- Beranda
- Stories from the Heart
Biro Detektif Supranatural PSYCH: Prince Charming #2
...
TS
dianmaya2002
Biro Detektif Supranatural PSYCH: Prince Charming #2
Biro Detektif Supranatural PSYCH: Prince Charming #2
Erick dan Darren kembali dihadapkan dengan seorang psikopat gila pecinta Disney Princess yang menyebut dirinya sebagai PRINCE CHARMING. Korban - korbannya selalu ditemukan dalam berbagai tema Disney Princess, seperti Stella Magnolia yang ditemukan ditepi dermaga dalam balutan kostum mermaid seperti Princess Ariel.
Apakah duo detektif ini dapat menghentikan kegilaan Prince Charming?
Apakah duo detektif ini dapat menghentikan kegilaan Prince Charming?
Hai Agan dan Aganwati...
Ane balik lagi nih buat posting sequel nya Biro Detektif Supranatural PSYCH
Yang masih penasaran sama Mbak Samantha Reindhaard bakal ane buat tambah penasaran lagi...
ini akun wattpad ane Anthazagoraphobia
karya ane:
Biro Detektif Supranatural PSYCH : Pieces #1
The Haunted Hotel La Chandelier
bagi cendol dan rate nya ya
DAFTAR ISI
Spoiler for Index:
Diubah oleh dianmaya2002 07-03-2017 20:20
zeref13 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
17.1K
Kutip
80
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dianmaya2002
#27
Spoiler for 9 bagian 1:
-Sementara itu di kediaman Geraldine-
Dalam hidupnya yang penuh dengan pertumpahan darah tiada henti, baru kali ini seorang bos mafia tertawa sangat lepas tanpa beban sedikit pun. Tawanya membahana sampai ke seluruh penjuru rumah dan membuat Martin, anak buah kepercayaannya, menitikkan sedikit air mata karena melihat bosnya bahagia. Mungkin terkesan berlebihan tetapi Martin tahu segala sesuatu yang orang lain tidak ketahui mengenai Bos-nya ini. Semenjak Wolf Pack berkumpul kembali bosnya menjadi lebih ceria dan semangat untuk menjalani hidup.
Ada pepatah mengatakan bahwa bahagia itu sederhana. Pepatah itu memang benar adanya dan inilah yang tengah dialami oleh seorang bos mafia pemilik kartel narkoba terbesar se-Asia Tenggara, penjual senjata api ilegal, dan seorang CEO handal dibidang property, hiburan malam, dan jasa keamanan yang tentunya berguna untuk menutupi seluruh bisnis gelapnya.
Kedua matanya lekat menatap seorang detektif tampan yang dinobatkan sebagai perayu ulung yang selalu bisa menggeser posisinya sebagai seorang playboy dengan mudah. Sudah dari tadi ia merasakan kram perut karena terus menertawakan tingkah Darren yang konyol. Mulai dari menari balet dengan memasang wajah konyol sampai menirukan gerakan dance boyband Bigband dalam video klip BAE BAE lengkap dengan ekspresinya. Memori ponselnya pun penuh seketika itu juga karena merekam semua adegan gila itu. Baginya hal ini adalah peristiwa langka yang tidak akan terulang untuk kedua kalinya.
Video yang telah ia rekam akan ia gunakan sebagai alat blackmailing diwaktu dan kesempatan yang tepat. Dengan senang hati ia akan meneror seorang Darren Pradipta, membuatnya ketakutan dalam bayang – bayang teror memalukan yang akan menjatuhkan pamornya dihadapan para wanita. Sebelum itu, ia akan mengundang Yamaguchi dan Erick untuk menonton video ini bersama – sama.
Sementara itu Samantha hanya melihat tingkah konyol mereka berdua dalam diam. Tak lama kemudian, ponsel milik Darren yang tergeletak diatas meja berbunyi nyaring. Tentu saja Darren yang sedang lose control takkan menggubris deringan ponselnya yang berisik. Akhirnya ia pun menjawab telepon itu dengan enggan.
"Halo!"
Diseberang sana, Azka begitu terkejut ketika suara lembut seorang gadis terdengar diponselnya. Namun ada perasaan senang yang membuncah dalam dadanya. Gadis itu adalah gadis yang telah mencuri hatinya sejak pertama kali bertemu.
"Ini aku Azka." Ujarnya dengan tenang. "Aku perlu berbicara dengan Darren."
"Darren?! Dia sedang sedikit sibuk. Ada apa Azka?"
"Kami sedang melakukan pencarian TKP dimana si Prince Charming akan melakukan eksekusi korban kedua. Aku telah mengirimkan fotonya ke ponsel Darren."
"Terimakasih! Aku akan memberitahu Darren soal ini." sambungan telepon itu pun terputus.
Jujur saja ia sangat ingin berlama – lama berbincang dengan gadis itu hanya saja waktunya kurang tepat. Dan sinyal ponselnya pun menghilang. Apa semesta memang tidak mengijinkannya untuk lebih dekat dengan pujaan hatinya itu?
Lalu Samantha memeriksa kotak masuk yang ada diponsel milik Darren. Jarinya terhenti pada satu pesan baru yang berasal dari Azka. Kini mata Samantha tidak dapat berpaling dari foto sebuah peti kaca tergeletak ditengah hutan. Ia harus secepatnya ke tempat itu bagaimana pun caranya. Samantha berinisiatif untuk menghubungi Azka kembali, sayangnya ponsel pria itu sudah tidak dapat dihubungi.
"Tuan Geraldine, aku butuh bantuanmu."
Perkataan Samantha membuatnya berhenti tertawa dan berpaling menatap gadis itu dengan serius.
"Apa yang bisa aku bantu?"
"Antar aku ke Hutan Selatan Metropolis sekarang juga."
"Itu mudah! Tapi bantuanku tidaklah gratis." Jawab Donny sambil melangkah mendekati Samantha. "Disini kita akan membahas keuntungan, misalnya apa yang akan aku dapatkan jika membantumu."
Samantha terdiam sambil menatap pria tampan dihadapannya yang tengah menyunggingkan senyuman manis disudut bibirnya. Jika kalian pikir seorang Don Geraldine adalah pria licik, matrealistis dan berusaha mengambil sebuah keuntungan dari suatu peristiwa, maka kalian benar. Ia hanyalah satu dari jutaan manusia biasa yang memiliki sifat tujuh dosa manusia. Samantha memakluminya bahkan saat ini ia tengah tersenyum. Kedua kakinya melangkah mendekati pria itu untuk mematikan jarak diantara mereka. Kedua mata indahnya membalas tatapan mata sang Don dengan tatapan tajam dan kesungguhan.
"Apa pun yang kau mau."
Donny tersenyum saat melihat kesungguhan hati yang terpancar dari kedua mata gadis cantik dihadapannya.
"Jangan memberiku kalimat ambigu yang mengandung banyak makna Miss." ujarnya sambil mengusap wajah Samantha dengan jemarinya lembut. "Hal itu dapat membangkitkan iblis yang ada didalam diriku saat ini juga."
"Jangan salah sangka! Aku hanya tidak tahu apa keinginanmu Tuan Geraldine." Jawab Samantha sambil menatap lekat kedua mata cokelat milik Donny. "Lagi pula aku tidak takut dengan iblis karena aku tidak jauh berbeda dengan sosok iblis itu sendiri."
Senyuman kembali tersungging diwajah tampannya. Entah mengapa ia lebih menyukai sosok Maya dengan versi seperti ini. Sosok gadis tangguh, kuat dan mempunyai sedikit sifat mengintimidasi.
"Baiklah! Jadi misi seperti apa yang akan kita lakukan Miss Reindhaard?" lalu pandangannya teralihkan kearah Darren yang tengah melakukan moon walk ala Michael Jackson. "Sebaiknya kita melakukan sesuatu padanya terlebih dahulu sebelum membicarakan misimu Miss."
Samantha mengangguk lalu berjinjit dan membisikan sesuatu ke telinga Donny.
"Apa kau yakin?" tanya Donny lagi.
Samantha hanya menganggukkan kepalanya.
"Baiklah. Aku akan menyuruh anak buahku menyiapkannya."
***
Seorang pria berjubah hitam duduk didalam ruangan bercahaya temaram sambil memandangi jam dindingnya. Ia menunggu dalam kebosanan yang nyaris membunuhnya saat itu juga. Masih tersisa 15 jam 40 menit lagi, ia masih memikirkan kejutan apa lagi yang harus ia lakukan untuk membuat permainannya lebih menarik.
Tiba – tiba sebuah tangan dengan kulit kemerahan meraba bahu kokohnya dengan sangat manja dan intim. Pria itu hanya tersenyum singkat dari balik topeng tengkorak yang ia kenakan.
"Apa kau sudah merasa bosan?" tanya si gadis berkulit merah dengan suara yang mendayu – dayu. "Kenapa kau tidak menghentikan permainanmu saja, Prince Charming?"
Pria itu adalah Prince Charming, pembunuh gila dengan kekuatan melebihi batas manusia normal yang baru saja memporak porandakan Bayu dan para anak buahnya dengan mudah. Senyuman singkat kembali tersungging dibibirnya saat mendengar pertanyaan wanita iblis berkulit merah yang entah datang dari mana.
"Kau sendiri bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan pria itu? Atau kau perlu bantuanku untuk mendapatkannya?" tanyanya dengan nada sarkastik.
"Aku hampir mendapatkannya!" jawabnya dengan nada kesal. "Dan aku tidak memerlukan bantuanmu sedikit pun."
"Hahaha... ayolah?! Kemana perginya Luna The Powerfull Succubus? Kau sungguh membuatku kecewa."
"Lebih baik kau urusi urusanmu sendiri." Ujar Luna dengan sinis. "Oh ya bagaimana dengan gadismu itu?"
Rahang Prince Charming mengeras saat mendengar perkataan Luna yang menyinggung masalah pribadinya. Dengan cepat tangannya meraih rahang gadis berkulit merah itu dan mencengkeramnya dengan sangat keras. Cukup keras sampai terdengar bunyi rahang yang bergeser nyaris patah.
"Jika kau menyentuhnya sedikit saja! Aku tidak akan segan – segan melenyapkanmu Luna!"
"..."
"Kau tahu seberapa besar kekuatanku kan?" tanyanya lagi sedangkan Luna hanya diam sambil mengangguk lemah. "Bagus kalau begitu! Kau aku perbolehkan bermain – main sedikit dengan mereka."
Gadis iblis berkulit merah itu pun menghilang bagai kepulan asap rokok meninggalkan Prince Charming duduk didalam kegelapannya. Sendiri dalam keheningan dengan memori masa lampau yang indah bersama seorang gadis kecil yang berputar bagai film dikepalanya. Gadis yang telah mencengkeram hatinya sejak lama. Terkadang ia bertanya pada dirinya sendiri mengenai rasa aneh yang sering muncul didalam benaknya. Namun tidak ada jawaban yang pasti mengenai apa yang dirasakannya. Perasaan? Jelas ia tidak mempunyai hal seperti itu.
Mahluk seperti dirinya diciptakan dari kepulan api panas membara yang dapat meleburkan apa saja. Ia lahir dari rasa marah, depresi, takut, benci, obsesi, ketamakan, nafsu, kesombongan dan segala hal yang berbau negatif. Ia tidak pernah mengenal rasa cinta dan gadis itu hanyalah obsesinya.
"Cinta atau obsesi? Kedua hal yang menurutku tidak ada bedanya sama sekali." Ujarnya sambil sesekali menyesap segelas cairan berwarna kemerahan.
***
-Tim C Hutan Selatan Metropolis-
15 jam 15 menit
Azka dan regu yang ia pimpin tengah beristirahat ditepi sungai yang membelah hutan Selatan Metropolis setelah mereka berjalan menembus rimbunnya hutan selama dua jam. Devon tengah membasuh wajahnya dengan air sungai yang menyegarkan sedangkan yang lain sedang duduk sambil mengisi perut mereka yang keroncongan. Azka bolak – balik mengecek ponselnya yang ternyata tidak mendapatkan sinyal.
"Tidak ada sinyal." Keluhnya.
"Tentu saja! Namanya juga dihutan. Kau pikir perusahaan provider mau membangun tower sinyal di area ini?" Ujar Pieter, salah satu rekan satu timnya.
"Kau benar!" jawabnya dengan sebal. "Oh ya apa kau sudah berhasil menghubungi Jared dan yang lainnya?"
"Belum! Mereka menghubungi kita sekitar satu jam yang lalu dan sekarang mereka seperti menghilang begitu saja."
"Hushhh jangan bicara sembarangan! Kau ini!" bentak Devon yang mendengar perkataan Pieter.
"Aku sedikit khawatir dengan keadaan mereka. Apa kita perlu menyusul mereka?" tanya Azka pada timnya.
"Lebih baik kita teruskan pencarian saja." ujar salah satu dari mereka.
15 jam 00 menit
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan untuk mencari TKP tempat dimana Prince Charming akan melakukan aksinya. Azka dan seorang jaga wana bernama Syarief berjalan paling depan sedangkan timnya berjalan tepat dibelakangnya. Pieter sibuk dengan radionya, ia berusaha untuk terus menghubungi Jared dan timnya namun belum membuahkan hasil sama sekali.
Gerimis rintik – rintik turun menemani langkah mereka yang semakin memasuki rimbunnya hutan. Suara katak mulai bersahutan seperti alunan musik merdu. Pakaian ditubuh mereka mulai basah karena rintikan hujan. Angin hutan yang berhembus pelan membuat tubuh basah mereka menggigil kedinginan.
"Hujan ini benar – benar merepotkan." Keluh Syarief sambil menyeka wajahnya yang dibasahi oleh air hujan.
"Apa tidak sebaiknya kita berteduh dulu?" tanya Lingga, salah seorang anggota regu.
"Tidak! kita harus melanjutkan perjalanan." Ujar Azka padanya. "Kita tidak boleh membuang waktu lagi. Pieter! Apa kau sudah berhasil menghubungi Jared dan yang lain?"
Pieter hanya menggelengkan kepalanya pertanda karena usahanya belum membuahkan hasil. Devon yang berjalan dibelakang Azka makin bertingkah aneh karena merasakan sebuah kekuatan negatif yang terus menerus menguar dari segala penjuru hutan. Hanya saja ia hanya diam dan bertingkah sewajarnya karena tidak ingin teman - temannya panik. Didalam benaknya ia tengah menyusun rencana seandainya sesuatu yang buruk terjadi.
0
Kutip
Balas