- Beranda
- Stories from the Heart
Biro Detektif Supranatural PSYCH: Prince Charming #2
...
TS
dianmaya2002
Biro Detektif Supranatural PSYCH: Prince Charming #2
Biro Detektif Supranatural PSYCH: Prince Charming #2
Erick dan Darren kembali dihadapkan dengan seorang psikopat gila pecinta Disney Princess yang menyebut dirinya sebagai PRINCE CHARMING. Korban - korbannya selalu ditemukan dalam berbagai tema Disney Princess, seperti Stella Magnolia yang ditemukan ditepi dermaga dalam balutan kostum mermaid seperti Princess Ariel.
Apakah duo detektif ini dapat menghentikan kegilaan Prince Charming?
Apakah duo detektif ini dapat menghentikan kegilaan Prince Charming?
Hai Agan dan Aganwati...
Ane balik lagi nih buat posting sequel nya Biro Detektif Supranatural PSYCH
Yang masih penasaran sama Mbak Samantha Reindhaard bakal ane buat tambah penasaran lagi...
ini akun wattpad ane Anthazagoraphobia
karya ane:
Biro Detektif Supranatural PSYCH : Pieces #1
The Haunted Hotel La Chandelier
bagi cendol dan rate nya ya
DAFTAR ISI
Spoiler for Index:
Diubah oleh dianmaya2002 07-03-2017 20:20
zeref13 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
17.1K
Kutip
80
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dianmaya2002
#33
Spoiler for 11 bagian 2:
Keesokan paginya Erick, Samantha dan Azka sudah bangun dan bersiap – siap untuk pergi ke salah satu villa milik keluarga Alcander. Tentu saja Erick tidak menyiapkan semuanya sendiri apalagi dengan kedua kaki dan tangan kirinya yang masih di gips, ia dibantu oleh Jackson. Sementara Darren dan Devon masih tertidur di kamar mereka masing – masing. Jackson berkata bahwa mereka berdua pulang ke rumah sekitar jam tiga pagi dengan keadaan lusuh dan sangat mengenaskan.
"Jackson, kau bangunkan saja mereka berdua. Lagi pula mereka bisa beristirahat didalam mobil." Ujar Erick sambil membelai kucing hitam yang sedang tertidur dipangkuannya, tentunya dengan sebelah tangannya yang tidak di gips.
"Baik. Kalau begitu saya permisi dulu."
Jackson pun pergi meninggalkan mereka bertiga yang sedang duduk di ruang keluarga. Lalu mata Erick tertuju pada Samantha yang sibuk dengan Belgian waffle bertoping sirup maple yang sedang ia santap.
"Apa nanti kau akan membunuh kucing ini?"
"Hmm... ya begitulah! Hanya menukar jiwanya dengan iblis itu."
Erick merasa kasihan dengan nasib buruk yang akan menimpa kucing itu namun mau tidak mau ia harus mengikuti perkataan Samantha. Gara – gara iblis jalang itu, ia harus vakum dari tugas – tugas detektifnya dan menanggung semua teror mengerikan yang selalu datang dalam setiap mimpi – mimpinya. Semoga saja ritual yang akan mereka lakukan malam ini akan berhasil.
Satu jam kemudian, Darren dan Devon muncul lengkap dengan wajah sayu mereka. Tak lupa ransel yang menggantung dibahu mereka masing – masing.
"Ayo kita berangkat. Semuanya sudah siap kan? Jangan sampai ada yang tertinggal." Ujar Azka yang sudah berdiri dari tempat yang ia duduki.
***
Setelah dua jam perjalanan tepat pukul 11.00, akhirnya mini bus yang dikendarai Azka berhenti disebuah villa megah modern yang terletak di Distrik Q. Enam orang pelayan yang terdiri dari tiga orang pria dan tiga orang wanita menyambut kedatangan mereka dengan sumringah. Keenam pelayan itu membantu memasukkan barang bawaan mereka ke dalam villa. Mereka juga telah menyiapkan makanan dan juga menyediakan berbagai bahan makanan untuk Erick dan kawan – kawannya. Setelah itu sesuai perintah Erick , mereka berenam pergi meninggalkan villa kembali ke rumah masing – masing. Kebetulan keenam pelayan Erick adalah warga sekitar villa yang rumahnya tak jauh dari sana.
Villa yang mereka tempati berarsitektur modern dengan kaca – kaca besar yang menghadap langsung ke hutan pinus yang lebat dan masih asri. Udara pegunungan bercampur dengan bau pinus sungguh menyegarkan bagi mereka berlima. Sejenak menjauh dari kepenatan Metropolis. Anggap saja hari itu adalah liburan. Darren dan Devon kembali melanjutkan sesi tidur mereka didepan perapian. Sedangkan Erick yang duduk diatas sofa panjang dengan kedua kaki yang diluruskan tampak memejamkan mata. Sementara Samantha sendiri berniat untuk berkeliling tempat itu dan tentunya dengan Azka yang terus mengekorinya.
"Disini begitu segar." Celoteh Azka sambil menatap gadis cantik disebelahnya. "Apa kau suka tempat seperti ini?"
Samantha tidak menjawab pertanyaan Azka, ia terlalu sibuk memunguti buah pinus yang berjatuhan. Entah mengapa ia tersenyum sangat manis ketika menatap segenggam buah pinus yang memenuhi tangannya. Kenangannya bersama Aunty Aurelia kembali berputar seperti film pendek dalam pikirannya. Bibi yang ia sayangi sering mengajaknya untuk berlibur ke daerah pegunungan seperti ini. Menjauhi kerumunan orang yang menyesakkan.
"Sepertinya kau suka sekali pinus?"
Perkataan Azka membuyarkan lamunannya.
"Iya. Aku menyukainya." Ujarnya singkat.
"Hey kau dengar itu?" tanya Azka padanya.
Mereka berdua menajamkan pendengarannya. Suara air terjun bergemuruh sangat kencang menciptakan simfoni alam yang indah.
"Ayo kita kesana." Ujar Azka sambil menarik tangan gadis itu hingga buah pinus yang diambilnya kembali berhamburan di tanah.
Setibanya disana mereka melihat air terjun setinggi tujuh meter yang sangat indah dan aliran air yang sangat deras. Air sungai itu sangat bening hingga ikan – ikan kecil yang berada didalamnya terlihat. Azka melepas kedua sepatu dan kaos kakinya. Tak lupa menggulung celana panjangnya hingga sedengkul lalu perlahan memasuki sungai itu. Dinginnya air sungai benar – benar menusuk kulitnya.
"Kemarilah. Ini menyenangkan." Ajaknya dengan senyuman hangat bak mentari pagi.
Akhirnya Samantha pun melakukan hal yang sama. Ia menggulung celana jeans-nya dan tak lupa melepas sneaker berwarna hitamnya. Azka mengulurkan tangan padanya lalu membantunya turun untuk menikmati dinginnya air sungai. Batu sungai yang licin membuatnya tergelincir dan akhirnya jatuh terduduk. Baju dan celananya basah oleh air sungai yang dingin. Azka yang melihat itu langsung mengulurkan tangannya kembali dan membantunya untuk berdiri, sayangnya ia pun ikut jatuh terduduk disebelah gadis itu. Mereka berdua pun sama – sama tertawa. Baru kali ini Samantha tertawa begitu lepas. Satu kata yang terlintas dalam benaknya yaitu bahagia.
Setelah puas bermain air mereka kembali ke villa yang langsung dihadiahi oleh tatapan tajam Darren. Samantha hanya menatapnya sebentar lalu meninggalkan mereka berdua begitu saja didepan pintu villa.
"Jauhi dia." Ujar Darren singkat tepat ditelinga Azka.
***
Tengah malam pun tiba, mereka berkumpul diruang tengah. Duduk melingkar dengan lilin besar berwarna merah yang menyala ditengah – tengah. Tepat disebelahnya terletak kandang berisi kucing hitam yang akan dijadikan sebagai vessel penyegel iblis. Samantha duduk disebelah kanan Erick sedangkan Devon disebelah kirinya. Azka duduk disebelah kiri gadis itu sedangkan Darren duduk disebelah kanan Devon. Dihadapan Devon ada sebuah piring besar yang terbuat dari tanah liat. Diatas piring itu terdapat tanah kuburan, jantung katak dan beberapa barang yang dibeli di toko Shenmi.
"Apa kau siap?" tanya Devon pada Erick yang ada disebelahnya.
"Lakukan!"
Devon mengangkat perlahan kucing hitam yang tertidur di pangkuan Erick. Lalu dengan cepat menggorok leher mamalia itu menggunakan pisau belati yang sangat tajam. Mereka berempat yang melihat kesadisan Devon hanya memalingkan wajahnya masing – masing. Darah segar mengalir dengan deras keatas piring tanah liat tersebut. Setelah itu Devon membaringkan bangkai kucing hitam itu disebuah lingkaran dengan sebuah sigil atau lambang aneh berbentuk segitiga dengan lingkaran diketiga sisinya. Sigil itu digambar menggunakan darah succubus yang dimiliki Samantha.
"Sekarang giliranmu Erick!" ujar Devon menyerahkan pisau belati yang telah ia bersihkan.
"Kau mau membunuhku?"
"Hanya setetes saja!"
Erick pun menggores ibu jarinya hingga berdarah menggunakan belati milik Devon lalu meneteskan darahnya keatas piring tanah liat itu. Devon menuangkan sedikit minyak tanah pada piring tanah liat itu, lalu menjatuhkan sebatang korek api yang menyala diatasnya. Semua benda – benda aneh itu dalam sekejap terbakar oleh panasnya lidah – lidah api. Menghasilkan asap hitam yang mengepul dengan bau yang sangat menyengat.
"Through these offerings, your soul will merge inseparable." Bisik Devon sambil terpejam.
Asap hitam pembakaran itu seperti terhisap kedalam bangkai kucing hitam yang tergeletak ditengah sigil yang dibuatnya. Devon membuka matanya yang terpejam.
"Ritual pertama selesai." Lalu ia menatap Erick sambil tersenyum jahil. "Siap untuk yang lebih berat?"
"Tentu! Sebelum ini aku akan mengingatkan kalian. Jika iblis itu muncul, tusuk jantungnya dengan katana ini tepat didadanya. Ingat! Kita harus menyelesaikan ritual ini sebelum bulan purnama menghilang. Jika lewat dari itu maka semua usaha kita sia – sia."
"Biar aku yang melakukannya." Ujar Samantha mengambil katana itu dari Devon.
"Bersiaplah untuk yang terburuk! Erick lepas kalungmu sekarang."
Erick melepaskan kalung yang selama ini melingkar dilehernya, lalu memberikannya pada Devon. Detik pertama tidak ada sesuatu yang terjadi. Darren dan Azka masih sibuk mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu, mencari hal – hal ganjil yang akan muncul namun tidak ada sama sekali. Tak lama kemudian, dalam ruangan itu angin berhembus sangat kencang padahal semua jendela dan pintu telah ditutup rapat. Semua barang – barang di ruangan itu berhamburan. Nyala api pada lilin yang dinyalakan oleh Devon bergoyang karena tiupan angin aneh itu. Tiba – tiba sebuah portal gaib muncul tepat ditengah – tengah mereka. Dari dalam sana terdengar teriakan, tangisan, dan rintihan memilukan yang berasal dari para arwah yang dulunya adalah manusia.
Akhirnya iblis jalang yang sedari tadi mereka tunggu datang juga dari balik portal itu. Kepalanya ditutupi oleh rambut panjang kemerahan dengan sepasang tanduk kambing gunung yang melengkung. Tubuh sintalnya dibalut oleh kulit berwarna kemerahan dan dihiasi oleh sepasang payudara yang cukup menggoda iman. Namun kakinya berbulu dan berbentuk seperti kaki kambing. Tidak lupa dengan ekor berujung runcing dan sepasang sayap besar yang terletak dipunggungya.
"Hai Erick! Siap untuk mati?" ujarnya lembut namun mematikan.
Kekuatan iblis itu melebihi kekuatan manusia biasa hingga dengan mudahnya ia mengangkat Erick ke udara dengan kekuatan tak kasat mata.
"Aku akan mempercepat semuanya sayang! Aku tidak akan membuatmu menunggu lebih lama lagi." Ujar iblis bernama Luna itu.
Dengan mudahnya tubuh Erick yang masih digips, dihempaskan begitu saja kearah dinding seperti debu kecil. Hal itu membuat gips yang masih menempel ditubuhnya pecah berkeping – keping. Mereka berempat berusaha menolong Erick, namun Luna menghempaskan tubuh mereka hingga tidak dapat mendekati dirinya dan Erick.
"Kalian tidak boleh menggangguku bersenang – senang."
Luna mendekati Erick perlahan. Senyuman terukir jelas disudut bibirnya. Akhirnya setelah sekian lama, ia mendapatkan apa yang seharusnya sudah menjadi miliknya. Tangan berjemari tajam itu mulai melingkar dileher Erick, perlahan cengkeraman itu mengeras hingga terangkat ke udara. Membuat Erick kehabisan nafas. Kaki Erick menendang – nendang berusaha melepaskan diri dari cengkeraman iblis itu. Sayangnya tidak berhasil sama sekali.
Tanpa Luna sadari, Samantha telah mengendap – endap berjalan kearahnya. Lalu menusukkan katana yang ada digenggaman tangannya untuk menusuk punggung Luna langsung menembus jantungnya.
"With this thing I will sacrifice you're damn soul and cursed you into this weakness body."
Luna mengerang dengan sangat keras saat merasakan tusukan katana tajam yang sebelumnya telah diolesi oleh darah unicorn. Tubuh luna berubah jadi kepulan asap berwarna merah yang sekarang memasuki tubuh kucing hitam yang terbaring kaku.
Erick terjatuh ke lantai. Ia merasakan keanehan pada tubuhnya. Tangan dan kedua kakinya yang patah seketika itu sembuh. Seperti mukjizat. Erick pun tidak mempercayainya sama sekali.
"Aku sembuh!"
Mata mereka semua tertuju pada dirinya.
"Aku serius! Lihat tanganku sudah tidak patah lagi." Sambil menggerak – gerakan tangannya dan begitu juga kedua kaki yang tadinya di gips.
"Wow." Gumam Azka.
"Berarti ritual ini berhasil." Ujar Devon lalu matanya terarah pada tempat dimana ia meletakkan bangkai kucing hitam tadi. Nyatanya tempat itu kosong tidak ada satu apa pun disana. "Hey dimana kucing itu?"
"Bukannya kau menaruhnya disana?" ujar Darren.
Dari balik sofa yang tertelungkup munculah seekor kucing hitam lucu dengan tatapan menggemaskan.
"Berani – beraninya kalian menyegelku didalam tubuh mahluk lemah seperti ini!"
"Kucing itu berbicara?! Sepertinya kepalaku terbentur dengan sangat keras." gumam Azka yang mengira bahwa itu semua adalah halusinasinya.
Samantha berjalan mendekati kucing itu lalu mengangkatnya menggunakan sebelah tangannya.
"Aku akan membalasmu gadis jalang!" maki kucing iblis bernama Luna itu.
"Aku tidak takut pada kucing imut sepertimu."
"Erick! mulai sekarang kau dapat memanfaatkan kekuatan iblis itu karena kau adalah tuannya. Salah satu kekuatan yang sudah kau rasakan adalah healing atau penyembuhan." Jelas Devon. "Dan ia harus patuh terhadap semua perintahmu."
Lalu Samantha menyerahkan kucing itu ke tangan Erick yang tengah menyeringai mengerikan.
"Kau akan merasakan pembalasan dariku Manis."
***
0
Kutip
Balas