- Beranda
- Stories from the Heart
Biro Detektif Supranatural PSYCH: Prince Charming #2
...
TS
dianmaya2002
Biro Detektif Supranatural PSYCH: Prince Charming #2
Biro Detektif Supranatural PSYCH: Prince Charming #2
Erick dan Darren kembali dihadapkan dengan seorang psikopat gila pecinta Disney Princess yang menyebut dirinya sebagai PRINCE CHARMING. Korban - korbannya selalu ditemukan dalam berbagai tema Disney Princess, seperti Stella Magnolia yang ditemukan ditepi dermaga dalam balutan kostum mermaid seperti Princess Ariel.
Apakah duo detektif ini dapat menghentikan kegilaan Prince Charming?
Apakah duo detektif ini dapat menghentikan kegilaan Prince Charming?
Hai Agan dan Aganwati...
Ane balik lagi nih buat posting sequel nya Biro Detektif Supranatural PSYCH
Yang masih penasaran sama Mbak Samantha Reindhaard bakal ane buat tambah penasaran lagi...
ini akun wattpad ane Anthazagoraphobia
karya ane:
Biro Detektif Supranatural PSYCH : Pieces #1
The Haunted Hotel La Chandelier
bagi cendol dan rate nya ya
DAFTAR ISI
Spoiler for Index:
Diubah oleh dianmaya2002 07-03-2017 20:20
zeref13 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
17.1K
Kutip
80
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dianmaya2002
#32
Spoiler for 11 bagian 1:
"Areal pemakaman Distrik O adalah pekuburan terakhir di Metropolis yang akan kita datangi! Mudah – mudahan saja ada yang orang yang baru dikuburkan." Celetuk Darren yang duduk dikursi penumpang tepat disebelah Devon.
"Hey! Jaga kata – katamu! Kau sembarangan sekali."
"Apa?! Aku tidak bermaksud menyumpahi orang untuk mati. Hanya saja kita memang butuh kan." Devon mengangguk singkat membenarkan pernyataan Darren.
Mobil mereka makin mendekati kawasan pekuburan yang luasnya kurang lebih sampai satu hektar itu. Sayangnya jalan masuk ke area pekuburan itu harus melewati perumahan warga yang berhimpitan. Bisa dibilang tata kota di Distrik O masih amburadul dan sepertinya pemerintah daerah harus menyiasati hal tersebut.
"Kita parkir disana saja." ujar Darren sambil menunjuk parkiran sebuah ruko yang telah tutup.
Devon pun mengarahkan laju mobilnya kesana. Setelah memarkirkan mobilnya dengan benar, mereka berdua pun langsung turun dan berjalan menuju gang sempit yang tak jauh dari sana.
"Jangan lupa bawa buket bunganya." Ujar Devon padanya.
Buket bunga itu mereka beli hanya sebagai alat penyamaran agar orang – orang tidak curiga. Mereka berdua berjalan menuju sebuah gang yang merupakan pintu masuk menuju area pemakaman. Para warga yang tengah melakukan akifitasnya sejenak berhenti hanya untuk menatap kedatangan dua pria tampan itu. Namun keduanya hanya tersenyum ramah.
Setelah berjalan selama 15 menit, akhirnya mereka berdua sampai didepan gerbang besar yang menjadi pintu masuk area pemakaman itu. Pemakaman itu masih dipadati oleh para peziarah yang melayat padahal senja hampir tiba.
"Masih banyak orang disini? Bagaimana cara kita mengelilingi area pemakaman ini tanpa membuat mereka curiga?" bisik Devon pada Darren disebelahnya.
"Ini tidak bagus."
"Hei coba kau lihat disebelah sana." Ujar Devon sambil menunjuk segerombolan orang yang sepertinya sedang melakukan proses penguburan. Darren pun mengikuti arah yang ditunjuk oleh Devon.
"Sebaiknya kita kesana untuk melihatnya."
Tanpa pikir panjang, mereka langsung melangkahkan kaki mereka dengan hati – hati melewati sela – sela makam. Jangan sampai mereka menginjak makam tersebut sembarangan. Sesampainya disana, mereka langsung berpura – pura berdoa disalah satu makam yang dekat dengan orang – orang yang tengah melakukan proses penguburan. Didalam doa pura – puranya Darren tersenyum senang.
"Akhirnya ketemu juga!"
"Ingat! Kita harus mengambilnya tepat jam 12 malam nanti."
Seketika itu juga senyum Darren menghilang begitu saja. Akhirnya mereka memutuskan untuk keluar dari pemakaman itu dan menunggu hingga tengah malam hanya untuk mengambil tanah kuburan tersebut. Terkutuk!!!
"Kita tidak mungkin lewat jalur itu lagi. Warga akan curiga."
"Yahh kau benar Devon." Jawab Darren."Sebaiknya kita cari jalan lain menuju pekuburan itu."
"Lalu?"
"Kita akan bertanya pada masyarakat sekitar." Jawab Daren sambil tersenyum.
Tak jauh dari sana berdiri sebuah warung kopi sederhana yang tengah dipadati oleh segerombolan pria. Mereka tengah berkumpul didepan sebuah warung kelontong kecil sambil menyesap segelas kopi. Ada juga yang sedang memakan gorengan. Darren sedikit heran, kenapa ada warung kopi didekat areal pekuburan umum. Tapi ya sudahlah, mungkin saja si pemilik warung mempunyai alasan logis mengenai hal tersebut.
Sesampainya disana, Darren dan Devon langsung memesan dua porsi indomi kuah dengan telor setengah matang. Tidak lupa dengan dua gelas besar es teh manis. Mereka berdua tersenyum ramah kepada gerombolan bapak – bapak itu.
"Abis ziarah Mas?" tanya seorang pria paruh baya berkumis tebal.
"Iya Pak. Abis ziarah, perutnya malah keroncongan makanya singgah disini dulu."Ujar Devon.
"Kalo gitu gabung aja sama kita – kita Mas." Ujar salah seorang pria kurus yang duduk disebelah bapak berkumis tebal itu.
Akhirnya Darren dan Devon pun duduk disana bersama gerombolan bapak – bapak itu. Tidak lama kemudian pesanan Darren dan Devon datang. Dan percakapan warung kopi pun dimulai! Mereka membicarakan kematian seorang ibu muda yang tragis
"Jenazahnya baru aja lewat sini Mas. Baru saja dikuburkan."ujar Bapak berkumis tebal antusias yang diketahui bernama Burhan. "Padahal orangnya baik banget mana cantik lagi namanya Laras."
"Bener Pak Burhan."Timpal seorang pria ceking bernama Asep sambil menggelengkan kepalanya. "Dulu saya sempet naksir sama almarhumah."
"Emang meninggal kenapa Pak?" tanya Devon setelah meletakkan mangkuk mie nya yang sudah kosong.
"Dibunuh Mas." Bisik pria berkaos polos bercelana batik yang bernama Janha. "Mayatnya sempet diotopsi. Kata petugas otopsinya si Laras ini dibunuh gara – gara hamil anak dari seorang pria yang sudah bersuami."
"Pelakunya udah ketangkep Mas?" tanya Darren.
"Sudah Mas. Pelakunya itu Istri dari pria yang jadi selingkuhannya Laras. Dia dendam terus bayar orang untuk bunuh si Laras."
"..."
"Aduh Mas! Mereka sadis sekali. Si Laras ditemukan dengan luka bacok dikepala. Darahnya banjir kemana – mana. Serem kalo diinget – inget lagi."
Saat mendengar kisah tragis si Laras, Darren kembali teringat dengan kisah lamanya saat bekerja sebagai pengawas CCTV di La Chandelier di Paris. Kisah Laras hampir sama dengan kisah Valerie Galaghan dimana mereka berdua sama – sama dibunuh saat sedang mengandung. Jujur saja, ia tidak ingin bertemu dengan hantu semacam itu, apalagi kematian tidak wajar seperti itu biasanya membawa dendam dan rasa amarah.
"Saya juga mau nutup warung sebelum gelap. Takut didatengin si Laras." Ujar Ibu pemilik warkop saat mengambil mangkok kosong bekas mie kuah yang dipesan Darren dan Devon.
"Kampung ini bakal sepi kalo ada orang yang baru dikubur. Kami semua gak berani keluar Mas.Takut." ujar Pak Burhan lagi.
Akhirnya gerombolan bapak – bapak itu pergi satu per satu menuju rumahnya masing – masing. Warung kopi sederhana itu pun telah tutup. Darren dan Devon pun kembali ke mobilnya. Menunggu datangnya tengah malam.
***
Darren mengerjap – ngerjapkan matanya lalu menatap sekelilingnya. Ia baru sadar ternyata dirinya dan Devon tertidur didalam mobil yang terparkir didepan pelataran toko yang telah tutup. Langit Metropolis telah menggelap. Lampu jalanan telah menyala menerangi jalan raya yang sepi. Lalu dengan panik ia merogoh saku jaketnya dan mengambil ponsel pintar miliknya. Disana tertera jam 23.00.
"Ternyata tidurku lama juga." Gumamnya pelan sambil menaruh kembali ponsel pintar miliknya. Setelah itu ia memalingkan wajahnya ke kursi pengemudi yang berada disebelah kanannya. Disana ia melihat Devon yang masih saja tertidur, lalu mengguncang bahu pria itu dengan cepat hingga terbangun.
"Bangun! Kita harus segera ke kembali ke pemakaman itu lagi."
Kini giliran Devon yang mengerjap – ngerjapkan matanya berusaha sadar sepenuhnya. Ia mengangguk singkat mendengar perkataan Darren, lalu mengambil sebotol air mineral yang ia simpan disela – sela persneling mobil dan meneguknya. Setelah mereka berdua benar – benar sadar, mereka berdua pun turun dari mobil. Bermodalkan senter, kantong plastik yang akan digunakan untuk mengantongi tanah kuburan tersebut, dan yang terakhir adalah seplastik garam sebagai perlindungan dari mahluk tak kasat mata.
Mereka berdua sepakat untuk melewati jalan yang sama seperti yang tadi sore mereka lewati. Seperti kata Pak Burhan, jalanan kampung itu sangat sepi bahkan tidak ada warga kampung yang berani keluar dari rumahnya. Penyebabnya hanya satu yaitu pembunuhan gadis bernama Laras yang sangat tragis dan mengenaskan.
Akhirnya mereka sampai di depan gerbang pemakaman.
"Digembok!" ujar Devon yang baru saja mengecek pintu gerbangnya.
"Woi..." panggil Darren yang sudah terduduk diatas tembok setinggi dua meter. Ternyata hobi membolos semasa SMA masih ada gunanya.
Devon tersenyum sekilas, lalu menyusul Darren menaiki tembok pembatas itu sedangkan Darren sudah loncat dari sana dan sekarang sedang sibuk menyalakan senternya. Mereka berdua berjalan ditengah kegelapan malam. Berjalan dalam diam diantara batu – batu nisan. Tidak ada cahaya sama sekali hanya senter mereka satu – satunya penerang. Suara kerikan jangkrik mengalun dari berbagai penjuru area pekuburan. Tiba – tiba mereka mendengar bunyi gedebuk yang sangat keras. Bunyi keras itu berasal dari sebuah gubuk kecil yang berfungsi untuk menaruh sebuah keranda mayat. Darren mengarahkan senternya kearah sana namun tidak ada sesosok manusia pun disana.
"Hanya pocong!" ujar Devon santai namun perkataan singkat dirinya membuat Darren melotot memandanginya. "Apa?! Dude sadarlah ini kuburan! Tempat dimana berbagai mahluk halus berasal."
"..."
"Kau dan Azka sama saja! kalian sama – sama tidak percaya mahluk halus padahal beberapa waktu yang lalu kalian baru saja memenggal kepala iblis."
"Itu beda lagi bro! Masalahnya mahluk seperti itu bisa dilukai secara fisik bahkan dimusnahkan."
Devon terkekeh geli mendengar perkataan Darren.
"Bagaimana jika mata batinmu aku buka?"
"Tidak, terima kasih." Ujar Darren lalu melenggang pergi, berjalan mendahului Devon. "Cukup kau dan Erick yang memiliki kemampuan aneh itu."
Devon kembali tertawa namun tawanya terhenti saat sekelebat bayangan putih melintas dengan cepat diantara batu – batu nisan. Sedangkan Darren terus saja melangkah menuju makam Laras yang jaraknya semakin dekat. Devon tahu bahwa kedatangan mereka berdua sangat menarik perhatian mahluk halus penghuni area pemakaman tersebut apalagi aura yang keluar dari tubuhnya benar – benar mengundang 'mereka' untuk mendekat. Jika dilihat dari mata ketiga miliknya, sekarang mereka berdua tengah dikelilingi oleh ratusah arwah yang memiliki beragam bentuk dari yang absurd hingga normal. Dan sialnya hanya Devon yang dapat melihat itu.
Darren melirik jam tangan yang melingkari tangan kanannya, jarum jam menunjukkan pukul 11.40. Tiba – tiba ia menghentikan langkahnya secara tiba – tiba hingga Devon yang berjalan dibelakangnya langsung menabrak punggung Darren.
"Hey!" protes Devon.
Darren hanya terpaku sampai Devon berdiri disebelahnya dan mengikuti kemana arah mata temannya itu memandang. Kini ia tahu alasan kenapa Darren berhenti berjalan. Sesosok wanita bergaun merah yang tengah berjongkok didepan makam Laras. Rambut wanita itu sangat panjang, berantakan, dan kaku seperti sapu ijuk. Terdengar isakan tangis sendu menyedihkan dari arah mahluk itu.
"Kau urus dia." Ujar Darren sambil menatap Devon dengan mata tajamnya. "Kau kan pakarnya!"
Devon mendekati mahluk itu perlahan dan sepertinya sosok mengerikan itu belum menyadari keberadaan dirinya. Hingga akhirnya ia tidak sengaja menginjak ranting sialan yang membuat mahluk itu terdiam dan menghentikan rintihan pilunya.
"Ini tidak bagus." Gumamnya.
Dengan sigap Darren merogoh saku jaketnya untuk mengambil seplastik garam yang memang ia persiapkan untuk hal – hal yang tak diinginkan seperti ini. Ia meraup sejumput garam dan melemparkannya tepat kearah mahluk itu. Hantu wanita menyeramkan itu langsung berteriak padanya dengan amarah yang tak terkendali. Hal itu membuat mereka berdua kaget.
"Shit! Apa yang kau lakukan??"
"..."
"Kau membuatnya marah!"
"A...ku hanya ingin mengusirnya."
Kini wanita bergaun merah itu melayang terbang tepat diatas mereka berdua. Menatap kedua pria itu dengan tatapan tajam penuh kebencian. Aura dendam dan amarah menguar dari sosok mahluk itu. Hal itu membuat mereka berdua bergidik ngeri. Tiba – tiba Devon merasakan cengkeraman kuat yang berasal dari tangan tak kasat mata hingga membuatnya tak dapat bernafas. Perlahan – lahan tubuhnya terangkat dan melayang diudara. Darren melemparkan garamnya lagi kearah sosok mengerikan itu, namun belum sempat melakukan hal itu tubuhnya terhempas dengan sangat keras hingga membentur batu nisan yang sangat keras.
"Shit!" erangnya kesakitan.
Udara yang memasuki rongga pernafasan Devon semakin menipis. Jika seperti ini terus, maka dirinya akan cepat menemui ajal. Perlahan ia mengarahkan tangan kanannya kearah mahluk itu. bibirnya merapal mantra walaupun terpatah – patah karena cekikan mahluk itu.
If Spirits threaten me in this place,
Fight water by water and Fire by fire,
Banish their soul into nothingness,
And remove their powers until the last trace.
Let these evil being flee,
Through time and space.
Fight water by water and Fire by fire,
Banish their soul into nothingness,
And remove their powers until the last trace.
Let these evil being flee,
Through time and space.
Detik selanjutnya hantu mengerikan itu berteriak kesakitan karena cahaya putih yang keluar dari tangan Devon. Tak lama kemudian menghilang begitu saja dan membuat Devon terjatuh ke tanah dengan keras.
"Ouch!!" erangnya sambil mengusap bokongnya.
Darren langsung berlari menghampirinya.
"Kau tidak apa – apa?" Tanya Darren hendak membantunya untuk berdiri.
"Jangan pedulikan aku! Cepat kau ambil tanah itu sebelum waktunya habis."
Ia pun langsung berlari menuju makam Laras dan mengambil segumpal tanah yang langsung dimasukkan kedalam kantung plastik berwarna bening.
"Done! Ayo kita pulang."
Mereka berdua pergi dengan sebungkus tanah kuburan baru yang menjadi tujuan utama mereka.
"Mengambil segumpal tanah kuburan tepat jam 12 malam. Aku merasa sangat bodoh melakukan hal seperti ini." gerutu Darren.
"Lalu kenapa kau menjadi bagian dari Biro Detektif Supranatural? Idiot." Balas Devon
***
0
Kutip
Balas