- Beranda
- Stories from the Heart
T University 2 (Season 2)
...
TS
anism
T University 2 (Season 2)

Cover Super Keren by Awayaye <Ane minta
> Terima banyak untuk respon positif agan dan aganwati di thread sebelumnya. T University.
Bagi yang belum membacanya. Bisa mengklik judul dibawah ini.
T University
Spoiler for Daftar Isi/Case 1 : Lost Son:
Case 1 Finish
Spoiler for Case 2 : Lativa's Twins Terror:
Case 2 Finish
Spoiler for Case 3 : Arelia And Edward:
Case 3 Finish
Spoiler for Samantha And Mom:
Finish
Spoiler for Case 4 : Johnny Comes Back To China or England:
Case 4 Finish
Spoiler for Case 5 : King Killer's Son:
Case 5 Finish
Spoiler for Case 6 : Losing In A Plane:
Diubah oleh anism 30-05-2019 17:56
anasabila memberi reputasi
1
21.7K
198
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
anism
#16
Lativa And Kleint's Moment
Lativa merasakan kalau sarinya ditarik, ia pun membuka matanya. Sedikit terkejut, karena tanpa sadar ia juga ketiduran sembari menjaga anak itu tetap dipangkuannya.
“Ah, kamu sudah bangun. Apa kamu lapar?”, ujar Lativa sambil memperagakan gerakan tangan yang seperti menyendok ke mulut.
Memang lucu pikir Lativa, anak itu tentu tidak mengerti ucapannya.
Lativa tiba-tiba merasa ingin memerhatikan anak itu secara seksama. Dia punya mata yang berbeda. Matanya berwarna kecoklatan muda. Kulitnya sebenarnya indah, harusnya putih bersih namun ada banyak bekas luka dan sepertinya terjemur matahari. Warna kulitnya jadi agak tidak merata. Rambutnya berwarna pirang. Tapi, dia kurus sekali. Kembali rasa iba yang menyelimuti dirinya, ya diantara semua hal indah yang dimilikinya sangat sayang sekali dia harus hidup menderita dan kelaparan di negara tersebut.
Tapi mengapa?
Ya, pertanyaan itu bukan tidak beralasan. Dia harusnya lahir didalam keluarga yang bisa membawanya jalan-jalan disetiap akhir minggu, membawanya makan hamburger setiap siang. Ya, dengan seluruh penampakan fisiknya, tidak seharusnya dia begini.
Mungkin ini hanya pikirannya yang sempit. Memperkirakan nasib hanya dari bentuk fisik. Lativa menggeleng-gelengkan kepala mencoba mengenyahkan pikiran tersebut. Tepat juga dengan anak itu yang merengek dengan gumaman, ia mendekatkan mukanya dengan anak itu. Ia melihat anak itu menunjuk perut dengan mulutnya secara bergantian dengan mata yang akan mengeluarkan air.
“Ah, baiklah.”, Lativa tersenyum kemudian mengeluarkan sekotak roti Cane buatannya yang dibawanya dalam kotak makan. Ia memberikannya pada anak itu dan membiarkannya menghabiskan makanan tersebut dengan caranya sendiri.
Lativa pun merebahkan diri dikasur lipat yang terdapat didalam van tersebut, dia merasa seluruh tulang ditubuhnya kaku karena terjaga untuk beberapa kali di karena anak itu. Entah ia hanya sekedar batuk, menggumam, ataupun bernapas terengah-engah karena mimpi buruk.
Lativa merasakan kalau sarinya ditarik, ia pun membuka matanya. Sedikit terkejut, karena tanpa sadar ia juga ketiduran sembari menjaga anak itu tetap dipangkuannya.
“Ah, kamu sudah bangun. Apa kamu lapar?”, ujar Lativa sambil memperagakan gerakan tangan yang seperti menyendok ke mulut.
Memang lucu pikir Lativa, anak itu tentu tidak mengerti ucapannya.
Lativa tiba-tiba merasa ingin memerhatikan anak itu secara seksama. Dia punya mata yang berbeda. Matanya berwarna kecoklatan muda. Kulitnya sebenarnya indah, harusnya putih bersih namun ada banyak bekas luka dan sepertinya terjemur matahari. Warna kulitnya jadi agak tidak merata. Rambutnya berwarna pirang. Tapi, dia kurus sekali. Kembali rasa iba yang menyelimuti dirinya, ya diantara semua hal indah yang dimilikinya sangat sayang sekali dia harus hidup menderita dan kelaparan di negara tersebut.
Tapi mengapa?
Ya, pertanyaan itu bukan tidak beralasan. Dia harusnya lahir didalam keluarga yang bisa membawanya jalan-jalan disetiap akhir minggu, membawanya makan hamburger setiap siang. Ya, dengan seluruh penampakan fisiknya, tidak seharusnya dia begini.
Mungkin ini hanya pikirannya yang sempit. Memperkirakan nasib hanya dari bentuk fisik. Lativa menggeleng-gelengkan kepala mencoba mengenyahkan pikiran tersebut. Tepat juga dengan anak itu yang merengek dengan gumaman, ia mendekatkan mukanya dengan anak itu. Ia melihat anak itu menunjuk perut dengan mulutnya secara bergantian dengan mata yang akan mengeluarkan air.
“Ah, baiklah.”, Lativa tersenyum kemudian mengeluarkan sekotak roti Cane buatannya yang dibawanya dalam kotak makan. Ia memberikannya pada anak itu dan membiarkannya menghabiskan makanan tersebut dengan caranya sendiri.
Lativa pun merebahkan diri dikasur lipat yang terdapat didalam van tersebut, dia merasa seluruh tulang ditubuhnya kaku karena terjaga untuk beberapa kali di karena anak itu. Entah ia hanya sekedar batuk, menggumam, ataupun bernapas terengah-engah karena mimpi buruk.
Diubah oleh anism 17-02-2017 10:04
0