hingga mengganggu real lifetokoh dalam cerita, tulisan tersebut sengaja diminta untuk dihapus. Pada kesempatan ini ane mau kembali menuangkan tulisan tersebut, sekaligus menjawab rasa penasaran terhadap ending dari cerita untuk agan-agan sekalian. Tapi sebelumnya mohon untuk memperhatikan Peraturan dan Kesepakatan yang ane buat.
1. Ane gak terlalu peduli dengan diri ane, TAPI kalau ada yang sampai berusaha mencari, menguntit, mengontak, atau mengganggu kehidupan nyata karakter lain di cerita ini, ane bakal secepatnya hapus thread ini.
2. Mohon untuk saling menghormati, baik itu kepada TS maupun kepada penikmat cerita lainnya.
3. Mohon untuk tidak menulis kata-kata atau menaruh gambar menggoda yang kelewat batas kepada tokoh-tokoh wanita di cerita ini.
4. Arsenal
5. Mohon untuk tidak meng-quote cerita ini di komen yang akan ente tulis, karena hal kayak gitu ngabisin paket data.
6. Cerita akan diupdate paling lambat 1 minggu sekali.
7. Mohon maaf apabila ada komen dari agan-agan tidak dapat terbalas semuanya dikarenakan kesibukan ane di real life.
Terimakasih telah membaca Peraturan dan Kesepakatan yang ane buat. Mohon dimaklumi oleh agan-agan sekalian. Jangan sampai pelanggaran terulang dan menyebabkan dihapusnya thread ini kembali.
Mohon maaf apabila cerita kurang rapi karena memang ane tidak pernah sama sekali menulis sebelumnya, dan juga alur cerita kurang menarik dan terkesan membosankan, tapi mohon untuk bersabar sampai ending cerita. Mudah-mudahan agan-agan akan mengerti alasannya.
ENJOY!
Quote:
"Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value."
Halo agan-agan sekalian,
Ane mau coba bawa kembali tulisan lama dengan judul yang sama, dulu pernah dipublish oleh ID:
Quote:
cep_pahri
Karena ada yang kepo hingga mengganggu real lifetokoh dalam cerita, tulisan tersebut sengaja diminta untuk dihapus. Pada kesempatan ini ane mau kembali menuangkan tulisan tersebut, sekaligus menjawab rasa penasaran terhadap ending dari cerita untuk agan-agan sekalian. Tapi sebelumnya mohon untuk memperhatikan Peraturan dan Kesepakatan yang ane buat.
Spoiler for Rules and Regulations:
Quote:
"Rules are for the obedience of fools and the guidance of wise man."
1. Ane gak terlalu peduli dengan diri ane, TAPI kalau ada yang sampai berusaha mencari, menguntit, mengontak, atau mengganggu kehidupan nyata karakter lain di cerita ini, ane bakal secepatnya hapus thread ini.
2. Mohon untuk saling menghormati, baik itu kepada TS maupun kepada penikmat cerita lainnya.
3. Mohon untuk tidak menulis kata-kata atau menaruh gambar menggoda yang kelewat batas kepada tokoh-tokoh wanita di cerita ini.
4. Arsenal
5. Mohon untuk tidak meng-quote cerita ini di komen yang akan ente tulis, karena hal kayak gitu ngabisin paket data.
6. Cerita akan diupdate paling lambat 1 minggu sekali.
7. Mohon maaf apabila ada komen dari agan-agan tidak dapat terbalas semuanya dikarenakan kesibukan ane di real life.
Terimakasih telah membaca Peraturan dan Kesepakatan yang ane buat. Mohon dimaklumi oleh agan-agan sekalian. Jangan sampai pelanggaran terulang dan menyebabkan dihapusnya thread ini kembali.
Mohon maaf apabila cerita kurang rapi karena memang ane tidak pernah sama sekali menulis sebelumnya, dan juga alur cerita kurang menarik dan terkesan membosankan, tapi mohon untuk bersabar sampai ending cerita. Mudah-mudahan agan-agan akan mengerti alasannya.
ENJOY!
Spoiler for Index:
Diubah oleh air_fachry 17-02-2017 21:39
Kurohige410 dan muhammadafdal15 memberi reputasi
2
18.5K
Kutip
96
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
air_fachry
#1
Bidadari Koridor
Spoiler for Chapter 1 - Bidadari Koridor:
Worms, Desember 2013..
Aku melaju kencang dengan sepedaku. Dengan tas besar khas backpacker berayun-ayun di punggungku, mengikuti gerakanku menembus butiran-butiran kecil salju yang menghujani kota ini. Sapaan angin disela-sela malam yang kencang menghujam tulang rusukku. Tak seorangpun yang nampak. Hanya tarian pohon-pohon dan redupnya lampu jalan yang mengiringi kepergianku malam ini. Tak berapa lama kemudian aku tiba di Worms Hauptbahnhof, satu-satunya stasiun kereta yang berada di kota kecil ini.
Dengan sigap aku mengunci sepedaku di tempat parkir khusus sepeda dan bergegas menuju ke ruang tunggu stasiun. Jam masih menunjukkan pukul 11.30 malam, sedangkan keretaku akan datang pukul 12.07. Biarlah, masih ada waktu untuk duduk sejenak, pikirku. Tiba-tiba kudengar suara anak bayi tertawa dengan riangnya. Dan suara dua orang wanita menyelingi tawa lugu bayi itu. Aku mengalihkan pandanganku ke sumber suara. Kudapati seorang gadis bersama dengan seorang ibu muda dengan anaknya. Gadis dan ib muda itu berambut coklat dengan badan yang tinggi semampai. Dapat kulihat di balik jaket mereka mengenakan gaun panjang nan indah. Mereka kemudian duduk tepat didepan kursiku. Sayup-sayup aku mendengar mereka bercakap dalam bahasa Turki.
“Canım, aku capek banget hari ini. Keretanya masih lama ya?” Tanya sang ibu muda kepada si gadis.
Hembusan nafas panjang keluar dari mulut gadis di sebelahnya. “Evet, masih sekitar setengah jam lagi.”
Hening.
Tanpa kusadari pandanganku tertuju kepada sang bayi yang melihatku sembari tersenyum manis. Dia menatapku dengan penuh penasaran. Mungkin didalam hatinya ia bertanya-tanya, siapakah gerangan pria muda dengan topi berbulu dan tas besar yang aneh di malam sedingin ini?
“Bebeğim, apa yang kamu lihat?” tanya si ibu kepada bayinya sambil menatapku tajam. Mungkin dikiranya aku seorang penjahat yang baru saja marampok toko obat. Atau mungkin seorang tuna wisma yang sedang berkelana.
“Was gucken Sie?” tanya sang ibu padaku dalam bahasa Jerman, sinis.
“Ozür dilerim, anak abla lucu sekali,” jawabku menggunakan bahasa Turki.
Wanita itu menyeritkan dahinya. “Oh apakah kamu orang Turki juga?!” tanyanya terkejut, “tapi kok nggak mirip?”
“Değil, saya pernah kuliah di Istanbul,” jawabku sambil tersenyum kecil.
Kulihat raut muka si ibu muda berubah drastis. Dia sekarang menatapku dengan ramah dan penuh keibuan, tapi juga penasaran. “Kamu kuliah disini?”
“Evet abla, saya baru datang 6 bulan lalu.”
“Kamu tinggal dimana?.”
“Di kota ini, abla?”
“Aku tinggal di Mannheim. Barusan ada undangan pernikahan saudaraku. Sprichst du Deutsch?”
“Nicht so gut, saya masih belajar. Tapi saya bisa mengerti apa yang orang bicarakan.”
“Kamu mau kemana malam-malam seperti ini?” tiba-tiba sang gadis bertanya menimpali.
“Aku mau jalan-jalan keliling Eropa.”
Ia menaikkan alis matanya. “Sendirian?” tanyanya lagi.
“Iya sendirian,” jawabku lirih.
Kami lalu melanjutan obrolan santai sambil menunggu kereta datang. Aku akhirnya tahu bahwa ternyata kedua orang wanita ini adalah kakak beradik. Suami sang kakak sedang bertugas keluar kota, sehingga tidak bisa mendampingi mereka. Kami pun semakin akrab, mengobrol dan bercanda ria. Aku hanya bisa tersenyum melihat candaan mereka berdua.
Memang banyak sekali orang Turki di negara ini. Mulai dari tukang kebap sampai tukang judi. Atau pengusaha kelas kakap sampai kuli. Ada seorang teman yang suatu ketika pernah berkata kepadaku, kalau aku tidak membutuhkan bahasa Jerman untuk bertahan hidup disini. Hanya bermodalkan bahasa Turki pun bisa. Atau ada teman lain yang berkata, orang Turki itu Cina-nya Eropa, mereka ada dimana-mana.
Sejurus kemudian keretapun datang menyudahi percakapanku dengan mereka. Aku membantu mengangkat kereta sang bayi ke dalam gerbong. Kemudian mengucapkan salam perpisahan kepada mereka. Kemudian aku memilih tempat duduk dipinggir jendela. Keretapun bergerak perlahan. Pandanganku kosong menatap pemandangan kota yang gelap, hanya disinari redupnya lampu jalan. Perlahan kereta mulai meninggalkan kota. Hanya tinggal kegelapan malam yang terlihat dibalik jendela.
Kereta mulai melaju kencang melintasi malam. Sesekali berhenti di stasiun, menurunkan dan mengangkut penumpang. Pikiranku berkecamuk ketika aku teringat uang yang ada di dalam dompetku. Apa aku yakin mau keliling Eropa dengan uang segini? Senekat itukah aku? Apa aku yakin bisa tidur di pinggir jalan atau stasiun di musim dingin seperti ini? Apa baik untuk kesehatanku?
Aku teringat dengan kenekatan-kenekatan bodohku di masa lalu. Rasanya aku ingin kembali ke masa itu. Masa di mana aku bisa bebas menikmati hidup tanpa beban sedikitpun di pundakku. Bisa menghabiskan waktu semauku tanpa ada yang melarang. Bisa mengekspresikan jiwaku tanpa ada yang tersinggung. Bisa menikmati hidupku tanpa ada asmara, galau, patah hati, atau apapun itu. Bebas, terbang, melayang.
~~~~~~
Istanbul, September 2010..
Matahari pagi masih bersinar dengan riangnya di pelupuk langit Istanbul. Burung-burung mulai berterbangan dengan kelompoknya menuju ke selatan. Hembusan angin dingin menari-nari mengelilingi langit. Dedaunan berserakan dimana-mana pertanda musim gugur telah tiba. Bangunan-bangunan kampusku saling berhadapan dengan congak menantang, membentuk koridor panjang ditengahnya. Berdiri tegak di puncak bukit, dengan pemandangan danau Büyükçekmece yang indah di kaki bukit, sebuah danau besar di pinggiran kota Istanbul.
Hari ini hari pertamaku masuk kuliah. Aku masih bingung dengan apa yang harus lakukan. Tidak seperti di Indonesia, aku harus mengerjakan semua sendiri tanpa ada kakak kelas yang membantu. Mulai dari daftar ulang, pemilihan mata kuliah, sampai pengambilan kartu pelajar. Pagi ini memang ada pengenalan singkat tentang kampus, untuk mahasiswa baru. Tapi aku kurang mengerti secara detail apa yang mereka jelaskan.
Aku terdiam di depan laptopku untuk beberapa saat. Kurasa sudah 30 menit aku habiskan hanya untuk berpikir keras bagaimana cara memakai sistem itu, sistem pemilihan mata kuliah secara online yang kampusku miliki. Kalau saja Ivan, Amel, dan Rama, tidak datang, mungkin aku tidak akan pernah beranjak dari tempat itu. Mereka semua teman seangkatan ku di kampus ini. Ivan dan Amel mengambil jurusan Hubungan Internasional. Sedangkan aku dan Rama mengambil Manajemen Bisnis.
Ivan, Arivan Dwiyanto, seorang anak berdarah campuran Jawa Belanda. Memiliki wajah yang rupawan khas anak blesteran, dengan mata dan rambut bewarna coklat tua. Datang dari sekolah swasta terkemuka yang ada di Semarang. Sedangkan ia sendiri berasal dari Pekalongan. Ia kuliah di jurusan Hubungan Internasional, berdua dengan Nurul Amelia. Gadis yang sangat dewasa dan cerdas. Lulusan Gontor yang melanjutkan magang di Australia, sebelum melanjutkan kuliah di Turki. Sedangkan Rama yang mempunyai nama panjang Muhammad Ramadhan. Memiliki postur tinggi dan gemuk, kalau tidak mau disebut gendut. Setiap kali berbicara ia sanggup mengundang gelak tawa. Datang dari Aceh, menjadi salah satu korban tsunami Aceh yang berhasil selamat. Lulusan sekolah swasta terkenal yang ada di kotanya. Aku mengenal Ivan dan Rama ketika dulu kami masih di karantina untuk mahasiswa Indonesia yang baru datang. Sebelum kami dipencar ke universitas masing-masing, pihak pemberi beasiswa mengkarantina kami untuk beradaptasi dengan Turki, segala budaya dan kehidupan sosialnya, dan membekali kami kursus bahasa Turki selama 2 bulan.
Dulu ketika pertama kali mengenal Rama, kupikir anaknya sombong dan tinggi. Mungkin karena dia merupakan anak pejabat. Dan tanpa kutahu, Rama berpikiran sama tentangku. Kami sempat beradu argumen ketika suatu hari aku mencolek kupingnya dari belakang, dan ia sangat tersinggung dengan itu. Namun semua pandangan buruk kami berdua langsung buyar ketika kami mulai mengenal satu sama lain.
Sedangkan Amel, aku bertemunya setelah tes Bahasa Inggris minggu sebelumnya. Ketika itu yang aku tahu hanya aku, Ivan, dan Rama mahasiswa baru yang berasal dari Indonesia di kampusku. Aku dibuat kaget ketika aku melihat gadis asia tenggara memakai jilbab khas Indonesia. Namun kupikir ia datang dari Malaysia, sampai aku memberanikan diri menyapanya.
Akhirnya aku tahu ia baru datang seminggu sebelumnya. Kami mengobrol banyak seperti teman yang lama tidak bertemu. Aku pun tahu Amel pernah bersekolah di SD yang sama denganku, dan ayahnya adalah teman ayahku ketika mereka kuliah dulu. Dari kami semua, Ivan lah yang tampak paling senang dengan kedatangan Amel. Karena itu tandanya ia punya teman satu kelas yang bisa berbagi nasib dan perjuangan.
~~~~~~
Rama masih tampak memprotes keadaan dengan ketidaklulusannya di tes Bahasa Inggris minggu lalu. Dia masih berusaha meyakinkan pihak kampus kalau dia bisa Bahasa Inggris dan tidak layak untuk masuk ke kelas persiapan bahasa dahulu. Dia mondar-mandir mencari orang yang sekiranya bisa membantu dia meluluskan tes-nya. Mungkin dia lupa ini bukan Indonesia.
Sementara Ivan dan Amel sibuk melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kepala mereka, tentang jurusan Hubungan Internasional kepada Edo Abi, alumni kampusku yang juga bagian dari pemberi beasiswa yang bertanggung jawab terhadapku dan teman-teman angkatanku dari Indonesia, yang baru datang hari itu. Aku masih bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Aku mengecek sistem akademik online-ku di laptop. Aku mulai paham bagaimana sistem ini bekerja, setelah sebelumnya diajari oleh mereka bertiga. Aku mulai mengecek setiap sudut sistem itu, termasuk jadwal pelajaranku. Aku pun tahu kalau aku punya kelas Introduction to Economy hari ini. Aku bergegas pamit dan menuju ke gedung fakultasku.
~~~~~~
Sebuah langkah kaki berlapiskan jeans rock ‘n roll berwarna biru muda, anggun nan indah berjalan melewati koridor kampusku. Dengan tinggi menjuntai dan badan gemulai melewati jejeran gedung-gedung fakultas yang dibuatnya membatu. Mengiringi kicau-kicau burung yang terkesima memandang keindahan penampilannya. Jaket pinknya seakan selaras dengan biru langit yang cerah siang ini. Rambut pirang yang tergurai lurus tak sanggup membuat angin percaya diri untuk menerbangkannya. Menghempas pasang-pasang mata yang takjub melihat keindahan parasnya. Aku pun terpana, membisu.
Aku memang tahu ada orang yang bisa jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun aku salah satu orang yang tidak pernah merasakan hal itu. Aku pun beranggapan bahwa jatuh cinta pada pandangan pertama adalah hal aneh. Mana mungkin aku bisa jatuh cinta kepada seseorang yang aku belum pernah kenal sebelumnya? Dan semua keyakinanku runtuh tak bersisa tatkala aku memandangnya melewati koridor kampusku. Dia pasti bidadari yang tersasar di bumi ini. She is the most beautiful girl I have ever seen in my life. Bidadari koridor. Indah nan rupawan. Aku jatuh cinta.
Aku melaju kencang dengan sepedaku. Dengan tas besar khas backpacker berayun-ayun di punggungku, mengikuti gerakanku menembus butiran-butiran kecil salju yang menghujani kota ini. Sapaan angin disela-sela malam yang kencang menghujam tulang rusukku. Tak seorangpun yang nampak. Hanya tarian pohon-pohon dan redupnya lampu jalan yang mengiringi kepergianku malam ini. Tak berapa lama kemudian aku tiba di Worms Hauptbahnhof, satu-satunya stasiun kereta yang berada di kota kecil ini.
Dengan sigap aku mengunci sepedaku di tempat parkir khusus sepeda dan bergegas menuju ke ruang tunggu stasiun. Jam masih menunjukkan pukul 11.30 malam, sedangkan keretaku akan datang pukul 12.07. Biarlah, masih ada waktu untuk duduk sejenak, pikirku. Tiba-tiba kudengar suara anak bayi tertawa dengan riangnya. Dan suara dua orang wanita menyelingi tawa lugu bayi itu. Aku mengalihkan pandanganku ke sumber suara. Kudapati seorang gadis bersama dengan seorang ibu muda dengan anaknya. Gadis dan ib muda itu berambut coklat dengan badan yang tinggi semampai. Dapat kulihat di balik jaket mereka mengenakan gaun panjang nan indah. Mereka kemudian duduk tepat didepan kursiku. Sayup-sayup aku mendengar mereka bercakap dalam bahasa Turki.
“Canım, aku capek banget hari ini. Keretanya masih lama ya?” Tanya sang ibu muda kepada si gadis.
Hembusan nafas panjang keluar dari mulut gadis di sebelahnya. “Evet, masih sekitar setengah jam lagi.”
Hening.
Tanpa kusadari pandanganku tertuju kepada sang bayi yang melihatku sembari tersenyum manis. Dia menatapku dengan penuh penasaran. Mungkin didalam hatinya ia bertanya-tanya, siapakah gerangan pria muda dengan topi berbulu dan tas besar yang aneh di malam sedingin ini?
“Bebeğim, apa yang kamu lihat?” tanya si ibu kepada bayinya sambil menatapku tajam. Mungkin dikiranya aku seorang penjahat yang baru saja marampok toko obat. Atau mungkin seorang tuna wisma yang sedang berkelana.
“Was gucken Sie?” tanya sang ibu padaku dalam bahasa Jerman, sinis.
“Ozür dilerim, anak abla lucu sekali,” jawabku menggunakan bahasa Turki.
Wanita itu menyeritkan dahinya. “Oh apakah kamu orang Turki juga?!” tanyanya terkejut, “tapi kok nggak mirip?”
“Değil, saya pernah kuliah di Istanbul,” jawabku sambil tersenyum kecil.
Kulihat raut muka si ibu muda berubah drastis. Dia sekarang menatapku dengan ramah dan penuh keibuan, tapi juga penasaran. “Kamu kuliah disini?”
“Evet abla, saya baru datang 6 bulan lalu.”
“Kamu tinggal dimana?.”
“Di kota ini, abla?”
“Aku tinggal di Mannheim. Barusan ada undangan pernikahan saudaraku. Sprichst du Deutsch?”
“Nicht so gut, saya masih belajar. Tapi saya bisa mengerti apa yang orang bicarakan.”
“Kamu mau kemana malam-malam seperti ini?” tiba-tiba sang gadis bertanya menimpali.
“Aku mau jalan-jalan keliling Eropa.”
Ia menaikkan alis matanya. “Sendirian?” tanyanya lagi.
“Iya sendirian,” jawabku lirih.
Kami lalu melanjutan obrolan santai sambil menunggu kereta datang. Aku akhirnya tahu bahwa ternyata kedua orang wanita ini adalah kakak beradik. Suami sang kakak sedang bertugas keluar kota, sehingga tidak bisa mendampingi mereka. Kami pun semakin akrab, mengobrol dan bercanda ria. Aku hanya bisa tersenyum melihat candaan mereka berdua.
Memang banyak sekali orang Turki di negara ini. Mulai dari tukang kebap sampai tukang judi. Atau pengusaha kelas kakap sampai kuli. Ada seorang teman yang suatu ketika pernah berkata kepadaku, kalau aku tidak membutuhkan bahasa Jerman untuk bertahan hidup disini. Hanya bermodalkan bahasa Turki pun bisa. Atau ada teman lain yang berkata, orang Turki itu Cina-nya Eropa, mereka ada dimana-mana.
Sejurus kemudian keretapun datang menyudahi percakapanku dengan mereka. Aku membantu mengangkat kereta sang bayi ke dalam gerbong. Kemudian mengucapkan salam perpisahan kepada mereka. Kemudian aku memilih tempat duduk dipinggir jendela. Keretapun bergerak perlahan. Pandanganku kosong menatap pemandangan kota yang gelap, hanya disinari redupnya lampu jalan. Perlahan kereta mulai meninggalkan kota. Hanya tinggal kegelapan malam yang terlihat dibalik jendela.
Kereta mulai melaju kencang melintasi malam. Sesekali berhenti di stasiun, menurunkan dan mengangkut penumpang. Pikiranku berkecamuk ketika aku teringat uang yang ada di dalam dompetku. Apa aku yakin mau keliling Eropa dengan uang segini? Senekat itukah aku? Apa aku yakin bisa tidur di pinggir jalan atau stasiun di musim dingin seperti ini? Apa baik untuk kesehatanku?
Aku teringat dengan kenekatan-kenekatan bodohku di masa lalu. Rasanya aku ingin kembali ke masa itu. Masa di mana aku bisa bebas menikmati hidup tanpa beban sedikitpun di pundakku. Bisa menghabiskan waktu semauku tanpa ada yang melarang. Bisa mengekspresikan jiwaku tanpa ada yang tersinggung. Bisa menikmati hidupku tanpa ada asmara, galau, patah hati, atau apapun itu. Bebas, terbang, melayang.
Quote:
Hauptbahnhof: Stasiun
Canım: Sayang
Evet: Iya
Bebeğim: Bayiku
Was gucken Sie?: Apa yang kamu lihat?
Ozür dilerim: Maaf
Abla: Kakak perempuan
Değil: Bukan
Sprichst du Deutsch?: Bisakah kamu berbahasa Jerman?
Nicht so gut: Tidak terlalu bagus
Canım: Sayang
Evet: Iya
Bebeğim: Bayiku
Was gucken Sie?: Apa yang kamu lihat?
Ozür dilerim: Maaf
Abla: Kakak perempuan
Değil: Bukan
Sprichst du Deutsch?: Bisakah kamu berbahasa Jerman?
Nicht so gut: Tidak terlalu bagus
~~~~~~
Istanbul, September 2010..
Matahari pagi masih bersinar dengan riangnya di pelupuk langit Istanbul. Burung-burung mulai berterbangan dengan kelompoknya menuju ke selatan. Hembusan angin dingin menari-nari mengelilingi langit. Dedaunan berserakan dimana-mana pertanda musim gugur telah tiba. Bangunan-bangunan kampusku saling berhadapan dengan congak menantang, membentuk koridor panjang ditengahnya. Berdiri tegak di puncak bukit, dengan pemandangan danau Büyükçekmece yang indah di kaki bukit, sebuah danau besar di pinggiran kota Istanbul.
Hari ini hari pertamaku masuk kuliah. Aku masih bingung dengan apa yang harus lakukan. Tidak seperti di Indonesia, aku harus mengerjakan semua sendiri tanpa ada kakak kelas yang membantu. Mulai dari daftar ulang, pemilihan mata kuliah, sampai pengambilan kartu pelajar. Pagi ini memang ada pengenalan singkat tentang kampus, untuk mahasiswa baru. Tapi aku kurang mengerti secara detail apa yang mereka jelaskan.
Aku terdiam di depan laptopku untuk beberapa saat. Kurasa sudah 30 menit aku habiskan hanya untuk berpikir keras bagaimana cara memakai sistem itu, sistem pemilihan mata kuliah secara online yang kampusku miliki. Kalau saja Ivan, Amel, dan Rama, tidak datang, mungkin aku tidak akan pernah beranjak dari tempat itu. Mereka semua teman seangkatan ku di kampus ini. Ivan dan Amel mengambil jurusan Hubungan Internasional. Sedangkan aku dan Rama mengambil Manajemen Bisnis.
Ivan, Arivan Dwiyanto, seorang anak berdarah campuran Jawa Belanda. Memiliki wajah yang rupawan khas anak blesteran, dengan mata dan rambut bewarna coklat tua. Datang dari sekolah swasta terkemuka yang ada di Semarang. Sedangkan ia sendiri berasal dari Pekalongan. Ia kuliah di jurusan Hubungan Internasional, berdua dengan Nurul Amelia. Gadis yang sangat dewasa dan cerdas. Lulusan Gontor yang melanjutkan magang di Australia, sebelum melanjutkan kuliah di Turki. Sedangkan Rama yang mempunyai nama panjang Muhammad Ramadhan. Memiliki postur tinggi dan gemuk, kalau tidak mau disebut gendut. Setiap kali berbicara ia sanggup mengundang gelak tawa. Datang dari Aceh, menjadi salah satu korban tsunami Aceh yang berhasil selamat. Lulusan sekolah swasta terkenal yang ada di kotanya. Aku mengenal Ivan dan Rama ketika dulu kami masih di karantina untuk mahasiswa Indonesia yang baru datang. Sebelum kami dipencar ke universitas masing-masing, pihak pemberi beasiswa mengkarantina kami untuk beradaptasi dengan Turki, segala budaya dan kehidupan sosialnya, dan membekali kami kursus bahasa Turki selama 2 bulan.
Dulu ketika pertama kali mengenal Rama, kupikir anaknya sombong dan tinggi. Mungkin karena dia merupakan anak pejabat. Dan tanpa kutahu, Rama berpikiran sama tentangku. Kami sempat beradu argumen ketika suatu hari aku mencolek kupingnya dari belakang, dan ia sangat tersinggung dengan itu. Namun semua pandangan buruk kami berdua langsung buyar ketika kami mulai mengenal satu sama lain.
Sedangkan Amel, aku bertemunya setelah tes Bahasa Inggris minggu sebelumnya. Ketika itu yang aku tahu hanya aku, Ivan, dan Rama mahasiswa baru yang berasal dari Indonesia di kampusku. Aku dibuat kaget ketika aku melihat gadis asia tenggara memakai jilbab khas Indonesia. Namun kupikir ia datang dari Malaysia, sampai aku memberanikan diri menyapanya.
Akhirnya aku tahu ia baru datang seminggu sebelumnya. Kami mengobrol banyak seperti teman yang lama tidak bertemu. Aku pun tahu Amel pernah bersekolah di SD yang sama denganku, dan ayahnya adalah teman ayahku ketika mereka kuliah dulu. Dari kami semua, Ivan lah yang tampak paling senang dengan kedatangan Amel. Karena itu tandanya ia punya teman satu kelas yang bisa berbagi nasib dan perjuangan.
~~~~~~
Rama masih tampak memprotes keadaan dengan ketidaklulusannya di tes Bahasa Inggris minggu lalu. Dia masih berusaha meyakinkan pihak kampus kalau dia bisa Bahasa Inggris dan tidak layak untuk masuk ke kelas persiapan bahasa dahulu. Dia mondar-mandir mencari orang yang sekiranya bisa membantu dia meluluskan tes-nya. Mungkin dia lupa ini bukan Indonesia.
Sementara Ivan dan Amel sibuk melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kepala mereka, tentang jurusan Hubungan Internasional kepada Edo Abi, alumni kampusku yang juga bagian dari pemberi beasiswa yang bertanggung jawab terhadapku dan teman-teman angkatanku dari Indonesia, yang baru datang hari itu. Aku masih bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Aku mengecek sistem akademik online-ku di laptop. Aku mulai paham bagaimana sistem ini bekerja, setelah sebelumnya diajari oleh mereka bertiga. Aku mulai mengecek setiap sudut sistem itu, termasuk jadwal pelajaranku. Aku pun tahu kalau aku punya kelas Introduction to Economy hari ini. Aku bergegas pamit dan menuju ke gedung fakultasku.
~~~~~~
Sebuah langkah kaki berlapiskan jeans rock ‘n roll berwarna biru muda, anggun nan indah berjalan melewati koridor kampusku. Dengan tinggi menjuntai dan badan gemulai melewati jejeran gedung-gedung fakultas yang dibuatnya membatu. Mengiringi kicau-kicau burung yang terkesima memandang keindahan penampilannya. Jaket pinknya seakan selaras dengan biru langit yang cerah siang ini. Rambut pirang yang tergurai lurus tak sanggup membuat angin percaya diri untuk menerbangkannya. Menghempas pasang-pasang mata yang takjub melihat keindahan parasnya. Aku pun terpana, membisu.
Aku memang tahu ada orang yang bisa jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun aku salah satu orang yang tidak pernah merasakan hal itu. Aku pun beranggapan bahwa jatuh cinta pada pandangan pertama adalah hal aneh. Mana mungkin aku bisa jatuh cinta kepada seseorang yang aku belum pernah kenal sebelumnya? Dan semua keyakinanku runtuh tak bersisa tatkala aku memandangnya melewati koridor kampusku. Dia pasti bidadari yang tersasar di bumi ini. She is the most beautiful girl I have ever seen in my life. Bidadari koridor. Indah nan rupawan. Aku jatuh cinta.
Diubah oleh air_fachry 17-02-2017 20:30
0
Kutip
Balas