- Beranda
- Stories from the Heart
Biro Detektif Supranatural PSYCH: Prince Charming #2
...
TS
dianmaya2002
Biro Detektif Supranatural PSYCH: Prince Charming #2
Biro Detektif Supranatural PSYCH: Prince Charming #2
Erick dan Darren kembali dihadapkan dengan seorang psikopat gila pecinta Disney Princess yang menyebut dirinya sebagai PRINCE CHARMING. Korban - korbannya selalu ditemukan dalam berbagai tema Disney Princess, seperti Stella Magnolia yang ditemukan ditepi dermaga dalam balutan kostum mermaid seperti Princess Ariel.
Apakah duo detektif ini dapat menghentikan kegilaan Prince Charming?
Apakah duo detektif ini dapat menghentikan kegilaan Prince Charming?
Hai Agan dan Aganwati...
Ane balik lagi nih buat posting sequel nya Biro Detektif Supranatural PSYCH
Yang masih penasaran sama Mbak Samantha Reindhaard bakal ane buat tambah penasaran lagi...
ini akun wattpad ane Anthazagoraphobia
karya ane:
Biro Detektif Supranatural PSYCH : Pieces #1
The Haunted Hotel La Chandelier
bagi cendol dan rate nya ya
DAFTAR ISI
Spoiler for Index:
Diubah oleh dianmaya2002 07-03-2017 20:20
zeref13 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
17.2K
Kutip
80
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dianmaya2002
#28
Spoiler for 9 bagian 2:
10 jam 00 menit
Mereka terus berjalan dengan bantuan kompas yang ada digenggaman tangan mereka dibantu juga oleh Syarief yang memang menjadi penunjuk jalan. Sampai pada akhirnya salah satu dari anggota regu menyadari bahwa mereka hanya berjalan berputar – putar ditempat yang sama.
"Hey! Bukannya kita sudah lewat sini tadi?"
"Iya kau benar! Shit kita hanya berputar – putar saja dari tadi."
"Kita sudah lima jam memutari jalan ini." ujar salah satu anggota sambil menilik jam tangan miliknya.
Syarief yang biasa keluar masuk hutan pun bingung, kenapa ia bisa sampai tersasar seperti ini.
"Sebaiknya kita break dulu." Ujar Azka lalu ia mengalihkan pandangannya pada Devon yang berdiri tak jauh dari sana lalu ia menghampirinya. "Hey! Apa semua baik – baik saja? Maksudnya apa ada sesuatu yang menghalangi jalan kita?"
Devon terdiam sambil menatap sahabatnya itu namun saat ia akan menjawab pertanyaan Azka, seekor burung gagak mendarat tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Burung gagak itu memperhatikan mereka satu persatu dengan matanya yang bulat dan hitam. Salah seorang dari mereka melempar burung gagak itu dengan kerikil kecil agar pergi tapi binatang itu tidak bergeming sedikit pun. Tiba – tiba Devon mengambil pistol yang ia bawa dan menembakkannya kearah burung gagak itu, namun terlambat.
"Shit apa yang kau lakukan?"
"Itu bukan burung biasa! Mereka adalah pengikut Raum." Jelas Devon dengan panik.
"Apa maksudmu?" tanya Azka lagi
"Mereka pengikut iblis!"
Sekumpulan burung gagak yang datang entah dari mana tiba – tiba menyerbu mereka, lalu membentuk suatu mahluk berwarna hitam yang tingginya melebihi manusia biasa. Mahluk setinggi dua meter itu mempunyai kulit hitam tanpa mata. Tidak mempunyai telinga tetapi mempunyai mulut yang lebar serta dihiasi oleh gigi – gigi yang besar dan mencuat keluar. Mereka tidak dapat berbicara hanya auman keras yang keluar dari mulutnya dan yang lebih mengerikan adalah mereka dapat memperbanyak diri dengan mudahnya.
Kini Azka dan lainnya mulai menembaki ketiga mahluk yang bernama Raum tersebut namun hasilnya nihil. Ketiga Raum itu tidak terluka dengan senjata manusia, bahkan salah satu dari mereka mulai membelah diri lagi hingga menghasilkan sosok Raum yang baru. Keempat Raum itu mulai memporak – porandakan tim Azka. Mereka melempar tubuh – tubuh manusia itu sampai menghantam batang pohon yang keras dengan mudahnya. Kekuatannya yang sangat besar menyebabkan Azka dan lainnya kewalahan dan melarikan diri masuk kedalam hutan. Mereka berpencar ke segala arah, menghindari mahluk yang bernama Raum yang mengejar mereka satu per satu.
***
8 jam
Samantha, Darren, Donny dan lima orang anak buahnya telah tiba di Hutan Selatan Metropolis menggunakan helikopter. Kini mereka sedang memandangi lima buah mobil patroli yang kosong tepat didepan pintu masuk hutan.
"Sepertinya mereka telah masuk kedalam sana dalam waktu yang cukup lama." Ujar Darren sambil mengamati sekelilingnya.
Donny hanya menahan tawanya saat melihat kewarasan sahabatnya yang telah pulih. Beberapa saat yang lalu, Samantha meminta Donny untuk menyiapkan sebuah bath up yang dipenuhi dengan air es untuk menghilangkan efek dari percikan darah unicorn yang tidak sengaja terciprat ke kulitnya. Yahh Donny dengan senang hati memukul Darren hingga pingsan dengan alasan,"Kapan lagi aku bisa memukulnya tanpa perlawanan seperti ini?" Lalu mereka merendam tubuh Darren selama 15 menit didalam bath up dalam keadaan pingsan.
"Apa yang kau tertawakan hah?"
Belum sempat Donny membalas perkataan Darren, suara auman keras yang berasal dari dalam hutan mengejutkan mereka semua. Samantha langsung berlari memasuki hutan tanpa mempedulikan teriakan Darren dan yang lainnya.
"Shit kita harus mengejarnya."
"Sam! Tunggu!"
Gadis itu seakan tidak mempedulikan Darren dan Donny yang memanggil namanya dengan suara yang sangat keras. Fokusnya hanya pada asal suara auman mengerikan tersebut. Hingga pada akhirnya ia melihat seorang pria yang tengah tersudut karena sosok iblis yang bernama Raum tengah berjalan kearahnya hendak menghunuskan kuku – kuku tajamnya pada tubuh lemah manusia dihadapannya. Dengan gerakan secepat kilat, gadis itu menerjang Raum dan memenggal kepalanya menggunakan sebuah golok besar yang terbuat dari perak. Kini tubuh iblis itu hancur bagaikan debu yang beterbangan ditiup angin.
Sebenarnya sebelum pergi ke hutan selatan Metropolis, ia sudah memprediksi bahwa akan ada mahluk dari dunia iblis yang muncul maka Samantha meminta Donny untuk menyediakan semua senjata yang terbuat dari perak. Karena semua hal yang terbuat dari perak adalah kelemahan iblis. Donny, Darren dan lainnya yang baru saja tiba tepat dibelakang Samantha begitu terkejut dengan aksi gadis itu.
"Mahluk apa itu?" tanya Donny .
"Iblis! Para supranatural hunter menyebutnya Raum. Ia mempunyai kekuatan untuk mengkloning dirinya sendiri."
"..."
"Penggal kepalanya dengan golok perak yang yang kalian bawa, lalu ia akan musnah."
Darren melangkah mendekati pria yang tengah menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena ketakutan. Lalu ia berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan pria berpakaian hitam tersebut.
"Hey kau tidak apa – apa?"
"..."
"Tenanglah mahluk itu sudah lenyap."
Perlahan ia membuka kedua telapak tangan yang menyembunyikan wajahnya, lalu ia menatap Darren yang berada didepannya dengan kelegaan yang terpancar dari raut wajahnya. Pria itu menghela nafas lega.
"Dimana yang lain?"
"Aku tidak tahu. Mahluk itu membuat kami semua terpisah."
"Kau bisa berdiri? Siapa namamu?"
Ia mengangguk dan mengatakan bahwa namanya adalah Lingga. Donny memberinya sebilah katana perak untuk jaga – jaga siapa tahu bertemu dengan mahluk mengerikan itu lagi. Mereka pun kembali melakukan pencarian lokasi untuk menemukan anggota kepolisian yang tercerai berai ditengah rimbunnya hutan.
"Apa Azka bersama denganmu?" tanya Samantha.
"Dia satu tim denganku. Regu yang dipimpin oleh Jared pun menghilang, tim kami kehilangan kontak dengan mereka."
"Kalau begitu kita harus bergegas." Ujar Darren.
7 jam
Satu per satu mereka menemukan anggota kepolisian yang hampir semuanya nyaris saja mati karena serangan Raum yang mengejar mereka. Kini jumlah mereka bertambah menjadi 12 orang yang terdiri dari Darren, Samantha, Donny dan lima orang anak buahnya, serta empat orang anggota kepolisian termasuk Lingga. Dua diantara mereka terluka parah karena serangan Raum hingga sedikit menyulitkan pergerakan Darren dan lainnya. Akhirnya Darren pun memutuskan agar keempat anggota kepolisian itu segera keluar dari hutan untuk mencari bantuan.
"Ada beberapa anak buahku berjaga tepat dipintu masuk hutan lindung ini. Vince, Harry kalian berdua antar mereka menggunakan helikopter ke rumah sakit sekalian bawa tim medis kemari."
"Jangan lupa bawa tambahan personil. Kita butuh bantuan." Tambah Darren pada mereka.
"Kau dengar kan?" ujar Donny pada anak buahnya
"Baik Don."
Keenam orang itu pun berjalan menjauh dari pandangan mereka. Kini tersisa enam orang yaitu Darren, Samantha, Donny, Fahri, Andre, dan Frans yang berjalan memasuki lebatnya hutan lindung tersebut. Mereka semakin merasakan aura mengerikan yang mengintimidasi. Aura aneh yang menguar dari seluruh penjuru hutan.
"Semakin dekat!" bisiknya lirih.
Samantha semakin mengeratkan genggaman tangannya pada golok yang ia bawa. Sekilas Darren melihat ekspresi ketakutan yang terlihat pada wajah gadis itu. Jujur saja hal itu membuatnya penasaran, Samantha tengah menyembunyikan sesuatu yang bersangkutan dengan masa lalunya. Modus pembunuhan berantai keluarga Reindhaard dua tahun lalu pun belum terungkap ke permukaan. Selama ini yang beredar dimasyarakat hanya spekulasi – spekulasi dari berbagai pihak yang sok tahu. Samantha Reindhaard, sebenarnya rahasia apa yang kau sembunyikan?
6 jam
Hujan turun semakin deras disertai kilatan petir yang menyambar. Para binatang hutan pun nyaris tidak menampakkan batang hidungnya. Alunan suara katak yang bersautan pun tidak terdengar sama sekali seperti enggan untuk mengeluarkan suara. Atau insting binatang – binatang itu mengatakan bahwa ada sesuatu hal buruk yang akan terjadi.
Entahlah namun Donny merasa ada sesuatu yang aneh dan janggal. Baru kali ini ia merasakan atmosfer keheningan yang mengerikan padahal Donny sering kali naik turun gunung dan keluar masuk hutan ketika ia harus mengecek laboratorium dan pabrik obat – obatan terlarangnya yang berada di perbatasan Laos – Myanmar. Dalam benaknya ada suara – suara yang menyuruhnya untuk menghentikan misi itu dan kembali pulang ke rumahnya. Menikmati secangkir cokelat hangat sambil menonton serial CSI Crime di Fox Crime favoritnya.
Tidak! Dia bukanlah orang pengecut. Dari awal ia sudah berkomitmen untuk membantu Samantha dan Darren. Lagi pula misi ini dapat membuat para penegak hukum itu sedikit melunak karena hutang budi. Mudah – mudahan saja begitu, karena hal itu akan membuat pengawasan pada bisnis gelapnya sedikit longgar.
"Berhenti!" bisik Donny tiba – tiba.
Mereka pun menghentikan langkah mereka, lalu menoleh pada pria itu sekedar meminta penjelasan.
"Kalian dengar suara itu?"
Ia pun melangkah maju dan mengintip dari semak – semak yang tak jauh darinya. Disana Donny melihat dua orang pria tengah dikepung oleh sekitar tiga puluh Raum. Darren melangkah mendekatinya dan ikut berjongkok tepat disebelahnya.
"Shit! Ini bukanlah hal bagus."
"Mana ada hal bagus jika harus berurusan dengan mahluk buruk rupa seperti mereka." Cibir Donny sambil melirik Darren disebelahnya. "Mau tidak mau kita harus menyingkirkan sekumpulan mahluk buruk rupa itu."
Samantha hanya menggelengkan kepalanya melihat pria – pria dihadapannya yang terlalu lama dalam mengambil keputusan. Tanpa aba – aba ia langsung berdiri dengan kedua golok besar yang terdapat dikedua tangannya lalu melangkah maju dan langsung menerjang para mahluk itu dengan cepat. Semua pria yang berada disana hanya menatapnya dengan tatapan horror karena kenekatan yang dilakukan gadis itu.
Suara deheman pelan keluar dari mulus gadis itu hingga membuat sekumpulan Raum itu menoleh padanya. Sebagian mahluk itu pun mulai menerjang Samantha dengan kuku tangannya yang tajam dan mampu membelah benda apa saja termasuk tubuh manusia yang rapuh. Namun dengan mudahnya, Samantha menghindar dari serangan mereka dan berhasil melenyapkan lima Raum sebelum mereka sempat memperbanyak diri lagi.
Kelima pria yang merasa dipecundangi oleh aksi nekat Samantha pun akhirnya ikut turun dan menghajar para Raum yang tersisa.
"Kita bersaing Darren!" teriak Donny sambil menghindari serangan Raum yang menyerangnya.
"Maksudmu?" tanya Darren yang tak jauh dari sana. Ia juga terlihat sangat sibuk dengan beberapa iblis yang tak mau melepaskannya.
"Siapa yang paling banyak melenyapkan mahluk jelek ini..." perkataannya terputus saat dihadapannya beberapa Raum tengah mengkloning dirinya. Hanya saja Donny dengan cepat memotong kepalanya hingga mahluk itu musnah. "Akan mendapatkan hak istimewa untuk memerintah yang kalah."
"Deal!"
5 jam
Satu jam kemudian, mereka berenam cukup kelelahan hingga tergeletak begitu saja diatas tanah yang basah. Wajah mereka menengadah ke arah langit dengan rintikan hujan yang belum berhenti hingga membasahi wajah mereka masing – masing.
"Baru kali ini aku bertarung melawan iblis." Ujar Frans sambil menetralkan detak jantungnya yang masih berpacu cepat.
"Kau benar." Balas Fahri.
"Sebaiknya kita bergegas." Ujar Samantha. "Perjalanan ke tempat itu masih cukup jauh."
Devon dan Azka saling memandang keheranan. Mereka berdua heran sekaligus terkejut kenapa seorang Maya Alcander bisa mengetahui seluk beluk hutan ini ditambah lagi aksinya yang keren saat membunuh mahluk – mahluk mengerikan tadi.
"Jadi TKP tempat Prince Charming akan melakukan aksinya ada di hutan ini?" ujar Azka tak percaya.
Samantha mengangguk, "Sepertinya regu yang Jared pimpin telah menemukan tempat itu terlebih dulu tapi iblis – iblis itu menyerang mereka hingga tak sempat memberitahu kalian."
"..."
"Kita harus cepat bergerak. Jika tidak nyawa Jared dan lainnya tidak akan tertolong."
Darren menegakkan tubuhnya.
"Kau benar! Kita harus segera bergerak."
Mereka berenam ditambah dengan Azka dan Devon berjalan mengikuti langkah Samantha menuju tempat yang dimaksud oleh Prince Charming.
1 jam
Medan perjalanan yang mereka tempuh sangat berat karena hujan deras yang mengguyur mereka. Beberapa kali mereka harus jatuh terjerembab karena tanah yang licin karena hujan dan juga akar – akar tumbuhan yang mencuat, membuat mereka terjerembab. Tubuh mereka kelelahan. Energi mereka seakan telah menguap begitu saja. Cahaya matahari pun telah meredup menyisakan kegelapan malam yang mengerikan.
Selama empat jam mereka berjalan dalam diam, berusaha menghemat energi mereka yang tersisa. Jarak tempuh untuk tiba ke tempat itu cukup jauh karena tempat itu berada disisi lain hutan sehingga mereka harus memutar untuk sampai kesana.
50 menit
Aura mistik makin terasa, hal itu menandakan bahwa mereka semakin dekat dengan tempat yang sedang mereka tuju. Tak lama kemudian, mereka mendengar suara batuk seorang pria dewasa yang lumayan keras. Langkah mereka pun terhenti. Kewaspadaan mulai menyelimuti mereka. Tidak ada yang tahu apa yang akan muncul dihadapan mereka.
Darren mengintai dari balik rimbunan semak belukar. Matanya terpaku saat melihat seorang anggota kepolisian tengah duduk bersimpuh dengan kedua tangan menopang tubuhnya. Disekitar pria itu tergeletak sepuluh orang pria dewasa yang tak sadarkan diri.
"Hey kau kenal dia?" tanya Darren pada Azka.
"Itu Shandy! Kita harus segera menolongnya."
Karena dirasa aman, akhirnya mereka keluar dari persembunyiannya. Namun Samantha dan Devon kini tengah memasang sebuah barikade yang tak kasat mata. Hanya mereka berdua yang dapat merasakan aura mistik yang amat pekat menyelimuti tempat itu.
45 menit
Tak lama kemudian angin besar seperti angin topan berhembus kencang hingga pohon – pohon disekitarnya nyaris roboh. Angin kencang itu membuat tubuh mereka terhuyung kesana kemari bagaikan lembaran kertas yang tertiup angin.
"Keluar kau iblis jalang! HADAPI AKU!" teriak Samantha lantang.
Angin kencang itu pun berhenti berhembus. Suasana kembali tenang. Ketenangan yang menyimpan sebuah kejutan yang tak akan pernah mereka bayangkan sebelumnya. Tak lama kemudian dihadapan mereka muncul kepulan asap kemerahan yang membentuk sebuah siluet yang semakin lama semakin jelas dan membentuk figur seorang wanita dengan tubuh yang sangat sexy.
"Kita bertemu lagi." Ujarnya sambil tersenyum.
"Iblis jalang!" ujar Devon.
Masih jelas terekam didalam ingatan seorang Darren Pradipta, dimana ia pernah bertemu dengan iblis yang sekarang tengah duduk diatas peti kaca yang mereka cari sedari tadi. Iblis wanita yang hampir membawa sahabatnya, Erick Alcander ke alamnya untuk dijadikan budak. Iblis wanita yang selalu membayang – bayangi sahabatnya dengan teror mencekam setiap malam hingga ia menjadi depresi dan nyaris gila. Dan yang paling tak termaafkan adalah saat Erick nyaris mati karena iblis sialan itu.
"Iblis jalang itu yang mencelakai Erick." ujarnya pada Donny.
"Sexy and Dangerous." Kata Donny yang langsung mendapatkan sikutan keras dari Darren tepat diperutnya. "Hey aku hanya jujur!"
"Cek kakinya." Bisik Darren lagi.
Mata Donny yang tadinya terfokus pada dada besar iblis itu, kini beralih memandang kakinya yang tidak seperti manusia normal. Kedua kakinya berbentuk seperti kaki kuda lengkap dengan bulu – bulu halus yang lebat. Seketika itu pun ia langsung merasa mual.
"Kalian cukup hebat hingga bisa sampai ke tempat ini. Oleh karena itu dengan senang hati aku akan menjamu kalian."
"..."
"RAUM!!!" teriaknya.
Ratusan burung gagak terbang kearah mereka. Gagak - gagak itu saling menyatu dan akhirnya membentuk sebuah mahluk yang disebu Raum. Iblis menyeramkan yang sudah mereka lawan tadi.
"Taruhan kita masih berlaku Don. Aku yakin aku yang akan menang."
"Jangan terlalu percaya diri."
0
Kutip
Balas